B. Pembahasan Data Hasil Penelitian
1. Implementasi Manajemen Risiko Pembiayaan
Pengayaan fitur BSM card dan perluasan jaringan ATM dan EDC yang menerima BSM card sebagai alat transaksi. BSM card dapat digunakan untuk tarik tunai, cek saldo, transfer antar bank anggota ATM Prima serta dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang merchant-nya menggunakan EDC BCA.
Artinya:
”Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Mekkah adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS.
Al-Hasyr: 7)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa konsep harta dalam Islam adalah flow concept, sehingga harta tidak boleh ditimbun namun harus dipergunakan sesuai dengan fungsinya untuk menggerakkan sektor riil (Munir dan Djalaluddin, 2006: 109).
Berkaitan dengan hal tersebut, Allah berfiman dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 34 bahwa Allah akan memberi siksaan yang pedih bagi orang-orang yang menimbun dan tidak mau memutar hartanya.
2
>3A$
4 . : ,(+8B
,( C / 905 &
3D & $
!-/ :
&6 (1 &
/ *&
& &%71 0
$2 &
=&
>? - .
/
#0(8;9 97 4
: &
,
Artinya:
”Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. (QS. At-Taubah: 34)
Menurut Imam Malik dalam Ibn Katsir (Muhammad, 1994: 124) yang dimaksud dengan al-kanzu adalah harta yang tidak ditunaikan zakatnya. Demikian juga Ats-Tsauri dan lainnya berkata dari ubaidillah dari Nafi’ dari Ibn Umar juga pernah berkata bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya, maka tidak termasuk al-kanzu, meskipun berada di bumi yang ketujuh.
Namun, dalam hal ini Imam Al-Ghazali dalam Munir dan Djalaluddin (2006: 116) menegaskan bahwa larangan menimbun harta sebagaimana disebutkan dalam surat at-Taubah ayat 34 tidak hanya karena mereka tidak membayar zakat seperti pemahaman ahli tafsir lainnya. Namun, makna yaknizun juga berarti memenjarakan fungsi uang (harta). Penimbunan dan pemenjaraan fungsi harta dilarang dalam Islam karena berkaitan dengan konsep distribusi harta sehingga harta tersebut tidak hanya berputar dikalangan orang-orang kaya saja.
Selain disebutkan dalam Al-Qur’an, perintah untuk memutar harta juga terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
yF yG }3•i z' yXx#
~3 x5~<
y#zk y3#
•?~5 yx y<
}•N z4
• yG }3•i y' z“ ~3xy0 y'•i}3yG •}~ y<x5 z'xy# •Q y$ƒY~0 x<y0 {dza y0 ~5•?
•W •N •(y$•/y €q…? zlz%• yD x<y0 z<y$xG} z3xy0 z<5 x<z {S y2z‚ z* yŒzy4 x<y yd•/y yF zl •/y0 z“ .•/ya “ …W ~ y
yd}'yUy x<z ” y2 zlz'ƒ y5 z* ~z x yj~# y$}2zˆ•* {(}oz* xF•? {my_•M
Artinya:
”Barang siapa minum dengan menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak, maka seolah-oleh di dalam perutnya bergolak api neraka jahannam” (HR Muslim: 3847)
Dari hadis tersebut, dapat diketahui bahwa siksa Allah bagi orang-orang yang menimbun harta sangat pedih. Hadis diatas sekaligus memperkuat ayat al-Qur’an dalam surat at-taubah ayat 34 yang telah disebutkan sebelumnya bahwa harta yang ditimbun di dunia itu pada akhirnya akan berubah menjadi siksa yang sangat pedih di akhirat nanti.
Oleh karena itu, bank syariah sebagai lembaga intermediasi pada dasarnya mempunyai fungsi untuk melakukan pendistribusian harta yang diimplementasikan melalui aktivitas pembiayaan untuk modal kerja dan kegiatan produktif lainnya. Sebagai langkah antisipasi terhadap risiko yang mungkin terjadi khususnya risiko pembiayaan maka pihak bank harus mempunyai prinsip itqan (profesionalisme) dalam melaksanakan aktivitasnya termasuk dalam hal pengelolaan risiko pembiayaan.
Menurut al-Qu’ayyid (2005: 106), yang dimaksud itqan (profesionalisme) adalah kemampuan mengerjakan dan menyelesaikan hal-hal tersebut secara sempurna dan sesuai dengan standar-standar tertinggi yang telah ditentukan. Adapun prinsip-prinsip itqan (profesionalisme) dapat dilihat dalam gambar berikut ini:
Gambar 4.2
Lingkaran Prinsip Profesionalisme
Sumber: al-Qu’ayyid (2005: 107)
Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa prinsip profesionalisme dapat diringkas dalam 3 hal yaitu ketelitian, perhatian kepada obyek secara menyeluruh, dan pengawasan. Yang dimaksud dengan ketelitian adalah mengerjakan suatu tugas dengan fokus penuh dan secara profesional. Perhatian kepada obyek secara menyeluruh adalah mengetahui apa saja yang dapat diketahui dari sesuatu yang menjadi fokus, baik mengenai unsur-unsur maupun hambatan-hambatannya, serta mendata semua kegiatannya baik yang kecil maupun besar. Sedangkan yang dimaksud pengawasan adalah mengikuti perkembangan pelaksanaan tugas tersebut hingga selesai. Ketiga hal tersebut harus sinergis dan saling mendukung satu sama lain, serta harus ada dalam pikiran sang pelaku ketika dia sedang melaksanakan tugas atau pekerjaannya (al-Qu’ayyid, 2005: 106).
Ketelitian
Perhatian Menyeluruh Pengawasan
Profesi onalis
me
Dari konsep tersebut, maka prinsip itqan (profesionalisme) harus senantiasa ada dalam setiap aktivitas seorang muslim, termasuk dalam aktivitas perbankan syariah, khususnya dalam aspek pengelolaan risiko pembiayaan. Dengan prinsip profesionalisme tersebut, diharapkan akan dapat meningkatkan produktivitas kerja.
Adapun proses implementasi manajemen risiko pembiayaan pada PT Bank Syariah Mandiri Cabang Malang sebenarnya telah dilakukan jauh sebelum adanya permohonan pembiayaan dari nasabah. Pada dasarnya, setiap bank memiliki kebijakan yang berbeda-beda dalam melakukan pengelolaan terhadap risiko.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada Bapak Andri Prisanto yang berwenang dalam fatwa kepatuhan pada hari selasa 3 Februari 2009 jam 16.00 WIB, BSM Cabang Malang menggunakan sistem Account Officer dalam melakukan pengelolaan pembiayaan.
Dimana Account Officer ini mempunyai tugas untuk membidik pasar yang mempunyai prospek yang bagus, mencari nasabah yang berpotensi, sekaligus mendampingi dan mengawal nasabah mulai dari proses pengajuan pembiayaan, pencairan, penagihan dan pelunasan. Sehingga dalam hal ini Account Officer juga menjalankan fungsi sebagai Marketing Officer. Sistem ini dinilai lebih efektif dan efisien oleh BSM Cabang Malang jika dibandingkan dengan menggunakan sistem terpisah antara Marketing Officer dan Account Officer . Dimana Marketing Officer mempunyai
tugas untuk membidik pasar yang mempunyai prospek yang bagus dan mencari nasabah yang berpotensi untuk diberikan pembiayaan.
Sedangkan Account Officer mempunyai tugas untuk mendampingi dan mengawal nasabah dalam permohonan pembiayaan sampai dengan pelunasan pembiayaannya.
Bagian-bagian yang berperan dalam proses pembiayaan di BSM Cabang Malang terdiri atas 3 (tiga) Account Officer, Manajer Pemasaran, Administrasi Pembiayaan, Pengawas Kepatuhan, dan Pimpinan Cabang sebagai pihak yang berwenang dalam pengambilan keputusan untuk menyetujui dan mengesahkan permohonan pembiayaan.
Berdasarkan keterangan dari Bapak Andri Prisanto bagian Pengawas Kepatuhan BSM Cabang Malang, dalam hal pengelolaan risiko pembiayaan BSM Cabang Malang tidak mempunyai Divisi khusus yang menangani hal tersebut. Namun, pengelolaan risiko sudah menjadi tugas dan wewenang yang melekat pada bagian-bagian yang terlibat dalam proses pembiayaan sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.
Divisi khusus yang menangani permasalahan tentang pengelolaan risiko hanya terdapat di kantor pusat. Kebijakan-kebijakan dari kantor pusat itu yang kemudian akan diderivasikan kepada bank cabang sebagai pedoman dalam menjalankan aktivitas operasionalnya. Dalam hal ini BSM menerapkan Enterprise Risk Management (ERM) yang berkesinambungan yang merupakan inisiatif strategis yang dikembangkan oleh bank, dan
diharapkan mampu meningkatkan kinerja bank sehingga menghasilkan value added bagi stakeholders. Adapun kerangka kerja dari Enterprise Risk Management (ERM) dapat dilihat dalam gambar dibawah ini:
Gambar 4.3
Kerangka Pengembangan ERM BSM
Sumber: Laporan tahunan BSM 2007
Berikut ini adalah program kerja Enterprise Risk Management (ERM) sebagai kebijakan-kebijakan dari kantor pusat untuk memantau perkembangan bank cabang khususnya mengenai penanganan terhadap risiko:
1. Pemutakhiran manual kebijakan dan pedoman operasional
Seluruh pegawai dan pejabat bank dibekali dengan manual kebijakan dan pedoman operasional untuk memberikan arah dalam menajalankan setiap aktivitas operasional bank baik di bidang pembiayaan, operasional dan jasa, treasury dan investasi,
IT corporate Governace
Risk Analytics Strategy
Trans Parency Portofolio Management
Risk Transfer
penghimpunan dana, maupun aktivitas umum lainnya. Manual ini memuat kebijakan, strategi, ketentuan dan prosedur, operasional, termasuk fungsi, tugas, tanngung jawab, dan wewenang setiap pegawai atau pejabat yang terkait dengan aktivitas operasional tertentu.
2. Optimalisasi organisasi manajemen risiko
a. Pelaksanaan pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi Manajemen Risiko dan divisi terkait lainnya dengan cara memfasilitasi, mengembangkan, dan menyempurnakan berbagai laporan terkait manajemen risiko, diantaranya: laporan pembiayaan bulanan, laporan profil risiko bulanan, monitoring kinerja perusahaan, dan sebagainya.
b. Penetapan Direktur yang secara khusus membidangi penerapan
manajemen risiko agar upaya implementasi manajemen risiko dapat dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi dengan baik.
c. Pembentukan komite pemantau risiko yang berfungsi melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaan strategi dan kebijakan manajemen risiko yang telah ditetapkan.
d. Reorganisasi Komite Manajemen Risiko (KMR) melalui pembentukan working group KMR yang membidangi Asset & Liability (ALMA) dan pembiayaan, dan working group KMR yang membidangi operasional.
Working group KMR ini beranggotakan kepala satuan kerja kantor
pusat yang terkait langsung pada aktivitas ALMA, pembiayaan, dan operasional bank.
3. SIMRIS (Syariah Mandiri Risk Information System)
SIMRIS merupakan sistem aplikasi manajemen risiko yang meliputi risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar, risiko operasional, risiko legal, risiko strategik, risiko kepatuhan dan risiko reputasi. Selain bertujuan untuk menyediakan informasi yang up to date mengenai profil risiko bank, kedepan SIMRIS juga diharapkan mampu menyajikan informasi mengenai jumlah modal yang harus dialokasikan (capital charge) untuk masing-masing risiko yang dihadapi bank.
4. Penetapan limit risiko
Dalam rangka mitigasi risiko maka penetapan limit risiko merupakan salah satu teknik yang digunakan untk menyesuaikan eksposur dengan modal yang dimiliki bank. Kebijakan limit risiko yang telah ditetapkan diantaranya adalah:
a. Limit wewenang memutus pembiayaan dan restruktur, termasuk penetapan akreditasi kewenangan pemutus pembiayaan.
b. Limit transaksi operasional.
c. Limit transaksi dealer.
d. Limit portofolio pembiayaan untuk sektor ekonomi dan produk tertentu.
e. Limit in house BMPK (Batas Maksimum Pemberian Kredit).
f. Limit portofolio rekanan bank (perusahaan penjaminan asuransi kerugian dan asuransi jiwa).
5. Pengembangan perangkat analisis pembiayaan
Guna mendukung pertumbuhan pembiayaan yang sehat dan memberikan return yang optimal maka sangat diperlukan infrastruktur pembiayaan yang memadai dan handal. Untuk itu BSM melakukan:
a. Pengembangan Rating dan Scoring System b. Pengembangan rating Sektor Industri
c. Penyempurnaan Nota Analisa Pembiayaan (NAP)
Selain kebijakan dan pengawasan risiko langsung dari kantor pusat, bank cabang tetap mempunyai tugas untuk melakukan pengelolaan risiko sebagaimana yang telah terstandarisasi dari kantor pusat. Berkaitan dengan pengelolaan risiko, PT BSM Cabang Malang melakukan penghitungan dan kuantifikasi risiko dengan menggunakan FRR (Finance Rate of Return) yaitu melakukan penghitungan terhadap proyeksi keuntungan yang akan dicapai oleh BSM dengan membandingkan terhadap risiko yang dihadapi.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada Bapak Andri Prisanto bagian Pengawas Kepatuhan, proses pengelolaan risiko yang diterapkan di BSM Cabang Malang sebagai berikut:
1. Identifikasi dan pemetaan risiko
2. Kuantifikasi atau menilai peringkat risiko.
3. Menegaskan profil risiko dan rencana manajemen risiko 4. Pengendalian risiko
5. Solusi dan implementasi tindakan terhadap risiko.
6. Pemantauan dan kaji ulang manajemen risiko.
Selain itu, BSM Cabang Malang secara kontinue harus melaporkan hasil dari pengelolaan pembiayaannya termasuk kendala dan risiko yang dihadapi kepada BSM pusat. Hal ini berlaku untuk seluruh BSM kantor cabang. Setelah itu, BSM pusat akan menyusun profil risiko sebagai implementasi dari pemutakhiran manual dan pedoman kebijakan operasional yang akan menjadi acuan dan pedoman untuk bank cabang.
Format dan laporan profil risiko tersebut meliputi:
1) Ringkasan penilaian profil risiko berupa tabel yang memuat
laporan tentang tingkat dan trend seluruh aksposur yang relevan.
2) Analisis tingkat dan trend risiko, berupa uraian secara singkat mengenai alasan utama perubahan tingkat dan trend risiko dibandingkan dengan penilaian risiko periode sebelumnya, baik per jenis risiko yang relevan maupun penilaian risiko secara keseluruhan.
3) Penilaian risiko bank, berisi tentang uraian pelaksanaan review
yang dilaksanakan selama 3 bulan terakhir (periode sebelumnya) termasuk fokus dan prioritas penilaian.
4) Tindak lanjut hasil penilaian risiko bank, berisi tentang uraian
hasil dan rekomendasi penilaian yang ditindaklanjuti secara efektif melalui tindakan korektif, lengkap dengan penjelasan mengenai penyebab tindakan korektif harus dilaksanakan.
5) Pendapat Satuan Kerja Audit Intern, berisi tentang uraian hasil penilaian oleh SKAI terhadap laporan profil risiko triwulanan termasuk uraian mengenai fokus, prioritas dan permasalahan audit (pelaksanaan corrective actions, perubahan organisasi, sistem, dan prosedur baru).
6) Ringkasan matriks Risiko yang merupakan uraian pendukung
untuk menghasilkan laporan profil risiko termasuk uraian profil risiko masing-masing aktivitas fungsional.
Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No. 7/25/PBI/2005 Untuk meningkatkan kompetensi sumber daya insani terkait manajemen risiko, maka BSM Cabang Malang mengadakan program sertifikasi manajemen risiko diantaranya dengan cara:
1. Membuat modul sertifikasi manajemen risiko dan test online dalam aplikasi e-learning yang dapat diakses oleh seluruh pegawai. Test online diselenggarakan bank untuk menyaring
pegawai yang telah siap mengikuti ujian sertifikasi manajemen risiko.
2. Melakukan training internal sertifikasi manajemen risiko dan try out untuk memaksimalkan persiapan ujian sertifikasi tersebut.
3. Mengikutsertakan seluruh pegawai bank dalam ujian sertifikasi
manajemen risiko yang diselenggarakan oleh Badan Sertifikasi Manajemen Risiko.
2. Proses Pembiayaan di PT BSM Cabang Malang