• Tidak ada hasil yang ditemukan

NOVIANTY HENI PRIATNA NIM. P11 099

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NOVIANTY HENI PRIATNA NIM. P11 099"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

i

KABUPATEN KARANGANYAR

Karya Tulis Ilmiah

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

Dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan

DI SUSUN OLEH:

NOVIANTY HENI PRIATNA

NIM. P11 099

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA

SURAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

v

berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat meneyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN REBUSAN DAUN SIRSAK PADA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. S DENGAN GOUT DI DESA TUBAN LOR KECAMATAN GONDANG REJO KABUPATEN KARANGANYAR.”

Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat :

1. Atiek Murhayati, S.Kep.,Ns., M.Kep, selaku ketua Program Studi DIII Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk menimba ilmu di Stikes Kusuma Husada Surakarta.

2. Meri Oktariani, S.Kep.,Ns., M.Kep, selaku Sekretaris Ketua Program Studi DIII Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di Stikes Kusuma Husada Surakarta dan selaku dosen penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam membimbing serta memfasilitasi demi sempurnanya karya tulis ilmiah ini.

3. Diyah Ekarini, S.Kep., Ns, selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi,

(6)

vi

dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam membimbing serta memfasilitasi demi sempurnanya karya tulis ilmiah ini.

5. Semua dosen Program studi DIII Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta yang telah membimbing dengan sabar dan wawasannya serta ilmu yang bermanfaat.

6. Kedua orang tuaku, yang selalu menjadi inspirasi dan memberikan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.

7. Teman-teman Mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual.

Semoga laporan karya tulis ilmiah ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu keperawatan dan kesehatan. Amin.

Surakarta, Mei 2014

(7)
(8)
(9)
(10)
(11)

xi Lampiran 2 LOG BOOK

Lampiran 3 BERITA ACARA PENGOLAHAN ASUHAN KEPERAWATAN

Lampiran 4 LEMBAR KONSULTASI KARYA TULIS ILMIAH

Lampiran 5 ASUHAN KEPERAWATAN

(12)

1

A. Latar Belakang Masalah

Menurut Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesian No.23 Tahun 1992 seperti dikutip Asmadi (2008 : 28), sehat adalah keadaan sejahtera tubuh, jiwa, sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Penyakit asam urat atau gout merupakan penyakit sendi yang disebabkan karena adanya kandungan asam urat yang masuk dan tersimpan di dalam sendi. Masuknya asam urat ke dalam sendi terjadi apabila kadarnya melebihi batas normal. Sendi-sendi yang menjadi sasaran asam urat biasanya adalah sendi-sendi dingin seperti jempol jari kaki, pangkal jari-jari kaki, pergelangan kaki, terkadang sendi-sendi lain seperti lutut, tangan, siku, dan bahu (Asri dan Hermawati, 2013 : 43).

Kelebihan zat asam urat ini akhirnya menumpuk dan tertimbun pada persendian-persendian termasuk di ginjal dalam bentuk kristal-kristal, penumpukan kristal-kristal asam urat pada persendian inilah yang akhirnya menyebabkan persendian menjadi nyeri (Sandjaya, 2014 : 11). Menurut Misnadiarly (2007 : 17), tanda awal tubuh terkena gout adalah rasa nyeri mendadak di persendian dan pangkal ibu jari, warna merah, dan bengkak pada persendian yang disertai demam. Serangan ini dapat sembuh spontan dalam waktu 10-14 hari tanpa disertai terapi.

(13)

Menurut Susenas (2010) dalam jurnal Wirahmadi (2013), kejadian atau pravelansi gout di Amerika Serikat sangat tinggi, Berdasarkan data The

National Institutes Health ( NIH ) pada tahun 2002, jumlah penderita Gout Arthritis di Amerika Serikat mencapai 2,1 juta orang. Sedangkan di Indonesia

prevalensi gout menurut data di RSCM Jakarta bulan Januari-Maret 2008 tercatat 52 orang mengalami asam urat dalam kadar tinggi. Pada tahun 2010 prevalensi gout di kota Semarang mencapai 165.375 penderita, pada penderita laki-laki lebih banyak dibandingkan pada penderita perempuan dengan proposi puncaknya pada usia 50 tahun. Data di puskesmas kecamatan Gondangrejo, kabupaten Karanganyar pada bulan Januari - Maret 2014 terdapat 150 kasus gout (Puskesmas Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar).

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1998) seperti dikutip Setiadi (2008 : 2), mengemukakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan ketergantungan. Menurut Suprajitno (2004 : 17), sesuai dengan fungsi keluarga dalam pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, yaitu mengenal masalah kesehatan keluarga, memutuskan tindakan, merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan, memodifikasi lingkungan untuk menjamin kesehatan keluarga, dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga.

(14)

Menurut Anwar (1992) seperti dikutip dalam Effendy (2004 : 232), pendidikan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebar pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu, dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Menurut jurnal penelitian Wirahmadi (2013), rebusan daun sirsak dapat mengurangi nyeri pada penderita gout. Penelitian tersebut dilakukan pada tanggal 8 Januari 2013 samapi tanggal 14 Januari 2013 selama 1 minggu pada 40 responden, dimana terdapat 20 responden pada kelompok intervensi dan 20 responden pada kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diberikan rebusan daun sirsak selama 1 minggu terdapat adanya perubahan tingkat nyeri.

Dari data yang didapatkan penulis saat pengkajian, bahwa keluarga kurang mengenal masalah tentang gout, baik dari pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab, dan pengobatan tradisional untuk mengurangi nyeri pada gout. Maka penulis tertarik untuk menyusun karya tulis ilmiah dengan judul “ Pemberian Pendidikan Kesehatan Rebusan Daun Sirsak Pada Asuhan Keperawatan Keluarga TN. S Dengan Gout di Desa Tuban Lor, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar”.

B. Tujuan Penulisan

Terdiri atas 2 ( dua ) hal yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. 1. Tujuan Umum :

(15)

Melaporkan Pendidikan Kesehatan Rebusan Daun Sirsak Terhadap Ny. S Pada Asuhan Keperawatan Keluarga Tn. S Dengan Nyeri Gout Di Desa Tuban Lor, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

2. Tujuan Khusus :

a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada Ny. S dengan Gout pada keluarga Tn. S.

b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawaatn pada Ny. S dengan Gout pada keluarga Tn. S.

c. Penulis mampu melakukan rencana asuhan keperawatan pada Ny. S dengan Gout pada keluarga Tn. S.

d. Penulis mampu melakukan implementasi pada Ny. S dengan Gout pada keluarga Tn. S.

e. Penulis mampu melakukan evaluasi pada Ny. S dengan Gout pada keluarga Tn. S.

f. Penulis mampu menganalisa hasil pemberian rebusan daun sirsak pada Ny. S dengan nyeri Gout pada keluarga Tn. S.

C. Manfaat Penulisan

1. Bagi Penulis

Hasil penelitian ini dapat menambahkan pengalaman dan pengetahuan tentang karya tulis ilmiah.

2. Bagi Institusi

(16)

Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan penanganan pada pasien Gout.

b. Bagi Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat menjadikan tambahan ilmu bagi institusi keperawatan keluarga dan penangan khusus Gout.

3. Manfaat bagi masyarakat

Dapat memberikan informasi kepada masyarakat terhadap penatalaksanaan nyeri pada gout, serta meningkatkan rasa percaya masyarakat terhadap tenaga kesehatan.

(17)

6

Tinjauan teori merupakan acuan dasar terhadap proses asuhan keperawatan secara keseluruhan. Dalam bab ini penulis menguraikan tentang konsep tentang penyakit gout, konsep keluarga, konsep asuhan keperawatan keluarga, dan konsep pendidikan kesehatan rebusan daun sirsak.

A. Konsep Penyakit Gout 1. Pengertian Gout

Gout merupakan gangguan metabolik yang sudah dikenal oleh

Hipokrates pada zaman Yunani kuno. Gout merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolik, sekurang-kurangnya ada sembilan gangguan, yang ditandai oleh meningkatnya konsentrasi asam urat (hiperurisemia). Masalah akan timbul jika terbentuk kristal-kristal monosodium urat monohidrat pada sendi-sendi dan jaringan sekitarnya. Kristal-kristal berbentuk seperti jarum ini mengakibatkan reaksi peradangan yang jika berlanjut akan menimbulkan nyeri hebat (Price dan Wilson, 2006 : 1402).

Sedangkan menurut Sandjaya (2014 : 11), penyakit asam urat atau

gout adalah penyakit yang terjadi akibat kelebihan asam urat dalam darah

yang kemudian menumpuk dan tertimbun dalam bentuk kristal-kristal pada persendian. Penumpukan kristal-kristal asam urat pada persendian

(18)

inilah yang akhirnya menyebabkan persendian menjadi nyeri dan bengkak.

Kadar asam urat normal pada pria berkisar 3,5 - 7 mg/dl dan pada

perempuan 2,6 - 6 mg/dl, apabila melebihi batas disebut hiperurisemia (Sandjaya, 2014 : 27).

2. Etiologi Gout

Menurut Sandjaya (2014 : 20), terjadinya penyakit asam urat disebabkan oleh faktor primer dan faktor sekunder.

Faktor primer meliputi :

a. Genetik. Potensi genetik untuk seseorang berpotensi terkena penyakit asam urat adalah bersifat keturunan.

b. Ketidakseimbangan hormon. Tidak seimbangannya hormon bisa mempengaruhi proses pembentukan purin dalam tubuh menjadi meningkat yang pada akhirnya hasil sampingan metabolisme zat purin( zat asam urat) juga akan meningkat. Ketidakseimbangan hormon dipengaruhi oleh emosi, pola hidup, penumpukan racun, dan radikal bebas.

c. Proses pengeluaran asam urat terganggu di ginjal. Dalam kondisi normal zat asam urat dikeluarkan oleh tubuh melalui ginjal, namun pada penderita gout, asam urat tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal. Faktor sekunder meliputi :

a. Konsumsi makanan tinggi purin. Tingginya purin dalam darah tentu akan menaikkan zat asam urat.

(19)

b. Alkohol dan obat-obatan kimia. Alkohol juga mengandung purin, selain itu alkohol memicu pengeluaran cairan sehingga meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Alkohol juga menyebabkan pembuangan asam urat lewat urin terganggu sehingga asam urat tetap bertahan dalam darah.

3. Patofisiologi Gout

Hiperurisemia dapat menyebabkan penumpukan kristal monosodium urat. Peningkatan atau penurunan kadar asam urat secara mendadak adapat menyebabkan serangan gout. Apabila kristal urat mengendap dalam sebuah sendi, maka selanjutnya respon inflmasi akan terjadidan serangan gout pun dimulai. Apabila serangan terjadi berulang – ulang, mengakibatkan penumpukan kristal natrium urat yang dinamakan fotus akan mengendap dibagian perifer tubuh, seperti jari kaki, tangan, dan telinga.

Pada kristal monosodium urat yang ditemukan tersebut dengan imunoglobulin IgG. Selanjutnya imunoglobulin yang berupa IgG akan meningkat fagositosis kristal, dengan demikian akan memperlihatkan aktifitas imunologik (Smeltzer dan Bare, 2001 : 1402).

4. Tanda dan Gejala Gout

Gejala dari penyakit gout datang secara tiba-tiba dan tidak terduga. Gejala yang khas adalah nyeri di satu atau lebih sendi yang pada malam hari semakin terasa. Kadang-kadang persendian menjadi bengkak, kulit menjadi merah atau keunguan, dan tampak mengkilap. Gejala-gejala ini

(20)

pada akhirnya bisa mempengaruhi sendi disekitar ibu jari, telapak kaki, pergelangan kaki, lutut, siku, serta pergelangan tangan. Pada persendian tepi, seperti telinga, panggul, dan juga bahu biasanya akan terbentuk kristal. Gejala lain yang menyertai adalah demam, dingin, dan nadi cepat. Untuk gejala gout yang berat akan menyebabkan perubahan bentuk dibagian tubuh tertentu (Utami, 2007 : 7).

Menurut Sandjaya (2014 : 16), gejala dari penyakit asam urat sangat khas dan mempunyai tiga tahapan, yaitu :

a. Tanda asam urat tahap pertama atau tahap artritis gout akut.

Pada gejala asam urat tahap ini penderita akan mengalami serangan artritis yang khas, serangan tersebut akan menghilang tanpa pengobatan dalam 5-7 hari.

b. Tanda asam urat tahap kedua atau tahap artritis gout intermiten. Penderita akan mengalami serangan artritis atau peradangan yang khas. Selanjutnya penderita akan sering mendapat serangan yang jarak antara serangan yang satu dan serangan berikutnya makin lama makin rapat dan lama, serta jumlah sendi yang terserang semakin banyak..

c. Tanda asam urat tahap ketiga atau tahap artritis gout kronik berfotus. Tahap ini terjadi penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih, pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus ini berupa benjolan keras yang berisi serbuk seperti kapur yang

(21)

merupakan deposit dari kristal monosodium urat, tofus ini akan merusak sendi dan tulang disekitarnya.

5. Komplikasi Gout

Menurut Utami (2007 : 7), komplikasi dari gout adalah kerusakan ginjal atau gagal ginjal. Komplikasi potensial penyakit gout adalah nefropati, batu asam urat, dan gagal ginjal (Wilkinson, 2007 : 733).

6. Penatalaksanaan Gout

Menurut Muttaqin (2012 : 399), penatalaksanaan gout adalah : a. Analgesik untuk mengurangi nyeri

b. Antiinflamasi untuk menurunkan respon inflamasi

B. Konsep dasar keluarga 1. Pengertian Keluarga

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1998) seperti dikutip Setiadi (2008 : 2), mengemukakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan ketergantungan.

Menurut WHO (1969) dalam Setiadi (2008 : 2), keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi, atau perkawinan.

(22)

2. Fungsi Pokok Keluarga

Menurut Freadmen (1998) seperti dikutip dalam Setiadi (2008 : 7), secara umum fungsi keluarga adalah :

a. Fungsi afektif, adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain.

b. Fungsi sosialisasi, adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah.

c. Fungsi reproduksi, adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.

d. Fungsi ekonomi, adalah keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan indiuvidu dalam meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

e. Fungsi perawatan/pemeliharaan kesehatan, adalah fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi.

3. Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan

Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas dalam bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, meliputi :

(23)

Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung jawab keluarga. Maka apabila menyadari adanya perubahan perlu segera dicatat kapan terjadinya dan perubahan apa yang terjadi.

b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga

Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai keadaan keluarga. Jika keluarga mempunyai keterbatasan seyogyanya meminta bantuan orang lain di sekitar keluarga.

c. Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit

Perawatan ini dapat dilakukan di rumah, apabila keluarga memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama.

d. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan. e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan

lembaga kesehatan (pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).

4. Ciri-ciri Keluarga Indonesia

Menurut Setiadi (2008 : 4) ciri-ciri keluarga Indonesia adalah sebagai berikut :

a. Mempunyai ikatan yang sangat erat dengan dilandasi semangat gotong royong.

(24)

c. Umumnya dipimpin oleh suami meskipun proses pemutusan dilakukan secara musyawarah.

5. Tahap Perkembangan Keluarga

Menurut Duffal (1985) seperti dikutip Suprajitno (2004 : 4), tahap perkembangan keluarga yaitu :

a. Keluarga baru menikah

1) Membina hubungan intim yang memuaskan.

2) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial.

3) Mendiskusikan rencana memiliki anak. b. Keluarga dengan anak baru lahir

Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berumur 30 bulan. Tugas perkembangan antara lain :

1) Persiapan menjadi orang tua.

2) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga: peran, interaksi, hubungan seksual.

3) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan. c. Keluarga dengan anak usia pra sekolah

Tahap ini dimulai saat anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun.

1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman.

(25)

2) Membantu anak untuk bersosialisasi.

3) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara anak yang lain juga harus terpenuhi.

4) Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam maupun di luar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar).

5) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap paling repot).

6) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.

7) Kegiatan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang. d. Keluarga dengan anak usia sekolah

Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia 6 tahun dan berakhir pada usia 12 tahun.

1) Membantu sosialisasi anak : tetangga, sekolah dan lingkungan. 2) Mempertahankan keintiman pasangan.

3) Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga.

e. Keluarga dengan anak remaja

Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir sampai 6 – 7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah orang tuanya.

1) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan bertanggung jawab.

(26)

2) Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga. f. Keluarga mulai melepaskan anak sebagai dewasa

Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah. 1) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.

2) Mempertahankan keintiman pasangan.

3) Membantu orang tua suami / istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua.

4) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat. 5) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga. g. Keluarga usia pertengahan

Tahap ini dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal.

1) Mempertahankan kesehatan.

2) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak.

3) Meningkatkan keakraban pasangan. h. Keluarga usia lanjut

Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai saat salah satu pasangan pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal sampai keduanya meninggal.

1) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.

2) Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan pendapatan.

(27)

3) Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat. 4) Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat. 5) Melakukan “life review”.

C. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga

Keperawatan kesehatan keluarga adalah keperawatan kesehatan yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau satu kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuannya yang dilakukan oleh perawat profesional dengan proses keperawatan yang berpedoman pada standar praktek keperawatan. Sasaran asuhan keperawatan keluarga adalah keluarga-keluarga yang rawan kesehatan, yaitu keluarga-keluarga yang mempunyai masalah kesehatan atau yang berisiko terhadap timbulnya masalah kesehatan. Sasaran dalam keluarga yang dimaksud adalah individu sebagai anggota keluarga dan keluarga itu sendiri (Setiadi, 2008 : 27).

Menurut Suprajitno (2004 : 27), tujuan asuhan keperawatan keluarga adalah ditingkatkannya kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya secara mandiri. Proses asuhan keperawatan keluarga secara umum terdiri dari pengkajian, intervensi, dan implementasi serta evaluasi. Penulis akan menjelaskan satu persatu sebagai berikut :

1. Pengkajian

Menurut Suprajitno (2004 : 29), pengkajian adalah suatu tahapan ketika seorang perawat mengumpulkan informasi secara terus-menerus tentang keluarga yang dibinanya. Pengkajian merupakan tahap awal pelaksanaan

(28)

asuhan keperawatan keluarga. Pengumpulan data dari keluarga dapat menggunakan metode wawancara, observasi fasilitas rumah, dan pemeriksaan fisik pada setiap anggota keluarga. Dalam pengumpulan data yang perlu dikaji adalah :

a. Data Umum

1) Kepala keluarga. 2) Alamat keluarga. 3) Pekerjaan KK. 4) Pendidikan KK.

5) Komposisi keluarga, selanjutnya dibuat genogramnya. 6) Tipe keluarga.

7) Suku bangsa. 8) Agama.

9) Status soial ekonomi. 10) Aktifitas rekreasi keluarga.

b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

1) Tahap perkembangan keluarga. Tahap perkembangan keluarga ini ditentukan oleh usia anak tertua dari keluarga inti.

2) Tugas pekembangan keluarga yang belum terpenuhi. Bagian ini menjelaskan tentang tugas keluarga yang belum terpenuhi dan kendala yang dihadapi oleh keluarga.

3) Riwayat kesehatan keluarga inti. Menjelaskan riwayat kesehatan keluarga inti, riwayat kesehatan masing-masing anggota

(29)

keluarga, perhatian terhadap upaya pencegahan penyakit, dan pengalaman keluarga terhadap pelayanan kesehatan.

4) Riwayat kesehatan sebelumnya. Menjelaskan riwayat kesehatan generasi di atas orang tentang riwayat penyakit keturunan. c. Data lingkungan

1) Karakteristik rumah. Menjelaskan tentang hasil identifikasi rumah yang dihuni keluarga meliputi luas, tipe, jumlah ruangan, pemanfaatan ruangan, jumlah ventilasi, peletakan perabot rumah tangga, sarana pembuangan air limbah dan kebutuhan MCK, sarana air bersih dan air minum yang digunakan. Keadaan rumah digambar sebagai denah rumah.

2) Karakteristik tetangga dan komunitasnya. Menjelaskan tentang karakteristik dari tetangga dan komunitas setempat, meliputi kebiasaan, nilai dan norma serta budaya penduduk setempat. 3) Mobilitas geografis keluarga. Menggambarkan mobilitas

keluarga dan anggota keluarga.

4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat. Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul dan berinteraksi dengan masyarakat.

5) Sistem pendukung keluarga. Menjelaskan jumlah anggota keluarga yang sehat dan fasilitas keluarga yang mendukung kesehatan.

(30)

d. Struktur keluarga

1) Struktur peran. Menjelaskan peran masing-masing anggota keluarga secara formal maupun informal baik di keluarga atau masyarakat.

2) Nilai atau norma keluarga. Menjelaskan bagiamana cara keluarga berkomunikasi, siapa pengambil keputusan utama, dan bagaiamana peran anggota keluarga dalam menciptakan komunikasi.

3) Struktur kekuatan keluarga. Menjelaskan kemampuan keluarga untuk mempengaruhi dan mengendalikan anggota keluarga untuk mengubah perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. e. Fungsi keluarga.

1) Fungsi afektif. Yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan anggota keluarga, dan bagiamana keluiarga mengembangkan sikap saling menghargai.

2) Fungsi sosialisasi. Menjelaskan tentang hubungan anggota keluarga, sejauh mana anggoat keluarga belajar tentang disiplin, nilai, norma, budaya, dan perilaku di keluarga dan masyarakat.

3) Fungsi pemenuhan kesehatan. Berkaitan dengan tugas keluarga di bidang kesehatan :

a) Mengetahui kemampuan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan. Sejauh mana keluarga mengetahui fakta dari

(31)

masalah kesehatan tentang, meliputi pengertian, tanda gejala, dan faktor penyebab penyakit.

b) Mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat, yang perlu dikaji tentang kemampuan keluarga memahami sifat dan luasnya masalah kesehatan, apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga, apakah keluarga merasa takut terhadap akibat dari masalah kesehatan, apakah keluarga telah memperoleh informasi tentang kesehatan yang tepat, apakah keluarga mempunyai kepercayaan terhadap tenaga kesehatan.

c) Mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. Yang perlu dikaji adalah pengetahuan keluarga tentang penyakit yang dialami oleh anggota keluarga, pemahaman keluarga tentang perawatan yang perlu dilakukan, pengetahuan keluarga tentang peralatan, cara, dan fasilitas untuk merawat anggota keluarga yang sakit, serta bagaimana sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit.

d) Mengetahui kemampuan keluarga memodifikasi lingkungan. Yang perlu dikaji yaitu pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki, kemampuan keluarga melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan lingkungan, pengetahuan keluarga tentang upaya pencegahan penyakit,

(32)

kebersamaan anggota keluarga untuk meningkatkan dan memelihara lingkunagn rumah.

e) Mengetahui kemampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan, yang perlu dikaji adalah pengetahuan keluarga tentang keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau, pemahaman keluarga tentang keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan, tingkat kepercayaan keluraga terhadap fasiliats dan petugas kesehatan, apakah keluarga mempunyai pengalaman yang buruk tentang fasilitas kesehatan dan petugas kesehatan, apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan. f) Fungsi reproduksi. Menjelaskan tentang bagaimana rencana

keluarga memliki dan upaya mengendalikan jumlah anggota keluarga.

f. Stres dan koping keluarga

1) Stresor jangka pendek dan jangka panjang. Stresor jangka pendek adalah stresor yang dialami keluarga dan memerlukan waktu penyelesaian lebih kurang 6 bulan, sedangkan stresor jangka pangjang adalah stresor yang dialami keluarga dan memerlukan waktu penyelesaian lebih dari 6 bulan.

(33)

2) Kemampuan keluarga berespons terhadap stresor. Menjelaskan bagaimana keluarga berespon terhadap stresor yang ada.

3) Strategi koping yang digunakan. Menjelaskan tentang strategi koping (mekanisme pembelaan) terhadap stresor yang ada.

g. Pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan pada individu anggota keluarga meliputi pengkajian kebutuhan dasar, pemeriksaan fisik, dan pemerikasaan penunjang.

h. Harapan keluarga. Yang perlu dikaji bagaimana harapan keluarga terhadap perawat untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan yang terjadi.

2. Diagnosa Keperawatan

Menurut Suprajitno (2004 : 42), perumusan diagnosa keperawatan dapat diarahkan kepada sasaran individu dan atau keluarga. Perumusan diagnosa keperawatan keluarga menggunakan aturan yang telah disepakati, terdiri dari :

a. Masalah (problem, P) suatu pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau anggota keluarga.

b. Penyebab (etiology, E) suatu pernyataan yang dapat menyebabkan masalah dengan mengacu pada lima tugas keluarga.

(34)

c. Tanda (sign, S) sekumpulan data subjektif dan objektif yang diperoleh perawat dari keluarga.

3. Skoring Diagnosa Keperawatan

Tabel 2.1 Skoring Diagnosa Keperawatan Menurut Bailon dan Maglaya (1978) dalam Suprajitno (2004 : 47)

No Kriteria Skor Bobot

1 Sifat masalah Skala : Tidak/kurang sehat Ancaman kesehatan Keadaan sejahtera 3 2 1 1

2 Kemungkinan masalah dapat diubah Skala : Mudah Sebagian Tidak dapat 2 1 0 2

3 Potensial masalah untuk dicegah Skala :Tinggi Cukup Rendah 3 2 1 1 4 Menonjolnya masalah Skala :

Masalah berat, harus segera ditangani Ada masalah tetapi tidak perlu ditangani Masalah tidak dirasakan

2 1 0

1

Selanjutnya skor dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan dengan bobot, kemudian skor dijumlahkan untuk semua kriteria.

a. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas :

1) Kriteria pertama, yaitu sifatnya masalah, bobot yang lebih berat diberikan pada tidak / kurang sehat karena yang pertama memerlukan tindakan segera dan biasanya disadari dan dirasakan oleh keluarga.

(35)

2) Kriteria kedua, yaitu untuk kemungkinan masalah dapat diubah, perawat perlu memperhatikan terjangkaunya faktor-faktor berikut :

a) Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untuk menangani masalah.

b) Sumber daya keluarga dalam bentuk fisik, keuangan dan tenaga.

c) Sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan dan waktu.

d) Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas dan organisasi dalam masyarakat dan sokongan masyarakat.

3) Kriteria ketiga, yaitu potensial masalah dapat dicegah, faktor -faktor yang perlu diperhatikan adalah :

a) Tingkat keparahan masalah, yang berhubungan dengan penyakit atau masalah.

b) Lamanya masalah, yang berhubungan dengan jangka waktu masalah itu ada.

c) Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan - tindakan yang tepat dalam memperbaiki masalah.

d) Adanya kelompok “high risk” atau kelompok yang sangat peka menambah potensi untuk mencegah masalah.

(36)

4) Kriteria keempat, menonjolnya masalah, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga melihat masalah kesehatan tersebut.

4. Prioritas Diagnosis Keperawatan

Prioritas didasarkan pada diagnosis keperawatan yang mempunyai skor tertinggi dan disusun berurutan sampai skor terendah (Suprajitno, 2004 : 47).

5. Intervensi Keperawatan

Menurut Carpenito (2000) dalam Nursalam (2010 : 85), rencana intervensi keperawatan adalah rencana yang disusun oleh perawat untuk kepentingan asuhan keperawatan.

Perencanaan keperawatan keluarga meliputi penentuan tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang menekankan pada perubahan perilaku dan mengarah kepada kemampuan mandiri pasien dan lebih baik ada batas waktunya. Sedangkan tujuan jangka pendek ditekankan pada keadaan yang bisa dicapai setiap harinya yang dihubungkan dengan keadaan yang mengancam kehidupan (Setiadi, 2008 : 61).

6. Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Setiadi, 2008 : 66).

(37)

Menurut Suprajitno (2004 : 56), implementasi dapat dilakukan oleh klien sendiri (anggota keluarga/keluarga), perawat, anggota tim kesehatan, keluarga lain, dan orang lain yang masuk dalam jaringan kerja keperawatan.

7. Evaluasi

Tahap terakhir dari proses keperawatan adalah evaluasi. Evaluasi merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi adalah untuk melihat kemampuan keluarga dalam mencapai tujuan (Setiadi, 2008 : 69).

Menurut Suprajitno (2004 : 57), evaluasi disusun dengan menggunakan SOAP yang berarti S adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara subjektif oleh keluarga setelah diberi implementasi. O adalah keadaan objektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan pengamatan yang objektif. A adalah analisa perawat setelah mengetahui respon subjektif dan objektif keluarga. P adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisa.

D. Pendidikan Kesehatan Rebusan Daun Sirsak

Menurut Effendy (2004 : 232), pendidikan kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dari tenaga keperawatan, karena merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap

(38)

memberikan asuhan keperawatan dimana saja ia bertugas, apakah terhadap invidu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Menurut Anwar (1992) seperti dikutip dalam Effendy (2004 : 232), pendidikan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebar pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu, dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Dalam melakukan pendidikan kesehatan, ada sasaran yang harus diberikan pendidikan kesehatan, yaitu :

a. Individu yang mempunyai masalah kesehatan

b. Keluarga binaan yang punya masalah

kesehatan :

1) Anggota keluarga yang menderita penyakit menular

2) Anggota keluarga yang menderita sosial ekonomi rendah

3) Anggota keluarga yang mempunyai sanitasi lingkungan buruk

4) Anggota keluarga yang menderita gizi buruk

c. Kelompok khusus yang beresiko terhadap

masalah kesehatan :

1) Kelompok ibu hamil

(39)

3) Kelompok pasangan usia subur

4) Kelompok masyarakat yang rawan terhadap masalah kesehatan ( lansia, remaja, dan tunasusila).

Menurut Effendy (2004 : 240), metode yang dipakai dalam penyuluhan kesehatan hendaknya metode yang dapat mengembangkan komunikasi dua arah antar yang memberikan penyuluhan dan sasaran penyuluhan, sehingga diharapkan tingkat pemahaman sasaran terhadap pesan yang disampaikan akan lebih jelas dan mudah dipahami. Metode yang sering digunakan dalam penyuluhan kesehatan adalah :

a. Metode didaktik

Pada metode ini yang aktif adalah orang yang melakukan penyuluhan kesehatan, sedangkan sasaran bersifat pasif dan tidak diberikan kesempatan untuk ikut berpartisipasi.

b. Demonstrasi

Suatu cara untuk menunjukkan pengertian, ide, dan prosedur tentang suatu hal yang telah dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan dengan menggunakan alat peraga.

Pendidikan kesehatan tentang rebusan daun sirsak terhadap nyeri diberikan pada penderita gout berdasarkan jurnal penelitian Wirahmadi pada tahun 2013, daun sirsak mengandung senyawa tannin, resin, dan crytallizable

magostine yang mampu mengatasi nyeri sendi pada penyakit gout. Senyawa

(40)

sakit) yang kuat serta bersifat antioksidan. Sifat antioksidan yang terdapat pada daun sirsak dapat mengurangi terbentuknya asam urat mealalui penghambatan produksi enzim xantin oksidase. Kombinasi sifat analgesik dan anti inflamasi ini mampu mengurangi gout. Hal ini disebabkan karena penderita gout mengalami kerusakan jaringan tulang rawan, pada tulang rawan tersebut terdiri atas sel – sel kondrosit, di dalam sel kondrosit berlangsung reaksi sintesis dan sekresi matriks ekstraseluler. Ekstrak Į–

mangostin, ȕ– mangostin, dan lainnya yang terkandung dalam daun sirsak

terbukti mampu menghambat perombakan matrik ekstraseluler serta menstimulasi ekspresi beberapa asosiasi gen penyusun kartilago seperti kolagen yang terdiri atas kolagen I dan kolagen II serta agrecan sehingga membantu meregenerasi jaringan tulang rawan sehingga nyeri yang dirasakan penderita gout dapat berkurang.

Penelitian rebusan daun sirsak dapat mengurangi nyeri gout tersebut dilakukan pada tanggal 8 Januari 2013 pada 40 responden, dengan 20 responden sebagai kelompok intervensi dan 20 responden sebagai kelompok kontrol. Frekuensi kelompok intervensi yang mengalami nyeri berat sebanyak 6 responden, nyeri ringan sebanyak 10 responden, dan nyeri berat sebanyak 4 responden. Sedangkan frekuensi kelompok kontrol yang mengalami nyeri berat sebanyak 4 responden, nyeri ringan sebanyak 11 responden, dan nyeri berat sebanyak 5 responden. Hasil penelitian menunjukkan setelah diberikan rebusan daun sirsak selama 1 minggu tingkat nyeri pada kelompok intervensi adalah 1 responden yang mengamali nyeri berat, 11 responden yang

(41)

mengalami nyeri sedang, dan 8 responden yang mengalami nyeri ringan. Ini menunjukkan bahwa terdapat adanya perubahan tingkat nyeri pada responden kelompok intervensi, perubahan nyeri tersebut disebabkan karena kandungan senyawa yang terdapat pada daun sirsak yang mampu mengurangi nyeri pada penderita gout. Untuk kelompok kontrol, yaitu kelompok yang tidak diberikan rebusan daun sirsak, hanya mengalami sedikit perubahan untuk skala nyeri yaitu sebanyak 20 responden pada akhir penelitian didapatkan 2 responden mengalami nyeri ringan, 15 responden mengalami nyeri ringan, dan 3 responden mengalami nyeri berat.

Sirsak merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Tropis. Berabad-abad yang lalu, bangsa Indian di Amerika Selatan telah memanfaatkan tanaman sirsak sebagai obat tradisional penyakit jantung, asma, penyakit hati, dan reumatik. Adapun akar sirsak dan daunnya digunakan untuk mengobati diabetes mellitus, sebagai sedatif (penenang), serta antispasmodik (obat kejang/kaku otot). Sedangkan di Indonesia, sirsak secara tradisional digunakan sebagai obat bisul, mual, diare, hepatitis, batuk, reumatik, dan hipertensi. Menurut nenek moyang orang Jawa sirsak memang sudah dikenal manfaatnya sebagai obat penghilang penyakit termasuk kanker. (Suranto, 2012 : 2).

Sedangkan menurut Asri dan Hermawati (2013 : 26), daun sirsak mengandung acetogenins, annocatacin, annocatalin, annohexocin,

(42)

meningkatkan daya tahan tubuh, mampu mengobati kanker, nyeri rematik, dan lain sebagainya.

Suranto (2012 : 47), menyatakan bahwa salah satu cara memanfaatkan daun sirsak sebagai obat gout adalah dengan cara merebusnya. Cara membuatnya sebagai berikut :

a. Rebus 10 lembar daun sirsak dengan dua gelas air.

b. Setelah mendidih, kecilkan api dan biarkan air menguap hingga tersisa satu gelas.

c. Setelah dingin, minum air rebusan dua kali sehari sampai gejala penyakit asam urat mereda.

(43)

32

Tinjauan teori merupakan acuan dasar terhadap proses asuhan keperawatan secara keseluruhan. Dalam bab ini penulis menguraikan tentang konsep tentang penyakit gout, konsep keluarga, konsep asuhan keperawatan keluarga, dan konsep pendidikan kesehatan rebusan daun sirsak.

E. Konsep Penyakit Gout 7. Pengertian Gout

Gout merupakan gangguan metabolik yang sudah dikenal oleh

Hipokrates pada zaman Yunani kuno. Gout merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolik, sekurang-kurangnya ada sembilan gangguan, yang ditandai oleh meningkatnya konsentrasi asam urat (hiperurisemia). Masalah akan timbul jika terbentuk kristal-kristal monosodium urat monohidrat pada sendi-sendi dan jaringan sekitarnya. Kristal-kristal berbentuk seperti jarum ini mengakibatkan reaksi peradangan yang jika berlanjut akan menimbulkan nyeri hebat (Price dan Wilson, 2006 : 1402).

Sedangkan menurut Sandjaya (2014 : 11), penyakit asam urat atau

gout adalah penyakit yang terjadi akibat kelebihan asam urat dalam darah

yang kemudian menumpuk dan tertimbun dalam bentuk kristal-kristal pada persendian. Penumpukan kristal-kristal asam urat pada persendian

(44)

inilah yang akhirnya menyebabkan persendian menjadi nyeri dan bengkak.

Kadar asam urat normal pada pria berkisar 3,5 - 7 mg/dl dan pada

perempuan 2,6 - 6 mg/dl, apabila melebihi batas disebut hiperurisemia (Sandjaya, 2014 : 27).

8. Etiologi Gout

Menurut Sandjaya (2014 : 20), terjadinya penyakit asam urat disebabkan oleh faktor primer dan faktor sekunder.

Faktor primer meliputi :

d. Genetik. Potensi genetik untuk seseorang berpotensi terkena penyakit asam urat adalah bersifat keturunan.

e. Ketidakseimbangan hormon. Tidak seimbangannya hormon bisa mempengaruhi proses pembentukan purin dalam tubuh menjadi meningkat yang pada akhirnya hasil sampingan metabolisme zat purin( zat asam urat) juga akan meningkat. Ketidakseimbangan hormon dipengaruhi oleh emosi, pola hidup, penumpukan racun, dan radikal bebas.

f. Proses pengeluaran asam urat terganggu di ginjal. Dalam kondisi normal zat asam urat dikeluarkan oleh tubuh melalui ginjal, namun pada penderita gout, asam urat tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal. Faktor sekunder meliputi :

c. Konsumsi makanan tinggi purin. Tingginya purin dalam darah tentu akan menaikkan zat asam urat.

(45)

d. Alkohol dan obat-obatan kimia. Alkohol juga mengandung purin, selain itu alkohol memicu pengeluaran cairan sehingga meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Alkohol juga menyebabkan pembuangan asam urat lewat urin terganggu sehingga asam urat tetap bertahan dalam darah.

9. Patofisiologi Gout

Hiperurisemia dapat menyebabkan penumpukan kristal monosodium urat. Peningkatan atau penurunan kadar asam urat secara mendadak adapat menyebabkan serangan gout. Apabila kristal urat mengendap dalam sebuah sendi, maka selanjutnya respon inflmasi akan terjadidan serangan gout pun dimulai. Apabila serangan terjadi berulang – ulang, mengakibatkan penumpukan kristal natrium urat yang dinamakan fotus akan mengendap dibagian perifer tubuh, seperti jari kaki, tangan, dan telinga.

Pada kristal monosodium urat yang ditemukan tersebut dengan imunoglobulin IgG. Selanjutnya imunoglobulin yang berupa IgG akan meningkat fagositosis kristal, dengan demikian akan memperlihatkan aktifitas imunologik (Smeltzer dan Bare, 2001 : 1402).

10. Tanda dan Gejala Gout

Gejala dari penyakit gout datang secara tiba-tiba dan tidak terduga. Gejala yang khas adalah nyeri di satu atau lebih sendi yang pada malam hari semakin terasa. Kadang-kadang persendian menjadi bengkak, kulit menjadi merah atau keunguan, dan tampak mengkilap. Gejala-gejala ini

(46)

pada akhirnya bisa mempengaruhi sendi disekitar ibu jari, telapak kaki, pergelangan kaki, lutut, siku, serta pergelangan tangan. Pada persendian tepi, seperti telinga, panggul, dan juga bahu biasanya akan terbentuk kristal. Gejala lain yang menyertai adalah demam, dingin, dan nadi cepat. Untuk gejala gout yang berat akan menyebabkan perubahan bentuk dibagian tubuh tertentu (Utami, 2007 : 7).

Menurut Sandjaya (2014 : 16), gejala dari penyakit asam urat sangat khas dan mempunyai tiga tahapan, yaitu :

d. Tanda asam urat tahap pertama atau tahap artritis gout akut.

Pada gejala asam urat tahap ini penderita akan mengalami serangan artritis yang khas, serangan tersebut akan menghilang tanpa pengobatan dalam 5-7 hari.

e. Tanda asam urat tahap kedua atau tahap artritis gout intermiten. Penderita akan mengalami serangan artritis atau peradangan yang khas. Selanjutnya penderita akan sering mendapat serangan yang jarak antara serangan yang satu dan serangan berikutnya makin lama makin rapat dan lama, serta jumlah sendi yang terserang semakin banyak..

f. Tanda asam urat tahap ketiga atau tahap artritis gout kronik berfotus. Tahap ini terjadi penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih, pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus ini berupa benjolan keras yang berisi serbuk seperti kapur yang

(47)

merupakan deposit dari kristal monosodium urat, tofus ini akan merusak sendi dan tulang disekitarnya.

11. Komplikasi Gout

Menurut Utami (2007 : 7), komplikasi dari gout adalah kerusakan ginjal atau gagal ginjal. Komplikasi potensial penyakit gout adalah nefropati, batu asam urat, dan gagal ginjal (Wilkinson, 2007 : 733).

12. Penatalaksanaan Gout

Menurut Muttaqin (2012 : 399), penatalaksanaan gout adalah : c. Analgesik untuk mengurangi nyeri

d. Antiinflamasi untuk menurunkan respon inflamasi

F. Konsep dasar keluarga 6. Pengertian Keluarga

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1998) seperti dikutip Setiadi (2008 : 2), mengemukakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan ketergantungan.

Menurut WHO (1969) dalam Setiadi (2008 : 2), keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi, atau perkawinan.

(48)

Menurut Freadmen (1998) seperti dikutip dalam Setiadi (2008 : 7), secara umum fungsi keluarga adalah :

f. Fungsi afektif, adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain.

g. Fungsi sosialisasi, adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah.

h. Fungsi reproduksi, adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.

i. Fungsi ekonomi, adalah keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan indiuvidu dalam meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

j. Fungsi perawatan/pemeliharaan kesehatan, adalah fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi.

8. Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan

Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas dalam bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, meliputi :

(49)

Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung jawab keluarga. Maka apabila menyadari adanya perubahan perlu segera dicatat kapan terjadinya dan perubahan apa yang terjadi.

g. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga

Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai keadaan keluarga. Jika keluarga mempunyai keterbatasan seyogyanya meminta bantuan orang lain di sekitar keluarga.

h. Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit

Perawatan ini dapat dilakukan di rumah, apabila keluarga memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama.

i. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan. j. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan

lembaga kesehatan (pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).

9. Ciri-ciri Keluarga Indonesia

Menurut Setiadi (2008 : 4) ciri-ciri keluarga Indonesia adalah sebagai berikut :

d. Mempunyai ikatan yang sangat erat dengan dilandasi semangat gotong royong.

(50)

f. Umumnya dipimpin oleh suami meskipun proses pemutusan dilakukan secara musyawarah.

10. Tahap Perkembangan Keluarga

Menurut Duffal (1985) seperti dikutip Suprajitno (2004 : 4), tahap perkembangan keluarga yaitu :

i. Keluarga baru menikah

4) Membina hubungan intim yang memuaskan.

5) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial.

6) Mendiskusikan rencana memiliki anak. j. Keluarga dengan anak baru lahir

Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berumur 30 bulan. Tugas perkembangan antara lain :

4) Persiapan menjadi orang tua.

5) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga: peran, interaksi, hubungan seksual.

6) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan. k. Keluarga dengan anak usia pra sekolah

Tahap ini dimulai saat anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun.

8) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman.

(51)

9) Membantu anak untuk bersosialisasi.

10) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara anak yang lain juga harus terpenuhi.

11) Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam maupun di luar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar).

12) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap paling repot).

13) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.

14) Kegiatan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang. l. Keluarga dengan anak usia sekolah

Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia 6 tahun dan berakhir pada usia 12 tahun.

4) Membantu sosialisasi anak : tetangga, sekolah dan lingkungan. 5) Mempertahankan keintiman pasangan.

6) Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga.

m. Keluarga dengan anak remaja

Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir sampai 6 – 7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah orang tuanya.

3) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan bertanggung jawab.

(52)

4) Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga. n. Keluarga mulai melepaskan anak sebagai dewasa

Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah. 6) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.

7) Mempertahankan keintiman pasangan.

8) Membantu orang tua suami / istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua.

9) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat. 10) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga. o. Keluarga usia pertengahan

Tahap ini dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal.

4) Mempertahankan kesehatan.

5) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak.

6) Meningkatkan keakraban pasangan. p. Keluarga usia lanjut

Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai saat salah satu pasangan pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal sampai keduanya meninggal.

6) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.

7) Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan pendapatan.

(53)

8) Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat. 9) Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat. 10) Melakukan “life review”.

G. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga

Keperawatan kesehatan keluarga adalah keperawatan kesehatan yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau satu kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuannya yang dilakukan oleh perawat profesional dengan proses keperawatan yang berpedoman pada standar praktek keperawatan. Sasaran asuhan keperawatan keluarga adalah keluarga-keluarga yang rawan kesehatan, yaitu keluarga-keluarga yang mempunyai masalah kesehatan atau yang berisiko terhadap timbulnya masalah kesehatan. Sasaran dalam keluarga yang dimaksud adalah individu sebagai anggota keluarga dan keluarga itu sendiri (Setiadi, 2008 : 27).

Menurut Suprajitno (2004 : 27), tujuan asuhan keperawatan keluarga adalah ditingkatkannya kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya secara mandiri. Proses asuhan keperawatan keluarga secara umum terdiri dari pengkajian, intervensi, dan implementasi serta evaluasi. Penulis akan menjelaskan satu persatu sebagai berikut :

8. Pengkajian

Menurut Suprajitno (2004 : 29), pengkajian adalah suatu tahapan ketika seorang perawat mengumpulkan informasi secara terus-menerus tentang keluarga yang dibinanya. Pengkajian merupakan tahap awal pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga. Pengumpulan data dari keluarga dapat

(54)

menggunakan metode wawancara, observasi fasilitas rumah, dan pemeriksaan fisik pada setiap anggota keluarga. Dalam pengumpulan data yang perlu dikaji adalah :

b. Data Umum

11) Kepala keluarga. 12) Alamat keluarga. 13) Pekerjaan KK. 14) Pendidikan KK.

15) Komposisi keluarga, selanjutnya dibuat genogramnya. 16) Tipe keluarga.

17) Suku bangsa. 18) Agama.

19) Status soial ekonomi. 20) Aktifitas rekreasi keluarga.

c. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

5) Tahap perkembangan keluarga. Tahap perkembangan keluarga ini ditentukan oleh usia anak tertua dari keluarga inti.

6) Tugas pekembangan keluarga yang belum terpenuhi. Bagian ini menjelaskan tentang tugas keluarga yang belum terpenuhi dan kendala yang dihadapi oleh keluarga.

7) Riwayat kesehatan keluarga inti. Menjelaskan riwayat kesehatan keluarga inti, riwayat kesehatan masing-masing anggota

(55)

keluarga, perhatian terhadap upaya pencegahan penyakit, dan pengalaman keluarga terhadap pelayanan kesehatan.

8) Riwayat kesehatan sebelumnya. Menjelaskan riwayat kesehatan generasi di atas orang tentang riwayat penyakit keturunan. d. Data lingkungan

6) Karakteristik rumah. Menjelaskan tentang hasil identifikasi rumah yang dihuni keluarga meliputi luas, tipe, jumlah ruangan, pemanfaatan ruangan, jumlah ventilasi, peletakan perabot rumah tangga, sarana pembuangan air limbah dan kebutuhan MCK, sarana air bersih dan air minum yang digunakan. Keadaan rumah digambar sebagai denah rumah.

7) Karakteristik tetangga dan komunitasnya. Menjelaskan tentang karakteristik dari tetangga dan komunitas setempat, meliputi kebiasaan, nilai dan norma serta budaya penduduk setempat. 8) Mobilitas geografis keluarga. Menggambarkan mobilitas

keluarga dan anggota keluarga.

9) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat. Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul dan berinteraksi dengan masyarakat.

10) Sistem pendukung keluarga. Menjelaskan jumlah anggota keluarga yang sehat dan fasilitas keluarga yang mendukung kesehatan.

(56)

e. Struktur keluarga

4) Struktur peran. Menjelaskan peran masing-masing anggota keluarga secara formal maupun informal baik di keluarga atau masyarakat.

5) Nilai atau norma keluarga. Menjelaskan bagiamana cara keluarga berkomunikasi, siapa pengambil keputusan utama, dan bagaiamana peran anggota keluarga dalam menciptakan komunikasi.

6) Struktur kekuatan keluarga. Menjelaskan kemampuan keluarga untuk mempengaruhi dan mengendalikan anggota keluarga untuk mengubah perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. f. Fungsi keluarga.

2) Fungsi afektif. Yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan anggota keluarga, dan bagiamana keluiarga mengembangkan sikap saling menghargai.

4) Fungsi sosialisasi. Menjelaskan tentang hubungan anggota keluarga, sejauh mana anggoat keluarga belajar tentang disiplin, nilai, norma, budaya, dan perilaku di keluarga dan masyarakat.

5) Fungsi pemenuhan kesehatan. Berkaitan dengan tugas keluarga di bidang kesehatan :

g) Mengetahui kemampuan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan. Sejauh mana keluarga mengetahui fakta dari

(57)

masalah kesehatan tentang, meliputi pengertian, tanda gejala, dan faktor penyebab penyakit.

h) Mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat, yang perlu dikaji tentang kemampuan keluarga memahami sifat dan luasnya masalah kesehatan, apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga, apakah keluarga merasa takut terhadap akibat dari masalah kesehatan, apakah keluarga telah memperoleh informasi tentang kesehatan yang tepat, apakah keluarga mempunyai kepercayaan terhadap tenaga kesehatan.

i) Mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. Yang perlu dikaji adalah pengetahuan keluarga tentang penyakit yang dialami oleh anggota keluarga, pemahaman keluarga tentang perawatan yang perlu dilakukan, pengetahuan keluarga tentang peralatan, cara, dan fasilitas untuk merawat anggota keluarga yang sakit, serta bagaimana sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit.

j) Mengetahui kemampuan keluarga memodifikasi lingkungan. Yang perlu dikaji yaitu pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki, kemampuan keluarga melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan lingkungan, pengetahuan keluarga tentang upaya pencegahan penyakit,

(58)

kebersamaan anggota keluarga untuk meningkatkan dan memelihara lingkunagn rumah.

k) Mengetahui kemampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan, yang perlu dikaji adalah pengetahuan keluarga tentang keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau, pemahaman keluarga tentang keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan, tingkat kepercayaan keluraga terhadap fasiliats dan petugas kesehatan, apakah keluarga mempunyai pengalaman yang buruk tentang fasilitas kesehatan dan petugas kesehatan, apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan. l) Fungsi reproduksi. Menjelaskan tentang bagaimana rencana

keluarga memliki dan upaya mengendalikan jumlah anggota keluarga.

i. Stres dan koping keluarga

4) Stresor jangka pendek dan jangka panjang. Stresor jangka pendek adalah stresor yang dialami keluarga dan memerlukan waktu penyelesaian lebih kurang 6 bulan, sedangkan stresor jangka pangjang adalah stresor yang dialami keluarga dan memerlukan waktu penyelesaian lebih dari 6 bulan.

(59)

5) Kemampuan keluarga berespons terhadap stresor. Menjelaskan bagaimana keluarga berespon terhadap stresor yang ada.

6) Strategi koping yang digunakan. Menjelaskan tentang strategi koping (mekanisme pembelaan) terhadap stresor yang ada.

j. Pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan pada individu anggota keluarga meliputi pengkajian kebutuhan dasar, pemeriksaan fisik, dan pemerikasaan penunjang.

k. Harapan keluarga. Yang perlu dikaji bagaimana harapan keluarga terhadap perawat untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan yang terjadi.

9. Diagnosa Keperawatan

Menurut Suprajitno (2004 : 42), perumusan diagnosa keperawatan dapat diarahkan kepada sasaran individu dan atau keluarga. Perumusan diagnosa keperawatan keluarga menggunakan aturan yang telah disepakati, terdiri dari :

d. Masalah (problem, P) suatu pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau anggota keluarga.

e. Penyebab (etiology, E) suatu pernyataan yang dapat menyebabkan masalah dengan mengacu pada lima tugas keluarga.

(60)

f. Tanda (sign, S) sekumpulan data subjektif dan objektif yang diperoleh perawat dari keluarga.

10. Skoring Diagnosa Keperawatan

Tabel 2.1 Skoring Diagnosa Keperawatan Menurut Bailon dan Maglaya (1978) dalam Suprajitno (2004 : 47)

No Kriteria Skor Bobot

1 Sifat masalah Skala : Tidak/kurang sehat Ancaman kesehatan Keadaan sejahtera 3 2 1 1

2 Kemungkinan masalah dapat diubah Skala : Mudah Sebagian Tidak dapat 2 1 0 2

3 Potensial masalah untuk dicegah Skala :Tinggi Cukup Rendah 3 2 1 1 4 Menonjolnya masalah Skala :

Masalah berat, harus segera ditangani Ada masalah tetapi tidak perlu ditangani Masalah tidak dirasakan

2 1 0

1

Selanjutnya skor dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan dengan bobot, kemudian skor dijumlahkan untuk semua kriteria.

a. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas :

5) Kriteria pertama, yaitu sifatnya masalah, bobot yang lebih berat diberikan pada tidak / kurang sehat karena yang pertama memerlukan tindakan segera dan biasanya disadari dan dirasakan oleh keluarga.

(61)

6) Kriteria kedua, yaitu untuk kemungkinan masalah dapat diubah, perawat perlu memperhatikan terjangkaunya faktor-faktor berikut :

e) Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untuk menangani masalah.

f) Sumber daya keluarga dalam bentuk fisik, keuangan dan tenaga.

g) Sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan dan waktu.

h) Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas dan organisasi dalam masyarakat dan sokongan masyarakat.

7) Kriteria ketiga, yaitu potensial masalah dapat dicegah, faktor -faktor yang perlu diperhatikan adalah :

e) Tingkat keparahan masalah, yang berhubungan dengan penyakit atau masalah.

f) Lamanya masalah, yang berhubungan dengan jangka waktu masalah itu ada.

g) Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan - tindakan yang tepat dalam memperbaiki masalah.

h) Adanya kelompok “high risk” atau kelompok yang sangat peka menambah potensi untuk mencegah masalah.

(62)

8) Kriteria keempat, menonjolnya masalah, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga melihat masalah kesehatan tersebut.

11. Prioritas Diagnosis Keperawatan

Prioritas didasarkan pada diagnosis keperawatan yang mempunyai skor tertinggi dan disusun berurutan sampai skor terendah (Suprajitno, 2004 : 47).

12. Intervensi Keperawatan

Menurut Carpenito (2000) dalam Nursalam (2010 : 85), rencana intervensi keperawatan adalah rencana yang disusun oleh perawat untuk kepentingan asuhan keperawatan.

Perencanaan keperawatan keluarga meliputi penentuan tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang menekankan pada perubahan perilaku dan mengarah kepada kemampuan mandiri pasien dan lebih baik ada batas waktunya. Sedangkan tujuan jangka pendek ditekankan pada keadaan yang bisa dicapai setiap harinya yang dihubungkan dengan keadaan yang mengancam kehidupan (Setiadi, 2008 : 61).

13. Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Setiadi, 2008 : 66).

(63)

Menurut Suprajitno (2004 : 56), implementasi dapat dilakukan oleh klien sendiri (anggota keluarga/keluarga), perawat, anggota tim kesehatan, keluarga lain, dan orang lain yang masuk dalam jaringan kerja keperawatan.

14. Evaluasi

Tahap terakhir dari proses keperawatan adalah evaluasi. Evaluasi merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi adalah untuk melihat kemampuan keluarga dalam mencapai tujuan (Setiadi, 2008 : 69).

Menurut Suprajitno (2004 : 57), evaluasi disusun dengan menggunakan SOAP yang berarti S adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara subjektif oleh keluarga setelah diberi implementasi. O adalah keadaan objektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan pengamatan yang objektif. A adalah analisa perawat setelah mengetahui respon subjektif dan objektif keluarga. P adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisa.

H. Pendidikan Kesehatan Rebusan Daun Sirsak

Menurut Effendy (2004 : 232), pendidikan kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dari tenaga keperawatan, karena merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap

(64)

memberikan asuhan keperawatan dimana saja ia bertugas, apakah terhadap invidu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Menurut Anwar (1992) seperti dikutip dalam Effendy (2004 : 232), pendidikan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebar pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu, dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Dalam melakukan pendidikan kesehatan, ada sasaran yang harus diberikan pendidikan kesehatan, yaitu :

d. Individu yang mempunyai masalah kesehatan

e. Keluarga binaan yang punya masalah

kesehatan :

5) Anggota keluarga yang menderita penyakit menular

6) Anggota keluarga yang menderita sosial ekonomi rendah

7) Anggota keluarga yang mempunyai sanitasi lingkungan buruk

8) Anggota keluarga yang menderita gizi buruk

f. Kelompok khusus yang beresiko terhadap

masalah kesehatan :

5) Kelompok ibu hamil

(65)

7) Kelompok pasangan usia subur

8) Kelompok masyarakat yang rawan terhadap masalah kesehatan ( lansia, remaja, dan tunasusila).

Menurut Effendy (2004 : 240), metode yang dipakai dalam penyuluhan kesehatan hendaknya metode yang dapat mengembangkan komunikasi dua arah antar yang memberikan penyuluhan dan sasaran penyuluhan, sehingga diharapkan tingkat pemahaman sasaran terhadap pesan yang disampaikan akan lebih jelas dan mudah dipahami. Metode yang sering digunakan dalam penyuluhan kesehatan adalah :

a. Metode didaktik

Pada metode ini yang aktif adalah orang yang melakukan penyuluhan kesehatan, sedangkan sasaran bersifat pasif dan tidak diberikan kesempatan untuk ikut berpartisipasi.

b. Demonstrasi

Suatu cara untuk menunjukkan pengertian, ide, dan prosedur tentang suatu hal yang telah dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan dengan menggunakan alat peraga.

Pendidikan kesehatan tentang rebusan daun sirsak terhadap nyeri diberikan pada penderita gout berdasarkan jurnal penelitian Wirahmadi pada tahun 2013, daun sirsak mengandung senyawa tannin, resin, dan crytallizable

magostine yang mampu mengatasi nyeri sendi pada penyakit gout. Senyawa

Gambar

Tabel 2.1 Skoring Diagnosa Keperawatan Menurut Bailon dan Maglaya (1978)  dalam Suprajitno (2004 : 47)
Tabel 2.1 Skoring Diagnosa Keperawatan Menurut Bailon dan Maglaya (1978)  dalam Suprajitno (2004 : 47)

Referensi

Dokumen terkait

Semakin tinggi tingkat keuntungan ( earning per share ) maka laba yang diperoleh perusahaan semakin baik. Perusahaan yang memiliki nilai EPS yang tinggi akan menarik

Setelah dilakukan bioatografi DPPH, fraksi yang positif mengandung antioksidan dilakukan pemisahan senyawa target dengan senyawa yang lain dengan menggunakan

Nonspecific pain of the TMD is very often a symptom of a psychiatric disorder, for example depression with somatic symptoms, hypochondria, psychosis or is classified in the group

Tba ( St udiKasus Pengadi l anAgamaTanj ungBal ai ).Medi asimer upakansal ahsat ubent uk penyel esai ansengket ayangt er j adiant ar aduapi hakat aul ebi hdengan mel i bat kan pi

(3) Presentase rata-rata aktivitas belajar siswa pertemuan pertama kelas eksperimen yaitu 60%, pada pertemuan kedua presentase aktivitas siswa meningkat menjadi

Median adalah nilai tengah dari kelompok data yang telah diurutkan (kecil ke besar).. Susun data menurut urutan

Data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu pendapat dari responden mengenai Kualitas Layanan yang diukur dari Bukti Langsung, Kehandalan, Daya Tanggap,

Untuk mengakomodir permasalahan dalam lingkup konflik sosial saat pra dan purna operasional BRT Mebidangro, maka dilakukan survei kuesioner dan interview terhadap 500 orang