Implementasi kebijakan wisata khususnya wisata bahari belum optimal sebagai akibat dari rendahnya perhatian pemerintah pada sektor ini. Kalau kita berpijak dan merujuk pada pada arah kebijakan pengembangan parawisata bahari menurut UU No 9 Tahun 1990, maka implementasi kebijakan ekowisata ditanah air sangat jauh dari harapan misalnya persoalan penyediaan prasarana dan sarana public yang akan menciptakan pelayanan dan kenyamanan hakiki bagi wisatawan mancanegara dan domestic yang akan memanfaatkan sumberdaya parawisata bahari masih sangat kurang; ditambah lagi adanya kondisi ini juga tidak kondunsif diantaranya rasa tidak aman yang membuat parawisatawan enggang untuk berkunjung disamping itu yang paling mencekam akhir-akhir ini adalah
banyaknya kecelakaan terutama dalam dunia trasnportasi laut yang tidak memenuhi standar kelayakan keselamatan mulai dari persoalan alat transportasi yang berusia diatas 10 tahun, sumberdaya manusia yang masih rendah, sistem dan pola pelayanan yang masih berorientasi profit misalnya dengan kelebihan muatan dan lain sebaginya. Keterbatasan anggaran dan perhatian kerap dijadikan sebagai sumber masalah sebagai akibat dari rendahnya perhatian pemerintah terhadap perwisataan khususnya ekowisata bahari.
Disamping itu rendahnya kualitas dan kapasitas sumber daya manusia yang berkiprah dalam mengelola dan parawisata bahari; kurangnya system pendataan dan informasi yang lengkap dengan memanfaatkan teknologi yang modern, sehingga sulit wisatawan mendapatkan informasi dan akses yang cepat, mudah serta murah. Rendahnya system pendataan dan informasi ini sekaligus berdampak pada berkurangnya dukungan kegiatan promosi dan investasi di bidang parawisata bahari, dengan demikian aktivitas ekonomi non parawisata yang memiliki keterkaitan dengan kegiatan parawisata bahari, misalnya industri kerajinan, perikanan, restoran, semisal sea food, dan jasa angkutan laut juga tidak jalan sebagaimana yang kita harapkan. Penerapan insentif dalam dunia investasi parawisata bahari seharusnya dapat mendorong pengembangan ekowisata di tabah air. Aturan insentif yang selama ini dilakukan tidak dapat menggairahkan iklim investasi karena pada taraf implemnetasi antara kebijakan dan aktualnya dilapangan justru berbeda.
Kebijakan sektor parawisata kita di duga tidak dibarengi dengan kajian yang mendalam yang dimulai dari identifikasi issu sampai formulasi kebijakan, hal ini didasarkan pada implementasi kebijakan yang masih rendah. Kami yakin bahwa jika suatu kebijakan yang dihasilkan dari hasil kajian secara akademik akan memberikan hasil yang memadai, dasar yang lain kebijakan di pusat tidak dibarengi dengan terbitnya peraturan daerah yang mempu memberikan status hukum secara tegas pada daerah-daerah konservasi untuk dijadikan sebagai kawasan ekowisata. Kalau kita bayangkan bagaimana jika seandainya setiap tempat atau lokasi kawasan konservasi sekaligus bisa dijadikan sebagai kawasan ekowisata yang didukung dengan implementasi arah kebijakan tadi, maka dapat
dipastikan bahwa Indonesia akan menjadi pusat ekowisata dunia yang mempunyai boversity yang sangat tinggi.
Kalau kita lihat dari aspek pengelolaan ekowisata bahari yang merupakan suatu konsep pengelolaan yang memprioritaskan kelstarian dan memanfaatkan sumberdaya alam dan budaya masyarakat. Konsep pengelolaan tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan tetapi lebih dari pada itu yaitu mempertahankan nilai sumberdaya alam dan manusia. Agar nilai-nilai tersebut terjaga, maka pengusahaan ekowisata tidak melakukan eksploitasi akan tetapi hanya menggunakan jasa alam dan budaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan fisik, pengetahuan dan psikologis pengunjung. Dengan demikian ekowisata bukan menjual tempat (destinasi) atau kawasan melainkan menjual filosofi. Hal ini membuat ekowisata mempunyai nilai lestari dan tidak akan mengenal kejenuhan pasar.
Dengan asumsi pemerintah dan masyarakat dapat memberikan situasi yang kondunsif bagi wisatawan dan investor untuk masuk dalam sektor parawisata bahari. Pertanyaanya sekarang apakah sudah sesuai dengan proyeksi dengan hasil yang dicapai, kalau tidak ada masalah apa dan dimana kelemahannya, hal ini perlu kajian secara mendalam untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Kelly (1998) mengutarakan klasifikasi bentuk wisata yang dikembangkan berdasarkan pada bentuk utama atraksi (attractions) atau daya tariknya yang kemudian ditekankan pada pemasarannya. Bentuk wisata tersebut antara lain berupa: ekowisata (ecoturism), wisata alam (nature tourism), wisata pertualangan (adventure tourism), wisata berdasarkan waktu (getaway and stay), dan wisata budaya (cultural tourism).
Apalagi kawasan konservasi laut di Indonesia masih sangat besar peluang dikembangkan, luas KKL yang ideal adalah 20 – 30% luas total kawasan laut yang dimiliki oleh suatu kabupaten/kota, propinsi atau negara. Di Indonesia dikenal 4 macam KKL yaitu Taman Nasional Laut, Taman Wisata Laut, Marga Satwa Laut dan Suaka Alam Laut.dan pada tahun 2000 terdapat 43 KKL dengan total luas 5,7 juta ha. Sedangkan masih banyak daerah-daerah lain yang membutuhkan kawasan konservasi laut (Marine Protected Area).
Sektor kepariwisataan menunjukkan perkembangan dan kontribusi ekonomi yang cukup menarik dibandingkan dengan sektor lain disaat Indonesia menghadapi masa krisis yang berkepanjangan. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 4.606.416 (rata-rata hari kunjungan 9.18 hari/orang) di tahun 1998 meningkat menjadi 5.064.217 orang dengan jumlah hari kunjungan 12,26 hari/orang pada tahun 2000 sebesar 5.75 milyar US$. Hal ini menunjukkan bahwa kepariwisataan sangat potensial untuk dikembangkan. Pembangunan pariwisata bahari yang optimal dan berkelanjutan dapat tercapai jika memperhatikan empat aspek, yaitu: (1) mempertahankan kelestarian dan keindahan lingkungan, (2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan tersebut, (3) menjamin kepuasan pengunjung, dan (4) meningkatkan keterpaduan dan unity pembangunan masyarakat di sekitar kawasan dan zona pengembangannya (Gunn, 1994).
Pariwisata adalah industri yang sangat penting di dunia. Hal ini terbukti dari jumlah pekerja yang bergerak di sektor ini di seluruh dunia lebih dari 10% dan memiliki 11% dari jumlah GDP dunia. Jumlah ini diprediksikan akan terus meningkat menjadi 1,6 milyar US$ di tahun 2020. (WWF International, 2001). Pembangunan pariwisata ke arah pembangunan berkelanjutan adalah hal yang paling penting dalam penanganan sektor pariwisata. Hal ini disebabkan oleh permintaan pariwisata yang terus meningkat seiring dengan peningkatan penduduk, tetapi sebaliknya kondisi alam mengalami penurunan. Agar penanganan pariwisata bisa memenuhi kebutuhan generasi mendatang, maka pengembangan pariwisata diharapkan dapat meningkat secara berkelanjutan.
Hardinoto (1996), berpendapat bahwa pengembangan pariwisata bisa mengentaskan kemiskinan daerah. Hal ini dapat terjadi karena pariwisata menyangkut banyak bidang seperti pertanian, perikanan, peternakan, dan lain sebagainya yang dapat dihasilkan masyarakat di daerah tujuan wisata. Perbaikan pendapatan dapat seiring dengan perbaikan kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.
2.10. Model Keberlanjutan Pengelolaan Wisata Bahari Pulau-Pulau Kecil