• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Perhutanan Sosial di Hutan Lindung Gambut

Menurut P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 bahwa Perhutanan Sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya dalam bentuk Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Rakyat, Hutan Adat dan Kemitraan Kehutanan. Skema Perhutanan Sosial yang bisa diterapkan di Kawasan Hutan Lindung Gambut yang telah dirambah masyarakat yang berada di KPHL Sungai Bram Itam lebih tepat diterapkan dalam bentuk Hutan Kemasyarakatan (HKm), yaitu hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat. Hal ini ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan juga penciptaan model pelestarian hutan yang efektif. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya dilakukan mulai dari kota, melainkan pembangunan juga dapat dilaksanakan oleh masyarakat pinggiran (masyarakat sekitar hutan).

Tantangan dalam pelaksanaan skema Perhutanan Sosial di lahan gambut yaitu tingkat produktivitas lahannya sangat beragam yang

48

dipengaruhi oleh ketebalan, kematangan, lapisan sub stratum di bawahnya, bahan penyusun, lingkungan pembentukan dan pengelolaan atau input yang diberikan. Oleh karena itu, Perhutanan Sosial di kawasan Hutan Lindung Gambut terbatas pada pengembangan komoditas HHBK dan Jasa lingkungan. Hal ini berimplikasi pada hak akses masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan dan lahan untuk pengembangan agribisnis berbasis hutan harus sesuai dengan tipologi biofisik dan sosial ekonomi dan budaya masayarkat.

Pembangunan demplot pola agroforestry di KPHL Sungai Bram Itam dengan menanam jenis-jenis tanaman hutan yang adaptif di lahan gambut yang dikombinasikan dengan komoditas HHBK jenis pinang dan/atau kopi liberika yang adaptif di lahan gambut merupakan pilihan yang tepat untuk memulihkan kawasan hutan gambut yang rusak dan/atau lahan gambut yang telah diokupasi masyarakat serta sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Saat ini pihak KPHL Sungai Bram Itam telah melakukan kegiatan pendataan sosial-ekonomi, identifikasi tata batas serta penyelesaian berbagai persoalan lainnya terkait dengan masyarakat dan pengelolaan hutan.

Untuk mendukung keberhasilan program Perhutanan Sosial di lahan gambut sebagai berikut (Suharti, 2017):

1. Diperlukan dukungan akses kepada sumber-sumber pendanaan (per-bank-an, dan lain-lain) serta skema-skema bantuan pinjaman dana (kredit mikro) atau hibah dan lain-lain.

2. Keberhasilan progrm PIR-Trans dapat menjadi salah satu acuan untuk implementasi Perhutanan Sosial di lahan gambut tersebut.

3. dukungan aktif KPH diharapkan dapat menjadi jembatan penghubung pihak pengelola hutan dengan entitas bisnis dalam mewujudkan hutan lestari dan masyarakat sejahtera. Oleh karena itu, peran KPH perlu dioptimalkan

4. Perlu peningkatan fasilitasi pendampingan untuk masyarakat oleh LSM, Badan Penyuluhan, dan Pokja Percepatan Perhutanan Sosial

(Pokja-49

PPS). Revitalisasi Pokja-PPS sebagai pendamping utama pemerintah dalam pengembangan perhutanan sosial sangat diperlukan.

5. Tidak ada peraturan-perundangan yang besifat berlaku untuk semua kondisi di lapangan. Untuk mempercepat capaian target implementasi Perhutanan Sosial di lahan gambut perlu dikembangkan strategi kerja baru dimana pejabat di lapangan pada tingkat tertentu diperkenankan melakukan penyesuaian kegiatan sesuai dengan kondisi di lapangan.

G. Kondisi Biofisik 1. Tutupan vegetasi

Vegetasi awal merupakan hutan alam primer, kemudian dimanfaatkan kayunya oleh Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Kegiatan HPH ini merobah hutan primer menjadi hutan sekunder. Hutan sekunder selanjutnya menjadi terlantar karena kegiatan pembinaan sisa tebangan tidak dilakukan secara maksimal oleh HPH.

Gambar 16. Kondisi Hutan alam sekunder dan yang berbatasan dengan bekas kebakaran yang sudah mulai dibuka untuk lading

Berbagai gangguan dan tekanan lain terhadap kawasan hutan sekunder ini antara lain kebakaran hutan dan pemanfaatan lahan oleh masyarakat sekitar (Gambar 16). Kondisi demplot sebelum kegiatan ini adalah areal bekas terbakar yang ditanam sawit oleh masyarakat.

50

2. Tanah

Pengukuran tanah gambut dilakukan dengan pemboran gambut dengan Bor Eijelkamp untuk menduga ketebalan gambut dan mengambil contoh gambut (Wahyuwanto & Subagyo, 2002). Pengamatan tingkat kematangan gambut dilakukan sesuai dengan kriteria Soil Survei Staff (1998). Berdasarkan hasil pemboranpada 7 titik pemboran di demplot 1 ditemukan bahwa kedalaman gambut di lokasi hanya 60-100 cm, dimana lapisan gambut terdiri dari bahan saprik (matang) pada lapisan 0-25 cm, hemik (setengah matang) pada lapisan 25-50 cm; dan fibrik (mentah), sedangkan mulai lapisan 50-75 cm terdiri dari lapisan yang didominasi oleh tanah mineral dengan tekstur berdebu sampai berliat (Tabel 13 dan Gambar 17).

Tabel 13. Deskripsi titik pemboran di lokasi-lokasi demplot Titik

pemboran/Lokasi Kedalaman

(cm) Kematangan Keterangan*

1. Di demplot 1 0-25 Saprik Muka air tanah di 25 cm*

25-50 Hemik

50-75 Fibrik

75-100 Mineral Tekstur liat

2. Di demplot 1 0-25 Saprik Muka air tanah di 25 cm

25-50 Hemik

50-75 Fibrik

75-100 Mineral Tekstur liat

3. Di demplot 1 0-25 Saprik Muka air tanah di 25 cm

51

Tabel 13. (Lanjutan) Titik

pemboran/Lokasi Kedalaman

(cm) Kematangan Keterangan*

5. Di demplot 1 0-25 Saprik Muka air tanah

75-100 Mineral Ada ciri tanah sulfat Keterangan: Tinggi muka air tanah ditentukan berdasarkan kedalaman contoh tanah

dari pemboran tanah yang sudah mulai basah

Proses kematangan bahan organik di lahan gambut dipengaruhi juga oleh fauna tanah. Fauna tanah dapat berperan penting dalam proses dekomposisi bahan organik, agregasi, ketersediaan dan siklus hara, sehingga dapat memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas lahan. Keaekaragaman dan kelimpahan fauna tanah di lahan rawa gambut sangat ditentukan oleh tipologi lahan, jenis tanah dan penggunaan lahan (Maftu’ah & Mukhlis, 2015).

Tingkat kemasaman tanah di lapangan termasuk masam (pH indikator) termasuk masam (pH 5). Sedangkan pada titik 3 pemboran di hutan alam sekunder di sekitarnya, pada lapisan 0-25 cm tanah gambut termasuk fibrik (mentah), lapisan 25-75 cm termasuk hemik (setengah

52

matang) dan 75-130 cm termasuk fibrik (mentah) dan setelah lapisan 130 cm ditemukan bahan mineral tanah dengan tekstur berdebu sampai berliat. Deskripsi lapangan hasil pemboran pada berbagai kedalaman dapat dilihat pada Tabel 13.

Gambar 17. Deskripsi sifat-sifat fisik gambut di lokasi demplot Berdasarkan Tabel 13 di atas terlihat taksiran dari tinggi muka air tanah di lokasi sub demplot 1 dengan saluran drainase cacing setinggi (20-25 cm), demplot 2 dengan saluran drainase cacing dan kanal setinggi (25-50 cm) dan di demplot 3 dengan saluran drainase cacing dan kanal setinggi 22-23 cm dan di hutan alam sekunder tanpa saluran cacing dan kanal setinggi 25 cm. Saluran cacing di demplot 2 dan 3 mengalir ke anak sungai Bram Itam yang berasal dari hulu sungai Bram Itam dengan vegetasi yang masih ditutup oleh vegetasi hutan alam sekunder.

3. Tinggi muka air tanah

Pengamatan tinggi muka air tanah dilakukan dengan prosedur sebagai berikut (Hooljer et al., 2011; Modifikasi):

1. Menyiapkan pipa paralon diameter sepanjang sekitar 100 cm dengan diameter 2 inci (sebelumnya diberi lobang sebanyak 4 di sekeliling pipa pada setiap selang tinggi 10 cm) mulai dari bawah sampai ketinggian 70 cm. Jumlah seluruh titik sekitar 28 buah dengan diameter sekitar 1 cm.

2. Pemboran dengan Bor Eijelkam pada titik yang ditentukan dengan tujuan untuk mengeluarkan bahan tanah gambut;

53

3. Memasukkan pipa paralon di atas sampai mencapai lapisan sebelum lapisan mineral (substrat). Sisa paralon yang muncul di atas permukaan gambut setinggi 30 cm.

4. Jumlah titik pengamatan (paralon) sebanyak 6 titik sampel dengan rincian 3 titik pada lokasi dengan saluran drainase cacing (titik sampel 1-3) dan 3 titik di areal dengan drainase saluran cacing dan kanal (titik sampel 4-6).

5. Salah satu lokasi titik pengamatan dapat dilihat pada Gambar 18.

Gambar 18. Salah satu titik pengukuran tinggi muka air tanah (TMA) Hasil pengamatan tinggi muka air tanah di 6 titik pengamatan pada demplot yang dilakukan pada taggal 1 sampai 13 Desember 2017 pada areal yang hanya ada saluran cacing diperoleh rata-rata antara 20,2 – 33,0 cm, sedangkan pada areal yang ada kanal dan saluran cacing rata-rata tinggi muka air tanah antara 20,3 – 45,0 cm. Hal ini menunjukkan bahwa jika kondisi cuaca tidak hujan, maka areal yang ada saluran kanal telah mempercepat penurunan tinggi muka air tanah. Hasil pengukuran tinggi muka air tanah pada 6 (enam) titik pengamatan disajikan pada

54

Tabel 14 dan grafik rata tinggi muka air tanah selama bulan Desember 2017 disajikan pada Gambar 19.

Tabel 14. Tinggi muka air tanah pada beberapa titik pengamatan di Saren Jaya

Titik pe-ngamatan

Kedalaman air tanah (cm) pada tanggal dan Bulan Desember 2017 1 Des 2 Des 3 Des 4 Des 5 Des 6 Des 7 Des 8 Des 9 Des 10 Des 11 Des 12 Des 13 Des 1 30,0 30,0 33,0 36,0 36,0 15,0 22,0 22,0 28,0 12,0 10,5 22,0 21,0 2 30,0 31,0 35,5 33,5 36,0 32,0 30,0 31,0 37,0 25,0 30,0 30,0 29,0 3 25,0 24,0 29,5 31,0 27,0 23,0 24,0 35,0 32,0 27,0 20,0 28,0 25,0 Rata-rata 28,3 28,3 32,7 33,5 33,0 23,3 25,3 29,3 32,3 21,3 20,2 26,7 25,0 4 43,0 43,0 46,0 45,0 46,0 39,0 40,0 36,5 47,0 32,0 27,0 39,0 37,0 5 44,0 23,0 26,0 26,0 24,0 20,0 19,0 20,0 37,0 21,0 19,0 20,0 22,0 6 38,0 38,0 40,0 41,0 41,0 39,0 39,0 37,0 51,0 31,0 15,0 37,0 35,0 Rata-rata 41,7 34,7 37,3 37,3 37,0 32,7 32,7 31,2 45,0 28,0 20,3 32,0 31,3

Gambar 19. Grafik rata-rata tinggi muka air tanah selama bulan Desember 2017

4. Pengamatan subsidensi permukaan lahan gambut

Prosedur pengamatan subsidensi permukaan gambut dilakukan dengan prosedur sebagai berikut (Hooljer et al., 2011; Modifikasi):

55

a. Penentuan lokasi yang representatif, terhindar dari tanaman dan tunggak-tungkak pohon

b. Penentuan titik tengah dan titik diagonal sepanjang masing-masing 5 (lima) meter ke arah Utara–Timur, arah Utara-Barat, arah Selatan - Barat dan arah Selatan-Timur. Titik tengah ditandai dengan pemancangan pipa paralon dengan diameter 2 inci sampai kedalaman tanah mineral dengan tinggi yang muncul dipermukaan tanah gambut sekitar 150-175 cm.

c. Demikian juga pada ke 4 (empat) titik diagonal ditancapkan pipa paralon dengan diameter sekitar 1 inci, dengan tinggi yang sama yang muncul ke permukaan sekitar 150-175 cm.

d. Pemasangan benang mulai dari titik tengah (diberi tanda: pada paralon dengan diameter 2 inci, pada ketinggian 150 cm) sampai ke masing-masing ke 4 (empat) titik diagonal.

e. Pengukuran ketinggian benang dari permukaan tanah gambut pada jarak setiap 10 cm mulai dari titik tengah (sehingga terdapat 50 titik pengukuran pada setiap diagonal)

f. Pengukuran berikutnya akan dilakukan setiap 6 (enam) bulan

g. Salah satu lokasi titik pengamatan subsidensi dapat dilihat pada Gambar 20.

Gambar 20. Pengamatan Subsidensi Permukaan Lahan Gambut

56

V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Hasil kegiatan pilot project dapat disimpulkan bahwa:

1. Partisipasi masyarakat meningkat dan sudah ada saling kesepahaman untuk melakukan restorasi lahan gambut.

2. Saat ini masyarakat penggarap dengan pihak KPHL Sungai Bram Itam semakin harmonis dengan berkomitmen untuk merehabilitasi HLG dengan pola tanam seperti demplot yang dibangun.

3. Telah dibangun demplot 10,5 ha dan silvopastura. Penerapan pola paludikultur dan agroforestry berbasis tanaman pinang dan/atau kopi leberika serta silvopstura dengan ternak kambing sistem bergulir.

Program silvopastura sekaligus untuk menambah pendapatan dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Pembangunan demplot tersebut telah mendorong kelompok tani lainnya berkeinganan untuk bergabung.

4. Demplot yang dibangun ini telah memenuhi harapan BRG dalam restorasi lahan gambut, yaitu 3 R (revegetasi, rewetting dan revitalisasi). Revegetasi dengan menanam jenis-jenis lokal yang adaptif di lahan gambut. Rewetting, saat ini telah dibangun sekat kanal oleh BRG di kawasan HLG di KPHL Sungai Bram Itam. Aspek revitaliasi dilakukan melalui pola tanam agroforestry berbasis tanaman pinang/kopi liberika yang memiliki nilai ekonomi tinggi (pinang dan kopi liberika merupakan komoditas andalan masyarakat setempat) serta bantuan ternak kambing sistem bergulir sehingga bisa memberikan tambahan pendapatan masyarakat yang terlibat kegiatan restorasi di lahan gambut.

5. Demplot ini bisa menjadi model penerapan skema Perhutanan Sosial di lahan gambut yang telah dirambah masyarakat sebagai upaya penyelesaian konflik lahan di KPHL Sungai Bram Itam.

57

Dokumen terkait