• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Kebijakan Dalam Pelaksanakan Pemeliharaan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Implementasi Kebijakan Dalam Pelaksanakan Pemeliharaan

1. Pendanaan

Pada tahun 2013, pemerintah mengeluarkan kebijakan anggaran untuk Desa Potokullin dalam perbaikan infrastruktur jalan. Berikut ini adalah data penganggaran untuk pembangunan jalan wilayah Kecamatan Buntu Batu, tahun

35

2013. Pendanaan ini akan selalu berlangsung sesuai dengan program kerja dari Bupati Enrekang selama priode kepemimpinanya, hal ini disampaikan pada saat pencalonan pemimpin daerah. Untuk mengetahui dengan persis sistem dalam pembagian anggaran tahunan untuk perbaikan dan pemeliharaan jalan di Desa Potokullin, pada tabel dibawah ini merupakan kakulasi dari pembagian anggaran poemeliharaan jalan.

Tabel 5 Kegiatan Pemeliharaan Jalan Desa Potokullin Berdasarkan Jenis Pekerjaan Dan Volume, Tahun Anggaran 2013.

No. Jenis Pekerjaan Volume Jumlah Anggaran

1. Pengerasa/Pengecoran

Sumber: Dinas Pekerja Umum Kabupaten Enrekang, tahun 2014.

Pada tabel di atas, merupakan hasil dari peneliti yang diolah kembali dan menjelaskan tentang jumlah anggaran yang digunakan berdasarkan jenis pekerjaannya serta jumlah pajak yang harus di bayar.

Pada tabel dibawa ini merupakan rekapitulasi anggaran untuk perbaikan jalan untuk wilayah Desa Potokullin Kecamatan Buntu Batu. Menjelaskan sedikit tentang proses dan pembagian anggaran secara terperinci dalam pengimplemntasian kebijakan, hal ini pula menjadi barang bukti apabila suatu saat nanti masyarakat melakukan gugatan tentang ketidak sesuaian penggunaan anggaran dengan apa yang sudah direncanakan berdasarkan data dari Dinas Pekerja Umum dengan hasil sebenarnya.

36

Tabel 6 Mekanisme Penganggaran Untuk Perbaikan Jalan di Desa Potokullin Kec.Buntu Batu.

No.Divisi Uraian Pekerjaan

1 Divisi 1. Umum 8.600.000,00

2 Divisi 2. Drainase 6.559.593,89

3 Divisi 3. Pekerjaan Tanah 6.064.985,94

5 Divisi 5. Perkerasan Berbutir 99.763.212,92

7 Divisi 7. Struktur 333.557.875,74

Jumlah Harga Pekerjaan (Termasuk Biaya Umum Dan Keuntungan) 454.545.668,49 Pajak Pertambahan Nilai (PPN) = 10% X (A) 45.454.566,49 Jumlah Total Harga Pekerjaan = (A) + (B) 500.000.235,34

Dibulatkan 500.000.000,00

Terbilang:

Lima Ratus Juta Rupiah

Sumber: Dinas Pekerja Umum Kabupaten Enrekang, Tahun 2014.

Pada gambaran tabel diatas, menjelaskan tentang mekanisme penganggaran senilai Rp. 500.000.235,00 untuk anggaran sesungguhnya yang kemudian dibulatkan menjadi Rp. 5.000.000.000.00 untuk pembangunan/perbaikan infrastruktur di Desa Potokullin, mulai dari pembagian anggaran sampai pada tahap pekerjaan. Jadi, disinih sudah jelas berapa jumlah anggaran yang digunakan dalam perbaikan jalan tersebut dan kemudian penggunaan anggaran secara sistematika, makan celah untuk bertindak melakukan sesuatu yang bersifat mengambil kesempatan untuk keuntungan secara pribadi, akan mengalami kesulitan bahkan tidak akan terjadi.

Hal ini diperjelas oleh salah seorang staf Pekerja Umum Kabupaten Enrekang di bagian Pembangunan, beliau mengatakan:

“Pengadaan anggarannya juga sudah dibagi-bagi sesuai dengan fungsi dan tujuanya, cuma waktu itu belum bisa dipastikan siapa yang mau bertanggung jawab untuk para pekerja nantinya karna itu PU sebagai

37

implementator anggaran ini, turun langsung kelapangan untuk menghendel pekerja perbaikan jalan itu” (Hasil wawancara SN 5 Oktober 2014).

Artinya, penghendelan pelaksanaan implementasi perbaikan jalan ini, dilakukan oleh Dinas PU karena yang mengetahua secara teknis pembagian anggaran ini adalah implementator itu sendiri. Anggaran yang sudah ditetapkan pemerintah Kabupaten Enrekang untuk perbaikan infrastruktur jalan ini, mulai dari pengeluaran anggaran terkecil sampai pengeluaran anggaran terbesar, itu sudah diatur oleh Dinas Pekerja Umum secara terperinci berdasarkan hasil keputusan anggaran dari pemerintah.

Sesuai denga observasi atau peninjauwan lokasi secara langsung oleh peneliti sendiri mendapatkan bukti bahwa:

1. Infrastruktur jalan Desa Potokullin yang merupakan objek sasaran kebijakan anggaran, terlaksana sesuai dengan rancangan anggaran yang sudah ditabelkan oleh Dinas Pekerjaan Umum.

2. Drainase yang tercamtum dalam tebel anggaran tidak terlaksanakan.

3. Pemerataan tanah belum terlaksana 2. Pelaksanaan

Proses perencanaan program pembangunan yang dimulai dari tingkat desa, dan kabupaten dilakukan pembahasan oleh tim Panitia Anggaran Eksekutif.

Proses kerja tim ini melakukan penelitian terhadap persyarataan usulan program seperti RENSTRA (Rencana Strategis), RKPD (Rencana Kegiatan Perangkat Daerah) dan sekala prioritas. Pada tahapan berikutnya hasil rangkuman tim anggaran diklarifikasi kembali kepada instansi pengusul, berdasarkan hasil rapat panitia anggaran akan menjadi usulan Pemerintah Kabupaten Enrekang untuk

38

dilakukan pembahasan pada Tim Anggaran Legislatif atau DPRD Kabupaten Enrekang. Dalam pembahasan oleh pihak DPRD sering terjadi perubahan usulan yang tidak mengikuti prosedural perencanaan pembangunan sebagai konsekwensi atas aspirasi masyarakat, keadilan/pemerataan pembangunan. Dengan melalui proses yang cukup panjang dan membutuhkan waktu yang cukup lama dari mulai awal hingga persetujuan DPRD Kabupaten Enrekang, selanjutnya dimulai proses pelelangan yang membutuhkan waktu paling cepat 2 (dua bulan) hingga pelaksanaan kegiatan. Berdasarkan tahun anggaran berjalan perencanaan program dilakukan untuk rencana penanganan tahun berikutnya, proses program usulan diawali dengan identifkasi ruas-ruas jalan yang akan dilakukan penanganan pemeliharaan jalan dengan memperhatikan catatan atau laporan tentang tingkat kerusakan jalan pada ruas-ruas jalan kabupaten secara umum. Selanjutnya dilakukan survei, investigasi, pengukuran serta data lainnya yang terkait.

Perencanaan teknis selalu dilaksanakan oleh Dinas PU Kabupaten Enrekang baik survei lapangan maupun pelaksanaan perhitungan teknis analisis sampai kepada perhitungan rencana anggaran biaya. Dokumen perencanaan teknis ini dijadikan dasar untuk memenuhi kriteria format Program Pembangunan Daerah Tahunan, selanjutnya disebut RASK (Rencana Anggaran Satuan Kerja), setelah pembahasan RASK pada Tim Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) tingkat Kabupaten, dalam kegiatan ini akan ditentukan estimasi besaran alokasi pembiayaan pemeliharaan jalan dan termasuk sekala prioritas, disandingkan dengan alat kontrol atau dokumen lain perencanaan daerah berupa RKPD (Rencana Kegiatan Perangkat Daerah).

39

Hasil rapat dan Dokumen RKPD menjadi patokan bagi Panitia Anggaran Eksekutif dalam menilai kelayakan dan prioritas kegiatan dalam pelaksanaan pembangunan daerah. Hasil kerja Panitia Anggaran Eksekutif akan menjadi dokumen usulan RAPBD tahun berjalan, bersama Panitia Anggaran Legislatif melakukan pembahasan intensif sehinggga menghasilkan Rancangan APBD selanjutnya untuk disyahkan menjadi Peraturan Daerah Kabupaten Enrekang sebagai pedoman dalam pelaksananaan APBD Kabupaten Enrekang. Masing-masing perangkat daerah termasuk Dinas PU Kabupaten Enrekang mempersiapkan (DASK) Daftar Anggaran Satuan Kerja salah satunya adalah DASK Pemeliharaan Jalan Kabupaten, selanjutnya bersamaan dengan pembentukan organisasi pelaksana kegiatan dan kepanitiaan dalam rangka pelaksanaan pelelangan, kemudian dilakukan pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan jalan.

Infrastruktur jaringan jalan di Indonesia merupakan prasarana transportasi darat yang dominan (90% angkutan barang menggunakan moda jalan dan 95%

angkutan penumpang menggunakan moda jalan) dan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam mendukung kegiatan ekonomi, social, budaya, pembangunan, serta pertahanan dan keamana, sehingga harus dipertahankan fungsinya dengan baik melalui system perbaikan yang baik pula. Terbukti betapa besar peran jalan selama ini dalam mendukung mobilitas, distribusi penumpang, barang dan jasa. Peran jalan yang sangat penting membawa implikasi bagi upaya dan kerja keras pemerintah dalam mewujudkan penyelenggaraan infrastruktur jalan yang berkualitas bagi masyarakat. Salah satu upaya yang ditempuh adalah

40

melalui penyediaan anggaran pembangunan jalan setiap tahun untuk kegiatan pemeliharaan, peningkatan dan pembangunan jalan baru yang merupakan tanggung jawab pemerintah atau pemerintah daerah, sebagaimana diamanatkan dalam UU LLAJ No.22 Tahun 2009.

Berdasarkan UU No.39 Tahun 2004 menjelaskan tentang jalan maka pemerintah memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan jalan nasional, meliputi pengaturan, pembinaan, pembangunan, dan pengawasan. Hal ini diperkuat dengan tanggapan salah satu informan yaitu sekretaris BAPPEDA Kab.Enrekang mengatakan:

“Memang dalam pelaksanaan kebijakan itu, seperti Desa Potokullin yang merupakan sasaran kebijakan anggaran dari pemerintah kabupaten, ada tiga tanggung jawab yang perlu diperhatikan didalamnya saat itu, antara lain: yang pertama dek, Perencanaan secara teknis, pemprograman, penganggaran, pengadaan lahan, dan pelaksanaan kontruksi jalan. Yang kedua, pengoperasian dan pemeliharaan jalan. Yang ketiga, pengembangan dan pengelolaan system manajemen jalan, dan yang terakhir itu pasti ada pengaturan pengguna anggaranya, pembinaan untuk implementator, dan pengawasan itu sudah jelas ada” (Hasil wawancara IA 3 Oktober 2014).

Apa yang dikatakan beliau diatas merupakan suatu mekanisme yang

sepatutnya harus dijalankan karena sesuai dengan kerangka pikir yang tercantum dalam proposal tentang suatu pola kebijakan dalam pemeliharaan infrastruktur memiliki tiga hal yang penting dalam pengimplementasian kebijakan, diantaranya perencanaan, pendanaan, pelaksanaan, dan pengawasan, sehingga dengan adanya ini maka tercapainya tujuan suatu kebijakan itu sendiri.

Pengimplementasian kebijakan anggaran untuk infrastruktur jalan di Desa Potokullin, pada bulan september 2013 perbaikan jalan sudah terlaksana dari anggaran tahunan perbaikan Infrastruktur jalan 2013, dimana panjang jarak yang

41

di beton itu sepanjang 3 km dengan angaran dari pemerintah daerah 500 juta yang disetujui oleh DPRD dan Bupati Enrekang, hal ini yang seperti dibicarakan oleh salah seorang kepala dusun Desa Langae yang terjun langsung ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan ini, mengatakan:

“Alhamdulillah, jalan ini bisa juga dicor walau itu cuma 3 km dan pelaksanaanya dibantu oleh masyarakat setempat,adami tokoh masyarakat, adami juga kepala dusun dan juga masyarakat yang tinggal disekitar disinih, kemudian untuk anggaranya itu yaaa… 500 juta tapi hanya untuk pengecoran saja, tidak ada drainase dibuatkan” (Hasil wawancara NR 10 Oktober 2014).

Artinya bahwa, masyarakat yang berada di desa tersebut sangat bersyukur ketika jalan yang mereka anggab dulunya tidak layak untuk dilewati kendaraan akhirnya bisa diperbaiki, walau perbaikanya itu secara bertahap dan sesuai dengan jumlah anggaran tahunan yang ada. Dari apa yang dikatakan pak kadus tentang perbaikan jalan ini, mengenai drinase yang tak terlaksana dijelaskan alasanya oleh Kepala Camat Buntu Batu, beliau mengatakan bahwa:

“pada saat perbaikan jalan dari Desa Belalang sampai Desa Langae, tidak dibuatkan drainase karena ada hambatan, hambatanya itu, tentang keadaan tempat jalan itu sendiri yang berada di bebatuan, diatas tepi jurang. Jadi, penggalian drainasenya itu sangat susah dan memakan waktu yang sangat lama, pastinya akan menghambat jalanya perbaikan jalan kesana” (Hasil Wawancara SP 12 Oktober 2014).

Menurut observasi peneliti sendiri, apa yang dikatakan beliau diatas, memang benar dan tidak bisa dipungkiri karena letak geografis desa itu sendiri berada dipegunungan, apa lagi memilki curah hujan yang tinggi dan keadaan iklim berkisar antara 20ºC-30ºC. Hambatan yang ada pada desa itu menjadikan kebijakan anggaran dari pemerintah daerah tidak tepat sasaran dikarnakan faktor keadaan jalan seperti yang diungkapkan Kepala Dusun diatas.

42

3. Pengawasan

Keluarnya UU 22/2009 tentang lalulintas dan angkutan jalan yang didalamnya mengatur tentang dana perservasi jalan telah memberikan payung hukum yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menghimpun dana pemeliharaan, rehabilitasi, dan rekantruksi jalan yang memadai, stabil, dan dapat diprediksi. Tindak lanjut yang diperlukan adalah bagaimana mendorong timbulnya pemeikiran untuk menciptakan alternatif pengelolaan jalan yang dapat mengatasi kompleksitas masalah institusi, menciptakan sumber pembiayaan yang memadai dan dapat diprediksi, serta sekaligus tidak melanggar ketentuan perundangan yang berlaku.

Pada pengawasan implementasi perbaikan jalan ini di Desa Potokullin dilakukan oleh utusan pemerintah Kab.Enrekang. Hal ini diungkapkan oleh implementator dimana pernyataanya beliau mengatakan:

“Dalam pengawasan perbaikan jalan disaat itu, ada memang tim khusus yang di utus dalam mengontrol pelaksanaan yaitu, tim panitian anggaran, ada juga yang menghendel proyek itu sendiri sebagai pengawas dan kepala Desa Potokullin beserta kepala Dusun Langae” (Hasil Wawancara SN 5 Oktober 2014).

Pada hasil wawancara diatas, menjelaskan tentang pengontrolan pengawas khusus untuk perbaikan jalan di Desa Potokullin dimana didalamnya terdiri dari tim panitia anggaran, orang yang menghendel proyek itu, dan kepala desa beserta para kepala dusun.

Untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di Indonesia, pemerintah mencanangkan empat pilar utama Program Percepatan Pembangunan Infrastruktur

43

Indonesia yang diluncurkan bersamaan dengan digelarnya Infrastructure Summit 2005. Keempat pilar utama tersebut meliputi:

1. Pilar pertama adalah reformasi peraturan perundangan. Reformasi ini bertujuan untuk membuka peluang swasta secara langsung dalam pembangunan infrastruktur. Undang- Undang Pelayaran, Undang-Undang Penerbangan, dan Undang-Undang Perkeretaapian dan semua turunannya direvisi sehingga membuka kemungkinan tidak hanya swasta tetapi juga masyarakat dan pemerintah daerah dapat ikut serta dalam pembangunan infrastruktur.

2. Pilar kedua adalah penyusunan daftar proyek yang akan dipercepat pembangunannya, baik yang dibiayai oleh APBN maupun oleh skema KPS.

Untuk proyek KPS, disusun KPS Book yang berisi informasi terkait proyek yang akan ditawarkan kepada pihak swasta. Beberapa proyek dipilih menjadi model proyek yang diharapkan dapat menjadi acuan proyek-proyek sejenis.

Selain itu juga disusun kerangka pengelolaan risiko yang memberikan jenis penjaminan yang sesuai dalam pembangunan infrastruktur.

3. Pilar ketiga adalah pembentukan forum komunikasi yang erat antar pemangku kepentingan. Forum ini adalah gagasan awal terbentuknya Indonesia Infrastructure Forum yang menjadi wadah diskusi para pemangku kepentingan bidang infrastruktur, terutama dari unsur pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil. Forum ini mengadakan pertemuan reguler dengan tujuan menjembatani informasi, interaksi, dan pewujudan aksi bersama untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di Indonesia. Forum ini sedianya merupakan organisasi komplementer Komite Kebijakan Percepatan

44

Pembangunan Infrastruktur (KPPI) yang beranggotakan para menteri dan kepala lembaga terkait.

4. Pilar keempat adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan institusi.

Pada beberapa kementerian, dilahirkan badan pengatur sektor yang berfungsi sebagai regulator bagi sektor terkait. Sebagai contoh adalah di bidang jalan tol, yang diatur oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), dan di bidang air minum, dengan dibentuknya Badan Pengatur Sistem Penyediaan Air Minum.

Dari ke empat pilar ini menjadikan bahan acuan Kabupaten Enrekang untuk bisa melakukan percepatan pembangunan disektor Infrastruktur jalan. Hal ini didukung oleh seorang Sekretaris dari BAPPEDA Kab.Enrekang mengumukakan pernyataan singkatnya:

“Semua kabupaten yang di Indonesia pasti yang menjadikan landasa utama untuk melakukan pembangunan infrastruktur jalan yaitu UU tentang jalan dan kebijakan dari Pemerintah Daerah” (Hasil Wawancara IA 3 Oktober 2014).

Artinya, semua hal yang menyangkut masalah program kerja di Indonesia itu sudah diatur dalam UUD atau peraturan pemerintah atau peraturan presiden.

Landasa utama dalam mengimplementasikan sebuah kebijakan karena memang berawal dari peraturan baik peraturan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

C. Faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan pemerintah dalam

Dokumen terkait