• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Kajian Teori dan Konsep

2.2.4 Implementasi Kebijakan

Implementasi merupakan salah satu tahap dalam proses kebijakan publik. Biasanya implementasi dilaksanakan setelah sebuah kebijakan dirumuskan dengan tujuan yang jelas. Implementasi adalah suatu rangkaian aktifitas dalam rangka menghantarkan kebijakan kepada masyarakat sehingga kebijakan tersebut dapat membawa hasil sebagaimana yang diharapkan.

Meter Van Horn (2005) membatasi implementasi kebijakan sebagai tindakan - tindakan yang dilakukan oleh individu - individu atau kelompok-kelompok baik pemerintah maupun swasta yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan kebijakan sebelumnya. Tindakan-tindakan ini mencakup usaha-usaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai perubahan-perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan. Perlu ditekankan disini adalah bahwa tahap implementasi kebijakan tidak akan dimulai sebelum tujuan-tujuan dan

saran-saran ditetapkan diidentifikasi oleh keputusan-keputusan kebijakan. Dengan demikian, tahap implementasi terjadi hanya setelah undang-undang ditetapkan dan dana disediakan untuk membiayai implementasi kebijakan tersebut. Selanjutnya Meter Van Horn dalam model implementasi kebijakannya juga menganggap faktor komunikasi akan berpengaruh yaitu komunikasi antar organisasi terkait serta kegiatan-kegiatan pelaksanaannya mencakup antar hubungan dalam lingkungan sistem politik dengan kelompok-kelompok sasaran. Model implementasi ini mengharapkan semua pelaksana harus memahami apa yang diidealkan oleh kebijakan yang implementasinya menjadi tanggung jawab mereka, organisasi atasan mestinya mampu mengkondisikan organisasi bawahan atau pelaksana, karena dalam implementasi sebuah program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain, untuk itu diperlukan koordinasi dan kerjasama bagi keberhasilan suatu program.

Meter Van Horn dalam Winarno (2002: 110-111), memaparkan bahwa keberhasilan implementasi didasari pada lima hal;

1. Pada sejauh mana pencapaian ukuran-ukuran dasar dan tujuantujuankebijakan telah direalisasikan.

2. Adanya sumber-sumber yang dimaksudmencakup dan dan perangsang lain (inective) yang memperlancar dan mendorong implementasi kebijakan yang efektif.

3. Karakteristik badan pelaksana, ini berkaitan dengan norma dan pola hubungan yang terjadi berulang-ulang dalam badan eksekutif yang

mempunyai hubungan baik potensial maupun nyata dengan apa yang mereka miliki dengan menjalankan kebijakan.

4. Kondisi ekonomi, sosial dan politik. Kelima, kecendrungan pelaksana, ini berkaitan dengan pemahaman pelaksana terhadap ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan.

5. Indikator menjadi parameter implementasi kebijakan publik, dari kelima indikator tersebut dapat diketahui sejauhmana suatu kebijakan diimplementasikan.

Williams (Jones, 1996:295) mengatakan bahwa masalah yang paling penting dalam implementasi adalah memindahkan suatu keputusan kedalam kegiatan atau pengoperasian dengan cara tertentu, dan cara tersebut adalah bahwa apa yang dilakukan memiliki kemiripan nalar dengan keputusan tersebut, dengan baik dalam lingkup lembaganya.

Beberapa pengertian yang dijelaskan oleh para ahli di atas menunjukkan bahwa implementasi kebijakan merupakan bagian penting dari rangkaian proses kebijakan, tanpa adanya implementasi kebijakan yang dikeluarkan maka sebuah kebijakan akan sia-sia karena tidak akan mencapai target dan sasaran yang telah ditetapkan.

Adapun makna Implementasi yang disampaikan Mazmanian dan Sabatier (1979) dikutip dalam buku Solichin Abdul Wahab (2008:65) menjelaskan makna implementasi ini dengan mengatakan bahwa:

memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijakan, yakni kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul

sesudah disahkannya pedoman-pedoman kebijakan Negara, yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian.

Pengertian implementasi di atas apabila dikaitkan dengan kebijakan adalah bahwa sebenarnya kebijakan itu tidak hanya dirumuskan lalu dibuat dalam suatu bentuk positif seperti undang-undang dan kemudian didiamkan dan tidak dilaksanakan atau diimplmentasikan, tetapi sebuah kebijakan harus dilaksanakan atau diimplementasikan agar mempunyai dampak atau tujuan yang diinginkan.

Implementasi kebijakan merupakan suatu upaya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dengan sarana-sarana tertentu dan dalam urutan waktu tertentu. Proses implementasi kebijakan publik baru dapat dimulai apabila tujuan-tujuan kebijakan publik telah ditetapkan, program-program telah dibuat, dan dana telah dialokasikan untuk pencapaian tujuan kebijakan tersebut. Jadi Pelaksanaan kebijakan dirumuskan secara pendek to implement (untuk pelaksana) berarti to provide the means forcarrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu). Maka pelaksanaan kebijakan dapat dipandang sebagai suatu proses melaksanakan keputusan kebijakan. Biasanya dalam bentuk perundang-undangan, peraturan pemerintah, peraturan daerah, keputusan peradilan perintah eksekutif, atau dekrit presiden.

Menurut Metter Van Horn dalam Agustino (2008: 195) menjelaskan bahwa: Implementasi kebijakan adalah tindakan-tindakan

yang dilakukan baik oleh individu-individu/pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.

Menurut Mazmanian dan Sabatier dalam Agustino (2008: 196) menjelaskan bahwa: Implementasi kebijakan adalah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan. Lazimnya, keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah-masalah yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau mengatur proses implementasinya.

Menurut Bressman dan Wildansky dalam Agustino (2008: 198) menyatakan bahwa: Implementas kebijakan adalah suatu proses interaksi antara suatu perangkat tujuan dan tindakan yang mampu mencapai tujuan.

Implementasi kebijakan merupakan proses lanjutan dari tahap formulasi kebijakan. Pada tahap formulasi ditetapkan strategi dan tujuan-tujuan kebijakan sedangkan pada tahap implementasi kebijakan, tindakan (action) diselenggarakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

Menurut Hogwood dan Gunn dalam Solichin Abdul Wahab (2008:78-71), untuk dapat mengimplementasikan kebijakan secara sempurna maka diperlukan beberapa persyaratan antara lain:

a. Kondisi eksternal yang di hadapi oleh Badan/Instansi pelaksana

b. Tersedia waktu dan sumberdaya

c. Keterpaduan sumberdaya yang diperlukan

d. Implementasi di dasarkan pada hubungan kausalitas yang handal e. Hubungan kausalitas bersifat langsung dan hanya sedikit mata

rantai penghubung

f. Hubungan ketergantungan harus dapat diminimalkan g. Kesamaan persepsi dan kesepakatan terhadap tujuan h. Tugas-tugas diperinci dan diurutkan secara sistematis i. Komunikasi dan koordinasi yang baik

j. Pihak-pihak yang berwenang dapat menuntut kepatuhan pihak lain Menurut Hogwood dan Gunn dalam Solichin Abdul Wahab (2008:71-78), implementasi kebijakan juga dapat berjalan dengan sempurna dengan syarat-syarat sebagai berikut:

a. Kondisi eksternal yang dihadapi oleh badan/ instansi pelaksana tidak menimbulkan gangguan/kendala serius

b. Untuk pelaksanaan program tersedia waktu dan sumber-sumber yang memadai

c. Perpaduan sumber-sumber yang tersedia benar-benar tersedia d. Kebijakan yang akan diimplemntasikan didasari oleh hubungan

kausal yang handal

2.2.5 Model Implentasi Kebijakan

2.2.5.1 Model Implementasi Donald S. Van Meter dan Carl E. Van Horn Implementasi kebijakan memiliki berbagai model, model pertama adalah model yang paling klasik yang diperkenalkan oleh Donald Van Meter dengan Carl Van Horn (1975). Model implementasi kebijakan yang dirumuskan oleh Van Metter dan Van Horn menjelaskan bahwa proses implementasi kebijakan merupakan sebuah abstraksi atau performansi yang pada dasarnya secara sengaja dilakukan untuk meraih kinerja implementasi dan dipengaruhi oleh enam variabel, yaitu: ukuran dan tujuan kebijakan, sumber daya, karakteristik agen pelaksana, sikap dan kecenderungan para pelaksana, komunikasi antarorganisasi dan lingkungan sosial, ekonomi juga politik. Model ini mengandaikan bahwa implementasi kebijakan berjalan secara liniear dari kebijakan publik, implementor, dan kinerja kebijakan publik. Beberapa variabel yang dimasukkan sebagai variabel yang mempengaruhi kebijakan publik adalah varibel berikut:

a. Aktivitas implementasi dan komunikasi antar organisasi.

b. Karakteristik agen pelaksana/ implementor.

c. Kondisi ekonomi, sosial, dan politik.

d. Kecenderungan (disposition) palaksana/Implementor.

(Nugroho, 2008, hal.438 dikutip dari tesis Puji Meilita Sugiana Implementasi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Jakarta Selatan)

Ada enam variabel yang memengaruhi kinerja implementasi, yakni:

1) Standar dan sasaran kebijakan, standart dan sasarankebijakan harus jelas dan terukur sehingga dapat teralisir.

2) Sumberdaya, implementasi kebijakan perlu dukungan sumberdaya baik sumberdaya manusia (human resources) maupun sumberdaya non manusia (non-human resources).

3) Hubungan antar organisasi, dalam banyak program implementasi sebuah program dukungan dan koordinasi dangan instansi lain.

4) Karakteristik pelaksana, yang dimaksud adalah mencakup struktur birokrasi, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi. Kemudian semuanya itu akan memengaruhi implementasi suatu program.

5) Kondisi sosial, politik, dan ekonomi, yakni variabel ini mencakup sumberdaya ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan.

6) Disposisi Implementator, yakni mencakup respon implementator tiga hal penting, yaitu: respon implementator terhadap kebijakan, dan intensitas disposisi implementator, yaitu preferensi nilai yang dimiliki oleh implementator (Donald Van Meter dan Carl Van Horn, The Policy Implementation Process, (London: Stage,1975), 462-478)

Hal ini dikemukakan berdasarkan kenyataan bahwa proses implementasi ini akan dipengaruhi oleh dimensi-dimensi kebijakan

semacam itu. Dalam artian bahwa implementasi kebanyakan akan berhasil, apabila perubahan yang dikendaki relatif sedikit. Sementara kesepakatan terhadap tujuan, terutama dari mereka yang mengoperasikan program dilapangan, relatif tinggi. Standar dan tujuan kebijakan mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap pelaksanaan atau penyelenggaraan kebijakan. Di samping itu standar dan tujuan kebijakan juga berpengaruh tidak langsung terhadap disposisi para pelaksana melalui aktivitas komunikasi antar organisasi. Jelas respon para pelasana terhadap suatu kebijakan didasarkan pada persepsi dan interpretasi mereka terhadap tujuan kebijakan tersebut.

2.2.5.2 Model Implementasi Mazmanian dan Sabatier

Model yang lain adalah model kerangka analisis implementasi (A FrameFor Implementation Analisys) yang diperkenalkan oleh Mazmanian dan Sabatier (2007) Duet Mazmanian dan Sabatier mengklasifikasikan proses implementasi kebijakan kedalam tiga variabel, yaitu:

1. Variabel independent, yaitu mudah tidaknya masalah dikendalikan yang berkenaan dengan indikator masalah teori dan teknis pelaksanaan keragaman objek dan perubahan seperti apa yang dikehendaki.

2. Variabel intervening, yaitu variabel kemampuan kebijakan untuk menstruktur proses implementasi dengan indikator kejelasan dan konsistensi tujuan, keterpaduan hirarkis diantara lembaga pelaksana

dan perekrutan pejabat pelaksanaan dan keterbukaan kepada pihak luar dan variabel di luar kebijakan yang mempengaruhi proses ekonomi dan teknologi, dukungan publik, sikap dan resources dari konstituen, dukungan pejabat yang lebih tinggi dan komitmen dan kualitas kepemimpinan dari pejabat pelaksana.

3. Variabel dependent, yaitu tahapan dalam proses implementasi dengan lima tahapan, yaitu pemahaman dari lembaga/badan pelaksana dalam bentuk disusunnya kebijakan pelaksanaan, kepatuhan objek, hasil nyata, penerimaan atas hasil nyata tersebut, dan akhirnya mengarah kepada revisi atau kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan tersebut ataupun keseluruhan kebijakan yang bersifat mendasar.

2.2.5.3. Model Merilee S. Grindle (1980)

Dikatakan Grindle Tahun 1980 bahwa isi kebijakan terdiri dari kepentingan kelompok sasaran, tipe manfaat, derajat perubahan yang diinginkan, letak pengambilan keputusan, pelaksanaan program, dan sumber daya yang dilibatkan. Sementara lingkungan implementasi mengandung unsur keleluasaan kepentingan dan strategi aktor yang terlibat, karakteristik lembaga dan penguasa, serta kepatuhan dan daya tanggap.

Kemudian Grindle Tahun 1980 menjelaskan indikator keberhasilan dalam implementasi adalah dengan melihat konsistensi dari pelaksana program dan tingkat keberhasilan pencapaian tujuan (Merilee S. Grindle,

Politics and Apolicy Implementation in The Third World, (New Jersey:

Princetown University Press, 1980). Grindle menyatakan bahwa implementasi kebijakan sebagai keputusan politik dari para pembuat kebijakan yang tidak lepas dari pengaruh lingkungan.

Grindle mengungkapkan pada dasarnya implementasi kebijakan ditentukan oleh dua variabel, yaitu: variabel konten dan variabel konteks.

Variabel konten adalah apa yang ada dalam isi suatu kebijakan yang berpengaruh terhadap implementasi, sedangkan variabel konteks, meliputi lingkungan dari kebijakan politik dan administrasi dengan kebijakan politik tersebut. Keberhasilan implementasi menurut Merilee S. Grindle dipengaruhi oleh dua variabel besar, yakni isi kebijakan dan lingkungan implementasi. Variabel isi kebijakan mencakup, yakni:

1) Sejauhmana kepentingan kelompok sasaran (target group) termuat dalam isi kebijakan.

2) Jenis manfaat yang diterima oleh target group.

3) Sejauhmana perubahan yang diinginkan dari sebuah kebijakan.

4) Apakah letak sebuah program sudah tepat.

5) Apakah sebuah kebijakan telah menyebutkan implementatornya dengan rinci

6) Apakah sebuah program didukung oleh sumberdaya yang memadai.

Sedangkan variabel lingkungan kebijakan mencakup, yakni:

1) Seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam implementas ikebijakan.

2) Karakteristik institusi dan rezim yang sedang berkuasa.

3) Tingkat kepatuhan dan responsifitas kelompok sasaran. Disini kebijakan yang menyangkut banyak kepentingan yangberbeda dan sulit diimplementasikan dibanding yang menyangkut kepentingan sedikit. Oleh karenanya tinggi-rendahnya intensitas keterlibatan berbagai pihak (politisi, pengusaha, masyarakat, kelompok sasaran, dan sebagainya) dalam implementasi kebijakan akan berpengaruh terhadap efektivitas implementasi kebijakan

2.2.5.4 Model Implementasi Kebijakan Publik Brian W. Hogwood dan Lewis A. Gunn (The TopDown Approach)

Model implementasi ini sangat menekankan pentingnya pendekatan Top Down dalam proses implementasi, bagi mereka pendekatan Bottom-Up cenderung mendekati permasalahan kasus per kasus dianggap tidak menarik apalagi para pembuat kebijakan adalah orang-orang yang telah dipilih secara demokratis. Model implementasi kebijakan ini memberikan proposisi-proposisi untuk mencapai implementasi yang sempurna, sebagai berikut: situasi diluar badan/organisasi tidak menimbulkan kendala besar bagi proses implementasi, tersedia cukup waktu dan cukup sumberdaya untuk melaksanakan program, tidak ada kendala dalam menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan termasuk sumberdaya yang dibutuhkan dalam setiap tahapan implementasi, kebijakan yang diimplementasikan

didasarkan pada teori sebab akibat yang valid, hubungan sebab akibat tersebut setidaknya ada hubungan antara

Menurut Hogwood dan Gunn dalam Wahab, (2004, hal. 71-78), untuk dapat mengimplementasikan kebijakan publik secara sempurna (perfect implementation) maka diperlukan beberapa persyaratan tertentu, yaitu:

1. Kondisi eksternal yang dihadapi oleh badan atau instansi pelaksana tidak akan menimbulkan gangguan atau kendala serius.

2. Untuk pelaksanaan program tersedia waktu dan sumber-sumber yang cukup memadai.

3. Perpaduan sumber-sumber yang diperlukan benar-benar tersedia.

Persyaratan ini mengikuti syarat item kedua artinya disatu pihak harus dijamin tidak ada kendala-kendala pada semua sumber-sumber yang diperlukan, dan dilain pihak, setiap tahapan proses implementasi perpaduan diantara sumber-sumber tersebut harus dapat disediakan. Dalam prakteknya implementasi program yang memerlukan perpaduan antara dana, tenaga kerja dan peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan program harus dapat disiapkan secara serentak, namun ternyata ada salah satu komponen tersebut mengalami kelambatan dalam penyediaannya sehingga berakibat program tersebut tertunda pelaksanaannya

4. Kebijakan yang akan diimplementasikan didasari oleh suatu hubungan kausalitas yang handal. Dalam kaitan ini Pressman dan Wildavsky (1973), menyatakan secara tegas bahwa setiap kebijakan

pemerintah pada hakikatnya memuat hipotesis (sekalipun tidak secara eksplisit) mengenai kondisi-kondisi awal dan akibat-akibat yang diramalkan bakal terjadi sesudahnya. Oleh karena itu, apabila ternyata kelak kebijakan itu gagal, maka kemungkinan penyebabnya bersumber pada ketidak tepatan teori yang menjadi landasan kebijakan tadi dan bukan karena implementasinya yang keliru.

5. Hubungan kausalitas bersifat langsung dan hanya sedikit mata rantai penghubungnya. Dalam hubungan ini Pressman dan Wildavsky (1973) juga memperingatkan bahwa kebijakan-kebijakan yang hubungan sebab akibatnya tergantung pada mata rantai yang amat panjang maka ia akan mudah sekali mengalami keretakan, sebab semakin panjang mata rantai kausalitas, semakin besar hubungan timbal balik diantara mata rantai penghubungnya dan semakin menjadi kompleks implementasinya. Semakin banyak hubungan dalam mata rantai, semakin besar pula resiko bahwa beberapa diantaranya kelak terbukti amat lemah atau tidak dapat dilaksanakan dengan baik.

6. Hubungan saling ketergantungan harus kecil. Implemetasi yang sempurna menuntut adanya persyaratan bahwa hanya terdapat badan pelaksana tunggal dalam melaksanakan misi tidak tergantung badan-badan lain/instansi lainnya. Kalau ada ketergantungan dengan organisasi-organisasi ini haruslah pada tingkat yang minimal, baik dalam artian jumlah maupun kadar kepentingannya.

Jika implementasi suatu program ternyata tidak hanya

membutuhkan rangkaian tahapan dan jalinan hubungan tertentu, melainkan juga kesepakatan atau komitmen terhadap setiap tahapan diantara sejumlah aktor/pelaku yang terlibat, maka peluang bagi keberhasilan implementasi program, bahkan hasil akhir yang diharapkan kemungkinan akan semakin berkurang.

7. Pemahaman yang mendalam dan kesepakatan terhadap tujuan harus adanya pemahaman yang menyeluruh mengenai, dan kesepakatan terhadap, tujuan atau sasaran yang akan dicapai, dan yang penting, keadaan ini harus dapat dipertahankan selama proses implementasi.

8. Tugas-tugas diperinci dan ditempatkan dalam urutan yang tepat Persyaratan ini memiliki makna yaitu dalam mengayun langkah menuju tercapainnya tujuan-tujuan yang telah disepakati, masih dimungkinkan untuk merinci dan menyusun dalam urutan-urutan yang tepat seluruh tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap pihak yang terlibat.

9. Komunikasi dan koordinasi yang sempurna. Syarat ini mengharuskan adanya komunikasi dan ordinasi yang sempurna diantara berbagai unsur atau badan yang terlibat dalam program.

Hood (1976) dalam hubungan ini menyatakan bahwa guna mencapai implementasi yang sempurna diperlukan suatu sistem satuan administrasi tunggal sehingga tercipta koordinasi yang baik.

Pada kebanyakan organisasi yang memiliki ciri-ciri departemenisasi, profesionalisasi, dan bermacam kegiatan kelompok yang melindungi nilai-nilai dan kepentingan kelompok

hampir tidak ada koordinasi yang sempurna. Komunikasi dan koordinasi memiliki peran yang sangat penting dalam proses implementasi karena data, saran dan perintah-perintah dapat dimengerti sesuai dengan apa yang dikehendaki.

10. Pihak-pihak yang memiliki wewenang kekuasaan dapat menuntut dan mendapatkan kepatuhan yang sempurna. Hal ini menjelaskan bahwa harus ada ketundukan yang penuh dan tidak ada penolakan sama sekali terhadap perintah dalam sistem administrasinya.

Persyaratan ini menandaskan bahwa mereka yang memiliki wewenang, harus juga yang memiliki kekuasan dan mampu menjamin adanya kepatuhan sikap secara menyeluruh dari pihak-pihak lain baik dalam organisasi maupun luar organisasi. Dalam kenyataan dimungkinkan adanya kompartemenisasi dan diantara badan yang satu dengan yang lain mungkin terdapat konflik kepentingan.

2.2.5.5 Model Elmore, dkk

Model kelima adalah model yang disusun Richard Elmore (1979), Michael Lipsky (1971), dan Benny Hjern dan David O’Porter (1981).

Model ini dimulai dari mengidentifikasikan jaringan aktor yang terlibat dalam proses pelayanan dan menanyakan kepada mereka: tujuan, strategi, aktivitas, dan kontak-kontak yang mereka miliki. Model implementasi ini didasarkan pada jenis kebijakan publik yang mendorong masyarakat untuk mengerjakan sendiri implementasi kebijakannya atau tetap melibatkan pejabat pemerintah namun hanya di tataran rendah. Oleh karena itu,

kebijakan yang dibuat harus sesuai dengan harapan, keinginan, publik yang menjadi target atau kliennya, dan sesuai pula dengan pejabat eselon rendah yang menjadi pelaksananya. Kebijakan model ini biasanya diprakarsai oleh masyarakat, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga nirlaba kemasyarakatan (LSM).

2.2.5.6 Model Edward

George Edward III (1980,1) menegaskan bahwa masalah utama administrasi publik adalah lack of attention to implementation.

Dikatakannya, without effective implementation the decission of policymakers will not be carried out successfully. Edward menyarankan untuk memperhatikan empat isu pokok agar implementasi kebijakan menjadi efektif, yaitu communication, resource, disposition or attitudes, dan beureucratic structures.

a. Komunikasi

Yaitu menunjuk bahwa setiap kebijakan yang akan diambil dapat dilaksanakan dengan baik jika adanya komunikasi yang efektif antara yang melaksanakan kebijakan dengan para kelompok sasaran (target sasaran). Tujuan dari kebijakan yang akan dilaksanakan dapat di sosialisasikan terlebih dahulu kepada kelompok sasaran sehingga dapat mengurangi dan menghindari adanya distorsi atas kebijakan. Hal ini menjadi sangat penting karena semakin tinggi informasi yang diterima kelompok sasaran atas program maka akan mengurangi tingkat penolakan dan kesalah fahaman dalam pengaplikasian program dan kebijakan yang akan dilaksanakan

b. Sumberdaya

Setiap pengambilan kebijakan harus mendapat dukungan sumberdaya yang memadai, baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya finansial. Sumberdaya manusia adalah kecukupan baik kualitas maupun kuantitas implemntor yang dapat melengkapi seluruh sasaran. Sumberdaya finansial adalah kecukupan modal investasi atas sebuah kebijakan. Keduanya harus benar benar diperhatikan dalam pelaksanaan implementasi kebijakan pemerintah. Sebab jika tidak ada implementor yang handal akan mengakibatkan kebijakan kurang enerjik dan berjalan lambat. Sedangkan sumberdaya finansial memberikan jaminan terlaksananya program/kebijakan. Tanpa dukungan finansial yang mencukupi program tidak dapat berjalan optimal dan cepat untuk mencapai target dan sasaran

c. Disposisi

Yaitu karakteristik yang melekat erat kepada implementor kebijakan. Implementator yang jujur dan memiliki komitmen yang tinggi akan selalu bertahan diantara hambatan yang ada dalam program/

kebijakan, kejujuran akan menunjukkan implementor untuk selalu berada dalam arah kebijakan yang telah digariskan dalam guideline program. Kejujuran dan komitmen mengarahkannya semakin antusias dan semangat dalam melaksanakan tahap-tahap program secara konsisten.

d. Struktur Birokrasi

Bahwa struktur birokrasi menjadi penting dalam implementasi kebijakan. Aspek struktur birokrasi ini meliputi dua hal penting pertama adalah mekanisme, dan struktur organisasi pelaksana sendiri.

Mekanisme implementasi program biasanya sudah ditetapkan melalui standar operating procedur (SOP) yang dicantumkan dalam guideline program/ kebijakan. SOP yang baik mencantumkan kerangka yang jelas, sistematis, tidak berbelit dan mudah dipahami oleh siapapun karena akan menjadi acuan dalam bekerjanya implementator.

Keempat variabel di atas dalam model yang dibangun oleh Edward III memiliki hubungan satu dengan yang lain dalam mencapai tujuan dan sasaran program/kebijakan. Semua varibel saling bersinergi dalam mencapai tujuan dan satu variabel akan memengaruhi yang lain.

Keempat variabel di atas dalam model yang dibangun oleh Edward III memiliki hubungan satu dengan yang lain dalam mencapai tujuan dan sasaran program/kebijakan. Semua varibel saling bersinergi dalam mencapai tujuan dan satu variabel akan memengaruhi yang lain.

Dokumen terkait