Dalam buku ini terasa sekali betapa tinggi ilmu Syaikh Akbar, Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Sesuai dengan judulnya, Revolusi Shalat benar-benar memiliki daya gugah dan daya ubah. Yang diubah dan yang digugah tidak hanya pengetahuan, sikap, dan paradigma seseorang melainkan juga ideologi atau tepatnya iman mengenai shalat itu sendiri. Selama ini kita menganggap shalat adalah upaya pendekatan vertikal kepada Allah, kita luput dan lalai bahwa di dalam praktik shalat, ada sesuatu yang tidak bisa diajarkan, tapi bisa dirasakan dan dialami langsung.
Sebelum Al-Futūhāt al-Makkiyah bab ke-69 dengan judul
“Mengenai Makrifah (pengetahuan yang benar) tentang Rahasia-rahasia Shalat dan Kandungannya” (“Fī Ma‘rifat Asrār al-Shalāt wa
‘Umūmihā”) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di seluruh dunia karya ini telah mendapat sorotan kuat dan apresiasi besar dari sejumlah ulama, cendekiawan, dan pengkaji karya-karya Ibn
Judul buku : Revolusi Shalat
Penulis : Ibn ‘Arabi
Penerjemah : Irwan Kurniawan Penerbit : Pustaka Hidayah Waktu terbit : Februari 2010 Jumlah halaman : 573
Ukuran buku : 15,5 x 23,5 cm
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:172
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:172 6/2/2010 3:38:27 PM6/2/2010 3:38:27 PM
TITIK-TEMU, Vol. 2, No. 2, Januari - Juni 2010 173
‘Arabi, karena memang bab ini yang dalam edisi Indonesia diberi judul Revolusi Shalat, sebagaimana bab-bab lain dalam Al-Futūhāt al-Makkiyah, memiliki keunggulan dari buku-buku lain tentang shalat yang beredar luas di pasaran. Sepintas buku Revolusi Shalat ini seperti alat pemindai jejak epistemik sejarah shalat. Pembahasannya sangat rinci dari sisi teoritis dan sangat lengkap dari sisi praktis.
Ibn ‘Arabi menggunakan shalat sebagai sebuah metode yang bekerja berdasarkan realitas sosial dan fi lsafat. Karya Al-Futūhāt al-Makkiyah sendiri sudah santer diperbincangkan sejak Ibn ‘Arabi menuliskannya.
Dalam buku ini diterangkan waktu-waktu terlarang untuk shalat, baik yang disepakati maupun yang diperselisihkan, yaitu lima waktu: ketika matahari terbit, ketika matahari terbenam, ketika matahari tegak lurus pada tengah hari (istiwā’), setelah shalat subuh, dan setelah shalat ashar. Tentang penjelasan batin waktu-waktu tersebut, Allah memiliki perumpamaan yang agung (matsal al-a‘lā), yaitu mentari kebenaran dan shalat munajat. Apabila al-Haqq tampak, terjadilah kefanaan dan peleburan, sehingga bicara dan munajat tidak dibenarkan. Karena maqam ilahi ini menunjukkan bahwa “Jika Dia menjadikanmu menyaksikan, maka Dia tidak berbicara kepadamu. Sebaliknya, jika Dia berbicara kepadamu, maka Dia tidak menjadikanmu menyaksikan,” kecuali bila penampakan itu adalah dalam rupa. Ketika itu, bicara dan penyaksian bersatu. Jika yang menyaksikan itu gaib dari diri orang yang shalat, maka munajat tidak dibenarkan, karena Rasulullah saw bersabda, “Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu.”
Pendek kata, buku Revolusi Shalat seperti menggabungkan serakan proyektil epistemologi tentang shalat, buku ini seakan mau memuaskan dan menutup “pintu kebimbangan” kita terhadap banyaknya ilmu atau mazhab tentang cara shalat yang benar.
Hal yang menarik dari uraian buku ini mengangkat persoalan
“debat kusir” tentang tempat-tempat yang boleh dan tidak boleh shalat seperti yang tidak boleh shalat di semua tempat yang tidak bernajis. Sebagian mereka mengecualikannya dengan tujuh tempat,
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:173
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:173 6/2/2010 3:38:27 PM6/2/2010 3:38:27 PM
174 TITIK-TEMU, Vol. 2, No. 2, Januari - Juni 2010
yaitu tempat sampah, tempat penyembelihan, kuburan, tengah jalan, kamar mandi (tempat pemandian), tempat penambatan unta, dan di atas Ka‘bah. Sebagian lain mengecualikannya dengan kuburan dan tempat pemandian. Sebagian lagi mengecualikannya dengan kuburan saja. Di antara mereka ada juga yang memakruhkan shalat di tempat-tempat ini tetapi tidak membatalkan shalat.
Bahkan ada pendapat tentang shalat di dalam biara dan gereja.
Ada yang memakruhkannya, ada yang membolehkannya, dan ada yang membedakan apakah di dalamnya ada gambar (lukisan) atau tidak.
Shalat yang paling sempurna terdiri dari ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan. Namun, para wali Allah lebih pantas untuk me-nyempurnakan ibadah karena mereka bermunajat kepada Pemilik ke sempurnaan, yang mewujudkan apapun yang wajib bagi-Nya, karena hal itu diwajibkan atas mereka. Shalat merupakan cahaya, dan Allah melempar setan dengan ca haya. Dengan demikian, shalat dapat menjauhkan setan dari hamba. Allah swt berfi rman, Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mun kar (Q 29:
45). Itu disebabkan oleh ihram (penghor matan) yang diatributkan padanya. Kalau bermakna fā‘il, itu berarti apa yang dilemparkan hati hamba berupa pikiran-pikiran tercela dan was was. Oleh karena itu, apabila Rasulullah saw berdiri untuk me nunai kan shalat pada malam hari dan bertakbiratul ihram, beliau meng ucap kan: “Allah Mahabesar sebesar-besarnya [ti ga kali]. Dan segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah [tiga ka li]. Dan Mahasuci Allah pagi dan petang [tiga kali]. Aku berlindung ke pada Allah dari setan yang terkutuk dari tiupan, bisikan dan go da an nya.” Karena shalat artinya doa, boleh saja menjadikan doa sebagai salah satu bagian shalat.
Shalat memiliki hukum yang umum. Semua keadaannya, baik yang tam pak maupun yang tersembunyi, tidak terpisah satu sama lain. Ia ber diri dengan keseluruhannya, rukuk dengan keseluruhannya, dan du duk dengan keseluruhannya. Semua alamnya telah menyatu dalam ber ibadah kepada Tuhannya dan mencari pertolongan dari-Nya untuk ber ibadah kepada-Nya.
Keadaan-keadaan seluruh peralihan dalam shalat dimaksudkan
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:174
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:174 6/2/2010 3:38:27 PM6/2/2010 3:38:27 PM
TITIK-TEMU, Vol. 2, No. 2, Januari - Juni 2010 175
untuk meraih keteguhan dalam mewujudkan apa yang tampak kepada orang yang shalat di dalam shalat tersebut, sebab jika orang yang shalat itu terlalu terburu-buru sehingga tidak layak disebut orang rukuk, maka ia akan kehilangan pengetahuan tentang “besar”, yang hanya bisa diraih oleh orang yang teguh.
Orang yang shalat memulai syahadatnya dengan mengaitkan Allah swt dengan nama beliau, Muhammad, karena di situ terkumpul hal-hal yang terpuji, sehingga ia memang berhak
“disetarakan.” Lalu ia me nyebut “hamba Allah,” menyebutnya dengan sifat kehambaan yang khu sus agar diketahui bahwa beliau terbebas dari penghambaan kepada se gala sesuatu selain Allah.
Dan kemurnian penghambaan beliau kepada Allah tidak dikotori oleh apa pun. Lalu orang yang shalat mengaitkan ke rasulan beliau dengan kehambaannya, sehingga dalam hal itu ke ham ba an beliau itu ditambah dengan dua kekhususan: kenabian dan ke ra su l an.
Penyebutan kerasulan, bukan kenabian, karena kerasulan itu sen di ri telah mencakup kenabian. Jika orang yang shalat hanya menyebut ke nabian saja, maka kita tetap harus menyebutkan kekhususan beliau se bagai rasul. Perlunya disebutkan sifat khusus kerasulan beliau ini agar ki ta dapat membedakan beliau dari hamba-hamba Allah yang tidak me mi liki kedudukan sebagai rasul, termasuk para nabi Allah. Inilah tasya hud dengan bahasa kesempurnaan.
Pen je las an shalat dalam buku ini sangat terperinci kata demi kata. Sudah jelas bahwa manusia bi sa berubah dan keadaannya bisa berbeda-beda, sehingga shalatnya ber beda-beda karena perbedaan keadaan-keadaannya. Perbedaan keadaan orang-orang yang shalat telah kami ketengahkan seperti shalat orang yang sa kit dan shalat orang yang ketakutan.
Akhirul kalam, dua endorsment yang diberikan oleh Prof.
Kautsar Azhari Noer dan Dr. Ammar Fauzi sudah dapat mengantarkan ke pintu gerbang imaji yang sangat tinggi dan brilian ihwal shalat. Adapun kekurangan dalam terjemahan buku ini dapat dimaklumi seperti kurang lengkap dalam menyebutkan “para ulama berpendapat,” siapakah para ulama yang dimaksud? Dan sayang sekali, edisinya paperback dan tidak ada indeks, padahal ini adalah
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:175
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:175 6/2/2010 3:38:28 PM6/2/2010 3:38:28 PM
176 TITIK-TEMU, Vol. 2, No. 2, Januari - Juni 2010
buku referensi handal, belum pernah diterjemahkan oleh penerbit-penerbit Islam di Indonesia. Meski naskah asli buku ini cukup berat dari teks Arabnya, terjemahannya cukup memadai, gaya selingkung editor yang cukup profesional membuat keterbacaan teksnya mudah dipahami. Pembaca yang budiman akan merasa berutang budi pada penerbit yang telah rela dan mau menerbitkan buku tentang mahkota ilmu shalat yang sebenarnya sehingga Anda bisa melihat kebenaran sebagai kebenaran, bukan sebagai kebetulan, termasuk untuk urusan shalat.
Ikhsan Ramazani adalah penerjemah dan editor lepas untuk beberapa penerbit dan penulis, yang tinggal di Bandung.
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:176
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:176 6/2/2010 3:38:28 PM6/2/2010 3:38:28 PM
TITIK-TEMU, Vol. 2, No. 2, Januari - Juni 2010 177
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:177
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:177 6/2/2010 3:38:28 PM6/2/2010 3:38:28 PM
178 TITIK-TEMU, Vol. 2, No. 2, Januari - Juni 2010