• Tidak ada hasil yang ditemukan

Matriks 3. Pencapaian Cakupan K4 (Kunjungan Keempat)

5.1 Implementasi Kebijakan Jampersal (Jaminan Persalinan)

Pengertian Implementasi kebijakan adalah tindakan-tindakan yang dilakukan pejabat-pejabat pemerintah baik secara individu atau kelompok yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan sebagaimana yang telah dirumuskan dalam kebijakan (Van Meter dan Van Horn dalam Wahab, 2005). Proses implementasi baru akan dimulai apabila tujuan dan sasaran telah ditetapkan, kemudian program kegiatan telah tersusun dan dana telah siap untuk proses pelaksanaannya dan telah disalurkan untuk mencapai sasaran atau tujuan kebijakan yang diinginkan. Kebijakan biasanya berisi suatu program untuk mencapai tujuan, nilai-nilai yang dilakukan melalui tindakan-tindakan yang terarah. Apabila program atau kebijakan sudah dibuat maka program tersebut harus dilakukan oleh para mobilisator atau para aparat yang berkepentingan.

Implementasi kebijakan Jampersal adalah tindakan yang dilakukan pejabat-pejabat pemerintah dalam memberikan jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Tujuannya untuk mempermudah akses ibu hamil dalam mendapatkan pelayanan ANC dan pertolongan persalinan yang hygienis oleh tenaga kesehatan yang terlatih baik persalinan normal maupun dengan penyulit. Hal ini dilakukan untuk mengatasi hambatan biaya

persalinan yang sering menjadi masalah pada kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, Sehingga tujuan utama yaitu upaya penurunan AKI yang disebabkan beberapa faktor resiko keterlambatan (Tiga Terlambat), di antaranya terlambat dalam pemeriksaan kehamilan (terlambat mengambil keputusan), terlambat dalam memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan, dan terlambat sampai difasilitas kesehatan pada saat dalam keadaan emergensi dapat tercapai.

Dari hasil penelitian yang didapat dari informan kunci dan informan pokok, bahwa manfaat yang dilaksanakan hanya mencakup pemeriksaan ibu hamil dan persalinan, sedangkan manfaat lainnya seperti pelayanan nifas termasuk KB pasca melahirkan, dan pelayanan bayi baru lahir masih belum terlaksana, terlihat dari pernyataan informan pokok pada Tabel Matriks 5, yang menyatakan menerima manfaat pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan saja. Prosedur mengurus Jampersal di Puskesmas Panei Tongah Kecamatan Panei, cukup mudah hanya melampirkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga). Jika, masyarakat tidak memiliki KTP ataun KK, pemerintah setempat memberikan kemudahan untuk mengurus resi atau surat keterangan mengurus KTP atau KK dari kelurahan, sehingga masyarakat yang ingin mengurus Jampersal (informan pokok) tidak merasa sulit dalam mengurus kepesertaan Jampersal.

Respon masyarakat terhadap kebijakan Jampersal baik dari sisi informan kunci dan informan pokok, sangat baik, walaupun pada awalnya masyarakat pengguna (informan pokok) masih merasa ragu dengan program tersebut, tetapi setelah menggunakan manfaat yang di dalam Jampersal mereka merespon dengan

baik. Ketidakpercayaan yang dialami oleh masyarakat di Puskesmas Panei Tongah yaitu kurangnya informasi mengenai Jampersal, sehingga pengetahuan mereka tentang Jampersal rendah dan memengaruhi tindakan mereka dalam menggunakan Jampersal, hal ini sesuai dengan teoripara ahli dalam Akhmad Zaeni (2006) yang menyatakan bahwa komunikasimerupakan salah satu faktor yang sangat menentukan efektivitas implementasi kebijakan serta merupakan sarana untuk menyebarluaskan informasi, baik komunikasi dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, maupun secara horizontal, yang hal ini merupakan modal yang sangat menentukan berhasil tidaknya implementasi kebijakan Jampersal. Begitu juga menurut Lawrence green dalam Notoadmodjo (2007), bahwa pengetahuan mendasari perilaku seseorang.

Target yang ditetapkan pengguna Jampersal di wilayah kerja Puskesmas Panei Tongah sekitar 4000 orang, tetapi jumlah pengguna jampersal pada tahun ini, masih belum ada datanya. Hal inilah yang menjadi kekurangan dari pelaksana kebijakan di Puskesmas Panei Tongah, yaitu dalam penyusunan laporan. Hasil penelitian didapatkan bahwa kendala dalam penyusunan laporan pengguna Jampersal adalah belum ada laporan dari setiap bidan desa, sehingga berdampak pada penyusunan laporan di Puskesmas Panei Tongah.

Tidak semua pelaksana kebijakan Jampersal (informan kunci) mengetahui seberapa besar cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Panei Tongah dan manfaat yang didapatkan oleh pengguna jampersal, dari 5 informan kunci, hanya 2 informan kunci yang mengetahui bahwa cakupan pertolongan persalinan di wilayah kerja Puskesmas Panei Tongah sebesar

60% dan mengetahui manfaat yang diterima pengguna Jampersal. Sedangkan, 3 informan kunci lainnya tidak mengetahui besar cakupan pertolongan persalinan dan tidak mengetahui bahwa KB merupakan salah satu manfaat yang diterima oleh pengguna Jampersal. Hal ini terlihat tidak adanya konsistensi serta keseragaman suatu standard kebijakan, yang nantinya dapat berdampak pada target yang akan dicapai. Oleh karena itu diperlukan komunikasi ataupun koordinasi diantara pihak-pihak yang terlibat. Sehingga, Melalui komunikasi dan koordinasi itu, para pelaksana kebijakan dapat mengetahui apa yang diharapkan darinya dan tahu apa yang harus dilakukan.

Menurut Van Horn dan Van Mater (dalam Widodo, 2007) menyatakan bahwa komunikasi antar organisasi terkait dan kegiatan-kegiatan pelaksanaan agar kebijakan publik bisa dilaksanakan dengan efektif. Hal ini juga sesuai dengan pendapat George

C. Edwards III bahwa ketersediaan dan kelayakan sumberdaya dalam implementasi

kebijakan memegang peranan penting, karena implementasi kebijakantidak akan efektif bilamana sumber-sumber yang dibutuhkan tidak cukup memadai. Sumber-sumber yang dimaksud menurut George C. Edwards III adalah : (a) staf yang relatif cukup jumlahnya dan mempunyai keahlian dan ketrampilan untuk melaksanakan kebijakan, (b) informasi yang memadai atau relevan untuk keperluan implementasi

dan (c) adanya dukungan dari lingkungan untuk mensukseskan implementasi dan (d) adanya wewenang yang dimiliki implementator untuk melaksanakan kebijakan, (e) fasilitas-fasilitas lain.

Salah satu hal yang menjadi kelebihan petugas pelayanan di wilayah kerja Puskesmas Panei Tongah adalah memberikan pelayanan yang baik dan juga

keramahan pada setiap pengguna jampersal (informan pokok) yang terlihat pada Tabel matriks 5. Sehingga setiap keraguan dari penggunanya pada saat pertama kali, menjadi hilang karena pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Keberhasilan implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Manusia merupakan sumber daya yang terpenting dalam menentukan keberhasilan suatu implementasi kebijakan(Van Mater dan Van Horn dalam Widodo, 2007)

Dokumen terkait