BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.3 Hasil Wawancara
4.1.3.8 Pemanfaatan Media Sosial LinkedIn dan Pengelolaan Kesan yang
LinkedIn yang diperuntukkan bagi dunia profesional juga dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan. Seperti yang disampaikan oleh Yanuar, penggunaan media sosial LinkedIn bagi perusahaan tergantung kepada pegawai seperti apa yang diperlukan. Jika perusahaan tersebut mencari orang dengan latar belakang pendidikan tertentu dan sifatnya profesional, maka mereka akan menggunakan LinkedIn sebagai mediumnya.
“Menurutku it depends on what kind of employee that you are looking for, gitu. Jadi kalau misalnya kita mau mencari orang profesional, berpendidikan gitu kan, mediumnya bisa dari LinkedIn. Tapi kalau kita misalnya carinya orang operasional, operasional public misalnya, itu mungkin Jobstreet atau job apps yang lain akan lebih efektif gitu. Jadi tergantung kalau fresh graduate mau nyarinya kerja yang depends on type of work juga depends on the company. Tapi kalau cari yang highly educated itu biasanya kita cari dari LinkedIn.”
Untuk penggunaan pribadi, Yanuar sendiri mengatakan bahwa penggunaan LinkedIn dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai wadah untuk melakukan branding. Ia juga cukup sering mendapatkan kesempatan melalui LinkedIn.
“Kalau aku mungkin lebih untuk bulid my branding ya, karena kan aku dapat pekerjaan juga dari LinkedIn, pekerjaan yang sekarang. Lumayan sering sih dapat opportunity dari LinkedIn.”
Sebagai orang yang berperan penting dalam perusahaan, Jehian memanfaatkan LinkedIn untuk merekrut para tim dalam perusahaannya pada bidang atau posisi yang ingin dicari. Ia mengungkapkan kalau penggunaan LinkedIn paling gampang dibandingkan dengan platform sejenis lainnya.
“Oke, kalau platform untuk branding pasti, karena kita naruh experience kita di sana untuk dilihat sama orang, supaya orang bisa kenal sama kita tanpa harus ketemu langsung. Tapi untuk sisi future, yang paling kugunain sekarang itu kita hiring Menantea, banyak lewat LinkedIn. Kayak kemaren contohnya kita hire social media intern sama marketing specialist, itu dapatnya dari LinkedIn. Dan memang kalau aku lihat mungkin ada platform-platform lain juga kayak Kalibrr, atau misalnya mungkin Glints, dan lain-lain. Tapi menurutku LinkedIn itu salah satu yang paling gampang.”
LinkedIn sebagai sebuah platform juga dimanfaatkan Jehian untuk membagikan konten berupa artikel, informasi seputar perusahaan miliknya, informasi mengenai rekrutmen untuk mencari tenaga kerja baru, dan membagikan penghargaan yang didapatkannya.
“Kalau yang dibagikan akhir-akhir ini lebih ke hiring post, jadi aku nyari orang. Tapi sebelum-sebelumnya waktu Menantea launching aku post, waktu dapat achievement kayak misalnya kemaren Forbes 30 under 30 aku juga post, dan lain-lain. Jadi itu lebih ke artikel.”
Media sosial LinkedIn dari waktu ke waktu semakin maju sebagai sebuah aplikasi. Seperti yang dikatakan oleh Jehian, LinkedIn sudah menambah fiturnya, bukan hanya sebatas kepada pengembangan jaringan atau koneksi, melainkan memudahkan perusahaan dalam proses perekrutan. Dari sisi perusahaan, menggunakan LinkedIn sebagai sebuah solusi untuk merekrut calon tenaga kerja adalah pilihan yang baik.
“LinkedIn secara platform sih menurutku mereka memang makin lama ke sini makin up to date. Jadi kalau misalnya kita lihat, fitur-fiturnya ditambahin. Bukan cuma meng-highlight networking, tapi memudahkan proses dari hiring itu. Karena dulu, misalnya dulu nih ya, LinkedIn itu cuma digunain sebagai profil link doang.
Jadi orang bikin LinkedIn, habis itu profil LinkedIn-nya akan ditaruh di Kalibrr atau ditaruh di sosial media lain yang sifatnya memang buat hiring. Nah kalau sekarang, instead of melakukan yang seperti dulu itu, LinkedIn ambil bagian juga, di mana mereka bisa langsung hiring dan apply job langsung dari LinkedIn-nya gitu. Jadi kalau misalnya aku lihat secara perusahaan, using LinkedIn as a hiring solution itu menurutku sesuatu yang oke.”
Dalam kesuksesan sebuah perusahaan, ada nilai-nilai yang dipegang di dalamnya. Begitu juga dengan halnya perusahaan Menantea, sebuah usaha rintisan yang didirikan oleh Jehian dan beberapa orang lainnya. Lulusan Teknik Dirgantara ini mengatakan bahwa penting untuk terbuka terhadap pasar dan bersikap jujur, karena ketika hal itu terjadi kepercayaan pasar pada perusahaan tersebut akan terbentuk.
“Oke jadi kalau di kita, dalam media sosial kita pakai yang namanya raw marketing. Raw marketing itu artinya mungkin secara estetik enggak yang rapi atau gimana, tapi kita berusaha be true to the audience, be true to our market bahwa kita ya seperti ini dan kita pengen grow bareng dengan audiens kita. Konsep yang kita pakai dalam marketing kita, itu juga yang turut ke dalam culture dari tim kita. Bahwa ketika kita membuat segala sesuatu yang berkaitan dengan campaign, berkaitan dengan produk jualan dan apapun, we want it to be true. Kalau kita merasa belum sampai sana, kita gak perlu menyatakan diri bahwa kita sampai sana begitu. Let say for example, kemaren kita habis ngadain campaign untuk bagi-bagi tujuh ribu cups produk Menantea. Jadi 7000 cups itu kita detailkan, ada dibagi ke ojol, ada dibagi ke tenaga kesehatan, ada seribu untuk netizen yang menang give away. Menurutku dan menurut tim, ketika kita menjadi perusahaan yang terbuka terhadap market, maka di saat itu juga market akan kasih trust-nya untuk kita.”
Impression management semata-mata tidak hanya dilakukan oleh para fresh graduate saja. Perusahaan pun melakukan upaya untuk mengelola kesan agar dapat diterima oleh orang yang melihatnya. Menurut Jehian, impression management bagi perusahaan besar adalah sesuatu yang wajib untuk dilakukan.
“Kalau LinkedIn itu adalah salah satu platform yang baik untuk perusahaan memperbesar brandingnya dan lain-lain, tapi kalau di beberapa company ada budget yang istilahnya itu employers branding budget, maksudnya itu adalah budget yang dikeluarkan sebuah perusahaan untuk meningkatkan branding dari perusahaannya itu. Secara dia sebagai employer, jadi dia bagi perusahaan yang memberikan lapangan pekerjaan, seperti apa dilihat sama karyawannya itu ada budgetnya. Dan menurutku impression management itu untuk company-company yang besar itu sesuatu yang wajib, bahkan kalau di perusahaan-perusahaan yang udah besar banget, mereka sampai ngeluarin uang untuk mengatur itu supaya dilihat baik di mata banyak orang. Jadi kalau kamu lihat banyak plaltform nih misalnya kayak Glassdoor gitu, glassdoor itu platform di mana seorang karyawan bisa memberi rate seberapa bagus sih kantor tempat dia kerja dan seberapa nyaman, dan lain-lain. Itu menurutku juga salah satu impression management yang bisa dilakukan oleh kantor karena itu para karyawan akan secara jujur mengekspresikan dirinya kan.”
Jehian juga mengatakan bahwa bentuk pengelolaan kesan yang dilakukan oleh perusahaannya adalah bagaimana mereka menjaga branding dari para pendirinya agar integritas perusahaan tersebut tetap terjaga.
“Kita di LinkedIn lumayan aktif untuk kasih postingan yang begitu. Terus untuk start up yang hitungannya masih kayak Menantea, ini kan hitungannya start up ya, belum yang besar-besar banget, salah satu aspek yang paling penting adalah how the founders represent themselves. Itu penting banget, karena untuk ukuran start up yang masih kecil seperti Menantea, apa yang dilakukan foundersnya itu berkaitan langsung sama nama baik dari perusahaan, gitu. Jadi salah satu manajemen impresi yang dilakukan sama Menantea ini adalah gimana kita menjaga branding dari para founder ini supaya kita tidak mencoreng integritas dari si Menantea itu sendiri.”
Pak Fahmi membenarkan bahwa perusahaan juga melakukan impression management agar bibit atau calon tenaga kerja tersebut tertarik untuk bergabung dalam perusahaan tersebut. Menurut pengalaman yang dimiliki oleh Pak Fahmi sebagai rekruter, cara perusahaan mengelola kesan adalah dengan mengelola
hubungan dengan masyarakat, mengelola informasi dan media sosial yang mereka miliki, serta peduli terhadap individu yang bekerja dalam perusahaan tersebut.
“Kalau dari sisi perusahaan sebenarnya yang pasti setiap perusahaan berusaha membangun brand, membangun kesan positif tentang dirinya di tengah-tengah masyarakat. Yang kita alami dengan perusahaan-perusahaan multinasional, mereka membuktikan diri dengan mengelola hubungan dengan masyarakat, mengelola informasi tentang organisasinya, mengelola websitenya dan media sosialnya. Buat perusahaan itu, itu sangat saya yakini dia juga mementingkan bahwa calon-calon sarjana baru, calon-calon pekerja yang join terhadap perusahaan tersebut juga punya jejak rekam yang baik di media yang dia gunakan. Pernah suatu kali saya rekrutmen dengan perusahaan pertambangan nasional. Saat itu karena kandidatnya sangat banyak, kita dari rekruter yang ditunjuk kan tidak punya cukup waktu untuk memperhatikan media sosial yang bersangkutan. Tapi dari sisi orang perusahaan, ternyata memang ada di segala kelompok rekruternya bahwa rekrutmen mereka yang ditugaskan untuk melihat anak-anak yang sudah masuk ke tahap akhir, dipantau nih media sosialnya. Jadi dua hal ya, pertama perusahaan pasti membangun citra yang positif tentang organisasinya, dan kedua perusahaan punya tim untuk bisa merekam dan mempublikasikan aktivitas perusahaan, supaya orang luar tahu apa yang dilakukan perusahaan, dan itu dikelola dengan baik. Koneksinya dengan individu adalah perusahaan yang peduli terhadap kondisi seperti ini, juga peduli bahwa individu yang bergabung dengan mereka juga harus punya kualitas pengelolaan yang baik juga di media sosial.”