BAB IV MEMBAYANGKAN JAKARTA PERIODE 1950-AN DI
A. Ikan-Ikan yang Terdampar
Seperti yang telah dibahas dalam Bab II, sejak masa pendudukan Jepang, terjadi gelombang migrasi besar-besaran ke Jakarta. Ikan-Ikan Yang
Terdampar di antaranya mengangkat isu migrasi ini, yang dibicarakan dari
perspektif seorang migran, Idulfitri.
Idulfitri menggunakan istilah terdampar untuk menyebut peristiwa
kepindahannya dari kampung ke ibukota. Seperti yang tertera dalam judul, Idulfitri menganalogikan dirinya seperti ikan yang tercampak ke darat selepas banjir reda. Teks cerpen juga tampak konsisten memakai awalan
256
Mohamad, Goenawan. Foreword dalam Toer, Pramoedya Ananta. 2000. Tales From Jakarta: A Caricature of Circumstances and Their Human Beings. Equinox: Jakarta, hal: vii - viii
105
ter- , seperti penggunaan kata terdampar dan tercerai . Seperti dalam paragraf berikut:
Kalau banjir telah surut, [...] hitunglah, berapa banyak ikan terdampar
di beting-beting. Dan binatang-binatang itu tidak berdaya karena mereka tercerai dari air. Dan aku – aku ini salah seekor di antara binatang-binatang itu. 257 [penekanan dari penulis]
Pernyataan tersebut mengundang pertanyaan, seperti: Mengapa Idulfitri menggunakan kata terdampar , yang sekaligus menempatkan Idulfitri dalam posisi obyek dalam peristiwa kepindahannya? Bukankah tidak ada yang memaksa Idulfitri untuk hijrah dari kampungnya? Tidakkah ia dengan sukarela datang ke Jakarta, atau dengan membalik istilah Idulfitri, bukankah ia yang mendamparkan diri sendiri?
Dengan memakai analogi ikan yang terdampar , Idulfitri terlihat
hendak menekankan pada adanya faktor lain di luar dirinya yang membuat ia terseret ke ibukota. Bahwa ada keadaan-keadaan tertentu yang menghempaskannya ke Jakarta, yang berada di luar kehendak pribadinya. Dan, keadaan inilah yang lebih berkuasa atas jalan hidupnya.
Jelas, pilihan bukan sesuatu yang hendak diperdebatkan di sini; bukan soal apakah Idulfitri suka atau tidak suka, ingin atau tidak ingin. Kalau punya pilihan, ia akan menawar menjadi komis atau asisten wedana, seperti yang dicita-citakan kedua orang tuanya. Ia tidak berkehendak menjadi maling. Ia tidak pernah melamar untuk posisi itu.
Setiap cita-cita Idulfitri selalu kandas, dikandaskan oleh faktor x . Ia
ingin menjadi polisi militer, tetapi ditolak karena dikira komunis. Inginnya
257
Toer, Pramoedya Ananta. [1957] 2002. Cerita dari Jakarta: Sekumpulan Karikatur Keadaan dan Manusianya. Hasta Mitra: Jakarta, hal: 18
106 bekerja tetap, yang berkantor dan bergaji tetap, namun pengeluarannya untuk hidup layak sebagai karyawan bakal jauh lebih besar ketimbang yang didapat. Demikian besarnya pengaruh keadaan pada hidup Idulfitri hingga
dapatlah dikatakan Idulfitri tidak menjadi kriminal dengan sendirinya. Lebih tepatnya, ia di-kriminal-kan.
Selain itu, ada pula sosok Namun, yang berperan sebagai tim sorak
yang menyokong setiap tindakan-tindakan kriminal Idulfitri. Seperti yang tersirat dari namanya, Namun adalah penghubung yang memungkinkan Idulfitri (seorang suci) melakukan kejahatan. Namun termasuk dalam faktor
x yang mendorong Idulfitri untuk mementingkan hak perutnya di atas
segala-galanya. Namun adalah prasyarat bagi Idulfitri untuk hidup berlawanan arah dari jalur yang dikehendaki atas dirinya.
Selain soal pekerjaan, Idulfitri juga tidak memiliki pilihan dalam hal tempat tinggal. Ia tidak punya pilihan untuk bertahan di kampung atau di kota. Toh, antara kampung dan kota bukan sebuah pilihan yang sejajar, tidak seperti ketika harus memilih antara Facebook dan Twitter, atau Blackberry dan iPhone. Orang kampung hidup dengan aspirasi pergi ke kota, tidak berlaku sebaliknya.
Apabila orang sudah sampai di kota, orang seakan-akan tidak punya jalan untuk pulang; serupa bertemu jalan buntu yang tidak menyediakan jalan untuk berbalik. Ini terjadi dalam kasus Idulfitri. Antara mau dan malu, ingin dan tidak bisa, harapan dan kenyataan; kontras-kontras ini memperlebar jarak antara Idulfitri dan kampungnya, seperti yang tergambar dalam paragraf berikut:
107 Anak yang diharapkannya jadi manusia yang kelak menjadi kebanggaannya adalah aku yang keparat ini. Mereka tidak membutuhkan aku. Aku malu pulang ke kampungku. Aku malu pada pertanyaan mereka yang paling pertama. [...] Bagaimana pekerjaanmu? Engkau bekerja apa sekarang, anakku? Dan mereka menunggu jawaban dengan hati yang berdebar-debar. Dan jangan pula engkau lupa, jawabanmu itu sebentar lagi akan tersiar di antara para tetangga dan kawan sahabat orang tuamu itu. [...] Aku akan tetap bertahan di sini, hingga setidak-tidaknya sepuluh prosen dari cita-cita mereka terkabul. 258
Hijrahnya Idulfitri ke ibukota telah merubahnya menjadi makhluk baru . Ia berubah menjadi Idulfitri versi Jakarta yang akan janggal bila ditempatkan dalam situasi dan kondisi di kampung. Perubahan yang mencolok itu yakni dari cara pandangnya. Ia berpikir tidak lagi berdasarkan pertimbangan norma atau susila, tetapi lebih didorong oleh kebutuhan jasmaninya yang paling mendesak: kebutuhan untuk makan. Ia menimbang segala sesuatu sesuai dengan logika perutnya. Ia hanya dapat berbicara dengan asas guna, tidak selain itu.
Dengan kegunaan sebagai prinsip, segala sesuatu di luar itu menjadi sia-sia. Mulai dari talu-taluan beduk masjid, serdadu gagah yang menjaga pintu istana, gambar paha telanjang dan cium-ciuman di bioskop, semua tidak berguna di mata Idulfitri. Seluruh pancainderanya tidak kenal jenis-jenis keindahan: itu di luar kosakata hariannya. Ia lebih tergiur bila mencium bau sate yang dibakar ketimbang gambar cium-ciuman pemain film.
Setelah memasuki hari-hari yang beribu-ribu jumlahnya, Idulfitri tak tahu lagi di mana pentingnya embun yang bergantungan di dedaunan atau rerumputan pagi hari. Juga tak tahu lagi ia di mana manisnya awan merah yang melembayang di atas kepala. Dan ia pun tak mengerti lagi apa kehebatan yang tersimpul dalam taluan beduk-beduk langgar mesjid dan kelening genta gereja-gereja.
258
108
Waktu mau menyeberangi jalan raya ia menengok ke kanan, dan ia
melihat pagar istana. Serdadu yang gagah menjaga lobang pintu. Tapi pada itu pun ia sudah tak peduli lagi. Sudah bosan. Sudah tak kuasa ia mengagumi kehebatan dan apa gunanya bagi negara dan perutnya
sendiri.
Gambar-gambar paha telanjang dan cium-cium ini tidak ada gunanya
bagi orang lapar. 259
Celotehan-celotehan Idulfitri di atas menyarankan bahwa keindahan dan hal-hal yang abstrak itu bukannya bebas nilai, melainkan terkotak-kotak dalam kelasnya masing-masing. Estetika tidak berlaku universal dan memiliki kecenderungan untuk menjadi elitis. Estetika adalah istilah khusus untuk kalangan kelas menengah atas, yang berada di luar jangkauan kemampuan Idulfitri untuk mencernanya.
Apabila ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, ocehan Idulfitri juga bisa jadi adalah gugatan Pramoedya terhadap sastra, agama (khususnya Islam), serta negara. Pramoedya, melalui moncong Idulfitri, mengkritik sastra yang hanya peduli pada keindahan, atau struktur estetika formal seperti yang dikoar-koarkan sastrawan Gelanggang yang mendominasi pada periode 1950-an. Ini menarik sebab periode 1950-an awal justru merupakan masa di mana Pramoedya sering dikait-kaitkan dengan kelompok Gelanggang. Kritik itu bahkan dituliskan secara eksplisit di dalam cerpen:
Mengapa tak ada yang menggambarkan bagaimana lapar
membelit-belit dalam ususku?
Kaum seniman dan artis itu, ia terlampau banyak mengurus dirinya
sendiri, mereka barangkali tak sadar betapa jiwa melayang ke hadirat Tuhan yang diapit makaikat-malaikatnya bilamana seorang yang kelaparan ada mencium sate sedang dibakar. 260
259
Ibid., hal: 16; 18 – 19
260
109 Di dalam cerpen ini, alih-alih menuliskan kata-kata yang indah dan puitis, Pramoedya malah mencantumkan banyak kata makian. Dengan penggunaan umpatan-umpatan ini Pramoedya mencoba mereposisi kedudukan sastra: merubahnya dari alat untuk mengekspresikan keindahan, serupa paha-paha telanjang dan adegan-adegan ciuman, menjadi sarana untuk mengungkapkan kegetiran dan kepahitan hidup, seperti cerita Idulfitri yang sehari-harinya menanggung kelaparan.
Kritik selanjutnya dialamatkan pada agama, tepatnya pada ketidakmampuan agama untuk berbicara dalam bahasa yang dimengerti oleh orang-orang serupa Idulfitri. Agama lebih banyak berbicara dalam kerangka waktu nanti: soal hitungan dosa dan pahala; lalu surga dan neraka. Agama mempersiapkan orang-orang untuk hidup di akhirat, yang tidak pasti hitungan hari dan tahunnya. Sementara Idulfitri berhadapan dengan waktu kini. Hidupnya berputar dalam hitungan jam. Bahkan, hitungan jam ini membingkai keseluruhan cerita, lanjut dieksplisitkan pula di dalam teks:
Jam enam pagi teng ia tergagap-gagap bangun. Ia lapar. Selamanya
begitu. Tetapi sekali ini lebih-lebih lagi: ia tak punya uang, tak punya
makanan, tak punya kopi dan juga tak punya perempuan.
Sudah sebelas jam kita kelaparan sejak pagi. Belum terhitung semalam. Dua puluh lima jam. 261 (penekanan dari penulis)
Hidup Idulfitri layaknya patahan-patahan yang tidak terulur panjang sampai ke depan, ke masa-masa yang akan mendatang. Hidupnya terhenti di hari ini, saat ini, jam ini. Apa yang didapatnya hari ini, diperuntukkan dan dihabiskan untuk hari ini juga. Dalam hal ini dapat dibilang Idulfitri adalah sebuah antitesis dari ide kemajuan yang ditawarkan ibukota. Ia tidak hidup
261
110 dengan visi yang jauh ke depan. Ia tidak dilingkupi oleh kepercayaan atau optimisme terhadap masa-masa yang akan mendatang. Hidupnya adalah sekarang, di hari ini, di jam ini. Misalnya dalam cerpen ini dikisahkan, setelah 11 jam menanggung lapar, Idulfitri menjual dompet Namun, temannya. Dengan hasil penjualan dompet itulah keduanya dapat makan. Makan untuk satu hari, dirangkum di satu waktu, dan hanya cukup untuk sekali itu. Makan untuk besok diikhtiarkan lagi saat matahari esok menjelang. Begitulah seterusnya.
Dalam setiap perputaran jam, Idulfitri dihadapkan pada permasalahan bagaimana supaya mengisi perut dengan segera. Dan, permasalahan ini tidak dapat diselesaikan secara instan melalui beribadah atau beragama. Nilai-nilai yang diajarkan agama tidak dapat dikonsumsi, dikonsumsi dalam artian denotatifnya. Mungkin dapat menenangkan hati, tetapi tidak dapat meredam gejolak di lambung Idulfitri. Seperti sindiran Namun pada Idulfitri: Dan
engkau, haji gagal, apakah tidak bisa berdoa agar dalam dua jam ini paling lambat kita bisa memperoleh makan? 262 (Perhatikan juga bahwa hitungan jam kembali dipergunakan.)
Sementara itu, dalam hal nama Idulfitri sendiri menyimpan ironi. Dalam cerita disebutkan, nama Idulfitri didapat karena lahir bertepatan dengan lebaran. Idul Fitri umum diartikan sebagai momen untuk kembali suci, kembali ke fitrah . Akan tetapi, makna dari nama Idulfitri ini berbanding terbalik dari nasibnya . Alih-alih menjadi suci, atau menjadi haji seperti harapan orang tua, Idulfitri berakhir menjadi maling, menjadi bajingan .
262
111 Selain agama, negara juga menjadi sasaran kritik dalam Ikan-Ikan
Yang Terdampar. Bahkan Istana Merdeka, yang menjadi simbol penting dari
negara, terutama sejak ditempati Soekarno pada tahun 1949 yakni setelah pengakuan kedaulatan Indonesia- dirujuk secara tertulis di dalam teks. Selama berjalan mengitari Lapangan Gambir, Idulfitri dua kali lewat depan istana. Akan tetapi, istana yang gagah itu tidak menimbulkan perasaan megah di hati Idulfitri. Malah, ia berusaha mengelak-elakkan pandangannya dari istana tersebut.
Waktu mau menyeberangi jalan raya, ia menengok ke kanan, dan ia
melihat pagar istana. Serdadu yang gagah menjaga lubang pintu. Tapi pada itu pun ia sudah tak peduli lagi. Sudah bosan. Sudah tak kuasa mengagumi kehebatan dan apa gunanya bagi negara dan perutnya
sendiri.
Sampai di depan istana mereka tak menengok ke kanan, ke istana, tapi jalan terus. 263
Padahal, pertautan antara negara dengan Idulfitri tidak hanya sekadar menumpang tinggal di daerah kekuasaan republik, tetapi ia terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan. Ia adalah salah seorang pejuang yang karenanya Soekarno bisa menamai istana itu dengan embel-embel kata
Merdeka . Idulfitri bukan hanya penonton yang berdiri di pinggir lapangan,
ia turut serta sebagai pemain. Akan tetapi, tidak seperti mereka yang memperoleh tempat di istana, Idulfitri adalah pemain yang terbuang. Idulfitri
adalah pahlawan sesat yang tidak mendapat tempat di masyarakat
merdeka yang dahulu diperjuangkan. 264
Idulfitri adalah pahlawan yang tragis. Ia dilupakan oleh negara yang dulu dibelanya. Ia disingkirkan dari kemiliteran, dari kantoran, dari
263
Ibid., hal: 18; 30
264
112 hasil perjuangannya. Bahkan, Idulfitri terusir pula dari ingatan sejarah. Namanya tidak tercantum di mana-mana, tidak sebagai nama taman, tidak juga nama jalan. Negaranya lebih memilih untuk mengingat-ingat Teuku Umar, misal, yang bahkan tidak memiliki ide tentang negara Indonesia. Idulfitri cuma pahlawan lokal yang tidak menggambarkan ciri nasional.
Oleh karena itu, di mata Idulfitri Istana Merdeka tidak merepresentasikan sebuah negara yang merdeka dan berdaulat, seperti yang diimplisitkan dari namanya. Merdeka hanyalah milik dari segelintir orang. Orang-orang yang berkuasa di gelanggang, kaum penggendut perut , istilah Idulfitri. Sedangkan Idulfitri tersingkir dari gelanggang, membuatnya hidup menggelandang dengan Namun sebagai sesama kaum lapar .
Munculnya kategori kaum lapar dan kaum penggendut perut ini
menawarkan kepada kita sebuah cara lain dalam melihat Jakarta, serta Indonesia. Jakarta tidak hanya bisa dibagi-bagi berdasar tingkat penghasilan, tetapi juga berdasar pada pengalaman dan perasaan hidup sehari-hari penghuninya, yang dalam hal ini dikaitkan dengan rasa lapar. Padahal, di masa-masa sebelum merdeka, hanya ada satu bangsa: bangsa yang terjajah. Akan tetapi, setelah merdeka, bangsa yang terjajah itu terbelah dua: satu kaum ganti menjajah kaum lainnya.
Karena kaum lapar ini tersisih dari kota berikut bangsanya, lebih
mudah bagi mereka untuk mengindentifikasikan diri dengan kaum lapar di
luar sana dengan tanpa mengindahkan batas-batas negara. Dalam cerita
113 sepenanggungan itu di negeri Tiongkok dan Eropa Timur, tempat bersarangnya kaum komunis.
Lebih jauh, teks tulisan ini memperlakukan kaum lapar dan kaum
komunis selayaknya sinonim. Di halaman , disebutkan: Kaum komunis
menang gelanggang . Di halaman berikut, masih dengan komposisi kata yang sama, diulang: Kaum lapar mulai menang gelanggang .265 [penekanan dari penulis]
Selebihnya, hadirnya daerah Tiongkok dan Eropa Timur dalam teks ini menunjukkan bahwa pengalaman orang akan kota tidak sebatas sekat-sekat yang membatasi daerahnya. Berkat adanya media massa, ruang itu meluas, mengatasi jarak fisik yang tersedia. Bila Pramoedya sempat membuat pernyataan Jakarta adalah sekumpulan kampung,266 sepertinya bisa pula dikatakan Jakarta adalah kumpulan dari negara dunia. Sebelum Jakarta dapat menjadi kiblat dunia, dunia tersebut telah lebih dulu menginfiltrasi ruang-ruang di Jakarta, di antaranya melalui perantaraan surat kabar atau film-film asing yang diputar di bioskop.
Dulu, Belanda merancang Jakarta (Batavia) secara spasial sebagai kota yang dibagi berdasarkan kelompok ras dan etnis yang ada. Space kota Jakarta bersifat rasial. Maka kemudian ditemukan adanya Kampung Melayu, Kampung Betawi, Kampung Cina, dll. Oleh Soekarno, pengkotakkan wilayah kota yang sifatnya rasial tersebut dihilangkan.267 Akan tetapi, itu tidak berarti
265
Ibid., hal: 25; 26
266
Vickers, Adrian. 2005. A History of Modern Indonesia. Cambridge University Press: Cambridge, hal: 129
267
Fakih, Farabi. 2005. Membayangkan Ibukota Jakarta di Bawah Soekarno. Penerbit Ombak: Yogyakarta, hal: 120 – 122
114 semua orang yang berdiam di Jakarta menjadi sama rata, sama rasa. Tetap ada jarak sosial yang memisahkan mereka. Kelompok yang lebih berkuasa dan lebih berpunya mendominasi ruang-ruang yang ada. Dalam istilah
Idulfitri, mereka adalah penguasa gelanggang .
Idulfitri terasingkan dari ruang-ruang ekonomi di Jakarta. Selagi Idulfitri berjalan mengitari ibukota bersama Namun, di sekelilingnya berserakan gedung-gedung perkantoran. Diantaranya terdapat: gedung kantor telepon, gedung Radio Nasional Indonesia, dan kementerian pertahanan. Akan tetapi, dari kantor-kantor tersebut, tidak satu pun yang menyediakan satu bangku kosong untuk diduduki Idulfitri. Selamanya ia menggelandang di jalan.
Di jalan, Idulfitri masih tergolong anomali. Idulfitri tidak memiliki rutinitas layaknya orang kota pada umumnya. Bila orang-orang kota pagi-pagi berangkat kerja, Idulfitri malah menghabiskan hari dengan berjalan-jalan. Sehari-hari ia hidup di jalan, dan mencari nafkah di berjalan-jalan. Bila orang menjadikan jalan sebagai lintasan yang akan mengantarkan mereka mencari nafkah, Idulfitri memperlakukan jalanan sebagai sumber nafkah. Jalanan adalah etalase gratis tempat ia dapat mematut kendaraan mana yang bisa mendatangkan uang bagi pengganjal perutnya.
Maka, bagi Idulfitri, istana bukan sebuah potret yang tepat untuk ibukota. Istana dikonstruksi sebagai lambang kemegahan dan kejayaan. Inilah yang membuatnya berjarak dari orang-orang serupa Idulfitri. Kedudukan istana di dalam teks cerpen ini tak ubahnya seperti dompet Namun yang dijual ke tukang loak: di luar gagah, tetapi tak berisi, kosong
115 melompong. Bagi Idulfitri, jalananlah yang dapat merefleksikan kehidupannya dengan lebih patut. Di jalan masih tersedia ruang untuknya
menyambung hidup. Jalanan adalah monumen perjuangan yang
sesungguhnya.