Manifes Kebudayaan
III. Politisi dan Estetisi
Dalam dunia kesenian Indonesia juga dikenal istilah “realisme - sosialis”. Menurut sejarahnya, penafsiran tentang realisme sosialis itu ada dua macam:
Yang pertama: realisme sosialis langsung merupakan
kelanjutan dari konsepsi kultural Josef Stalin. Dalam 80-an, dengan berkembangnya fetisisme modern dengan Stalin sebagai suatu fetis barang pujaan yang seakan-akan mengundang suatu kekuatan gaib, maka kebudayaan Rusia terancam dengan amat mengerikan. Dengan Stalin maka metode kritik seni adalah deduktif, artinya konsepsinya telah ditetapkan lebih dahulu untuk “menertibkan” kehidupan kesenian dan kebudayaan. Ciri pokok pada kesenian yang telah “ditertibkan” itu ialah adanya konsepsi yang sama dan sektaristis mengenai kritik seni. Itulah sebabnya maka jiwa objektif yang berpangkal pada budi nurani universal tidak selaras dengan realisme sosialis sehingga kami menolak realisme sosialis dalam pengertian itu, di mana dasarnya ialah paham politik di atas estetik.
Yang kedua: realisme sosialis menurut kesimpulan kami dari
jalan pikiran Maxim Gorki, yang dipandang sebagai otak dari realisme sosialis itu, yakni bahwa sejarah yang sesungguhnya
dari rakyat pekerja tak dipelajari tanpa suatu pengetahuan tentang dongengan kerakyatan yang secara terus menerus dan pasti menciptakan karya sastra yang bermutu tinggi seperti Faust, Petualangan Baron van Munchausen, Gargantua dan Pantagruel, Thyl Eulenspiegelnya Coster, dan Prometheus disiksa karya Shelley, karena dongengan kerakyatan kuno purbakala itu menyertai sejarah dengan tak lapuk-lapuknya dan dengan cara yang khas.
Di situ sebenarnya Gorki telah menggariskan politik sastra yang berbeda dengan realisme sosialis ala Stalin, karena pada hakikatnya Gorki telah menempuh politik sastra universal. Sesungguhnya politik sastranya itu bersumber dalam kebudayaan tidak sebagai suatu sektor politik, melainkan sebagai induknya kehidupan politik yang searah dengan garis manifes ini.
Berdasarkan fenomena-fenomena sejarah maka seorang ahli sejarah mengatakan bahwa kebudayaan dari suatu periode adalah senantiasa kebudayaan dari kelas yang berkuasa. Akan tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa justru karena tidak termasuk dalam kelas yang berkuasa maka orang berhasil membentuk kekuatan baru. Dan politik, sebagai kekuatan baru yang terbentuk di tengah-tengah penindasan kekuatan lama, merupakan faktor positif yang menentukan perkembangan kebudayaan dan kesenian. Sebagaimana terjadi di Francis, sejarah mengajarkan bahwa kekuatan yang dibentuk oleh borjuasi revolusioner adalah kekuatan yang menentukan dalam melawan penindasan monarki mutlak. Tetapi sayang bahwa elan kreatifitas yang menyala-nyala bersama-sama kekuatan baru itu menjadi padam setelah kekuatan borjuasi revolusioner itu menjadi sempurna. Bahkan kekuatan politik yang sempurna itu merintangi kebudayaan dan kesenian. Penindasan baru yang dilakukan oleh kelas baru itu di bidang kesenian dan kesastraan khususnya telah menyebabkan timbulnya suatu kekuatan baru dengan lahirnya angkatan 1830 yang mula-mula dipelopori Victor Hugo dan kemudian dilanjutkan oleh Theopilc Gautier.
Maka dapatlah kami mengambil kesimpulan bahwa paham politik di atas estetik yang merumuskan bahwa politik adalah primer dan estetik adalah sekunder dilihat dari sudut kebudayaan dan kesenian adalah suatu utopia. Sebab paham itu jikalau dilaksanakan dengan jujur hanya akan memupuk dan menghasilkan perasaan-perasaan kekecewaan, dan jikalau dilaksanakan dengan tidak jujur akan dapat merupakan tipu muslihat kaum politisi yang ambisius.
Sebagai realis kami tidak mungkin menerima setiap bentuk utopia karena menyadari bahwa dunia ini bukan surga. Karena berfikir secara dialektik maka kami mengakui kenyataan-kenyataan bahwa lingkungan sosial kami senantiasa mengandung masalah-masalah dan setiap tantangan yang kami jawab akan menimbulkan tantangan-tantangan baru. Oleh karena itu kami tidak pernah berfikir tentang suatu zaman, di mana tak ada masalah lagi, karena setiap pikiran yang demikian itu adalah terlalu “idealis” dan karenanya tidak ilmiah. Pekerjaan seorang seniman senantiasa harus dilakukan di tengah-tengah dunia yang penuh dengan masalah-masalah, analog dengan pekerjaan seorang dokter yang senantiasa harus dilakukan di tengah-tengah dunia yang penuh dengan penyakit-penyakit. Apabila dunia ini sudah sempurna tidak perlu lagi adanya seniman. Oleh karena itu paham yang merumuskan bahwa politik adalah primer dan estetik adalah sekunder tidak memahami realisme karena apabila kekuatan politik telah menjadi sempurna maka tidak perlu lagi kesastraan dan kesenian, tidak perlu lagi estetika. Seandainya pada suatu ketika kekuatan politik yang dibentuk itu telah menjadi sempurna, maka masalah apakah yang akan dibahas oleh kesenian revolusioner yang sebagai estetik murni baru mulai sesudah itu? Tidak lebih dan tidak kurang dari pada masalah yang dibahas oleh kaum estet, yaitu mereka yang mempunyai paham estetik di atas politik, sehingga bersifat borjuis.
Tidaklah berlebih-lebihan kiranya apabila kami mengambil kesimpulan bahwa paham politik di atas estetik itu tidak
memberikan tempat kepada estetik sebelum pembentukan kekuatan politik menjadi sempurna, sehingga selama jangka waktu pembentukan kekuatan politik itu tidak ada persoalan tentang estetik, sedangkan paham estetik di atas politik hanya dapat dilaksanakan apabila mendapat sandaran kekuatan politik yang sempurna pula.
Maka kami dapat menarik kesimpulan selanjutnya, bahwa kedua paham kesenian tersebut mengandung kontradiksi-kontradiksi. Berbeda dengan itu adalah paham kami, yaitu paham yang tidak mengorbankan politik bagi estetik, tetapi sebaliknya, tidak pula mengorbankan estetik bagi politik, karena pengorbanan tersebut tidak menunjukan adanya dinamika, dan di dalam hal tidak adanya dinamika maka fungsi estetik murni adalah suatu imperialisme estetika. Dalam kondisi ini maka transformasi revolusioner dari negara kapitalis ke arah negara sosialis tidak akan mengubah pula secara revolusioner kondisi-kondisi kulturalnya. Berlawanan dengan itu kami menghendaki perubahan kondisi-kondisi kultural itu secara revolusioner menuju ke arah masyarakat sosialis Pancasila.
Menurut keyakinan kami maka masyarakat sosialis Pancasila yang kami perjuangkan secara kultural–revolusioner itu adalah keharusan sejarah yang tidak dapat dihindarkan oleh siapapun, tetapi terutama oleh kami sendiri.
Demikianlah penjelasan manifes ini diumumkan.