2. Kajian Teori dan Praktik Empiris
2.7. Implementasi (Praktik Empiris) Pengelolaan Pelabuhan
2.7.1. Permasalahan Pelabuhan
Pelabuhan biasanya dibangun pada suatu tempat yang berhadapan langsung dengan laut lepas dan berinteraksi dengan gelombang dan pergerakan pasir yang ada disepanjang pantai. Oleh karena itu dibawah ini dijelaskan berbagai permasalahan yang mungkin timbul akibat interaksi tersebut (lihat Gambar 2.1, 2.2 dan 2.3) (a) Pendangkalan/sedimentasi alur pelayaran
Sebagai contoh pelabuhan yang mengalami permasalahan tersebut diantaranya adalah:
Pelabuhan Pontianak, Pelabuhan Trisakti (Banjarmasin), Pelabuhan Pulau Baai
(b) Pendangkalan/sedimentasi kolam labuh
Sebagai contoh pelabuhan yang mengalami permasalahan tersebut diantaranya adalah:
Pelabuhan Selat Baru, Pelabuhan Bengkulu Lama
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 62
(c) Erosi akibat pembangunan pemecah gelombang
Sebagai contoh pelabuhan yang mengalami permasalahan tersebut diantaranya adalah:
Pelabuhan Pulau Baai, Pelabuhan Lhokseumawe, Pelabuhan Pangambengan.
(d) Gangguan gelombang pada saat kapal berlabuh dan bongkar muat
Sebagai contoh pelabuhan yang mengalami permasalahan tersebut diantaranya adalah Pelabuhan Perikanan Samodra (PPS) Cilacap, Pelabuhan PLTU Adipala.
Gambar 2.1. Erosi terjadi dibagian downdrift akibat Pembangunan pemecah gelombang
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 63
Gambar 2.2. Pelabuhan Perikanan Samudera Cillacap yang Pemecah gelombangnya sudah
diperpanjang
Gambar 2.3. Pendangkalan alur pelayaran Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto
2.3.6 Pelabuhan Tanjung Adikarto
Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto sudah lama dirancang dan sudah mulai dibangun dan diharapkan menjadi kunci pembuka potensi besar perikanan tangkap Samudra Hindia. Namun hingga saat ini pelabuhan tersebut masih belum bisa dimanfaatkan. Saat ini sebagian besar fasilitas darat Pelabuhan Perikanan Tanjung
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 64
Adikarto telah terbangun namun belum sempurna sehingga pelabuhan tersebut belum dapat dioperasikan.
Fasilitas darat pelabuhan perikanan sudah terbangun kurang lebih 80%, sedangkan fasilitas laut khususnya terkait dengan pemecah gelombang dan alur pelayaran masih belum memenuhi persyaratan keamanan untuk pelayaran sehingga masih perlu adanya perpanjangan pemecah gelombang dan pengerukan alur pelayaran agar supaya kapal ikan dapat keluar masuk pelabuhan dengan aman, dan alur pelayaran terlindung dari pendangkalan (lihat Gambar 2.4)
Permasalahan utama dalam pembangunan lanjutan PPP Tanjung Adikarto adalah perpanjangan pemecah gelombang yang mengalami hambatan khususnya pendanaan. Bilamana pembangunan lanjutan dalam penyempurnaan PPP Tanjung Adikarto tidak dikerjakan maka Pemerintah, khususnya pemda DIY, akan banyak mengalami kerugian khususnya terkait dengan: (1) Fasilitas pelabuhan perikanan yang telah terbangun saat ini tidak dapat dimanfaatkan,
(2) Potensi perikanan tangkap di Samudera Hindia, Selatan Propinsi DIY dan Jawa Tengah yang melimpah tidak bisa diambil dan manfaatkan dengan baik, dan (3) lapangan kerja terkait dengan industri perikanan tidak dapat berkembang di Provinsi DIY.
Uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya pemerintah untuk dapat melanjutkan pembangunan PPP Tanjung Adikarto tersebut dengan berbagai usaha diantaranya merangkul badan usaha (baik milik negara, swasta ataupun asing). Saat ini Pemda DIY sedang
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 65
melakukan kajian pembiayaan pembangunan lanjutan PPP Tanjung Adikarto, melalui skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) (lihat Gambar 2.5), karena mengharapkan dana pembangunan baik dari Pemda DIY maupun Pemerintah Pusat tidak bisa diharapkan. Untuk mendukung program ini maka perlu adanya dukungan dari pemerintah daerah baik berupa good will maupun peraturan daerah (PERDA) khususnya yang menyangkut pengelolaan bersama pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto antara Pemerintah Daerah dan Badan Usaha/Swasta.
Gambar 2.4. Pelabuhan Perikanan Pantai Tanjung Adikarto
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 66
Gambar 2.5. Skema KPBU Pembangunan dan Pengembangan PPP Tanjung Adikarto
Bilamana dilihat kemampuan membayar pemerintah daerah (DIY dan Kab. Kulon Progo) didasarkan kepada ruang fiskal yang ada adalah sangat terbatas (Fakultas Teknik UGM, 2018). Sehingga biaya penyempurnaan proyek pelabuhan Tanjung Adikarto (sekitar Rp 500 milyar) yang sangat besar tersebut harus dicarikan dana lain untuk membantu pembiayaannya, yaitu dengan memberikan konsesi lahan kepada pihak swasta. Saat ini luas lahan Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto hanya sekitar 16,5 ha, dan luasan ini sudah habis dimanfaatkan untuk berbagai infrastruktur pendukung pelabuhan perikanan tersebut.
Oleh karena itu agar supaya pihak swasta mampu mendapatkan biaya pembangunan maka pemerintah perlu mencarikan lahan agar dapat dikelola oleh pihak swasta tersebut. Saat ini PEMDA DIY dan Kulon Progo telah mulai melakukan negosiasi dengan PT Jogja Magasa Iron (JMI) untuk mendapatkan lahan tambahan. Perlu diketahui PT JMI sejak mendapat ijin pemanfaatan lahan untuk penambangan pasir besi sampai saat ini belum beraktivitas dan beroperasi, sehingga lahan yang mereka kuasai idle
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 67
(tidak dimanfaatkan). Lahan tambahan untuk keperluan pelabuhan perikanan dan industri turunannya tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.6, yaitu seluas 19,5 Ha di samping utara lokasi pelabuhan perikanan, dan 50 Ha lokasinya disebelah utara rencana Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Disamping kawasan tersebut di atas, masih diperlukan lagi kawasan untuk kawasan wisata pantai berbasis pelabuhan perikanan dan perumahan nelayan serta rumah singgah (wisma nelayan). Lokasi yang mungkin untuk kebutuhan tersebut adalah kawasan di sebelah selatan PP Tanjung Adikarto (untuk wisata khusus sekitar 10 ha) dan sebelah timur pelabuhan untuk permukiman nelayan dan rumah singgah (wisma nelayan) (sekitar 8 ha). Dengan adanya lahan tersebut maka lahan tersebut dapat disewakan kepada para investor dan dapat dipergunakan untuk biaya pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto.
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 68
Gambar 2.6. Pengembangan Lahan PPP Tanjung Adikarto Untuk Kawasan Industri dan
Pendukung lainnya
2.3.7 Peningkatan kelas Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).
Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat beberapa Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) yang bisa ditingkatkan menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai seperti:
PPI Bacan, PPI Totelo, PPI Kwadang dan PPI Tumumpa menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP). Agar supaya peningkatan tersebut dapat berjalan lancar maka pengelolaan serta pemanfaatan PPP tersebut perlu diatur dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah melalui PERDA.
Pengembangan atau peningkatan PPI menjadi PPP yang menjadi permasalahan utama yang biasa muncul adalah:
(1) dukungan biaya untuk meningkatkan fasilitas agar memenuhi persyaratan sebagai Pelabuhan Perikanan Pantai. (2) Penyediaan lahan untuk pengembangan pelabuhan tersebut, biasa memerlukan kegiatan pembebasan lahan yang tidak mudah, (3) Kajian akademik untuk peningkatan kelas pelabuhan tersebut dari PPI menjadi PPP, (4) Penyelenggaraan pelabuhan (termasuk pengoperasian dan pemeliharaan/ perawatan) setelah statusnya ditingkatkan.
2.3.8 Pengoperasian dan Pemeliharaan Fasilitas Pelabuhan Perikanan
2.3.8.1.1.1 Pengoperasian Fasilitas Pelabuhan Perikanan
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 69
Dalam hal pengoperasian fasilitas pelabuhan perikanan dengan skema bekerjasama dengan pihak luar (dalam hal ini BUMN/BUMD atau pihak swasta) perlu adanya peraturan yang jelas supaya tidak menjadi temuan yang dianggap pelanggaran. Sebagai contoh Pelabuhan Perikanan Pantai Tanjung Adikarto, banyak fasilitas pelabuhan yang telah dibangun oleh pemerintah (fasilitas darat yang sudah terbangun sekitar 80%). Oleh karena itu perlu adanya kejelasan bagaimana mengatur cara pengelolaan fasilitas terbangun tersebut oleh swasta.
Namun perlu disampaikan disini, bahwa pihak badan usaha (BUMN/BUMD atau swasta) mungkin masih membutuhkanbiaya tambahan ; sebagai contoh pada PP Tanjung Adikarto masih membutuhkan dana sekitar Rp 500 milyar untuk perpanjangan pemecah gelombang, selain fasilitas yang harus mereka kembangkan sendiri untuk menghasilkan pemasukan (income), seperti industri perikanan segar untuk ekspor ke luar negeri, industri ikan kaleng dan sebagainya (lihat Gambar 2.6).
2.3.8.1.1.2 Pemeliharaan Fasilitas Pelabuhan Perikanan
Kegiatan pemeliharaan fasilitas pelabuhan perikanan yang biayanya sangat besar adalah (1) perawatan alur dan kolam pelabuhan dari proses pendangkalan (2) Perawatan pemecah gelombang, dan (3) perawatan kawasan sekitar pelabuhan perikanan dari kerusakan
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 70
(misalnya erosi). Sebagai contoh adalah adalah perawatan pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto.
- Saat ini bilamana pemecah gelombang PPP Tanjung Adikarto tidak diperpanjang hingga mencapai panjang optimum (kedalaman -15 m LWS) maka perawatan alur pelayaran yang berupa pengerukan pasir di alur pelayaran (muara Serang) adalah sekitar 300.000 m3/tahun.
- Akibat adanya pembangunan pemecah gelombang dan PPP Tanjung Adikarto maka pihak pelabuhan perikanan harus ikut merawat dampak atau kerusakan yang timbul akibat keberadaan bangunan tersebut (misalnya terjadi erosi). Biaya ini dikeluarkan bukan untuk kepentingan pelabuhan secara langsung namun untuk kepentingan masyarakat sekitar, agar supaya tidak mengalami kerugian akibat pembangunan pelabuhan.
- Agar supaya pemecah gelombang dapat berfungsi sesuai perencanaan, maka perlu adanya perawatan yang besarnya kurang lebih sekitar 1 sd 2 % dari biaya pembangunan pemecah gelombang tersebut. Perlu diketahui bahwa kondisi gelombang Laut Selatan (Samudera Hindia) adalah sangat besar dan ganas, sehingga perawatan harus segera dilakukan bila terjadi kerusakan, kalau terlambat dapat mengakibatkan kerusakan akan bertambah parah.
Biaya perawatan atau pemeliharaan ini cukup besar, sehingga harus tersedia dana pada saat diperlukan
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 71
untuk keperluan tersebut. Biaya perawatan ini tidak bisa dibebankan terus menerus ke pemerintah (baik pusat ataupun daerah). Oleh karena itu pengelola pelabuhan harus mempunyai sumberdana untuk keperluan tersebut. Agar supaya perawatan/pemeliharaan tersebut dapat lancar maka perlu kerjasama dengan Badan Usaha dapat dengan BUMN/BUMD ataupun swasta. Dalam hal ini BUMN/BUMD atau Swasta agar mendapat dana segar untuk kegiatan perawatan harus diberi konsesi untuk mengelola kawasan pelabuhan dan atau industri perikanan. Dalam hal kerja sama antara Pemda dengan pihak BUMN/BUMD atau swasta dalm hal ini perlu dukungan perundangan atau peraturan yang jelas sehingga kerjasama dapat dilakukan dengan aman dan dalam perlindungan hukum.