Kawasan Hutan Lindung Gambut Sungai Bram Itam semula merupakan kawasan dengan fungsi produksi terbatas (HPT). Kawasan tersebut dikelola oleh HPH PT. Betara Agung Timber berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan Nomor SK. 19/Kpts-1/1977 tanggal 1 Januari 1977. Wilayah tersebut termasuk dalam kelompok hutan Tungkal-Betara dan pada tahun 1992 telah ditata batas luar. Total kawasan hutan yang dikelola oleh PT. Betara Agung Timber sesuai SK Menteri Kehutanan seluas 260.350 ha. Ijin pengelolaan berakhir pada tanggal 1 Januari 1997 dan tidak diperpanjang lagi. Pengelolaan kawasan hutan Bram Itam selanjutnya dilimpahkan kepada PT Wira Karya Sakti (PT WKS) berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor SK. 381/Menhut-IV/1997 tanggal 4 April 1997 untuk menghindari kekosongan pengelolaan.
Sesuai SK Gubernur Provinsi Jambi No.108 tahun 1997 tentang penetapan luas kawasan hutan di Provinsi Jambi, bahwa kawasan hutan tersebut ditingkatkan statusnya menjadi kawasan Hutan Lindung Gambut.
Setelah adanya padu serasi antara Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dan Tata Ruang Wilayah Propinsi Jambi, status fungsi kawasan berubah menjadi Hutan Lindung Gambut sebagaimana surat penetapan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 421/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juni 1999 tentang penunjukan kawasan hutan di wilayah Provinsi Jambi.
Sejak tahun 2007 sampai dengan 2009 terjadi konflik antara masyarakat dengan Dinas Kehutanan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Masyarakat tidak mengakui bahwa areal yang digarap merupakan kawasan hutan lindung gambut. Untuk menyelesaikan konflik dimaksud pada tanggal 18 November 2009 dilakukan mediasi oleh Komisi II DPRD Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Hasil mediasi adalah bahwa lokasi tersebut merupakan kawasan hutan lindung gambut dan masyarakat yang terlanjur berada di dalam kawasan akan diberikan kesempatan untuk ikut melakukan pengelolaan hutan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
19
Sesuai Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.787/Menhut-II/2009 tanggal 7 Desember 2009 ditetapkan menjadi Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Model Sungai Beram Hitam Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan luas ± 15.965 ha. Luas areal KPHLG Sungai Bram Itam mengalami perubahan, dari ± 15.965 ha menjadi ± 15.050 ha berdasarkan SK Menhut No. 727/Menhut-II/2012 tanggal 10 Desember 2012 tentang Perubahan Fungsi dan Peruntukan Kawasan Hutan Propinsi Jambi dikarenakan adanya penyesuaian hasil padu serasi Tata Ruang Propinsi Jambi Tahun 1999 dengan hasil koreksi titik ikat yang dilaksanakan pada tahun 2012. Setelah dilakukan digitasi di Dinas Kehutanan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, luas kawasan KPHL Model Sungai Bram Itam adalah + 15.050 Ha, hal tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor:
SK.863/Menhut-II/2014 tanggal 29 September 2014 tentang Kawasan Hutan Provinsi Jambi.
Akses menuju kawasan KPHL Model Sungai Bram Hitam sangat mudah. Untuk mencapai kawasan KPHL Sungai Bram Itam dapat ditempuh dengan jalan darat menuju ke arah Timur dari Ibu Kota Provinsi Jambi melalui Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan jarak ± 120 km dengan waktu tempuh ± 2,5 jam.
Sedangkan dari Ibu Kota Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Kuala Tungkal) dapat ditempuh melalui jalur darat melewati Desa Bram Itam Raya dan Bram Itam Kanan dengan waktu tempuh ± 30 menit. Bisa juga ditempuh melalui jalur sungai menuju ke arah Barat dari Desa Sungai Saren melewati Jembatan Ahmad Sugeng dengan waktu tempuh + 1,5 jam. Akses yang lain untuk menuju kawasan KPHL Model Sungai Bram Itam bisa ditempuh melalui jalan yang dibangun oleh HTI PT. Wirakarya Sakti yaitu dibagian Utara, Barat dan Selatan yang berbatasan lansung antara kawasan KPHL Model Sungai Bram Itam dengan PT. Wirakarya Sakti. Kawasan KPHL Model Sungai Bram Itam terletak diantara dua sungai yaitu Sungai Bram Itam Kanan dan Sungai Bram Itam Kiri.
20
Dari luas kawasan 15.050 ha, kawasan KPHL Model Sungai Bram Itam telah dirambah oleh masyarakat untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan seluas ± 5.000 ha. Konsekuesi dari kegiatan tersebut adalah telah dibuatnya parit-parit sebagai saluran drainase untuk mengatur tata air di areal kebun serta untuk sarana jalur transportasi pengangkutan hasil produksi pertanian dan perkebunan. Kegiatan pertanian dan perkebunan yang dilakukan oleh masyarakat di dalam areal Hutan Lindung Gambut (HLG) bukan merupakan bentuk pengelolaan yang ramah gambut karena menggunakan spesies yang bukan asli gambut sehingga dalam penanamannya harus melakukan drainase lahan gambut. Pengelolaan yang demikian cenderung akan merusak lahan gambut.
Dalam kegiatan pengelolaan KPHL Bram Itam, maka disusun rencana pengelolaan. Dalam rencana pengelolaan KPHL Bram Itam berdasarkan hasil analisis tentang kondisi kawasan, maka kawasan Hutan Lindung Gambut Sungai Bram Itam dibagi menjadi dua blok yakni Blok Inti dan Blok Pemanfaatan. Masing-masing blok dibagi ke dalam petak-petak sebagai unit terkecil dalam pengelolaan.
Dalam rangka kegiatan restorasi lahan gambut yang telah terdegradasi akibat pengelolaan lahan yang tidak ramah gambut dan untuk mendukung pengelolaan KPHL Sungai Bram Itam, maka dilakukan kegiatan pilot project implementasi paludikultur dan agroforestri di lahan gambut. Tujuan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan contoh praktek yang baik kepada masyarakat maupun pihak pengelola KPHL Sungai Bram Itam tentang cara melakukan pengelolaan lahan yang ramah gambut dengan tetap memberikan manfaat terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan sumber pendapatan bagi pihak KPHL Sungai Bram Itam.
1. Letak dan luas HLG Sungai Bram Itam
Kawasan Hutan Lindung Gambut Sungai Bram Itam secara geografis terletak di antara 0°54’8” - 1°2’54” Lintang Selatan (LS) dan antara
21
103°11’22” - 103°22’3” Bujur Timur (BT). Berdasarkan administrasi kehutanan, kawasan HLG Sungai Bram Itam termasuk dalam wilayah pengelolaan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi yang secara langsung dikelola oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Sungai Bram Itam.
Secara administrasi pemerintahan, kawasan KPHL Model Sungai Beram Hitam terletak di Kabupaten Tanjung Jabung Barat meliputi tiga wilayah kecamatan yaitu: Kecamatan Pengabuan, Kecamatan Betara dan Kecamatan Bram Itam.
Tabel 1. Luas wilayah kelola KPHL Sungai Bram Itam
No Kecamatan Luas Area
(Ha) Persentase Luasan
1 Bram Itam 1.554 10%
2 Betara 7.335 49%
3 Pengabuan 6.161 41%
Total 15.050 100%
Sumber : Dinas Kehutanan Kabupaten Tanjung Jabung Barat (2016)
Hasil digitasi Dinas Kehutanan Kabupaten Tanjung Jabung Barat bahwa luas kawasan KPHL Model Sungai Beram Hitam adalah + 15.050 Ha (Gambar 5).
22
Gambar 5. Peta wilayah KPHL Sungai Bram Itam 2. Batas-batas
Batas-batas kawasan KPHL Model Sungai Beram Hitam adalah:
Sebelah Utara : berbatasan dengan hutan produksi konsesi PT.
Wirakarya Sakti dan lahan masyarakat
Sebelah Selatan : berbatasan dengan hutan produksi konsesi PT.
Wirakarya Sakti
Sebelah Barat : berbatasan dengan hutan produksi konsesi PT.
Wirakarya Sakti dan lahan masyarakat Sebelah Timur : Lahan Masyarakat
3. Topografi dan jenis tanah HLG Sungai Bram Itam
Topografi HLG Sungai Bram Itam secara umum datar sampai landai.
Ketinggian tempat (altitude) berkisar antara 0 - 4 m dpl. Formasi geologi di areal HLG adalah endapan rawa dengan jenis tanah utama adalah jenis tanah gambut (Histosol). Kedalaman/ketebalan gambut berkisar antara kurang dari 1 sampai lebih dari 3 meter atau dengan kata lain termasuk dalam kategori lahan gambut dengan kedalaman dangkal sampai dalam.
23
Tingkat kematangan gambut di areal HLG berbeda-beda meliputi gambut mentah (fibrist), gambut setengah matang (hemist) sampai gambut matang (saprist).
Tabel 2. Penyebaran jenis tanah di dalam dan sekitar kawasan KPHL Sungai Bram Itam
No Kecamatan Jenis Tanah
Organosol
(Ha) Hedro
Metrik (Ha) Podzolik
(Ha) Gley Humic (Ha) 1 Bram Itam 19.235,8 3.142,6 - 7.644 2 Betara 13.755,5 13.469,2 17.168,8 11.583 3 Pengabuan 27.936,8 1.289,2 - 14.787
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tanjung Jabung Barat, 2016
4. Iklim
Tipe iklim di kawasan HLG Bram Itam termasuk dalam kategori A berdasar klasifikasi menurut Schmidt-Ferguson. Curah hujan tahunan antara 1.344 mm/tahun sampai dengan 2.526 mm/tahun dengan rata-rata curah hujan sebesar 2.092 mm/th. Curah hujan tertinggi pada bulan Maret sebesar 236,4 mm dan terendah pada bulan Juni sebesar 105,4 mm.
Jumlah hari hujan rata-rata tahunan sebesar 125 hari. Jumlah hari hujan tertinggi pada bulan Desember dan Januari sebanyak 13 hari hujan dan terendah pada bulan Juni sebanyak 7 hari hujan.
Temperatur udara rata-rata tahunan sebesar 27oC, dengan kisaran antara 23oC (pada bulan Januari) dan 31oC (pada bulan Juni). Kelembaban udara rata-rata 84% dengan kisaran antara 66–97%, kelembaban udara relatif paling rendah pada bulan Juni dan paling tinggi pada bulan September – Oktober. Kecepatan angin rata-rata 4,13 km/jam denga rata-rata kecepatan tertinggi pada bulan Oktober sebesar 4,78 km/jam.
24
5. Kondisi penutupan lahan dan perubahannya
Pada kawasan KPHL Sungai Bram Itam tutupan lahan adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Luas tutupan lahan HLG di KPHL Sungai Bram Itam
No. Uraian Luas (Ha) Presentase
(%)
1. Belukar seluas 167,60 1,11%
2. Belukar rawa 1.935,52 12,86%
3. Hutan rawa sekunder 9.637,08 64,03%
4. Pertanian lahan kering 2.088,51 13,88%
5. Pertanian lahan kering
campuran 155,67 1,03%
6. Rawa 195,52 1,30%
7. Tanah terbuka 849,77 5,65%
8. Tubuh air 20,33 0,14%
Sumber: Data peta tutupan lahan tahun 2015
Berdasarkan analisis hasil penafsiran citra tahun 2006 dan 2014 serta ground check yang dilakukan pada tahun 2015 bahwa telah terjadi perubahan penutupan lahan dari hutan menjadi non hutan (Gambar 6).
Selama kurun waktu ± 8 tahun laju pembukaan lahan hutan sebesar 11,08% atau 1,39% pertahun. Sebagian besar bentuk perubahan yang terjadi menjadi tanah kosong/lahan terbuka, pertanian lahan kering dan semak belukar. Jika dibiarkan terbuka maka bisa menimbulkan kebakaran. Menurut Nurzakiah (2017) bahwa pengelolaan air merupakan salah satu tindakan mitigasi emisi karbon dioksida. Perubahan tutupan/vegetasi di lahan gambut membuat ekosistem lebih rentan terbakar dan menyebabkan pelepasan karbon yang besar melalui pembakaran pada saat pembukaan lahan. Besaran kadar air secara vertikal dan gugus fungsional bahan organik yang bersifat hidrofobik dapat menjadi indikator kerentanan terhadap kebakaran. Oleh karena itu, lahan gambut memerlukan pengelolaan air yang tepat untuk konservasi
25
alam dan mengembalikan kondisi hidrologis seperti mengurangi kerentanan gambut terhadap kebakaran.
Gambar 6. Peta tutupan lahan HLG di KPHL Sungai Bram Itam 6. Potensi kayu dan non kayu
Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa species kayu komersial masih cukup banyak ditemukan pada kawasan hutan KPHLSungai Bram Itam terutama pada hutan sekunder. Species yang dominan ditemukan adalah ramin (Gonystylus bancanus), jelutung rawa (Dyera lowii), punak
(Tetramerista glabra Mig.), rengas (Gluta rengas), resak (Vatica resak), meranti (Shorea spp.), kelat (Eugenia spp.) dan kempas (Koompasia excelsa). Species kayu penghasil buah-buahan yang dapat dikonsumsi baik oleh hewan maupun manusia juga ditemukan antara lain manggis hutan (Garcinia spp.), dan rambutan hutan (Spondias sp.). Selain species kayu baik yang memiliki nilai komersial maupun ekologi di atas, pada KPHL Sungai Bram Itam juga terdapat potensi non kayu yang memiliki nilai komersial yaitu jelutung rawa, rotan, anggrek hutan, lebah madu, jasa lingkungan dan lain-lain (Tabel 4).
26
Tabel 4. Potensi flora di KPHL Sungai Bram Itam
No Nama daerah Nama Botani Famili
1 Ramin Gonystylus bacanus Kurst. Thymeliaceae 2 Jelutung rawa Dyera lowii Apocynaceae
3 Rengas Gluta rengas Caesalpinaceae
4 Punak Tetramerista glabra Mig. Theaceae 5 Kempas Koompassia excelsa Caesalpinaceae 6 Bintangur Calophylulum kunstleri Guttfeae 7 Pisang-pisang Mezzetia parvifolia Begg. Annonaceae 8 Nyatoh Palagium leicocarpun Sapotaceae
9 Medang Litsea spp. Guttiferae
10 Mendarah Horsfieldia sp. Myristaceae 11 Para-para Aglia rubiginosa Meliaceae
12 Gelam Melaleuca spp. Myristaceae
13 Meranti Shorea sp. Dipterocarpaceae
14 Kelat Eugenia spp. Myristaceae
15 Keruing Dipterocarpus caudiferus Dipterocarpaceae 16 Nangka-angka Neoscortechimia king Euphorbiaceae
17 Prupuk Meliocope sp. Rutaceae
18 Resak Vatica resak Dipterocarpaceae
19 - Calophyllum macrocarpum Guttiferae 20 Terentang Campnosperma uariculata Anacardianceae 21 Milas Parastemon urophylum Rosacecae
22 Katiau Ganua motleyana Sapotaceae
23 Jambu-jambu Eugenia sp. Myristaceae 24 Manggis hutan Garcinia spp. Guttiferae 25 Rambutan hutan Spondias sp. Meliaceae
26 Mahang Macaranga spp. Euphorbiaceae
27 Bangkirai Shorea laevis Dipterocarpaceae
28 Kopi-kopi Gardenia sp. Rubiceae
29 Arang-arang Myristica maxima Myristaceae 30 Asam-asam Baccarea bracteatata Eupharbiaceae
31 Balam Palagium spp. Dipterocarpaceae
32 Rotan Calamus sp. Palmae
Sumber: Data inventarisasi sosial ekonomi BPKH unit XIII Pangkal Pinang (2012)
7. Pembagian blok pengelolaan
Dalam rangka pengelolaan KPHL Bram Itam, maka areal kawasan hutan dibagi ke dalam blok-blok yang meliputi blok inti dan blok pemanfaatan (Gambar 7). Kondisi wilayah kelola yang relatif datar memungkinkan semua petak pengelolaan pada Blok Inti berbentuk areal
27
bujur sangkar dengan ukuran 1 km x 1 km. Pada Blok Pemanfaatan terdapat jaringan kanal (parit) serta batas-batas lahan oleh kegiatan okupasi, petaknya menyesuaikan bentuk kanal dan batas lahan tersebut.
Luas setiap petak bervariasi antara 53 sampai dengan 137 Ha.
Tabel 5. Luas pengelolaan berdasarkan Blok
No. Nama Blok Luas (Ha) Persentase
(%)
1. Blok Inti 1.400 9,3 %
2. Blok Pemanfaatan 13.650 90,7 %
Jumlah 15.050 100 %
Sumber: KPHL Sungai Bram Itam (2015)
Gambar 7. Peta pembagian Blok KPHL Sungai Bram Itam
Blok Inti difungsikan sebagai perlindungan tata air, gambut dan perlindungan lainnya. Berdasarkan Peta Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan BPDAS-HL Batanghari Jambi bahwa pada Blok Inti memiliki kedalaman gambut sampai dengan 7 meter sehingga termasuk kategori gambut dalam sampai dengan sangat dalam. Selain itu, kondisi tegakan hutan pada Blok Inti masih relatif mewakili tanaman-tanaman
28
rawa gambut (endemik) sehingga areal tersebut harus dilindungi dan tidak dipergunakan untuk kepentingan lain agar gambut tidak mengalami kerusakan.
Pada Blok Pemanfaatan sebagian merupakan hutan alam sekunder eks HPH Betara Agung Timber dan sebagian areal telah diokupasi oleh masyarakat ± 5.000 hektar. Pada lahan yang telah diokupasi tersebut telah diusahakan tanaman komoditi perkebunan berupa kelapa sawit, pinang dan kopi liberika.