• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKAN-CECOM - KABUPATEN KAMPAR

2.11. Vectorial Project Analysis (VPA)

Menurut Purnama (2007), salah satu alat yang digunakan untuk melakukan monitoring dan evaluasi partisipatif adalah dengan Vectorial Project Analysis (VPA). VPA adalah suatu metode monitoring dan evaluasi proyek yang

dikembangkan dari SWOT Analysis. Dengan VPA, akan dapat diketahui perkembangan posisi dan status ketahanan pangan dari kelompok tani sasaran di setiap periode waktu, misalnya di masa awal program, ditengah masa program atau diakhir program nantinya. Selanjutnya dengan VPA pula akan dapat dilakukan pelacakan faktor apa saja yang sudah mencapai kemajuan atau faktor yang apa saja yang masih memerlukan perhatian. Karena faktor kemudahan analisa tersebut, maka VPA diadopsi dan diadaptasi sebagai salah satu alat monitoring dan evaluasi.

VPA suatu metode monitoring dan evaluasi yang dikembangkan oleh Project Management Unit Special Programme for Food Security (SPFS) – FA0, dan mendapatkan penghargaan BR Sen Award dari FAO pada Desember 2007. (SPFS, 2007).

Untuk tujuan monitoring dan evaluasi program pemberdayaan masyarakat, VPA telah dikembangkan sebagai alat evaluasi yang lengkap dan mudah diimplementasikan. Selain daripada fungsi utamanya sebagai alat monitoring dan evaluasi dampak program, VPA dapat juga digunakan sebagai alat untuk melakukan penilaian (assestement) pada waktu pemilihan lokasi dan calon

masyarakat penerima program, sehingga status ketahanan pangan pada masyarakat setempat dapat diketahui dengan jelas.

Dasar perhitungan VPA menggunakan rumus dasar segitiga Phytagoras, yaitu :

C² = A² + B²

Dimana C adalah besaran (magnitudo) Vektor VPA

Gambar 2. Rumus Segitiga Phytagoras

Besaran vektor di dapatkan dari akar kuadrat C, yang menunjukkan besaran perkembangan pola pikir dan peningkatan taraf hidup, besaran sudut C juga menunjukkan kecenderungan arah pertumbuhan ke dua parameter utama, sehingga arah Rencana Tindak Lanjut dapat lebih terarah pada sub-indikator yang ternyata masih lemah.

Analisa Rencana Tindak Lanjut selanjutnya akan lebih mendetail dengan melakukan analisa pada masing-masing sub-indikator dengan menggunakan Grafik Analisa Sub Indikator dan Tabel Skala Prioritas, sehingga detail program pada Rencana Tindak Lanjut dapat diketahui.

Validitas dari VPA sebagai suatu alat monitoring dan evaluasi proyek akan ditentukan oleh kualitas data dan informasi yang diperoleh dari responden. Oleh sebab itu akurasi data menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data. Salah satu faktor yang dapat menentukan kualitas data adalah adanya perbedaan pemahaman terkait dengan pertanyaan dan wawancara (kuisioner).

C

2.12. Kemajuan Pola Pikir dan Kemajuan Taraf Hidup

Menurut Purnama (2007), evaluasi kemajuan status dan posisi ketahanan pangan yang dicapai oleh peserta dan penerima manfaat program pemberdayaan masyarakat pada prinsipnya diukur dari beberapa indikator kemajuan. Indikator ini dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu:

1. Indikator kemajuan pola pikir (mindset development).

2. Indikator kemajuan taraf hidup (livelihood development)

Pemilihan dua indikator ini didasari pemikiran bahwa pada dasarnya program pemberdayaan masyarakat bertujuan meningkatkan status ketahanan secara holistik dan komprehensif yang tidak hanya meliputi peningkatan di bidang kesejahteraan (fisik) tetapi juga meliputi kemajuan kapasitas manusia yang ditunjukkan melalui perkembangan pola pikir yang positif.

Pemilihan dua indikator ini pada prinsipnya juga didasarkan oleh kenyataan bahwa komponen program pemberdayaan masyarakat tidak hanya berfokus pada kegiatan pemberdayaan fisik tetapi juga meliputi kegiatan penguatan kelembagaan dan kapasitas masyarakat desa dalam meningkatkan ketahanan pangan.

Hubungan dan posisi dari ke dua indikator utama ini menunjukkan tingkat keberhasilan program pemberdayaan masyarakat sebagaimana digambarkan pada Gambar 3.

Vectorial Project Analysis (VPA)

0 5 10 5 10 (2,3) X Y Mindset development Li v e lihoo d d evel o p m en t (7,8) (2,3) (7,8) V = 7.07 5 5 V = ((Xa-Xb)2+(Ya-Yb)2)1/2 (+,+) (+,-) (-,+) (-,-)

Gambar 3. Hubungan kemajuan taraf hidup dan pola pikir dalam

Indikator kemajuan taraf hidup (livelihood) dikelompokkan sebagai indikator yang bersifat fisik (tangible) atau indikator-indikator yang dapat diukur secara kuantitatif. Indikator ini akan menggambarkan kemajuan fisik status ketahanan pangan yang antara lain diukur melalui beberapa sub indikator yaitu

1. Pendapatan, 2. Kesempatan kerja, 3. Konsumsi pangan, 4. Sanitasi dan kebersihan,

Indikator kemajuan pola pikir (mindset) dikelompokkan sebagai indikator yang bersifat bukan fisik (intangible). atau indikator-indikator yang sebenarnya hanya bisa diukur secara kualitatif, tetapi dalam analisa VPA indikator-indikator pola pikir ini diukur secara kuantitatif. Indikator ini lebih lanjut diurai menjadi beberapa sub indikator yang meliputi tingkat :

1. Aktifitas di kelompok tani 2. Tingkat adopsi teknologi 3. Kebiasaan menabung 4. Kepercayaan diri

5. Orientasi pendidikan anak 6. Pengarusutamaan jender

7. Praktek dan orientasi bisnis (usahatani).

Interpretasi hasil monitoring dan evaluasi dengan menggunakan VPA menjadi faktor yang paling penting. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, monitoring dan evaluasi menggunakan VPA ini dilakukan dengan metode komposit dimana indikator kemajuan program disederhanakan menjadi dua indikator utama yaitu taraf hidup (livelihood) dan pola pikir (mindset).

Selanjutnya, untuk menggambarkan hasil evaluasi kombinasi kedua indikator ini dinyatakan dalam bentuk suatu koordinat. Indikator kesejahteran dijadikan sebagai koordinat Y sedangkan mindset dinyatakan sebagai koordinat X. Nilai koordinat dibatasi sesuai dengan skor maksimum yaitu dari 0 sampai 10. Selanjutnya, bidang koordinat akan dibagi menjadi empat kuadran yaitu dengan batas virtual terletak pada titik 5 atau titik tengah berada pada koordinat

(5,5). Bidang kuadran yang dibatasi oleh garis Y >= 5 dan X >=5 disebut

kuadran I atau kuadran positif-positif. Sedangkan bidang yang dibatasi Y < 5 dan X < 5 disebut kuadran negatif-negatif (IV). Sedangkan diluar bidang tersebut diberi nama dengan kuadran positif negatif (II) dan negatif positif (III),

Titik koordinat kombinasi dua indikator selanjutnya akan diplotkan dalam bidang koordinat sehingga bisa diketahui posisi kelompok tersebut jatuh pada kuadran yang mana. Posisi titik koordinat di kuadran ini menunjukkan status ketahanan pangan kelompok tersebut.

Pada evaluasi tahap selanjutnya (tahun berikutnya) koordinat baru akan diplotkan. Dua titik koordinat tersebut selanjutnya jika dihubungkan dengan garis membentuk vektor. Dari koordinat dua titik ini akan dapat dihitung besaran (magnitudo) vektor. Magnitudo ini manggambarkan indeks kemajuan (progres) yang berhasil dicapai oleh program dalam rentang waktu tersebut.

Dari ”pergerakan” posisi dari koordinat maka akan dapat diketahui perkembangan kemajuan program desa mandiri pangan pada kelompok tersebut dari waktu ke waktu. Sasaran akhir program adalah menggeser posisi dan status ketahanan pangan kelompok tersebut dari posisi di kuadran negatif-negatif menuju ke kuadran posisi positif-positif. Model keluaran VPA dijelaskan pada Gambar 4.

Selain untuk menentukan posisi dan status ketahanan pangan, hasil VPA dilanjutkan dengan analisis pencapaian posisi dari kemajuan yang dicapai oleh kelompok tani. Untuk tujuan ini, bidang koordinat dibagi lagi menjadi empat segmen yaitu :

(1) Segmen I adalah dibatasi garis Y= 4 sampai Y = 5 dan X= 4 sampai X =5. Segmen ini diberi nama fase persiapan. Secara teoritis, setelah satu tahun pelaksanaan program status dan posisi kelompok tani peserta harus setidak-tidaknya jatuh pada segmen ini. Jika setelah satu tahun program, status dan posisi koordinat masih jatuh di bawah segmen ini maka dinilai program belum mencapai kemajuan sesuai dengan harapan.

(2) Segmen II dibatasi oleh garis Y=5 hingga Y= 6 dan X = 5 hingga X=6. Segmen ini diberi nama fase penumbuhan. Secara teoritis, setelah dua tahun pelaksanaan program, status dan posisi kelompok tani peserta harus

setidak-tidaknya jatuh pada segmen ini. Jika titik koordinat VPA jatuh di bawah segmen ini maka dinilai program belum mencapai kemajuan sesuai dengan harapan.

(3) Segmen III dibatasi oleh garis Y=6 hingga Y= 7 dan X = 6 hingga X=7. Segmen ini diberi nama fase pengembangan. Secara teoritis, setelah tiga tahun pelaksanaan program, status dan posisi kelompok tani peserta harus setidak-tidaknya jatuh pada segmen ini. Jika titik koordinat VPA jatuh di bawah segmen ini maka dinilai program belum mencapai kemajuan sesuai dengan harapan.

(4) Segmen IV dibatasi oleh garis Y=7 hingga Y= 10 dan X = 7 hingga X=10. Segmen ini diberi nama fase kemandirian. Secara teoritis, setelah empat tahun pelaksanaan program, status dan posisi kelompok tani peserta harus setidak-tidaknya jatuh pada segmen ini. Jika titik koordinat VPA jatuh di bawah segmen ini maka dinilai program belum mencapai kemajuan sesuai dengan harapan. A 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 10.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 10.0 0 2006-2007 2007-2008

Analisis VPA menunjukkan suatu analisis yang bersifat komprehensif dengan menggunakan indikator komposit. Dengan cara ini maka informasi kemajuan yang diperoleh menunjukkan suatu kemajuan agregat tertimbang (rata-rata tertimbang) dari seluruh indikator penyusunnya. Padahal tentunya tidak semua komponen (indikator) memiliki kemajuan yang selaras (proporsional). Sebagian indikator mungkin sudah terjadi kemajuan yang signifikan tetapi sebagian indikator yang lain mungkin belum mencapai kemajuan yang berarti.

Guna menganalisis lebih jauh kemajuan setiap komponen indikator ketahanan pangan maka bisa dilakukan analisis indikator. Analisis indikator pada intinya adalah melihat nilai skor yang telah berhasil dicapai oleh setiap inidikator sehingga hasil dari

Interpretasi untuk analisis indikator pada prinsipnya serupa dengan analisis VPA komprehensif. Jika skor suatu indikator belum mencapai sasaran, maka dinyatakan bahwa indikator tersebut belum mencapai kemajuan sesuai harapan. Lebih lanjut dengan analisis parsial pada setiap indikator akan dapat diketahui aspek apa yang masih lemah, serta yang paling lemah dari keseluruhan indikator ketahanan pangan. Atas dasar informasi ini maka akan dapat dirumuskan fokus kegiatan pendampingan pada tahun berikutnya.

VPA terutama dilaksanakan pada tingkat kelompok tani, khususnya untuk menggambarkan kemajuan kelompok peserta program desa mandiri pangan. Selanjutnya, untuk melihat perkembangan kemajuan program pada tingkat desa maka perlu dilakukan agregasi. Agregasi pada dasarnya dilakukan dengan menghitung rataan skor VPA setiap kelompok dalam desa tersebut.

Hasil VPA tingkat desa selanjutnya perlu diagregasikan ke tingkat kabupaten, khususnya untuk menggambarkan status dan kemajuan program desa mandiri pangan tingkat kabupaten. Agregasi pada dasarnya dilakukan dengan memasukkan rataan skor VPA setiap desa untuk dimasukkan dalam VPA tingkat kabupaten.

III. METODOLOGI KAJIAN

3.1. Kerangka Pemikiran

Keberlanjutan dari sebuah program pemberdayaan masyarakat dimulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang melibatkan masyarakat secara partisipatif. Evaluasi secara partisipatif berguna untuk melihat sejauh mana dampak pelaksanaan program pada peningkatan taraf hidup dan pola pikir masyarakat. Peningkatan taraf hidup dan peningkatan pola pikir masyarakat dapat diukur secara kuantitatif dengan dengan peranserta aktif masyarakat. Untuk itu diperlukan sebuah alat untuk mengevaluasi kedua parameter tersebut di atas dengan sederhana dan aplikatif, sehingga dapat disusun sebuah perencanaan untuk pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat kedepan.

Aspek keberlanjutan (sustainibilitas) selain mendapatkan pengaruh eksternal dari luar kelembagaan kelompok tani, terdapat juga pengaruh berasal dari program pemberdayaan, yaitu perbandingan besaran porsi peran pendampingan dan peran kelompok itu sendiri. Sehingga untuk mencapai tujuan sustainibiltas diperlukan suatu pola perbandingan besaran porsi yang berkembang sesuai dengan kemajuan kelembagaan kelompok tani.

Implementasi program pemberdayaan masyarakat akan mampu berkembang menjadi suatu program berkeberlanjutan yang diharapkan membawa masyarakat menjadi lebih sejahyera dan mandiri, apabila secara komprehensif memenuhi wilayah pembagian input yang dibutuhkan yaitu input fisik dan pengembangan kapasitas (input non fisik).

Gambar 5. Kerangka Pemikiran Kajian RANCANGAN PROGRAM PEMBERDAYAAN 1.Diversifikasi asupan konsumsi pangan 2.Pelibatan dan penguatan peran perempuan dalam poktan 3.Pengembangan jenis usaha produktif Peningkatan Kesejahteraan dan Kemandirian masyarakat KONDISI SAAT INI

Gambaran Umum Program CECOM Foundation 1.Sistem Program Pemberdayaan : a.Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu b.Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah c.Pengembangan Pelatihan dan Penguatan Kapasitas d.Pengembangan Usaha berbasis Komunitas 2.Sistem Program Layanan : a.Pengembangan Kesehatan Masyarakat b.Pengembangan Pendidikan Masyarakat Permasalahan 1. Pengaruh intervensi Program Pemberdayaan Masyarakat : a.Peningkatan Pola Pikir b.Peningkatan Taraf Hidup. 2. Keberlajutan Program Program Pemberdayaan CECOM Foundation di Tingkat Komunitas 3. Bentuk Program

lanjutan yang sesuai dengan kebutuhan komunitas

Model Strategi dan Implementasi Pemberdayaan

Masyarakat Di Kabupaten

Kampar

Vectorial Project Analysis (Analisis VPA)

1.Implementasi Proyek/ Kegiatan Program Pemberdayaan Masyarakat 2.Evaluasi Dampak Proyek/

Kegiatan .

Dampak Program yang Diharapkan : 1.Peningkatan Taraf Kehidupan

3.2. Metode Penelitian

3.2.1. Metode Pengumpulan Data

Rancangan penelitian yang digunakan dalam melakukan kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif (Vectorial Project Analysis/VPA) dengan topik kajian “ Peningkatan Pola Pikir dan Taraf Hidup Komunitas Petani melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (Kasus Program CECOM Foundation di Tiga Desa di Kecamatan Kampar Timur, Kabupaten Kampar)”.

Cara pengumpulan data yang dipergunakan dalam kajian ini yaitu mengumpulkan data dari berbagai sumber baik melalui pengumpulan data primer (diskusi/wawancara langsung diskusi kelompok, pengamatan lapangan) maupun pengumpulan data sekunder (data stastistik, laporan dari instansi-intstansi).

Tahapan-tahapan dan pendekatan yang dilakukan dalam pengumpulan data primer adalah:

1. Pengamatan lapangan, yaitu melakukan pengamatan pada subjek kajian di Desa Tanjung Bungo (dahulu Desa Kampar), Desa Kualu Nenas, dan Desa Pulau Birandang Kecamatan Kampar Timur, Kabupaten Kampar.

2. Diskusi dan wawancara (inteview) yaitu menggali informasi dari unsur kelompok tani dampingan dan yang bukan dampingan CECOM foundation. Data dan informasi yang digali meliputi : (a) pendapatan dan struktur pengeluaran; (b) konsumsi pangan; (c) sumber nafkah/ pekerjaan; (d) sanitasi dan kebersihan; (e) aktifitas dan tingkat kehadiran di kelompok; (f) tingkat adopsi teknologi; (g) frekuensi dan tempat menabung; (h) partisipasi dalam rapat kelompok; (i) persepsi pendidikan anak; (j) partisipasi dan peran gender; dan (k) orientasi praktek bisnis (usaha tani)

Pengumpulan data sekunder berkaitan dengan kajian ini dikumpulkan dari Yayasan Peduli Pemberdayaan Masyarakat atau CECOM Foundation yang meliputi (a) profil lembaga; (b) strategi dan implementasi program; (c) monitoring dan evaluasi kemajuan program tahun 2006 – 2007.

3.2.2. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Metode analisis data kajian ini menggunakan analisis kuantitatif melalui analisis Vectorial Project Analysis (VPA). Data hasil wawancara langsung dientrikan ke dalam file Survey Form VPA. Format dalam form data entry

(worksheet) berbentuk persis sama dengan formulir wawancara. Pada prinsipnya hanya dilakukan pemindahan data dari bentuk hardcopy ke bentuk elektronis. Proses pengolahan data sudah dibuat dengan menggunakan pemrograman komputer. Untuk tujuan pengolahan data yang pertama kali dilakukan dengan membuat rata-rata skor dari setiap sub-indikator individu responden menjadi suatu rataan nilai skor pada tingkat kelompok tani. Langkah selanjutnya adalah memasukkan data rataan dalam sistem perhitungan untuk mendapatkan besaran nilai vektor VPA sehingga grafik VPA dapat digambarkan.

3.2.3. Metode Perencanaan Program.

Metode perencanaan program dalam kajian ini menggunakan metode

Logical Framework Analisis (LFA), dimana dalam hal ini perencanaan dilakukan dengan merumuskan masalah-masalah yang ada serta tujuan-tujuan pemecahan masalah yang akan dicapai secara jelas sehingga ikut mendorong tercapai mufakat pada saat adanya pendapat dan harapan yang beda-beda.

3.3. Lokasi dan Waktu Kajian

Kajian ini dilaksanakan di Kecamatan Kampar Timur, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau yang dilaksanakan pada tanggal 5 Oktober 2008 sampai dengan 10 Februari 2009. Obyek kajian adalah analisa dampak program pengembangan sistem pertanian terpadu atau Integrated Farming System (IFS) kepada kelompok tani dampingan CECOM Foundation

Alasan pemilihan lokasi penelitian disebabkan telah dilakukannya program pemberdayaan masyarakat oleh CECOM dalam pengembangan IFS yang telah dievaluasi secara partisipatif dengan menggunakan metode analisis VPA pada tahun 2006 (fase persiapan), dan pada tahun 2007 (fase pertumbuhan). Hasil evaluasi kemajuan program pemberdayaan CECOM Foundation periode tahun 2006-2007 tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku pada tahun 2007. Peneliti tertarik mengetahui tren keberlanjutan kemajuan program pemberdayaan pada fase pengembangan (tahun 2008) serta merancang pengembangan program lanjutan pada fase kemandirian (tahun 2009).

Kajian dilaksanakan secara bertahap dengan jadwal seperti pada tabel 1, Tabel 1. Jadual Rencana Pelaksanaan Kajian

No Kegiatan Tahun 2008 2009 Tahun 2010

Tahun 2011 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 11 12 1 2 3 4 5 4 5 1 Pemetaan Sosial (PL1) 2 Evaluasi Program (PL2) 3 Penyusunan Dan Seminar Kolokium 4 Pelaksanaan kajian dan Pengembangan Program 5 Penulisan laporan 6 Seminar 7 Ujian Akhir

3.4. Rancangan Penyusunan Progran

Penyusunan Program pengembangan dilakukan dengan pendekatan partisipatif, yaitu melibatkan kelompok tani, pendamping komunitas serta tokoh masyarakat ditempat terpisah sesuai dengan fungsi dan perannya melalui disikusi. Tujuannya adalah untuk menyusun program pengembangan dan kebijakan program pemberdayaan masyarakat CECOM

Penyusunan Program dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Penyajian hasil kajian mengenai gambaran perkembangan kelompok tani dampingan CECOM ditingkat desa sampai kabupaten. Penyajian ini dilakukan secara FGD atau diskusi kelompok untuk memperjelas latar belakang pembuatan rencana program.

2. Membahas kelemahan dan kekuatan strategi dan program pemberdayaan masyarakat CECOM berdasarkan perkembangan dan keadaan petani dampingan, untuk kemudian dibuat rencana aksi program

3. Mendiskusikan/membahas tindakan-tindakan yang akan dibuat dalam strategi maupun aksi program untuk memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi oleh petani dampingan melalui FGD atau diskusi kelompok.

Merumuskan rancangan aksi program pemberdayaan CECOM berdasarkan prioritas utama permasalahan (berdasarkan hasil kajian), kemudian ditentukan sebuah kegiatan pemberdayaan masyarakat.

4.1. Evolusi Program CSR PT. Riau Andalan Pulp And Paper

PT. Riau Andalan Pulp And Paper (PT. RAPP) yang 98,5 persen sahamnya dimiliki oleh Grup APRIL (Asia Pacific Resources Holding Limited)

adalah salah satu perusahaan penghasil produk bubur kertas (pulp) dan produk kertas (paper) terkemuka di dunia. Bahan baku utama PT. RAPP adalah kayu alam campuran (Mixed Hard Wood) dan kayu tanaman industri (akasia) yang bersumber dari area ijin konsesi Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) seluas 330.000 hektar yang tersebar di beberapa kabupaten di Propinsi Riau. Selain itu PT. RAPP juga memperoleh pasokan kayu yang bersumber dari area hutan milik masyarakat seluas 20.000 hektar dalam kemitraan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dan bersumber dari area konsesi HPH perusahaan lain seluas 250.000 hektar dalam bentuk joint ventures. Total area hutan yang dijadikan sebagai sumber bahan baku kayu PT. RAPP adalah seluas 600.000 hektar (Sustainable Report of APRIL,2004).

Sebagai industri ekstraktif yang berbasis pemanfaatan sumber daya alam, PT. RAPP menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan pengembangan bisnis berkelanjutan (sustainable business development). Ini berarti PT. RAPP secara operasional harus menguntungkan secara komersial (commercially viable), mampu menjadi lokomotif pengembangan ekonomi secara luas (economically sound) serta mampu memenuhi standar sosial dan lingkungan (meet social and international environmental standarts). Merujuk ungkapan Melayu Riau, ”Tali Berpilin Tiga”, PT. RAPP menjadikan domain Profit, People, dan , Planet, dalam satu kesatuan tarikan nafas tanggung jawab sosial perusahaan (Indef, 2008).

Dalam hampir dua dasawarsa keberadaan PT. Riau Andalan Pulp And Paper (PT. RAPP) di Propinsi Riau telah mengalami proses evolutif dalam paradigma dan implementasi program tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR). Hal tersebut dilakukan perusahaan sebagai respon terhadap :

1. Tumbuhnya ekspektasi stakeholder kepada dunia usaha di Propinsi Riau agar lebih meningkatkan komitmen mengembangkan aspek sosial ekonomi lokal

serta berkontribusi nyata kepada penumbuhan partisipasi warga penduduk lokal dalam mata rantai produksi perusahaan.

2. Peningkatan dinamika perubahaan sosial di Indonesia pada umumnya dan di Propinsi Riau pada khususnya pada awal era reformasi yang disusul dengan berlakunya UU Otonomi Daerah, membuat dunia usaha menjadi ”sasaran tembak” secara terbuka oleh berbagai pemangku kepentingan yang menuntut kontribusi dan komitmen yang lebih tinggi dari perusahaan terkait isu-isu sosial dan lingkungan.

3. Tumbuhnya paradigma baru dan komitmen dari manajemen PT. RAPP yang memandang bahwa keberlanjutan dunia usaha sangat dipengaruhi oleh konsistensi perusahaan menjalankan usaha berbasis The Concept of The Triple Bottom Line, seperti yang ditunjukkan pada gambar 6.

Corporate Forum for Community Development Chapter Riau CSR Profit People Planet The “ 3P”

Konsep “ The Triple Bottom Line” pada CSR PT. RAPP

Gambar 6. Konsep The Triple Bottom Line dalam CSR PT. RAPP Sumber : Fajar (2005)

Dalam perspektif ideal, Fajar (2005), melihat bahwa pelaku bisnis, tidak terkecuali PT. RAPP harus mereformasi paradigma dan perilakunya secara evolutif apabila menghendaki usaha yang ditekuni dapat berjalan berkelanjutan

Corporate Forum for Community Development Chapter Riau From profit focus, a company exist only for short-term shareholder profit For philanthropy, passive donations to charities when requested To community affairs, strategic giving linked to business interests (includes cause-related marketing) To corporate community investment, strategic partnerships initiated by company To Sustainable Business, integrated into business functions, goals, strategy. Evolusi Bisnis menuj u Keberlanj utan

(Business Evolution Toward Sustainability)

Gambar 7. Evolusi Bisnis Menuju Keberlanjutan Usaha. Sumber : Fajar (2005)

Proses evolutif paradigma dan pelaksanaan CSR di PT. RAPP oleh Indef (2008) dalam buku Sewindu CSR Riaupulp, dibagi menjadi tiga model sesuai motif atau pandangan perusahaan terhadap tanggung jawab sosialnya :

1. Model Cause-related Marketing (Tahun 1993 – 1999)

Pada periode tahun tersebut pelaksanaan CSR PT. RAPP dikendalikan oleh divisi Hubungan Masyarakat (Public Relation) dibawah Departemen

General Affair and Licenses. PT RAPP meyakini bahwa tanggung jawab sosial (CSR) menyumbang pada kemajuan perusahaan melalui efek catatan penghasilan dan berkait dengan alasan pemasaran. Dalam kaitan ini perusahaan mempertahankan akuntabilitas yang ketat dan memunculkan kontribusi organisasi untuk menyumbang (charity) dengan alasan-alasan sosial.

2. Model Strategic Philantropy (Tahun 1999 – 2005)

Pada pertengahan tahun 1999, PT. RAPP secara khusus mendirikan 2 departemen dan 1 divisi sekaligus untuk mendukung komitmen perusahaan dalam menjalankan CSR, yaitu :

a. Departemen PPMR (Program Pemberdayaan Masyarakat Riau), yang fokus menggarap isu-isu sosial ekonomi masyarakat khususnya dalam program community development yang mendasarkan pelaksanaannya secara lebih partisipatif.

b. Departemen Lingkungan Hidup, yang fokus menggarap isu-isu lingkugan hidup dengan lebih terbuka (open policy) bagi proses pelibatan peran pemangku kepentingan khusunya Environmental NGO

dalam pengambilan kebijakan.

c. Divisi CRA (Community and Religious Affair) dibawah departemen HRD (Human Resources development), memfokuskan diri menggarap isu-isu pengembangan sosial keagamaan bagi komunitas internal perusahaan yaitu para karyawan dan keluarganya serta berbagai paguyuban yang berbasis etnis dan agama yang berada di lingkungan perusahaan.

Dalam model ini, PT. RAPP meyakini bahwa efek balance sheet yang diperoleh dari kemampuan perusahaan membangun loyalitas jangka panjang, legitimasi dan kepercayaan atau kekayaan merk akan mendorong pencapaian tujuan strategis perusahaan yang lain.

3. Model Stakeholder Management (Tahun 2005 – 2008)

Dalam kategori dinyatakan bahwa keterlibatan sosial memungkinkan terjadinya kompromi terhadap profitabilitas perusahaan. PT. RAPP