PILIHAN RASIONAL JANDA DALAM MEMPERTAHANKAN STATUS SOSIALNYA
(Studi Kasus Pada Janda di Desa Jawabaru Kecamatan Hutabayu Raja, Kabupaten Simalungun)
SKRIPSI
Disusun Oleh
RANTINA SARI SIAHAAN 160901034
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
PILIHAN RASIONAL JANDA DALAM MEMPERTAHANKAN STATUS SOSIALNYA
(Studi Kasus Pada Janda di Desa Jawabaru Kecamatan Hutabayu Raja, Kabupaten Simalungun)
SKRIPSI
Disusun Oleh
RANTINA SARI SIAHAAN 160901034
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
PILIHAN RASIONAL JANDA DALAM MEMPERTAHANKAN STATUS SOSIALNYA (Studi Kasus Pada Janda di desa Jawabaru Kecamatan Hutabayu
Raja, Kabupaten Simalungun) ABSTRAK
Judul yang diangkat pada penelitian kali ini adalah Pilihan Rasional Janda Dalam Mempertahankan Status Sosialnya (Studi Kasus Pada Janda di desa Jawabaru Kecamatan Hutabayu Raja, Kabupaten Simalungun). Lewat penelitian ini peneliti ingin melihat bagaimana pilihan rasional yang dilakukan janda di desa Jawabaru dalam mempertahankan status sosialnya. Pilihan Rasional merupakan kerangka pemikiran untuk memahami dan merancang model perilaku sosial dan ekonomi yang seluruh perilaku sosial disebabkan oleh pelaku individu yang masing-masing membuat keputusannya sendiri.
Metode yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah deskripstif dengan pendekatan kualitatif. Metode ini bertujuan untuk mengungkapkan kejadian atau fakta, fenomena, dan keadaan yang terjadi dengan menafsirkan dan menguraikan data yang bersangkutan dengan situasi yang sedang terjadi dalam masyarakat.
Hasil penelitian ini adalah adanya pilihan rasional yang dilakukan oleh janda di desa Jawabaru, baik janda yang berusia 40 tahun sampai janda yang berusia 50 tahun.
Latar belakang suami yang berbeda, menghasilkan cara yang berbeda pula diantara janda di desa Jawabaru, untuk melakukan pilihan rasional dalam mempertahankan status sosialnya. Janda yang memiliki suami yang baik semasa hidupnya, mempertahankan statusnya sebagai janda karena ada anak yang paling berharga yang harus diperjuangkam dalam hidupnya, sedangkan janda yang memiliki suami yang kurang bertanggungjawab dalam keluarga semasa hidupnya, merasa trauma untuk menikah lagi, sehingga janda di desa Jawabaru yang tergolong hebat, mandiri, dan bertanggungjawab dalam hal bekerja, mengurus keluarga dan anak, baik ketika suami masih hidup maupun sudah meninggal memilih bertahan dengan statusnya sebagai janda.
Kata Kunci: Pilihan Rasional, Janda, Status sosial.
THE RATIONAL CHOICE OF WOMEN IN MAINTAINING HIS SOCIAL STATUS
(Case Study of Widows in the village Jawabaru, Hutabayu Raja District, Simalungun Regency)
ABSTRACT
The title raised in this study is the Rational Choice of Widows in Maintaining Their Social Status (Case Study of Widows in the village Jawabaru, Hutabayu Raja District, Simalungun Regency). Through this research the researcher wants to see how the rational choices made by the widow in the village Jawabaru in maintaining their social status. Rational choice is a framework for understanding and designing social and economic behavior models in which all social behavior is caused by individual actors who each make their own decisions.
The method used in this research is descriptive with a quantitative approach.
This method aims to reveal vents or facts, phenomena, and circumstances that occur by interpreting and describing the data concerned with the situation that is happening in society.
The result of this study are the existence of rational choices made by widows in the village Jawabaru, both widows aged 40 years to widows aged 50 years. Different husbands' backgrounds resulted in different ways among widows in the village Jawabaru to make rational choices in maintaining their social status. A widow who had a good husband during her life maintained her status as a widow because there was a most valuable child that had to be pursued in her life, while a widow who had an irresponsible husband in the family during her life felt traumatized to remarry, so that widow in the village Jawabaru who was classified as great, independent, and responsible in terms of working, taking care of her family and children, wether her husband was alive or dead, chose to stay with her status as a widow.
Key words: Rational Choice, Widow, Social status.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas limpahan berkat, kasih dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Penulisan skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dari program studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu peneliti sangat berharap kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun, sehingga peneliti dapat melakukan perbaikan untuk karya selanjutnya.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang membantu, membimbing, dan memberikan dukungan, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Yth. Bapak Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Rektor dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Yth. Ibu Dr. Harmona Daulay, S.Sos,M.Si, selaku Ketua Program Studi Sosiologi, Dosen Pembimbing Akademik sekaligus Dosen pembimbing yang sudah penulis anggap seperti Ibu sendiri. Dosen pembimbing selama menempuh studi di Jurusan Sosiologi yang selalu memberikan nasehat, dukungan semangat, dan tidak pernah bosan untuk mengingatkan segera selesaikan skripsi. Terima kasih untuk semua kasih dan sayang yang Ibu berikan dan begitu banyak ilmu pengetahuan dan wawasan, semoga Tuhan selalu melindungi Ibu dan keluarga kapan pun dan dimana pun.
3. Bapak Drs. T. Ilham Saladin, MSP, selaku Sekretaris Program Studi Sosiologi sekaligus Ketua Penguji yang selalu memberikan nasehat, motivasi dan juga gurauan kepada penulis. Semoga Tuhan membalas kebaikan hati Bapak.
4. Yth. Bapak Prof. Rizabuana, M.Phil, Ph.D, selaku Dosen Anggota Penguji yang telah banyak memberikan arahan dan masukan kepada penulis untuk menganalisis permasalahan penelitian secara sosiologis yang sebelumnya
tidak pernah terfikirkan oleh penulis. Semoga Tuhan membalas kebaikan hati Prof.
5. Seluruh Dosen dan Asisten Dosen Program Studi Sosiologi, yang sudah berbagi ilmu kepada penulis selama masa perkuliahan. Tidak lupa pula Staf Pegawai Program Studi Sosiologi, Bang Abel dan Kak Ernita yang sudah selalu sabar membantu penulis dalam mengurus perihal surat menyurat.
6. Terima kasih untuk kedua orang tuaku tercinta, Saudara Siahaan dan Ibuku Tiominar Situmorang yang selalu setia untuk memberikan dukungan, Doa dan Nasehat kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan dan umur yang panjang.
7. Teruntuk saudaraku Kak Erma Siahaan, Yesentani Siahaan dan Abang Bintoni Siahaan, Suardi Siahaan dan juga Adik Jesiska Siahaan yang selalu memberikan semangat dan dukungan kepada penulis, dan tidak lupa mengingatkan untuk tetap menjaga kesehatan. Terima kasih atas kebaikan kalian. Semoga Tuhan selalu melindungi kita semua.
8. Terima kasih untuk teman seperjuangan Shania, Valerin, Ira yang selalu bersama hingga saat ini. Banyak hal yang kalian ajarkan, kesabaran, kemandirian, dan rasa syukur. Semoga Tuhan selalu memberikan kalian kesehatan, serta rezeki yang berlipat ganda.
9. Teruntuk Tika, Inge, dan tim PKL, terima kasih telah menjadi teman setia untuk berdiskusi dan selalu memberikan semangat. Semoga kalian sehat selalu dan sukses.
10. Teruntuk Reymon Sianipar, Kak Rani, Bang Rian, Zoy, Gori , Imanuel, juga Sela, yang selalu setia menyemangati, mendukung dan mendoakan selama di kost. Terima kasih untuk kebaikan kalian, semoga Tuhan senantiasa memberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah.
11. Teruntuk teman SMA ku Wilda, Agustina, Indah, Lusi, Andi, dan Erin.
Terima kasih atas semangat dan dukungan yang selalu kalian berikan.
Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan kepada kalian dan rezeki berlimpah.
12. Teman-teman seperjuangan gelar S.Sos “Sosiologi 2016” yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan dan pengalaman yang kita lalui bersama. Semoga kita semua sehat selalu hingga mencapai kesuksesan.
13. Teruntuk masyarakat di desa Jawabaru yang sudah mengizinkan, meluangkan waktu, dan membantu penulis dalam pencarian data terkait skripsi yang dikerjakan.
14. Pihak-pihak yang telah memberikan doa dan semangat, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Terima kasih atas kebaikan kalian, semoga Tuhan senantiasa memberikan kesehatan.
Akhir kata penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki kekurangan baik dari segi materi maupun penyajiannya. Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi setiap orangyang membacanya. Terima kasih.
Medan, Januari 2021
Penulis
RANTINA SARI SIAHAAN
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
1.4.1 Manfaat Teoritis ... 7
1.4.2 Manfaat Praktis ... 7
1.4.3 Manfaat Bagi Penulis ... 7
1.5 Defenisi Konsep ... 8
1.5.1 Pilihan Rasional ... 8
1.5.2 Janda ... 9
1.5.3 Status Sosial ... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA 1.1 Pilihan Rasional Menurut James Coleman... 12
1.2 Janda ... 14
1.3 Status Sosial ... 17
1.4 Penelitian Terdahulu ... 18
BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Jenis Penelitian ... 22
1.2 Lokasi Penelitian ... 23
1.3 Unit Analisis ... 23
1.4 Informan ... 24
1.5 Teknik Pengumpulan data ... 25
1.5.1 Data Primer ... 25
a. Observasi ... 25
b. Wawancara ... 26
c. Dokumentasi ... 26
1.5.2 Data Sekunder ... 27
1.6 Interpretasi Data ... 27
1.7 Jadwal Penelitian ... 28
BAB IV INTERPRETASI DATA DAN HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Lokasi Penelitian ... 29
4.1.1. Sejarah Desa Jawabaru ... 29
4.1.2. Perangkat Desa Jawabaru ... 29
4.1.3. Visi Misi Desa Jawabaru ... 30
4.1.4. Kondisi Demografis Desa Jawabaru ... 31
4.1.5. Gambaran Umum Masyarakat Yang Menyandang Status Janda di Desa Jawabaru ... 32
4.2. Profil Informan ... 33
4.3. Kehidupan Janda Setelah di TinggalMati Oleh Suami dalam Stereotipe Gender di Desa Jawabaru ... 67
4.3.1. Usia Pada Saat Menjadi Janda ... 67
4.3.2. Kondisi Saat Kehilangan Suami ... 70
4.3.3. Hubungan Dengan Anak ... 71
4.3.4. Kesulitan Menjadi Janda ... 73
4.3.5. Keadaan Ekonomi ... 75
4.3.6. Pandangan Masyarakat Tentang Janda ... 78
4.3.7. Stereotipe Masyarakat ... 79
4.3.8. Respon Keluarga Pihak Suami ... 83
4.4. Pilihan Rasional Janda Dalam Mempertahankan Status Sosialnya di Desa Jawabaru ... 84
4.4.1. Nilai-Nilai Masyarakat ... 85
4.4.2. Cara Mempertahankan Status Janda ... 87
4.4.3. Alasan Bertahan Dengan Status Janda ... 89
4.4.4. Kehidupan Sebelum dan Sesudah Menjadi Janda ... 93
4.5. Analisis Teori Pilihan Rasional James Coleman ... 96
4.6. Analisis Stereotipe Gender ... 103
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 105
5.2. Saran ... 105
DAFTAR PUSTAKA ... 106
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap orang pernah mengalami kesedihan, kegagalan maupun kekecewaan karena hidupnya yang tidak sesuai dengan yang diharapkan atau harapan yang diperoleh tiba-tiba sirna karena kejadian yang tak terduga (Anggraeni, 2008).
Termasuk istri yang ditinggal mati oleh suaminya yang biasa disebut dengan janda.
Kematian suami memiliki nilai perubahan kehidupan yang paling tinggi dibandingkan peristiwa-peristiwa lain dalam kehidupan individu selaku pihak yang ditinggalkan.
Kematian pasangan ini merupakan masalah yang paling menyebabkan stress dalam kehidupan orang dewasa (Santrock, 2012). Peristiwa ini membutuhkan penyesuaian tersendiri apabila terjadi pada awal masa dewasa madya, ketika beberapa tugas perkembangan menghendaki individu untuk menciptakan hubungan suami istri yang serasi, membantu anak-anak menjadi dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia, serta mencapai dan memelihara kepuasan dalam pekerjaan (Schaie & Willis, 1991), terlebih ketika peristiwa ini terjadi dengan penyebab yang tidak terduga dan dengan proses yang singkat.
Perceraian karena kematian adalah perceraian terhormat. Orang yang diharapkan ikut mengasihani anggota-anggota keluarga yang ditinggalkan oleh kematian. Orang yang asalnya telah menikah dan sekarang bercerai, sulit menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Memelihara anak tanpa suami atau istri melelahkan dan sulit. Setiap orang harus menanggung sendiri kesedihan dan
kepahitannya, dengan berlalunya waktu semakin sedikit orang yang mau membaginya (Goode, 2004). Berbagai permasalahan yang dialami perempuan yang hidup menjanda.
Pertama, mereka harus membesarkan anak-anaknya seorang diri. Hal ini tidaklah muda karena bagaimana pun juga anak-anak yang sedang tumbuh dan mencari identitas diri akan membutuhkan figur ayah. Untuk anak laki-laki figur seorang ayah sangat dibutuhkan karena selama proes identifikasi, seorang anak laki-laki biasanya meniru kebiasan orang-orang terdekat yang dianggap punya kelebihan untuk ditiru, dan biasanya proses identifikasi ini merujuk pada sosok ayah. Bagi seorang janda, untuk menciptakan figur ayah yang dapat dijadikan contoh bagi anak-anaknya, khusus nya anak laki-laki, tentu bukanlah hal yang mudah. Jika persoalan ini tidak diatasi dengan baik oleh ibu-ibu janda, bukan tidak mungkin akan menimbulkan krisis identitas pada anak.
Selain itu, perempuan yang menjadi janda juga mengalami permasalahan ekonomi terutama jika saat menikah ia tidak bekerja dan hanya mengandalkan penghasilan dari suami. Ketika tiba-tiba ia kehilangan suami yang selama ini menopang perekonomian keluarga para janda pun tidak memiliki pemasukan tetap.
Akibatnya, wanita-wanita yang menjadi janda sering dihadapkan pada kesulitan ekonomi (Papalia et al, 2001). Masalah lain yang yang juga dialami oleh para wanita yang menjanda adalah masalah seksual. Pangkahila (2010) mengatakan bahwa kehilangan pasangan dapat menjadi hambatan psikis bagi mereka yang berstatus janda, sehingga dorongan seksual lenyap. Namun seiring dengan perjalanan waktu, setelah mereka mampu menyesuaikan diri dan menerima kenyataan, beban psikis itu perlahan- lahan akan hilang sehingga dorongan seksual mereka akan kembali seperti semula.
Tidak ada tempat untuk penyaluran seksual ini seringkali dapat menimbulkan masalah baru bagi para wanita yang hidup menjanda. Akan tetapi kebutuhan seks bukan alasan yang utama yang mendorong seorang janda untuk menikah. Mereka menganggap kebutuhan akan hal itu dapat disalurkan lewat kegiatan lain. Dan bagimana pemenuhannya tergantung kultur sosial dari masing-masing individu.
Secara sosial, masyarakat umumnya masih memandang status janda dengan pandangan negatif. Beragam stigma ditimpakan kepadanya oleh masyarakat yang menganggap tempat perempuan yang terbaik adalah disamping suami. Bersamanya beban sosial ditimpakan. Tanpa pernah ingin melihat berbagai faktor penyebab atau kondisi perempuan menjanda, masyarakat cenderung menghakimi dan memberi label terburuk serta kejam kepada para janda.
Berdasarkan data proyeksi BPS (Badan Pusat Statistik) penduduk di Kabupaten Simalungun pada tahun 2016 berjumlah 854.489 jiwa, laki-laki berjumlah 425.794 jiwa, dan perempuan berjumlah 428.695 jiwa. Di Kecamatan Hutabayu Raja memiliki memiliki 15 desa. Salah satunya adalah desa Jawabaru yang memiliki jumlah penduduk 1.682 jiwa, laki-laki berjumlah 976 jiwa, dan perempuan berjumlah 706 jiwa, yang sudah menikah 502 (251 rumah tangga) dan 91 diantaranya sudah menyandang status janda (baik janda cerai maupun janda ditinggal meninggal oleh suami). Di desa Jawabaru mayoritas 90% berkebun dan selebihnya bekerja di bidang lain seperti berdagang, pegawai swasta dan PNS. Di desa Jawabaru mayoritas masyarakatnya memiliki suku Batak Toba dan suku Jawa, 30% keluarga yang tidak memiliki tanah bekerja sebagai buruh harian kebun orang. Terutama pada Janda yang tidak memiliki tanah biasanya bekerja sebagai buruh harian di kebun orang dengan
pendapatan kurang lebih Rp. 1.200.000 per bulannya, dengan hasil pendapatan itulah yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga terutama untuk anak-anaknya karena sebagian besar anak-anak dari janda di desa ini bersekolah.
Desa Jawabaru yang berada di daerah perkebunan kelapa sawit PTPN 4 ini memiliki masyarakat yang menyandang status janda dengan jumlah yang cukup banyak. Perceraian, kematian, bahkan ditinggal pergi dan menikah lagi oleh suami tanpa adanya perceraian merupakan kasus yang terjadi di desa Jawabaru. Struktur patriarki yang masih dipegang sebagian besar masyarakat ini seringkali menimbulkan konflik. Status yang di sandang seseorang dapat mempengaruhi hubungan atau interaksinya dalam masyarakat. Status janda dalam hal ini cenderung banyak dirugikan, selain karena harus mencari nafkah dengan sendirinya, membesarkan dan mengurus keluarga, bahkan karena status dan kesendiriannya ini, setiap perilaku dan gerak-geriknya selalu menjadi sorotan masyarakat. Setiap perempuan yang menyandang status janda sering kali dirundung rasa takut, rasa malu, dan enggan untuk bersosialisasi dalam masyarakat. Ada juga perempuan yang bangga menjadi seorang janda di desa Jawabaru ini karena merasa terbebas dari tindasan atau tindakan kekerasan yang pernah dilakukan oleh suaminya sehingga lebih memilih untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama para janda.
Perempuan yang merasa tidak siap menyandang status janda, justru akan cenderung melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Status janda yang disandang oleh perempuan cenderung membuat resah masyarakat, terutama jika janda tersebut menjalin hubungan dengan laki-laki. Janda dapat digolongkan berdasarkan pembagian masa dewasa seperti yang
digolongkan seorang janda muda adalah berusia 18-40 tahun yang sudah menyandang status janda, perempuan janda yang tergolong madya, yaitu janda yang berusia 40-60 tahun, dan janda tua, yaitu janda yang berusia 60-70 tahun atau sampai kematian (Hurlock, 1980:246).
Banyak janda di desa Jawabaru yang seringkali mengeluhkan ketidaksanggupannya menjalani hidup sendiri tanpa seseorang yang mendampingi dan menjadi teman diskusi, yaitu suami. Hal tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa menjadi janda bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan, karena sebuah keluarga akan sempurna apabila struktur yang dimiliki lengkap, ada seorang suami atau ayah, seorang istri atau ibu, dan anak-anak yang semakin melengkapi sistem keluarga tersebut. Ketidaklengkapan keluarga, dimana seorang janda harus hidup sendiri dengan anak tanpa seorang suami sehingga terkadang dapat memaksanya untuk melakukan segala sesuatu demi memenugi kebutuhan keluarga sampai-sampai apapun yang dilakukan seringkali dipandang negatif oleh masyarakat. Janda yang masih muda dan menarik atau cantik dianggap sebagai penggoda atau janda kembang di desa Jawabaru sedangkan janda yang kaya atau yang memiliki tanah seringkali menjadi incaran bagi laki-laki yang materialistik. Berbagai anggapan yang muncul tersebut memiliki latar belakang dan faktor-faktor penyebab yang berbeda pula.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka yang menjadi perumusan masalah yaitu:
1. Bagaimana kehidupan janda setelah ditinggal mati oleh suaminya dalam stereotip gender?
2. Bagaimana pilihan rasional janda dalam mempertahankan status sosialnya?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui bagaimana pilihan rasional janda dalam mempertahankan status sosialnya.
2. Mengetahui bagaimana kehidupan janda setelah ditinggal mati oleh suaminya dalam stereotip gender.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang dapat diperoleh dari adanya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.4.1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kajian bagi masyarakat dan peneliti berikutnya dalam memahami pilihan rasional janda dalam mempertahankan status sosialnya.
1.4.2. Manfaat Praktis
2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pilihan rasional janda dalam mempertahankan status sosialnya.
3. Penelitian ini diharapkan menambah informasi tambahan mengenai pandangan masyarakat terhadap perempuan yang berstatus janda.
1.4.3. Manfaat Bagi Penulis
Penelitian ini adaah sarana sarana bagi penulis untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan sosiologi dan mendapatkan data dilapangan serta melatih kemampuan mengolah data secara akurat.
1.5. Defenisi Konsep
Dalam sebuah penelitian ilmiah, defenisi konsep sangat diperlukan untuk mempermudah dan memfokuskan penelitian. Konsep adalah defenisi abstrak mengenai gejala atau realita atau suatu pengertian yang nantinya akan menjelaskan suatu gejala (Suyanto & Sutinah, 2005:49). Selain itu konsep juga berfungsi sebagai panduan peneliti untuk menindaklanjuti penelitian tersebut serta menghindari timbulnya kekacauan akibat kesalahan tafsir dalam penelitian. Adapun konsep yang digunakan yang digunakan sesuai dengan konteks penelitian adalah sebagai berikut.
1.5.1. Pilihan Rasional
Teori pilihan rasional, kadang disebut teori pilihan atau teori tindakan rasional, adalah kerangka pemikiran untuk memahami dan merancang model perilaku sosial dan ekonomi. Teori pilihan rasional adalah seluruh perilaku sosial disebabkan oleh pelaku individu yang masing-masing membuat keputusannya sendiri. Dalam teori pilihan rasional individu didorong oleh keinginan atau tujuan yang mengungkapkan
“preferensi” mereka bertindak dengan spesifik, mengingat kendala dan atas dasar informasi yang mereka miliki tentang kondisi dimana mereka bertindak. Paling sederhana hubungan antara preferensi dan kendala dapat dilihat dalam istilah-istilah teknis yang murni dari hubungan dari sebuah sarana untuk mencapai tujuan. Teori pilihan rasional berpendapat bahwa individu harus mengantisipasi hasil alternatif tindakan dan menghitung bahwa yang terbaik untuk mereka. Rasional individu memilih alternatif yang akan memberi mereka kepuasan terbesar. Penelitian ini didasarkan dengan semakin meningkatnya jumlah janda yang ada di desa Jawabaru sehingga peneliti akan berusaha untuk memaparkan dan menjelaskan mengenai pilihan rasional janda yang ditinggal meninggal oleh suami dalam mempertahankan status sosialnya.
1.5.2. Janda
Janda berarti perempuan yang tidak bersuami lagi, baik karena cerai maupun karena ditinggal oleh suaminya. Janda merupakan perempuan yang tidak memiliki pasangan dan status kesendirian karena berpisah dengan suami setelah dikumpuli, baik berpisah karena dicerai maupun karena ditinggal mati. Pria maupun perempuan yang telah menikah dan telah bercampur kemudian berpisah, baik karena disebabkan perceraian maupun kematian adalah berstatus sama. Hanya karena frame budaya yang memberikan kekuasaan kepada pria atas perempuan yang lebih banyak menunjuk status kaum perempuan sebagai status janda (Munir, 2009:33). Secara ilmiah janda dapat diartikan seorang perempuan yang pernah melakukan hubungan biologis, maupun sosiologis, tapi dengan alasan tertentu harus hidup tanpa suami. Sedangkan berdasar filsafat bahwa janda adalah perempuan yang pernah merasakan cinta kasih dan melakukan hubugan intim, tapi merelakan cinta kasihnya tidak berlanjut dikarenakan masing-masing memilih jalan hidp sendiri-sendiri untuk memperoleh kebebasan masing-masing tanpa suatu ikatan pernikahan.
Janda dapat digolongkan berdasarkan pembagian masa dewasa seperti yang digolongkan seorang janda muda adalah berusia 18-40 tahun yang sudah menyandang status janda, perempuan janda yang tergolong madya, yaitu janda yang berusia 40-60 tahun, dan janda tua, yaitu janda yang berusia 60-70 tahun atau sampai kematian (Hurlock, 1980:246). Janda yang dimaksud dalam penelitian ini adalah janda yang ditinggal meninggal oleh suami yang berusia mulai dari yang termuda sampai kepada yang tertua.
1.5.3. Status Sosial
Status sosial biasanya didasarkan pada berbagai unsur kepentingan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu status pekerjaan, status dalam sistem kekerabatan, status jabatan dan status agama yang dianut. Dengan status seseorang dapat berinteraksi dengan baik terhadap sesamanya, bahka banyak dalam pergaulan sehari-hari seseorang tidak mengenal orang lain secara individu, melainkan hanya mengenal status saja.
Status sosial menurut Ralph Linton adalah sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya. Orang yang memliki status sosial status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.
Kemudian menurut Spencer status seseorang atau kelompok orang dapat ditentukan oleh suatu indeks. Indeks seperti ini dapat diperoleh dari jumlah rata-rata skor, misalnya yang dicapai seseorang dalam masing-masing bidang seperti pendidikan, pendapatan tahunan keluarga, dan pekerjaan dari kepala rumah tangga.
Status merupakan kedudukan seseorang yang dapat ditinjau terlepas dari individunya. Jadi status merupakan kedudukan objektif yang member hak dan kewajiban kepada orang yang menempati kedudukan adil. Untuk lebih lanjut peneliti ingin melihat status sosial janda yang ditinggal meninggal oleh suami di desa Jawabaru serta bagaimana cara janda tersebut mempertahankan status sosialnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Pilihan Rasional Menurut James Coleman
Berdasarkan penjelasan James S. Coleman, mengatakan bahwa suatu tindakan bisa dianggap dan dijelaskan jika hanya tindakan itu dilakukan sebagai tindakan yang rasional. Jadi tindakan-tindakan rasional individu memiliki suatu daya tarik yang unik sebagai dasar bagi teori sosial. Teori pilihan rasional Coleman tampak jelas dalam gagasan dasar bahwa tindakan perseorangan mengarah kepada suatu tujuan dan tujuan itu ditentukan oleh nilai dan pilihan. Ada unsur utama dalam teori Coleman, yaitu aktor dan juga sumber daya.
Sumber daya adalah setiap potensi yang ada atau bahkan yang dimiliki, sumber daya tersebut dapat berupa sumber daya alam, yaitu sumber daya yang telah disediakan atau potensi alam yang dimiliki dan juga sumber daya manusia, yaitu potensi yang ada dalam diri seseorang. Sedangkan aktor adalah seseorang yang melakukan sebuah tindakan. Dalam hal ini ialah individu yang mampu memanfaatkan sumber daya dengan baik yaitu aktor.
Aktor dianggap sebagai individu yang memiliki tujuan, aktor juga memiliki suatu pilihan yang bernilai dasar yang digunakan aktor untuk menentukan pilihan yaitu menggunakan pertimbangan secara mendalam berdasarkan kesadarannya, selain itu aktor juga mempunyai kekuatan sebagai upaya untuk menetukan pilihan dan tindakan yang menjadi keinginannya. Sedangkan sumber daya adalah dimana aktor memiliki
kontrol serta memiliki kepentingan tertentu, sumber daya juga sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan oleh aktor.
Coleman juga menjelaskan mengenai interaksi antara aktor dengan sumber daya ke tingkat sistem sosial. Basis minimal untuk sistem sosial adalah tindakan dua orang aktor, dimana setiap aktor mengendalikan sumber daya yang menarik perhatian bagi pihak lain. Aktor selalu mempunyai tujuan, dan masing-masing bertujuan untuk memaksimalkan wujud dari kepentingannya yang memberikan ciri saling tergantung pada tindakan aktor tersebut.
Pada kehidupan nyata, Coleman mengakui bahwa individu tidak selalu bertindak dan berperilaku rasional. Tetapi dalam hal ini akan sama saja apakah seorang aktor dapat bertindak dengan tepat menurut rasionalitas seperti yang biasa dibayangkan ataupun menyimpang dari cara-cara yang diamati. Tindakan rasional individu dilanjutkan dengan memusatkan perhatian pada hubungan mikro-makro, ataupun bagaimana cara hubungan tindakan individual menimbulkan perilaku sistem sosial.
Teori pilihan rasional berangkat dari tujuan atau maksud aktor, tetapi pada teori ini memiliki pandangan terhadap dua pemaksa utama tindakan. Pertama adalah keterbatasan sumber daya, bagi aktor yang mempunyai sumber daya besar, maka pencapain tujuan cenderung lebih mudah. Hal ini berkolerasi dengan biaya, pemaksa utama, dan kedua ialah tindakan aktor individual, tindakan aktor individual disini adalah lembaga sosial.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa aktor yang dimaksud oleh Coleman adalah seseorang yang mempunyai tujuan. Sumber daya adalah suatu hal yang dianggap menarik oleh orang lain dan sumber daya itu dapat dikontrol oleh orang
lain. Disinilah maka tercermin kebutuhan bersama antara aktor dan orang-orang yang memerlukan sumber daya.
2.2. Janda
Janda berarti perempuan yang tidak bersuami lagi, baik karena cerai maupun karena karena ditinggal mati oleh suaminya (Departemen Pendidikan Nasional, 2003:
457). Janda merupakan perempuan yang tidak memiliki pasangan dan status kesendirian karena berpisah dengan suami setelah dikumpuli, baik berpisah karena dicerai karena ditinggal mati. Pria maupun perempuan yang telah menikah dan telah bercampur kemudian berpisah, baik karena disebabkan perceraian maupun kematian adalah berstatus sama. Hanya karena frame budaya yang memberikan kekuasaan kepada pria atas perempuan dan lebih banyak menujuk status kaum perempuan sebagai janda (Munir, 2009:33).
Status janda bukanlah posisi yang menguntungkan bagi perempuan secara biologis, psikologis, maupun sosiologis. Kondisi yang melingkupi diri kaum perempuan seringkali mengundang bargaining position kaum ini ketika berhadapan dengan kaum pria. Kaum janda kadang ditempatkan sebagai perempuan pada posisi yang tidak berdaya, lemah, dan perlu dikasihani sehingga dalam kondisi sosial budaya patriarki seringkali terjadi ketidakadilan terhadap kaum perempuan, khususnya kaum janda (Munir, 2009:144).
Secara ilmiah, janda dapat diartikan seorang perempuan yang pernah melakukan hubungan biologis, tapi dengan alasan tertentu harus hidup tanpa suami.
Sedangakan berdasarkan filsafat bahwa janda adalah perempuan yang pernah
merasakan cinta kasih dan melakukan hubungan intim, tapi merelakan cinta kasihnya tidak berlanjut dikarenakan masing-masing tanpa suatu ikatan pernikahan. Secara ontologis, janda merupakan sosok perempuan yang tidak bersuami, harus menanggung penderitaan secara fisik dan psikis dari berbagai penilaian dari masyarakat sekitarnya.
Secara epistimologis, janda adalah perempuan yang mempunyai fungsi ganda.
Perempuan di satu sisi sebagai ibu dari keturunan yang ditinggalkan ayahnya, baik melalui perceraian maupun kematian dan di sisi lain, merupakan perempuan yang pernah melakukan hubungan biologis dengan lawan jenisnya, tetapi tidak mendapat perlakuan yang lazim dari pasangannya sehingga harus melaksanakan fungsi sebagai kepala keluarga.
Garner dan Marcer menyatakan mengenai norma yang berlaku di masyarakat, bahwa kehidupan menjanda khususnya mempengaruhi perempuan karena:
1. Perempuan cenderung hidup lebih lama daripada pria.
2. Perempuan pada umumnya menikahi pria yang lebih tua dari mereka sendiri.
3. Laki-laki lebih tua mungkin menikah kembali dibandingkan perempuan tua.
4. Ada norma-norma sosial yang kuat, yang menentang perempuan tua menikahi pria muda, dan juga norma-norma yang menentang perempuan tua menikah lagi ( Ollenburger dan moore, 1996:248).
Dalam perspektif stereotip gender, stereotip adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. Salah satu stereotip yang berkembang berdasarkan pengertian gender, yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin (perempuan). Hal ini melibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan
yang merugikan kaum perempuan. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domestik atau kerumahtanggaan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyarakat, bahkan di tingkat pemerintah dan negara. Apabila seorang laki-laki marah, ia dianggap tegas. Tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda, namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan nerugikan perempuan.
Label kaum perempuan sebagai ibu rumah tangga merugikan jika hendak aktif dalam kegiatan laki-laki seperti berpolitik, bisnis, atau birokrat. Sementara label laki- laki sebagai pencari nafkah utama mengakibatkan apa saja yang dihasilkan perempuan dianggap sebagai tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan. Pada dasarnya keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama disbanding jenis kelamin lainnya yang disebut dengan subordinasi. Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari laki-laki. Banyak kasus dalam tradisi, tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakkan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki, kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak utama perempuan dalam kehidupan.
2.3. Status Sosial
Kata status dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti keadaan atau kedudukan (orang atau badan) dalam hubungan dengan masyarakat disekelilingnya (kamus besar bahasa Indonesia, 1988). Menurut Soerjono Soekanto (Abdulsyani, 2007:92), status sosial merupakan tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya yang berhubungan dengan orang-orang lain dalam lingkungan pergaulannya, prestasinya dan hak-hak serta kewajibannya. Status sosial biasanya didasarkan pada berbagai unsur kepentingan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu status pekerjaan, status dalam sistem kekerabatan, status jabatan, dan status agama yang dianut. Dengan status seseorang dapat berinteraksi dengan baik terhadap sesamanya, bahkan banyak dalam pergaulan sehari-hari seseorang tidak mengenal orang lain secara individu, melainkan hanya mengenal statusnya saja.
Status pada dasarnya merupakan suatu kompleks dari kewajiban-kewajiban dan yang mengandung hak-hak bagi fungsionaris yang menempatinya. Ditinjau dari sudut tertentu, status adalah posisi seseorang atau sekelompok orang dalam suatu kelompok sosial sehubungan dengan orang-orang lain dalam kelompok itu. Kedudukan atau status sering kali dibedakan dengan kedudukan sosial atau status sosial. Status adalah sebagai tempat atau posisi seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain dalam kelompok tersebut, atau tempat suatu kelompok-kelomok lain di dalam kelompok yang lebih besar lagi.
Status atau kedudukan macam apa yang dimiliki seseorang atau kedudukan apa yang melekat padanya, seringkali dapat dilihat pada kehidupan sehari-hari melalui ciri- ciri tertentu. Sosiologi menamakan hal ini sebagai status simbol. Ciri-ciri tersebut
seolah-olah sudah menjadi bagian hidupnya orang tersebut atau dapat dikataka telah terinternalisasi.
Max Weber menyatakan bahwa status adalah kelompok masyarakat yang didasarkan pada ide-ide gaya hidup yang tepat dan kehormatan yang diberikan kepada orang-orang oleh orang lain. Kelompok-kelompok ini hanya ada karena ide-ide orang tentang prestise atau aib. Kehormatan status menurut Weber merupakan jenis komunitas tanpa bentuk, dimana setiap nasip hidup manusia ditentukan oleh sebuah penghargaan sosial yang spesifik, positif atau negative, terhadap kehormatan (Weber, 1946:22). Max Weber mengingatkan bahwa dalam masyarakat ada status yang memperlihatkan prestige atau gaya hidup orang yang eksistensinya diluar posisi kelas.
Menurutnya, status adalah dimensi kultural yang melibatkan pelapisan kelompok menurut derajat prestige-nya.
2.4. Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
1. Penelitian oleh Ambarini (2019), menemukan bahwa janda yang ditinggal mati oleh suaminya biasanya mereka mengalami kesedihan yang mendalam akibat kepergian dari suami yang tak terduga, kehilangan peran suami, kesulitan dalam mengurus anak dan permasalahan ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Perubahan status menjadi seorang janda menyebabkan permasalahan bagi wanita dalam lingkungan sosialnya. Menjadi juga masalah pada kesehatan baik fisik maupun mentalnya. Selain itu, terdapat permasalahan janda dilingkungan
sosialnya yaitu status sebagai janda masih dipandang dengan sebelah mata, seolah-olah kehadiran janda masih sulit diterima ditengah-tengah masyarakat bahkan banyak dari masyarakat yang menganggap janda sebagai suatu aib, sering disudutkan, disalahkan bahkan status janda sering dijasikan lelucon.
Banyaknya masalah yang muncul selama menjadi seorang wanita dengan peran orang tua tunggal membutuhkan penyesuaian diri untuk menghadapi banyaknya perubahan. Janda juga memerlukan kemampuan diri agar dapat menghadapi tekanan-tekanan maupun permasalahan hidup agar dapat menjalani kehidupannya dengan lebih baik. Relisiensi sangat diperlukan sebagai kemampuan diri agar dapat menghadapi tekanan-tekanan maupun permasalahan hidup agar dapat menjalani kehidupannya dengan lebih baik.
2. Penelitian oleh Muslimah (2012), menemukan konsep diri bukan merupakan faktor bawaan melainkan berkembang dari pengalaman yang terus menerus.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri wanita janda yang menjadi orang tua tunggal pasca perceraian yaitu: peran orang tua, peran masyarakat sosial, faktor belajar dari pengalaman, perbandingan dengan orang lain, dan kelompok sosial. Dalam penelitian ini wanita yang menjadi janda akibat perceraian akan merasa minder, merasa rendah diri, karena pernah bercerai, dan merasa warga membicarakan statusnya. Tanggapan dari masyarakat pun bermacam-macam, ada yang berpendapat negatif namun lebih banyak yang menanggapi informan secara positif. Wanita sebagai orang tua tunggal selalu menerima kenyataan menjalankan multi perannya di dalam keluarga dan selalu berusaha secara mandiri dan semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan anaknya bukan
hanya secara finansial saja tetapi juga karakteristik individunya dan berusaha untuk dapat mandiri dalam menafkahi anaknya dan memberikan kehidupan yang layak bagi anaknya.
3. Penelitian oleh Karvistina (2011), menemukan 2 pesepsi, ada sebagian masyarakat yang berpersepsi positif terhadap status janda yaitu bahwa kaum muda maupun status lain yang disandang oleh anggota masyarakat lainnya adalah sama. Masyarakat berpersepsi bahwa kaum janda pantas diteladani karena ketegaran dan kekuatan mereka dalam melanjutkan hidup tanpa suami.
Masyarakat cukup memberikan apresiasi terhadap kaum janda karena setelah setelah sepeninggalan suami, mereka cenderung lebih aktif terlibat dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh masyarakat setempat. Kaum janda juga dapat menikmati kehidupan kini tanpa suami dan menjalaninya dengan baik. Di sisi negatif nya, janda cenderung diberi cap atau label sebagai perusak hubungan suami istri orang lain dan sebagai penggoda. Namun di sisi lain masyarakat setempat masih menanggapi secara bijak dengan melihat latar belakangnya terlebih dahulu.
Pada penelitian saudara Dyah Ayu, Hanifah, Listya jelas berbeda dengan subjek dan tempat penelitian peneliti. Adapun perbedaan dari penelitian saya adalah berfokus pada pilihan rasional janda dalam mempertahankan status sosialnya, sebagai acuannya masyarakat yang berstatus janda ditinggal meniggal oleh suami.
Dalam penelitian ini ingin mengetahui pilihan rasional yang seperti apa yang dilakukan oleh masyarakat yang berstatus janda dalam mempertahankan status sosialnya.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Menurut Williams (dalam Moleong, 2010) penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar ilmiah dengan menggunakan metode alamiah dan dilakukan oleh peneliti yang tertarik secara ilmiah. Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia.
Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata kata, laporan terinci dari pandangan informan, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bogdan dan Taylor (dalam Meleong 2010) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan dan deskriptif yang berupa kata kata tertulis maupun lisan dari orang orang dan perilaku yang diamati. Disini peneliti memaparkan secara deskriptif yaitu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena yang lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Dengan metode ini, peneliti mendeskripsikan antara satu pengalaman informan dengan pengalaman informan lainnya terkait cara mereka untuk menyesuaikan diri dengan
perubahan status dan peran mereka dan dapat melihat dan memahami dinamika pilihan rasional janda dalam mempertahankan ststus sosialnya.
3.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dilokasi Desa Jawabaru Kec. Hutabayu Raja Kab.
Simalungun yang mana desa tersebut berada di tengah tengah wilayah perkebunan kelapa sawit.
Peneliti mengambil lokasi penelitian tersebut karena peneliti sudah mengetahui lokasi tersebut dan merupakan lokasi yang terdapat jumlah janda yang cukup besar, baik janda muda, maupun janda tua. Di lokasi tersebut juga terdapat beberapa orang terdekat yang sudah berstatus janda, sehingga lebih mudah untuk mengetahui informasi mengenai pilihan rasional janda didesa tersebut dalam memepertahankan status sosialnya dengan cara menjumpai langsung masyarakat yang berstatus janda di desa tersebut.
3.3. Unit Analisis
Dalam penelitian kualitatif, penentuan unit analisis merupakan hal yang sangat penting sebagai pedoman untuk mengetahui lingkup dari subyek penelitian sebagai sumber atau tempat memperoleh keterangan atau fakta. Unit analisi diperlukan agar peneliti dapat mengetahui dan menentukan masalah penelitian tersebut. Unit analisis adalah keseluruhan unsur yang menjadi focus penelitian (Bungin, 2008:266). Unit analisis ini dapat bersifat perorangan maupun kelompok. Dalam konteks penelitian ini
unit analisisnya adalah pilihan rasional janda dalam mempertahankan status sosialnya, yaitu status janda yang disebabkan cerai mati/ditinggal meninggal.
3.4. Informan
Informan adalah orang yang diwawancarai, dimintai informasi oleh pewawancara.
Informan merupakan subjek yang memahami informasi permasalahan peneliti sebagai pelaku maupun orang yang memahami permasalahan peneliti ( Bungin, 2007:76).
Adapun informan dipilih dalam penelitian ini memiliki syarat yang disesuaikan dengan masalah yang telah dirumuskan. Adapun syarat tersebut adalah perempuan yang berstatus janda di desa Jawabaru Kec. Hutabayu Raja Kab. Simalungun yaitu janda yang ditinggal mati/ditinggal meninggal oleh suami sebagai informan utama yang memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Janda yang ditinggal mati selama 3 tahun keatas 2. Berusia 25-60 tahun
3. Bekerja sebagai buruh 4. Memiliki anak
5. Suku Batak Toba dan Jawa
Sedangkan sebagai informan tambahan adalah masyarakat yang tinggal di desa Jawabaru baik suku Batak Toba maupun suku Jawa.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian adalah untuk mendapatkan data.
Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data dan ditetapkan. (Sugiono, 2016:225).
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, yang digolongkan sebagai berikut:
3.5.1. Data Primer
Teknik pengumpulan data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari informan dan temuan yang didapatkan dilapangan. Data primer dapat diperoleh melalui wawancara langsung dengan informan, observasi serta melalui pengamatan yang dilakukan dilapangan. Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan data primer yaitu:
a. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan seharian manusia dengan menggunakan panca indra mata sebagai alat bantu utamanya selain panca indra lainnya seperti telinga, penciuman, muluit, dan kulit ( Bungin, 2007:11). Karena itu observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja panca indra lainnya. Dalam teknik observasi yang terpenting adalah mengandalkan pengamatan dan ingatan sipeneliti. Akan tetapi kadang kala penglihatan dan ingatan manusia (peneliti) terbatas sehingga diperlukan alat bantu untuk merekam atau mencatat data-data hasil observasi seperti catatan harian, kamera dan alat-alat lainnya yang dianggap relevan.
b. Wawancara
Wawancara adalah proses memeperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama (Bungin, 2007:108). Materi wawancara adalah tema yang ditanyakan kepada informan, berkisar antara masalah atau tujuan penelitian. Dalam penelitian ini peneliti telah menyiapkan daftar pertanyaan untuk informan agar memudahkan peneliti dalam mendapatkan data.
c. Dokumentasi
Dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi. Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen yang dihimpun dipilih sesuai dengan tujuan dan fokus masalah. Dokumen yang digunakan dapat berupa laporan, buku,surat kabar, foto dan lainnya yang berkaitan dengan judul yang diteliti.
3.5.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua atau pihak lain yang terkait dengan permasalahan dalam penelitian. Data sekunder dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, jurnal, tulisan ilmiah, laporan penelitian, media elektronik, majalah serta dokumen lainnya yang berkaitan dengan penelitian sehingga memudahkan peneliti dalam mendapatkan data.
3.6. Interpretasi Data
Interpretasi data merupakan suatu tahap pengkajian data yang mencakup perilaku objek, hasil wawancara, temuan data di lapangan yang teridentifikasi dan bahan-bahan yang telah daikumpulkan. Peneliti dapat mengumpulkan data melalui hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Interpretasi data dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh melalui obsevasi, wawancara, dan juga dokumen. Setelah itu data yang diperoleh tersebut dipelajari dan ditelaah kembali untuk mencari jawaban pertanyaa rumusan masalah sehingga terbentuklah solusi.
Data yang telah terkumpul diinterpretasikan secara kualitatif sesuai metode penelitian yang telah ditetapkan. Kemudian sampai pada taha[pmkesimpulan dengan tujuan mencari arti, makna, penjelasan yang dilakukan terhadap data yang telah dianalisis.
1.7. Jadwal Penelitian No Kegiatan Bulan Ke-
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8
1 Pra Proposal 2 ACC Judul 3 Penyusunan
Proposal Penelitian 4 Seminar
Proposal Penelitian
5 Penelitian Lapangan 6 Pengumpulan
Data dan Analsis Data 7 Bimbingan
Skripsi 8 Penulisan
Laporan Akhir/
Seminar hasil 9 Sidang Meja
Hijau/
Kompherensif
BAB IV
INTERPRETASI DATA DAN HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Lokasi Penelitian
4.1.1. Sejarah desa Jawabaru Kec. Hutabayu Raja, Kab. Simalungun
Desa Jawabaru merupakan salah satu bagian terkecil dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Simalungun, Kecamatan Huta Bayu Raja, yang memiliki luas wilayah 10,1 Km2. Berdasarkan pendapat para tokoh masyarakat desa Jawabaru sudah ada sejak Tahun 2000 Masehi, yang terdiri dari 5 dusun ( I-II. Kampung Jawa, III. Kampung Simangonai, IV.
Ganjangan, V. Petani) dengan jumlah penduduk 995 orang yang dihuni oleh masyarakat suku batak simalungun, dan memiliki mata pencaharian dengan bertani jagung, padi, kacang, pisang dan karet.
Dengan adanya proses perkembangan transmigrasi yang terjadi di desa Jawabaru mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan dalam jumlah penduduk, kini desa Jawabaru sudah memiliki penduduk 1.682 jiwa dengan berbagai macam suku di antaranya Jawa, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Mandailing, Padang, yang terdiri dari beragam kepercayaan, yaitu Kristen, Kristen Katolik, dan Islam. Selain itu, desa Jawabaru kini sudah tidak bertani lagi, melainkan berkebun, yakni kelapa sawit.
4.1.2. Perangkat Desa Jawabaru Struktur pemimpin di desa Jawabaru terdiri dari :
Kepala desa : Hery Juni Herson Sinaga Sekretaris desa : Lambok Tamba
Bendahara desa : Domel Simanjuntak Kepala Dusun/ RT
Dusun I : Jurianto Silalahi Dusun II : Marwan
Dusun III : Lambok Adi Putra Sinaga Dusun IV : Amrin Sinaga
Dusun V : Junelson Sihotang Maujana/ BPD
Dusun I : Marisi Tamba, Janner Purba Dusun II : Sariman, Ramadani
Dusun III : Pardi Silitonga Dusun IV : Budiman Marbun Dusun V : Lusman Lubis
4.1.3. Visi Misi desa Jawabaru A. Visi
Mewujudkan desa Jawabaru sebagai desa yang mandiri, maju dan sejahtera di Kecamatan Huta Bayu Raja.
B. Misi
Untuk mencapai tujuan dari visi di atas maka disusunlah Misi sebagai langkah-langkah penjabaran dari visi tersebut di atas sebagai berikut:
1. Membenahi struktur/susunan personil aparat desa yang akan menyertai saya bekerja demi masa depan desa Jawabaru.
2. Mengutamakan kebutuhan masyarakat desa, baik itu bidang pembangunan desa maupun pertanian.
3. Tidak membedakan masyarakat yang mampu dengan masyarakat yang tidak mampu
4. Memberdayakan tokoh masyarakat
5. Memberdayakan para gamut disetiap dusun-dusun desa.
4.1.4. Kondisi Demografis Desa Jawabaru Kecamatan Hutabayu Raja, Kabupaten Simalungun
Kabupaten Simalungun adalah salah satu daerah yang ada di Sumatera Utara.
Suku Batak Simalungun penduduk asli dari kabupaten ini. Kabupaten ini memiliki 31 kecamatan dengan luas 438.660 ha atau 6,12% dari luas wilayah Sumatera Utara. Salah satu kecamatannya adalah Kecamatan Hutabayu Raja.
Kecamatan Hutabayu Raja merupakan salah satu dari 31 kecamatan yang ada di Kabupaten Simalungun. Kecamatan Hutabayu Raja memiliki luas 156.48 km2 dengan ketinggian 100 meter dari permukaan laut. Batas-batas Kematan Hutabayu Raja adalah:
Sebelah Utara berbataan dengan Kabupaten Asahan
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Ujung Padang
Sebelah barat berbatasan dengan Jawa Maraja Bah Jambi
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Ujung Padang
Kecamatan Hutabayu Raja merupakan salah satu daerah pertanian dan perkebunan yang cukup luas di wilayah Simalungun. Kecamatan ini berada di sekitar
60 km arah Timur dari ibukota Kabupaten Simalungun yaitu Kecamatan Pematang, 40 km dari kota Pematang Siantar dan kurang lebih 200 km dari kota Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara. Kecamatan Hutabayu Raja terletak 51-00 meter di atas permukaan laut dan kondisi ini sangat mendukung untuk lahan pertanian terutama tanaman pangan dan perkebunan.
Kecamatan Hutabayu Raja yang seluas 156,48 km2 terdiri dari lahan kering sebesar 39,40 persen, lahan sawah sebesar 30,72 persen, halaman/pekarangan sebesar 4,54 persen dan lahan lainnya sebesar 25,33 persen. Lahan sawah terluas berada di desa Raja Maligas sebesar 665 ha dan Silakkidir sebesar 654 ha sedangkan desa Jawabaru dan Dolok Sinumbah tidak memiliki lahan sawah, Lahan Kering terluas berada di desa Huta Bayu yaitu 2.249 ha7.
4.1.5. Gambaran Umum Masyarakat Yang Menyandang Status Janda di Desa Jawabaru
Desa Jawabaru merupakan salah satu desa yang memiliki jumlah janda yang cukup banyak, terutama pada janda cerai mati. Dari total keseluruhan janda yang ada di desa Jawabaru 80% janda ditinggal mati oleh suami. Berbagai macam kematian suami dari Janda di desa Jawabaru ini, ada yang meninggal karena penyakit, kecelakaan dan ada juga yang meninggal tanpa tanda rasa sakit seperti kecelakaan ataupun meninggal karena penyakit. Perempuan yang sudah menyandang status janda di desa Jawabaru tergolong pada janda muda 18-40 tahun dan janda madya 40-60 tahun.
Semuanya sudah memiliki anak saat ditinggal meninggal oleh suaminya, kebanyakan kondisi anak yang ditinggal meninggal oleh suami masih pada kecil, ada juga yang
sudah bersekolah duduk di bangku SD, SMP, bahkan SMA. Janda di desa Jawabaru ini sebagian besar terdapat di dusun II Simangonai dan dusun I Kampung Jawa.
Sebagian besar janda di desa Jawabaru ini memiliki suku Batak Toba dan suku Jawa yang bekerja sebagai buruh di kebun sawit milik orang lain. Namun ada juga beberapa janda yang menambah pendapatannya dengan berjualan makanan dan minuman di pasar pada hari minggu maupun pada saat hari libur. Selain sibuk bekerja dan mengurus anak, ada juga janda di desa Jawabaru ini yang aktif dalam perkumpulan gereja, STM , bahkan ikut sebagai ibu PKK di desa Jawabaru.
4.2. Profil Informan 4.2.1. Informan I
Nama : ET Usia : 47
Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Kristen Protestan Pekerjaan : Buruh
Pendidikan : SMA
Alamat : Dusun III Simangonai Suku : Batak Toba
Ibu ET atau yang akrab di sapa ibu Roma merupakan seorang ibu yang sudah menyandang status janda sejak tahun 2014 hingga saat ini di desa Jawabaru. Pada tanggal 10 April peneliti bertemu dengan ibu Roma untuk melakukan wawancara pertama kali. Peneliti sebelumnya sudah mengenal ibu Roma karena jarak rumah ibu
Roma tidak begitu jauh dari rumah peneliti. Ibu Roma merupakan janda yang sudah memiliki 2 anak. Anak pertama perempuan yang bernama Roma Tampubolon baru menyelesaikan pendidikannya terakhir di bangku SMA tahun lalu dan saat ini sedang mencari pekerjaan, sedangkan anak ke 2 laki-laki yang bernama Sandi Tampubolon masih duduk dibangku kelas 2 SMP. Berdasarkan tutur kata ibu Roma saat kehilangan suami, ibu Roma merasa sangat sedih, tidak semangat, pada saat itu anak-anak masih kecil, dan masih sekolah dibangku SD. Dalam kehidupannya sehari-hari setelah jadi janda, ibu Roma tetap memiliki hubungan baik bersama anak-anaknya dengan merawat dan membesarkan anak-anaknya seorang diri dan baiknya anak-anak ibu Roma sangat patuh pada ibunya. Selama membesarkan anak seorang diri, ibu Roma pernah mengalami hal yang paling sulit selama hidup menjanda, saat itu ibu roma sakit, dan tidak bisa bekerja sehingga perekonomian semakin menurun, pengeluaran semakin banyak sementara pendapatan tidak ada karena hanya ibu Roma sendiri yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, berbeda dengan dulunya saat memiliki suami bisa merawat dan memenuhi kebutuhan keluarganya sekalipun ibu Roma sedang sakit. Ibu Roma juga merasa sangat terpukul karena pada posisi seperti itu tidak ada bantuan berupa uang atau perhatian sedikitpun dari keluarga pihak laki- laki untuk keluarga ibu Roma. Dengan kesabaran, doa dan kerja keras yang cukup kuat untuk melawan kepedihan yang dialami oleh ibu Roma, sehingga semakin lama semakin bijak untuk mengatur keuangan yang dilengkapi dengan mudahnya mengontrol keuangan untuk anak karena masih pada kecil, membuat ibu Roma merasa bahwa setelah menjadi janda ada sedikit penigkatan dalam hal perekonomian, meskipun seorang diri mecari nafkah namun ada keuntungannya yang ibu Roma
rasakan, yang mana dulu saat memiliki suami justru banyak pengeluaran, terutama untuk rokok, sering minum ke warung, pendapatan suami sering habis dipaki untuk beli rokok dan pergi minum ke warung. Berbeda dengan sekarang yang sedikit demi sedikit bisa menabung meskipun hanya bekerja sebagai buruh di kebun sawit orang.
Menyandang status seorang janda bagi ibu Roma tidaklah menyenangkan, karena banyak gosip yang timbul dari masyarakat tentang janda, tetapi ibu Roma tidak patah semangat dengan gosip orang, justru ibu Roma menjaga diri dan meningkatkan rasa kekeluargaan kepada masyarakat sehingga masyarakat tetap memiliki hubungan baik dengannya, bahkan ibu Roma sendiri mendapatkan pujian dari masyarakat karena bisa memenuhi kebutuhan keluarga hingga anak bisa tamat sekolah SMA yang hanya bermodalkan bekerja sebagai buruh di kebun sawit orang tanpa adanya bantuan dari keluarga. Dalam keadaan sebagai tulang punggung dalam keluarga ibu Roma memilih tetap bertahan sebagai janda sampai saat ini, bahkan ada dukungan dari anak agar ibu Roma tidak menikah lagi, karena berdasarkan pengalaman yang dirasakan sewaktu ada suami lebih banyak beban, lebih baik bertahan menjadi janda. Salah satu cara yang dilakukan ibu Roma agar bisa bertahan dan tidak tertarik untuk menikah lagi yaitu memperbanyak aktivitas, bekerja, mengurus anak, dan rajin menabung sehingga saat ini perekonomian keluarga ibu Roma semakin baik meskipun tidak memiliki suami, ibu Roma justru lebih merasa bahagia menjadi janda sampai sekarang.
4.2.2. Informan II
Nama : MS Usia : 42
Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Kristen Protestan Pekerjaan : Buruh
Pendidikan : SD
Alamat : Dusun III Simangonai Suku : Batak Toba
Ibu MS yang akrab di sapa dengan ibu Lia merupakan istri yang ditinggal meninggal oleh suaminya K. Simanungkalit. Ibu Lia yang memiliki 2 anak ini berstatus janda pada usia 30 tahun, artinya sudah 12 tahun menjanda. Peneliti sebelumnya sudah mengenal ibu Lia lewat STM di desa Jawabaru. Ibu Lia yang memiliki 2 anak yang pertama perempuan yang duduk di kelas 2 SMP, dan yang kedua laki-laki duduk di kelas 6 SD. Berdasarkan tutur kata ibu Lia, saat pertama kali kehilangan suami rasanya hidupnya tidak berdaya, karena posisi anak-anak masih kecil, sangat sedih dan merasa kehilangan sudah tidak memiliki ayah lagi. Bahkan saat pertama kali berstatus janda ibu Lia sempat berdiam diri dirumah selama sebulan, meskipun sifat suami saat masih hidup sangat sering menyakitkan hati ibu Lia, namun tetap saja merasakan kesedihan yang cukup berlarut-larut, dan membuatnya merasa tak sanggup mengurus anak dengan seorang diri nantinya. Selama ibu Lia menjadi Janda, banyak harapan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya ibu Lia mendapatkan bantuan dari keluarga pihak suami, namun semua itu tidak terjadi sesuai harapannya, beruntungnya keluarga dari
ibu Lia sendiri ada yang mau membantu meskipun tidak banyak tapi sangat membantu keluarga ibu Lia dalam memenuhi kebutuhan keluarga nya terutama untuk menyekolahkan anak-anak nya.
Selama 12 tahun menjadi janda, bukanlah hal yang mudah baginya, karena banyak gosip, hinaan dari masyarakat yang tidak baik kepada ibu Lia karena status nya janda, ada juga masyarakat yang menjauh dan menghina keluarganya, namun ibu Lia tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang ibu sekaligus ayah dalam keluarga nya, juga tetap memiliki hubungan yang baik dengan anak, bahkan berusaha untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat, dengan berperilaku baik, berpakaian sopan dan tidak menimbulkan rasa kecurigaan. Ibu Lia juga mengurus anak-anak nya seorang diri dengan baik, mencari nafkah sebagai buruh di kebun sawit orang bahkan bisa meningkatkan perekonomian keluarga nya sendiri. Mengingat semasa hidup bersama suami, banyak hal yang sangat menyedihkan dalam keluarganya, suami sangat malas bekerja, suka mabuk, bermain judi, keseharian nya hanya diwarung saja, meskipun dulunya keluarga ibu Lia memiliki kebun sawit, namun hasil sawit semuanya selalu pada suami, untuk belanja kebutuhan sehari-hari saja sangat sedikit di berikan. Namun sewaktu suami ibu Lia jatuh sakit, karena tidak cukup biaya akhirnya sawit pun di jual, hingga saat ini tidak memiliki kebun sawit lagi. Ibu Lia sangat sedih, tetapi ibu Lia juga merasa kehidupannya jauh lebih baik tanpa suami karena tidak ada lagi terjadi perkelahian yang dulu nya terjadi hampir setiap malam, yang membuat anaknya ketakutan dan menangis. Berdasarkan pengalaman nya, ibu Lia merasa lebih baik tidak memiliki suami lagi, bahkan anak pertama nya juga mendukung ibu Lia untuk tidak menikah lagi. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari untuk menjauhi godaan-godaan
dari laki-laki, ibu Lia sibuk bekerja, memperbanyak aktivitas setiap harinya, dan semakin rajin beribadah. Kadang ada waktu yang membuat nya merasa bersedih, karena semasa ada suami ketika keadaan sakit, masih ada yang peduli, dan menemani, setelah janda tidak ada yang bisa di harapkan untuk mengurus nya, karena anak pun masih kecil, selain itu apabila ada pesta, tidak ada lagi yang menemani saat pergi ke pesta, semuanya serba sendirian. Namun semakin lama bu Lia sudah semakin mandiri, banyak pelajaran yang didapatkan semenjak hidup menjanda, dan segala masalah yang di hadapi selama hidup dijadikannya sebagai motivasi untuk lebih kuat untuk mengurus keluarga kedepannya.
4.2.3. Informan III Nama : M Usia : 46
Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Pekerjaan : Buruh Pendidikan : SD
Alamat : Dusun II Kampung Jawa Suku : Jawa
Ibu Mia merupakan janda yang ditinggal meninggal oleh suaminya saat berusia 41 tahun, dalam arti sudah menyandang status janda selama 5 tahun. Ibu Mia memiliki dua anak, yang pertama laki-laki sedang bekerja sambil kuliah disalah satu kampus di Medan, anak yang kedua perempuan baru tamat SMA. Berdasarkan tutur kata ibu Mia, saat pertama kali merasakan status sebagai janda, ibu Mia merasa sangat sedih dan
hancur. Namun, hubungan dengan anak tetap baik dan saling menyayangi. Hanya saja hubungan dengan keluarga pihak suami sangat tidak baik, karena ibu Mia dan anak- anak di usir dari rumah mertua nya. Pada saat hidup bersama suami pun, suami ibu Mia lebih memihak kepada ibu mertua.
Selama hidup menjanda, ibu Mia pindah dari rumah mertua dan tinggal disalah satu rumah kosong yang kebetulan di zinkan oleh orang yang memiliki rumah tersebut untuk ditempat tinggali. Dengan keadaan seperti itu, tidak ada harapan bagi ibu Mia untuk mendapatkan bantuan dari keluarga pihak suami, untuk perhatian kepada cucu nya pun sama sekali tidak ada, karena mereka sendiri sudah di usir dari rumah mertua.
Selama pisah dari rumah mertua ibu Mia merasa sangat terpukul, ternyata seorang janda itu sangat menyedihkan, harus menjadi seorang ibu sekaligus ayah, mulai dari mengurus anak, mencari nafkah serba sendirian, bahkan hal yang sulit dirasakan ibu Mia pernah mengalami jatuh sakit, sementara tidak ada pemasukan uang, berbeda dengan semasa ada suami, masih ada suami dan ladang sawit untuk memenuhi kebutuhan keluarga, namun sekarang semakin hancur karena lading sawit sudah direbut mertua, dan suami pn tidak ada, yang dapat dilakukan ibu Mia agar memiliki uang untuk pengobatan, terpaksa berhutang, dan kalau sudah sembuh kembali lah nanti bekerja dan perlahan-lahan utang dibayar.
Dalam kehidupan sehari-hari, ibu Mia bekerja sebagai buruh di kebun sawit orang, dan pada saat hari minggu ibu Mia berjualan es cendol, aneka jus, dan gorengan di salah satu pasar yang ada di desa Jawabaru. Meskipun demikian dengan statusnya janda, tidak sedikit cibiran dari orang karena status jandanya tersebut, ada sebagian orang yang beranggapan ibu Mia janda yang genit, suka berdandan supaya banyak laki-
laki yang tergoda, ibu Mia sempat merasa sangat terhina, dan ingin pindah dari desa Jawabaru, namun ada juga beberapa masyarakat yang membela agar tetap di desa jawabaru. Karena bagi ibu Mia tidak ada sesuatu yang dilakukan yang membuat masyarakat menjadi tidak nyaman, kalau karena hanya berdandan tidak ada salahnya, semua orang berhak, selagi tidak melanggar tidak masalah baginya. Namun selama menjanda banyak godaan laki-laki yang ingin menikahi nya, tetapi ibu Mia menolak semua nya, bagi ibu Mia lebih baik menjanda, karena berdasarkan pengalaman nya saat memiliki suami, ibu Mia sendiri merasa trauma dengan laki-laki, sehingga lebih memilih bertahan sebagai janda, meskipun perekonomian setelah janda menjadi menurun, bukanlah alasan untuk menikah lagi, ibu Mia memilih untuk tetap bertahan, dan dalam hal menikah atau tidak menikah lagi tidak ada ikut campur dari anak, semuanya berdasarkan keputusan ibu Mia sendiri, yang penting anak di sekolah kan semampu nya, dan didik dengan baik. Melihat kehidupan ibu Mia sekarang sudah jauh lebih baik, meskipun tanpa suami yang biasanya masih dapat perhatian dari nya ibu Mia tetap semangat bersama anak-anak nya, hingga mereka sudah memiliki rumah karena bantuan dari anak pertamanya sudah bekerja, dan baiknya juga mau membantu orang tua.
4.2.4. Informan IV Nama : HS Usia : 48
Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Kristen Protestan Pekerjaan : Petani
Pendidikan : SMP
Alamat : Dusun IV Ganjangan Suku : Batak Toba
Ibu HS yang akrab di sapa dengan ibu Melfi merupakan seorang janda yang di tinggal meninggal suami pada tahun 2000, artinya sudah menjadi janda selama 20 tahun. Bu Melfi ini memiliki 2 anak, yang pertama perempuan telah menyelesaikan pendidikannya terakhir di bangku SMA dan telah bekerja di Malaysia, sedangkan anak kedua sedang kuliah di salah satu universitas di Pematang Siantar. Berdasarkan tutur kata ibu Melfi, saat pertama kali merasakan kehilangan suami adalah hal paling sedih, kesepian, seperti tidak berdaya karena merasa sebagian dari hidupnya hilang. Banyak perubahan yang terjadi pada keluarganya setelah tidak ada suami, yang terutama perekonomian semakin merosot, beban hidup semakin banyak karena setelah menjadi janda hanya serang diri yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak. Ibu Melfi yang bekerja sebagai buruh di ladang orang, merasa sangat terpukul, karena anak-anak yang masih kecil, untuk di tinggal pada saat ingin pergi bekerja pun sangat susah, selalu menangis dan dengan terpaksa dititipkan pada tetangga agar bisa pergi bekerja. Dengan keadaan seperti itu, ibu Melfi memiliki harapan yang sangat besar