Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Setiadi, 2008 : 66).
Dalam melakukan implementasi kepada kelurga Tn S penulis berpedoman pada intervensi yang telah disusun sesuai intervensi yang
telah direncanakan meliputi, menjelaskan pengertian gout atau asam urat, menjelaskan tanda gejala gout, menjelaskan penyebab gout, dan mengajarkan cara membuat rebusan daun sirsak.
Pada langkah implementasi penulis tidak mengalami hambatan atau kesulitan karena didukung keluarga Tn. S yang koperatif dan mau diajak bekerja sama, sehingga pendidikan kesehatan yang diberikan dapat dipahami oleh keluarga.
E. Evaluasi
Evaluasi merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi adalah untuk melihat kemampuan keluarga dalam mencapai tujuan (Setiadi, 2008 : 69).
Evaluasi penulis lakukan setiap selesai melakukan implementasi selama tiga kali. Evaluasi pada hari Kamis, tanggal 10 April 2014 didapatkan respon subjektif yaitu Ny. S mengatakan gout/asam urat adalah tingginya kadar asam urat dalam darah, tanda gejala gout adalah nyeri pada jempol kaki, nyeri lutut, dan demam, keluarga mengatakan penyebab gout adalah makan tinggi purin, serta keluarga mengatakan sudah mengerti cara membuat rebusan daun sirsak. Respon objektif pasien yaitu tampak memegangi lutut, keluarga tampak memperhatikan penjelasan tentang gout, dan keluarga bisa menjawab sebagian dari pertanyaan yang diberikan. Analisa yang dapat diambil pada masalah
pemeliharaan kesehatan tidak efektif b.d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah belum teratasi. Planning yang dapat dibuat adalah intervensi dilanjutkan, jelaskan kembali pengertian gout, tanda gejala
gout, penyebab gout, komplikasi gout, dan anjurkan untuk membuat obat
tradisional dari rebusan daun sirsak.
Evaluasi hari ke dua pada hari Jumat, tanggal 11 April 2014 didapatkan respon subjektif keluarga yaitu Ny. S mengatakan gout adalah penyakit tinggi asam urat dalam darah, mengatakan tanda gejala
gout adalah nyeri lutut, tungkai kaki, jempol kaki disertai panas dan
warna kulit yang nyeri agak mengkilat. Keluarga mengatakan penyebab
gout adalah makanan tinggi purin, keluarga juga mengatakan sudah
membuat rebusan daun sirsak dan Ny. S sudah rutin meminumnya. Respon objektifnya adalah Ny. S tampak menahan sakit, tampak memegangi lututnya. Keluarga tampak memperhatikan penjelasan yang diberikan, seta ada siasa rebusan daun sirsak. Analisa yang dapat diambil pada masalah pemeliharaan kesehatan tidak efektif b.d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah belum teratasi. Planning yang dapat dibuat adalah intervensi dilanjutkan, jelaskan kembali tentang pengertian gout, tanda gejala gout, penyebab gout, komplikasi gout, serta anjurkan rutin meminum rebusan daun sirsak.
Untuk evaluasi hari ketiga pada hari Sabtu, tanggal 12 April 2014 didapatkan respon subjektif yaitu keluarga mengatakan gout adalah penyakit tinggi asam urat dalam darah. Keluarga mengatakan tanda
gejala gout adalah nyeri lutut, tungkai, jempol kaki yang disertai panas dan warna kulit yang nyeri agak merah. Keluarga mengatakan penyebab gout adalah makanan tinggi purin, serta keluarga mengatakan sudah membuat rebusan daun sirsak dan Ny.S sudah rutin meminumnya. Untuk respon objektifnya yaitu Ny. S tampak menahan sakit, tampak berhati-hati bila berjalan. Keluarga tampak memperberhati-hatikan penjelasan tentang
gout. Analisa yang dapat diambil pada masalah pemeliharaan kesehatan
tidak efektif b.d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah belum teratasi. Planningnya yaitu lanjutkan intervensi, anjurkan rutin membuat dan meminum rebusan daun sirsak.
Sesuai jurnal penelitian Wirahmadi (2013), pemberian rebusan daun sirsak pada penderita nyeri gout selama 7 hari efektif, responden mengatakan merasa lebih nyaman dan sakit yang dirasakan berkurang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa senyawa tannin, resin,
crytallizable dari daun sirsak dapat meredakan nyeri gout. Pemberian
rebusan daun sirsak dilakukan selam tujuh hari dikarenakan terapi komplementer akan terlihat hasilnya jika diberikan dalam waktu tujuh hari.
Karena keterbatasan waktu yang hanya selama tiga hari pada saat pengelolaan pasien, maka pemberian rebusan daun sirsak pada pasien hasilnya tidak efektif, didapatkan data sebelum diberikan rebusan daun sirsak skala nyeri tujuh, dan setelah diberikan rebusan daun sirsak skala nyeri masih tetap tujuh. Sedangkan dalam jurnal Wirahmadi (2013),
keefektifan rebusan daun sirsak dalam mengurangi nyeri adalah selama tujuh hari.
70
Berdasarkan keseluruhan proses “Pemberian Pendidikan Kesehatan Rebusan Daun Sirsak pada Asuhan Keperawatan Keluarga TN. S dengan Gout di Desa Tuban Lor, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar” pada tanggal 09 sampai 12 April 2014 , maka dapat diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut:
A. Simpulan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan keluarga pada keluarga Tn. S tanggal 09 sampai 12 April 2014 penulis dapat membuat kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari pengkajian yang telah dilakukan pada Ny. S dengan nyeri gout pada keluarga Tn. S di Desa Tuban Lor Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar, ditemukan data Ny. S mengatakan nyeri lutut seperti ditusuk-tusuk, nyeri timbul saat pagi hari ketika bangun tidur dan saat beraktifitas dengan skala nyeri 7. Ny. S mengatakan sudah dua bulan merasakan nyeri dan saat diperiksakan pada tanggal 09 April 2014 nilai asam uratnya 8,1 mg/dl. Ny S juga mengatakan belum paham tentang penyakit gout atau asam urat, tanda gejala, penyebab, dan obat tradisionalnya. Hal ini terdapat kesesuaian antara kasus dengan teori. 2. Pada penegakan diagnosa keperawatan keluarga dapat ditegakkan dua
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan dan kerusakan pemeliharaan rumah berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan. Data-data saat pengkajian menujukkan bahwa masalah keperawatan pemeliharaan kesehatan tidak efektif adalah masalah aktual dan harus segera diatasi. 3. Pada intervensi asuhan keperawatan keluarga pada keluaraga Tn. S semua
intervensi untuk dua diagnosa keperawatan tertulis dalam pendokumentasian.
4. Pada implementasi keperawatan keluarga pada keluarga Tn. S terutama Ny. S saat melakukan implementasi tidak mengalami hambatan, karena keluarga antusias dan kooperatif saat penulis melaksanakan pengkajian, intervensi, dan implementasi.
5. Pada evaluasi keperawatan keluarga pada keluarga Tn. S pada diagnosa yang pertama masalah belum teratasi karena Ny. S mengatakan nyeri pada lutut belum berkurang, dan keluarga juga mengatakan sudah mengerti tentang penyakit gout, serta akan rutin membuat rebusan daun sirsak. Pada diagnosa yang kedua masalah juga teratasi, karena keluarga mengatakan sudah mengetahui pentingnya kebersihan rumah, dan keluarga juga mengatakan akan rutin membersihkan rumahnya, serta rumah keluarga Tn. S sudah nampak bersih dan tidak berantakan lagi.
B. Saran
Dari kesimpulan yang telah disebutkan di atas ada beberapa hal yang perlu diperhatikan demi tercapainya asuhan keperawatan keluarga pada keluarga Tn. S pada tanggal 09 - 12 April 2014 antara lain:
1. Perawat Komunitas :
a. Dengan melihat adanya perbedaan antara kasus nyata dengan teori pada keluarga Ny. S, perawat diharapkan lebih teliti dalam mengkaji dan menegakan diagnosa sehingga intervensi dan implementasi dapat diberikan kepada keluarga supaya kesehatan keluarga menjadi meningkat.
b. Perawat harus tetap mempertahankan hubungan baik dengan keluarga untuk mendapatkan hasil optimal saat mengelola kasus keluarga yang terdapat pada kasus tersebut.
c. Perawat harus rutin mengontrol kesehatan keluarga untuk mengetahui apakah implementasi yang diberikan kepada keluarga tetap dilaksanakan dengan baik meskipun perawat sudah tidak mengelola kasus tersebut.
2. Keluarga :
Keluarga harus rutin membuat rebusan daun sirsak agar dapat mengurangi nyeri yang timbul karena gout, dan rutin memeriksakan kesehatan agar mengetahui ada masalah tidak dengan kesehatannya.
EGC. Jakarta
Hermawati, Asri. 2008. Khasiat Ajaib Daun Sirsak. Padi. Malang
Misnadiarly. 2007. Rematik : Asam Urat, Hiperurisemia, Arthtritis Gout. Edisi 1. Pustaka Obor Populer. Jakarta
Muttaqin, Arif. 2012. Buku Saku Gangguan Muskuluskeletal : Aplikasi
Keperawatan. EGC. Jakarta
Nursalam. 2009. Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktik. Salemba Medika. Jakarta
Price, Sylvia Anderson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Edisi 6. EGC. Jakarta
Setiadi. 2008. Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Graha Ilmu. Yogyakarta
Smelzter, Suzanne C. dan Bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner dan Suddarth. EGC. Jakarta
Suprajitno. 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga. EGC. Jakarta
Suranto, Adji. 2011. Dahsyatnya Sirsak Tumpas Penyakit. Pustaka Bunda. Jakarta Utami, Prapti. 2004. Terapi Jus untuk Rematik dan Asam Urat. Agromedia
Pustaka. Jakarta
Wilkinson, Judith. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 7. EGC. Jakarta
Wirahmadi, Komang. 2013. Pengaruh Pemberian Rebusan Daun Sirsak Terhadap Nyeri Pada Penderita Gout Di Kelurahan Genuk Barat Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang.