• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Sistem Program Layanan ;

5.1.3. IFS berbasis komoditi unggulan a.Komoditi Ternak Sapi

Dalam rangkaian IFS, sub sektor peternakan merupakan sesuatu yang penting dan strategis sebagai solusi bagi pemenuhan kebutuhan pupuk organik (organik fertilizer). Pupuk organik seperti kompos merupakan produk turunan dari kotoran ternak (veses ) sebagai input untuk peningkatan kesuburan tanah.

Disain IFS berbasis peternakan dengan komoditi unggulan ternak sapi telah dilaksanakan oleh CSR PT. RAPP sejak tahun 1999 dan mulai tahun 2005 – 2008 dilanjutkan pengembangannya oleh CECOM Foundation. Pengembangan peternakan sebagai sub sektor utama pada implementasi sistem pertanian terpadu didasarkan atas beberapa alasan :

1. Sapi merupakan hewan dengan biomass besar sehingga volume kotoran secara harian yang dihasilkannya juga lebih besar dan dapat memenuhi kebutuhan pertanian untuk bahan baku kompos/ bokashi.

2. Sapi merupakan hewan besar yang relatif lebih tahan terhadap penyakit dan perubahan iklim lingkungan, dengan demikian petani tidak terlalu terbebani dalam proses pemeliharaan.

3. Sapi merupakan hewan herbivora dimana kebutuhan pakannya dapat dipenuhi dari lingkungan pertanian baik dari sisa produksi pertanian, hijauan/ rumputan yang tumbuh liar, maupun hujauan yang sengaja ditanam untuk sapi,

4. Sapi dalam jangka waktu pemeliharaan budidaya selama dua tahun dapat menghasilkan anak dan satu tahun untuk penggemukan sudah dapat dijual, yang berarti sapi merupakan tabungan jangka panjang.

5. Sapi secara umum merupakan hewan yang sudah familiar atau sudah cukup dikenal baik oleh masyarakat desa, sehingga azas pemeliharaan sudah dipahami masyarakat

Hal tersebut telah melatarbelakangi pemilihan sapi sebagai hewan peliharaan dalam program IFS. Secara faktual keberadaan ternak sapi telah mampu memberikan kontribusi nyata bagi penguatan sektor pertanian masyarakat khususnya sebagai sumber produksi kompos yang sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah.

b. Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Lahan pertanian yang subur dengan pemupukan kompos atau bokashi akan menghasilkan produksi tanaman pangan dan hortikultura yang tinggi. Produk dari lahan ini menjadi komoditi perdagangan ang akan memberikan income tambahan bagi masyarakat tani. Limbah dari hasil produksi pertanian berupa hijauan yang tidak layak dijual atau dikonsumsi dapat digunakan sebagai ransum/pakan ternak. Hijauan lain yang tidak dapat digunakan untuk pakan ternak digunakan kembali untuk pembuatan kompos atau bokashi. Dengan demikian tidak ada lagi sisa produk yang terbuang dan tidak bermanfaat. Pengelolaan secara terus-menerus dan penguatan dalam bentuk kelompok tani dengan pengembangan agribisnis akan mempu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan akan lebih membentuk

sustainable agriculturedevelopment. Pada tahap selanjutnya kumpulan desa-desa produksi tersebut dapat dijadikan sentra-sentra agribisnis yang menghasilkan

produk-produk unggulan untuk kebutuhan pasar lokal maupun untuk tujuan ekspor.

c. Budidaya Perikanan

Kegiatan budidaya perikanan memerlukan lahan yang subur, untuk itu diperlukan kotoran ternak sebagai pupuk dasar. Pupuk dasar ini berguna untuk menumbuhkan phytoplankton yang merupakan pakan ikan terutama untuk benih. Oleh karena itu dengan integrasi antar subsektor dalam sistem pertanian terpadu kegiatan budidaya dan pembenihan dapat dikembangkan. Lebih lanjut dalam pengembangan perikanan ini masih lagi perlu dikebangkan pakan-pakan alternatif yang dapat menjadi substitusi atau menjadi pakan tambahan menggantikan pakan buatan yang harganya relatif mahal di pasaran. Pakan alternatif tersebut antara lain ulat belatung yang dikembangbiakkan dengan media sludge (limbah pabrik pengolahan kelapa sawit), budidaya cacing tanah, dan sebagainya untuk memperkecil biaya produksi. Kegiatan ini selanjutnya diharapkan memberikan nilai tambah peningkatan keuntungan usaha tani yang dikembangkan anggota kelompok tani.

Namun perlu diperhatikan secara serius bahwa pengembangan budidaya perikanan memerlukan suatu studi kelayakan terkait kualitas air sebagai media tumbuh, bibit yang berkualita, dan ketersediaan pakan ikan alternatif. Budidaya dengan mengandalkan pakan buatan pabrik berupa pelet, umumnya sangat berat bagi petani.. Bila peluang budidaya dapat dilakukan sesuai studi kelayakan diatas maka perikanan layak dikembangkan sebagai usaha yang profitable.

d. Pengembangan Industri kecil

Sektor industri kecil merupakan wadah untuk menampung hasil-hasil produksi pertanian dalam upaya untuk memberikan nilai tambah maupun akibat kelebihan produksi (over produksi). Melalui sektor ini kegiatan pengolahan pasca panen seperti sortasi, pengolahan, dan pengemasan dapat dilaksanakan sehingga produk-produk yang dihasilkan mempunyai nilai tambah yang tinggi dan selanjutnya di pasar akan mempunyai nilai jual yang lebih tinggi pula. Keberadaan sektor ini sangat dibutuhkan dalam upaya mempersiapkan kelimpahan-kelimpahan hasil produksi dan akan memacu masyarakat untuk lebih

giat berproduksi tanpa ketakutan akan tidak tertampungnya hasil pertanian mereka.

Konsep Sistem Pertanian Terpadu atau integrated farming system (IFS) yang dikembangkan dalam pemberdayaan masyarakat adalah konsep pertanian yang dapat dikembangkan untuk lahan pertanian terbatas maupun lahan luas. Pada lahan terbatas atau lahan sempit yang dimiliki oleh petani umumnya konsep ini menjadi sangat tepat dikembangkan dengan pola intensifikasi lahan. Lahan sempit akan memberikan produksi maksmimal tanpa ada limbah yang terbuang percuma karena limbah produksi dapat dimanfaatkan kembali untuk meningkatkan kesuburan lahan. Sedangkan untuk lahan lebih luas konsep ini akan menjadi suatu solusi mengembangkan pertanian agrobisnis yang lebih menguntungkan. Adapun komoditi unggulan dapat disesuaikan dengan keadaan suatu daerah pengembangan, apakah pertanian, peternakan, maupun perikanan.

Namun dalam prakteknya, sosialisasi dan implementasi program IFS tidak dapat dan tidak boleh dipaksakan kepada komunitas petani karena belum tentu potensi SDA dan SDM yang ada pada kelompok tani dampingan dapat dikembangkan sesuai konsep dan disain IFS diatas. Oleh sebab itu, CECOM Foundation memposisikan diri sebatas sebagai fasilitator yang mengedepankan kredo pendampingan partisipatif yaitu “memulai dari sesuatu yang dimiliki masyarakat” dan “membangun dari sesuatu yang dimiliki masyarakat”, sehingga dari sejumlah kelompok tani dampingan CECOM ada kelompok-kelompok tani yang mengembangkan usaha tani secara sederhana dan tidak mengintegrasikan sub-sub sektor pertanian seperti pada disain IFS.