• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam sejarah perkembangannya pengetahuan lokal yang dimiliki oleh suatu komunitas merupakan sekumpulan strategi adaptasi dalam berinteraksi dengan lingkungan setempat. Proses pembentukannya lebih menekankan pada pengalaman dan pemahaman terhadap gejala alam. Proses trial and error akan selalu berlangsung sehingga ditemukan suatu pemahaman yang holistik tentang gejala-gejala alam yang terjadi tersebut (Ellen and Bicker 2005). Oleh karena itu, secara kontekstual pengetahuan lokal sangat terkait dengan kondisi lingkungan sosial-biofisik dengan konteks spesifik lokal.

Merubah lahan rawa pasang surut menjadi sebuah areal pertanian yang subur bukan hanya memerlukan pengetahuan dan keterampilan teknis semata terkait sifat-sifat yang melingkupinya. Diperlukan adanya pola hubungan sosial spesifik dalam kehidupan masyarakat sehingga kendala-kendala teknis yang ada dapat diatasi secara lebih holistik. Pola kerjasama kelompok handil yang merupakan cikal bakal dalam terbentuknya komunitas masyarakat pertanian di lahan rawa pasang surut. Bentuk kerjasama dengan ikatan sosial dan hubungan kekeluargaan yang kuat menjadi pendorong dalam mengembangkan pertanian di lahan marjinal ini. Pemahaman yang holistik terhadap gejala alam inilah yang melahirkan pengetahuan-pengetahuan lokal dalam mengelola lahan rawa pasang surut.

Pengetahuan lokal petani untuk mengelola lahan rawa pasang surut terbentuk dari interaksi mereka untuk mengatasi dua kendala spesifik, yakni genangan air dan tingkat kemasaman yang relatif tinggi (berupa tanah sulfat

masam). Hal ini selaras dengan teori koevolusi (coevolution) yang menyatakan bahwa pengetahuan lokal mengacu pada proses dinamis dan berkelanjutan dari adaptasi timbal balik antara lingkungan alamiah dan umat manusia. Terkait dengan aspek metodologis menurut Agrawal (1995) bahwa pengetahuan lokal berkembang melalui pengalaman dan pemahaman terhadap gejala alam. Begitu juga dengan hasil penelitian dari Sunaryo dan Joshi (2003) yang menyatakan bahwa pengetahuan lokal merupakan hasil dari proses belajar berdasarkan persepsi petani sebagai pelaku utama pengelola sumber daya lokal. Menyangkut persepsi terhadap lingkungan ini, Kalland (2005) menyebut pengetahuan lokal sebagai pengetahuan yang bersifat empiris, sehingga mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar.

Tata air dengan sistem handil yang dikembangkan secara bertahap seiring dengan pertumbuhan anggota kelompok handil tersebut ternyata mampu menghadapi kendala biofisik yang ada. Aspek kepemimpinan dalam kelompok handil turut menentukan keberhasilan kegiatan pertanian di wilayah tersebut. Seorang kepala handil dipilih karena ia memiliki pengetahuan dan pemahaman baik tentang kondisi di wilayah tersebut, jujur dan bersifat adil. Hal ini penting karena salah satu tugas utamanya adalah mendistribusikan lahan-lahan yang ada kepada mereka yang membutuhkan secara adil. Lahan yang telah didistribusikan, tetapi tidak dikelola atau dibiarkan terbengkalai oleh anggota kelompok dapat berpengaruh buruk terhadap lahan-lahan pertanian di sekitarnya. Semak dan tumbuhan liar pada lahan yang terbengkalai ini merupakan sarang yang baik bagi beberapa jenis hama seperti tikus, wereng, ulat dan babi. Oleh karena itu sikap tegas seorang kepala handil juga diperlukan untuk menjaga keberhasilan pertanian di wilayahnya.

Pengetahuan dan pengalaman tentang bercocok tanam padi di lahan rawa pasang surut yang dimiliki akan saling dipertukarkan antar petani anggota kelompok handil ini. Hingga pada akhirnya mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman yang komprehensif dalam mengelola lahan rawa pasang surut ini. Bagaimana kemasaman tanah terjadi dan cara mengindari atau mengatasinya agar tanaman tidak terganggu pertumbuhannya merupakan pengetahuan teknis dasar yang mereka miliki sejak ratusan tahun lalu. Pengetahuan ini diturunkan atau ditularkan secara lisan dari satu generasi ke generasi lain secara oral dan praktik langsung di lahan usahatani. Penggunaan varietas lokal, peralatan usahatani, serta teknik bercocok tanam yang adaptif dengan kondisi lahan rawa

pasang surut merupakan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan kondisi biofisik dan kehidupan sosial masyarakat.

Pada lahan rawa pasang surut tipe A pengetahuan petani tentang gerakan air pasang, perhitungan iklim dan cuaca berdasarkan peredaran bintang lebih berkembang dibandingkan dengan di tipe lahan rawa pasang surut lainnnya. Pengetahuan-pengetahuan ini berimplikasi pada pengetahuan tentang teknik pembibitan padi serta penentuan suatu kegiatan usahatani. Kegiatan- kegiatan seperti penanaman dan pemupukan hanya efektif dilakukan pada saat terjadinya pasang kecil. Pada saat ini genangan air berada pada tingkat terendah dan kegiatan tanam maupun pemupukan mudah dilakukan. Kegiatan di sawah hanya berlangsung setengah hari, yakni pada saat air surut sehingga pola ini juga berpengaruh terhadap aktivitas petani sehari-hari.

Pengetahuan petani di lahan rawa pasang surut tipe B terutama menyangkut teknik tata air untuk mengatasi kemasaman tanah. Sistem tata air yang baik dapat mencegah terjadinya oksidasi pirit karena lapisan ini secara alamiah akan mengalami oksidasi pada kondisi kering dan dapat meracuni tanaman. Pengetahuan mereka tentang lapisan pirit ini berimplikasi pada pengetahuan tentang pembuatan saluran baik yang ada dalam petakan sawah maupun di luar petakan sawah. Pengetahuan tentang peralatan pengolahan tanah (tajak) yang tidak membongkar lapisan pirit merupakan teknik yang dalam istilah pertanian dikenal dengan pengolahan tanah minimum (minimum tillage). Petani di lahan rawa pasang surut tipe C dan D yang kondisi agroekosistemnya tidak memperoleh luapan langsung dari air pasang, lebih dihadapkan pada masalah kemasaman tanah yang tinggi. Pengetahuan tentang ciri-ciri tanah yang baik untuk dijadikan sebagai areal persawahan lebih berkembang dibandingkan dengan masalah pasang surutnya air. Pengetahuan tentang cara mengidentifikasi kesuburan tanah melalui vegetasi yang tumbuh di atas lahan tersebut maupun kondisi fisik tanah merupakan keahlian petani setempat. Pembuatan surjan dan tukungan untuk ditanami dengan tanaman hortikultura merupakan strategi pertanian polikultur (tanaman campuran) untuk mengimbangi produktivitas padi yang relatif rendah. Penggunaan peralatan tajak merupakan implementasi dari pengetahuan mereka tentang lapisan pirit yang tidak boleh terbongkar pada saat pengolahan tanah. Teknik pembibitan secara bertahap lebih ditujukan untuk memperoleh bibit yang memiliki adaptasi tinggi terhadap kemasaman tanah.

Pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat dalam mengelola lahan rawa pasang surut ini pada kondisi tertentu terbukti mampu memenuhi kebutuhan hidup masyarakat setempat. Sistem sosial berkembang seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada kondisi lingkungan biofisik lahan rawa pasang surut. Terlebih lagi ketika kebijakan pertanian nasional dalam pengadaan pangan kini diarahkan pada wilayah-wilayah di luar jawa akibat penyusutan lahan pertanian subur di jawa akibat konversi ke penggunaan lain. Lahan-lahan marjinal, termasuk lahan rawa pasang surut dan lahan gambut dituntut untuk menghasilkan pangan dengan produktivitas tinggi.

Program-program nasional dalam peningkatan produksi pangan selanjutnya dibebankan kepada masyarakat petani di lahan rawa pasang surut. Mereka dituntut untuk menghasilkan pangan dalam jumlah besar dengan merubah pola tanam dan jenis varietas padi yang diusahakan. Program penyuluhan melalui bimbingan massal hingga intensifikasi pertanian yang dilaksanakan secara nasional juga diberlakukan di lahan rawa pasang surut. Produktivitas dan efisiensi pertanian menjadi semboyan baru yang didengungkan kepada para petani. Teknik-teknik lama dalam bercocok tanam yang menggunakan varietas lokal berproduktivitas rendah harus diganti dengan varietas unggul berproduktivitas tinggi dengan penerapan teknologi pertanian modern. Haruskah sistem pertanian yang dianggap tradisional tetapi adaptif terhadap lingkungan digantikan dengan pertanian modern yang berproduksi tinggi? Kalau menguntungkan petani, kenapa tidak? Demikianlah pendapat yang dikemukakan aparat pembangunan pertanian. Proses seperti inilah yang oleh Fakih (1995) disebut sebagai dominasi dan penjinakan. Pada tataran lebih lanjut hal ini dapat menghilangkan pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat setempat.

Untuk mendukung program dan kegiatan peningkatan produksi padi ini dilakukanlah berbagai bimbingan dan penyuluhan tentang sistem bercocok tanam padi unggul yang benar-benar baru bagi masyarakat setempat. Berbagai bentuk bantuan, mulai dari benih unggul, pupuk, hingga modal usaha berupa kredit usahatani dikucurkan demi keberhasilan proyek ini. Bahkan dalam beberapa hal terkesan dipaksakan untuk mencapai target luas tanam padi unggul pada satu wilayah. Penyuluh pertanian yang di wilayahnya banyak petani menanam padi unggul akan diberi penghargaan, sedangkan yang tidak mampu mengajak petaninya untuk menanam padi unggul akan memperoleh

‘sanksi’ atau dianggap gagal dalam menjalankan tugasnya. Target luas tanam untuk masing-masing wilayah telah ditetapkan dan harus dilaksanakan oleh petugas penyuluh di lapangan.

Eksistensi kelembagaan petani seperti handil digeser oleh kelompok tani melalui penerapan peraturan Menteri Pertanian dalam rangka program nasional peningkatan produksi padi. Kelompok tani ini pada awalnya merupakan kelompok informal bagi petani tetapi dalam pelaksanannya berperan sebagai perpanjangan tangan petugas penyuluh untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan pertanian. Padahal dalam perjalanan sejarahnya, kelompok handil ini dapat membangun kebersamaan petani dalam meningkatkan produksi padi. Bahkan kelembagaan lokal seperti ini dapat menjembatani berbagai kepentingan dalam kehidupan masyarakat lokal (Yurisetou 2003). Kelompok tani yang menanam padi unggul diberi penghargaan dan berbagai fasilitas bantuan. Sebaliknya, kelompok tani yang tidak mau menanam padi unggul tidak mendapat pembinaan dan perhatian bahkan bantuan dari pemerintah. Hal ini terjadi karena sistem pembangunan pertanian yang dijalankan lebih berorientasi pada program bukan pada kesejahteraan petani. Bahkan kini, kepala daerah (kabupaten dan provinsi) yang mampu meningkatkan poduksi padinya di atas 5% akan memperoleh penghargaan dari presiden. Kenapa bukan pendapatan petani yang menjadi indikatornya? Konflik kepentingan inilah yang pada akhirnya dapat menyebabkan kelembagaan sosial yang telah ada di masyarakat mulai kehilangan eksistensinya sedangkan kelompok tani belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan petani. Bahkan banyak kelompok tani yang hanya sebatas nama dan kepentingan administrasi petugas, sedang kegiatannya tidak memberikan manfat bagi petani anggotanya.

Kenyataan yang terjadi di wilayah lahan rawa pasang surut di Kalimantan Selatan, khususnya di Kabupaten Barito Kuala sedikit sekali petani yang mau menanam padi varietas unggul tersebut. Bahkan jika varietas lokal Siam Mutiara tidak ditetapkan sebagai varietas unggul, hanya 1.467 ha (1,55%) dari 94.658 ha luas pertanaman padi di Kabupaten Barito Kuala pada musim tanam 2009 ini. Mengapa hal ini bisa terjadi? Berapa kajian dan penelitian yang dilakukan menyebutkan bahwa faktor yang menyebabkan petani tidak mengadopsi benih unggul antara lain : a) hasil riil di lapangan yang tidak begitu tinggi dibandingkan dengan varietas lokal; b) keuntungan yang diperoleh kecil; c) harga jual yang relatif rendah dibanding varietas lokal; serta d) rasa nasi yang

kurang sesuai dengan selera masyarakat setempat (Ismadi dkk 2008, Rina Y dan Noorginayuwati 2007).

Mengacu pada berbagai kendala teknis dan sosial ekonomi yang menjadi penyebab tidak banyaknya petani mengadopsi padi varietas unggul, pada tahun 2000 Balai Penelitian Pertanian Tanaman Pangan (Balittan)6 Banjarbaru melepas dua varietas unggul baru Martapura dan Varietas Margasari. Varietas Martapura merupakan persilangan antara varietas lokal Siam Unus dengan varietas unggul nasional Dodokan. Varietas Margasari merupakan hasil persilangan antara varietas lokal Siam Unus dengan varietas unggul Cisokan. Kedua varietas ini memiliki butiran kecil dan panjang serta rasa nasi yang sesuai dengan selera masyarakat setempat (pera). Ternyata setelah hampir sepuluh tahun sejak dilepas petani juga tidak terlalu berminat menanam varietas baru ini. Alasannya karena mudah rebah dan harga jual yang diberikan pedagang pengumpul disamakan dengan harga padi unggul (lebih murah dari varietas lokal). Pedagang pengumpul menganggap padi jenis ini adalah padi unggul karena umurnya sekitar 4 bulan dan dalam perdagangannya varietas ini mereka sebut IR-Nus (Artinya padi unggul IR yang berpenampilan seperti varietas Siam Unus). Padahal dalam praktik perdagangan beras selanjutnya beras ini sering digunakan sebagai pencampur beras dari varietas Siam Unus yang harganya relatif mahal di antara varietas lokal lainnya. Ini memberikan gambaran bahwa, dalam sistem pemasaran hasil pertanian di tingkat lokal pun petani selalu dirugikan dan berada pada posisi tawar yang lemah.

Mengapa petani mempertahankan sistem pertanian tradisional dengan varietas lokal dan enggan menggantinya dengan varietas unggul? Selain keuntungan yang diperoleh relatif kecil dibandingkan dengan varietas lokal, pengusahaan varietas unggul ternyata memerlukan biaya nyata (explicit cost) yang relatif besar. Resiko kegagalan panen akibat kondisi lahan rawa pasang surut yang dengan kemasaman tinggi juga menjadi pertimbangan petani untuk mengusahakan varietas unggul. Sistem pembibitan secara bertahap dari lahan kering hingga ke areal sawah yang berair merupakan bentuk penyesuaian bibit tanaman terhadap kondisi lahan rawa pasang surut yang memiliki tingkat kemasaman tinggi. Walaupun varietas unggul memiliki potensi produksi yang

6

Sejak Desember 1994 berubah menjadi Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa (Balittra) dan pada Januari 2002 berubah lagi menjadi Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra)

tinggi, tetapi kenyataan di lapangan memberikan hasil yang tidak jauh berbeda ketika ditanam di lahan rawa pasang surut. Bahkan dalam beberapa kasus produksinya lebih rendah dari varietas lokal.

Bagi petani, peningkatan produksi bukan tujuan akhir dalam kegiatan pertanian padi, karena mereka lebih memperhitungkan pendapatan rumah tangga serta selera masyarakat terhadap rasa dan tekstur nasi. Mengusahakan padi varietas unggul memerlukan biaya tambahan seperti untuk pembelian pupuk dan pestisida, tetapi hasilnya tidak jauh berbeda dengan varietas lokal bahkan harga gabah varietas unggul jauh lebih rendah dari harga gabah varietas lokal7. Faktor inilah yang menjadi penyebab mengapa padi varietas unggul nasional ini sejak diintroduksi tahun 1970-an hingga sekarang tidak banyak diminati petani di lahan rawa pasang surut.

Upaya pemerintah mengembangkan pertanian modern berbasis padi unggul melalui program-program berbantuan menghasilkan kesadaran palsu. Program pembinaan justeru lebih mengarah pada hegemoni pemerintah yang mengusung dikotomi antara modern dan tradisional. Akibatnya segala yang berbau tradisional harus diubah menjadi modern melalui penerapan sains dan teknologi. Kondisi inilah yang dikritik oleh Habermas (2006) sebagai bentuk modernisasi kapitalis yang lebih menekankan pada tindakan strategis dalam bentuk kekuasan politis dan kemakmuran ekonomis. Proses seperti akan menutup pintu komunikasi antara penganut entitas pengetahuan lokal dengan sains. Bahkan pada tataran praktis, kegiatan penyuluhan yang dilakukan lebih bermakna pada penyampaian pesan-pesan pembangunan agar mereka mau menerapkan sains dan teknologi baru serta meninggalkan cara-cara lama.

Sains dan praktik pertanian modern berbasis benih unggul yang disebarkan kepada petani melalui kegiatan penyuluhan pertanian ternyata kurang mendapat respon positif dari masyarakat di lahan rawa pasang surut. Bahkan penemuan varietas unggul baru8 yang karakteristiknya menyerupai varietas lokal serta sesuai dengan kondisi di lahan rawa pasang surut juga tidak

7

Biaya pupuk untuk padi varietas lokal sekitar Rp 105.000,- - Rp 240.000,- per hektar, sedang untuk biaya pupuk varietas unggul mencapai Rp 650.000,- per hektar. Harga gabah lokal rata-rata Rp 3.000,- sampai Rp 3.500,- per kg, sedangkan harga gabah varetas unggul hanya Rp 2.000,- sampai Rp 2.500,- per kg.

8

Pada tahun 2000 diintroduksi varietas unggul Margasari dan Martapura yang merupakan hasil persilangan antara varietas lokal peka fotoperiod (Siam Unus) dengan padi sawah varietas unggul introduksi (Cisokan dan Dodokan) yang memiliki butiran kecil dengan rasa nasi yang pera dan cocok dengan selera masyarakat setempat.

banyak diadopsi petani. Beberapa petani menyatakan karena varietas ini mudah roboh dan harga jualnya di tingkat petani relatif rendah (Rp 2.000,- hingga Rp 2.500,- per kg). Walaupun varietas ini berumur relatif pendek (sekitar 4 bulan), tetapi karena sistem budidayanya berbeda dengan teknik bercocok tanam padi yang selama ini dilakukan masyarakat sehingga sampai sekarang tidak banyak petani yang menanamnya.

Bagi petani di lahan rawa pasang surut tipe A, pengetahuan mereka tentang kondisi biofisik setempat telah meyakinkan mereka bahwa sistem pertanian dengan teknik baru ini sangatlah sulit dilakukan. Kondisi air pada saat pasang yang cukup dalam tidak memungkinkan bibit ditanam secara baik di sawah. Berbeda halnya dengan yang terjadi di lahan rawa pasang surut tipe C dan D, berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki alasannya bukan hanya permasalahan kondisi biofisik semata, tetapi juga menyangkut aspek sosial ekonomi. Hasil analisis dalam kegiatan FGD dengan petani di lahan rawa pasang surut tipe C, dan D menunjukkan bahwa perubahan sistem bercocok tanamlah yang merupakan akar dari sulitnya masyarakat setempat menerapkan pengetahuan baru tentang budidaya varietas unggul.

Berdasarkan pengetahuan petani setempat, sistem pertanian padi secara tradisional dengan varietas lokal merupakan sistem pertanian yang menggunakan input lokal dengan modal yang rendah serta memerlukan input luar yang kecil. Kegiatan pengolahan tanah, pembibitan, penanaman, pemeliharaan hingga panen dan pascapanen lebih banyak dikerjakan dengan tenaga kerja dalam keluarga. Hanya kegiatan panen yang banyak menggunakan tenaga upahan. Kegiatan penanaman selain dengan tenaga kerja dalam keluarga juga ada yang menggunakan tenaga upahan maupun dengan sistem handipan. Sarana produksi yang harus dibeli biasanya berupa pupuk buatan dan pestisida, sedangkan untuk bibit digunakan dari hasil panen sebelumnya.

Waktu pengolahan tanah dan pembibitan yang relatif panjang dan intensitas curahan waktu kerja yang relatif sedikit memungkinkan masyarakat petani dapat memanfaatkan waktu senggangnya untuk kegiatan produktif baik dibidang pertanian maupun di luar bidang pertanian. Pemanfaatan waktu senggang untuk kegiatan pertanian lainnya seperti mengusahakan tanaman sayuran dan hortikultura, tanaman perkebunan maupun pengumpulan hasil hutan dan penangkapan ikan. Kegiatan di luar pertanian yang dilakukan seperti

bekerja sebagai buruh atau tukang bangunan, kerajinan anyaman, maupun jasa angkutan darat dan sungai.

Pola pertanian padi dengan waktu yang relatif panjang ini secara teknis terkait dengan kendala kemasaman tanah di lahan rawa pasang surut. Pengetahuan petani setempat tentang sifat-sifat tanam masam dan pengendaliannya secara alamiah terbukti mampu mengatasi permalahan ini dengan biaya murah. Persawahan petani di rawa pasang surut umumnya merupakan lahan sulfat masam dan kemasamannya semakin meningkat setelah fase musim kemarau dan air mulai masuk ke sawah pada awal penghujan (terutama di tipe C dan D). Proses pencucian kemasaman tanah ini oleh air hujan terus berlangsung seiring dengan tingginya intensitas hujan pada bulan Desember dan Januari. Oleh karena itulah petani di wilayah ini akan mulai melakukan kegiatan penananam setelah bulan tersebut karena kondisi sawah sudah berkurang kemasamannya. Pada bulan-bulan dimana kondisi kemasaman di sawah masih tinggi (Oktober-Nopember), petani melakukan tahapan pembibitan dan pengolahan tanah. Pengetahuan tentang kondisi iklim (terutama curah hujan) dan sifat dan karakteristik tanah masam inilah yang mendasari mengapa sistem pertanian tradisional petani di lahan rawa pasang surut dilakukan dengan teknik pembibitan bertahap menggunakan varietas lokal yang mulai ditanam sekitar Januari hingga April.

Model pertanian tradisional dianggap rendah produksinya sehingga perlu diganti dengan varietas unggul yang berproduksi tinggi dengan penerapan panca usahatani. Petani diperkenalkan dengan benih unggul, pupuk buatan, pestisida dan teknik pengelolaan yang intensif karena tanaman padi tersebut berumur pendek. Melalui kegiatan penyuluhan pertanian, petani diberi pengetahuan dan teknik baru dalam bercocok tanam padi sawah. Kelompok tani dibentuk untuk memudahkan pembinaan terhadap para petani dan dilengkapi dengan berbagai demonstrasi tentang teknik atau cara pertanian modern dengan menerapkan pancausahatani. Apa yang terjadi hingga sekarang, ternyata sangat sedikit sekali petani yang mau menerapkan pengetahuan dan teknologi pertanian modern ini. Mengapa mereka berperilaku demikian? Bagi petani di lahan rawa pasang surut tipe C dan D, selain produksinya yang tidak jauh berbeda dengan varietas lokal, ternyata diperlukan input dan modal yang relatif besar, sehingga keuntungannya juga relatif sedikit dibandingkan dengan varietas lokal, seperti ditunjukkan pada Tabel 13.

Tabel 13 Perbandingan ekonomi usahatani padi lokal dengan padi unggul di lahan rawa pasang surut per hektar lahan

No Komponen Perhitungan Satuan Padi Lokal Padi Unggul

1 Produksi (Q) kg 2.800 3.500 2 Harga Gabah (P) Rp 3.500 2.500 3 Biaya Eksplisit (EC) Rp 1.992.500 3.212.500 4 Biaya Implisit (IC) Rp 5.502.500 4.372.500 5 Biaya Total (TC = EC + IC) Rp 7.495.000 7.585.000 6 Penerimaan (TR = P x Q) Rp 9.800.000 8.750.000 7 Pendapatan ( P = TR - EC) Rp 7.807.500 5.537.500 8 Keuntungan (π = TR - TC) Rp 2.305.000 1.165.000

9 R/C - 1,31 1,15

Sumber : Hasil pengolahan dan analisis data, 2009

Berdasarkan alasan yang dikemukakan oleh petani tersebut, terdapat tiga masalah utama yang menyebabkan praktik budidaya padi unggul kurang diminati dibandingkan dengan praktik budidaya pertanian padi lokal (Gambar 14). Pertama, menyangkut aspek teknis budidaya dan hubungannya dengan kondisi spesifik lahan rawa pasang surut. Kendala kemasaman dan genangan air yang berpengaruh terhadap produksi aktual padi unggul merupakan alasan teknis yang menyebabkan petani kurang berminat mengusahakan padi unggul. Kedua, menyangkut aspek ekonomis dan keuntungan relatif usaha padi unggul yang lebih kecil dibandingkan dengan padi lokal. Biaya produksinya cukup tinggi karena memerlukan input luar serta curahan tenaga kerja yang banyak. Di sisi lain, harga jual gabah yang relatif rendah serta pemasaran yang sulit merupakan kendala ekonomis yang dihadapi petani padi unggul. Ketiga, aspek sosiologis yang menyangkut kebiasaan dan selera atau preferensi terhadap beras dari padi lokal. Hal ini juga tekait dengan pola matapencaharian masyarakat setempat yang terbentuk seiring dengan banyaknya waktu luang yang tersedia jika mengusahakan padi lokal.

Ketiga aspek tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi juga memiliki