• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3. Imaji Taktil (Perasaan)

Adapun imaji taktil yang terdapat dalam kumpulan Syair Haji terlihat dalam kutipan di bawah ini.

Jika sudah janjinya dahulu Barang yang sukar mudah dilalu Daripada hati belas dan pilu Makin bertambah suka selalu. ( SH :17)

Di dalam hati jangan berniat Jikalau diturut seperti itu

Itulah orang yang memperoleh hidayat (SH:193)

Baiklah kepada tempat bersakai Itulah tempat ia sa’i

Sudah tertap hukum syarat

Janganlah masqul pada hati lukai. (SH :212)

Pada bait 17 penyair mengajak khalayak kalau sesuatu janganlah lupa kepada janji karena janji merupakan amanat yang harus di tepati. Terus penyair mengambarkan walaupun hati belas dan pilu maka tetaplah bergembira..

Pada bait 193 penyair seolah-olah mengambarkan kepada pembaca jangan kita sekali-kali mempunyai niat yang jahat atau maksiat karena akan membawa kerugian buat kita.

Sedangkan pada bait 212 penyair mengambarkan kepada pembaca kalau kita jangan ragu pada hati kita sendiri dan berbuat baik kepada orang lain.

4.1.1.3. Kata konkret

Dalam Syair Haji pengubah menggunakan kata kata yang konkret untuk mengkonkretkan imaji yang ditawarkan untuk mengkokretkan keesaaan tuhan mengambarkan tuhan yang esa tidak beranak dan tidak pula diperanakan/tidak beribu tiada pula sekutu penyair mengambarkan bahwa Allah tidak melahirkan atau dilahirkan oleh sesuatu seperti halnya manusia dan juga mempunyai teman

yang sebanding dengannya untuk melukiskan kekuasaan tuhan yang terdapat dalam kutipan di bawah ini:

Terlalu baik budi dan bahasa Tiadalah banding dalam dunia Barang perkerjaan dengan perkasa Dengan karunia tuhan yang esa (SH 88)

Berbagai pula jenis bangsa Berbagai-bagai bunyi bahasa

Datangnya daripada segenap bangsa Kondrat Allah, Tuhan yang Esa. (SH :158)

Inilah syariah daripada tuhan yang maha besar Sejakterakan Dia pada yaumul Masyar

Luput daripada azab yang Maha besar Hilang dari gila dan besar

(SH:13)

Bait di atas mengambarkan bahwa kekuasan itu tiada banding di dalam dunia, manusia tidak mempunyai kekuasan apa-apa untuk mengkonkretkan tentang gambaran tentang Tuhan semesta alam.

4.1.1.4. Gaya bahasa

Dalam Syair Haji juga terdapat gaya bahasa, yang mana terdapat pada bait di bawah ini:

Kepada Allah janganlah lupa Hatimu jangan kau beri hampa

Supaya terbilang umat Muhammad Mustafa Pekerjaan baik jangan kau alpa

(SH:29)

Hendaklah mengikuti perbuatan dia Karena sunat segala anbiya

Disuruhkan Allah, tuhan yang kaya Kepada insan, sekalian manusia (SH:91)

Dengan kodrat Tuhan yang Ghana Akal budi sangat sempurna

Tambahan arif bijaksana Patuhlah disembah hina dina (SH:111)

Pada bait 29 penyair seolah-olah mengambarkan kepada pembaca kalau kita sebagai manusia umatnya Nabi Muhammad janganlah lupa terhadap segala perintah Allah SWT.

Pada bait 91 penyair mengambarkan kepada pembaca kalau kita harus patuh dan tunduk hanya kepada Allah karena dialah yang patuh disembah

Sedangkan 111 penyair mengungkapkan kepada pembaca kalau kita sebagai manusia adalah makluk yang tidak berdaya dan hanya dialah yang mempunyai kekuasaan dan kodrat yang abad.

4.12.2 Struktur Batin 4.2.2.1. Tema

Tema yang banyak terdapat dalam Syair Haji adalah tema ketuhanan (religius).

Setelah melihat persoalan yang menonjol pada Syair Haji terjemahan Muhammad Fananni dapat disimpulkan kalau tema yang terdapat dalam Syair Haji bertemakan ketuhanan (religius) yang menceritakan tentang rukun haji yang tergambar dalam kutipan syair di bawah ini.

Inilah rukun yang dikaji

Kepada kita yang sekalian dipegangkan Serta kepadanya kendaraan

Serta tanda yang ditinggalkan (SH :15)

Nawayytu I-hajjji wa harramat lebih Inilah firman tuhan Al-hayyi

Kepada Nabi Muhammad si suruhi Allah dan Rasul memberi suci (SH :22)

Haji dan umroh kedua sama Itulah rukun islam yang kelima Seumur hidup sekali wajib agama Jika salah, tiada terima

(SH:284)

4.2.2.2. Perasaan (feeling).

Sehubungan dengan hal tersebut setelah membaca kumpulan syair dapat di paparkan rasa atau perasaan pengarang dalam kumpulan syair tersebut. Seperti yang terdapat pada kutipan di bawah ini:

Hendaklah mengikuti perbuatan Dia Karena sunat segala anbiya

Disuruhkan Allah, Tuhan yang kaya Kepada insan, sekalian manusia

(SH:92)

Dikalam Nabi kita Allah, Rabbul Izzati Kepada nabi kita yang mukjizat

Seperti makanan yang sangat lezat Daripada tuhan yang empunya sifat zat. (SH :95)

Kuadrat Allah, Tuhan yang Ala Menjadikan Makkah, negeri yang asli Tempat ibadah asli sekali

Dijauhkan Allah daripada sekalian bala (SH:102)

Pada bait ke- 92 “Disuruhkan Allah tuhan yang kaya dan kepada insan sekalian manusia” mengambarkan kalau kita sebagai manusia harus mengikuti perbuatan yang baik yang yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Pada bait ke 95 “Nabi kita yang mukjizat dan Tuhan yang empunya sifat zat” penyair mengambarkan kalau nabi kita adalah seorang yang mulia yang disisi Allah Swt, dan Allah adalah yang empunya sifat zat segalanya.

Sedangkan pada bait ke- 102 penyair mengambarkan kalau Allah maha besar yang telah menjadikan Mekkah sebagai tempat ibadah dan menjauhkannya dari segala bala.

4.2.2.3. Nada atau Suasana (tone)

Adapun nada yang digunakan dalam syair haji sebagai berikut: A. Nada menegaskan

Allah dan rasul sudah dipuji Inilah kelebihan rukun haji Di dalam hadist telah berjanji Disuruh jauhi segala yang keji (SH :3)

Pada contoh di atas terlihat bahwa penyair mengunakan kata-kata pilihan yang sangat baik sehingga pembaca menjadi tertarik sekaligus memahami akan makna yang akan disampaikan dalam ungkapan tersebut. Gambaran dari rukun haji yang terdapat dalam hadist dan al’quran. Dengan demikian jauhilah perbuatan yang keji yang perbuatan itu tidak boleh.

B. Nada persuasif

Nada persuasif tergambar pada kutipan berikut ini. Bersahabat dengan yang jahil

Senantiasa datanglah afil Lalaikan kita akan Rabbul jahil Segala Syaitan segera tampil (SH :28)

Contoh di atas mengisyaratkan pembaca agar berhati-hati memilih sahabat karena sahabat sangat berpengaruh bagi kita. Sahabat yang jahil akan melalaikan kita kepada Rabb (Allah).

4.2.2.4 Amanat

Bertolak dari uraian tentang amanat, jelaslah bahwa amanat yang ingin disampaikan pengarang dalam sebuah karya sastra, antara lain dapat diketahui

melalui ajaran yang ditulisnya. Berdasarkan pengamatan Syair Haji berisi ajaran dan petunjuk yang sangat bermafaat bagi umat Islam.

Syair Haji kita berisi mengenai masalah yang berhubungan dengan ibadah haji. Sehubungan dengan itu syair haji sebagai karya sastra secara langsung memberikan ajaran dan sekaligus menyebarkan dakwah islam. Berikut ini kutipan Syair haji yang berisi dakwah Islam.

Kepada babullahmi haza l-bayta Dengan tawad, merendahkan serta Pekerjaan yang jahat jangan di cinta Dihilangkan Allah azab dan lata (SH:40)

. Di dalam dunia lagi yang demikian Jika pada akhiratnya beberapa kian Ingat-ingat sahabat sekalian

Janganlah menaruh perkara yang hina// (SH :169)

Ziarah pada tempat yang itu wa mursala Di sanalah maqom Sayyidul Murtada Kebesaran tuhan Azza wa jalla Batu berlubang bekas kepala (SH:202)

Pada bait 40 penyair memberi pesan kepada pembaca jangan pernah mencintai suatu pekerjaan yang jahat karena itu akan mendatangkan azab dari tuhan.

Pada bait 169 penyair menberikan nasihat kepada pembaca kalau kita kita hidup di dunia hanya sementara karena itu jangan pernah menaruh perkara kepada orang lain.

Sedangkan pada bait 202 penyair memberikan amanat kalau kita pergi ke tanah suci jangan lupa berziarah karena itu akan menambah keimanan kita.

4.3 Nilai –Nilai Religius Pada Syair Haji 4.3.1. Ketauhidan

Secara harfiah tauhid makna tauhid bersal dari kata wahada, yuwahhidu, tauhid yang berarti mengesakan. Jadi esensi iman kepada Allah adalah tauhid yang mengesakan-Nya baik dalam Dzat, asma’ wa shiffaat, maupun af al –Nya.

Dengan demikian jelaslah bahwa tauhid merupakan hal yang paling utama dalam ajaran agama islam mengenai ketuhanan dan keesaan Allah Swt.

Sedangkan menurut Shiddieqy (1952:94) tauhid terbagi atas tujuh di antara nya:

1. Tauhid Dzat

Mengetahui ke esaan dzat Allah 2. Tauhid Sifat

Mengetahui bahwa sifat-sifat Tuhan, hanya sifat sebagai sifat Tuhan dan bahwa Allah sendiri yang wajib mempunyai segala sifat kesempurnaan. 3. Tauhid Wujud

Mengakui bahwa hanya dzat Allah sendiri yang wajib adanya. 4. Tauhid Al’aal

Mengakaui bahwa Allah sendiri yang menjadikan Alam dan segala isinya dan yang menjadikan atau menghasilkan segala perbuatan hambanya. 5. Tauhid ibadat

Mengakui Allah sendiri yang berhak menerima ibadat dan wajib kita ibadati; tak boleh kita ibadati yang selain nya.

6. Tauhid Qashdi

Mengakui bahwa Allah sendiri yang dituju langsung dalam memohon sesuatu hajat

7. Tauhid Tasjri

Meng-iktikadkan bahwa Allah sendiri yang menentukan hukum halal, hukum haram, dan pokok undang-undang.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tauhid dan bagaimana unsur-unsur tauhid tersebut dalam syair haji maka perlu diketahui pembagian atau macam-macam tauhid itu sendiri.

Tauhid dapat di bagi dalam tingkatan yaitu tauhid rububiyah (mengimani Allah sebagai satu-satunya Rabb), tauhid uluhiyah (mengimani Allah swt sebagai satunya Ilah), dan tauhid mulkiyah (mengimani Allah swt sebagai satu-satunya Malik)

A. Tauhid Rububiyyah.

Secara etimologi kata “Rabb” mempunyai banyak arti, antara lain menumbuhkan, mengembangkan, mendidik, memelihara, memperbaiki, menangung, mengumpulkan, mempersiapkan, memimpin, mengepalai, menyelesaikan suatu perkara memiliki dan lain-lain.

Menurut (Shiddiegy 1952 :95) Tauhid rububiyah adalah meng-iktikadkan bahwa tuhan sendirilah yang menciptakan alam seluruhnya. Maka timbullah kesadaran bagi makluk untuk mengagungkan Allah, makluk harus bertuhan hanya kepada Allah tidak kepada yang lain. Keyakinan inilah yang disebut tauhid rububiyah.penjelasan ini bisa dilihat pada bait syair berikut:

Wa’ala alihi wa ashabihi l-ashabihi l-ansaf wa l-mujahiddin Wa s-sadiqina wa sayyidu s-sabirin

Telah di anugrahi rahmat serta nazirin Rahmat Allah wa ya khyru n-nasirin (SH:2)

Di dalam nabi Allah, rabbul izzati Kepada Nabi kita yang bermukjizat Seperti makanan yang sangat lezat

Daripada Tuhan yang yang empunya sifat zat (SH: 94)

Serta dengan Ayat kursyi

Namun Tuhan, Rabbul izatti Ialah menjadikan semesta seisinya. (SH: 57)

Dalam Alqur’an juga disebutkan sifat Allah yang pencipta juga ditemukan dalam Alquran seperti yang tercantum dalam kitab alquran.

“Dia Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang baik”(AL-Hayr :24)

B. Tauhid Uluhiyah

Kata Ilaha berakar pada a-la-ha (alif-lam-ha) yang mempunyai arti antara lain tentram, tenang, lindungan, cinta dan sembah (‘abada). Semua kata-kata itu releven dengan sifat-sifat dan kekhususan Dzat Allah.

Menurut (Shiddieqy,1952:95) Tauhid uluhiyah adalah meng-iktikadkan bahwa Allah sendirilah yang berhak disembah dan yang berhak dituju oleh segala hambanya.

Jadi tauhid uluhiyah menyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah seperti yang terdapat dalam bait Syair Haji berikut.

Terlalu baik budi dan bahasa Tiada banding di dalam dunia Barang pekerjaan dengan perkasa Dengan karunia Tuhan Yang Esa (SH :125)

Beberapa pula jenis bangsa Berbagai-bagai bunyi bahasa

Kodrat Allah, Tuhan yang esa. (SH:156)

Penyataan Keesaa Allah terlihat pada yang ke 125 “Tiada banding di dalam dunia” dan “dengan karunia Tuhan yang esa” penyair mengambarkan kalau keesaan Allah tiada banding di atas dunia ini yang bisa kita lihat dengan karunia-karunia-Nya.

Sedangkan pada bait yang 158 “ Berbagai-bagai jenis bangsa” dan “kodrat Allah, tuhan yang Esa” penyair mengambarkan walaupun kita berbeda bahasa atau bangsa tapi kodrat Allah ada pada kita.

Bisa juga dilihat pada ayat-ayat Al-quran seperti yang dinyatakan Allah dalam kitab suci alqur’an

“Dan orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah lah hati menjadi tentram.”(AR Ra’du:28)

“Aku berlindung kepada Allah akan termasuk orang- yang jahil”(Al baqarah:67)

“Adapun orang –orang yang beriman amat sangat cinta nya kepada allah”(Al-baqarah:165)

Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat(untuk menyerukan ) Sembahlah Allah saja, dan jauhi thagut.”(An Nahl:36)

Diantara makna Ilah di atas yang paling asasi adalah makna ‘abada (ain-ba-dal) yang mempunyai arti, antara lain :hamba sahaya (‘abdun) patuh dan tunduk (ibadah) yang mulia dan agung (al ma’bad) selalu mengikuti (abada bib). Jika arti kata ini di urutkan maka akan menjadi susunan kata yang sangat logis.

Jadi tauhid uluhiyah adalah mengimani Allah swt Al Ma’bud (yang di sembah) dalam hal ini Allah berfirman:

“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain aku, maka sembahlah aku (Beribadahlah) dan dirikanlah shalat untuk mengingatkanKu “(Thaha:14)

C. Tauhid Mulkiyah

Kata Malik yang berarti raja ,dan Mulk yang berarti memiliki akar kata yang sama yaitu ma-la-ka. Keduanya mempunyai relevensi makna yang kuat. Si pemilik sesuatu pada hakikatnya adalah raja dari sesuatu yang dimilikinya. Misalnya pemilik rumah, dia bebas mendiami, menyewakan atau bahkan menjual kepada orang lain.

Jadi tauhid mulkiyah adalah kekuasan Allah yang memiliki alam beserta isinya yang mana terdapat pada kutipan dibawah ini:

Jabal nur, tempang kalilu r-rabbi Ialah di belah perut Nabi

Kepada jibrail membawa suruh rabbi Ialah nabi daripada asal arabi

(SH: 96)

Min hajji lama yazid rabbi pada hazani Ialah kesudahan hak subhani

Jal jallah, tuhan Rabbani

Pohonkan dunia. Akhirat minta kasihan. (SH:217)

Kekuasan Allah juga dapat dilihat pada Al’Quran surat Al Baqarah dalam kitab suci Al’Quran:

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumiuntuk kamudan ia berkehendak menuju langit dan lalu dijadikan nya tujuh langit, dan Dia bisa mengetahui segala sesuatu”

4.3.2. Komponen ibadah haji

Haji secara lughowi (etimologis) berasal dari bahasa Arab al-hajji; berarti tujuan, maksud, dan menyengaja untuk perbuatan yang besar dan agung. Selain itu, al hajj berarti mengunjungi atau mendatangi (Munawar, 2003:1). Makna ini sejalan dengan aktivitas ibadah haji, dimana umat islam dari berbagai negara mengunjungi dan mendatangi Baitullah (Ka’bah) pad musim haji karena tempat ini dianggap mulia dan agung.

Haji asal maknanya menyengaja sesuatu. Haji yang di maksudkan disini (menurut syara’) ialah:menyeganjakan mengunjungi Ka’bah (rumah suci) untuk melakukan beberapa amal ibadah, dengan syarat-syarat yang tertentu.

Dalam Syair haji banyak berisi mengenai komponen ibadah haji yang berkenaan dengan syarat wajib, syarat sah haji, rukun haji, wajib haji, sunat haji dan yang membatalkan haji.

Dokumen terkait