IMPLEMENTASI KEBIJAKAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI DANA DESA DI MASA PANDEMI COVID-19 DALAM
MENANGGULANGI MASYARAKAT MISKIN DI
KECAMATAN PADANG TUALANG KABUPATEN LANGKAT
MUHAMMAD IZWANDA 187024030
PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2021
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI DANA DESA DI MASA PANDEMI COVID-19 DALAM
MENANGGULANGI MASYARAKAT MISKIN DI
KECAMATAN PADANG TUALANG KABUPATEN LANGKAT
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Pembangunan (MSP) Program Studi Magister Studi Pembangunan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh
MUHAMMAD IZWANDA 187024030/SP
PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2021
Telah diuji pada Tanggal 16 Juli 2021
PANITIA PENGUJI TESIS
KETUA : Prof. Dr. Erika Revida, MS
Anggota : 1. Dr. Muryanto Amin, S.Sos. M.Si 2. Prof. Dr. Badaruddin, S.Si 3. Drs. Agus Suriadi, M.Si
PERNYATAAN
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI DANA DESA DI MASA PANDEMI COVID-19 DALAM MENANGGULANGI
MASYARAKAT MISKIN DI KECAMATAN PADANG TUALANG KABUPATEN LANGKAT
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Juli 2021 Penulis
(Muhammad Izwanda)
ABSTRAK
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI DANA DESA DI MASA PANDEMI COVID-19 DALAM MENANGGULANGI
MASYARAKAT MISKIN DI KECAMATAN PADANG TUALANG KABUPATEN LANGKAT
Keterpurukan ekonomi akibat wabah Covid-19 ini dirasakan hampir semua masyarakat menengah ke bawah baik yang hidup di perkotaan maupun di Desa.
Kondisi ini tentunya mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran dan warga yang kehilangan pekerjaan, dan berpotensi mengakibatkan munculnya warga miskin baru. Untuk mengatasi masalah kemiskinan terkait dampak yang di timbulkan wabah Covid-19 ini, Salah satu kebijakan penanganan pandemi Covid- 19 untuk masyarakat miskin dan miskin baru yang terdampak Covid-19 di adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.
Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, berusaha mendapatkan gambaran secara utuh atas Kebijakan BLT Dana Desa dalam menanggulangi masyarakat miskin di Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat. Untuk memperoleh data secara holistik dan integratif, serta memerhatikan relevansi data dengan tujuan, maka dalam pengumpulan data penelitian ini memakai tiga teknik yang ditawarkan yaitu Wawancara mendalam, Observasi partisipan dan Studi dokumen. Penelitian ini membahas dua kelompok pengamatan, pertama pengamatan terhadap proses pelaksanaan (implementasi) program, dan yang kedua pengamatan terhadap faktor-faktor yang mendukung dan menghambat.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pelaksanaan program BLT Dana Desa berjalan dengan baik, lancar dan tertib. Tahapan pelaksanaan program BLT Dana Desa dimulai dari pelaksanaan sosialisasi, pelaksanaan verifikasi data daftar nama nominasi RTS, pembagian kartu BLT, pencairan dana BLT, dan terakhir pembuatan laporan pelaksanaan, Faktor penghambat dan pendukung keberhasilan kebijakan program BLT Dana Desa adalah: sikap pelaksana, kondisi sosial ekonomi masyarakat, keterampilan pelaksana, kelengkapan data masyarakat dan koordinasi antara pelaksana program.
Kata Kunci: Implemetasi, Kebijakan, Bantuan, Desa, Pandemi, Kemiskinan
RIWAYAT HIDUP
I. Identitas Pribadi
Nama : Muhammad Izwanda
Tempat/Tgl.Lahir : Tg. Selamat 10 April 1987
Agama : Islam
Alamat : Kec. Padang Tualang
Kab. Langkat
II. Orang Tua
Nama Ayah : Alm. H. Ady Arto Nama Ibu : Hj. Mayer Nasution
III. Pendidikan
1998 SDN 050683 Tg. Selamat KP
2001 SMP AL –AZHAR MEDAN
2004 SMA AL – AZHAR MEDAN
2009 FAKULTAS EKONOMI UISU
IV. Pekerjaan
2010 S/D 2012 Calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Camat Binjai Kab. Langkat
2012 s/d 2014 Kasubag Umum & Kepegawaian K. Camat Sawit Seberang Kab Langkat
2014 s/d 2019 KASI PMP Kantor Camat Padang Tualang Kab Langkat
2019 S/D Sekcam Padang Tualang Kab. Langkat
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah SWT Tuhan Tang Maha Esa yang telah memberikan saya kemudahan sehingga saya dapat menyelesaikan Proposal Tesis ini. Tanpa pertolongan-Nya tentunya saya tidak akan sanggup untuk menyelesaikan Proposal Tesis ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Puji dan Syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga penulis mampu menyelesaikan Tesis ini.
Tanpa pertolonganNya, penulis tidak akan mampu secara konsisten untuk terus melakukan penelitian dengan judul yang telah ditentukan oleh penulis sejak awal, mengingat banyaknya kendala teknis yang dialami penulis selama proses pengumpulan data, hingga Tesis ini selesai. Adapun penulisan Tesis dengan judul
“Implementasi Kebijakan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa di Masa Pandemi Covid-19 dalam Menanggulangi Masyarakat Miskin di Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat” ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat untuk memperoleh Gelar Magister Studi Pembangunan di Departemen Studi Pembangunan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis selama menyelesaikan Tesis ini, baik yang secara langsung maupun tidak langsung. Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Badarudin, M.Si selaku Ketua Departemen Studi Pembangunan yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian dengan judul tersebut di atas. Dan juga selaku penguji yang telah memberikan banyak masukan kepada penulis perihal penelitian yang dilakukan penulis.
2. Ibu Prof Dr Erika Revida MS selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing penulis selama proses pengerjaan tesis ini.
3. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing penulis selama proses pengerjaan tesis ini.
4. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si selaku penguji yang telah memberikan banyak masukan kepada penulis perihal penilitian yang di lakukan
5. Bapak Drs. Agus Suiadi M.Si selaku penguji yang telah memberikan banyak masukan kepada penulis perihal penilitian yang di lakukan
6. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si, PhD selaku Dekan FISIP yang telah memberi saran dan masukan dalam kesiapan tesis ini.
7. Untuk kedua Orang tua, mama Hj. Mayer Nasution yang selalu mendukung baik dari segi moril maupun materil. Almarhum papa H. Ady Arto, SE yang dari dulu selalu mendukung. Terima Kasih untuk segala cinta kasih, doa dan harapan kalian berikan untuk aku tanpa rasa pamrih. Segalanya yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga Allah membalas kebaikan kalian berdua dengan kebaikan dunia dan akhirat.
8. Untuk Istriku dr. Widya Fascha Husin dan anak anakku Syakira Kanza dan Rafi Athaya Kanza , terima kasih karena selalu mengingatkan untuk mengerjakan tesis ini, menjadi penyemangat disaat malas. Terima kasih karena kalian harapan untuk terus melangkah semakin kuat.
9. Untuk adik-adikku winda sari dan suami dan Almarhum Wenny Safitri, Am.
Keb, terima kasih sudah mendukung mas dalam proses penelitian tesis ini.
Tetap semangat terus untuk kalian agar tercapai cita – citanya,
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga Tesis ini dapat di maklumi dan di terima adanya. Saya juga yakin bahwa Tesis ini jauh dari kata sempurna dan masih membutuhkan kritik serta saran, untuk menjadikan Tesis ini lebih baik dan semoga bermanfaat untuk pembaca.
Medan, Juli 2021 Penulis
MUHAMMAD IZWANDA, SE
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Perumusan Masalah... 11
1.3. Tujuan Penelitian ... 11
1.4 Manfaat Penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13
2. 2 Penelitian Terdahulu ... 13
2.2 Kajian Teori dan Konsep ... 16
2.2.1 Kebijakan Publik ... 16
2.2.2 Pengertian Analisis ... 18
2.2.3 Gaya Analisis Kebijakan ... 23
2.2.4 Implementasi Kebijakan ... 25
2.2.5 Model Implementasi Kebijakan ... 31
2.2.5.1 Model Implementasi Donald S. Van Meter & Carl E. Van Horn ... 31
2.2.5.2 Model Implementasi Mazmanian dan Sabatier ... 33
2.2.5.3 Model Merilee S. Grindle (1998) ... 34
2.2.5.4 Model Implementasi Kebijakan Publik Brian W. Hogwood dan Levis A Gunn (The Top Down Approach) ... 36
2.2.5.5 Model Elmore, dkk... 40
2.2.5.6 Model Edward ... 41
2.2.5.7 Model Jaringan ... 44
2.2.6 Kemiskinan dan Penduduk Miskin Desa ... 45
2.2.6.1 Pengertian Kemiskinan ... 45
2.2.6.2 Penyebab Kemiskinan ... 47
2.2.7 Bantuan Langsung Tunai Desa ... 49
2.2.8 Kerangka Pemikiran Penelitian ... 52
2.2.9 Defenisi Konsep ... 55
BAB III METODE PENELITIAN ... 57
3.1 Pendekatan Penelitian ... 57
3.2 Lokasi Penelitian ... 58
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 58
3.3.1 Wawancara ... 59
3.3.2 Observasi ... 62
3.3.3 Studi Dokumen ... 65
3.4 Teknik Analisis Data ... 66
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 67
4.1 Gambaran Umum ... 67
4.1.1 Gambaran Umum Wilayah Penelitian ... 67
4.1.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Langkat ... 67
4.1.1.2 Gambaran Umum Kecamatan Padang Tualang ... 69
4.2 Sumber Daya Manusia ... 71
4.3 Angka Kemiskinan ... 72
4.4 Penyaluran BLT ... 75
4.5 Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 80
4.5.1 Deskripsi Informan ... 80
4.5.2 Implementasi Program... 81
4.5.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 87
4.5.3 Faktor Penghambat &P e nd u k u ng Keberhasilan Pelaksanaan Program BLT DD 90 ... 91
BAB V PENUTUP ... 94
5.1 Kesimpulan ... 94
5.2 Saran ... 97
DAFTAR PUSTAKA ... 99
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Masyarakat dunia termasuk Indonesia saat ini sedang ditimpa musibah yaitu wabah penyakit Corona Visrus Desease-2019 (Covid-19) yang sangat berbahaya dan cepat penularannya dan mewabah hampir seluruh dunia.
Wabah Covid-19 ini tidak hanya menimbulkan gangguan kesehatan dan korban jiwa saja, akan tetapi lama kelamaan yang semakin dirasakan salah satunya adalah keterpurukan sendi sendi perekonomian masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada awalanya, Covid-19 disebut dengan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), pertama kali dicatat pada bulan Desember 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina sehingga virus ini disebut juga sebagai “Wuhan Virus”. Pada tanggal 11 Februari 2020, World Health Organization menetapkan nama COVID-19 pada virus yang sebelumnya disebut dengan “penyakit pernafasan akut 2019-nCoV”. WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global pada tanggal 11 Maret 2020.
Covid-19 ditetapkan menjadi pandemi global sebab jumlah terlular, durasi penularan, dan jangkauan penyebaran yang sangat cepat dan luas dari sumbernya.
Pada tanggal 22 Januari 2020, tercatat 555 orang yang dinyatakan positif Covid-19 di seluruh dunia. Terjadi peningkatan yang sangat signifikan pada bulan April 2020 dengan jumlah terkonfirmasi positif di seluruh dunia sebanyak 1.309.439. Jumlah korban jiwa meninggal dunia
akibat wabah ini juga sangat tinggi yaitu mencapai 72,638 orang (John Hopkins University, 2020). Hal ini menjadi kekhawatiran seluruh negara.
WHO mencatat, mortality rate di dunia akibat Covid-19 hingga Maret 2020 sebesar 3,4% (WHO, 2020). Walaupun mortality rate Covid-19 berdasarkan data lebih kecil dibandingkan dengan SARS dan MERS , namun rata-rata kematian dalam rentang waktu 23 Januari 2020 hingga 5 April 2020 mencapai 938 orang per hari di seluruh dunia. Angka ini merupakan angka yang sangat tinggi dibandingkan wabah virus lainnya yang pernah terjadi.
Kasus posistif Covid-19 di Indonesia mulai dinyatakan ditemukan pada tanggal 3 Maret 2020 sebanyak 2 orang terinfeksi. Kasus pertama Covid-19 yang meninggal dunia di Indonesia tercatat pada tanggal 11 Maret 2020 yang merupakan pasien positif ke 25. Hingga tanggal 6 April 2020, total jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia tercatat sebanyak 2.491 orang, dengan korban meninggal dunia sebanyak 209 orang, dan pasien sembuh sebanyak 192 orang. Dilihat berdasarkan rentang 27 hari terakhir (11 Maret hingga 6 April 2020) telah terjadi peningkatan jumlah signifikan dengan rata-rata pertambahan pasien positif Covid-19 mencapai 92 orang per hari, rata-rata korban meninggal dunia 8 orang per hari, dan rata-rata pasien sembuh 7 orang per hari.
Data pada bulan Mei menunjukkan bahwa sudah seluruh Provinsi di Indonesia dijumpai positif Covid-19. Provinsi Sumatera Utara termasuk salah satu provinsi dengan pasien positif terbanyak dan terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
Dampak Virus Covid-19 (Corona) terhadap perekonomian dunia semakin mengkhawatirkan. Banyak negara yang sudah mengambil kebijakan menutup diri (lockdown) sehingga menghentikan sejumlah aktivitas ekonomi.
Sampai saat ini dampak penyebaran Virus Corona terhadap perekonomian masih belum dapat dihitung secara pasti. Namun perlambatan kegiatan ekonomi sudah terasa, terutama di sektor pariwisata, industri pengolahan, perdagangan, transportasi dan investasi. Untuk mengantisipasinya, sejumlah stimulus dikeluarkan oleh pemerintah, melalui Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kondisi Ini menjadi momen yang menuntut tindakan kebijakan yang terkoordinasi dan inovatif dari pengambil kebijakan ekonomi yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Keterpurukan ekonomi akibat wabah Covid-19 ini dirasakan hampir semua masyarakat menengah ke bawah baik yang hidup di perkotaan maupun di Desa. Banyaknya usaha-usaha di perkotaan yang tidak mampu lagi membayar gaji karyawannya karena sepinya pembeli dan menyebabkan beberapa toko maupun usaha-usaha di perkotaan menutup usahanya sementara. Hal ini mengakibatkan banyaknya karyawan/pekerja yang di berhentikan dan akhirnya memutuskan untuk balik ke kampung halaman ke Desanya masing-masing.
Kondisi ini tentunya mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran dan warga yang kehilangan pekerjaan, dan berpotensi mengakibatkan munculnya warga miskin baru. Ada beberapa poin penting
yang menjadi latar belakang perlunya penanggulangan kemiskinan, antara lain aspek kemanusiaan, aspek ekonomi, aspek sosial dan politik serta aspek keamanan.
Kemiskinan dirasakan sebagai masalah yang sangat komplek, baik dari faktor penyebab mengapa menjadi miskin maupun dari dampak yang akan ditimbulkan jika kemiskinan terus meningkat. Jika kita lihat dari penyebab, kemiskinan dapat disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
Faktor internal antara lain keadaan individu yang bersangkutan, keluarga atau komunitas/ kelompok masyarakat dilihat dari rendahnya tingkat pendidikan dan pendapatan. Selanjutnya dapat juga dilihat dari faktor eksternal penyebab yakni kondisi sosial, politik, hukum dan ekonomi. Oleh sebab itu, kemiskinan memerlukan penanganan secara serius dan berkelanjutan dengan mengintegrasikan berbagai bidang politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya dan keamanan yang perlu di perbaiki dengan melibatkan peran semua elemen, utamanya adalah peran serta Negara dalam mengatasi kemiskinan.
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 34 ayat (1) mengamanatkan bahwa
“Masyarakat miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, kemudian ayat (2) disebutkan bahwa “Negara berkewajiban menangani masyarakat miskin melalui pemberdayaan dan bantuan jaminan sosial.” Selain dari pada itu, UU nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, pasal 20 huruf a menyatakan; “salah satu tujuan penanggulangan kemiskinan adalah untuk meningkatkan kapasitas dan mengembangkan kemampuan dasar serta kemampuan berusaha masyarakat miskin”. Peraturan mengenai
penanggulangana kemiskinan kemudian di buat ke dalam Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. Penanggulangan kemiskinan adalah kebijakan dan program pemerintah daerah yang dilakukan secara sistematis, terencana, dan bersinergi dengan dunia usaha dan masyarakat untuk mengurangi pertumbuhan penduduk miskin yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat.
Untuk mengatasi masalah kemiskinan terkait dampak yang di timbulkan wabah Covid-19 ini, Pemerintah sudah mengeluarkan beberapa kebijakan terkait penanganan pandemi Covid-19 untuk masyarakat miskin dan miskin baru yang terdampak Covid-19 di antaranya adalah:
Pembebasan biaya listrik 3 bulan untuk 24 juta pelanggan 450 VA, dan
diskon 50% untuk 7 juta pelanggan 900 VA bersubsidi (Pemerintah Pusat)
Pemberian BST (Bantuan Sosial Tunai) kepada warga miskin (Pemerintah Pusat)
Bantuan Sembako (Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/kota)
BLT Dana Desa (Pemerintah Desa)
Pemerintah Mengupayakan tindakan untuk membantu perekonomian masyarakat yang terdampak pandemi corona Covid-19. Salah satunya dengan mengganti mekanisme pengalokasian dana desa dimasa pendemi. Dana Desa merupakan dana yang dialokasikan dalam APBN yang diperuntukkan bagi desa melalui APBD. Kementerian Desa PDTT telah melakukan perubahan Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana
Desa Tahun 2020. Peraturan ini diubah menjadi Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 6 Tahun 2020. Perubahan tersebut untuk mengatur penggunaan Dana Desa untuk mendukung pencegahan dan penanganan pandemi Covid-19. Dana desa sendiri dapat digunakan untuk pelaksanaan Desa Tanggap Covid-19 dan pelaksanaan PKDT. Dasar ketentuan itu adalah Surat Edaran (SE) Nomor 8 Tahun 2020 tentang Desa Tanggap Covid-19 dan Penegasan PKDT yang dikeluarkan Menteri Desa. Dimasa pandemi ini pemerintah memperioritaskan penglokasian dana desa untuk dua hal yaitu; Prioritas pertama adalah pembangunan infrastruktur secara swakelola dengan sistem Padat Karya Tunai Desa (PKDT) untuk memperkuat daya tahan ekonomi desa dan pendapatan masyarakat. Prioritas kedua adalah penguatan kesehatan masyarakat melalui upaya pencegahan dan penanganan Covid-19.
Langkah selanjutnya Pemerintah memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat yang terdampak Covid-19. Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Trasmigrasi (Kemendes PDTT) akan mengeluarkan dana senilai Rp 22,4 triliun untuk 12.487.646 kartu keluarga miskin, dana sebesar 31 persen dari total Dana Desa 2020, Rp 72 triliun. Besaran BLT yang akan disalurkan adalah Rp 600 ribu per kepala keluarga setiap bulannya mulai April - Juni 2020. Adapun penerima BLT yakni keluarga miskin dan warga yang terdampak pandemi Covid-19 dan selama ini tidak menerima bantuan program BPNT, Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan dari pemerintah provinsi maupun bantuan dari pemkab atau pemkot.
Berikut adalah mekanisme pendataan BLT Dana Desa:
Mekanisme pendataan BLT Dana Desa yang pertama akan dilakukan
oleh Relawan Desa Lawan Covid-19. Setelah data terkumpul, selanjutnya pendataan akan fokus pada lingkup RT, RW, dan Desa.
Kemudian, hasil pendataan sasaran keluarga miskin akan dilakukan
musyawarah Desa Khusus, atau musyawarah insidentil. Dalam musyawarah ini akan membahas agenda tunggal, yaitu validasi dan finalisasi data.
Setelah dilakukan validasi dan finalisasi, mekanisme pendataan BLT
Dana Desa selanjutnya akan dilakukan penandatanganan dokumen hasil pendataan oleh Kepala Desa.
Hasil verifikasi dokumen tersebut, selanjutnya akan dilaporkan
kepada tingkat yang lebih tinggi yaitu Bupati atau Wali Kota melalui Camat.
Terakhir, program BLT Dana Desa bisa segera dilaksanakan dalam
waktu selambat-lambatnya 5 hari kerja per tanggal diterima di Kecamatan.
Selain pendataan, pemerintah juga telah menyusun mekanisme penyaluran BLT Dana Desa yang dimuat dalam salinan Permen Desa PDTT Nomor 6 Tahun 2020. Mekanisme ini dibuat agar program dapat dilaksanakan dengan tepat sasaran dan tepat guna. Berikut mekanisme penyaluran BLT Dana Desa beserta alokasinya:
Pertama, untuk desa yang menerima Dana Desa sebesar Rp 800
juta, alokasi BLT maksimal sebesar 25 persen dari jumlah Dana Desa.
Selanjutnya, mekanisme penyaluran BLT Dana Desa yang
mendapatkan besaran Rp 800 juta hingga Rp 1,2 miliar, bisa mengalokasikan BLT maksimal 30 persen.
Ketiga, bagi desa yang menerima Dana Desa Rp 1,2 miliar atau lebih akan mengalokasikan BLT maksimal sebesar 35 persen.
Sedangkan desa yang memiliki jumlah keluarga miskin lebih besar
dari anggaran yang diterima, bisa mengajukan penambahan dana setelah disetujui oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.
Berdasarkan Permen yang telah dibuat, mekanisme penyaluran
BLT Dana Desa ke masyarakat akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah melalui metode non-tunai (cashless). Dalam hal ini, Kepala Desa berlaku sebagai penanggung Jawab penyaluran BLT.
Selanjutnya, jangka waktu penyaluran BLT bisa dilakukan selama
3 bulan, terhitung sejak April 2020 s/d Juni Setiap keluarga penerima manfaat BLT Dana Desa akan mendapatkan uang sebesar Rp 600 ribu per bulan (sudah di perbaharui berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 50 pasal 32A ayat 5 ditambah Rp, 300.000 untuk Bulan ke empat sampai Bulan ke enam per KPM.
Berdasarkan usulan Desa/Kelurahan Kecamatan Padang Tualang mengusulkan sebanyak 3.778 KK Penerima manfaat Bantuan Sosial Tunai (BST Pusat), 8.767 Paket Sembako APBD Provinsi SUMUT, 3.955 Paket sembako
APBD Kabupaten Langkat untuk warga miskin dan rentan miskin terdampak Covid-19. Dari usulan tersebut yang sudah teralisasi adalah Paket Sembako APBD Provinsi SUMUT, Paket sembako APBD Kabupaten Langkat. Sedangkan Bantuan Sosial Tunai (BST) Pusat beluma seluruhnya terealisasi dari yang di usulkan.
Kementrian Desa merupakan salah satu Kementrian yang terlibat dalam menanggulangi warga miskin dan miskin baru di Desa yang terkena dampak Covid-19, Dasar hukum pemberian Bantuan Langsung Tunai Dana Desa adalah Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 6 Tahun 2020 tentang Perubahan PeraturanMenteri Desa PDTT Nomor 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa.Pengaturan terkait dengan BLT-Dana Desa dapat dilihat pada pasal 8, pasal 8A, serta pada Lampiran-1 dan Lampiran-2 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Sasaran penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa adalah keluarga miskin non PKH, atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang kehilangan mata pencaharian belum terdata (exclusion error) dan mempunyai anggota keluarga yang rentan sakit menahun.
Secara teori Bantuan Langsung Tunai Dana Desa diharapkan menjadi jaring pengaman sosial bagi warga miskin, dimana masyarakat diharuskan mengikuti protokol kesehatan salah satunya adalah masyarakat dihimbau untuk dirumah aja apabila tidak ada keperluan yang sangat mendesak di luar rumah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Bantuan Langsung Tunai Dana Desa diharapkan mampu menanggulangi warga miskin terdampak Covid-19 agar bisa mencukupi kebutuhan pokok di masa pandemi Covid-19 selama diam dirumah saja.
Dalam pelaksanaannya dilapangan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa tidak serta merta berjalan lancar seperti apa yang sudah di rencanakan sesuai harapan Pemerintah, dalam pengamatan awal saya terhadap Bantuan Langsung Tunai Dana Desa, ada beberapa permasalahan baru yang muncul dalam pelaksanaan Implementasi Kebijakan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa.
Kurangnya informasi yang disampaiakan kepada masyarkat dan begitu cepatnya peraturan dan juknis serta juklak berubah, dan banyaknya isu yang muncul tidak sesuai fakta (hoax) sehingga memicu polemik dan dinamika sosial di tengah tengah masyarakat Desa maupun Kelurahan di Kecamatan Padang Tualang.
Di samping itu banyak para Kepala Desa yang kelabakan karena daftar penduduk desa yang berhak menerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD). Pasalnya banyak desa yang mungkin jumlah penerima BLT yang memenuhi kriteria tidak sebanding dengan jatah anggaran yang diambil dari dana desa, karena jumlah penerima BLT jauh lebih besar dari anggaran yang tersedia. Meski kriteria penerima diatur jelas namun pendataan di desa berjalan penuh dinamika.
Perangkat desa bingung dengan adanya informasi yang simpang-siur dan ketentuan yang berubah-ubah, karena itu muncul berbagai riak di desa.
Banyaknya pertanyaan warga terkait BLT DD dan berbagai komplain warga tersebut kepada pemerintahan desa.
Berdasarkan berbagai fenomena yang terjadi dan berbagai kajian regulasi yang ada yang telah di uraikan di atas banyak hal yang menarik sebagai temuan awal saya di lapangan, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Implementasi Kebijakan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa di
Masa Pandemi Covid-19 dalam Menanggulangi Masyarakat Miskin di Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat”
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas sebelumnya tentang Kebijakan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa di Masa Pandemi Covid-19 dalam menanggulangi masyarakat miskin di Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat, maka pertanyaan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana Implementasi Kebijakan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa di masa Pandemi Covid-19 dalam menanggulangi masyarakat miskin di Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat dilihat dari sisi komunikasi yang dibangun, pemberian informasi, tanggapan/respon masyarakat terhadap kebijakan/program tersebut, waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kebijakan/program dan dana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kebijakan/program?
2. Faktor-faktor apa saja penghambat dalam pelaksanaan Kebijakan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa di masa Pandemi Covid-19 dalam menanggulangi masyarakat miskin di Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a) Untuk menganalisisImplementasi Kebijakan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa di masa Pandemi Covid-19 dalam menanggulangi masyarakat miskin di Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat.
b) Untuk menganalisis kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan
BLT Dana Desa di masa Pandemi Covid-19 dalam menanggulangi masyarakat miskin di Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat.
1.4. Manfaat Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara langsung maupun tidak langsung bagi sivitas akademika dalam pengembangan keilmuan (aspek teoritis) maupun bagi pemangku kebijakan (aspek praktis) yang ditujukan kepada pemerintah daerah dalam menanggulangi persoalan kemiskinan ditengah musibah pandemi.
1. Manfaat Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu Studi Pembangunan, secara lebih spesifik dalam konteks kebijakan penanggulangan kemiskinan yang sesuai dengan kewenangan daerah kabupaten/kota dan provinsi. Selain itu hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberi tambahan informasi serta wawasan bagi dunia pendidikan di perguruan tinggi untuk pengembangan lebih lanjut tentang teori dan praktek kebijakan program kemiskinan yang baik di tengah masa pandemi seperti kasus yang saat ini sedang berlangsung.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi pemerintah daerah khususnya, sebagai pelaksana kebijakan berkaitan adanya kebijakan dan tindakan yang cepat terkait sistem mitigasi bencana pandemi Covid-19 di daerah dalam penanggulangan kemiskinan dan dapat dijadikan bahan rekomendasi dan referensi bagi pemerhati kebijakan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu
Tidak banyak hasil penelitian yang berkaitan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa dimasa pandemi yang sudah terpublikasi dalam jurnal penelitian. Hal ini dikarenakan isu dan masalah yang dikaji termasuk sesuatu yang baru dan persoalan-persoalan di masa pandemi berkaitan dengan dana desa pun kebijakannya baru ada di April tahun 2020. Namun dari beberapa penelusuran yang peneliti lakukan terdapat beberapa kajian yang sejenis yang bisa dijadikan referensi untuk membantu peneliti dalam memahami fenomena dan teori-teori yang berkaitan dalam penelitian yang saat ini dilakukan, antara lain:
1. Iping, B. (2020) tentang Perlindungan Sosial Melalui Kebijakan Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) Di Era Pandemi Covid-19: Tinjauan Perspektif Ekonomi dan Sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan perlindungan sosial di Indonesia, perlindungan sosial melalui pemberian BLT dimasa pandemi Covid-19 serta dampak yang ditimbulkan dari segi ekonomi dan sosial. Metode yang digunakan adalah metode deksriptif dengan pengumpulan data melalui library studies (studi kepustakaan), di mana peneliti melakukan penelusuran terhadap literatur kemudian melakukan penelaahan. Setelah itu, dianalisis dalam bentuk deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh adalah bahwa: Pertama, di Indonesia, pelaksanaan sistem perlindungan sosial telah dilakukan melalui berbagai program dan telah berjalan lama. Program-program perlindungan
sosial tersebut telah dilaksanakan sejak masa pemerintahan orde baru.
Kedua, pada masa pandemi Covid-19 pemerintah memberikan bantuan dalam bentuk tunai yang ditujukan kepada kelompok masyarakat paling terdampak pandemi COVID-19, meliputi masyarakat miskin, pekerja informal serta pelaku usaha transportasi daring. Ketiga, secara ekonomi, pemberian BLT di satu sisi memberikan dampak yang sangat signifikan untuk mempertahankan daya beli dan kepada kelompok pelaku usaha untuk kelangsungan usaha dan meminimalkan dampak pemutusan hubungan kerja (PHK), namun dari segi sosial dapat memicu gejolak berupa konflik serta timbulnya korupsi.
2. Binar Dwiyanto Pamungkas, Suprianto, S., Usman, U., Sucihati, R. N.,
& Fitryani, V. (2020) tentang Penggunaan Dana Desa Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Sumbawa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan dana desa pada tahun anggaran 2020 untuk penanganan Covid-19 di Kabupaten Sumbawa. Untuk mencapai tujuan tersebut, digunakan metode penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah 157 desa di Kabupaten Sumbawa, kemudian peneliti membagi desa tersebut menjadi empat wilayah berdasarkan letak geografis masing- masing desa. Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder, antara lain jumlah dana desa yang dapat dilihat dari dokumen dana desa tahun 2020, jumlah relawan Covid-19 di desa, dan besaran anggaran untuk penanggulangan COVID-19 dan penanganan di desa yang bersumber dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa: dana desa digunakan untuk 1). Pencegahan dan penanganan Covid- 19, 2). Insentif Dana Desa, 3). Bantuan Langsung Tunai. Dana desa tersebut digunakan untuk pencegahan dan penanganan Covid-19 di Kabupaten Sumbawa sebesar Rp. 3.634.100.020. Dana desa digunakan untuk dana yang digunakan untuk kas desa sebesar Rp. 28.141.939.407. dan dana desa yang digunakan untuk bantuan langsung tunai dapat menampung sebanyak 24.772 keluarga sebagai penerima manfaat.
3. Nuniek Dewi Pramanik (2020) tentang Dampak Bantuan Paket Sembako Dan Bantuan Langsung Tunai Terhadap Kelangsungan Hidup Masyarakat Padalarang Pada Masa Pandemi Covid 19. Dampak bantuan paket sembako dan bantuan langsung terhadap kelangsungan hidup masyarakat Padalarang saat Pandemi Covid- 19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bantuan paket sembako dan bantuan langsung tunai untuk memberikan pengaruh terhadap kelangsungan hidup masyarakat Padalarang pada saat Pandemi Covid-19. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa bantuan paket sembako dan bantuan langsung tunai menjadi hal yang urgen dalam membantu masyarakat yang terdampak, maka seharusnya Pemerintah Kota Padalarang dalam hal ini Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat untuk meningkatkan bantuan paket sembako dan bantuan langsung tunai, mengingat kelangsungan hidup warga di masa Pandemi-19 sangat miris dan banyak warga yang kesulitan dan tidak mendapat penghasilan guna membiayai hidup mereka.
2.2. Kajian Teori dan Konsep
Dalam sub bab ini akan dibahas teori-teori dan konsep yang berkaitan dengan tema penelitian. Disini penulis akan memaparkan teori dan konsep dari para ahli terkait dengan kebijakan Dana desa melalui Bantuan Langsung Tunai di masa pandemi dalam rangka mengentaskan kemiskinan masyarakat desa.
2.2.1. Kebijakan Publik
Istilah kebijakan publik di era saat ini, sering dan kerap sekali dipergunakan dalam kaitannya dengan tindakan atau kegiatan-kegiatan pemerintah yang sering sekali dimaknai sebagai tindakan politik. Kata kebijakan sendiri berasal dari kata bijak yang berarti selalu mengunakan akal budinya pandai ataupu mahir. Sedangkan kebijakan berarti kepandaian, kemahiran, kebijaksanaan dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan dan cara bertindak. Hal ini sesuai dengan konsep kebijakan dari Freidrich (2001:3) yang mendefenisikan kebijakan sebagai serangkaian tindakan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan tertentu dengan menunjukkan hambatan-hamabatan serta kesempatan- kesempatan terkait pelaksanaan usulan kebijakan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan. Oleh karena itu, kebijakan publik mengandung minimal tiga kompenen dasar yaitu tujuan yang jelas, sasaran yang spesifik dan cara mencapai sasaran tersebut. Komponen yang ketiga biasanya belum dijelaskan secara rinci dan birokrasi yang mempunyai peran dalam menerjemahkannya sebagai program aksi dan proyek.
Diantara para ahli masih terdapat perbedaan pemahaman antara satu
dengan yang lainnya terkait kebijakan publik. Dari berbagai pendapat mengenai kebijakan publik masih terdapat beberapa persamaan. Menurut Edward III (2001:19) mendefinisikan kebijakan publik sebagai apa yang dinyatakan dan dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah, kebijakan publik itu berupa sasaran atau tujuan program-program pemerintah. Dari pendapat ini, kebijakan publik yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang sedang dihadapai oleh masyarakat untuk dicarikan jalan keluar baik melalui peraturan pemerintah, peraturan daerah, keputusan pejabat birokrasi dan sebagainya.
Dalam perannya kebijakan publik memiliki tahapan untuk pemecahan masalah, Dunn (2003) menyatakan bahwa tahap penting dalam pemecahan masalah publik melalui kebijakan adalah:
a. Penetapan agenda kebijakan (agenda setting) b. Formulasi kebijakan (policy formulation) c. Adopsi kebijakan (policy implementation) d. Implementasi kebijakan (Policy Implementation) e. Penilaian kebijakan (policy asesment)
Menurut Nugroho (2006:10), ada beberapa tujuan dari adanya kebijakan publik yaitu:
1. Kebijakan publik bertujuan untuk mendistribusikan sumber daya ngara dan yang bertujuan untuk meyerap sumber daya negara;
2. Regulasi dan deregulatif. Kebijakan publik regulasi adalah bersifat mengatur dan membatasi, seperti kebijakan tarif, kebijakan pengadaan barang dan jasa, kebijakan mengenai proteksi industri dan lain sebagainya. Kebijakan publik
sebagai deregulatif adalah kebijakan yang bersifat membebaskan, seperti kebijakan privatisasi, kebijakan penghapusan tarif, dan lain sebagainya.
3. Dinamisasi dan stabilisasi. Kebijakan publik untuk dinamisasi adalah kebijakan yang bersifat menggerakkan sumber daya nasional untuk mencapai kemajuan tertentu yang dikehendaki. Kebijakan publik untuk stabilisasi adalah kebijakan yang bersifat mengerem dinamika yang terlalu cepat agar tidak merusak sistem yang ada, baik sistem politik, ekonomi, keamanan ataupun sistem sosial.
4. Kebijakan publik yang memperkuat peran negara lebih besar dari pihak lainnya, seperti kebijakan publik mengenai pendidikan nasional, dimana negara merupakan pelaku utama. Kebijakan publik yang memperkuat pasar merupakan kebijakan yang mendorong lebih besar peran publik atau mekanisme pasar dari peran negara seperti kebijakan privatisasi BBM, kebijakan mengenai perseroan terbatas dan lain sebagainya.
2.2.2. Pengertian Analisis
Analisis kebijakan merupakan penelitian sosial terapan yang secara sistematis disusun dalam rangka mengetahui substansi dari kebijakan agar dapat diketahui secara jelas informasi mengenai masalah-masalah yang dijawab oleh kebijakan dan masalah-masalah yang mungkin timbul sebagai akibat dari penerapan kebijakan. Ruang lingkup dan metode analisis kebijakan umumnya bersifat deskriptif dan faktual mengenai sebab-sebab dan akibat- akibat suatu kebijakan (Dunn;2000;85-97).
Penelitian kebijakan sedapat mungkin melihat berbagai aspek dari
kebijakan agar dapat menghasilkan informasi yang lengkap.
Informasi mengenai masalah-masalah yang dijawab oleh kebijakan serta masalah-masalah yang ditimbulkan dari penerapan kebijakan menjadi fokus dari analisis kebijakan.
Rekomendasi yang dihasilkan dari proses penelitian kebijakan dapat berupa dukungan penuh terhadap kebijakan, kritik dan saran mengenai bagian mana dari kebijakan yang perlu diperbaiki, atau dapat juga berupa rekomendasi agar kebijakan tidak lagi diterapkan.
Informasi yang berkaitan dengan kebijakan berupa masalah kebijakan, masa depan kebijakan, aksi kebijakan, hasil kebijakan, dan kinerja kebijakan.
Analisis kebijakan menggabungkan lima prosedur umum yang lazim dipakai dalam pemecahan masalah manusia, yaitu: definisi, prediksi, preskripsi, deskripsi dan evaluasi (Dunn,2000;17-21).
Masing-masing dari informasi kebijakan berkaitan dengan prosedur kebijakan. Secara lebih jelas Dunn menggambarkan hubungan antara lima informasi kebijakan dan lima prosedur kebijakan yang diformulasikan sebagai analisis kebijakan yang berorientasi pada masalah dengan gambar di bawah ini (Dunn;2000;21):
Gambar 1. Analisis Kebijakan Yang Berorientasi Pada Masalah:
Kelima informasi yang terkait dengan kebijakan saling berkaitan satu sama lain seperti ditunjukkan dalam gambar 1. Tanda panah yang menghubungkan tiap komponen informasi menggambarkan proses dinamis dimana satu tipe informasi dipindahkan ke informasi lain dengan menggunakan prosedur analisis kebijakan yang tepat. Perumusan masalah (definisi) merupakan upaya untuk mengumpulkan informasi mengenai masalah-masalah yang menimbulkan masalah kebijakan. Melalui prosedur perumusan masalah dapat diidentifikasi mengenai masalah kebijakan yang tepat yang akan dijadikan sebagai fokus. Peramalan (prediksi) berisi informasi mengenai kondisi yang mungkin dapat terjadi pada masa mendatang sebagai konsekuensi dari penerapan kebijakan. Rekomendasi (preskripsi) menyediakan informasi mengenai kegunaan dari dari konsekuensi di masa mendatang dari suatu pemecahan
masalah.
Pemantauan (deskripsi) menghasilkan informasi tentang konsekuensi sekarang dari penerapan kebijakan. Evaluasi menyediakan informasi mengenai kegunaan dari pemecahan suatu masalah.
Analisis kebijakan dapat dilaksanakan dengan beberapa bentuk.
Menurut Dunn terdapat tiga bentuk analisis kebijakan, yaitu:
a. Analisis kebijakan prospektif
Analisis kebijakan prospektif adalah analisis kebijakan yang mengarahkan kajiannya pada konsekuensi-konsekuensi kebijakan sebelum suatu kebijakan diterapkan. Model ini dapat disebut sebagai model prediktif.
b. Analisis kebijakan retrospektif
Analisis kebijakan retrospektif adalah analisis kebijakan yang dilakukan terhadap akibat-akibat kebijakan setelah suatu kebijakan diimplementasikan.
Model ini biasanya disebut sebagai model evaluatif.
c. Analisis kebijakan integratif
Analisis kebijakan integratif adalah bentuk perpaduan antara analisis kebijakan prospektif dan analisis kebijakan retrospektif.
Bentuk analisis kebijakan prospektif memiliki kelemahan karena hanya berkutat pada analisis kebijakan yang mengarahkan perhatian pada konsekuensi kebijakan sebelum kebijakan diterapkan. Begitupun dengan bentuk analisis kebijakan retrospektif yang hanya memfokuskan kajiannya pada konsekuensi kebijakan setelah kebijakan diterapkan. Maka analisis kebijakan seharusnya menggunakan bentuk kebijakan integratif, yaitu dengan memadukan antara analisis kebijakan prospektif dan analisis kebijakan retrospektif.
Pada umumnya, analisis kebijakan memfokuskan kajiannya pada tiga hal.
Ketiga fokus tersebut merupakan pijakan yang dipedomani dalam melakukan analisis kebijakan. Tiga fokus tersebut, yaitu:
a. Definisi masalah sosial b. Implementasi kebijakan c. Akibat-akibat kebijakan
Dengan memfokuskan kajian pada ketiga hal di atas, proses analisis kebijakan akan berusaha mendefinisikan secara jelas permasalahan yang akan menjadi fokus kajian untuk ditanggulangi oleh kebijakan. Setelah masalah yang menjadi fokus kajian analisis kebijakan ditentukan, analisis kebijakan bertugas menentukan kebijakan yang sesuai dengan masalah sehingga masalah dapat dipecahkan dengan baik. Kebijakan yang telah ditetapkan dan diimplementasikan tentu menghasilkan konsekuensi dalam bentuk akibat-akibat. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa akibat positif dan atau akibat negatif. Untuk itulah, analisis kebijakan mengupayakan upaya prediktif dengan meramalkan akibat yang dapat ditimbulkan sebelum kebijakan diimplementasikan dan atau sesudah kebijakan diimplementasikan.
Dengan demikian, analisis kebijakan selalu berkaitan dengan hal-hal sebelum dan sesudah kebijakan ditetapkan dan diimplementasikan. Analisis kebijakan berusaha memberikan definisi yang jelas mengenai kedudukan suatu masalah kebijakan, prediksi yang berkaitan dengan kebijakan, rekomendasi atau preskripsi yang mungkin dapat bermanfaat bagi kebijakan, deskripsi atau pemantauan terhadap kebijakan, dan evaluasi mengenai kebijakan. Semuanya berjalan sebagai proses yang runtut dan sistematis dalam rangka mendukung
kebijakan yang bertujuan untuk mengatasi masalah.
2.2.3. Gaya Analisis Kebijakan
Menurut Leslie A. Pal dalam Joko terdapat tiga macam gaya analisis kebijakan (styles of policy analysis), yakni: analisis deskriptif, analisis proses, dan analisis evaluasi gaya merefleksikan orientasi atau postur intelektual terhadap masalah-masalah atau pertanyaan-pertanyaan kebijakan
a. Analisis Deskriptif (descriptive Analysis)
Analisis deskriptif dibedakan menjadi dua, sebagai berikut:
1) Analisis Isi (content analysis).
Analisis ini merupakan deskriptif empiris tentang isi kebijakan tertentu yang menaruh perhatian pda maksud, definisi masalah, tujuan, dan orientasi suatu kebijakan. Fokus analisis isi adalah kebijakan saat ini (current policy) yang membutuhkan beberapa penyelidikan (probing), paling tidak pada masa lalu untuk menyusun gambaran detail tentang maksud dan rasionalitasnya.
2) Analisis Sejarah (Historical Analysis)
Analisis histori ini melihat kebelakang dari pcmbuatan kcbijakan dan memeriksa peristiwa masa lalus secara tepat. Analisis histori dlakuakan karcna berasumsi bahwa kebijakan hanya dipahami scpenuhnya dengen memeriksa evolusinya yang menggambarkan kebijakan sejak lahir sampai sekarang.
b. Analisis Proses (Procces Analyst)
Analisis proses kebijakan adalah menganalisis terhadap proses ketika isi
kebijakan diambil atau ditentukan. Gaya analisis proses memfokuskan pada ketepatan dalam proses politik, keputusan, debat, konflik dan kompromi kompromi yang menhasilkan kebijakan. Analisis proses berorientasi pada usaha untuk mencba mcmberikan sketsa isi kebijakan tertentu. Dari perspektif proses, kebijakan selalu terjadi di antara kelompok dan kepentingan yang berbeda. Maka proses yang ada di dalamnya ketika kebijakan diambil perlu dilihat sebenamya isi kebijakan yang diambil tersebut dipengaruhi oleh kepentingan yang mana. Gaya analisis proses berasumsi bahwa kebijakan adalah usaha murni untuk memecahkan beberapa masalah tehnis kebijakan. Masalah tehnis proses pengambilan kebijakan tersebut adalah mulai dari merumuskan masalah, siapa yang dilbatkan dalam perumusannya, dan metode yang digunkan dalam pengambilan atau pengadopsian kebijakan.
c. Analisis Evaluasi (Evaluation Analysis)
Gaya analisis evaluasi dalam analisis kebijakan lebih dari sekedar menggambarkan dan menjelaskan proses kebijakan. Evaluasi bertujuan tingkat penilaian. Evaluasi bisa jadi menilai konsistensi logis, eflsiensi atau karakteristik etis. Evaluasi logis meneliti dan menilai isi kebijakan tertentu secara detail, tidak sekedar menggambarkan. Evaluasi ini menilai beberapa dimensi antara lain: menilai konsistensi internal tujuan kebijakan, menilai konsistensi antar tujuan kebijakan dan instrumen kebijakan dengan pralatan dan menilai perbedaan konskuensi yang diharapkan dan yang tidak diharapkan. Evaluasi empiris melihat dan menilai apakah kebijakan mampu menyelesaikan masalah dalam arti luas analisis evaluasi menekankan teknik-
teknik dalam menilai efisiensi dan efektifitan dalam menilai sesuatu kebijakan. Oleh karena itu, dalam analisis evaluasi berusaha untuk menilai dampak yang ditimbulkan dari kebijakan, apakah sesuai dengan target atau berkaitan dengan tujuan kebijakan. Evaluasi etis menilaikebijakan berkaitan dengan system nilai yang telah ada, yaitu tentang benar salah analisis dampak dalam menggambarkan bahwa efek atau dampak kebijakan melanggar prinsip-prinsip moral
2.2.4. Implementasi Kebijakan
Implementasi merupakan salah satu tahap dalam proses kebijakan publik. Biasanya implementasi dilaksanakan setelah sebuah kebijakan dirumuskan dengan tujuan yang jelas. Implementasi adalah suatu rangkaian aktifitas dalam rangka menghantarkan kebijakan kepada masyarakat sehingga kebijakan tersebut dapat membawa hasil sebagaimana yang diharapkan.
Meter Van Horn (2005) membatasi implementasi kebijakan sebagai tindakan - tindakan yang dilakukan oleh individu - individu atau kelompok- kelompok baik pemerintah maupun swasta yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan kebijakan sebelumnya. Tindakan-tindakan ini mencakup usaha-usaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai perubahan-perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan. Perlu ditekankan disini adalah bahwa tahap implementasi kebijakan tidak akan dimulai sebelum tujuan-tujuan dan saran-
saran ditetapkan diidentifikasi oleh keputusan-keputusan kebijakan. Dengan demikian, tahap implementasi terjadi hanya setelah undang-undang ditetapkan dan dana disediakan untuk membiayai implementasi kebijakan tersebut. Selanjutnya Meter Van Horn dalam model implementasi kebijakannya juga menganggap faktor komunikasi akan berpengaruh yaitu komunikasi antar organisasi terkait serta kegiatan-kegiatan pelaksanaannya mencakup antar hubungan dalam lingkungan sistem politik dengan kelompok-kelompok sasaran. Model implementasi ini mengharapkan semua pelaksana harus memahami apa yang diidealkan oleh kebijakan yang implementasinya menjadi tanggung jawab mereka, organisasi atasan mestinya mampu mengkondisikan organisasi bawahan atau pelaksana, karena dalam implementasi sebuah program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain, untuk itu diperlukan koordinasi dan kerjasama bagi keberhasilan suatu program.
Meter Van Horn dalam Winarno (2002: 110-111), memaparkan bahwa keberhasilan implementasi didasari pada lima hal;
1. Pada sejauh mana pencapaian ukuran-ukuran dasar dan tujuantujuankebijakan telah direalisasikan.
2. Adanya sumber-sumber yang dimaksudmencakup dan dan perangsang lain (inective) yang memperlancar dan mendorong implementasi kebijakan yang efektif.
3. Karakteristik badan pelaksana, ini berkaitan dengan norma dan pola hubungan yang terjadi berulang-ulang dalam badan eksekutif yang
mempunyai hubungan baik potensial maupun nyata dengan apa yang mereka miliki dengan menjalankan kebijakan.
4. Kondisi ekonomi, sosial dan politik. Kelima, kecendrungan pelaksana, ini berkaitan dengan pemahaman pelaksana terhadap ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan.
5. Indikator menjadi parameter implementasi kebijakan publik, dari kelima indikator tersebut dapat diketahui sejauhmana suatu kebijakan diimplementasikan.
Williams (Jones, 1996:295) mengatakan bahwa masalah yang paling penting dalam implementasi adalah memindahkan suatu keputusan kedalam kegiatan atau pengoperasian dengan cara tertentu, dan cara tersebut adalah bahwa apa yang dilakukan memiliki kemiripan nalar dengan keputusan tersebut, dengan baik dalam lingkup lembaganya.
Beberapa pengertian yang dijelaskan oleh para ahli di atas menunjukkan bahwa implementasi kebijakan merupakan bagian penting dari rangkaian proses kebijakan, tanpa adanya implementasi kebijakan yang dikeluarkan maka sebuah kebijakan akan sia-sia karena tidak akan mencapai target dan sasaran yang telah ditetapkan.
Adapun makna Implementasi yang disampaikan Mazmanian dan Sabatier (1979) dikutip dalam buku Solichin Abdul Wahab (2008:65) menjelaskan makna implementasi ini dengan mengatakan bahwa:
memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijakan, yakni kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul
sesudah disahkannya pedoman-pedoman kebijakan Negara, yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian- kejadian.
Pengertian implementasi di atas apabila dikaitkan dengan kebijakan adalah bahwa sebenarnya kebijakan itu tidak hanya dirumuskan lalu dibuat dalam suatu bentuk positif seperti undang-undang dan kemudian didiamkan dan tidak dilaksanakan atau diimplmentasikan, tetapi sebuah kebijakan harus dilaksanakan atau diimplementasikan agar mempunyai dampak atau tujuan yang diinginkan.
Implementasi kebijakan merupakan suatu upaya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dengan sarana-sarana tertentu dan dalam urutan waktu tertentu. Proses implementasi kebijakan publik baru dapat dimulai apabila tujuan-tujuan kebijakan publik telah ditetapkan, program-program telah dibuat, dan dana telah dialokasikan untuk pencapaian tujuan kebijakan tersebut. Jadi Pelaksanaan kebijakan dirumuskan secara pendek to implement (untuk pelaksana) berarti to provide the means forcarrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu). Maka pelaksanaan kebijakan dapat dipandang sebagai suatu proses melaksanakan keputusan kebijakan. Biasanya dalam bentuk perundang-undangan, peraturan pemerintah, peraturan daerah, keputusan peradilan perintah eksekutif, atau dekrit presiden.
Menurut Metter Van Horn dalam Agustino (2008: 195) menjelaskan bahwa: Implementasi kebijakan adalah tindakan-tindakan
yang dilakukan baik oleh individu-individu/pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.
Menurut Mazmanian dan Sabatier dalam Agustino (2008: 196) menjelaskan bahwa: Implementasi kebijakan adalah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan. Lazimnya, keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah-masalah yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau mengatur proses implementasinya.
Menurut Bressman dan Wildansky dalam Agustino (2008: 198) menyatakan bahwa: Implementas kebijakan adalah suatu proses interaksi antara suatu perangkat tujuan dan tindakan yang mampu mencapai tujuan.
Implementasi kebijakan merupakan proses lanjutan dari tahap formulasi kebijakan. Pada tahap formulasi ditetapkan strategi dan tujuan-tujuan kebijakan sedangkan pada tahap implementasi kebijakan, tindakan (action) diselenggarakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Menurut Hogwood dan Gunn dalam Solichin Abdul Wahab (2008:78-71), untuk dapat mengimplementasikan kebijakan secara sempurna maka diperlukan beberapa persyaratan antara lain:
a. Kondisi eksternal yang di hadapi oleh Badan/Instansi pelaksana