Siapa sangka perempuan semampai dengan rambut sebahu, blazer ketat, rok mini serta sepatu stiletto 4 inci menjadi perhatian bagi kalangan feminis. Dialah Ally McBeal (diperankan oleh Calista Flockhart) yang wajahnya terpampang bersama Susan B. Anthony, Betty Friedan, dan Gloria Steinem, pada sampul majalah Time edisi 25, 1998 dengan pertanyaan “Is Feminism Dead?” Tentu ini menjadi fenomena yang mencengangkan. Inikah keberhasilan media dalam memunculkan sosok perempuan baru, mandiri, cantik, menggantikan fi gur perempuan feminis dengan ide tentang kebebasan?
Tentu tidak hanya Ally McBeal, tokoh lain seperti Madonna, atau tokoh Vivian dalam fi lm Pretty Woman menjadi buah bibir dan bahan kajian bagi kalangan feminis khususnya yang berkutat dalam kajian budaya feminis (feminis cultural studies). Kajian budaya feminis yang muncul pada feminisme gelombang kedua ini dirangkum oleh Joanne Hollows, seorang pengajar di Nottingham Trent University, dalam buku
Judul buku : Feminisme, Feminitas & Budaya Populer Penulis : Joanne Hollows
Penerjemah : Bethari Anisa Ismayasari
Penerbit : Jalasutra
Waktu terbit : 1 Maret 2010 Jumlah halaman : viii + 296 halaman Ukuran buku : 15 x 21cm
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:168
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:168 6/2/2010 3:38:25 PM6/2/2010 3:38:25 PM
TITIK-TEMU, Vol. 2, No. 2, Januari - Juni 2010 169
yang berjudul Feminisme, Feminitas & Budaya Populer (Maret 2010).
Buku ini menyajikan sekelumit perdebatan pada feminisme gelombang kedua dengan menjadikan budaya populer sebagai bahan kajian utama, serta penempatan gender menjadi kajian sentral dalam menelaah budaya populer.
Sebagian kalangan feminis menilai budaya populer sebagai bu-daya massa dangkal dan menimbulkan keresahan karena mengunci perempuan dalam identitas feminin yang membuat mereka menjadi buta dan berkolusi dengan penindasan yang mereka alami (h. 27).
Namun, Hall menganggap budaya populer sebagai wilayah perjuan-gan, tempat terjadinya konfl ik antara kelompok dominan dan kelom-pok yang tidak dominan (h. 37). Oleh karena itu, kalangan feminis memunculkan kajian budaya populer sebagai alat untuk mengupas hubungan kekuasaan dengan membahas bagaimana ketidaksetaraan gender diproduksi dan direproduksi secara bersamaan serta mere-produksi kembali bentuk hubungan kekuasaan lain (h. 46).
Adapun beberapa kajian yang dirangkum dalam buku ini mem-fokuskan sorotannya pada produk budaya populer yang banyak dikonsumsi oleh perempuan seperti fi ksi romantis, opera sabun, fi lm perempuan, fashion, lagu pop dan sebagainya. Radway, seorang pengkaji feminisme cultural studies dari Amerika yang menganalisis fi ksi romantis dalam bukunya yang berjudul Reading Romance. Ia mengungkapkan bahwa fi ksi romantis merupakan bentuk pelarian perempuan untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya. Dalam fi ksi romantis laki-laki digambarkan sebagai tokoh yang lemah lembut dan bersahabat dengan perempuan, sehingga gambaran seperti itu mem-buat fi ksi romantis menjadi kebutuhan perempuan untuk memuaskan imaginasi dan menghadirkan rasa nyaman (h. 104).
Begitu pula dengan opera sabun, Geraghty mengungkapkan bahwa opera sabun di stasiun televisi memiliki premis bahwa perempuan dapat dipahami secara rasional, membenarkan kopetensi feminin, dan berhubungan dengan situasi emosi yang umumnya dimiliki oleh perempuan sehingga terbangun kesan solidaritas perempuan. Selain itu, dalam opera sabun terdapat penolakan terhadap patriarki dengan men-ciptakan suatu tempat untuk perempuan sebagai subjek (h. 121).
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:169
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:169 6/2/2010 3:38:26 PM6/2/2010 3:38:26 PM
170 TITIK-TEMU, Vol. 2, No. 2, Januari - Juni 2010
Tak ketinggalan dengan kajian fi lm, kalangan feminis Amerika Serikat menyebarkan kajiannya dalam jurnal fi lm Women and Film di Amerika. Jurnal ini banyak membahas fi lm dokumenter feminis.
Film dokumenter yang disenangi saat itu dianggap sebagai praktik fi lm yang bisa merepresentasikan perempuan dan perkara feminis dengan sangat akurat dan jujur serta cenderung berdasar pada autobiografi s perempuan. Mereka membandingkannya dengan fi lm Hollywood sebagai fi lm mainstream yang mencitrakan perempuan sebagai tokoh pasif, terdistorsi, dan mereproduksi ideologi patriarki (h. 60).
Menegosiasikan feminisme
Semua perbincangan yang disajikan oleh Hollows dalam buku ini memberikan gambaran yang jelas mengenai tiga hal yang berjalin kelindan, yaitu feminisme, feminitas dan budaya populer (yang menjadi judul dari buku ini). Namun titik inti dari semua perbincangan ini adalah budaya populer. Budaya populer menjadi suatu wilayah “tempat memperjuangkan makna” (Gamman dan Marshment). Dengan kata lain, kalangan feminis menyematkan pemahaman feminisme pada budaya populer.
Para kelompok feminis menyadari bahwa budaya populer memiliki efek yang besar bagi penikmatnya terutama perempuan, seperti fi ksi romantis dan opera sabun yang banyak dikonsumsi oleh perempuan dan dijadikan bahan perbincangan sehari-hari. Ini menjadi jalan bagi feminisme untuk menyebarkan nilai-nilai kesetaraan gender yang selama ini didiskusikan di gerakan-gerakan perempuan. Atau seperti halnya talkshow Oprah, yang membincangkan persoalan domestik dan menghadirkan audiens perempuan. Dengan memukau Oprah menghadirkan persoalan ketidakadilan gender dan mengkampanyekan anti kekerasan terhadap perempuan. Senada dengan hal itu, Squire menambahkan bahwa talkshow Oprah dapat mengenalkan persoalan ras, gender, dan kelas kepada perempuan dengan cara yang lebih baik dibandingkan teori feminis.
Semua hal tersebut merupakan usaha bagaimana feminisme menjadi populer di masyarakat, dan yang lebih penting memberikan
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:170
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:170 6/2/2010 3:38:26 PM6/2/2010 3:38:26 PM
TITIK-TEMU, Vol. 2, No. 2, Januari - Juni 2010 171
pemahaman mengenai feminitas yang aktif, karena selama ini yang banyak dipahami pada umumnya, feminitas dimaknai dengan kepasifan, dan menerima begitu saja seperti yang sering digambarkan dalam fi lm yang mainstream (Hollywood). Dalam fi lm mainstream, menurut Mulvey perempuan dijadikan penanda kosong yang hanya menandai
“keberadaanya” dengan norma laki-laki. Ini tidak mengherankan karena fi lm mainstream bersifat patriarki karena diorganisasi untuk memenuhi batin laki-laki, sehingga dalam kondisi yang sama feminitas tercitrakan pasif “keberadaannya,” hanya menjadi objek bagi laki-laki.
Dengan demikian, kajian budaya feminis menjadi salah satu strategi untuk memunculkan politik budaya feminis. Di mana feminisme menggunakan budaya populer untuk “mempopulerkan nilai-nilai feminis” atau dalam istilah Gamman dan Marsment sebagai usaha mengintervensi agar nilai yang kita (feminis) miliki sebagai bagian dari pemahaman umum. Namun, selain keuntungan yang didapat oleh kalangan feminis, satu hal yang dikhawatirkan adalah terkooptasinya feminisme oleh budaya populer. Maka muncul anggapan bahwa persoalan pembebasan, kebebasan dan kemandirian untuk perempuan muncul karena dinilai “menjual” dan menyebabkan lemahnya keterlibatan feminisme dalam budaya populer.
Saya kira kolaborasi antara feminisme dan budaya populer harus diiringi dengan negosiasi yang seimbang, yang membuat feminisme menjadi populer tanpa harus kehilangan sikap radikal dan kritis, sehingga tidak terbawa pada selera pasar. Dengan kata lain, negosiasi antara komersialisme dan idealisme untuk memepertaruhkan kepercayaan perempuan terhadap feminisme sebagai ratunya kajian perempuan. Yang lebih penting, merasuknya feminisme dalam kajian budaya tidak hanya mencetak perempuan yang hanya memakai blazer dengan stiletto yang tinggi, tapi mengisi pikiran di wajah cantiknya dengan kesadaran gender dan perjuangan perempuan melawan kekerasan domestik dan publik.
Neneng Nurjanah adalah penggiat Siloka, Forum Kajian Literasi dan Perempuan.
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:171
titik temu vol 2 no 2 set.indd Sec2:171 6/2/2010 3:38:26 PM6/2/2010 3:38:26 PM
172 TITIK-TEMU, Vol. 2, No. 2, Januari - Juni 2010