PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
2. Implementasi Humas Eksternal
Di sekolah dikenal adanya kegaitan publisitas keluar (eksternal) dan publisitas kedalam (internal) seperti yang dikemukakan oleh Suryosubroto199 berikut.
a. Kegiatan publisitas keluar ( Eksternal)
Kegiatan ini selalu ditunjukkan kepada publik atau masyarakat diluar sekolah. Terdapat dua kegiatan yang dapat dilakukan, yakni kegiatan tidak langsung dan kegiatan langsung atau tatap muka. Kegiatan tidak langsung adalah kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat melaui perantaraan media tertentu, misalnya melalui televisi, radio, media cetak, pameran, dan
penerbitan majalah. Kegiatan langsung atau tatap muka adalah kegiatan yang dilaksanakan secara langsung misalnya rapat dengan pengurus BP3 (badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan), konsultasi dengan tokoh masyarakat, dan melayani kunjungan tamu.
1) Penyebaran informasi melalui televisi
Berhasil atau tidaknya penyebaran informasi melalui televisi sebagai media publisitas sekolah bergantung pada program yang telah disiapkan. Dalam program tersebut telah disusun hal hal atau pokok-pokok permasalahan yang akan disajikan kepada pemirsa. Oleh sebab itu penyampaian informasi melalui televisi memerlukan persiapan yang lebih matang daripada melalui radio karena tingkah laku pembicara dapat dilihat publik. Nada dan cara berbicara pun perlu diperhatikan. Selain itu pakaian harus serasi serta gerak dan sikap harus sopan. Dari proses penyebaran informasi melalui televisi akan diperoleh suatu keuntungan yang mana melalui televisi diharapkan semua program kegiatan sekolah dapat dimengerti orang tua siswa dan masyarakat. Dengan dmeikian orang tua dan masyarakat bersedia mendukung serta berpartisipasi, baik partisipasi moral maupun materil.
Penyampaian informasi melalui media televisi dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, antara lain ceramah, wawancara, cerama dengan alat peraga, diskusi, sandiwara, cerdas tangkas, dan kegiatan kesenian.
2) Penyebaran informasi melalui radio
Radio merupakan media yang sangat penting karena siarannya mampu menjangkau masyarakat luas. Oleh karena itu sekolah dapat memanfaatkan hal
penting, seperti waktu pendaftaran siswa baru, kegiatan pendidikan yang dilakukan, atau data sekolah, dapat diinformasikan kepada masyarakat luas melalui radio. Berikut ini beberapa kebaikan penyiaran informasi melalui radio, diantaranya adalah teks yang akan disiarkan dapat dipersiapkan dengan baik sebelum waktu penyiaran, tidak dipengaruhi faktor komunikator, seperti sikap dan tingkah laku, dapat dibantu latar belakang musik, dan dapat melalui batas ruang, waktu, serta jangkauan yang luas.
3) Penyebaran informasi melalui media cetak
Media cetak adalah surat kabar, majalah, buletin, dan sebagainya. Dan semua itu disebut dengan pers. Dalam hubungan dengan kegiatan humas atau publisitas, pers dikatakan sebagai penyebar informasi yang berguna. Menyebarkan berita melalui media cetak mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya adalah dapat mencapai publik yang sangat luas, dapat secara mendadak dipelajari oleh publik bersangkutan, dan dapat diharapkan umpan balik dari publik yang jumlahnya sangat banyak.
Di samping terdapat beberapa keuntungan, media cetak juga mempunyai fungsi yang sangat luas. Di antaranya yaitu, fungsi menyiarkan informasi yang merupakan fungsi utama dari media cetak. Pada hakekatnya manusia membeli surat kabar karena merasa dirinya membutuhkan informasi mengenai berbagai hal atau peristiwa. Lalu fungsi berikutnya adalah fungsi mendidik, dalam media cetak fungsi mendidik bersifat implisit, antara lain berbentuk berita, artikel, tajjuk rencana dan berita bergambar.
Media cetak juga berfungsi menghibur, media cetak mampu memberikan hiburan dan refershing bagi pembaca untuk mengimbangi berita berita yang berat serta untuk melemaskan ketegangan pikiran. Media cetak yang bersifat menghibur dapat berupa cerita pendek, teka teki, cerita bersambung, karikatur, dan sebagainya. Lalu fungsi yang terakhir adalah fungsi mempengaruhi. Dalam surat kabar, fungsi mempengaruhi secara implisit terdapat dalam berita, sedangakan secara eksplisit terdapat dalam tajuk rencana dan artikel.
4) Pelaksanaan Pameran di Sekolah
Pameran adalah sebuah arena atau ajang untuk mempertunjukkan hasil pekerjaan dan perkembangan siswa serta kemajuan sekolah kepada warga sekolah pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Persiapan yang perlu dilakukan untuk mengadakan pameran disekolah antara lain, pembuatan brosur, pembuatan poster atau gambar, pembuatan rencana tertulis secara seksama dan terinci, pembelian barang atau bahan yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan, penyeleksian, pengaturan dan pemeliharaan bahan bahan pameran, pengadaan latihan yang cukup bagi siswa yang akan menjadi petugas pameran.
5) Penerbitan majalah
Maksud diterbitkannya majalah atau buletin sekolah adalah agar semua karya dan kegiatan sekolah dapat ditunjukkan kepada masyarakat umum diluar sekolah. Majalah atau buletin tersebut dapat diisi dengan berita berita sekolah atau artikel artikel karya warga sekolah.
Adapun kegiatan dan publisitas eksternal humas di SLBN Batu dalam membangun citra positif diimplementasikan dalam berbagai kegiatan yang melibatkan publik eksternal. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain, meliputi: a) Pertemuan Orang Tua Siswa, b) Rapat Perdana Walimurid, c) Kehadiran Anak di Sekolah, d) Promosi SLB, e) Menyelenggarakan Hari Pendidikan dan Hari Nasional, f) Partisipasi Orang Tua Dalam Study Tour Siswa, g) Mengundang publik eksternal dalam HUT Sekolah, g) Pentas Seni Siswa dalam Kegiatan Pemkot Batu, h) Pameran Prestasi dan Karya Siswa. Kegiatan-kegiatan tersebut yang diselenggarakan tersebut berfungsi untuk memberikan penerangan dan pemahaman kepada publik eskternal tentang sekolah luar biasa negeri Batu. Pemahaman di sini maksudnya, pemahaman tentang apa itu sekolah luar biasa berikut kurikulum, program dan berbagai kegiatan di dalamnya. Dengan adanya pemahaman, maka akan terwujud penerimaan, dukungan, good relations, dan kerjasama yang baik dan bermanfaat antara SLBN Batu dengan publik eksternalnya.
Kegiatan humas eksternal SLBN Batu tersebut bila ditinjau dari jenis humas sesuai dengan pendapat Ngalim Purwanto. Adapun Ngalim Purwanto200 mengklasifikasi hubungan sekolah dengan masyarakat ke dalam tiga jenis hubungan, yaitu:
a. Hubungan edukatif.
Hubungan edukatif ialah hubungan kerjasama dalam hal mendidik murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya
200 Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2014), hlm. 194-195.
hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan keragu-raguan pendirian dan sikap pada diri anak/murid. Antara sekolah yang diwakili oleh guru dan orang tua tidak saling berbeda atau berselisih paham, baik tentang norma-norma etika maupun norma-norma sosial yang hendak ditanamkan pada anak-anak didik mereka. Juga kerjasama dalam berusaha memenuhi fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk belajar di sekolah maupun di rumah, dalam memecahkan masalah-masalah yang menyangkut kesulitan belajar atau kenakalan anak-anak. Cara kerjasama tersebut dapat direalisasikan dengan mengadakan pertemuan yang direncanakan secara periodik antara guru-guru di sekolah dengan para orang tua murid sebagai anggota BP3 atau POMG. Di samping itu dapat pula digunakan dengan anjang sana oleh guru-guru ke rumah orang tua murid di luar waktu sekolah. Jika hal itu tidak dimungkinkan, dapat pula dengan mengadakan pertemuan antara guru-guru dengan orang tua murid per kelas untuk mengadakan dialog terbuka mengenai masalah-masalah pendidikan yang sering terdapat di sekolah dan di dalam keluarga, dan bagaimana cara mengatasinya.
d. Hubungan kultural.
Hubungan kultural adalah usaha kerjasama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Kita mengetahui bahwa sekolah merupakan suatu lembaga yang seharusnya dapat dijadikan barometer bagi maju-mundurnya kehidupan, cara berpikir, kepercayaan, keseniaan,
adat-istiadat dari masyarakat lingkungan sekolah itu. Bahkan yang lebih diharapkan ialah hendaknya sekolah itu dapat merupakan titik pusat dan tempat terpancarnya norma-norma kehidupan (norma-norma agama, etika, sosial, estetika, dsb.) yang baik bagi kemajuan masyarakat yang selalu berubah dan berkembang maju. Jadi, bukanlah sebaliknya sekolah hanya mengintroduksikan apa yang hidup dan berkembang di masyarakat.
Untuk itu diperlukan adanya hubungan kerjasama yang fungsional antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan-kegiatan kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Demikian pula tentang pemilihan bahan pengajaran dan metode-metode mengajarnya. Oleh karena itu, tidak mustahil untuk menjelmakan hubungan sama ini, sekolah harus mengerahkan murid-muridnya untuk membantu kegiatan-kegiatan sosial yang diperlukan masyarakat.
e. Hubungan institusional
Hubungan Institusional yakni hubungan kerjasama antara dengan lembaga-lembaga atau instansi-instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah. Seperti hubungan kerjasama antara sekolah dengan sekolah-sekolah lain, dengan kepala pemerintahan setempat, jawatan penerangan, jawatan pertanian, perikanan dan peternakan, dengan perusahaan-perusahaan negara atau swasta, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa meskipun SLBN Batu belum memiliki divisi khusus yang menangani humas namun pada
realitasnya SLBN Batu sebenarnya sudah melaksanakan kegiatan-kegiatan kehumasan baik internal dan eksternal. Hal ini bisa dilihat dari berbagai hubungan dan kerjasama yang telah dilakukan SLBN Batu dalam membangun citra positif sekolah luar biasa seperti yang telah peneliti paparkan di atas. Serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan SLBN Batu tersebut sejalan dengan teori-teori yang berkenaan dengan kegiatan dan publisitas humas khususnya yang telah dikemukakan oleh Ngalim Purwanto.
2. Strategi Operasional Humas Dalam Membangun Citra Positif Sekolah