B
ahasa Gorontalo pertama kali diajarkan di Amerika Serikat oleh H.B. Jassin. Di semester Spring 1958, Jassin mengajarkan bahasa Gorontalo sekian bulan di Yale University, di bawah supervisi Prof. Dyen.Sewaktu sedang belajar perbandingan kesusastraan (1958-1959) di Yale University, Amerika Serikat, H.B. Jassin memperlihatkan karakter unik dalam mencintai keluarganya. Bukan hanya terhadap keluarga terdekatnya di Jakarta, tapi juga termasuk yang di Gorontalo. Di beberapa suratnya, Jassin mengabarkan bahwa ia mengajar bahasa Gorontalo
di kelas dan ia juga bekerja dengan Prof. Dyen (pakar bahasa-bahasa Melayu Polynesia di Yale University) untuk menemukan formula pembelajaran bahasa lokal dan bahasa Indonesia yang tepat di Amerika.
Belajar, bekerja, berteman luas dan bangga bertanah air Indonesia dan mencintai keluarga tak pernah terpisah dalam diri Jassin. Di “permukaan”, hidupnya memang seperti sudah diborong oleh kesusastraan, publikasi, dan dokumentasi, tapi dengan membaca goresan-goresan tangannya dalam berbagai bentuk (surat-surat, nota-nota, dan catatan-catatan lepas), tampaklah bahwa Jassin adalah seseorang yang berhasil “mengurus” banyak hal dalam kesehariannya. Jassin memang memberi beberapa impresi tentang pendidikan Amerika, dan dalam beberapa pengalaman ia sepertinya dengan rendah hati menyatakan kekagumannya. Akan tetapi, Jassin tidak terlalu mendewakan Amerika. Tidak lebih pada sekadar respek akan tradisi akademis mereka dan fasilitas pendidikan yang nyaris tersedia tanpa batas. Melalui kumpulan surat-suratnya (18 surat) dari Amerika yang sudah dibukukan, Omong-Omong H.B. Jassin,
Perjalanan ke Amerika 1958-1959 (Balai Pustaka, 1997), kita dapat
menyimak beberapa tema menarik. Diantaranya adalah bahwa Jassin tetap disiplin dalam menulis dengan kerincian yang tinggi. Artikulasi bahasa Jassin selalu menyentuh keragaman “perjumpaan manusiawi” yang diwadahi oleh sejumlah peristiwa, pemikiran dan perbincangan. Jassin sangat terbiasa menyebut nama-nama orang, teman lama, teman baru dan tema-tema yang seringkali tidak kita sangka bahwa hal itu relevan dalam menjelaskan banyak hal. Tak heran kalau potret kehidupan mahasiswa di musim dingin pun bisa ditulis dengan amat memukau oleh Jassin: tentang salju, parkir mobil, jenis masakan, kantor pos, ‘sakit rindu rumah’, nasi Spanyol, memasak ikan kaleng, dst. Ia bahkan menulis bahwa dalam soal masakan, “orang Amerika tidak suka udang dan hati ayam..”
Di luar soal itu, Jassin juga tak pernah lupa menuliskan perkembangan studinya. “Studi saya berjalan baik. Bahasa
Inggris sudah bisa dipakai membaca dua puluh halaman per jam, dan karya tulis mahasiswa Amerika. Untuk membaca buku-buku cerita malahan bisa mencapai tiga puluh halaman sejam,”
demikian Jassin dalam bunyi suratnya yang ke-17.
Tentang pendidikan di Indonesia dan di Amerika, Jassin menulis dalam suratnya :16
Perbedaan sistem Indonesia dan Amerika terlalu jauh. Di Indonesia kita mengenal sistem kuliah, sang guru menumpahkan semua ilmunya, sang murid menerima dan mempelajarinya dan pada akhir tahun datanglah ujian. Menulis karya ilmiah yang merupakan penyelidikan sendiri tidak ada. Atau kalaupun ada hanya diwajibkan pada mahasiswa yang akan ujian doktoral, seperti di Fakultas Sastra. Di Amerika, dipakai sistem seminar, mahasiswa hampir setiap minggu menulis karya ilmiah yang harus dipertahankan dalam diskusi bersama. Dapat saudara bayangkan betapa repotnya kita yang berasal dari Indonesia. Sudah tidak ada latihan menulis karya ilmiah, harus menulisnya dalam bahasa Inggris pula, sesudah itu kita harus mempertahankannya dalam bahasa yang setengah-setengah kita kuasai secara pasif selama ini. Belum lagi rintangan batin yang harus kita atasi untuk tidak merasa bersalah menonjolkan pendapat kita, dan kalau perlu menentang pendapat orang lain. Yang paling berat lagi, latar belakang pengetahuan kita jauh berbeda dari latar belakang pengetahuan mereka (mahasiswa Amerika) yang berakar pada tradisi kesarjanaan yang telah berabad-abad...
Apa yang Jassin utarakan di atas tentulah sebagian besar mewakili suasana zaman 1958-1959, terutama dengan merujuk keadaan kita di Indonesia. Sebagian lagi, tampaknya masih ada yang berlaku hingga hari ini, terutama menyangkut budaya akademis kita di
16 Simaklah Surat HB Jassin yang ke-16, hampir 8 halaman ia bercerita banyak hal tentang pendidikan di Amerika di beberapa universitas dan di beberapa bidang keilmuan yang terpandang di beberapa universitas besar. Di akhir suratnya Jassin menyebut organisasi mahasiswa Indonesia di Amerika, juga bercerita mengenai beberapa orang di antara mereka tengah menempuh studi. Terakhir, Jassin mengungkapkan sikap “acuh tak acuh” kedutaan Indonesia kepada mahasiswa yang sedang studi di sana. Jeli betul observasi Jassin tentang banyak hal.
tingkat pendidikan tinggi. Yang jelas, sistem kita tak perlu sama persis dengan Amerika, sebab tak pantas pula kita meniru begitu saja. Dalam hal ini, “menulis karya ilmiah yang merupakan penyelidikan sendiri” belum menjadi perangai akademis yang merata di Indonesia. Sebabnya tentu banyak, di antaranya adalah ketersediaan fasilitas di perpustakaan. Selebihnya adalah soal kesungguhan membangun budaya ilmiah di setiap jenjang kesarjanaan dan di semua cabang keilmuan.
Jassin memang merekam dengan paripurna tentang akar-akar sosial dari kultur akademis ala Amerika itu. Panjang uraian menarik kita simak kembali:
Di Amerika, cara diskusi sangat dipentingkan sekali. Dengan demikian persoalan-persoalan dikupas dari segala sudut. Masing-masing mengemukakan pendapatnya. Untuk itu, tidak perlulah dikatakan bahwa seorang mahaguru harus mengetahui segala persoalan yang mengenai mata pelajarannya supaya dapat menguasai dan mengendalikan pendapat-pendapat yang simpang-siur dalam pertemuan diskusi seperti itu. Latihan mengemukakan pendapat ini sudah diberikan sejak kecil. Anak-anak Amerika diberikan kebebasan di dalam rumah dan di tengah keluarga. Dia dirangsang dalam aktivitas dan keberaniannya menyatakan pendapat. Seorang anak adalah individu dari suatu personal, yang mempunyai suara atau pendapatnya sendiri dalam keluarga. Dia mempunyai hak bicara yang sama dengan orang tuanya. Kalau dia bicara, orang tua ikut mendengarkan apa yang dikatakannya. Dia tidak perlu merasa takut dan malu-malu, atau merasa kurang percaya diri dari manusia lainnya. Anak-anak itu kalau berbicara dengan suara yang lepas dan penuh percaya diri. Sikap pribadi ini dibawa oleh mereka keluar rumah, di mana mereka bertemu dengan orang-orang lain yang pribadinya sudah terbentuk pula seperti dia. Di dalam masyarakat bertemulah pribadi-pribadi mereka yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Saya rasakan sekali perbedaan pendidikan Amerika ini dengan pendidikan orang-orang tua kita di Indonesia. Di Indonesia, sejak anak masih kecil sampai anak masuk sekolah tinggi, dididik untuk menjadi orang yang penuh rasa takut, kurang harga diri, dan mengkeret bila dihadapkan dengan situasi yang memerlukan keberanian.
Begitulah Jassin lebih jauh mencermati tentang budaya demokratis Amerika, baik dalam urusan pendidikan maupun untuk soal-soal perkembangan anak. Dalam surat panjangnya ini, Jassin tak sepenuhnya memuji dan memberi pembenaran yang kasual tentang kultur pendidikan ala Amerika adalah satu-satunya jalan bagi kita jika hendak maju. Jassin lebih menekankan tentang praktik hidup yang mendasari mengapa “kebebasan bicara” itu demikian sistematik pengaruhnya di Amerika dibandingkan kita di Indonesia. Kita boleh tak setuju dengan nilai demokratis seperti itu –terutama dalam soal hubungan orang tua dan anak– tetapi dalam hubungannya dengan keterbukaan akademis di pendidikan yang di dalamnya setiap orang bisa mengutarakan pandangan terbaiknya, saya kira itu bisa diterima sebagai pencapaian atau keunggulan fundamental dari Amerika.