• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PRAMOEDYA DAN CERITA DARI JAKARTA

B. Pramoedya, Jakarta, dan Revolusi Indonesia

Pramoedya berangkat ke Jakarta sebulan berselang kematian ibunya. Ayahnya merasa tidak ada masa depan untuk Pramoedya bila ia tetap tinggal di Blora.153 Pramoedya pergi berdua dengan adiknya. Inilah kali pertama Pramoedya menginjakkan kaki di Jakarta. Selama ini, Pramoedya baru

150

Toer, Pramoedya Ananta. Ibid., hal: 77; 81

151

Mrazek, Rudolf. 2006. Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta, hal: 285

152

Scherer, Savitri, Op.cit., hal: 12; Teeuw, A. Op.cit., hal: 4; Toer, dan Pramoedya Ananta. Op.cit., hal: 105 – 107

153Dala se uah wawa ara, Pra oedya e gi gat kejadia di asa itu: Ia erkata kepada saya: Pergilah saja ke arat, ke Jakarta . (Lihat catatan akhir nomor 69 dalam Mrazek, hal: 397)

62 mengenal Jakarta dari buku-buku bacaan. 154 Walau tidak langsung menetap lama di kota ini, Jakarta tidak hanya sekadar menjadi tempat persinggahan bagi Pramoedya. Nantinya, ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di kota ini. Jakarta juga menjadi tempat peristirahatan terakhirnya setelah meninggal dunia pada tahun 2006.155

Blora ketika itu digambarkan Pramoedya sebagai kota yang nyaris tidak berpenghidupan. Tanahnya gersang. Tidak mengherankan apabila anak-anak mudanya banyak yang pergi ke daerah lain demi mencari pekerjaan, termasuk di antaranya kawan-kawan Pramoedya. Dua orang teman yang telah setia menemani Pramoedya di kala-kala gundah sehabis kematian ibunya, telah hijrah ke Sumatera. Pramoedya menyadari, kepergiannya ke Jakarta tidak hanya akan menjadi perpisahan dengan sanak keluarga semata, tetapi juga dengan cara pikir dan budayanya, karena begitu

masuk ke kota ia memasuki alam modern yang tidak memungkinkannya kembali ke desanya lagi .156

Sesampainya di Jakarta, Pramoedya dan adiknya ditampung di rumah adik ayahnya yang paling bontot, R. Moedigdo. Pamannya itu masih lajang, tinggal seorang diri saja. Pramoedya menggambarkan rumah itu sebagai

bagus dan bersih, modern dan nampaknya sehat. 157

154

Toer, Pramoedya Ananta. Op.cit., hal: 118 – 119

155

Berita-berita tentang kematian Pramoedya dapat dilihat pada situs-situs berikut:

http://en.tempo.co/read/news/2006/04/30/05576836/Pramoedya-Dimakamkan-di-TPU-Karet, 30 April 2006 dan http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2006/04/30/11524/Diiringi-Gema-Petir,-Pramoedya-Dimakamkan-di-Karet, 30 April 2006.

156

Toer, Pramoedya Ananta. Op.cit., hal: 113 – 120

157

63 Pramoedya termasuk beruntung dari segi ini, karena ia tidak langsung berhadapan dengan rumah-rumah kumuh khas ibukota. Contohnya pengalaman Ajip Rosidi yang baru pindah ke Jakarta tahun 1951. Mengikut pamannya, ia tinggal di gubuk beratapkan rumbia yang menyatu dengan gubuk-gubuk lain seluas sekitar 10 x 7 meter. Kawasan itu dihuni 57 orang!158

Jakarta tahun berarti Jakarta yang bertuankan kepada Jepang.

Pekerjaan pertama yang diperoleh Pramoedya di Jakarta adalah sebagai juru ketik di kantor berita Jepang, Domei. Di kemudian hari, hal ini membuatnya dituding sebagai antek Jepang.159 Di samping bekerja, Pramoedya masih melanjutkan sekolah di Taman Siswa untuk dewasa. Taman siswa dibubarkan atas perintah Jepang tahun 1943, yang berarti akhir dari pendidikan Pramoedya di sekolah itu.160

Dibandingkan Pramoedya, lingkungan barunya di Jakarta berbeda sama sekali dengan di Blora. Sedikit demi sedikit ia belajar menyesuaikan diri. Satu-persatu, Pramoedya mencoba melepaskan diri dari pengaruh-pengaruh kebudayaan Jawa yang dikenalinya sedari kecil. Ia bahkan

mengkoreksi logatnya yang medok Jawa menjadi lebih kota , lebih Indonesia . Pramoedya bukan lagi anak kampung yang ke kota , tetapi

sudah menjadi anak kota seutuhnya. Dalam kesaksian Pramoedya:

Tanpa aku rasai aku mulai meninggalkan pengaruh kebudayaan

Jawa. Memang mula-mula orang menertawakan d-ku yang berat kejawa-jawaan. Dalam seminggu aku telah dapat menghilangkan d

158

Dalam Blackburn, Susan. 2012. Jakarta: Sejarah 400 Tahun. Pen. Gatot Triwira. Masup Jakarta: Jakarta, hal: 237

159

Ibid., hal: 121

160

64 Jawa, juga membuang tekanan-tekanan berat yang emosional pada makna yang dimaksud.

Aku mulai merasa sebagai orang Indonesia sepenuhnya, bukan lagi

orang Jawa dengan etiket Indonesia. 161

Walau sekolah formalnya terhenti di tahun 1943, tidak berarti Pramoedya berhenti belajar. Ia banyak membaca buku dan mengikuti diskusi-diskusi sastra. Buku yang dibacanya sangat beragam subyeknya, mulai dari buku-buku filsafat alam dan Helenisme karangan Moh. Hatta, sampai Encyclopedy Winkler Prims dan Encyclopedy Brittannica. Buku-buku tersebut memperluas cakrawala pengetahuannya hingga ke daratan Eropa.

162

Pada bulan Februari 1944, Domei mengirim dua orang stafnya untuk kursus stenografi pada Karundeng, bapak stenografi Indonesia. Salah seorang yang ditunjuk adalah Pramoedya. Di masa kursus itu, di samping diajari menulis cepat, Pramoedya juga mendapat pelajaran politik dari Soekarno, pelajaran ekonomi dari Moh. Hatta, dan tata negara dari Soekardjo Wirjopranoto. Semasa kursusnya, Pramoedya ditugasi mencatat dalam steno sejumlah ceramah Muhammad Yamin, yang kemudian diterbitkan dalam judul Diponegoro. Kursus stenografi ini selesai di tahun 1945.163

Setamatnya kursus, Pramoedya dihadapkan pada kekecewaan terhadap Domei. Hasnah St. Diatas yang ikut kursus bersamanya langsung duduk di meja redaksi, sedangkan Pramoedya tetap jadi juru ketik dengan gaji yang juga tetap. Ia mengira jenjang pendidikan yang rendah yang menjadi pangkal bala. Maka, sewaktu Sekolah Tinggi Islam baru dibuka,

161

Toer, Pramoedya Ananta. Op.cit., hal: 128

162

Ibid., hal: 131 – 142

163

65 Pramoedya mendaftar sebagai mahasiswa pendengar untuk mata kuliah filsafat dan sosiologi.164

Selanjutnya, masa-masa di Domei tidak menyenangkan hati Pramoedya. Apalagi sudah tumbuh kesadaran di dirinya, menjadi stenograf berarti menjadi budak. Ia berkehendak menjadi orang bebas, bebas melakukan apa-apa yang diingininya tanpa diperintah-perintah orang. Aku

tahu, aku mulai tumbuh jadi seorang individualis. Jakarta sudah cocok untuk

diriku, dan diriku tidak cocok untuk Jakarta. 165

Pramoedya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Domei. Akan tetapi, surat permohonannya yang berulang-ulang kali dikirim, tidak pernah ditanggapi. Sementara, ia sudah sangat muak tinggal di Jakarta. Pramoedya akhirnya kabur ke Blora, berpindah-pindah ke beberapa tempat, sampai akhirnya menetap di sebuah desa terpencil bernama Tunjung.166

Tanggal 23 Agustus 1945, di Tunjung tersiar kabar kemerdekaan Indonesia. Pramoedya meninggalkan Tunjung, dan kembali lagi ke Jakarta pada bulan September 1945.167 Padahal, di masa-masa itu sering terjadi kekacauan. Mereka yang tadinya bermukim di Jakarta, banyak yang berbondong-bondong meninggalkan kota.168

Tinggalnya Pramoedya di Jakarta pada masa-masa Revolusi memberinya sebuah pandangan yang berbeda dalam melihat proklamasi

164

Toer, Pramoedya Ananta. Ibid., hal: 149 – 151

165

Ibid., hal: 152 – 153

166

Ibid., hal: 153

167

Scherer, Savitri. Op.cit., hal: 14

168

Cribb, Robert. 1985. The nationalist world of occupied Jakarta (1946 – 1949) dalam buku From Batavia to Jakarta. Ed. Susan Abeyasekere. Monash University: Clayton, hal: 94. (Dapat diakses di situs: http://works.bepress.com/robert_cribb/15, tanggal 11 November 2014)

66 kemerdekaan Indonesia. Proklamasi bukanlah sebuah garis finish yang menandakan berakhirnya masa penjajahan Belanda atau pun pendudukan Jepang. Proklamasi bukanlah tujuan Revolusi. Proklamasi baru sampai membawa bangsa Indonesia pada garis start. Bagi Pramoedya, Revolusi baru akan dimulai.169

Menariknya, Pramoedya meletakkan awal revolusi Indonesia bukan di tangan para proklamatornya, ataupun tokoh-tokoh pergerakan nasional lain. Dengan lantang Pramoedya mengumumkan: Revolusi Indonesia dimulai oleh para paria Medan Senen. 170 Nama-nama mereka yang dikelompokkan

Pramoedya sebagai paria ini tentu tidak akan dicetak tebal dalam buku sejarah nasional, tidak pula dalam narasi penulisan sejarah pada umumnya.171

Pramoedya mempunyai alasan kuat mengapa ia mengajukan kaum paria Medan Senen ini sebagai perintis revolusi nasional. Dalam pengamatannya, kaum paria Medan Senen termasuk yang pertama-tama ke luar dari lingkungannya, dan melakukan perlawanan. Mereka sudah tidak lagi sekadar berjaga-jaga di wilayahnya masing-masing.172

Kesadaran akan pentingnya melakukan perlawanan ini didapat Pramoedya ketika menghadiri rapat raksasa di Lapangan Ikada (di bagian

169

Lihat: Toer, Pramoedya Ananta. Op.cit., hal: 174 – 187

170 Paria dala KKBI diartika se agai golongan masyarakat yg terendah atau hina-dina (dl masyarakat Hindu) yang tidak mempunyai kelas (kasta) . Pra oedya e ggu aka istilah paria

untuk merujuk pada kaum gelandangan, pengemis, pelacur, atau pun pencopet. Sementara yang

di aksud Pra oedya de ga Meda Se e yak i lapa ga Pasar Se e de ga sekitar satu kilo eter radius daerah pe garuh ya. (Lihat: Ibid., hal: 177; 187)

171

Diantara segelintir peneliti yang me gkaji se ara khusus su a gsih kau paria (ge g da

bandit kampung) dalam gerakan revolusi nasional yakni Robert Cribb. Penelitian tersebut dilakukannya dalam rentang tahun 1979 – 1984, dan hasilnya dibukukan dalam judul Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia a d the I do esia Re olutio 19 – 1949.

172

67 tenggara Lapangan Merdeka), 19 September 1945. Saat itu ia terkesan dengan semangat dan keberanian yang meluap-luap dari rakyat Indonesia. [...] itulah untuk pertama kali aku saksikan, bagaimana orang Indonesia sama sekali tidak takut pada Dai Nippon dengan militernya yang mashur akan kekejaman dan kekejiannya .173

Maka dengan bekal semangat dan keberanian melawan itulah, Pramoedya kemudian memutuskan untuk bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada bulan Oktober 1945. Pusatnya terletak di Cikampek. Pramoedya mendaftar sebagai tentara kelas dua di unit Banteng Teruna yang dalam perkembangan lebih lanjut menjadi inti divisi Siliwangi, kesatuan elit angkatan bersenjata.174

Pada pertengahan tahun 1946, Pramoedya menjabat sebagai perwira pers dengan pangkat letnan kelas dua. Ia ditugasi memimpin satu unit yang terdiri dari 60 tentara untuk melaporkan keadaan-keadaan di beberapa tempat, di antaranya: Klender, Bekasi, Cakung, Kranji, Lemah Abang, Krawang dan markas-markas di Cikampek.175 Karir militer Pramoedya tidak berlangsung lama, hanya hingga akhir tahun 1946. Konflik internal di dalam BKR dan merajalelanya praktik korupsi diduga sebagai penyebab pengunduran dirinya.176

Ketidakcocokan Pramoedya dengan BKR terutama karena melihat BKR tidak lagi sejalan dengan cita-cita revolusi yang dipercayainya. Pramoedya tidak setuju dengan tindakan BKR yang melucuti senjata dari

173

Ibid., hal: 177; Teeuw, A. Op.cit., hal: 5

174

Scherer, Savitri. Op.cit., hal: 14; dan Teeuw, A. Op.cit., hal: 5

175

Scherer, Savitri. Ibid., hal: 14 – 15

176

68 tangan rakyat, dan bahkan sampai pada melakukan pembunuhan. Tentu saja

kurban bergelimpangan, bukan demi mempertahankan kemerdekaan. Demi

kemapanan kasta satria. 177

Maka pada awal tahun 1947, Pramoedya kembali lagi ke Jakarta. Ia diterima bekerja di The Voice of Free Indonesia sebagai redaktur bagian penerbitan. Di masa itu, Pramoedya sudah mulai rajin mempublikasikan tulisannya yang dinilai tidak terlalu berhasil. Cerita pendek Pramoedya diterbitkan di berbagai majalah terbitan Jakarta seperti Sadar, Pantja Raja,

dan Minggoe Merdeka. Sementara roman pertamanya, Krandji Bekasi Djatuh,

diterbitkan oleh tempat kerjanya, The Voice of Free Indonesia.178

Malang bagi Pramoedya, 21 Juli 1947 berlangsung Agresi Militer Belanda I. Pramoedya ditangkap oleh sekelompok angkatan laut Belanda karena dikira terlibat dalam gerakan perlawanan. Pramoedya dijebloskan ke Penjara Bukit Duri tanpa melalui proses hukum apapun.179 Inilah pengalaman pertama Pramoedya dipenjara. Penahanan selanjutnya terjadi di masa Orde Lama (1 tahun), dan yang terlama, masa Orde Baru (14 tahun) di mana Pramoedya ditangkap sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.180

Selama berada di tahanan, Pramoedya tetap aktif menulis. Beruntung, penjara itu mempertemukan Pramoedya dengan Prof. G. J. Resink yang

177

Toer, Pramoedya Ananta. Op.cit., hal: 179

178

Scherer, Savitri. Op.cit., hal: 15; Teeuw, A. Op.cit., hal: 5; Farid, Hil ar. 8. Pra oedya da historiografi I do esia dala uku Perspektif Baru Pe ulisa Sejarah Indonesia. Eds. Nordholdt, Henk Schulte. et. al. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta, hal: 83

179

Scherer, Savitri. Ibid., hal: 15 – 16; Teeuw, A. Ibid., hal: 5

180

Dapat diakses pada situs http://profil.merdeka.com/indonesia/p/pramoedya-ananta-toer/, tanggal 15 November 2014

69 kemudian menolong membawa tulisan-tulisannya ke luar penjara untuk diterbitkan. Roman Perburuan yang menang dalam sayembara roman Balai Pustaka tahun 1950, ditulis di masa-masa ini. Selain Perburuan, roman lainnya, Keluarga Gerilya juga diselesaikan di Penjara Bukit Duri.181

Pada bulan Desember 1949, Pramoedya dikeluarkan dari penjara. Sementara Belanda dipulangkan ke tanah air mereka. Dalam upacara penurunan bendera Belanda, dan pengibaran bendera Indonesia di depan istana Gambir (kemudian diberi nama Istana Merdeka), Pramoedya termasuk di antara yang hadir. Pengalaman itu sangat mengharukan baginya. Bagi Pramoedya, naiknya bendera merah putih merupakan tanda revolusi telah kalah. Sebab, bendera itu bisa berkibar merupakan hadiah dari Konferensi Meja Bundar, bukan yang diperjuangkan secara mati-matian.182

Walau kedaulatan Indonesia sebagai bangsa sudah diakui, bagi Pramoedya, apa yang menjadi cita-cita kemerdekaan tidak sepenuhnya tercapai. Sebab, ia melihat pemenang sesungguhnya adalah para priyayi, mereka yang berasal dari kasta satria.

Para satria, Et, pada berebutan mencoba menggantikan kedudukan

kolonialis, rumahnya, jabatannya, kalau bisa juga bininya, dan juga berebut memeriahi dirinya dengan dekorasi yang jadi haknya kasta waisya, hanya untuk mendapatkan dua piring dari kue nasional yang

tersedia. 183

Dengan kata lain, bagi Pramoedya, kemerdekaan atau pun revolusi tidak membawa perubahan apapun. Yang lemah tetap di bawah, makin tertindas oleh mereka yang berada di lapisan teratas. Yang berubah hanyalah

181

Scherer, Savitri. Op.cit., hal: 16

182

Toer, Pramoedya Ananta. Op.cit., hal: 196

183

70 penguasanya, dari Belanda diganti dengan kaum satria (priyayi), sementara strukturnya masih tetap sama.

Menariknya, Pramoedya dengan sengaja menggunakan konsep kasta ketimbang kelas untuk menjelaskan struktur masyarakat Indonesia pasca revolusi. Di satu sisi, Pramoedya ingin menunjukkan keterkaitannya secara historis dengan struktur masyarakat Indonesia di masa lampau, struktur masyarakat yang feodal.

Di sisi lain, Pramoedya juga ingin menggarisbawahi bagaimana mobilitas sosial nyaris tidak terjadi dalam masyarakat yang baru merdeka ini. Walaupun Indonesia telah merdeka, namun seorang sudra tetaplah sudra, dan seorang satria tetap berjaya di singgasananya. Seseorang menjadi sudra

bukan hanya karena keturunan atau takdir, tetapi juga karena dipaksa

keadaan. Singkat kata, bagi Pramoedya, revolusi Indonesia telah gagal karena tidak mampu merevolusi struktur sosial masyarakatnya.

Pada tanggal 13 Januari 1950, Pramoedya melangsungkan pernikahan dengan Arfah Ilyas. Ia sudah berkenalan dengan Arfah sejak di Cikampek, semasa Pramoedya bergabung dengan BKR. Arfah di kala itu bekerja di Palang Merah. Selanjutnya, Arfah rajin menyambangi Pramoedya semasa penahanannya di Penjara Bukit Duri.184

Pramoedya dan istrinya merupakan model pasangan modern yang menikah melalui pilihan (chosen marriage), bukan dijodohkan seperti orang tuanya, atau juga pasangan suami-isteri di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan terus-terang Pramoedya mengakui bahwa gagasannya tentang cinta

184

71 didapat dari buku-buku bacaan populer. Apakah Pramoedya mencintai istrinya seperti dalam buku-buku tersebut, ia kurang begitu yakin.

Memang aku tidak tahu makna cinta lelaki pada perempuan. hal itu

tak pernah kudapatkan dalam kehidupan suami-istri antara ayah dan ibuku, juga tidak di antara tetanggaku. Cinta yang kuketahui adalah

dari bacaan. 185

Setelah menikah, Pramoedya tinggal di rumah orang tua isterinya di Kebon Djahe Kober. Rumah mertuanya ini keadaannya jauh bertolak belakang dengan ruman paman yang ditempatinya dulu. Lingkungannya begitu kotor. Gotnya berbau busuk sampai Pramoedya menutup hidung sambil berjalan cepat-cepat ketika pertama kali menginjakkan kaki di sana.186 Pramoedya pernah mengangkat soal kampung yang bau ini di dalam salah satu cerpennya, Kampungku, yang dimasukkan dalam Cerita dari

Jakarta terbitan tahun 1963.

Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia tahun 1950-an terbawa juga ke rumah tangga Pramoedya. Gaji Pramoedya yang ketika itu menjabat sebagai redaktur sastra modern Indonesia di Balai Pustaka sangat tidak memadai. Untuk menutupi kekurangan itu, Pramoedya makin giat menulis. Apa yang ada di kepalanya hanya bagaimana cara menghasilkan tulisan dalam jumlah yang mencukupi, cukup agar ia dan keluarga bisa hidup layak. Pramoedya mengistilahkan dirinya sebagai broodschrijver, seorang yang

menulis untuk sesuap nasi . Akan tetapi, honor yang didapatnya juga

185

Toer, Pramoedya Ananta. Op.cit., hal: 191

186

72 mengalami penurunan dibanding ketika masih di penjara, bahkan tidak sampai sepertiganya.187

Pada tahun 1953, Pramoedya mendapat undangan dari Sticusa, Yayasan Kerjasama Kebudayaan Belanda. Ia berangkat pada bulan Juni dengan membawa serta isteri dan dua orang anak. Pramoedya yang kurang fasih berbicara Bahasa Belanda itu membayangkan kedatangannya ke Nederland itu bagaikan orang udik masuk kota.

Kami datang sebagai orang dusun ke kota, kurang punya pesangon tentang pengetahuan yang serba Eropa, terutama tentang kebiasaan hidupnya. Sejak tahun-tahun pendudukan Jepang sampai 1953 itu aku hidup dalam keadaan yang nisbiah miskin dan kekurangan. Sekarang berada di tengah-tengah kehidupan dalam mana orang tidak perlu

memikirkan bagaimana mencari makan. 188

Pramoedya lanjut membandingkan Amsterdam dengan Jakarta. Di matanya Amsterdam terlihat indah, bersih, dan tidak begitu bising dan kotor seperti Jakarta. 189 Di Amsterdam juga, semuanya serba teratur, sedangkan di Jakarta serba acak-acakan. Namun justru keteraturan ini tidak membuat Pramoedya kerasan, ia gagal menemukan tempat bagi dirinya sendiri di antara ruang-ruang yang tertata itu. Amsterdam baginya seperti setengah mati, karena sudah jadi. Berbeda dengan Jakarta yang masih menjadi, sehingga begitu hidup dan menggairahkan.190

Selain masalah ke-serba-teratur-an yang membingungkan itu, Pramoedya juga harus berhadapan masalah internal, terkait dengan sifat 187 Ibid., hal: 202 –205 188 Ibid., hal: 210 – 211 189 Ibid., hal: 212 190

Shackford-Bradley, Julia. 2006. Cerpen: How Indonesian short stories re-present urban space and public discourse. Crossroads: An interdisciplinary journal of Southeast Asian studies. Vol. 17, No. 2, hal: 96

73 rendah dirinya yang dinamainya inco inferior complex). Ia merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang yang berpendidikan lebih tinggi, dari negara yang menjajahnya pula. Kendati negerinya sudah merdeka, namun perasaan inferior itu masih melekat dalam dirinya.191

Masalah berikut yang dihadapinya adalah soal lidah. Waktu awal berada di Jakarta, Pramoedya dapat melatih lidahnya untuk dapat berbicara

seperti orang Jakarta , seperti orang Indonesia . Ketika di Amsterdam, ia

tidak dapat membiasakan lidahnya memakan makanan Eropa. Hal ini melengkapi rangkaian cultural shock yang dialami Pramoedya di negeri Belanda. Buntutnya, Pramoedya memutuskan pulang ke Indonesia 6 bulan lebih awal dari yang dijadwalkan Sticusa.192

Gambar 3.1. Pramoedya ketika di Belanda (sekitar tahun 1953 – 1954)193

191

Toer, Pramoedya Ananta. Op.cit., hal: 212

192

Ibid.; Teeuw, A. Op.cit., hal: 6; Scherer, Savitri. Op.cit., hal: 17

193

74 Begitu pulang ke Jakarta, bau got yang busuk dengan setia menyambutnya. Sementara itu, keadaan finansial Pramoedya makin memburuk. Ia tertimbun hutang. Honor yang didapatnya dari menulis jauh dari cukup. Ini membuat konflik rumah tangganya kian meruncing. Akhirnya, Pramoedya dan isterinya bercerai. Anaknya yang tiga orang, semua ikut isterinya.194

Pada tahun 1955, Pramoedya menikah lagi dengan Maimunah Thamrin, keponakan dari M. H. Hoesni Thamrin. Sama seperti pernikahan pertamanya, pernikahan ini juga dilalui masa-masa perkenalan. Bagi

Pramoedya, pergaulannya dengan Maimunah telah mencabut aku

[Pramoedya] dari suasana hidup yang tidak menentu .195 Pernikahan

keduanya ini bertahan sampai Pramoedya meninggal tahun 2006.196

Pada bulan Oktober 1956, Pramoedya diundang oleh Badan Sastra Cina dalam rangka peringatan 20 tahun meninggalnya Lu Hsun, yang dikenal juga sebagai Gorky-nya Tiongkok. Kunjungan ini disebut-sebut membawa pengaruh besar dalam arah perkembangan tulisan-tulisan Pramoedya selanjutnya. Dari kunjungan ini Pramoedya mendapat pencerahan ideologi atas peran dan fungsinya sebagai sastrawan. Esai Pramoedya Djembatan

Gantung dan Konsepsi Presiden yang ditulis Februari 1957, dianggap sebagai

tonggak awal berbeloknya Pramoedya ke kiri, ke arah yang lebih politis .197

Dokumen terkait