• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPACT OF GLOBAL ECONOMICS CRISIS ON GROUP GOING CONCERN

MANAJEMEN RESIKO RISK MANAGEMENT

53. IMPACT OF GLOBAL ECONOMICS CRISIS ON GROUP GOING CONCERN

Krisis global masih memiliki dampak yang kurang menguntungkan di tahun 2012 ini. Tercatat perekonomian dunia masih mengalami perlambatan dengan pertumbuhan sebesar 3,3% di tahun 2012 ini, lebih rendah dari prediksi sebelumnya sebesar 3,5%.

Global crisis still had negative impact in 2012. It is recorded that global economy had slowed down with estimated annual growth of 3.3% in 2012, lower than the previous prediction of 3.5%.

Indonesia juga terkena dampak dari krisis global di tahun 2012 ini. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatatkan di level 6,23% atau lebih rendah dari target pemerintah sebesar 6,8%. Kinerja ekspor Indonesia menurun dengan angka pertumbuhan tahun 2012 sebesar 2%, atau lebih rendah dari kinerja tahun 2011 yang mencatatkan pertumbuhan hingga 29%. Disamping itu sektor pariwisata juga mengalami dampak berupa penurunan pertumbuhan jumlah pendatang dari mancanegara yang sebelumnya tumbuh sebesar 8,5% di tahun 2011, menjadi tumbuh sebesar 5,1% di tahun

Indonesia was also affected by the global crisis in 2012. Gross Domestic Product (GDP) grew only 6.23% in 2012, lower than the government's target of 6.8%. Indonesia’s export declined with 2% of annual growth in 2012, lower than the performance in 2011 which recorded 29% annual growth. Tourism sector also suffered growth slowdown. The number of foreign visitors growth declined from 8.5% in 2011 to 5.1% in 2012.

Operasi Grup mungkin akan terpengaruh oleh pelemahan kondisi keuangan global apabila hal ini terus berlangsung dan berkepanjangan di tahun-tahun mendatang. Perbaikan dan pemulihan ekonomi tergantung pada beberapa faktor, seperti situasi politik, stabilitas nasional, kebijakan fiskal dan moneter yang ditentukan oleh Pemerintah dan pihak lainnya, dimana hal tersebut berada di luar kendali Grup.

Group's operations may be affected by the weakening global financial situation if it continued and extended in the coming years. Improvement and economic recovery depends on several factors, such as the political situation, national stability, fiscal and monetary policies set by the Government and other parties, which are beyond the Group’s control.

Oleh itu, untuk mengantisipasi dampak dari pelemahan kondisi keuangan dan kelangsungan pengembangan proyek Grup, manajemen Grup telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Therefore, to anticipate the impact of the weakening global financial condition and the continuation of the Group’s project, Management of the Group has taken the following measures:

a. efisiensi biaya-biaya operasional;

b. meningkatkan profesionalisme karyawan dan manajemen;

c. mencari investor strategis untuk mempercepat pengembangan usaha;

d. mencari peluang pengembangan proyek properti diluar wilayah Jakarta; dan

e. melakukan akuisisi atas perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama dengan Grup dan memiliki persediaan tanah yang belum dikembangkan dalam jumlah yang besar.

a. increasing cost efficiencies;

b. improving the professionalism of employees and the management;

c. Finding strategic partner to accelerate projects development;

d. Search for property development opportunities projects outside Jakarta area; and

e. acquiring companies in the same field with the Group and have a large number of land banks.

Walaupun kondisi keuangan global mengalami pelemahan, manajemen berpendapat bahwa Grup akan dapat terus melanjutkan operasi bisnisnya di masa mendatang. Oleh karena itu, laporan keuangan disusun dengan menggunakan basis usaha yang berkelanjutan.

Although the global financial condition is weakening, the management believes that the Group can continue its operation in the future. Thus, the financial statements have been prepared based on going concern basis.

Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 (1 Januari 2011/31 Desember 2010), beberapa Entitas Anak mengalami akumulasi kerugian bersih dan defisiensi modal. Jumlah akumulasi rugi Entitas Anak tersebut tersebut pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 (1 Januari 2011/31 Desember 2010) adalah sebesar Rp 1,44 triliun dan Rp 1,50 triliun (Rp 1,56 triliun) dan defisiensi modal pada tahun yang sama sebesar Rp 540,94 miliar dan Rp 145,91 miliar (Rp 72,76 miliar), terdiri dari:

As of December 31, 2012 and 2011 (January 1, 2011/ December 31, 2010), certain Subsidiaries were in deficit which resulted in accumulated losses and capital deficiency. Total deficit from the Subsidiaries as of December 31, 2012 and 2011 (January 1, 2011/ December 31, 2010) amounted to Rp 1.44 trillion, Rp 1.50 trillion (Rp 1.56 trillion) and capital deficiency

are amounted to Rp 540.94 billion and

Rp 145.91 billion (Rp 72.76 billion), comprising of:

1 Januari 2011/ 31 Desember 2010 31 Desember 2012/ 31 Desember 2011/ January 1, 2011

December 31, 2012 December 31, 2011 December 31, 2010

Akumulasi rugi Accumulated losses

PT Bakrie Swasakti PT Bakrie Swasakti

Utama (926.591.081.728 ) (1.161.763.009.285 ) (1.306.089.772.046 ) Utama PT Bakrie Nirwana

Semesta (219.427.253.682 ) - - PT Bakrie Nirwana Semesta

BLD Investment Pte. Ltd. (198.845.129.491 ) - - BLD Investment Pte. Ltd. PT Bakrie Infrastructure (58.561.559.617 ) (286.725.946.456 ) (80.080.110.551 ) PT Bakrie Infrastructure

PT Krakatau Lampung PT Krakatau Lampung

Tourism Development (29.128.130.383 ) (26.814.083.295 ) (24.450.408.121 ) Tourism Development

PT Bakrie Sentra PT Bakrie Sentra

Investama (2.431.067.576 ) (1.889.756.937 ) (1.127.754.736 ) Investama PT Citrasaudara Abadi (448.290.505 ) (353.615.322 ) (270.002.745 ) PT Citrasaudara Abadi PT Bukit Jonggol Asri - - (122.744.301.226 ) PT Bukit Jonggol Asri PT Bumi Daya Makmur - (12.238.770.729 ) (17.788.019.720 ) PT Bumi Daya Makmur

1 Januari 2011/ 31 Desember 2010 31 Desember 2012/ 31 Desember 2011/ January 1, 2011

December 31, 2012 December 31, 2011 December 31, 2010

PT Superwish Perkasa - (11.126.118.648 ) (8.739.384.510 ) PT Superwish Perkasa

PT Bakrie Pangripta PT Bakrie Pangripta

Loka - (1.088.525.393 ) - Loka

Jumlah (1.435.432.512.982 ) (1.501.999.826.065 ) ( 1.561.289.753.655 ) Total

Defisiensi modal Capital Deficiencies

PT BLD Investment PT BLD Investment

Pte Ltd. (483.859.066.440 ) (127.357.783.932 ) (56.548.085.310 ) Pte Ltd.

PT Krakatau Lampung PT Krakatau Lampung

Tourism Development (20.885.978.508 ) (18.550.040.170 ) (16.216.574.921 ) Tourism Development PT Bakrie Infrastructure (36.193.002.166 ) - - PT Bakrie Infrastructure

Jumlah (540.938.047.114 ) (145.907.824.102 ) (72.764.660.231 ) Total

Pemenuhan likuiditas Grup atas biaya investasi dan pengeluaran barang modal yang terkait dengan perluasan bisnis properti dan infrastruktur yang berhubungan dengan properti terutama berasal dari utang bank jangka pendek, utang bank dan lembaga keuangan jangka panjang dan utang obligasi dan sukuk dalam mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat dengan jumlah keseluruhan sebesar Rp 3,35 triliun pada tanggal 31 Desember 2012.

The fullfilment of the Group’s liquidity for cost of investment and capital expenditure relating to the expansion of business property and property related infastructure mainly are financed from short-term bank loans, long-term bank and financial institutions loans and bonds in Rupiah and United States Dollar totaling of Rp 3.35 trillion as of December 31, 2012.

Dari jumlah keseluruhan utang tersebut, yang akan jatuh tempo pada tahun 2013 adalah sebesar Rp 2,55 triliun. Pada tanggal 31 Desember 2012, Grup mencatat kas sebesar Rp 268,37 miliar atau 10,5% dari utang yang akan jatuh tempo tersebut.

From the total loans, the current maturities of the loans which will be due in 2013 amounted to Rp 2.55 trillion. On December 31, 2012 the Group recorded cash amounting to Rp 268.37 billion or equivalent 10.5% of the current maturities of the stated current maturity loans.

Agar operasional Grup dapat berjalan dengan baik, Entitas Induk telah merencanakan dan meneruskan tindakan-tindakan sebagai berikut:

In order to assure that Group have good prospects, the Company has planned and continuously implement the following:

a. Dalam upaya meningkatkan likuiditas Grup, Entitas Induk berencana mendapatkan fasilitas pinjaman baru dengan bunga yang lebih rendah serta melakukan divestasi atas aset yang memiliki tingkat pengembalian rendah danturnoveryang lambat; b. Untuk kewajiban yang jatuh tempo dalam jangka

pendek, Entitas Induk mengupayakan pembayaran sebagian kewajiban yang bersumber dari kas internal, serta melakukan refinancing dan negosiasi atas sebagian utang yang akan jatuh tempo; dan

a. As an effort to improve the Group’s liquidity, the Company plans to obtain new loan facility with lower interest rate and to divest the assets that have low rate of return and slow turnover;

b. For obligations due in short term, the Company plans to make repayment partially from internal cash and take refinancing scheme and also negotiate on the debt that will mature; and

c. Di masa depan Grup akan lebih memfokuskan pengembangan usahanya pada proyek-proyek yang memiliki profitabilitas tinggi dan tingkat pengembalian cepat, meningkatkan kinerja usaha serta meningkatkan efisiensi biaya.

c. In the future, Group will focus its efforts on development new projects that have high profitability and quick yield, improve business performance and also improve cost efficiency.

a. Pada bulan Maret 2013, Entitas Induk telah melunasi Obligasi I Bakrieland Development tahun 2008 dengan Tingkat Bunga Tetap (”Obligasi I BLD”) Seri B sebesar Rp 280 miliar.

a. In March 2013, the Company has paid Bakrieland Development Bonds I Year 2008 with Fixed Rates (“BLD Bonds I”) of B Series amounted to Rp 280 billion.

b. Pada bulan Maret 2013, Entitas Induk memperoleh fasiltas pinjaman dari PT Bank Sinarmas dengan jumlah pagu maksimum sebesar Rp 10 miliar dengan tingkat bunga sebesar 15% per tahun dan jatuh tempo selama 3 bulan.

b. In March 2013, the Company obtain a loan facility from PT Bank Sinarmas with credit ceiling of Rp 10 billion and bear annual interest rate of 15%. This loan will due in 3 months.

c. Pada bulan Maret 2013, Entitas Induk memperoleh fasiltas pinjaman dari PT AB Sinar Mas Multifinance dengan jumlah pagu maksimum sebesar Rp 315 miliar dengan tingkat bunga sebesar 21% per tahun dan jatuh tempo selama 3 bulan.

c. In Maret 2013, the Company obtain a loan facility from PT AB Sinar Mas Multifinance with credit ceiling of Rp 315 billion and bear annual interest rate of 21%. This loan will due in 3 months.

d. Pada tanggal 20 Maret 2013, para pemegang obligasi telah melaksanakan put option dengan jumlah sebesar US$ 151 juta atau 97,4% dari jumlah obligasi yang diterbitkan, yang informasinya diterima dari Euroclear Bank S.A./N.V. dan Clearstream Banking. Saat ini Perusahaan tengah melakukan proses restrukturisasi bersama-sama dengan beberapa pemegang obligasi yang ditunjuk oleh para pemegang obligasi sebagaiCoordinating Committee.

d. On March 20, 2013, the bondholders have exercised its put option with a total redemption of US$ 151 million or equal to 97.4% of the total bond issued, which the information received through Euroclear Bank S.A./N.V. and Clearstream Banking. The Company is currently undertaking a restructuring process together with some of the bondholders appointed as Coordinating Committee by the bondholders.

Manajemen Entitas Induk telah berdiskusi aktif dengan coordinating committee (Co-Com) yang terdiri dari pemegang obligasi yang utama untuk melakukan penjadwalan obligasi sesuai dengan jangka waktu yang disepakti.

The Company’s management has an active discussion with coordinating committee which is consists of key bondholders to rescheduling the bonds on agreed term.

Konsultan legal berkeyakinan bahwa tidak ada indikasi kemungkinan timbulnya litigasi dari pemegang obligasi karena adanya diskusi restrukturisasi dengan Co-Com dengan penjadwalan kewajiban Entitas Induk dapat dicapai tanpa adanya litigasi.

Legal consultant believes that there is no indication of the possibility of litigation from bondholders due to restructuring discussions with the Co-Com with scheduling obligations of the Company can be reached without litigation.

e. Pada tanggal 28 Maret 2013, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. melalui suratnya No. LMCI/3.4/123/R memberitahukan bahwa utang bank Entitas Induk sebesar Rp 44 miliar telah dialihkan kepada Starlight Ltd. sehingga Entitas Induk tidak mempunyai kewajiban pembayaran kepada BNI.

e. On March 28, 2013, PT Bank Negara Indonesia

(Persero) Tbk. through its letter

No. LMCI/3.4/123/R announced that the Company's bank loans amounted to Rp 44 billion has been transferred to the Starlight Ltd. therefore the Company has no payment obligation to the BNI.

f. Pada tanggal 5 April 2013, PT Graha Andrasentra Propertindo (GAP) telah menjual 15% saham PT Bukit Jonggol Asri (BJA) kepada PT Sentul City Tbk.

f. On April 5, 2013, PT Graha Andrasentra Propertindo (GAP) has sold 15% shares of PT Bukit Jonggol Asri (BJA) to PT Sentul City Tbk.

Dana tersebut digunakan Entitas Anak untuk pembayaran utang pajak dan pengembalian pinjaman kepada PT Bakrieland Development Tbk., Entitas Induk.

A Subsidiary used the funds for payment of tax payable and loan repayment to PT Bakrieland Development Tbk., the Company.

g. Pada tanggal 15 April 2013, PT Bakrie Nirwana Semesta (BNS), Sugilite Company Limited (SCL) dan PT Pratama Prima Investama, pihak ketiga, menandatangani Perjanjian Pokok Jual Beli Saham dan Pembentukan Badan Usaha (Perjanjian). Dalam perjanjian tersebut para pihak sepakat untuk melakukan jual beli atas saham PT Bali Nirwana Resort yang dimiliki oleh BNS dan SCL, serta secara bersama-sama membentuk badan hukum yang akan memiliki dan mengelola sarana dan prasarana hotel dan golf. BNS dan SCL mendapatkan dana sebesar Rp 700 miliar digunakan untuk pembayaran uang muka proyek residensial yang berlokasi di Bogor.

g. On April 15, 2013, PT Bakrie Nirwana Semesta (BNS), Sugilite Company Limited (SCL) and PT Pratama Prima Investama, a third party, signed Head of Agreement on the Sale and Purchase of Shares and the Establishment of Business Entity (Agreement). In the agreement the parties agree to conduct the sale and purchase of the shares of PT Bali Nirwana Resort owned by BNS and SCL, and jointly establish business entity that will own and manage infrastructure and facilities of hotel and golf. BNS and SCL obtained the proceeds of Rp 700 billion which is use for advance payment of investment in residential project located in Bogor.

h. Pada tanggal 19 April 2013, PT Bakrie Infrastructure (BI) telah menandatangani Akta Jual Beli atas penjualan investasi BI di PT Bakrie Toll Road (BTR), sebagaimana termuat dalam Akta Notaris Humberg Lie, S.H., SE., Mkn., No. 97 tanggal 19 April 2013, dengan PT Karya Prima Investama, pihak ketiga, pihak yang menerima pengalihan dari PT Zulam Alinda Sejahtera. Menindaklanjuti pengalihan saham tersebut telah efektif pada tanggal 19 April 2013 berdasarkan Akta Pengalihan Saham yang ditandatangani pada hari yang sama.

h. On April 19, 2013, PT Bakrie Infrastructure (BI) has signed the Deed of Sale and Purchase Agreement, on the sale of investments of BI in PT Bakrie Toll Road (BTR) as stated in Notarial Deed No. 97 dated April 19, 2013 of Humberg Lie, S.H., SE., Mkn., with PT Karya Prima Investama, third party, the transferee of PT Zulam Alinda Sejahtera. The effective date of the share transfer on April 19, 2013 based on the notarized Sales and Purchase Agreement signed on the same date.

i. Pada tanggal 2 Januari 2013 dan 30 April 2013, PT Bali Nirwana Resort (BNR), Entitas Anak, telah melunasi kewajiban atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebesar Rp 5,49 miliar (lihat Catatan 26 butir h).

i. On January 2, 2013 and 30 April 2013, PT Bali Nirwana Resort (BNR), a Subsidiary, has settled liability for the underpayment tax assessment letter amounted to Rp 5.49 bilion (see Note 26 point h).

j. Selama periode 11 Januari 2013 sampai dengan 8 Mei 2013, GAP telah melunasi kewajiban atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar untuk tahun pajak 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp 30,12 miliar dan Rp 32,39 miliar (lihat Catatan 26 butir h).

j. During period of January 11, 2013 until May 8, 2013, GAP has settled liability for the underpayment tax assessment letter for the fiscal year 2010 and 2009 amounted to Rp 30.12 billion and Rp 32.39 billion, respectively (see Note 26 point h).

k. Efektif 30 Januari 2013, Santoso Budi sebagai Sekretaris Perusahaan telah mengundurkan diri, oleh sebab itu, mulai tanggal tersebut Sekretaris Entitas Induk dijabat oleh Kurniawati Budiman.

k. Effective January 30, 2013, Santoso Budi has resigned as the Company’s Corporate Secretary, therefore, starting that date, the Company’s Corporate Secretary held by Kurniawati Budiman. l. Pada bulan Maret 2013, BSU memperoleh fasilitas

pinjaman dari PT Bank Mutiara Tbk. dengan jumlah pagu maksimum sebesar Rp 90 miliar dengan tingkat bunga sebesar 12,5% per tahun dan jatuh tempo selama 60 bulan.

l. In March 2013, BSU obtain a loan facility from PT Bank Mutiara Tbk. with credit ceiling of Rp 90 billion and bear annual interest rate of 12.5%. This loan will due in 60 months.

m. Pada bulan Mei 2013, GAP memperoleh fasilitas pinjaman dari PT Bank Bukopin Tbk. dengan jumlah pagu maksimum sebesar Rp 75 miliar dengan tingkat bunga sebesar 11% per tahun dan jatuh tempo selama 96 bulan.

m. In May 2013, GAP obtain a loan facility from PT Bank Bukopin Tbk. with credit ceiling of Rp 75 billion and bear annual interest rate of 11%. This loan will due in 96 months.

Dokumen terkait