• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Paket Pengendalian Hama PBK

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR TAHUN 2012 (Halaman 27-33)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Implementasi Paket Pengendalian Hama PBK

19

Perkembangan buah kakao yang telah terserang oleh hama PBK menunjukkan perkembangan normal. Gejala buah yang terserang hama PBK akan terlihat pada saat buah matang atau buah akan dipanen. Buah yang telah terserang hama PBK biasanya akan menampakkan warna buah agak jingga atau pucat keputihan. Selain itu buah menjadi lebih berat dan tidak terdengar adanya suara ketukan apabila buah diguncang. Hal ini terjadi karena timbulnya lendir dan kotoran pada daging buah dan kerusakan yang terdapat pada biji. Kerusakan yang terjadi pada daging buah terjadi akibat serangan hama PBK yang mensekresikan enzim hek-so-kinase, malate dehidrogenase, fluorescent esterase and malic enzyme polymorphisms (Tan et al., 1988).

4.4.1. Persentase buah terserang (%)

Berdasarkan hasil pengamatan awal yang dilakukan sebelum aplikasi perlakuan, persentase tingkat serangan hama PBK pada seluruh areal adalah 76,15%. Pengamatan selanjutnya dilakukan pada waktu 4 minggu setelah aplikasi (MSA). Pada pengamatan ke-1 setelah aplikasi perlakuan terjadi peningkatan serangan hama PBK pada seluruh perlakuan. Peningkatan tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol yaitu 100%, sedangkan perlakuan P1, P2 dan P3 masing-masing 96,67%, 96% dan 96,47%. Pada pengamatan kedua atau pengamatan yang dilakukan pada 6 minggu setelah aplikasi perlakuan terjadi peningkatan buah yang terserang pada perlakuan P1, P2, P3, dan P4 yaitu 97,50%, 100%, 100% dan 100%. Penurunan buah yang terserang terjadi pada pengamatan ketiga atau pada 8 MSA pada perlakuan P1, P2, P3, dan P4 yaitu 96,67%, 90,67%, 97,50% dan 96,00%. Persentase buah yang terserang dapat dilihat pada Tabel 2.

20

Tabel 3. Persentase buah terserang setelah aplikasi

Perlakuan Pengamatan ke- (%)

1 2 3 4 5

Penyemprotan kimia 96,67a 97,50a 96,67ab 85,00a 46,60b Pengendalian hayati 96,00a 100,00a 84,02b 93,33a 37,33b Penyarungan 91,43a 100,00a 97,50a 91,43a 0,00c Kontrol 100,00a 100,00a 96,00ab 96,00a 91,29a Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata BNT pada taraf 5%

Dalam pengendalian hama penyakit terpadu pada serangan hama PBK, teknologi yang dianjurkan adalah pemangkasan, panen sering dilanjutkan dengan mengumpulkan dan membenamkan kulit buah kakao (sanitasi) serta dilanjutkan dengan selalu monitoring kebun yang diikuti dengan penyemprotan secara kimia apabila serangan sedang dan berat telah mencapai 30% (Sulistyowati et al., 1995). Penyemprotan dengan menggunakan bahan aktif Sipermetrin plus klorfirifos sebanyak 5 kali dengan konsentrasi formulasi antara 0,0375-0,15% pada saat buah berumur 2-3 bulan atau panjang < 9 cm efektif menekan serangan hama PBK dengan nilai efikasi antara 56,27%-71,47% dan menekan kehilangan hasil dengan nilai efikasi antara 75,88%-88,89% (Suliatyowati et al., 2007). Metode penyarungan buah dengan menggunakan plastik merupakan metode yang dapat dilakukan untuk mencegah imago PBK meletakkan telur pada buah kakao. Hampir 100% buah yang disarungi bebas dari serangan hama PBK. Akan tetapi metode ini belum banyak dilakukan oleh petani karena petani telah mengadopsi penggunaan kimiawi untuk mengendalikan hama PBK (Morsamdono dan Wardojo, 1984).

4.4.2. Intensitas serangan (%)

Intensitas serangan hama PBK dilihat berdasarkan biji yang terserang pada masing-masing buah yang dipanen. Intensitas serangan hama PBK dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu serangan ringan, serangan sedang dan serangan berat. Intensitas serangan hama PBK dikategorikan sebagai serangan ringan apabila ± 10% biji tidak dapat dikeluarkan dari kulit buah, serangan sedang apabila 10-15% biji tidak dapat dikeluarkan dari kulit buah sedangkan serangan berat jika lebih dari 50% biji tidak dapat dikeluarkan dari biji.

Pengamatan intensitas serangan dilakukan dengan cara menghitung jumlah biji yang dapat dikeluarkan pada masing-masing buah yang dipanen.

21

Berdasarkan hasil pengamatan awal sebelum aplikasi perlakuan dilakukan, intensitas serangan rata-rata adalah berat yaitu sebanyak 67,33%. Pada 4 MSA, serangan ringan tertinggi terjadi pada perlakuan P2 yaitu 53,67%, serangan sedang 21,33% dan serangan berat 21,00%. Sedangkan terendah pada perlakuan kebiasaan petani atau kontrol yaitu 13,67%, akan tetapi intensitas serangan berat tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol. Jika dibandingkan dengan ketiga perlakuan, perlakuan kontrol mendapat serangan dengan intensitas berat tertinggi yaitu 67,00%. Pada 6 MSA terdapat beberapa perlakuan dengan intensitas serangan yang meningkat dan mengalami penurunan. Pada 6 MSA, intensitas serangan ringan dan berat rata-rata terjadi pada keempat perlakuan, sedangkan intensitas serangan berat perlakuan P1 dan P4 yang mengalami penurunan sedangkan perlakuan lainnya mengalami peningkatan. Pada 8 MSA, rata-rata intensitas serangan meningkat baik serangan ringan, sedang maupun berat. Intensitas serangan ringan pada 4 MSA terendah pada perlakuan kontrol 6,67% dan tertinggi pada perlakuan P1 36,33%. Intensitas serangan sedang tertinggi terjadi pada perlakuan P3 26,67% dan terendah pada perlakuan P4 4,00 sedangkan intensitas serangan berat tertinggi pada perlakuan P4 65,33% dan terendah pada perlakuan P2 29,67%. Data intensitas serangan (%) setelah aplikasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Intensitas serangan (%) setelah aplikasi perlakuan

Perlakuan Pengamatan ke- (%)

1 2 3 4 5

Penyemprotan kimia 74,00a 82,50a 57,93a 78,33a 24,10b Pengendalian hayati 49,78b 83,21a 51,11a 79,33a 12,40bc Penyarungan 66,31ab 78,28a 70,05a 84,95a 0,00c

Kontrol 77,78a 77,17a 75,78a 89,81a 91,28a

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada BNT taraf 5%

Perkembangan hama PBK pada areal perkebunan kakao dipengaruhi oleh berbagai faktor. Curah hujan, kelembapan kebun dengan naungan rapat dan ketersediaan buah di kebun merupakan faktor yang menentukan keberadaan PBK pada areal tanaman kakao. Populasi hama PBK umumnya rendah pada musim hujan dan serangan tinggi terjadi pada kondisi tanaman kakao dengan naungan lengkap (Lim, 1984; Wardojo, 1981). Kondisi areal tanaman kakao pada perkebunan kakao milik rakyat secara umum di Kabupaten Kepahiang

22

mempunyai kelembaban yang cukup tinggi. Hal ini terjadi karena tanaman kakao berada diantara tanaman kopi. Penggunaan jarak tanam yang terlalu rapat dan tidak beraturan menyebabkan kelembaban di sekitar tanaman kakao cukup tinggi. Sehingga kondisi tersebut cukup mendukung perkembangan hama PBK.

Kegiatan pemangkasan yang dilakukan terhadap tanaman kakao, tanaman kopi serta tanaman naungan dilakukan sebelum aplikasi perlakuan. Tujuan dari pemangkasan ini adalah untuk mengurangi kelembaban. Setelah pemangkasan dilakukan, kemudian dilakukan pemupukan agar pertumbuhan tanaman seragam. Pemeliharaan tanaman kakao yang biasa dilakukan oleh petani di Kabupaten Kepahiang adalah tidak melakukan pemangkasan secara rutin, tanpa pemupukan dan tanpa melakukan pengendalian hama penyakit. Sehingga kondisi tersebut sangat mendukung keberadaan hama penyakit.

4.4.3. Hama penyakit lain

Selain hama PBK, hama penyakit lain yang juga menyerang areal tanaman kakao di Kabupaten Kepahiang adalah Helopelthis sp, penyakit busuk buah (Phytopthora palmivora Butl) dan bajing. Serangan hama Helopeltis sp merupakan serangan hama tinggi diantara hama penyakit busuk buah dan bajing. Pada 4 MSA, serangan hama Helopeltis sp tertinggi 49,30%, penyakit busuk buah 17,61% dan hama bajing 11,97%. Sampai 8 MSA serangan hama Helopeltis terus mengalami peningkatan, sedangkan serangan penyakit busuk buah dan hama bajing mengalami penurunan. Serangan hama penyakit lain pada areal kakao di Kabupaten Kepahiang dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 5. Serangan hama penyakit lain pada areal kakao di Kabupaten Kepahiang Nama Hama/Penyakit 4 MSA Intensitas serangan (%) 6 MSA 8 MSA Kepik Penghisap buah (Helopeltis Sp.) 49,30 30,94 49,61 Penyakit busuk buah (P. palmivora Butl) 17,61 6,47 3,70

Bajing 11,97 16,55 7,75

Sumber : Data primer diolah 2012

Hama Helopeltis sp, merupakan hama yang menimbulkan kerusakan terhadap tanaman kakao dengan cara menusukkan alat mulutnya ke dalam jaringan tanaman untuk menghisap cairan sel-sel di dalamnya. Selain merusak

23

buah, hama ini juga merusak pucuk atau ranting. Tusukan pada buah kakao menyebabkan timbulnya bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman. Serangan pada buah muda akan menyebabkan buah mati. Bercak pada buah yang terserang berat akan menyatu sehingga jika buah dapat berkembang terus permukaan kulit buah menjadi retak dan terjadi perubahan bentuk sehingga perkembangan buah menjadi terhambat. Pengendalian hama Helopeltis dapat dilakukan secara biologis dan kimiawi. Pengendalian secara biologis dapat dilakukan dengan menggunakan semut hitam (Dolichoderus thoracicus Mayr) dan jamur Beauveria bassiana (Puslit Koka, 2004).

Penyakit busuk buah kakao yang disebabkan oleh Phytopthora palmivora Butl merupakan salah satu penyakit penting yang menyerang tanaman kakao. Penyakit busuk buah dapat menyerang buah muda hingga buah yang telah dewasa. Penyebaran penyakit dapat terjadi melalui beberapa cara, terutama percikan air hujan, hubungan langsung antara buah sehat dan buah sakit serta melalui perantara binatang. Gejala buah yang terserang penyakit busuk buah adalah pembusukan yang disertai bercak coklat kehitaman dengan batas yang tegas. Serangan biasanya dimulai dari ujung atau pangkal batang. Serangan penyakit busuk buah pada buah muda akan menyebabkan kebusukan pada buah muda, serangan pada buah yang telah dewasa akan menimbulkan kerusakan pada biji akan tetapi buah masih dapat dipanen dengan kualitas biji yang tidak bagus. Kerugian yang diakibaktkan oleh serangan penyakit busuk buah 20-80%. Pengendalian penyakit busuk buah dapat dilakukan dengan menanam klon yang tahan terhadap serangan penyakit busuk buah. Selain itu penyakit ini juga dapat dikendalikan dengan melakukan sanitasi dan penyemprotan dengan menggunakan fungisida racun kontak (Puslit Koka, 2004).

Hama bajing merupakan salah satu hama penting pada tanaman kakao. Serangan hama bajing tidak hanya menyerang buah yang masih muda namun serangan hama bajing juga menyerang buah kakao yang siap panen. Akibat serangan hama bajing, kerugian yang diderita oleh petani cukup besar. Penurunan kakao membuat pendapatan petani mengalami penurunan hingga > 50%. Akibat kerugian yang ditimbulkan oleh hama bajing, menyebabkan hama bajing menjadi hama penting pada tanaman kakao. Serangan hama bajing dapat menurunkan produktivitas tanaman kakao cukup banyak dari produktivitas 900

24

kg/ha hanya mampu menghasilkan sekitar 400 kg/ha dalam sekali musim tanam (Sitanggang, 2011).

Gejala serangan yang ditimbulkan oleh hama bajing adalah ditandai dengan adanya lubang pada buah kakao sehingga buah akan rusak atau busuk karena masuknya air hujan dan adanya serangan bakteri atau jamur. Gejala serangan yang disebabkan oleh hama bajing adalah umumnya dijumpai pada buah yang telah masak karena hama bajing hanya akan memakan daging buah, sedangkan bijinya tidak dimakan. Biasanya pada pohon kakao yang terserang hama bajing akan berserakan biji-biji kakao yang tidak dimakan (Anonymous, 2011).

Menurut Maria (2011), pengendalian hama bajing dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

a). Mengadakan perawatan kebun dengan sanitasi.

b). Membersihkan tempat-tempat yang menjadi sarang bajing. c). Perburuan atau gropyokan yang dilakukan secara massal.

d). Pembukaan lahan perkebunan yang jauh dari hutan, karena pembukaan hutan untuk perkebunan akan menyebabkan kawanan bajing mencari makanan ke sekitar perkebunan rakyat.

Pengendalian bajing yang telah dilakukan oleh petani di Kabupaten Kepahiang adalah melalui perburuan serta pemasangan umpan. Perburuan setiap satu minggu sekali telah dilakukan pada beberapa sentra penanaman kakao di Kabupaten Kepahiang. Salah satu Desa yang telah melakukan perburuan secara rutin adalah desa Tebat Monok. Perburuan bajing dilakukan setiap satu minggu sekali sehingga pada saat ini populasi serangan hama bajing telah mampu diturunkan.

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR TAHUN 2012 (Halaman 27-33)

Dokumen terkait