Strategi Pengembangan Ilmu
A. Ilmu: Bebas Nilai atau Tidak?
Rasionalisasi ilmu pengetahuan terjadi sejak Descartes dengan sikap skeptis-metodisnya meragukan segala sesuatu, kecuali dirinya yang sedang ragu- ragu, Cogito Ergo Sum. Sikap ini berlanjut pada masa Aufklarung, suatu era yang merupakan usaha manusia untuk mencapai pemahaman rasional tentang dirinya dan alam. Aufklarung, ujar Alex Lanur, mewarisi pandangan Francis Bacon tentang ilmu pengetahuan, pada hakikatnya ilmu pengetahuan itu harus berdaya- guna, operasional; karena pengetahuan itu bukan demi pengetahuan itu sendiri. Kebenaran bukanlah kontemplasi melainkan operation, to do business. Kebenaran
berdaya-guna hanya berhasil dalam proses eksperimentasi.1 Sikap ini
melahirkan pragmatisme dalam dunia ilmiah, yakni perkembangan ilmu dianggap berhasil manakala memiliki konsekuensi-konsekuensi pragmatis. Keadaan ini menggiring ilmuwan pada sikap menjaga jarak terhadap problem nilai secara langsung.
148
Tokoh sosiologi, Weber, menyatakan bahwa ilmu sosial harus bebas nilai tetapi ia juga mengatakan bahwa ilmu-ilmu sosial harus menjadi nilai yang i ele- van (value-relevant). Weber tidak yakin ketika para ilmuwan sosial melakukan aktivitasnya seperti mengajar atau menulis mengenai bidang ilmu sosial itu mereka tidak terpengaruh oleh kepentingan-kepen- tingan tertentu atau tidak bias. Nilai-nilai itu harus diimplikasikan bagian-bagian praktis ilmu sosial jika praktek itu mengandung tujuan atau rasional. Tanpa keinginan melayani kepentingan segelintir orang, budaya, moral atau politik yang mengatasi hal-hal lainnya, maka ilmuwan sosial tidak beralasan mengajarkan atau menuliskan itu semua. Suatu sikap moral yang sedemikian itu tidak
mempunyai hubungan objektivitas ilmiah.2 Weber sendiri
mengatakan-seba- gaimana yang disitir Michael Root sebagai berikut.3
“Persoalan-persoalan disiplin ilmu empirik adalah bahwa ia dipecahkan, bukan secara evaluatif. Mereka bukanlah persoalan evaluasi, tetapi persoalan- persoalan ilmu-ilmu sosial dipilih atau ditentukan melalui nilai yang relevan dari fenomena yang ditampilkan. Ungkapan ‘relevansi pada nilai-nilai’ (relevance to values) mengacu pada interpretasi filosofis dari kepentingan ilmiah yang bersifat khusus, kepentingan- kepentingan tersebut menentukan pilihan dari pokok masalah dan persoalan-persoalan analisis empiris yang diajukan".
Istilah “relevansi pada nilai-nilai” yang diajukan oleh Weber mengacu pada nilai-nilai yang diajukan para ilmuwan sosial sebagai suatu alasan untuk mendukung suatu persoalan atau studi guna mengatasi hal lainnya; tetapi nilai-nilai itu sendiri tidak diperlukan oleh para ilmuwan itu sendiri. Sebagai contoh: beberapa psikolog di Universitas Minnesota mempelajari hubungan antar intelegensi dan faktor gen, tetapi tidak mempunyai kepentingan dengan bidang eugenetika. Di pihak lain perdana menteri Singapura berkepentingan dan sangat mendukung studi
149
tersebut, karena ia percaya bahwa temuan para pakar psikologi itu sangat relevan dengan rencananya untuk mempromosikan mengenai bidang eugenetika di negaranya.
Kehati-hatian Weber dalam memutuskan apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak, bisa dipahami mengingat di satu pihak objektivitas merupakan ciri mutlak ilmu pengetahuan, sedang di pihak lain subjek yang mengembangkan ilmu (ilmuwan) dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pemilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya. Oleh karena itu perlu dirumuskan terlebih dahulu apa yang
dimaksud dengan bebas nilai (valuefree) itu.Josep Situmorang4
menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu
pengetahuan menolak campurtangan faktor eksternal yang tidak secara
hakiki menentukan ilmu pengetahuan itu sendiri. Paling tidak ada tiga faktor sebagai indikator bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai, yaitu:
Pertama, ilmu harus bebas dari pengandaian- pengandaian yakni
bebas dari pengaruh eksternal seperti: faktor politis, ideologi, agama, budaya, dan unsur kemasyarakatan lainnya. Kedua, perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri. Ketiga, penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis itu sendiri bersifat universal.
Indikator pertama dan kedua menunjukkan upava para ilmuwan untuk menjaga objektivitas ilmiah, sedangkan indikator kedua menunjukkan adanya faktor X yang tak terhindarkan dalam perkem-bangan ilmu, yaitu pertimperkem-bangan etis (ethical Judgement). Hampir dapat dipastikan bahwa mustahil bagi para ilmuwan untuk menafikan pertimbangan etis ini, karena setiap ilmuwan memiliki hati nurani sebagai institusi moral terkecil yang ada dalam dirinya sendiri.
150
Indikator lain yang dicoba hindari oleh kebanyakan ilmuwan, namun kehadirannva sulit untuk ditolak adalah kekuasaan. Kekuasaan memainkan peran besar dalam perkembangan ilmu —baik secara lang-sung maupun tidak — karena para ilmuwan sulit untuk memancangkan bendera otonomi ilmiah di dalam suatu negara vang meletakkan kekuasaan sebagai faktor yang dominan dalam mengambil suatu kebi-jakan. Kemungkinan timbulnya konflik kepentingan antara kedua belah pihak-ilmuwan dengan klaim kebenaran (truth claimrnya.) sedang penguasa dengan klaim kewenangan (authority claim) berpeluang besar untuk terjadi. Di negara-negara yang sedang berkembang konflik itu hampir dapat dipastikan dimenangkan oleh pemegang kekuasaan, karena para otoritas ilmuwan hanya sebatas lingkup akademik yang terletak dalam lingkup yang lebih besar, yakni kekuasaan (otoritas politik).
Habermas berpendirian teori sebagai produk ilmiah tidak pernah bebas nilai. Pendirian ini diwarisi Habermas dari pandangan Husserl yang melihat fakta atau objek alam diperlukan oleh ilmu pengetahuan sebagai kenyataan yang sudah jadi (scientisme). Fakta atau objek itu sebenarnya sudah tersusun secara spontan dan primordial dalam pengalaman sehari- hari, dalam Lebenswelt atau dunia sebagaimana di-hayati. Setiap ilmu pengetahuan mengambil dari Lebenswt'lt itu s< jumlah fakta yang kemudian diilmiahkan berdasarkan kepentingan-kepentingan praktis. Habermas menegaskan lebih lanjut bahwa ilmu pengetahuan alam terbentuk berdasarkan kepentingan-kepentingan teknis. Ilmu pengetahuan alam tidaklah netral, karena isinya tidak lepas sama sekali dari kepentingan praktis. Ilmu sejarah dan hermeneu- tika juga ditentukan oleh kepentingan-kepentingan praktis kendati dengan cara yang berbeda. Kepentingannya ialah memelihara serta memperluas bidang saling pengertian antar manusia dan perbaikan komunikasi. Setiap kegiatan teoritis yang melibatkan pola subjek-subjek selalu mengandung kepentingan tertentu. Kepentingan itu bekerja pada tiga
151
bidang, yaitu: (1) pekerjaan, (2) bahasa dan, (3) otoritas. Pekerjaan merupakan kepentingan ilmu pengetahuan alam; bahasa merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika; sedang otoritas merupakan
kepentingan ilmu sosial.5