HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian
C. Partisipasi Politik Masyarakat Miskin Kota Dalam Pemilihan Presiden Dan Wakil Presiden 2014 Di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota
1. Ikut Memilih Dalam Pemilihan Umum
Dalam pemilihan umum presiden dan wakil presiden masyarakat ikut aktif dalam memberikan suaranya dan berpartisipasi langsung. Seperti menuju ke TPS untuk ikut memilih kandidat mereka masing-masing sehingga pemilihan umum dapat terselenggara dengan baik Dalam pemilihan umum msyarakat berhak memilih calon mereka masing-masing sesuai dengan hati nurani dan tanpa ada
paksaan dari pihak lain. Sehingga pemilihan umum dapat terselenggara dengan baik serta asas-asas pemilu juga dapat terlaksana yaitu asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.
Adapun hasil wawancara dengan Lurah Mangasa terkait partisipasi Politik Masyarakat Miskin Kota Dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“ Kalau menurut Lurah Mangasa, partisipasi masyarakat miskin hanya sekedar ikut pergi memilih, istilahnya menunaikan kewajiban, karna mereka itu tidak ikut yang namanya kegiatan organisasi dan sebagainya. Ikute berpartisipasi saja itu sudah tergolong bagus, walaupun tidak semuanya ?ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum.” (Wawancara dengan O.S.,, 8 Januari 2015)
Adapun tipe politik masyarakat miskin yaitu dengan melihat kondisi yang ada, kebanyakan masyarakat miskin perkotaan memiliki latar pendidikan yang tidak memadai. Akibatnya ketertarikan dan keinginannya untuk terlibat dalam proses politik juga menjadi rendah. Namun, jika melihat pada kenyataan dilapangan, pendidikan masyarakat miskin kota yang sebagian besar rendah berdampak pada mereka yang merespon fenomena politik yang dihadapinya.
Namun cara hidup masyarakat miskin yang cenderung berkelompok sebagaimana layaknya orang biasa yang hidup di perkotaan lebih banyak diwarnai dengan masalah sehari-hari dan berusaha mengatasi masalah tersebut dengan cara yang cepat. Berikut beberapa tipe-tipe masyarakat miskin dalam berpartisipasi pada pemilihan umum yaitu masyarakat miskin apatis dan masyarakat miskin semi apatis, masyarakat miskin apatis adalah mereka yang sama sekali tidak memiliki keinginan untuk terlibat dalam aktivitas politik karna rendahnya pendidikan yang dimiliki. Ini disebabkan oleh pengetahuan mereka tentang politik yang nyaris tidak ada karena mereka tidak mendapatkan proses sosialisasi politik baik di
lingkungan sekolah maupun keluarga. Sementara, dilingkungan sosial, kelompok ini juga tidak memiliki keinginan untuk mencari informasi yang terkait dengan politik, mereka seakan tidak memperdulikan akan pentingnya pemilihan umum bahkan mereka sama sekali tidak memikirkan masalah politik, padahal sebenarnya secara tidak langsung melalui pemilihan umum inilah mereka bisa mengubah kehidupan mereka.
Sedangkan masyarakat miskin semi apatis adalah masyarakat yang memiliki keinginan untuk terlibat dalam proses politik walaupun dalam konteks yang sederhana. Pada umumnya mereka memiliki pendidikan hanya tamat SD atau tidak tamat SMA. Dasar pendidikan inilah yang membantu mereka dalam mendapatkan informasi politik baik secara sengaja maupun tidak, terutama yang ada disekitar mereka. Misalnya, dengan menyempatkan diri mencari pengetahuan tentang aktivitas politik melalui surat kabar, biasanya surat kabar yang ada disekitar mereka. Selain itu mayarakat miskin ini juga lebih cenderung mengikuti perkembangan politik melalui media televisi.
Berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat terkait masyarakat miskin apatis yang mempengaruhi partisipasi politik masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“ Menurut saya masyarakat sudah banyak yang ikut berpartisipasi dalam
pemilihan umum, masyarakat sudah sadar akan pentingnya ikut dalam pemilihan umum, utamanya dalam pemilihan presiden dan wakil presiden.” (Wawancara dengan MS.. 7 Januari 2015)
Berikut hasil wawancara dengan Lurah Mangasa yang mempengaruhi partisipasi politik masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“Masyarakat miskin itu sebenarnya masih cenderung semi apatis, walaupun pendidikan dari mereka tergolong masih rendah, tapi kadang mereka juga memiliki tanggapan tentang politik, mereka juga mau ikut dalam pemilihan umum dan tidak semua masyarakat miskin itu apatis. Masih lebih mendominasi masyarakat miskin yang semi apatis. ” (Wawancara dengan O.S,, 7 Januari 2015)
Berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat terkait masyarakat miskin semi apatis yang mempengaruhi partisipasi politik masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“Menurut saya masyarakat miskin masih tergolong semi apatis, karena mereka masih memiliki keinginan untuk ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum, walaupun tingkat partisipasi mereka masih tergolong sangat rendah.” (Wawancara dengan YL.. 7 Januari 2015)
Dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2014, ternyata masyarakat miskin masih tergolong kedalam masyarakat miskin yang semi apatis, artinya masyarakat miskin masih memiliki keinginan dalam berpartisipasi walaupun partisipasi masyarakat tersebut masih tergolong sangat rendah atau masih sangat kurang.
Keikutsertaan masyarakat dalam pemilihan umum yaitu karena adanya komunikasi politik. Komunikasi politik merupakan salah satu proses informasi politik yaitu adanya penyampaian pesan-pesan politik yang berkaitan dengan partai politik maupun aktor politik lainnya. Adanya informasi yang baik memudahkan masyarakat untuk mengetahui proses pemilihan umum yang baik, akan tetapi apabila kurangnya informasi baik melalui media cetak maupun media elektronik membuat masyarakat cenderung tidak mengetahui makna atau tujuan
dari pemilihan umum tersebut. Pentingnya komunikasi politik bagi masyarakat miskin yaitu agar mereka dapat mengetahui segala informasi mengenai politik.
Komunikasi politik dapat diklasifikasikan menjadi fungsi Informasi dan fungsi pendidikan.
Seperti halnya komunikasi pada umumnya, komunikasi politik memiliki fungsi informasi politik yaitu untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan politik. Mereka harus melakukan pendekatan dengan masyarakat agar masyarakat mengenal sosok calon pemimpinnya atau dengan pemasangan seperti baliho atau spanduk, adanya visi dan misi sehingga masyarakat lebih mengenal calon pemimpinnya.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah mengembangkan pendidikan politik kepada masyarakat miskin. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada objek yang dihadapi. Pendidikan politik bagi masyarakat miskin yang harus dilakukan utamanya dalam pemilihan umum karna masyarakat memiliki pemahaman yang kurang tentang politik sehingga apabila pendidikan politik dapat dilaksanakan maka masyarakat tersebut paham akan hakikat dari politik karna akibat dari kurangnya pemahaman mereka terhadap politik membuat masyarakat miskin tidak ikut dalam pemilihan umum.
“ Kalau menurut salah satu masyarakat, berbicara tentang pendidikan politik, sangat susah sebenarnya untuk menerapkan pendidikan politik bagi masyarakat miskin karna untuk mengumpulkan mereka saja sudah pasti hanya sebagian yang ingin datang, kalau pembagian Raskin mereka cepat tapi kalau untuk pendidikan politik rasanya sangat susah untuk diterapkan. ” (Wawancara dengan NH.. 7 Januari 2015)
Berikut hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat terkait partisipasi politik masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“ Kalau menurut saya, masyarakat sekarang itu memang masih kurang mendapatkan komunikasi, mungkin mereka hanya mengenal calon presiden mereka melalui spanduk atau baliho yang dipasang dijalan-jalan bahkan ditiap lorong tempat tinggal mereka, atau mereka juga biasa menonton TV tapi kan mereka tidak melihat dialog-dialog bakal calon presiden, hanya melihat iklan saja.” (Wawancara dengan S.A.,, 7 Januari 2015)
Berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat terkait partisipasi politik yang mempengaruhi partisipasi politik masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“Sebenarnya fungsi informasi dan fungsi pendidikan masih sangat kurang terlaksana karena masyarakat masih belum memahami akan pentingnya pemilihan umum, apa hakikat dari pemilihan umum yang seawancara dengan DR.. 7 Januari 2015)
Dalam pemilihan umum presiden dan wakil presiden ternyata tingkat partisipasi masyarakat miskin masih sangat kurang, hal ini disebabkan karena kurangnya informasi dan pendidikan politik sehingga masyarakat miskin tersebut cenderung masih sangat belum memahami akan pentingnya pemilihan umum.
Seharusnya masyarakat miskin tersebut diberikan pemahamanakan pentingnya pemilihan umum, selain itu komunikasi yang kurang menyebabkan mereka kurang mengenal bakal calon yang sebenarnya akan mereka pilih.
2. Ikut Serta Dalam Kegiatan Politik
Partisipasi politik masyarakat miskin kota ditunjukkan dengan adanya partisipasi setiap individu dalam pemilihan presiden yang ditunjukkan dengan keikutsertaan masyarakat untuk menjadi tim sukses demi mendapatkan dukungan
bagi calon yang kelak akan menjadi pemimpinnya. Selain itu mereka juga akan ikut serta dalam pemilihan umum, berpartisipasi langsung ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Dalam kegiatan politik ini, masyarakat ikut serta menjadi tim sukses, mencari dukungan, atau tindakan lain yang berusaha mempengaruhi hasil pemilu.
Masyarakat sangat bersemangat ketika menjadi tim sukses dalam pemilihan umum, mereka bahkan berlomba-lomba mengkampanyekan kandidat atau calon mereka masing-masing agar terpilih menjadi pemimpin yang kelak akan memimpin bangsa dan negara beberapa tahun kedepan dengan masa periode yang telah ditentukan. Karena dengan menjadi salah satu tim sukses bagi masyarakat akan memberikan keuntungan tersendiri bagi mereka.
Partisipasi politik bersumber pada faktor kebiasaan atau partisipasi politik terbagi atas partisipasi politik yang mengacu pada wujud nyata kegiatan politik tersebut. Berdasarkan pendapat Mas‟oed & Mac Andrews (2000:47) maka kegiatan dalam partisipasi politik adalah:
a. Kegiatan Pemilihan yaitu kegiatan pemberian suara dalam pemilihan umum, mencari dana partai, menjadi tim sukses, mencari dukungan bagi calon legislatif atau eksekutif, atau tindakan lain yang berusaha mempengaruhi hasil pemilu.
b. Lobby yaitu upaya perorangan atau kelompok menghubungi pimpinan politik dengan maksud mempengaruhi keputusan mereka mengenai persoalan-persoalan yang menyangkut sejumlah besar orang. Seperti, kegiatan yang ditujukan untuk menimbulkan dukungan atau oposisi terhadap suatu usul legislatif atau keputusan administratif tertentu.
c. Kegiatan Organisasi yaitu partisipasi individu ke dalam organisasi, baik
selaku anggota maupun pemimpinnya, guna mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pemerintah.
d. Mencari Koneksi yaitu upaya individu yang ditujukan terhadap pejabat-pejabat pemerintah dan biasanya dengan maksud memperoleh manfaat bagi hanya satu orang atau segelintir orang.
e. Tindakan Kekerasan yaitu tindakan individu atau kelompok guna mempengaruhi keputusan pemerintah dengan cara menciptakan kerugian fisik terhadap orang-orang atau harta benda, seperti pemberontakan yang sangat merugikan masyarakat.
Berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat terkait keikutsertaan masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“Jika ditanya masalah keikutsertaan masyarakat miskin dalam kegiatan politik, mereka hanya sebatas ikut dalam kampanye atau ketika mereka ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum, mereka mungkin hanya sekedar ikut-ikutan.”
(Wawancara dengan HM.. 12 januari 2015)
Berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat terkait keikutsertaan masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“Kalau menurut saya masyarakat miskin sebenarnya juga mamiliki keinginan untuk ikut dalam kegiatan politik, akan tetapi karna kurangnya pengetahuan dan rasa percaya diri sehingga mereka cenderung menutup diri.” (Wawancara dengan MN.. 12 Januari 2015)
Berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat terkait keikutsertaan masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“Menurut saya memang masyarakat miskin pasti bersemangat ketika di panggil untuk ikut dalam kampanye, jika dibandingkan mereka harus ikut dalam kegiatan politik.” ( Wawancara dengan NR.. 12 Januari 2015)
Masyarakat dalam pemilihan presiden dan wakil presiden ternyata hanya ikut dalam kegiatan politik yaitu mereka menjadi tim sukses, masyarakat sangat antusias dalam kegiatan politik tersebut. Selain karena memberikan keuntungan tersendiri bagi masyarakat miskin ternyata ketika menjadi salah satu tim sukses akan memberikan kepuasan tersendiri apabila jika calon kandidat yang mereka kampanyekan tersebut memberikan banyak janji-janji politik yang kelak akan memberikan perubahan bagi kehidupan mereka.
3. Perilaku Memilih
Perilaku memilih adalah keputusan pemilih untuk memilih kandidat atau peserta pemilu tertentu. Seorang pemilih menjatuhkan pilihannya kepada kandidat atau peserta pemilu tertentu. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh peserta pemilu, yaitu sejauh mana pilihan itu bersifat rasional dengan kata lain sejauh mana pilihan politik mereka berdasarkan pertimbangan rasional menyangkut kandidat atau peserta pemilu itu.
Perilaku politik pemilih dipengaruhi oleh kepentingan ekonominya (manfaat ekonomi). Bila keadaan ekonomi rumah tangga seseorang pemilih dibawa pemerintahan seorang yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya, maka pemilih tersebut cenderung akan memilih partai atau calon presiden yang sedang memerintah sekarang dan begitu juga sebaliknya.
Perrilaku masyarakat miskin kota di pengaruhi oleh ketersediaan sarana yang memadai dan rendahnya motivasi. Ketersediaan sarana untuk terlibat dalam proses politik juga mempengaruhi partisipasi politik masyarakat miskin kota.
Sarana yang dimaksud untuk mereka mengaktualkan diri dalam aktivitas politik.
Misalnya, atribut yang ada pada diri mereka seperti tingkat pendidikan yang rendah, kekurangan dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan dan papan, rendahnya kualitas kesehatan serta kekurangan ekonomi untuk membiayai aktivitas mereka. Akibatnya masyarakat miskin dihinggapi rasa rendah diri dan kurang percaya diri sehingga mereka memilih untuk menjauh dari proses politik.
Selain itu sarana dalam pemilihan umum juga dirasakan penting bagi masyarakat miskin yaitu kartu pemilihan umum bagi mereka agar dapat ikut dalam pemilihan umum. Adanya pembagian yang tidak merata terkadang membuat mereka tidak mendapatkan kartu pemilih, sehingga walaupun mereka ingin ikut berpartisipasi langsung dalam pemilihan umum, akan tetapi karna mereka tidak mendapatkan kartu pemilih sehingga mereka golput, walaupun sebenarnya masyarakat miskin tersebut ingin ikut berpartisipasi langsung dalam pemilihan umum.
Selain itu rendahnya motivasi masyarakat miskin untuk mengaktualkan diri dalam kegiatan politik karna mereka pada pada umumya tidak mengetahui hakikat mengikuti aktivitas tersebut. Realita ini membawa dampak kepada sikap masyarakat miskin yang cenderung pasif ketika berhadapan dengan masalah politik. Dalam banyak kasus, masyarakat miskin sepertinya kehilangan motivasi untuk terlibat dalam aktivitas politik. Padahal motivasi dari dalam diri individu adalah aspek penting untuk melahirkan sikap dan tindakan, terutama dalam mengikuti pemilihan umum atau pemilihan presiden.
Berikut hasil wawancara peneliti dengan Ketua Panitia Pemungutan Suara (KPPS) mengenai ketersediaan sarana dalam partisipasi politik masyarakat
miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar.
“Sebenarnya sarana yang dimaksud di sini seperti TPS bagi para pemilih telah disediakan, adanya kartu pemilih bagi masyarakat miskin yang telah dibagikan, hanya saja tinggal mereka tiap-tiap individu Apakah mereka mau ikut berpartisipasi atau tidak, karna kami juga tidak dapat memaksakan mereka untuk ikut dalam pemilihan umum”(Wawancara dengan A.R... 12 Januari 2015).
Berikut hasil wawancara peneliti dengan salah satu msyarakat mengenai ketersediaan sarana dalam partisipasi politik masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar.
“Sebenarnya masyarakat miskin itu terkadang tidak mendapatkan kartu pemilih, sehingga walaupun mereka ingin ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum, akan tetapi karena mereka tidak mendapatkan kartu pemilih sehingga mereka golput dalam pemilihan umum” (Wawancara dengan TT.. 12 Januari 2015)
Berikut hasil wawancara peneliti dengan salah satu msyarakat mengenai ketersediaan sarana dalam partisipasi politik masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar.
“Ketersediaan sarana sudah sangat mendukung kalau menurut saya, apalagi masyarakat miskin juga sudah memiliki kesadaran untuk ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum” (Wawancara dengan MW.. 12 Januari 2015)
Kurangya sarana yang memadai membuat masyarakat miskin lebih memilih untuk tidak ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum, hal ini sebabkan karena ketika mereka ingin ikut dalam pemilihan umum, akan tetapi mereka tidak mendapatkan kartu pemilih maka meraka juga tidak akan dapat mengikuti pemilihan umum tersebut. Sebenarnya sarana harus memadai agar masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum.
Berikut hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat terkait tingkat motivasi partisipasi politik masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“ Kalau menurut Tokoh Masyarakat, masyarakat miskin sekarang sudah mulai merasa termotivasi, walaupun masih sebagian dari mereka yang merasa bahwa pemilihan umum itu penting, masih ada juga yang masih belum mengetahui hakikat pemilihan umum. ” (Wawancara dengan S.A.,, 7 Januari 2015)
Berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat terkait tingkat motivasi partisipasi politik masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“Masyarakat kurang termotivasi karena meraka merasa dibedakan dengan masyarakat yang tingkat ekonominya jauh lebih diatas mereka sehingga itulah yang menyebabkan masyarakat miskin cenderung kurang termotivasi atau menutup diri.” (Wawancara dengan JF.. 7 Januari 2015)
Berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat terkait tingkat motivasi partisipasi politik masyarakat miskin kota dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 di Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar adalah sebagai berikut:
“Sebenarnya tidak semua masyarakat tidak memiliki motivasi untuk ikut dalam pemilihan umum, masih banyak diantara mereka yang masih memiliki motivasi yang cukup tinggi walaupun sebenarnya masih kurang.” (Wawancara dengan RM.. 7 Januari 2015)
Masyarakat miskin sebenarnya masih memiliki motivasi yang kurang, hal ini disebabkan karena mereka merasa bahwa untuk apa mengikuti pemilihan umum, sedangkan ketika presiden tersebut terpilih juga tidak akan memberikan perubahan bagi kehidupan masyarakat miskin kedepannya. Tidak akan memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat miskin. Program-program yang
dijanjikan menjadi salah satu alasan dalam menentukan pilihan, dengan melihat program yang di janjikan tentu hal ini membuat mereka yakin dalam memilih calon pemimpin tersebut. Karena dengan terlaksananya program tersebut secara otomatis akan lebih menyejahterakan masyarakat, namun kemungkinan tidak berjalannya program yang telah dijanjikan masih belum jelas, ini merupakan alasan yang rasional dalam memilih calon pemimpin.
D. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi Politik Masyarakat