IMPRESSION MANAGEMENT SARJANA BARU UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA DI MEDIA SOSIAL LINKEDIN DALAM MEMBANGUN CITRA POSITIF BAGI PERUSAHAAN
PENYEDIA LAPANGAN KERJA
SKRIPSI
HESMITHA EUNIKE 170904109 PUBLIC RELATIONS
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
IMPRESSION MANAGEMENT SARJANA BARU UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA DI MEDIA SOSIAL LINKEDIN DALAM MEMBANGUN CITRA POSITIF BAGI PERUSAHAAN
PENYEDIA LAPANGAN KERJA
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
HESMITHA EUNIKE 170904109 PUBLIC RELATIONS
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus, atas berkat dan kasih karunia-Nya yang diberikan bagi penulis, memampukan, menguatkan dan menyertai penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Skripsi ini berjudul “Impression Management Sarjana Baru Universitas Sumatera Utara di Media Sosial LinkedIn dalam Membangun Citra Positif Bagi Perusahaan Penyedia Lapangan Kerja”. Penelitian dan penulisan skripsi ini dilakukan sebagai salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua penulis, Hesron Siregar dan Hotmian Simaremare atas cinta kasihnya, dukungan penuh kepada penulis selama duduk di bangku perkuliahan hingga proses penyusunan skripsi. Terima kasih atas doa yang tidak pernah putus, dorongan dan motivasi, semangat, perhatian, dan kasih sayangnya. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua adik penulis, Kimham Yosafat dan Mesakh Epafroditus atas setiap doa dan semangat yang diberikan.
Selama penyusunan skripsi, penulis mendapatkan berbagai bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak yang menolong penulis. Oleh sebab itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si., Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Mazdalifah, M.Si., Ph.D selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara dan Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si., Ph.D selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara periode sebelumnya.
3. Ibu Yovita Sabarina Sitepu, S.Sos., M.Si. selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara, yang juga dosen pembimbing akademik penulis dan Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos., M.A selaku Sekretaris
Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara periode sebelumnya.
4. Bapak Dr. Sakhyan Asmara, MSP selaku dosen pembimbing, yang memberikan arahan serta bimbingan dalam penulisan skripsi ini.
5. Seluruh dosen dan pengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP USU, yang memberikan ilmu dan didikan selama masa perkuliahan.
6. Kak Maya dan Kak Yanti, selaku staff Program Studi Ilmu Komunikasi, yang memberikan bantuan dalam hal administrasi selama perkuliahan.
7. Keluarga besar, terkhusus Opung, yang senantiasa memperhatikan, menopang di dalam doa dan menguatkan penulis.
8. GPPS El Shadday Pekanbaru, terima kasih atas setiap doa dan dukungan yang diberikan bagi penulis.
9. GPPS Hermon Medan, terima kasih buat setiap doa yang diberikan bagi penulis.
10. Para informan yang telah membantu serta bersedia meluangkan waktunya dalam proses wawancara, Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos., M.A, Bapak Fahmi Ananda, M.Psi, Psikolog, Ibu Lia Anggia Nasution, M.I.Kom, Jehian Panangian Sijabat, Yanuar Kurniawan, Tesayunidia Tebe, Wilyanto, dan Eric Witarsa, sehingga penulis mendapatkan informasi yang diperlukan dalam penelitian.
11. Ibu Ika Sari Dewi, S.Psi, M.Pd, Psikolog, yang telah membantu penulis menjadi penghubung dalam berkomunikasi dengan informan.
12. Pers Mahasiswa Pijar, tempat penulis belajar dalam banyak hal, terima kasih untuk setiap momen dan kesempatannya selama ini.
13. Teman-teman selama perkuliahan, yang memberikan semangat satu sama lain, Natasia Fergina, Meilani Pardede, Debora Aurelia, Trinda Agnescia, Remasi Sitorus, Claudia Anastasya, Katie Stevani, Mirda Rasinta, Erna Angkat, Erika Sihite, Sheella Tan, senang bisa mengenal kalian selama kurang lebih empat tahun ini.
14. Teman-teman Ilmu Komunikasi angkatan 2017, terima kasih atas kebersamaan serta bantuannya selama masa perkuliahan.
15. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan di dalamnya.
Oleh karena itu, peneliti sangat mengharapkan kritik, saran, serta masukan untuk penyempurnaan skripsi ini sehingga menjadi lebih baik lagi. Harapannya, skripsi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumber informasi bagi pihak yang membutuhkannya.
Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih.
Medan, Agustus 2021
Hesmitha Eunike
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Impression Management Sarjana Baru di Media Sosial LinkedIn Dalam Membangun Citra Positif Bagi Perusahaan Penyedia Lapangan Kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fenomena keterlibatan para sarjana baru Universitas Sumatera Utara menggunakan media sosial LinkedIn dalam upaya mencari lapangan pekerjaan, mengetahui pengelolaan kesan yang dilakukan sarjana baru Universitas Sumatera Utara di media sosial LinkedIn dalam membangun citra positif bagi perusahaan penyedia lapangan kerja, serta mengetahui respon yang ditimbulkan perusahaan penyedia lapangan pekerjaan setelah para sarjana baru Universitas Sumatera Utara memuat profil di media sosial LinkedIn. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi, komunikasi massa, media baru, media sosial, dan pengelolaan kesan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Penelitian ini melibatkan lima orang informan utama, yaitu tiga informan yang merupakan sarjana baru Universitas Sumatera Utara, dua informan dari pihak perusahaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga informan yang merupakan sarjana baru memiliki keterlibatan dalam menggunakan media sosial LinkedIn. Para sarjana baru melakukan pengelolaan kesan dalam menggunakan media sosial LinkedIn dengan berbagai cara untuk membentuk citra positif. Melalui pengelolaan kesan dan penggunaan LinkedIn tersebut, mereka mendapatkan umpan balik serta respon yang beragam, salah satunya adalah mendapatkan pekerjaan.
Kata Kunci: Pengelolaan Kesan, Sarjana Baru, Media Baru, LinkedIn, Citra Positif
ABSTRACT
This research is entitled “Impression Management for Fresh Graduates in LinkedIn Social Media to Building a Positive Image for Employment Provider Companies”.
The purpose of this study is to find out the phenomenon of the involvement of fresh graduates from the University of North Sumatra using LinkedIn social media in an effort to find employment, to find out the impression management carried out by fresh graduates from the University of North Sumatra on LinkedIn social media in building a positive image for employers providing employment, and find out the response of job providers after fresh graduates from the University of North Sumatra posted profiles on LinkedIn social media. The theories used in this research is communication, mass communication, new media, social media, and impression management. The method used in this research is qualitative method with constructivism paradigm. This research involved five main informants, three informants who were fresh graduates from the University of North Sumatra, two informants from the company. The data collection technique used is in-depth interviews. The results shows that three informants who were fresh graduates were involved in using LinkedIn social media. Fresh graduates carry out impression management in using LinkedIn social media in various ways to form a positive image.
Through impression management and the use of LinkedIn, they get various feedback and responses, one of them is getting a job.
Keywords: impression management, fresh graduates, new media, LinkedIn, positive image
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... v
KATA PENGANTAR ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... ix
ABSTRAK ... x
ABSTRACT ... xi
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah ... 1
1.2 Fokus Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II : KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Kajian ... 9
2.1.1 Paradigma Konstruktivisme ... 10
2.2 Kerangka Teori... 11
2.2.1 Komunikasi ... 11
2.2.2 Komunikasi Massa ... 13
2.2.2.1 Uses and Gratification ... 15
2.2.3 Media Baru (New Media) ... 18
2.2.4 Media Sosial ... 19
2.2.5 LinkedIn ... 20
2.2.6 Konsep Diri ... 21
2.2.6.1 Pengertian Konsep Diri ... 22
2.2.6.2 Pembentukan Konsep Diri ... 24
2.2.6.3 Jenis Konsep Diri ... 25
2.2.7 Impression Management (PengelolaanKesan) ... 26
2.2.7.1 Proses Pembentukan Kesan ... 28
2.2.7.2 Teori Goffman dalam Pengelolaan Kesan ... 29
2.2.7.3 Dramaturgi ... 30
2.2.8 Citra Diri ... 31
2.2.8.1 Citra Diri Positif ... 32
2.3 Model Teoretis ... 33
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian... 34
3.2 Objek Penelitian ... 35
3.3 Subjek Penelitian ... 35
3.4 Kerangka Analisis ... 36
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 36
3.5.1 Data Primer ... 37
3.5.2 Data Sekunder ... 38
3.5.3 Keabsahan Data (Triangulasi) ... 39
3.6 Teknik Analisis Data ... 39
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 41
4.1.1 Proses Penelitian ... 41
4.1.2 Profil Informan ... 46
4.1.3 Hasil Wawancara ... 51
4.1.3.1 Sarjana Baru Universitas Sumatera Utara ... 51
4.1.3.2 Penggunaan Media Sosial LinkedIn di Kalangan Sarjana Baru untuk Menciptakan Citra Positif Bagi Perusahaan Penyedia
Lapangan Kerja ... 54
4.1.3.3 Pengelolaan Kesan (Impression Management) Sarjana Baru Pada Media Sosial LinkedIn ... 59
4.1.3.4 Citra Positif Sarjana Baru Sebagai Daya Tarik Bagi Perusahaan Penyedia Lapangan Pekerjaan... 67
4.1.3.5 Kepuasan yang Dirasakan Saat Menggunakan LinkedIn ... 69
4.1.3.6 Pemilihan Menggunakan Media Sosial LinkedIn Dibandingkan dengan Platform Sejenis Lainnya ... 71
4.1.3.7 Harapan Sarjana Baru Terhadap Penggunaan Media Sosial LinkedIn... 75
4.1.3.8 Pemanfaatan Media Sosial LinkedIn dan Pengelolaan Kesan yang Dilakukan Oleh Perusahaan ... 76
4.2 Pembahasan ... 80
BAB V : SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 88
5.2 Saran ... 89
5.3 Implikasi Teoretis... 90
5.4 Implikasi Praktis ... 90
DAFTAR REFERENSI ... 91 LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Model Pendekatan Kegunaan dan Kepuasan Sumber 17 2.2 Tiga Bagian Konsep Diri menurut Baumeister & Bushman 24
2.3 Model Teoretis 33
3.1 Kerangka Analisis 36
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
4.1 Tabel Karakteristik Informan 50
4.2 Tabel Karakteristik Informan Triangulasi 51
4.3 Kesan yang ditampilkan, yang ingin ditampilkan, dan tujuan mengelola kesan
84
DAFTAR LAMPIRAN
Pedoman Wawancara Transkrip Wawacara
Surat Persetujuan (Informed Consent) Dokumentasi
Biodata Peneliti
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Konteks Masalah
Para sarjana baru berusaha untuk mendapatkan pekerjaan selepas menyelesaikan pendidikannya dan memperoleh gelar. Dalam usaha mendapatkan pekerjaan, para sarjana baru mencari informasi mengenai lowongan lapangan pekerjaan dari berbagai sumber informasi, termasuk di media internet. Pencarian informasi pekerjaan saat ini mulai memanfaatkan media digital, salah satunya lewat aplikasi LinkedIn, yang populer di kalangan anak muda, termasuk di dalamnya sarjana baru Universitas Sumatera Utara.
Dalam aplikasi LinkedIn, para sarjana baru memuat profilnya dengan sebaik mungkin dengan harapan akan mendapatkan kesempatan oleh perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dari para sarjana baru. Para sarjana baru berusaha membentuk kesan di media sosial demi portofolio yang baik untuk bisa dilirik oleh perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Portofolio itu dapat menjadi sebuah bekal bagi para sarjana baru untuk menampilkan kesan yang menarik, baik dari segi pendidikannya, prestasi dan pengalaman yang dimilikinya, dan lain sebagainya.
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia.
Manusia memiliki potensi dan kemampuan yang dapat dikembangkan. Lewat pendidikan, seseorang dapat menggali kemampuannya, menambah wawasan dan dapat menjadi pribadi yang maju dengan kecakapan karakter yang dimiliki. Sebagian orang pun memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, salah satunya ke tingkat perguruan tinggi.
Lima alasan pentingnya pendidikan di antaranya adalah pendidikan membantu mewujudkan cita-cita, lebih berpikiran terbuka, memiliki jalinan pertemanan yang luas, memiliki peluang kerja yang lebih besar, dan pola pikir lebih tertata (Monica, 2018: 1-2). Jenjang pendidikan dimulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, serta Perguruan Tinggi.
Sarjana merupakan sebuah sebutan atau title yang diberikan kepada mahasiswa dan mahasiswi yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di Perguruan Tinggi, sesuai dengan bidang atau jurusan yang dipelajari. Sarjana baru atau yang lebih dikenal dengan fresh graduate adalah sebutan bagi mereka yang baru saja mendapatkan gelar akademik dari Perguruan Tinggi, baik tingkat diploma ataupun tingkat sarjana. Menurut Bacan dan Nuriyah (2010) fresh graduate adalah sebuah status yang disandang para lulusan yang baru selesai menempuh jenjang pendidikannya di perguruan tinggi dan belum memiliki pengalaman kerja formal dan dalam batasan waktu hingga 1 (satu) tahun.
Tidak dapat dipungkiri setelah menyelesaikan studi dan memperoleh gelar, para sarjana baru memiliki tujuan untuk membangun karir lewat pencarian lapangan pekerjaan. Menurut Nihayati dan Laksmi (2020: 56), salah satu kebutuhan informasi yang diperlukan oleh sarjana baru adalah informasi pekerjaan. Informasi pekerjaan dapat diperoleh lewat media offline, seperti informasi dari kerabat maupun orang yang dikenal, bursa kerja, lembaga perekrutan tenaga kerja, serta surat kabar. Hal itu juga dapat ditempuh melalui media online, seperti internet, televisi, radio, maupun dari media sosial.
Implikasi media sosial memudahkan proses difusi informasi pekerjaan. Di sisi lain, beberapa masalah juga ditemukan di dalamnya antara lain perekrut atau organisasi tidak memberikan tanggapan mengenai status aplikasi mereka, email yang terkadang tidak aktif, mengurangi tingkat keterlibatan penyedia pekerjaan dalam proses rekrutmen terjadi di seluruh platform media sosial (Nihayati dan Laksmi, 2020: 56).
Saat ini sarjana perguruan tinggi yang baru lulus masih mengalami hambatan dalam proses pencarian kerja. Badan Pusat Statistik melansir data terbaru mengenai jumlah pengangguran per Februari 2019 menurun, tetapi dari sisi pendidikannya, lulusan diploma dan universitas makin banyak yang tidak bekerja. Lulusan diploma mengalami kenaikan pengangguran sebesar 8,5%, sedangkan tingkat sarjana sebesar 25%. Data tersebut menunjukkan kenaikan pengangguran di tingkat sarjana paling besar. BPS mengungkapkan bahwa salah satu penyebabnya adalah lulusan
pendidikan rendah lebih menerima pekerjaan apapun, sedangkan di tingkat sarjana, mereka menunda bekerja sampai mendapat pekerjaan yang sesuai (Badan Pusat Statistik, 2019).
Dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam proses pencarian pekerjaan, seseorang perlu menampilkan sisi positif yang ada dalam dirinya untuk menciptakan kesan pertama yang baik. Presentasi diri (self presentation) mengacu pada keinginan individu untuk menampilkan sebuah gambaran yang diinginkan, baik bagi diri sendiri (internal) dan orang lain (eksternal). Self presentation adalah sebuah tindakan dari mengekspresikan diri dengan berbagai cara yang dibuat untuk menciptakan kesan yang menyenangkan atau sebuah kesan yang berhubungan dengan sesuatu yang ideal menurut seseorang.
Manusia memiliki motivasi tidak hanya untuk merasakan dirinya dalam cara- cara peningkatan diri, namun juga untuk menampilkan diri mereka yang disenangi oleh orang lain. Dalam proses presentasi diri, individu akan melakukan impression management (pengelolaan kesan). Tujuannya adalah agar dapat mempengaruhi orang lain, supaya disukai orang lain, ingin memperbaiki posisi, memelihara status dan sebagainya. (Widyastuti, 2014: 27).
Seseorang yang melakukan proses komunikasi akan berusaha untuk menciptakan kesan. Kesan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah yang terasa (terpikir) sesudah melihat (mendengar) sesuatu. Tiap individu dapat membentuk kesan tertentu sesuai dengan keinginannya di mata masyarakat, tak terkecuali melalui media sosial. Hal tersebut biasanya dilakukan untuk membuat profil seseorang menjadi lebih menarik dan memiliki nilai di mata orang lain.
Pembentukan kesan dapat diperoleh melalui pengelolaan kesan pada diri dengan baik.
Setiap individu biasanya melakukan manajemen kesan untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan dari orang lain atau untuk individu mau menyatakan identitas dirinya secara bebas. Ada beberapa cara mengelola kesan, seperti mengontrol arus informasi dalam suatu interaksi, meniru orang lain, atau memakai bahasa tubuh (Liliweri, 2017: 100).
Mahasiswa selama duduk di bangku perkuliahan tak jarang mencoba mencari pengalaman-pengalaman serta pencapaian lewat kegiatan yang dilaksanakan di kampus, yang sifatnya akademik maupun non akademik. Pengalaman dan pencapaian yang diperoleh dapat menjadi modal bagi mahasiswa dalam menciptakan kesan, khususnya dalam pencantuman riwayat hidup (curriculum vitae). Lewat pengalaman serta riwayat hidup itu dapat menjadi nilai tambah yang dilihat oleh perusahaan penyedia lapangan kerja.
Kebutuhan manusia akan pemenuhan informasi juga membuat bidang komunikasi ikut berkembang lebih cepat. Menurut Nurudin, abad komunikasi massa dituntut untuk berkembang dengan munculnya internet sebagai bagian dari media massa. Internet diintegrasikan dengan media massa yang telah ada lebih dahulu, yaitu televisi, radio, dan media cetak. Internet menawarkan khalayak akan peluang komunikasi yang besar, baik dari pengambilan informasi dan pertukaran antara individu dan kelompok (Chandra, 2017: 2).
Kehadiran media elektronik memudahkan seseorang untuk terhubung dengan orang lain, tidak terbatas oleh jarak dan waktu. Media elektronik memudahkan semua orang untuk bersentuhan dengan siapa saja dan di mana saja dalam sekejap (Sunarwan, 2015: 93-94). Lewat medium internet, bermacam aplikasi pun muncul sebagai bentuk dari pengembangan teknologi. Salah satu di antara sejumlah layanan yang disajikan di internet beberapa waktu belakangan dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan aktivitas komunikasi, yaitu layanan berbentuk aplikasi jejaring sosial (social network service) (Sunarwan, 2015: 94).
Penggunaan internet memiliki efek yakni para penggunanya menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengakses situs pada jaringan internet tersebut. Sebagian besar pengguna internet memanfaatkannya untuk mengakses media sosial (87,13 %), mengunduh musik (71,10 %), mengunduh atau menonton film (70,23 %), membaca berita hiburan (58,01 %), membaca cerita (57,13 %), bermain game (54,13 %), dan membaca berita olahraga (50,48 %) (APJII, 2017).
Seiring dengan perkembangan teknologi, manusia semakin dimudahkan untuk berinteraksi, mendapatkan informasi dan berkomunikasi dengan orang lain, salah
satunya melalui media sosial dengan berbagai jenis aplikasi yang ada saat ini. Media sosial tergolong ke dalam media baru. Media baru adalah konsep yang menjelaskan kemampuan media dengan menggunakan perangkat digital, dapat mengakses konten kapan saja dan dimana saja sehingga memberikan kesempatan bagi para penggunanya untuk berpartisipasi aktif, interaktif serta kreatif terhadap umpan balik pesan melalui isi media. Aspek penting lain dari media baru selain mengharuskan adanya perangkat digital, media baru juga berbasis real time yang artinya konten media tidak bisa diatur seperti pada media konvensional sekarang ini (Liliweri, 2017: 284).
Media sosial merupakan sekelompok aplikasi berbasis internet yang dibentuk berdasarkan ideologi dan teknologi Web 2.0 yang memungkinkan orang secara mobile dapat menciptakan dan bertukar konten, atau disebut dengan user-generated content. Hadirnya media sosial sebagai bagian dari perkembangan media baru keberadaannya kontras dengan media tradisional seperti media cetak dan media audio visual. Perbedaan yang menonjol antara media sosial (sebagai media baru) dengan media lama antara lain dalam hal kualitas, jangkauan, frekuensi, kegunaan, kedekatan, dan sifatnya yang permanen, contohnya adalah internet. (Liliweri, 2017:
288).
Munculnya media sosial melalui beragam aplikasi yang kerap digunakan nyatanya tidak hanya dimanfaatkan sebagai media komunikasi saja. Ada beragam motif seseorang dalam menggunakan berbagai aplikasi atau media sosial tersebut.
Menurut Jan H. Kietzmann, fungsi media sosial diibaratkan sebagai “sarang lebah”
yang membentuk kerangka jaringan yang terdiri dari blok-blok yang berhubungan satu sama lain. Beberapa media sosial yang populer di antaranya adalah Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Blog, dan LinkedIn (Liliweri, 2017: 292). Bila beberapa dari media sosial tersebut kebanyakan digunakan sebagai media hiburan, maka sedikit berbeda dengan media sosial LinkedIn.
LinkedIn merupakan jaringan profesional terbesar di dunia yang terdapat pada internet. Didirikan pada Desember 2002 dan diluncurkan pada Mei 2003. Media sosial LinkedIn digunakan untuk menemukan pekerjaan yang tepat, mencari informasi mengenai magang, menghubungkan dan memperkuat hubungan
profesional, serta mempelajari keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses dalam pencapaian karir. Singkatnya, LinkedIn adalah sebuah jejaring sosial (social network) yang berbasis dunia kerja. Aplikasi ini memiliki dua jenis keanggotaan, yakni pengguna gratis dan pengguna berbayar. Keuntungan pengguna berbayar adalah dapat mengakses profil lebih cepat (Liliweri, 2017: 314). Beberapa hal yang dimuat dalam akun LinkedIn ini meliputi ringkasan mengenai diri, informasi kontak, tautan ke website media sosial yang dimiliki, pengalaman yang dimiliki, dan informasi lainnya.
Kegunaan media sosial LinkedIn bagi sarjana baru adalah sebagai wadah dalam pencarian pekerjaan pada era digital. Umumnya para pemilik akun LinkedIn yang statusnya merupakan sarjana baru akan menonjolkan riwayat aktivitasnya.
Sarjana baru juga berusaha menciptakan kesan dalam akun LinkedIn yang dimilikinya lewat foto profil yang menampilkan diri dengan setelan pakaian rapi, misalnya dengan menggunakan blazer atau jas dan mengambil sudut foto dengan berpose secara formal. Berbagai pencapaian, pengalaman dan prestasi yang dimiliki oleh sarjana baru juga dapat diunggah di media sosial LinkedIn ini dengan harapan dapat dilirik oleh perusahaan penyedia lapangan kerja.
Segala upaya pengelolaan kesan yang dilakukan para sarjana baru dalam media sosial LinkedIn juga bertujuan untuk membentuk citra diri yang positif. Citra diri adalah gambaran atau pandangan mengenai diri sendiri. Citra diri ini akan terbentuk jika seseorang menunjukkan gaya hidup atau penampilan yang menarik yang membuat orang lain terkesan atau menyukai gaya hidup dan penampilannya (Zakirah, 2017: 6).
Penampilan presentasi diri yang baik akan berpengaruh juga kepada tingkat kepercayaan diri. Sarjana baru merupakan sosok yang mengalami peralihan dan pendewasaan dari mahasiswa ke tingkat yang lebih tinggi, yakni tingkat siap untuk bekerja. Proses pengelolaan kesan yang dilakukan di media sosial pun tak lepas dari kendala yang dihadapi. Membangun impresi serta presentasi identitas atau presentasi diri yang baik adalah kunci keberhasilan atau kegagalan dalam menarik perhatian penyedia lapangan kerja melalui media sosial.
Terkadang, para sarjana baru memberikan informasi dalam profil LinkedIn hanya sekadar saja. Mengelola kesan secara jujur dan pencantuman informasi secara lengkap akan memudahkan para perekrut mendeteksi keberadaan sarjana baru yang melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan. Jika profil yang disajikan tersebut menarik, akan menambah poin plus bagi para sarjana baru, sehingga mendapatkan respon yang baik dari perusahaan. Pengelolaan kesan yang baik dan tepat di media sosial LinkedIn dalam membentuk citra positif bagi penyedia lapangan pekerjaan sangat diperlukan. Hal ini masih terbilang jarang dijadikan sebagai bahan penelitian.
Oleh sebab itu, berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul Impression Management Sarjana Baru Universitas Sumatera Utara di Media Sosial LinkedIn Dalam Membangun Citra Positif Bagi Perusahaan Penyedia Lapangan Kerja.
1.2 Fokus Masalah
Berdasarkan konteks masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat dirumuskan fokus masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimana pengelolaan kesan yang dilakukan sarjana baru Universitas Sumatera Utara di media sosial LinkedIn dalam membangun citra positif bagi perusahaan penyedia lapangan kerja serta respon perusahaan penyedia lapangan kerja tentang profil sarjana baru yang dimuat dalam LinkedIn”.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui fenomena penggunaan media sosial LinkedIn dalam upaya para sarjana baru Universitas Sumatera Utara mencari lapangan pekerjaan.
2. Untuk mengetahui pengelolaan kesan yang dilakukan sarjana baru Universitas Sumatera Utara di media sosial LinkedIn dalam membangun citra positif bagi perusahaan penyedia lapangan kerja.
3. Untuk mengetahui respon yang ditimbulkan perusahaan penyedia lapangan pekerjaan setelah para sarjana baru Universitas Sumatera Utara memuat profil di media sosial LinkedIn.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan tentunya memiliki manfaat bagi bidang keilmuan.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah manfaat secara teoritis, akademik, dan praktis yang diuraikan sebagai berikut:
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan peneliti serta pembaca mengenai bagaimana sarjana baru menciptakan dan mengelola kesan di media sosial LinkedIn dalam membangun citra positif bagi perusahaan penyedia lapangan kerja.
2. Secara akademik, penelitian ini diharapkan menjadi sumbangsih dan dapat menjadi referensi serta bahan penelitian bagi mahasiswa dan mahhasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, khususnya program studi Ilmu Komunikasi.
3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan bisa memberikan gambaran dan sudut pandang bagi pihak yang membutuhkan informasi terkait pengelolaan kesan yang dilakukan oleh para lulusan sarjana baru yang membangun citra positifnya di media sosial LinkedIn.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Paradigma Kajian
Paradigma adalah cara pandang seseorang mengenai sebuah realitas. Cara pandang ini memengaruhi pendapat dan sikap mengenai realitas tersebut. Paradigma merupakan istilah yang sering muncul dalam setiap jenis wacana, biasanya dimaknai seperti cara berpikir atau pendekatan masalah. Paradigma juga dikenal dengan istilah pendekatan, perspektif, atau eksemplar.
Paradigma diibaratkan sebagai sebuah jendela tempat orang mengamati dunia luar dan bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya. Paradigma merupakan seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menentukan seseorang dalam bertindak pada kehidupan sehari-hari (Muslih, 2016: 86). Harmon (1970) mendefinisikan paradigma sebagai cara mendasar untuk mempersepsi, berpikir, menilai, dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang visi realitas. Capra (1996) mengemukakan paradigma sebagai konstelasi konsep, nilai- nilai persepsi, dan praktek yang dialami bersama oleh masyarakat, yang membentuk visi khusus tentang realitas sebagai dasar tentang cara mengorganisasikan dirinya (Tarigan, 2020: 11).
Kuhn menekankan bahwa paradigma tidak dapat dimaknai sebagai seperangkat keyakinan atau daftar aturan. Secara teknis, paradigma membantu seseorang dalam merumuskan mengenai apa yang harus dipelajari, masalah mendasar apa yang harus dijawab, bagaimana ia menjawab masalah tersebut, serta aturan apa saja yang harus ia ikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh (Martono, 2016: 178). Guba dan Lincoln menjelaskan bahwa paradigma merupakan seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam penelitian ilmiah. Dalam proses penelitian, paradigma yang digunakan peneliti akan memengaruhi metode penelitian yang digunakan (Martono, 2016: 178).
Guba dan Lincoln (1994) juga Corbetta (2003) menjelaskan tiga komponen utama paradigma dalam kaitannya dengan proses penelitian, yaitu:
1. Paradigma memiliki ontologi, yaitu asumsi mengenai hakikat realitas (sosial).
Ini merupakan pertanyaan mengenai “apakah fenomena sosial adalah nyata dan objektif yang keberadaannya berada di luar pikiran manusia dan bebas dari penafsiran yang diberikan kepadanya” atau “fenomena sosial hanyalah hasil interpretasi subjek atas fenomena tersebut”.
2. Setiap paradigma memiliki epistemologi, yaitu seperangkat asumsi mengenai hubungan antara “peneliti” atau “pengamat” dan “objek” yang diteliti atau diamati. Misalnya, apakah peneliti harus objektif dan memengaruhi hasil seminimal mungkin, atau apakah peneliti harus secara aktif bekerja membangun pengetahuan dengan orang lain.
3. Setiap paradigma berisi beberapa asumsi mengenai metode, yaitu cara bagaimana memperoleh jawaban atas permasalahan yang terjadi dalam realitas. Ini adalah pertanyaan mengenai “bagaimana realitas sosial dapat dipelajari”. Hal ini berkaitan dengan instrumen teknis untuk mendapatkan pengetahuan. (Martono, 2016: 178-179).
2.1.1 Paradigma Konstruktivisme
Paradigma konstruktivisme merupakan paradigma yang memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis. Pengetahuan atau informasi diperoleh melalui pengamatan langsung dan rinci yang bersifat alamiah agar mampu memahami dan menafsirkan perilaku seseorang dalam menciptakan dan mengelola dunia sosialnya.
Secara ontologis, paradigma konstruktivisme menyatakan bahwa realitas bersifat sosial karena hal tersebut akan menumbuhkan bangunan teori atas realitas majemuk dari masyarakatnya (Muslih, 2016: 93).
Menurut Brooks dan Brooks, semula konstruktivisme merupakan suatu filosofi dan bukan suatu strategi, pendekatan, maupun model pembelajaran.
(Supardan, 2016: 1). Paradigma konstruktivisme bertujuan untuk memahami apa
yang menjadi dan menggali faktor-faktor tersebut merekonstruksi realitas tersebut (Tarigan, 2020: 11-12).
Paradigma konstruktivistik memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Paradigma penelitian yang melihat suatu realita dibentuk oleh berbagai macam latar belakang sebagai bentuk konstruksi realita tersebut. Realita yang dijadikan sebagai objek penelitian merupakan suatu tindakan sosial oleh aktor sosial.
2. Latar belakang yang mengonstruksi realita tersebut dilihat dalam bentuk konstruksi mental berdasarkan pengalaman sosial yang dialami oleh aktor sosial sehingga sifatnya lokal dan spesifik.
3. Penelitiannya mempertanyakan ‘mengapa’ (why).
4. Realita berada di luar peneliti namun dapat memahami melalui interaksi dengan realita sebagai objek penelitian.
5. Jarak antara peneliti dan objek penelitian tidak terlalu dekat. Peneliti tidak terlibat namun berinteraksi dengan objek penelitian.
6. Paradigma penelitian konstruktivistik sifatnya kualitatif, peneliti memasukkan nilai-nilai pendapat ke dalam penelitiannya. Penelitian dengan paradigma ini sifatnya subjektif.
7. Tujuan untuk memahami apa yang menjadi konstruksi suatu realita. Oleh karena itu, peneliti harus dapat mengetahui faktor apa saja yang mendorong suatu realita dapat terjadi dan menjelaskan bagaimana faktor- faktor itu merekonstruksi realita tersebut. (Tarigan, 2020: 12).
2.2 Kerangka Teori
2.2.1 Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan yang terjadi antara komunikator dan komunikan serta menghasilkan sebuah pemahaman yang dapat mempengaruhi satu sama lain. Sejatinya, manusia melakukan proses komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Istilah komunikasi atau dalam bahasa
Inggris communication berasal dari kata Latin communis yang berarti sama, communico, communicatio, atau communicare, yang berarti membuat sama. Sama yang dimaksudkan adalah sama makna (Mulyana, 2010: 46).
Hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.
Tidak dapat dipungkiri bahwa terciptanya sebuah hubungan antar manusia dimulai dari terjadinya interaksi, salah satunya dengan komunikasi. Adanya komunikasi akan memudahkan seseorang untuk mencapai sebuah makna serta maksud yang diinginkan. Terjalinnya komunikasi yang dilakukan oleh manusia bertujuan untuk mencapai enam tujuan umum, yaitu mengirimkan informasi (to inform), menyatakan perasaan (to express feelings), menghibur (to entertainment), mendidik (to educate), memengaruhi (to influence), dan mempertemukan harapan-harapan sosial (to meet social expectations) (Liliweri, 2017: 77).
Harrold Lasswell mengemukakan bahwa cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut, yaitu who, says what, in which channel, to whom, with what effect (siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa, dengan pengaruh bagaimana).
Berdasarkan definisi dari Lasswell ini dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain, yaitu:
1. Sumber (source), yang disebut juga pengirim (sender), penyandi (encoder), komunikator (communicator). Sumber adalah pihak yang berinisiatif atau memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi.
2. Pesan, yakni apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima.
3. Saluran atau media, yaitu alat yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesan kepada penerima pesan.
4. Penerima (receiver), sering disebut komunikan, penyandi balik (decoder), khalayak (audience) yang merupakan penerima pesan dari sumber.
5. Efek, yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah menerima pesan tersebut, misalnya penambahan pengetahuan, perubahan keyakinan, sikap, perilaku, dan sebagainya. (Mulyana, 2010: 69-71).
Unsur lainnya yang kerap ditambahkan adalah umpan balik (feedback), gangguan atau kendala dalam komunikasi (noise / barriers), serta konteks atau situasi komunikasi. Model yang digunakan oleh Lasswell mengingatkan bahwa terdapat hasil atau efek komunikasi, seperti menginformasikan, menghibur, memperburuk, serta membujuk (Ruben & Lea, 2014: 43).
2.2.2 Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah komunikasi dengan melalui media massa. Massa yang dimaksud yaitu kumpulan individu-individu yang berada di suatu lokasi tertentu. Bittner mengemukakan definisi dari komunikasi massa yaitu pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang (mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people) (Surip, 2011: 173). Dalam komunikasi massa penyampaian pesan yang dilakukan menggunakan media massa.
Komunikasi massa memiliki ciri-ciri antara lain (Surip, 2011: 174-176):
1. Komunikator bersifat melembaga.
Komunikator dalam komunikasi massa tidak hanya satu orang saja, melainkan kumpulan orang-orang, artinnya gabungan antara berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga.
Komunikator yang terdapat dalam komunikasi massa adalah lembaga media massa itu sendiri.
2. Komunikan bersifat anonim dan heterogen.
Komunikan bersifat heterogen artinya pengguna media itu beragam, baik dari pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial, tingkat ekonomi, latar belakang budaya, serta agama dan kepercayaan. Dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikan (anonim) dikarenakan komunikasinya menggunakan media dan tidak tatap muka.
3. Pesan bersifat umum.
Pesan-pesan dalam komunikasi massa tidak ditujukan kepada satu orang atau satu kelompok masyarakat tertentu saja, melainkan ditujukan kepada
khalayak yang plural. Pesan yang disampaikan bersifat umum, yakni ditujukan dan dinikmati orang banyak.
4. Komunikasi berlangsung satu arah.
Komunikasi massa dilakukan dengan menggunakan media massa, itu sebabnya komunikator dan komunikan tidak dapat melakukan kontak langsung. Komunikator aktif dalam menyampaikan pesan, sementara komunikan aktif menrima pesan, namun keduanya tidak dapat melakukan dialog sebagaimana yang terjadi dalam komunikasi antarpribadi. Dengan demikian, komunikasi massa bersifat satu arah.
5. Menimbulkan keserempakan.
Dalam komunikasi massa terdapat keserempakan dalam proses penyebaran pesan. Serempak memiliki artian bahwa khalayak dapat menikmati media massa tersebut hampir bersamaan. Effendi (1999), mengartikan keserempakan media massa itu adalah kontak dengan sejumlah besar penduduk dalam jarak yang jauh dari komunikator, dan antar penduduk tersebut berada dalam keadaan terpisah.
6. Mengandalkan peralatan teknis.
Peralatan teknis merupakan sebuah keniscayaan yang dibutuhkan media massa agar proses pemancaran atau penyebaran pesan dapat lebih cepat dan serentak kepada khalayak yang tersebar.
7. Dikontrol oleh gatekeeper
Gatekeeper atau penjaga gawang merupakan orang yang berperan dalam penyebaran informasi melalui media massa. Gatekeeper berfungsi sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, menyederhanakan, serta mengemas pesan agar informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami.
Joseph R. Dominick (dalam Surip, 2011: 176) menyatakan bahwa individu memiliki motif dalam memilih media. Motif tersebut antara lain:
• Cognition (Pengamatan)
Media digunakan sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan masyarakat terhadap pengetahuan, wawasan, juga untuk membangkitkan ide.
• Diversion (Diversi)
Media digunakan sebagai sarana untuk rileks, memuaskan kebutuhan secara emosional, serta dapat membangkitkan semangat setelah menjalani rutinitas sehari-hari.
• Social Utility (Kegunaan Sosial)
Media dimanfaatkan sebagai alat untuk mempererat hubungan dengan keluarga, teman, bahkan masyarakat.
• Withdraw (Menarik)
Media digunakan sebagai alasan untuk tidak melakukan tugas, juga untuk menjaga privasi agar tidak diganggu oleh orang lain.
• Linkage (Pertalian)
Media massa dapat menyatukan khalayak yang beraneka ragam, sehingga membentuk suatu pertalian yang didasarkan pada minat dan kepentingan yang sama.
2.2.2.1 Uses and Gratification
Media merupakan salah satu kebutuhan manusia, yang digunakan untuk mengetahui informasi, baik berita, hiburan, dan lain sebagainya. Seseorang memiliki kebebasan untuk memilih sendiri media apa yang akan digunakannya sesuai dengan kebutuhannya. Teori Uses and Gratification merupakan salah satu teori yang digunakan dalam komunikasi massa. Uses and Gratification memusatkan perhatian pada penggunaan (uses) isi media untuk mendapatkan pemenuhan (gratification) atas kebutuhan seseorang (Surip, 2011: 209).
Teori Uses and Gratification milik Blumer dan Katz mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Khalayak dilihat sebagai individu yang aktif dan memiliki tujuan serta bertanggungjawab dalam memilih media yang akan digunakan untuk memenuhi
kebutuhan mereka (Humaizi, 2018: 1). Dalam teori ini, diasumsikan bahwa pengguna media memiliki pilihan alternatif untuk memenuhi kebutuhannya akan inforrmasi.
Pendekatan Uses and Gratification mulanya berawal dari pencarian akan penjelasan mengenai daya tarik yang besar dari konten media pokok tertentu.
Pertanyaan inti yang diajukan ialah mengapa orang-orang menggunakan media dan untuk apa mereka menggunakannya (Tarigan, 2020: 41). Khalayak memiliki tingkat pemanfaatan media yang berbeda-beda dan kebutuhan yang berbeda pula.
Blumer dan Katz memberikan beberapa asumsi dasar teori uses and gratification antara lain (Surip, 2011: 215):
1. Khalayak dianggap aktif, artinya sebagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan.
2. Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk mengaitkan kepuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada anggota khalayak.
3. Media massa harus mampu bersaing dengan sumber-sumber lainnya untuk memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan manusia dapat terpenuhi melalui konsumsi media yang bergantung kepada perilaku khalayak yang bersangkutan.
4. Tujuan pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak, artinya orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi tertentu.
5. Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu kepada orientasi khalayak.
Model Teori Uses and Gratification menerangkan bahwa kondisi sosial dan psikologis dari indvidu menyebabkan adanya kebutuhan, menciptakan harapan terhadap media massa maupun sumber lain, yang membawa kepada perbedaan pola penggunaan media, selanjutnya akan menghasilkan pemuasan kebutuhan serta konsekuensi lainnya (Humaizi, 2018: 22).
Model uses and gratification digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Model Pendekatan Kegunaan dan Kepuasan Sumber (Humaizi, 2018: 23).
Peneliti menggunakan teori uses and gratification dalam penelitian ini, melihat bahwa individu aktif dalam memilih dan menggunakan media guna pemenuhan kebutuhan. Dalam hal ini media yang dimaksud adalah LinkedIn. Pada media sosial LinkedIn, individu dapat aktif dalam membagikan aktivitasnya yang berhubungan dengan dunia profesional, menampilkan portofolionya dengan tujuan
Lingkungan Sosial Ciri-Ciri Demografi Keanggotaan dalam Komunitas Ciri-Ciri Kepribadian (Personality)
Keperluan Kognitif Afektif
Integratif Sosial Escapism
Sumber Media Jenis Media
Isi Media
Penggunaan Media
Konteks Sosial dari Penggunaan terhadap Media
Sumber Bukan Media Keluarga dan Rekan-rekan Hubungan Interpersonal Hobi, Tidur, dan lain-lain Rekreasi
Fungsi Media Gratifications - Pengawasan- Identitaas Diri
-Hiburan/Escapism/Pelepasan - Hubungan/Integrasi diri
membangun citranya lewat pengelolaan kesan dan bagaimana ia berlaku di media tersebut. Selain berupaya melakukan pengelolan kesan, ada harapan yang ingin dicapai dari pengguna LinkedIn, khususnya sarjana baru yakni agar mendapat atensi dari perusahaan penyedia lapangan kerja.
2.2.3 Media Baru (New Media)
Media menurut Association for Educational Communications and Technology (AECT 1997) adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi (Wibisono, 2017: 592). Dilihat dari bentuknya, secara garis besar media massa dibagi menjadi tiga jenis, yaitu media cetak, media penyiaran, dan media online. Dalam hal ini, media online adalah bagian dari media baru (new media).
New media atau media baru merupakan media yang menggunakan internet, media online berbasis teknologi, berkarakter fleksibel, berpotensi interaktif, dan dapat berfungsi secara privat maupun secara publik (Wibisono, 2017: 593). McQuail (2011:
148) mengemukakan bahwa media baru adalah berbagai perangkat teknologi komunikasi yang memungkinkan adanya digitalisasi dan cakupan yang luas untuk penggunaan pribadi sebagai alat komunikasi.
Media baru ialah media pertukaran data digital yang dikendalikan oleh software. Manovich dalam (Liliweri, 2017: 286-288) memfokuskan tiga karakteristik media baru yang membuatnya berbeda dari media lama, yaitu:
1. Variabilitas
merupakan salah satu karakteristik utama masyarakat postmodern, menjelaskan bahwa semua orang dapat memproduksi gambar dan suara menurut versi mereka.
2. Modularity
menjelaskan bahwa media digital memiliki berbagai komponen bersifat diskrit, artinya tampak terpisah namun setiap saat dapat disusun atau digabungkan dalam representasi data numerik, dari modularitas inilah orang dapat menciptakan variasi konten.
3. Transcoding
merupakan proses yang memungkinkan para pengguna semakin mudah menerjemahkan apa yang dikerjakan ke dalam format yang berbeda dan didukung oleh proses komputerisasi.
2.2.4 Media Sosial
Media sosial sebagai media komunikasi dikembangkan untuk membantu manusia terhubung dan berintraksi satu sama lain (Liliweri, 2017: 289). Media sosial adalah teknologi infomasi yang berbasis internet sebagai alat komunikasi maupun sebagai media yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan masyarakat, yang dilengkapi dengan beragam fitur pada telepon genggam yang kerap digunaan sebagai alat komunikasi (Amri, Yusni dan Dian Marisha Putri, 2019: 28).
Jan H. Kietzmann mengemukakan bahwa media sosial memiliki beberapa fungsi (Liliweri, 2017: 292-293) antara lain:
1. Identity (identitas), sebagai sebuah blok dari media sosial tentang bagaimana para pengguna mengungkapkan identitas dirinya ditengah-tengah koneksi dengan pengguna media sosial lainnya.
2. Conversations, merupakan blok yang berisi aktivitas pengguna media sosial berkomunikasi dengan pengguna media sosial lainnya. Beragam situs media sosial dirancang untuk memfasilitasi percakapan antarpersonal maupun individu dengan kelompok atau komunitas.
3. Sharing, di mana media sosial membantu para pengguna untuk berbagi, menerima, dan bertukar pesan.
4. Presence, di mana media sosial berfungsi untuk menyadarkan kita tentang kehadiran para pengguna, baik sebagai pribadi maupun sebagai individu dari mana pengguna berasal.
5. Relationships, menunjukkan sejauh mana pengguna dapat berhubungan dengan pengguna lain, seperti berkomunikasi, bertemu, berkenalan, atau berbagi objek sosialitas.
6. Reputation, menunjukkan sejauh mana pengguna dapat mengidentifikasikan status sosial orang lain, termasuk menyatakan status diri mereka sendiri.
7. Groups, kelompok dalam media sosial secara fungsional menunjukkan sejauh mana para pengguna dapat membentuk komunitas, kelompok, bahkan masyarakat baru.
2.2.5 LinkedIn
LinkedIn adalah situs jaringan sosial yang diciptakan untuk membuat koneksi bisnis, untuk membangun jaringan profesional dan berbagi peluang kerja. Media sosial ini memiliki lebih dari 364 juta anggota di lebih dari 200 negara. LinkedIn diluncurkan pada 5 Mei 2003, didirikan oleh Reid Hoffman, Allen Blue, Konstantin Guericke, Eric Ly, dan Jean-Luc Vaillant (Paliszkiewicz dan Madra-Sawicka, 2016:
206).
LinkedIn merupakan sebuah media sosial yang digunakan untuk mencari pekerjaan, merekomendasikan orang lain dalam jaringan, dan menerima rekomendasi dari orang lain. Hal-hal yang dimuat dalam sebuah profil LinkedIn berisikan informasi, yang mencakup ringkasan profil, pengalaman, pengalaman sukarela, proyek, sertifikasi, publikasi, pendidikan, prestasi maupun penghargaan, laman diskusi dan komentar, rekomendasi dari orang lain, keterampilan dan keahlian, serta informasi kontak penggunanya (Paliszkiewicz dan Madra-Sawicka, 2016: 206).
Dikutip dari laman resmi LinkedIn (LinkedIn.com), aplikasi ini adalah platform yang diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin mengembangkan karirnya. Mereka yang menggunakan aplikasi LinkedIn adalah orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti mahasiswa, pemilik usaha kecil, juga para pencari kerja. Media sosial ini bersifat dapat menghubungkan penggunanya di seluruh dunia, ada beberapa langkah bagi para pengguna untuk memulai di LinkedIn, antara lain:
1. Membuat profil
Mendaftar dan membuat profil adalah tahapan awal yang dapat dilakukan bagi mereka yang ingin memakai aplikasi LinkedIn. Melalui profil yang telah dibuat, akan menampilkan kehidupan profesional tentang diri pengguna.
2. Membangun jaringan
Jaringan memiliki peranan penting, membantu pengguna dalam memahami apa yang terjadi di industri dan lingkaran profesional. Untuk membangun jaringan dapat dimulai dengan menambahkan teman, mengikuti akun orang lain, perusahaan, serta topik tertentu, yang nantinya akan menampilkan sumber yang direkomendasikan untuk diikuti.
3. Mencari pekerjaan
LinkedIn dapat digunakan sebagai media untuk melakukan riset terkait perusahaan yang ingin dituju dan menjangkau komunitas perekrutan.
4. Berpartisipasi dalam percakapan
Jika ada sebuah topik yang sedang dibahas dalam LinkedIn, pengguna dapat berpartisipasi dalam percakapan dengan membagikan perspektif yang dimiliki terkait dengan topik tersebut. Partisipasi juga dapat dilakukan dengan memberikan komentar dan menyukai postingan.
5. Memposting konten
Banyak orang yang mengunjungi LinkedIn setiap harinya untuk berbagi serta belajar. Pengguna dapat memanfaatkan dan mengedukasi profesional atau teman yang terhubung dengan pengguna melalui konten yang diposting di LinkedIn.
Keanggotaan dalam media sosial LinkedIn dibagi menjadi keanggotaan gratis dan keanggotaan premium. Keuntungan bagi para pengguna akun LinkedIn premium adalah para pengguna akan mendapatkan akses lebih lanjut ke produk dan fitur yang ditawarkan oleh LinkedIn (LinkedIn.com).
2.2.6 Konsep Diri
Konsep diri merupakan gambaran dan penilaian akan diri. Konsep diri didefinisikan sebagai pandangan dan perasaan kita tentang diri kita, meliputi apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan tentang diri sendiri. Keberadaan konsep diri memiliki peranan penting dalam menentukan sikap, perilaku, dan reaksi seseorang terhadap orang lain serta suatu keadaan tertentu (Hidayat dan Khoiruddin, 2016: 38).
Ada dua komponen konsep diri, yaitu komponen kognitif dan komponen afektif.
Komponen kognitif disebut dengan citra diri (self image), sementara komponen afektif disebut harga diri (self esteem) (Pratama, Beny Dwi dan Suharnan, 2014: 216).
2.2.6.1 Pengertian Konsep Diri
Konsep diri adalah jawaban-jawaban seseorang atas pertanyaan “siapa saya”.
Aspek yang paling penting adalah diri sendiri. Konsep diri memiliki keterkaitan dengan diri (self). Self memberikan sebuah kerangka berpikir yang menentukan bagaimana seseorang mengelola informasi tentang dirinya sendiri, termasuk motivasi, keadaan emosional, evaluasi diri, kemampuan, dan lain-lain. Bagaimana orang tersebut melindungi citra dirinya dari informasi yang mengancam, mempertahankan konsistensi diri serta menemukan alasan pada setiap inkonsistensi (Widyastuti, 2014:
19).
Cooley (1902) menamakan diri dengan sebutan looking-glass self (diri cermin) karena seseorang seakan-akan melihat dirinya di dalam cermin. William James (1890) menamakan diri cermin tersebut sebagai ‘diri publik’ (public self atau me) yang dibedakannya dari ‘diri pribadi’ atau ‘aku’ (private self atau I). Menurut James, ada dua jenis diri, yaitu ‘diri’ dan ‘aku’. ‘Diri’ adalah aku sebagaimana dipersepsikan oleh orang lain atau diri sebagai objek (objective self), sedangkan ‘aku’
adalah inti dari diri aktif, mengamati, berpikir, dan berkehendak (subjective self).
Seseorang dapat mengenal dirinya berdasarkan public self dan juga private self (Tarigan, 2020: 20).
Konsep diri tidak hanya mencakup skema diri, tapi juga mencakup tentang kemungkinan diri. Kemungkinan diri (possible selves) adalah gambaran tentang apa saja yang diimpikan oleh seseorang, apa yang ditakutkan, tentang akan menjadi apa diri seseorang tersebut nantinya (Widyastuti, 2014: 21). Kemungkinan diri ialah representasi mental terhadap kemungkinan akan menjadi apakah atau seharusnya menjadi apakah seseorang di masa depan.
Baron dan Byrne (2000) melihat konsep diri sebagai kumpulan keyakinan dan persepsi diri terhadap diri sendiri yang terorganisasi. Konsep diri bekerja sebagai
skema dasar yang memberikan sebuah kerangka berpikir yang berfungsi untuk menentukan cara seseorang dalam mengolah informasi tentang diri, termasuk motivasi, keadaan emosional, evaluasi diri, kemampuan diri, dan lain sebagainya.
Leary dan June (2012) mengemukakan beberapa hal yang menjadi aspek- aspek dalam konsep diri, antara lain (Hidayat dan Khoiruddin, 2016: 39-40):
a. Kesadaran diri subjektif (subjective self-awareness), yaitu kemampuan untuk membedakan dirinya dengan lingkungan fisik dan sosial.
b. Kesadaran diri objektif (objective self-awareness), yaitu kemampuan untuk menjadi objek perhatiannya sendiri, sadar akan keadaan pikirannya sendiri.
c. Kesadaran diri simbolik (symbolic self-awareness), yaitu kemampuan untuk membentuk representasi kognitif self yang abstrak melalui bahasa.
Hal ini membuat individu mampu berkomunikasi, menjalin hubungan, serta menentukan tujuan.
Baumeister dan Bushman (dalam Hidayat dan Khoiruddin, 2016: 39) menjelaskan bahwa konsep diri terdiri atas tiga bagian yang digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2 Tiga Bagian Konsep Diri menurut Baumeister & Bushman (Hidayat dan Khoiruddin, 2016: 39)
2.2.6.2 Pembentukan Konsep Diri
Pembentukan konsep diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu (Tarigan, 2020: 24):
1. Orang lain
Tidak semua orang lain memiliki pengaruh yang sama terhadap diri kita.
Orang yang berpengaruh yaitu mereka yang paling dekat dengan diri kita.
Senyuman, pujian, penghargaan dari mereka menyebabkan kita menilai diri kita secara positif. Sebaliknya, ejekan, hardikan, maupun cemoohan membuat kita menilai diri kita secara negatif. Dari mereka, secara perlahan kita membentuk konsep diri kita.
2. Kelompok rujukan (reference group)
Self-knowledge (or self- concept) Information about self
Self-awareness Self-esteem Self-deception
Interpersonal self (or public self) Self-presentation Member of groups Relationship partner
Social rules Reputation
Agent self (or executive function) Decision making
Self-control Taking charge of situations
Active responding
Ada kelompok yang secara emosional mengikat kita dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri. Kelompok ini disebut sebagai kelompok rujukan. Dengan melihat kelompok rujukan tersebut, seseorang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan dirinya dengan ciri-ciri kelompoknya.
2.2.6.3 Jenis Konsep Diri
Seseorang dapat membentuk konsep diri seperti apa yang ia inginkan, apakah konsep diri positif atau negatif. Terdapat 2 (dua) jenis konsep diri, yaitu: (Hidayat &
Khoiruddin, 2016: 40):
1. Konsep diri positif.
Menurut Brooks dan Emmart (1976), individu yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan karakteristik berikut:
a. Merasa mampu mengatasi masalah. Individu yang memiliki konsep diri positif memiliki pemahaman diri yang baik terhadap kemampuan subjektif untuk mengatasi persoalan-persoalan objektif yang dihadapi.
b. Merasa setara dengan orang lain. Individu yang memiliki konsep diri positif memahami bahwa manusia tidak dilahirkan dengan pengetahuan dan kekayaan. Pengetahuan dan kekayaan tersebut didapatkan dari proses belajar dan bekerja sepanjang hidup. Pemahaman tersebut menyebabkan individu tidak merasa superior atau inferior di hadapan orang lain.
c. Menerima pujian tanpa rasa malu. Individu yang memiliki konsep diri positif memahami bahwa pujian dan penghargaan layak didapatkan karena hasil kerja yang baik.
d. Merasa mampu memperbaiki diri. Individu yang memiliki konsep diri positif memiliki kemampuan dalam melakukan refleksi diri untuk memperbaiki dan merubah perilaku yang dianggap kurang.
2. Konsep diri negatif.
Orang yang memiliki konsep diri negatif ditandai dengan karakteristik berikut:
a. Peka pada kritik. Kurangnya kemampuan dalam menerima kritik dari orang lain sebagai proses perbaikan diri. Kritik dari orang lain sering kali dianggap sebagai upaya untuk menjatuhkan harga diri.
b. Responsif terhadap pujian. Bersikap berlebihan terhadap tindakan yang telah ia lakukan sehingga ia merasa segala tindakannya perlu mendapatkan penghargaan. Pujian dari orang lain menjadi salah satu hal yang paling diharapkan seseorang. Segala bentuk pujian yang menunjang harga diri pasti akan menjadi perhatiannya.
c. Cenderung merasa tidak disukai orang lain. Individu tersebut memiliki perasaan subjektif bahwa orang lain di sekitarnya memiliki pandangan negatif tentang dirinya. Oleh karena itu, individu ini sulit menjalin persahabatan yang tulus karena ia selalu memosisikan diri sebagai korban dari situasi sosial.
d. Mempunyai sikap hiperkritik. Suka memberikan kritik negatif secara berlebihan terhadap individu lain. Kegemarannya mengkritik individu lain tidak sebanding dengan keengganannya menerima kritik.
e. Mengalami hambatan dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya.
Individu ini merasa kurang mampu berinteraksi dengan orang lain. Ia pun tidak berani bersaing dengan orang lain untuk mencapai prestasi tinggi.
2.2.7 Impression Management (Pengelolaan Kesan)
Pengelolaan kesan (impression management) dalam kajian sosiologi dan psikologi sosial merupakan cara seseorang memengaruhi persepsi atau cara orang lain berpikir tentang suatu objek tertentu (misalnya tentang benda, sikap, perilaku, diri atau pribadi tertentu, termasuk diri individu itu sendiri). Manajemen kesan atau pengelolaan kesan kerap disebut “pencitraan”, terjadi ketika seseorang mencoba untuk mengelola apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya, yang dalam konsep
psikologi sosial disebut “self-presentation” (Liliweri, 2017: 100-101). Self- presentation biasa digunakan seseorang untuk menggambarkan diri dan pribadinya sebagai proyeksi diri, yang terlihat dalam interaksi sosial yang nyata atau dibayangkan oleh orang lain (Liliweri, 2017: 101).
Komponen dalam pengelolaan kesan dapat diidentifikasikan menjadi dua, yaitu impression motivation (motivasi pengelolaan) dan impression construction (konstruksi pengelolaan kesan). Impression motivation (motivasi pengelolaan) menggambarkan bagaimana motivasi yang kita miliki untuk mengendalikan orang lain yang melihat kita atau untuk menciptakan kesan tertentu dalam pikiran orang lain, sementara impression construction (konstruksi pengelolaan kesan) berkaitan dengan pemilihan image tertentu yang ingin diciptakan dan mengubah perilaku dalam cara-cara tertentu untuk mencapai suatu tujuan (Widyastuti, 2014: 27).
Argyle (dalam Mutia, 2018: 4) mengemukakan tiga motivasi primer pengelolaan kesan, yaitu keinginan untuk mendapatkan imbalan materi atau sosial, untuk mempertahankan dan meningkatkan harga diri, dan untuk mempermudah pengembangan identitas diri (menciptakan atau mengukuhkan identitas diri).
Motivasi untuk mengelola kesan biasanya terjadi dalam situasi yang melibatkan tujuan-tujuan penting, seperti persahabatan, persetujuan, imbalan materi dan sebagainya, dimana individu yang melakukannya merasa kurang puas dengan image yang diproyeksikan saat ini (self discrepancy).
Motivasi mengelola kesan juga lebih kuat ketika seseorang merasa tergantung pada orang yang berkuasa yang mengendalikan sumber-sumber penting bagi dirinya (misalnya, atasan atau pimpinan) atau setelah orang tersebut mengalami kegagalan atau hampir mengalami kejadian yang berpengaruh dengan harga diri (Widyastuti, 2014: 27-28).
Melalui manajemen kesan, setiap orang menyatakan identitas dirinya sebagai identitas sosial yang menjelaskan bagaimana seseorang didefinisikan dan dianggap dalam interaksi sosial. Setiap individu menggunakan strategi manajemen kesan untuk memengaruhi identitas sosial dirinya kepada orang lain. Cara seseorang menampilkan identitas tersebut menunjukkan bahwa dirinya ada sehingga dapat memengaruhi
perilakunya di depan orang lain agar dirinya dapat diterima. Maka dari itu, setiap orang akan berusaha untuk memengaruhi orang lain dengan membentuk kesan tentang dirinya sendiri.
Manajemen atau pengelolaan kesan selalu dilakukan melalui tiga cara, yaitu:
1. autentik, tampil sebagaimana apa adanya atau tampilan tersebut mencerminkan diri dan pribadinya.
2. ideal, cara yang seseorang tampilkan, berhubungan dengan gaya.
3. taktis, cara tertentu yang bersifat sementara yang ditampilkan seseorang untuk mencapai tujuan akhir tertentu. (Liliweri, 2017 : 101).
Ketiga bentuk personal ini kerap digunakan untuk memenuhi apa yang orang lain inginkan atau harapkan dari seseorang.
2.2.7.1 Proses Pembentukan Kesan
Pembentukan kesan adalah proses dimana kita menyusun kesan tentang seseorang (Widyastuti, 2014: 36). Dalam membuat kesan pertama yang mendalam, seorang individu perlu memasukkan berbagai jenis informasi ke dalam memori sehingga nantinya dapat digunakan kembali di lain waktu. Kesan pertama tentang seseorang akan bergantung pada karakteristik, yang dapat dilihat lewat sifat-sifat, motif, dan niat. Dalam pembentukan kesan melibatkan beberapa proses di antaranya (Harulito, 2012: 13-14):
1. Stereotyping
Stereotyping adalah salah satu aspek yang menjelaskan terjadinya primacy effect dan halo effect. Primacy effect secara sederhana menunjukkan bahwa kesan pertama amat menentukan, karena kesan itulah yang menentukan kategori. Sementara halo effect berkaitan dengan persona stimuli yang sudah kita senangi telah mempunyai kategori tertentu yang positif, dan pada kategori itu sudah disimpan semua sifat yang baik.
2. Implicit Personality Theory
Setiap orang mempunyai konsepsi tersendiri tentang sifat-sifat sesuatu hal.
Konsepsi ini merupakan teori yang dipergunakan orang ketika membentuk
kesan tentang orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap menyimpulkan kepribadian seseorang, lengkap dengan analisisnya terhadap orang lain.
3. Atribusi
Atribusi merupakan proses menyimpulkan motif, maksud, dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilakunya yang tampak. Atribusi juga dapat ditunjukkan pada diri sendiri (self atribution).
Kesan terbentuk melalui sebuah proses. Orang lain cenderung melakukan penilaian atas diri kita berdasarkan petunjuk-petunjuk yang kita berikan, dan dari penilaian tersebut mereka memperlakukan kita. Presentasi diri merupakan sebuah proses dimana kita berusaha untuk membentuk apa yang dipikirkan orang lain tentang kita dan apa yang kita pikirkan tentang diri sendiri (Maryam, 2018: 56).
Peralatan lengkap yang digunakan untuk menampilkan diri disebut front.
Front terdiri dari panggung (setting), penampilan (appearance), dan gaya bertingkah laku (manner). Panggung berbicara tentang rangkaian peralatan ruang dan benda yang kita gunakan. Penampilan berarti menggunakan petunjuk artifaktual, sementara gaya bertingkah laku menunjukkan cara kita berjalan, duduk, berbicara, memandang, dan sebagainya.
2.2.7.2 Teori Goffman dalam Pengelolaan Kesan
Goffman menggambarkan kehidupan sebagai panggung teater dan masing- masing orang bertindak memerankan peran-peran tertentu sesuai naskah. Masing- masing orang mengasumsikan wajah tertentu, atau identitas sosial, dimana orang lain bersedia membantu untuk mempertahankannya (Maryam, 2018: 55).
Salah satu aturan dasar interaki sosial yang dikemukakan oleh Goffman adalah komitmen yang saling timbal balik antara individu-individu yang terlibat mengenai peran (role) yang harus dimainkannya. Dari peran yang harus dimainkan tersebut, individu harus mampu menciptakan suatu kesan yang baik.
Goffman mengajukan syarat-syarat yang perlu dipenuhi apabila individu ingin mengelola kesan secara baik, yaitu: