• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

Bagan 4.18 Ilustrasi Data G-C-W-B-M

Setiap nomor dibelakang elemen menunjukkan posisi kalimat dalam paragraf argumen tersebut. Dapat kita lihat, bahwa bagan di atas menunjukkan Ground pada posisi awal paragraf, kemudian dilanjutkan dengan Claim, lalu modal berada pada Claim di bagian kedua. Selanjutnya G dan C didukung oleh Warrant dan Backing di bagian ketiga dan keempat. Kelima elemen tersebut saling mendukung dan membentu pola argumen G-C-W-B-M.

G (1)

M (2) W (3)

B 4)

4.2.4.3 Kadar Ketajaman Pola C-G-W-B-M

Pola argumen C-G-W-B-M, merupakan pola yang terdiri dari lima elemen. Meskipun ada variasi urutannya, fungsinya tetap sama. Elemen argumen menurut Toulmin, dkk.ada enam elemen, sedangkan pola ini memiliki lima elemen. Maka, elemen yang digunakan pada pola ini banyak dan hanya berkurang satu dari jumlah elemen menurut Toulmin. Apabila jumlah elemen yang digunakan semakin banyak maka kadar ketajaman argumennya semakin kuat. Berdasarkan tabel kadar ketajaman argumen menurut kelengkapannya, pola ini memiliki kadar yang sangat kuat. Oleh karena itu, di dalam bagian pembahasan artikel Jurnal ITKT ini, terdapat dua paragraf argumentasi yang termasuk dalam kadar ketajaman berdasarkan kelengkapan dengan kategori sangat kuat.

Setelah penjelasan dan pemaparan di atas, dari mulai pola C-G, pola C- G-W, C-G-W-B, hingga C-G-W-B-M, penulis dapat mengatakan bahwa pola yang paling dominan pada paragraf-paragraf argumentasi bagian pembahasan jurnal terakreditasi bidang pertanian dan perikanan adalah pola C-G dan variasinya. Apabila dikatakan secara umum, jurnal kelautan ini berpola C-G dan kadar ketajamannya masih dalam kategori lemah. Meskipun demikian, pada paragraf-paragraf argumentasi bagian pembahasan artikel jurnal bidang ini, polanya sudah cukup bervariasi sehingga kadar ketajamannya bervariasi mulai dari lemah, cukup kuat, kuat dan sangat kuat.

87 BAB V

PENUTUP

Pada bab penutup, peneliti akan memaparkan dua hal yaitu simpulan yang meliputi hasil analisis dan pembahasan secara singkat dan saran yang berisi hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pembaca mengenai penelitian ini.

5.1 Simpulan

Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pola dan kadar ketajaman paragraf-paragraf argumentasi bagian pembahasan jurnal terakreditasi bidang kelautan 2015. Pola ini melihat argumen yang terdapat pada paragraf-paragraf argumentasi bagian pembahasan artikel jurnal bidang kelautan tersebut kemudian menganalisis elemen-elemen argumen di dalamnya.Elemen- elemen argumen yang dimaksud adalah elemen argumen Toulmin yang terdiri dari Claim, Ground, Warrant, Backing, Modal Qualifiers, dan Possible Rebuttals.Dari hasil analisis data, peneliti menemukan 142 argumen dalam paragraf-paragraf dari 29 artikel jurnal terakreditasi bidang kelautan yang berbahasa Indonesia.Pola argumen yang ada dalam paragraf otomatis menjadi pola paragraf-paragraf argumentasi itu sendiri.Dari hasil analisis datanya, peneliti menemukan 4 pola dengan variasinya.Pola tersebut adalah (1) pola C-G dengan variasi pola C-G dan G-C yang dominan atau paling banyak jumlahnya, kemudian (2) pola C-G-W dengan variasi pola C-G-W, C-W-G, W-G-C, W-C-G, G-W-C, dan G-C-W, lalu (3) Pola C-G-W-B dengan variasi pola C-G-W-B, C-G-B-W, G-

C-W-B, G-W-B-C, dan W-B-G-C, juga terakhir (4) Pola C-G-W-B-M dengan variasi pola C-G-W-B-Mdan G-C-W-B-M.

Setelah mengetahui pola argumen dari paragraf-paragraf argumentasi bagian pembahasan artikel jurnal terakreditasi bidang kelautan, peneliti dapat melihat kelengkapan elemen-elemen penyusun argumen tersebut, maka peneliti dengan mudah menentukan kadar argumen masing-masing data menurut kelengkapan elemennya. Kadar ketajaman argumen pada paragraf-paragraf argumentasi bagian pembahasan artikel jurnal bidang kelautan ini bervariasi dari lemah, cukup kuat, kuat, dan sangat kuat. Meskipun kadar ketajaman paragraf- paragraf argumentasi yang lemah mendominasi jurnal tersebut.

5.2 Saran

Peneliti menyampaikan beberapa hal yang diharapkan dapat membantu dan berguna bagi pembaca dan pihak-pihak terkait penelitian ini.

(1) Bagi Perguruan Tinggi

Bagi perguruan tinggi, tidak hanya perguruan tinggi penerbit jurnal terakreditasi bidang kelautan namun juga yang telah menerbitkan jurnal dan berstatus terakreditasi, harus meningkatkan kualitas dari jurnal tersebut.Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas jurnal ilmiah tersebut khususnya pada bidang ini.

(2) Bagi Kaum Akademisi

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam meningkatkan kualitas tulisan atau argumen dari kaum akademisi. Pemahaman

mengenai pola dan kadar ketajaman argumen perlu ditambah untuk memperkaya dan menambah variasi penulisan dan pengungkapan kaum akademisi dalam tulisan yang selalu berhubungan dengan karya ilmiah.

(3) Bagi Peneliti Lain

Analisis dan pembahasan pada penelitian ini hanya terbatas pada pola dan kadar ketajaman argumen pada paragraf-paragraf argumentasi menurut kelengkapannya. Peneliti berharap, akan ada penelitian lain yang membahas topik ini dengan lebih memperdalam kadar ketajaman argumen pada sudut substansinya, tidak hanya terbatas pada kelengkapannya saja. Selain itu, penelitian ini juga hanya melihat argumen pada bagian pembahasan artikel jurnal terakreditasi bidang kelautan. Maka, peneliti juga berharap akan ada penelitian lain di bidang-bidang lainnya.

90

DAFTAR PUSTAKA

Agustini R., Melyda. 2016. “Pola dan Kadar Argumentasi Pola dan Kadar Ketajaman Argumen pada Bagian Pembahasan Artikel Jurnal Terakreditasi:JAK 2014 Universitas Kristen Petra dan JAM 2015 Universitas Brawijaya” Skripsi. Yogyakarta: PBSI, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Basrowi & Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Emzir. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: Rajawali Press.

Herlanti. Y. 2014. Analisis Argumentasi Mahasiswa Pendidikan Biologi pada Isu Sosiosainfik Konsumsi Genetically Modified Organism (GMO).Jurnal Pendidikan IPA Indonesia.

Jurnal Kelautan. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan.Vol 6.No.1. 2014.Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor.

_____________. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan.Vol 6.No.2. 2014.Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor.

_____________. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan.Vol 7.No.1. 2015.Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Keraf, Gorys. 2007. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Moleong, J. Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Nasucha, dkk. 2009. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Tulis Ilmiah (Mata Kuliah Wajib Pengembangan Kepribadian). Yogyakarta: Media Perkasa. Rahardi, Kunjana. 2009. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:

Rahmawati, Fitriana. 2015. “Analisis Elemen Pokok dan Pelengkap Wacana Argumentasi dalam Artikel Opini Harian Tribun Jogja Periode Januari –

April 2015” Skripsi. Yogyakarta: PBSI, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Setiyaningsih, dkk.2015.Pola Pikir Deduktif pada Argumen Bagian Pembahasan

Artikel Ilmiah Jurnal Terakreditasi Bidang Humaniora.Prosiding Seminar Nasional dan Launching Adobsi.

Sudaryanto. 2015. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar

Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Toulmin, dkk. 1979. An Introduction to Reasoning. New York: Macmillan Publishing.

Wibowo, Wahyu. 2013.Menulis Artikel Ilmiah yang Komunikatif. Jakarta: Bumi Aksara.

Widi, Restu Kartiko. 2010. Asas Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Graha Ilmu. Wijayanti, dkk. 2013. Bahasa Indonesia: Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah.

Jakarta: Raja Grafindo Persada.

___. Toulmin Model of Argument.pdf. (https://wb.cn.edu/kwheeler/documents, diakses pada 26 November 2015 pukul 10.33).

TRIANGULASI DATA

Berikut ini keterangan penggunaan singkatan dan pengertian elemen-elemen agar triangulator dapat dengan mudah memvalidasi data.

No Keterangan Pengertian

1 Pernyataan Posisi/Claim (C) Pernyataan yang berisi pendapat atau posisi seseorang terhadap suatu masalah. 2 Data atau Fakta/Dasar/Ground

(G)

Dasar dari sebuah pernyataan posisi yang digunakan untuk memperkuat pernyataan tersebut.

Ground ini berisi data atau fakta.

3 Jaminan/Warrant (W) Pernyataan yang menghubungkan Dasar (Ground) dengan Pernyataan Posisi (Claim). Pernyataan ini bersifat umum dan memperlihatkan Ground yang berhubungan dengan Claim sehingga argumen menjadi lebih meyakinkan.

4 Pendukung/Backing (B) Kriteria atau hal-hal yang menempel pada warrantsdan dapat membenarkan pernyataan posisi (Claim) sehingga menjadi semakin kuat. Biasanya berisi hasil penelitian maupun pendapat ahli. 5 Pengecualian /Possible Rebuttal

(R)

Lingkungan atau kondisi yang dapat digunakan untuk memperkuat argumen ketika pernyataan posisi mendapat sanggahan atau penolakan.

6 Modalitas/Modal Qualifiers (M) Kata atau frasa yang menunjukkan derajat kepastian atau kualitas suatu pernyataan. Modal ini selalu menempel pada pernyataan posisi (Claim). Kata ini berupa keterangan seperti mungkin, pasti, tentu, seharusnya, dll.

Selain itu, terdapat nomor di setiap awal kalimat yang merupakan urutan kalimat (urutan baca) sesuai dalam paragraf dalam artikel jurnal. Hal ini untuk mempermudah triangulator dalam membaca dan memvalidasi data ini.

Berikut ini keterangan penilaian Kadar Ketajaman Argumentasi dilihat dari kelengkapan elemen penyusunnya.

Kadar Deskripsi Pola Argumen

Sangat Lemah Argumen hanya mengandung satu elemen yaitu Claim C

Lemah Argumen dalam paragraf hanya mengandung dua elemen yaitu

Claim dan Ground

C-G

Cukup Kuat Argumen dalam paragraf mengandung tiga elemen yaitu Claim,

Ground, dan Warrants

C-G-W

Kuat Argumen dalam paragraf mengandung empat elemen Claim, Ground, Warrants, danBacking

C-G-W-B

Sangat Kuat Argumen dalam paragraf mengandung 5 atau 6 elemen Claim, Ground, Warrants, Modal dan rebuttals

C-G-W-B-M/ C-G-W-B-M-R Kadar Argumentasi ini melihat elemen pada pola-pola argumen yang telah ditemukan.

Berikut ini adalah hasil analisis data penelitian Pola Argumen pada Bagian Pembahasan Artikel Jurnal Terakreditasi Bidang

Perikanan dan Ilmu kelautan yang perlu divalidasi. Berilah tanda centang pada kolom “Ya” apabila anda setuju dan pada kolom “Tdk”

apabila anda tidak setuju terhadap hasil analisis elemen-elemen argumen. Kemudian berilah catatan pada kolom keterangan agar dapat membantu kebenaran hasil analisis elemen-elemen argumen.

No Argumen Elemen-elemen Argumen Pola Argumen Penilaian Ket. C G W B R M Ya Tdk 1. Artikel 1, halaman 6, kolom 1, paragraf ke 2.

3) Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa penggunaan karaginan memberikan pengaruh nyata (α= 0,05) terhadap tingkat kesukaan kenampakan krim. 4) Hasil uji lanjut (Multiple Comparisons) menunjukkan bahwa nilai kesukaan kenampakan tertinggi yaitu krim dengan karaginan 0,5% berbeda dengan kenampakan krim karaginan 0% dan 0,25%. Penampakan krim dipengaruhi oleh warna, kekentalan, kestabilan produk sehingga menunjukkan kesan menarik.

2) Nilai kesukaan panelis terhadap kenampakan krim berkisar antara 4, 9 6,03 yang berarti panelis

memberikan penilaian antara normal sampai suka.

1) Kenampakan memiliki peranan penting pada penerimaan krim tabir surya oleh konsumen, karena kenampakan menjadi penilaian awal dari suatu produk. W-G-C 2. Artikel 1, halaman 6, Kolom 1, Paragraf ke 3

2) Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa penambahan karaginan mem berikan pengaruh nyata (α= 0,05) terhadap tingkat kesukaan warna krim.

3) Hasil uji Multiple Comparisons menunjukkan bahwa nilai

kesukaan warna tertinggi yaitu krim dengan karaginan 0,5% berbeda dengan karaginan 0%.

1) Nilai kesukaan panelis terhadap warna krim berkisar antara 5,33-6,27 yang berarti panelis memberikan

penilaian antara agak suka sampai suka.

3. Artikel 1, halaman 6, kolom 2, paragraf ke 2

2) Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa penggunaan karaginan memberikan pengaruh nyata (α= 0,05) terhadap tingkat homogenitas krim.

3) Hasil uji Multiple Comparisons menunjukkan bahwa nilai

kesukaan homogenitas tertinggi yaitu krim dengan karaginan 0,5% berbeda dengan karaginan 0%.

1) Nilai kesukaan panelis terhadap homogenitas krim berkisar antara 5,13-6,13 yang berarti panelis

memberikan penilaian antara agak suka sampai suka.

G-C 4. Artikel 1, halaman 6, kolom 2, paragraf ke 4

2) Hasil uji Kruskal- Wallis menunjukkan bahwa penggunaan karaginan

memberikan pengaruh nyata (α= 0,05) terhadap tingkat kekentalan krim.

1) Nilai kesukaan panelis terhadap kekentalan krim berkisar antara 4,7-5,83 yang berarti panelis memberikan penilaian antara normal sampai agak suka. 3) Hasil uji Multiple Comparisons menunjukkan nilai kesukaan kekentalan tertinggi pada krim dengan karaginan 0,5% berbeda dengan karaginan 0%. G-C 5. Artikel 1, halaman 7, kolom 1, paragraf ke 2

3) Berdasarkan uji Kruskal-Wallis, penggunaan karaginan tidak memberikan pengaruh nyata (α= 0,05) terhadap ting-kat kesukaan kesan lembab. Penilaian secara organoleptik tentang kesan lembab tidak berbeda antara krim dengan konsentrasi karaginan 0,25%; 0,5%; 0,75%; dan 1%, ke-

mungkinan disebabkan rendah-nya perbedaan konsentrasi karaginan yang digunakan.

2) Nilai kesukaan panelis terhadap kesan lembab berkisar antara 4,97-5,57 yang berarti bahwa panelis memberikan penilaian antara netral sampai agak suka.

1) Penilaian kesan lembab dilakukan dengan

mengoleskan krim pada kulit selama beberapa menit sehingga panelis dapat merasakan rasa lembab selama pemakaian krim. W-G-C

6. Artikel 1, halaman 7, kolom 2, paragraf ke 1

3) Penilaian penelis terhadap rasa lengket cukup menggem-birakan karena permasalahan pada krim tabir surya dari bahan kimia biasanya panelis kurang nyaman karena ada rasa lengket.

2) Nilai kesukaan panelis terhadap rasa lengket berkisar antara 4,8-5,4 yang berarti bahwa panelis memberikan penilaian antara netral sampai agak suka. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa penggunaan karaginan tidak memberikan pengaruh nyata (α= 0,05) terhadap tingkat kesukaan rasa lengket. Penilaian secara organoleptik tentang rasa lengket tidak berbeda antara krim dengan konsentrasi karaginan 0,25%; 0,5%; 0,75%; dan 1%. 1) Rasa lengket berhubungan dengan Kenyamanan setelah pemakaian. Penilaian ini dilakukan dengan mengoleskan krim pada kulit selama beberapa menit kemudian menilai rasa lengket selama pemakaian. W-G-C 7. Artikel 1, halaman 7, kolom 2, paragraf ke 2

1) Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi pemisahan fase pada emulsi krim sehingga persentase stabilitas emulsi diyatakan sebesar 100%.

Krim dengan penambahan karaginan 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1% menunjuk- kan tidak terjadi pemisahan emulsi, tidak terjadi perubahan warna, dan tidak terjadi perubahan bau. Hal ini disebabkan karaginan pada formulasi krim

merupakan polimer alami sebagai pengental sehingga dapat menstabilkan emulsi.

8. Artikel 1, halaman 8, kolom1-2, paragraf ke 4

2) Hasil analisis ragam (α= 0,05) menunjukkan konsentrasi karaginan mem-pengaruhi viskositas krim.

1) Viskositas merupakan faktor yang erat hubungan- nya dengan stabilitas emulsi. Semakin tinggi viskositas maka laju pemisahan fase terdispersi dan fase pendis- persi semakin kecil (Suryani et al., 2000). Nilai viskositas krim tabir surya berkisar 22.500- 46.000 cP.

3) Uji lanjut memperlihatkan bahwa viskositas krim tertinggi yaitu krim

karaginan 1% yang berbeda dengan kon-sentrasi 0%, 0,25%, 0,5% dan 0,75%.

9. Artikel 1, halaman 8, kolom 2, paragraf ke 2-4

2) Semakin tinggi kon-sentrasi karaginan yang digunakan maka penyusutan berat akan semakin kecil dika-renakan semakin ting- ginya viskositas emulsi dari krim tabir surya.

1) Hasil analisis ragam (α= 0, 05) menunjukkan bahwa konsentrasi karaginan memberikan pengaruh nyata terhadap persentase

penyusutan berat. Hasil uji lanjut memperlihatkan bahwa penyusutan berat tertinggi terjadi pada krim karaginan 0% yang berbe-da nyata dengan persentase penyusutan berat krim karaginan 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1%. 3) Karaginan dalam

formulasi dapat mengikat air karena adanya gugus ester dan hidroksil sehingga dapat mening-katkan kelembaban pro-duk. Kelembaban produk juga merupakan indikasi kestabilan produk terhadap kemampuan produk dalam mempertahankan beratnya. 3) Karaginan memiliki fungsi sebagai humektan dimana karaginan memi-liki sifat untuk memperta-hankan kandungan air pada kulit dan krim tabir surya. Humektan adalah bahan higroskopis yang diguna-kan dalam formulasi kos-metik yang berfungsi men-jaga kehilangan kandungan air selama penyimpanan dan pemakaian pada kulit (Rieger, 2000).

10. Artikel 1, halaman 8, kolom 2, paragraf ke 2-4

2) Hal menunjukkan bahwa krim tabir surya aman digunakan, karena total mikrob masih berada dibawah batas total mikrob yang disyaratkan SNI 16-4399- 1996. 3) Rendahnya pertumbuhan mikroba pada krim tabir surya disebabkan adanya penambah-an metil paraben yang berfungsi sebagai pengawet dalam formulasi produk.

1) Hasil uji total mikrob pada krim tabir surya dengan berbagai konsentrasi karaginan yaitu <2, 5 x 102 koloni/ gram.

2) Hal menunjukkan bahwa krim tabir surya aman digunakan, karenatotal mikrob masih berada dibawah batas total mikrob yang disyaratkan SNI 16- 4399- 1996. G-C 11. Artikel 1, halaman 9, kolom 1-2, paragraf ke 3

2) Berdasarkan hasil pengujian krim tabir surya ditentukan bahwa perlakuan konsentrasi karaginan 0, 5% memiliki penilaian kesukaan ter-tinggi. Berdasarkan data diatas, disimpulkan bahwa konsentrasi karaginan yang digunakan dalam sediaan krim adalah 0, 5%.

3) Karakteristik dari krim terpilih adalah nilai pH sebesar 6, 78, viskositas sebesar 38.250 cP, dan tidak mengalami perubahan fase saat pengujian stabilitas emulsi. Penyusutan berat yang terjadi sebesar 6, 87%, total mikroba <2, 5 x 102koloni/gram.

1) Penentuan krim tabir surya terpilih dilakukan dengan cara melihat hasil dari parameter subyektif (kesukaan panelis terhadap kenampakan, homogenitas, warna, kekentalan, kesan lembab, dan rasa lengket) dan objektif (pH, viskositas, stabilitas emulsi, dan total mikrob) dari krim tabir surya.

12. Artikel 1, halaman 9, kolom 2, paragraf ke 2-3

2) Hasil pengujian fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak buah bakau mengandung flavonoid, tanin, dan fenol hidrokuinon. Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang berperan sebagai pertahanan alami.

1) Hasil pengujian analisis fitokimia disajikan pada Tabel 3. G-C 13. Artikel 1, halaman 11, kolom 1-2, paragraf ke 2-4

2) Semakin tinggi konsentrasi ekstrak buah bakau yang

ditambahan dalam krim maka nilai SPF akan semakin tinggi. Krim dengan konsentrasi ekstrak 0, 5% memiliki kategori kemampuan ekstra, sedangkan krim dengan ekstrak 1% memiliki kategori kemam-puan maksimal. Nilai SPF yang tinggi menunjukkan

keefektifan produk dalam menangkal radiasi UV pada kulit. Nilai SPF krim dengan ekstrak 1% lebih rendah dari tabir surya komersial 14, 15±0, 04 (pada label produk tertulis nilai SPF 20). Kandungan flavonoid dan tanin yang terkandung pada buah bakau diduga bekerja sebagai bahan aktif tabir surya.

1) Menurut Walters et al. (1997), efektivitas sebuah krim tabir surya dinyatakan oleh Sun Protection Factor (SPF), yang didefinisikan sebagai perbandingan Dosis Eritema Minimum (DEM) pada kulit manusia terlindungi tabir surya dengan DEM tanpa perlindungan. Nilai SPF dapat ditentukan melalui perbandingan energi dari sinar yang dipaparkan untuk dapat menimbulkan eritema dan dapat juga melalui waktu yang diperlukan sampai timbul eritema (Draelos and Thaman, 2006). Kategori kemampuan tabir surya menurut Damogalad et al. (2013) adalah minimal (2-4), sedang (4-6), ekstra (6- 8), maksimal (8-15), dan ultra (>15) (Tabel 4.)

14. Artikel 2, halaman 17, kolom 2, paragraf ke 2.

1) Hasil analisis granulo-metri menggunakan ayak basah (Tabel 1) menunjuk-kan informasi butiran sedimen umumnya di-dominasi pada fraksi pasir sedang (medium sand) yang ber-ukuran 0,25- 0,85 mm, ke-cuali pada stasiun 7 yang didominasi oleh pasir halus.

2) Kandungan lumpur (<0,15 mm) ditemukan pada seluruh stasiun, namun dengan jumlah yang sedikit.

Sementara kandungan kerikil (1,70- 4,75 mm) dapat ditemukan pada Stasiun 6, 7, dan 8 dalam persen-tase yang kecil. Seluruh sampel yang diperoleh berjenis pasir.

15. Artikel 2, halaman 18, kolom 1, paragraf ke 1-2.

5) Sementara hasil studi ini menegaskan variasi kondisi yang terjadi pada muara Kuala Gigieng dalam interval waktu yang cukup lama.

1) Hasil pengukuran nilai statistik dari ukuran butiran sedimen dapat dilihat pada Tabel 2. Ukuran butiran rata- rata adalah sebuah indeks pengukuran ukuran butiran berdasarkan persentase berat fraksi pada tiap sampel. 3) Dalam penelitian ini ditemukan ukuran butiran rata-rata terbesar cenderung berada pada KTM, tepatnya pada stasiun 4, 5, dan 6. Melihat posisi ketiga stasiun tersebut merupakan kanal yang lebih sempit

dibandingkan KLM (stasiun 1, 2, 3) atau KDM (stasiun 7, 8, 9). 2) Hasil yang diperoleh kemudian dapat dikatakan sebagai ukuran butiran yang mewakili sampel. Ukuran butiran dapat mengindikasikan besarnya energi yang berasal dari aliran air atau angin yang bekerja di daerah tersebut (Folk and Ward, 1957; Friedman, 1967). 4) Merujuk pada konsep hidrodinamika, arus akan mengalir lebih cepat saat memasuki kanal yang lebih sempit (Ingmanson dan William, 1985; Dyer, 1986). Penjelasan ini kemudian mengoreksi hasil yang diperoleh oleh Purnawan et al. (2012) yang mendapatkan rerata arus tertinggi berada pada KLM. Diduga terdapat bias, dimana arus yang terukur diperoleh pada saat periode pengumpulan data saja. G-W-B-C

16. Artikel 3, halaman 26, kolom 1, paragraf ke 1

2) Maka dari itu, dalam penelitian pembuatan lem ikan supaya efektif dan efisien, disarankan meng- gunakan bahan baku yang keterse- diaannya cukup ba-nyak, sehingga dida-patkan rendemen lem ikan yang diinginkan.

1) Persentase rendemen yang diperoleh pada pembuatan lem ikan berbahan baku ikan Tenggiri, ikan Tongkol, ikan Cobia, secara berturut-turut adalah 11%, 13%, dan 8%. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa untuk pembuatan lem ikan

memerlukan bahan baku tulang ikan da-lam jumlah yang cukup banyak.

G-C 17. Artikel 3, halaman 26, kolom 2, paragraf ke 1

1) Berdasarkan hasil dari uji BNJ, didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P<0, 05) pada nilai keteguhan rekat antara lem ikan Tenggiri, lem ikan Tongkol, dan lem ikan Cobia.

2) Nilai keteguhan rekat tertinggi didapatkan pada lem ikan Tongkol yaitu sebesar 7, 7 N/mm2, sedangkan nilai keteguhan rekat terendah didapatkan oleh lem ikan Cobia yaitu sebesar 5, 3 N/mm2.

3) Ketiga jenis lem ikan tersebut meme-nuhi standar dari SNI PVAc sebagai pembanding standar. 4) Menurut Badan Standardisasi Nasional (1999) (SNI 06-6049- 1999), jenis perekat polivinil asetat emulsi untuk pengerjaan kayu disyaratkan memiliki keteguhan rekat minimal 3 N/mm2. C-G-W-B

18. Artikel 3, halaman 27, kolom 2, paragraf ke 2

1) Berdasarkan hasil dari uji BNJ, didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P<0, 05) pada nilai kerusakan permukaan kayu antara lem ikan Tenggiri, lem ikan Tongkol, dan lem ikan Cobia.

2) Nilai kerusakan per- mukaan kayu tertinggi didapatkan pada lem ikan Tongkol yaitu sebesar 83, 21%, sedangkan untuk nilai kerusakan per-mukaan kayu terendah didapatkan oleh lem ikan Cobia yaitu sebesar 62, 07%. Namun untuk standar nilai kerusakan permukaan kayu belum tercantum di dalam SNI 06-6049-1999 tentang perekat polivinil asetat emulsi untuk pengerjaan kayu 3) Uji kerusakan permukaan kayu merupakan parameter penting kedua setelah keteguhan rekat. Nilai kerusakan permukaan kayu selalu berbanding lurus dengan nilai keteguhan rekat. Semakin tinggi nilai keteguhan rekat pada perekat/lem, semakin tinggi pula nilai kerusakan yang di dapat pada permukaan kayu yang direkatkan tersebut. 4) Menurut Xiao et al. (2007), dari hasil uji geser, selain keteguhan rekat, persentase kerusak-an pada permukaan kayu juga dihitung. Prinsip dalam pengukuran per-sentase kerusakan permukaan kayu adalah perekat yang merekat pada permukaan kayu diasum- sikan lebih kuat daripada substrat kayu tersebut. C-G -W-B

19. Artikel 3, halaman 28, kolom 1, paragraf ke 2

1) Berdasarkan hasil dari uji BNJ, didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P < 0, 05) pada nilai viskositas antara lem ikan Tenggiri, lem ikan Tongkol, dan lem ikan Cobia.

2) Nilai viskositas tertinggi didapatkan pada lem ikan Tenggiri adalah sebesar 4, 53 poise, sedangkan nilai

Dokumen terkait