BABV Perkembangan, Pengertian, dan
C. Pengertian Ilmu
Istilah ilmu dalam pengertian klasik dipahami sebagai pengetahuan tentang sebab-akibat atau asal- usul. Istilah pengetahuan (knowledge) biasanya dilawankan dengan pengertian opini, sedang istilah sebab (causa) diambil dari kata
121
Setiap aktivitas ilmiah tentu bertolak dari konsep, karena
konsep merupakan sebuah struktur pemikiran. Sontag9
menyatakan bahwa setiap pembentukan konsep selalu terkait dengan empat komponen, yaitu, kenyataan (reality), teori
(theory), kata-kata (words), dan pemikiran (thought).
Kenyataan (reality) hanya akan merupakan sebuah misteri manakala tidak diungkapkan ke dalam bahasa. Teori merupakan tingkat pengertian tentang sesuatu yang sudah teruji, sehingga dapat dipakai sebagai titik tolak bagi pema-haman hal lain. Kata-kata merupakan cerminan ide- ide yang sudah diverbalisasikan. Pemikiran merupakan produk akal manusia yang diekspresikan ke dalam bahasa. Kesemuanya itu akan membentuk pengertian pada diri manusia, pengertian ini dinamakan konsep. Bagan pembentukan konsep adalah sebagai berikut:
Gaston Bachelard1" menyatakan bahwa ilmu pengetahuan
122
menyesuaikan antara hukum-hukum pemikiran dengan dunia luar. Atau dengan kata lain, ilmu pengetahuan mengandung dua aspek, yaitu subjektif dan objektif, sekaligus memerlukan kesamaan di antara keduanya; oleh karena itu sesungguhnya manusia tidak mungkin mengubah hukum-hukum pemikiran dengan mengubah hukum-hukum alam semesta. Bachelard menengarai bahwa adanya dua aspek tersebut-subjektif dan objektif-melahirkan dua pandangan yang berbeda dalam
epistemologi. Pertama, pandangan rasionalisme yang
memandang bahwa hukum alam itu direfleksikan ke dalam hukum- hukum pemikiran, lebih memihak pada sikap subjek- tif. Hal ini dapat dikatakan senada dengan pernyataan Hegel yang berbunyi “semua yang rasional adalah real”. Kedua, pandangan realisme universal yang memandang bahwa hukum pemikiran secara mutlak mencontoh hukum-hukum pemikiran.
Daoed Joesoef menunjukkan bahwa pengertian ilmu
mengacu pada tiga hal, yaitu- produk-produk, proses,
masyarakat. Ilmu pengetahuan sebagai produk yaitu pengetahuan yang telah diketahui dan diakui kebenarannya oleh masyarakat ilmuwan. Pengetahuan ilmiah dalam hal ini terbatas pada kenyataan- kenyataan yang mengandung kemungkinan untuk disepakati dan terbuka untuk diteliti, diuji dan dibantah oleh seseorang.
Ilmu pengetahuan sebagai proses artinya kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan demi penemuan dan pemahaman dunia alami sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita kehendaki. Metode ilmiah yang khas dipakai dalam proses ini adalah analisis- rasional, objektif, sejauh mungkin “impersonal” dari masalah-masalah yang
123
didasarkan pada percobaan dan data yang dapat diamati. Bagi Thomas Kuhn “normal science” adalah ilmu pengetahuan dalam artian proses.
Ilmu pengetahuan sebagai masyarakat artinya dunia pergaulan yang tindak-tanduknya, perilaku dan sikap serta tutur katanya diatur oleh empat ketent uan (imperative) yaitu universalisme, komunalisme, tanpa
/
124
pamrih (disinterstedness), dan skeptisisme yang teratur. 11
Van Melsen12 mengemukakan beberapa ciri yang
menandai ilmu, yaitu: (1) Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang secara logis koheren. Itu berarti adanya sistem dalam penelitian (metode) maupun harus (susunan logis).
(2) Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan tanggung jawab ilmuwan. (3) Universalitas ilmu pengetahuan. (4) Objektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh objek dan tidak didistorsi oleh prasangka-prasangka subjektif (5) Ilmu pengetahuan harus dapat diverifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena itu ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan. (6) Progresivitas artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan-pertanyaan baru dan menimbulkan problem- problem baru lagi. (7) Kritis, artinya tidak ada teori ilmiah yang difmitif, setiap teori terbuka bagi suatu peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru. (8) Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dengan praktis.
Aktivitas ilmiah tergantung pada sarana ilmiah berupa bahasa, pernyataan ilmiah. Lyotard mengajukan beberapa argumentasi yang disyaratkan bagi sebuah pernyataan ilmiah, yaitu Pertama, diakuinya aturan-aturan yang telah ditentvikan alat argumentasi, yakni fleksibilitas sarana itu berupa pluralitas bahasannya. Kedua\ karakternya sebagai bentuk permainan pragmatis yakni diakuinya “gerak” yang berlangsung tergantung pada suatu rangkaian kontrak di antara para ilmuwan sebagai partner dialog. Akibatnya ada dua jenis kemajuan yang berbeda dalam pengetahuan: pertama,
125
kesesuaian pada suatu gerak baru (argumen baru) di dalam aturan-aturan yang pasti; kedua, menemukan aturan-aturan
baru yakni perubahan pada suatu permainan baru.13
Rickert sebagaimana dikutip oleh Hatta14 menyebutkan
bahwa dalam aktivitas ilmiah sangat ditentukan oleh metode yang dipilih. Metode untuk menyelidiki dunia lahir ada dua, yaitu metode abstraksi untuk mengetahui hukum-hukum umum dinamakan metode ilmu kealaman (Windelband menamakannya dengan istilah Nomothetisch). Metode untuk mengetahui hal-hal khusus atau yang satu-satunya dinamakan metode historika (Ideographisch).
Metode abstraksi (Nomothetisch) ini dimaksudkan untuk menentukan hukum-hukum umum yang berlaku dalam segala kenyataan dan keadaan bagi sesuatu, sehingga merupakan metode induktif yang berupaya membuat generalisasi. Misalnya: hukum umum tentangjatuhnya benda-benda karena
pengaruh daya tarik bumi (gravitasi). Hatta15 menyebutkan
bahwa ada tigajalan untuk mengetahui pengertian atau sifat
hukum yang umum, yaitu: Pertama, dengan jalan
memperbandingkan. Kedua, dengan jalan eksperimen, yaitu mengadakan percobaan seperti yang biasa dikerjakan oleh ilmu fisika. Pengetahuan bahwa uap adalah suatu tenaga (energi) didapat karena pengalaman dan percobaan. Ketiga, denganjalan memperhatikan. Jalan ini lazim dipakai dalam ilmu sosial yang bekerja dengan metode abstraksi.
Metode historika (Ideographisch) dipakai untuk menerangkan keadaan yang teijadi di masa lalu, yang tidak terulang kembali untuk mencari atau menemukan hubungan sebab-akibatnya. Masih ada metode lain yang merupakan gabungan metode abstraksi dan historika, yaitu metode
126
sosiologi. Metode sosiologi ini mempertalikan hukum dengan sejarah. Metode ini menyatakan hukum mana yang menguasai perubahan persekutuan hidvip dari satu tingkat tertentu ke tingkat yang lebih tinggi menurut garis tertentu.
D. Beberapa Pandangan tentang Klasifikasi Ilmu