LAPORAN IMPLEMENTASI / EVALUASI PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
NOMOR 7 TAHUN 2005 TENTANG
PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP)
DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
i
LAPORAN IMPLEMENTASI / EVALUASI PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
NOMOR 7 TAHUN 2005 TENTANG
PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
SEKRETARIAT DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN ANGGARAN 2019
Sekretariat
DPRD
DIY
ii
KATA PENGANTAR
Laporan Kajian Implementasi / Evaluasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) di Daerah Istimewa Yogyakarta ini disusun guna memenuhi kewajiban penyusun kepada Bagian Legislasi Sekretariat DPRD DI Yogyakarta selaku Pihak Pemberi Kerja. Laporan ini merupakan laporan lengkap kajian, yang dapat dijadikan justifikasi bagi pemangku kepentingan untuk menindaklanjuti kesimpulan adanya kebutuhan untuk melakukan revisi terhadap Perda tersebut.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Pihak Pemberi Kerja atas kepercayaannya untuk melaksanakan kajian ini. Penyusun juga menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak keterbatasan. Atas segala masukan dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan laporan ini, diucapkan terima kasih.
Yogyakarta, Juli 2019
Tim Penyusun
Sekretariat
DPRD
DIY
iii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iii
Daftar Tabel ... 1
Daftar Gambar ... 2
1. Pendahuluan ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Maksud, Tujuan dan Kegunaan ... 4
1.3. Metode Penelitian yang Digunakan ... 5
2. Kajian Teori dan Praktik Empiris ... 10
2.1. Otonomi Daerah dalam Negara Republik Indonesia ... 10
2.2. Kedudukan Peraturan Daerah dalam Peraturan Perundang- undangan ... 20
2.3. Permasalahan terhadap Peraturan dab Perundangan ... 26
2.4. Profil Perikanan Laut DIY ... 33
2.5. Model Pengolahan Pelabuhan Perikanan ... 42
2.6. Ragam Usaha Masyarakat dan Model Kelembagaan Usaha yang mungkin dikembangkan di Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto ... 52
2.7. Implementasi (Praktik Empiris) Pengelolaan Pelabuhan Tanjung Adikarto ... 58
3. Analisis Perda ... 69
3.1. Keterkaitan Perda No 7 Tahun 2005 dengan Perundang- undangan ... 69
3.2. Evaluasi Perda No. 7 Tahun 2005 ... 69
3.3. Rekomendasi terhadap Perda No.7 Tahun 2005 ... 81
4. Penutup ... 85
4.1. Kesimpulan ... 85
4.2. Saran ... 85
Daftar Pustaka ... 86
Sekretariat
DPRD
DIY
iv
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 1
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Ketersediaan dan Konsumsi Ikan di DIY ... 37
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 2
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Produksi Ikan di DIY (Renstra DKP DIY) ... 36 Gambar 2.1. Erosi terjadi dibagian downdrift akibat Pembangunan Pemecah Gelombang) ... 59 Gambar 2.2. Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap yang Pemecah
Gelombangnya sudah diperpanjang ... 60 Gambar 2.3. Pendangkalan alur Pelayaran Pelabuhan Perikanan
Tanjung Adikarto ... 60 Gambar 2.4. Pelabuhan Perikanan Pantai Tanjung Adikarto ... 62 Gambar 2.5. Skema KPBU Pembangunan dan Pengembangan PPP
Tanjung Adikarto ... 63 Gambar 2.6. Pengembangan Lahan PPP Tanjung Adikarto untuk
Kawasan Industri dan Pendukung Lainnya ... 65
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 3
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) ini lahir didasarkan pada tiga landasan penting. Pertama, kehadiran Perda ini untuk mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya ikan laut sehingga perlu diwujudkan Pelabuhan Perikanan Pantai. Kedua, bahwa pembangunan Pelabuhan Perikanan Pantai memiliki arti cukup strategis bagi pertumbuhan sektor ekonomi lainnya yang sekaligus dapat memajukan perekonomian di suatu wilayah dan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta meningkatnya pendapatan daerah. Ketiga, bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep.10/Men/2005 tentang Peningkatan Status Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Bacan, Totelo, Kwadang, Sadeng dan Tumumpa menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP), maka perlu diatur pengelolaan serta pemanfaatan Pelabuhan Perikanan Pantai. Adapun berdasarkan Pasal 1 angka (9) Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2005, Pelabuhan Perikanan Pantai adalah Pelabuhan Perikanan Klas C, yang skala layanannya sekurang-kurangnya mencakup kegiatan usaha perikanan di wilayah perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial dan Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia.
Peraturan Daerah ini ditetapkan dengan tujuan untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum terhadap usaha perikanan dan kelautan. Ruang lingkup dalam Peraturan Daerah ini meliputi : a. Kedudukan, fungsi dan tugas; b. DLKR dan DLKP; c. Penyelenggaraan dan pemeliharaan; d. Kewajiban dan larangan; e. Pengawasan dan pengendalian.
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 4
Berkaitan dengan hal di atas, ada dua hal penting yang perlu digarisbawahi. Pertama, bahwa menjadi keniscayaan bahwa perubahan dinamika kedaerahan sebagai implikasi dari penyelenggaran otonomi daerah berkembangan sangat cepat.
Khusus di sektor pelabuhan perikanan pantai, tentu kondisi serta situasi pada tahun 2005 dengan saat ini tahun 2019 sudah berbeda jauh. Kedua, berbagai regulasi yang mengatur mengenai perikanan sudah banyak yang berubah sehingga keberlakuan Perda Nomor 7 Tahun 2005 haruslah dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan terbaru baik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Sebagai contoh, dasar hukum dalam Perda Nomor 7 Tahun 2005 masih menggunakan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. UU tersebut sudah tidak berlaku dan diganti dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Adapun Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan yang juga dikutip dalam dasar hukum pada perkembangannya telah muncul regulasi baru yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan dan Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 9 Tahun 2018 Tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2018-2038. Perubahan dasar hukum tentu menimbulkan konsekuensi harus dilakukannya kajian evaluasi terhadap Peraturan Daerah Nomor 7 tahun 2005.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Tahap 4 (2020-2025) di DIY diarahkan pada penguatan upaya pencapaian keunggulan daerah melalui sarana-sarana pendukung lanjut, penguatan orientasi kompetisi pada pembangunan SDM unggul, serta ekspansi perekonomian dan industri berbasis keunggulan daerah yang didukung dengan
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 5
ketersediaan energi. Berdasarkan RPJMD tersebut program kegiatan bidang kelautan dan perikanan meliputi Pengembangan Perikanan Tangkap
1. Pengembangan Budidaya Perikanan
2. Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produk Perikanan 3. Peningkatan Kualitas SDM dan Kelembagaan Perikanan
dan Kelautan
4. Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan
5. Rehabilitasi Ekosistem dan Cadangan Sumber daya Alam 6. Mitigasi bencana alam laut dan prakiran iklim laut
Berbagai aktivitas pembangunan di bidang Kelautan dan Perikanan harus didukung dengan serangkaian produk hukum yang mampu menampung dinamika pembangunan. Pelabuhan juga berfungsi sebagai peerintahan dan pengusahaan yang keduanya semakin strategis di tengah isu-isu terkait pengelolaan perikanan berelanjutan dan perlawanan terhadap perikanan ilegal. Pelabuhan perikanan telah ditetapkan sebagai port measure untuk pencegahan illegal, unpreported dan unregulated fishing (IUU Fishing). Penangkapan ikan secara ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU) tetap menjadi salah satu ancaman terbesar bagi ekosistem laut karena kemampuannya yang kuat untuk merusak upaya nasional dan regional untuk mengelola perikanan secara berkelanjutan serta berupaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati laut.
IUU fishing mengambil keuntungan dari administrasi yang korup dan mengeksploitasi rezim manajemen yang lemah, khususnya yang dari negara-negara berkembang yang kurang memiliki kapasitas dan sumber daya untuk pemantauan, kontrol, dan pengawasan yang efektif. IUU fishing ditemukan di semua jenis dan dimensi perikanan; ini terjadi baik di laut
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 6
lepas maupun di wilayah dalam yurisdiksi nasional, ini menyangkut semua aspek dan tahapan penangkapan dan pemanfaatan ikan, dan kadang-kadang dapat dikaitkan dengan kejahatan terorganisir. Sumber daya perikanan yang tersedia untuk nelayan bonafid dihapus oleh penangkapan ikan IUU, yang dapat menyebabkan runtuhnya perikanan lokal, dengan perikanan skala kecil di negara-negara berkembang terbukti sangat rentan. Produk yang berasal dari IUU fishing dapat menemukan jalan mereka ke pasar perdagangan luar negeri sehingga menghambat pasokan makanan lokal. Karena itu, IUU fishing mengancam mata pencaharian, memperburuk kemiskinan, dan menambah kerawanan pangan (http://www.fao.org/iuu-fishing/en/).
Berdasarkan uraian di atas, maka menjadi penting untuk dilakukan kajian evaluasi terhadap Peraturan Daerah Nomor 7 tahun 2005. Dengan disusunnya kajian evaluasi tersebut, diharapkan dapat menjadi solusi dari berbagai permasalahan mengenai pelabuhan perikanan pantai. Pada akhirnya, melalui kajian evaluasi ini akan menghasilkan kajian yang komprehensif terkait eksistensi Peraturan Daerah Nomor 7 tahun 2005 apakah nantinya relevan untuk tetap diberlakukan, diubah, atau dicabut untuk disesuaikan dengan perkembangan masyarakat.
1.2 Maksud, Tujuan dan Kegunaan 1.1.1. Maksud
Maksud penyusunan kajian evaluasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Di DIY adalah untuk memberikan dokumen dan arah
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 7
kebijakan bagi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DIY untuk menindaklanjuti hasil evaluasi peraturan daerah.
1.1.2. Tujuan
Adapun tujuan penyusunan kajian evaluasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2005 adalah untuk:
1) melakukan kajian akademik secara mendalam dan komprehensif tentang landasan filosofis, yuridis dan sosiologis mengenai arti penting evaluasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2005; dan
2) melakukan kajian akademik untuk mengevaluasi serta merumuskan rekomendasi terhadap keberlakuan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2005.
1.1.3. Kegunaan
Hasil Kajian evaluasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Pelabuhan Perikanan Pantai (P3) di DIY diharapkan dapat menjadi bahan untuk peninjauan terhadap keberadaan peraturan daerah yang tetap akan diberlakukan, diubah, atau dicabut
1.3 Metode penelitian yang digunakan 1.3.1. Jenis Penelitian
Metode penelitian yang dipakai dalam mengevaluasi perda ini adalah metode penelitian kuantitatif dan kualitatif.
1.3.2. Sumber Data Penelitian
Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder yakni data yang berupa Sumber data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 8
mempelajari bahan-bahan hukum, kepustakaan, dan dokumen yang terkait dengan penelitian (Ashofa: 2004:
103).
1. Bahan Hukum Primer.
Yaitu bahan hukum yang diperoleh dari hukum positif atau peraturan perundang-undangan.
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan
c. Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 45 Tahun 2009
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan d. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
Tentang Pemerintahan Daerah
e. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik Negara
f. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. PER.08/MEN/2012, tentang Kepelabuhanan Perikanan
g. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. PER.20/MEN/2014, tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelabuhan Perikanan
h. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2017 Tentang Badan Usaha Milik Daerah
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 9
i. Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Pelabuhan Perikanan Pantai (P3) di DIY j. Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta
Nomor 9 Tahun 2018 Tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2018-2038
2. Bahan Hukum Sekunder
Yaitu bahan hukum yang mendukung bahan baku primer yang berupa buku, jurnal, hasil penelitian, hasil kegiatan ilmiah, dan lain-lain.
Data yang dikumpulkan dari data sekunder diolah bersama untuk mendapatkan permasalahan dan penyelesaian terkait pengelolaan pelabuhan perikanan, khususnya Pelabuhan Perikanan Pantai – PPP. Dari hasil analisis dan pemecahan masalah tersebut lalu dituangkan untuk menyempurnakan Perda Nomor 7 Tahun 2005 tentang Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) di Daerah Istimewa Yogyakarta.
1.3.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik Studi Dokumen. Jenis dokumen yang akan dijadikan sumber data untuk kajian ini adalah dokumen naskah Peraturan Daerah Nomor. 7 Tahun 2017 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di Daerah Istimewa Yogyakarta serta berbagai data sekunder berupa bahan hukum primer dan sekunder.
1.3.4. Analisis Data
Teknik analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 10
dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari kemudian membuat kesimpulan (Bambang Sunggono, 1997 : 114). Setelah data terkumpul selanjutnya akan dilakukan analisis data dengan cara deskriptif kualitatif, yaitu suatu cara menarik kesimpulan dengan memberikan gambaran atau menjabarkan terhadap data yang terkumpul dalam bentuk uraian kalimat sehingga pada akhirnya dapat mengantarkan pada kesimpulan (Abdul Kadir Muhammad, 2004:38).
1.3.5. Tahapan pelaksanaan Evaluasi
Tahapan pelaksanaan studi dijabarkan sebagai berikut:
a. Tahap Persiapan
Tahap ini diawali koordinasi dengan tim pemberi kerja. Tahapan ini dilakukan untuk mengetahui maksud dan tujuan dari kajian sekaligus juga menjelaskan rincian pelaksanaan kajian, terutama menyangkut tata kelola, cara penyampaian pelaporan serta monitoring dan evaluasi pekerjaan.
Selanjutnya, tim pelaksana menyusun rencana kerja dan melakukan koordinasi pelaksanaan.
b. Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data
Tahap ini terbagi menjadi tiga kegiatan yang harus dilakukan oleh tim pelaksana, mulai dari melakukan identifikasi regulasi (nasional dan daerah) dan dokumen pembangunan terkait penyelenggaraan Lembaga Kesejahteraan Sosial
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 11
(LKS) di Provinsi D.I. Yogyakarta dan selanjutnya mengumpulkan data serta melakukan identifikasi kondisi sekarang (existing condition) penyelenggaraan lalu lintas jalan di DI Yogyakarta.
c. Tahap Analisis dan Formulasi Hasil
Sesuai dengan namanya, maka pada tahap ini tim pelaksana berfokus untuk melaksanakan analisis data dan melakukan formulasi dari informasi yang didapatkan dari hasil analisis.
d. Tahap Kesimpulan dan Rekomendasi
Beradasarkan hasil formulasi sebelumnya, tim pelaksana menetapkan kesimpulan dari hasil kajian ini dan juga menyusun rekomendasi tindak lanjut dari kajian ini.
Keluaran dari semua tahap di atas akan disusun menjadi buku laporan secara utuh.
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 12
2. Kajian Teori Dan Praktik Empiris
2.1. Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia Perjalanan otonomi daerah di Indonesia yang sudah sudah berjalan 23 tahun mengalami dinamika yang menggambarkan perjuangan sebuah negara untuk mengatur dan mengelola pemerintahan model pemerintahan yang lebih adil dan berimbang. Dalam rentang tahun tersebut capaian otonomi daerah sampai saat ini adalah: Pertama, otonomi daerah telah mendorong budaya demokrasi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Otonomi daerah juga telah mampu memberikan suasana baru dalam sistem pemerintahan daerah, dari birokratis sentralistik ke arah desentralistik partisipatoris, dengan tetap dalam mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya yang kedua, otonomi daerah telah menumbuhkembangkan persetujuan kebebasan, berserikat dan mendukung pendapat masyarakat luas. Dengan demikian, masyarakat dapat berpartisipasi aktif untuk membantu membangun daerahnya. Ketiga, dengan desentralisasi yang telah berjalan selama ini, maka berbagai kebijakan yang memerlukan masyarakat, tidak lagi harus melalui proses panjang dan berbelit-belit, tetapi menjadi sangat efisien dan responsif (Kemendagri, 2019).
Desentralisasi merupakan sebuah konsep yang mengisyaratkan adanya pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah ditingkat bawah untuk mengurus wilayahnya sendiri. Desentralisasi bertujuan agar pemerintah dapat lebih meningkatkan efisiensi serta efektifitas fungsi-fungsi pelayanannya kepada seluruh lapisan masyarakat. Artinya desentralisasi menunjukkan sebuah bangunan vertikal dari bentuk kekuasaan negara. Di Indonesia
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 13
dianutnya Desentralisasi kemudian diwujudkan dalam bentuk kebijakan Otonomi Daerah.
Pengertian desentralisasi dan otonomi daerah pada asasnya mempunyai perbedaan. Istilah otonomi cenderung pada political aspect (aspek politik kekuasaan negara).
Sedangkan desentralisasi lebih cenderung pada administrative aspect (aspek administrsi negara). Namun apabila dilihat dari konteks sharing of power (pembagian kekuasaan), dalam praktiknya kedua istilah tersebut mempuanyai keterkaitan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. Artinya, jika berbicara mengenai otonomi daerah, tentu berhubungan dengan seberapa besar wewenang untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang telah diberikan sebagai wewenang rumah tangga daerah, demikian pula sebaliknya.
Sedangkan pelimpahan wewenang atau dekonsentrasi, berarti pelimpahan wewenang dari pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau perangkat pusat didaerah. Pelimpahan wewenang ini dimaksudkan untuk optimalisasi penyelenggaraan fungsi pokok pemerintahan, yang terdiri dari : pelayanan (service), pemberdayaan (empowerment), dan pembangunan (development). Sementara dalam hal demokratisasi, jika semakin demokratis dan semakin terbukanya peluang untuk berperan serta atau berprakarsa, masyarakat justru akan semakin menghrgai dan menghormati kebersamaan dan persatuan. Kewenangan daerah mencakup kewenganan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal serta agama.
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 14
Pasca reformasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia, otonomi daerah merupakan salah satu unsur wujud perubahan dan pembaruan dalam sistem pemerintahan daerah. Terbitnya berbagai peraturan yang menguatkan pelaksanaan otoomi daerah diantaranya adalah Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang memiliki filosofis keanekaragaman. Undang-undang ini kemudian diganti dengan Undang-Undang yang baru yakni Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang juga memiliki filosofis keanekaragaman, dan telah menempatkan otonomi daerah sebagai salah satu asas dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah selain asas tugas pembantuan (Pasal 20 ayat 3 UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah). Tahun 2014 ini, Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 kembali diganti dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, dan juga menempatkan otonomi daerah menjadi asas dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Otonomi Daerah dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, dinyatakan sebagai hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Undang-Undang ini juga menyatakan bahwa daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas- batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 15
Makna dasar dari otonomi adalah adanya suatu kewenangan bagi Pemerintah Daerah untuk menentukan kebijakan-kebijakan sendiri yang ditujukan bagi perlaksanaan roda pemerintahan daerahnya sesuai dengan aspirasi masyarakatnya. Pratikno menyatakan bahwa kewenangan- kewenangan tersebut mengacu pada kewenangan pembuat keputusan didaerah dalam menentukan tipe dan tingkat pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, dan bagaimana pelayanan ini diberikan dan dibiayai (Nadir, 2013).
Kewenangan yang diberikan bersifat nyata, luas dan bertanggung jawab sehingga memberi peluang bagi daerah agar dapat mengatur dan melaksanakan kewenangan daerahnya berdasarkan prakarsa sendiri sesuai dengan kepentingan, kondisi dan potensi masyarakat disetiap daerah.
Keberadaan Otonomi Daerah diharapkan terjadi penguatan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas demokrasi atau dengan kata lain bahwa UU Pemerintahan Daerah bervisi demokrasi.
Keberhasilan pelaksanaan Otonomi Daerah akan ditentukan oleh banyak hal. Riswandha Imawan menyatakan bahwa keberhasilan penyelenggaran Otonomi Daerah ditentukan oleh :
a. Semakin rendahnya tingkat ketergantungan (degree of dependency) Pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, tidak saja dalam perencanaan tetapi juga dalam penyediaan dana. Karena suatu rencana pembanguna hanya akan efektif kalau dibuat dan dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah.
b. Kemampuan daerah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka (growth from inside) dan faktor-luar yang
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 16
secara langsung memepngaruhi laju pertumbuhan pembangunan daerah (growth from outside) ((Nadir, 2013).
Otonomi Daerah dalam konteks negara Indonesia tiadk boleh melepaskan semangat negara kesatuan. Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Dasar NRI Tahun 1945 secara tegas menyatakan, bahwa “Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik”. Oleh karenanya Negara Indonesia tidak mempunyai daerah dalam lingkungannya yang bersifat
“Staat” juga. Konsekuensi logis untuk menjalankan ketentuan Pasal 1 ayat (1) tersebut diatas adalah dibentuknya pemerintahan daerah sebagaimana diatur pada Pasal 18, Pasal 18 A, dan Pasal 18 B Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945 yang selengkapnya berbunyi:
Pasal 18
1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah- daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang.**)
2) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.**)
3) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota- anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.**)
4) Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis.**)
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 17
5) Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.**)
6) Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan- peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.**)
7) Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang.**)
Pasal 18 A
1) Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota, atau antara provinsi dan kabupaten dan kota, diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.**)
2) Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.**)
Pasal 18 B
1) Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.**)
2) Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.**)
Menurut Bagir Manan baik secara konseptual maupun hukum, pasal-pasal baru pemerintahan daerah dalam Pasal 18, 18 A, dan 18 B UUD 1945 memuat berbagai paradigma baru dan
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 18
arah politik pemerintahan daerah yang baru pula. Hal-hal tersebut nampak dari prinsip-prinsip dan ketentuan-ketentuan berikut:
1. Prinsip daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
Ketentuan Pasal 18 ayat (2) menegaskan bahwa pemerintahan daerah adalah suatu pemerintahan otonom dalam NKRI.
Dalam pemerintahan daerah hanya ada pemerintahan otonom termasuk tugas pembantuan. Prinsip baru yang terkandung dalam ketentuan ini lebih sesuai dengan gagasan daerah membentuk pemerintahan daerah sebagai satuan pemerintahan mandiri di daerah yang demokratis. Prinsip ini menegaskan pula bahwa tidak ada lagi unsur pemerintahan sentralisasi dalam pemerintahan daerah, Gubernur, Bupati, Walikota semata-mata sebagai penyelenggara otonomi di daerah.
2. Prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya. Ketentuan Pasal 18 ayat (5) menegaskan pelaksanaan otonomi seluas-luasnya, ketentuan ini bermakna bahwa pemerintahan daerah berhak mengatur dan mengurus segala urusan atau fungsi pemerintahan yang oleh undang-undang tidak ditentukan sebagai yang diselenggarakan oleh pusat.
3. Prinsip kekhususan dan keragaman daerah. Ketentuan ini sebagaimana diatur dalam Pasal 18 A ayat (1), prinsip ini mengadung makna bahwa bentuk dan isi otonomi daerah tidak harus seragam (uniformitas). Bentuk dan isi otonomi daerah ditentukan oleh berbagai keadaan khusus dan keragaman setiap daerah.
4. Prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. Ketentuan ini
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 19
sebagaimana tercantum dalam Pasal 18 B ayat (2). Pengertian masyarakat hukum adat adalah masyarakat hukum (rechtgemeenschap) yang berdasarkan hukum adat atau adat istiadat seperti desa, marga, nagari, gempong, meusanah, huta, negorij dan lain-lain. Masyarakat hukum adalah kesatuan masyarakat - bersifat teritorial atau genealogis yang memiliki kekayaan sendiri, memiliki warga yang dapat dibedakan dengan warga masyarakat hukum lain dan dapat bertindak ke dalam atau ke luar sebagai satu kesatuan hukum (subjek hukum) yang mandiri dan memerintah diri mereka sendiri. Kesatuan-kesatuan masyarakat hukum ini tidak hanya diakui tetapi dihormati, artinya mempunyai hak hidup yang sederajat dan sama pentingnya dengan kesatuan pemerintahan lain seperti kabupaten dan kota. Pengakuan dan penghormatan terhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum ini dibatasi yaitu sepanjang masyarakat hukum dan hak-hak tradisional masih nyata ada dan berfungsi serta sesuai dengan prinsip-prinsip negara kesatuan.
5. Prinsip mengakui dan menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa. Pasal 18 B ayat (1) ini mendukung keberadaan berbagai satuan pemerintahan bersifat khusus atau istimewa baik di tingkat propinsi, kabupaten dan kota atau desa.
6. Prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu pemilihan umum. Ketentuan Pasal 18 A ayat (3) ini telah terealisir dalam pemilihan umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tahun 2004. Demikian pula dengan Gubernur, Bupati Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah propinsi, kabupaten dan kota dipilih secara demokratis.
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 20 7. Prinsip hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan
secara selaras dan adil. Prinsip ini diterjemahkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pada Pasal 2 ayat (4), (5), dan (6), dengan menyatakan bahwa hubungan antara pusat dan daerah meliputi hubungan wewenang, keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya, yang dilaksanakan secara adil dan selaras.
Berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menggantikan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah memberikan wewenang pada pemerintah yang terdiri atas:1 1. urusan pemerintahan absolut,
2. urusan pemerintahan konkuren, dan 3. urusan pemerintahan umum.
Perincian urusan pemerintahan absolut selanjutnya dirinci dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 menjadi:
1. politik luar negeri;
2. pertahanan;
3. keamanan;
4. yustisi;
5. moneter dan fiskal nasional; dan 6. agama.
Adapun perincian urusan pemerintahan konkuren dirinci dalam Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 menjadi kewenangan Daerah:
1) urusan pemerintahan wajib; dan 2) urusan pemerintahan pilihan
1 Pasal 9 ayat (1) UU Nomor 23 Tahun 2014
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 21
Urusan pemerintahan wajib sebagaimana dimaksud pada Pasal 11 ayat (1) selanjutnya diberikan perincian dalam Pasal 11 ayat (2) menjadi:
1. Urusan Pemerintahan yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar; dan
2. Urusan Pemerintahan yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar.
Perincian mengenai urusan pemerintahan pilihan selanjutnya dijelaskan dalam Pasal 12 ayat (3) sebagai berikut:
1. kelautan dan perikanan;
2. pariwisata;
3. pertanian;
4. kehutanan;
5. energi dan sumber daya mineral;
6. perdagangan;
7. perindustrian; dan 8. transmigrasi.
Penjelasan urusan pemerintahan umum selanjutnya dijelaskan pada Pasal 25 ayat (1) yang meliputi:
1. pembinaan wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional dalam rangka memantapkan pengamalan Pancasila, pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pelestarian Bhinneka Tunggal Ika serta pemertahanan dan pemeliharaan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
2. pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa;
3. pembinaan kerukunan antarsuku dan intrasuku, umat beragama, ras, dan golongan lainnya guna mewujudkan stabilitas kemanan lokal, regional, dan nasional;
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 22
4. penanganan konflik sosial sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. koordinasi pelaksanaan tugas antarinstansi pemerintahan yang ada di wilayah Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul dengan memperhatikan prinsip demokrasi, hak asasi manusia, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan, potensi serta keanekaragaman Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
6. pengembangan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila; dan
7. pelaksanaan semua Urusan Pemerintahan yang bukan merupakan kewenangan Daerah dan tidak dilaksanakan oleh Instansi Vertikal
2.2. Kedudukan Peraturan Daerah dalam Peraturan Perundang- undangan
Peraturan perundang-undangan di suatu negara merupakan suatu bagian integral atau sub sistem dari suatu sistem hukum di negara tersebut. Sebagai suatu bagian integral atau sub sistem dalam sistem hukum suatu negara peraturan perundang-undangan tidak dapat berdiri sendiri terlepas dari sistem hukum Negara tersebut. Hukum merupakan sistem berarti hukum merupakan tatanan, merupakan satu kesatuan yang utuh yang terdiri dari bagian- bagian atau unsur-unsur yang saling berkaitan erat satu sama lain. Singkatnya, sistem hukum merupakan satu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang mempunyai interaksi satu sama lain dan bekerjasama untuk mencapai tujuan kesatuan tersebut. Kesatuan tersebut diterapkan terhadap kompleks
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 23
unsur-unsur yuridis seperti peraturan hukum, asas hukum dan pengertian hukum (Mertokusumo, 2005).
Lebih lanjut beliau mengibaratkan sistem hukum sebagai gambar mozaik, yaitu gambar yang dipotong-potong menjadi bagian-bagian kecil untuk kemudian dihubungkan kembali, sehingga tampak utuh seperti gambar semula.
Masing-masing bagian tidak berdiri sendiri lepas hubungannya dengan lain, tetapi kait mengait dengan bagian-bagian lainnya.
Setiap bagian tidak mempunyai arti di luar kesatuan itu.
Kesatuan di dalamnya tidak menghendaki adanya konflik atau kontradiksi. Apabila sampai terjadi konflik, maka akan segera diselesaikan oleh dan di dalam sistem itu sendiri.
William Tetley (1999) mendefinisikan “legal system“
refers to the nature and content of the law generally, and the structures and methods whereby it is legislated upon, adjudicated upon and administered, within a given jurisdiction.
Bellefroid mengemukakan bahwa sistem hukum adalah keseluruhan aturan hukum yang disusun secara terpadu berdasarkan atas asas-asas tertentu. Sistem hukum termasuk dalam ilmu hukum dogmatis/ilmu yang menguraikan isi dari pada hukum yang berlaku sekarang, yang menjelaskan pengertian-pengertian peraturan hukum dan mengatur serta menyusun peraturan hukum menurut asas dalam suatu sistem hukum (Dhaniswara, 2009).
Peraturan daerah merupakan bagin integral dari sistem peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia.
Penyerahan sebagian besar kewenangan pemerintahan kepada pemerintah daerah, telah menempatkan pemerintah daerah sebagai ujung tombak pembangunan nasional, dalam rangka menciptakan kemakmuran rakyat secara adil dan merata.
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 24
Dalam kaitan ini peran dan dukungan daerah dalam rangka pelaksanaan PUU sangat strategis, khususnya dalam membuat peraturan daerah (Perda) dan peraturan daerah lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sesuai asas desentralisasi daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk mengatur urusan pemerintahannya sendiri. Kewenangan daerah mencakup seluruh kewenangan dalam bidang pemerintahan, kecuali bidang politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama yang diatur dalam ketentuan Pasal 10 ayat (3) UU Nomor 32 Tahun 2004.Urusan wajib yang menjadi kewenangan daerah diatur dalam ketentuan Pasal 13 dan Pasal 14 yang telah diatur lebih lanjut dengan PP No. 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Pemerintah juga telah menetapkan PP No.41/2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Untuk menjalankan urusan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah tersebut, Pemerintah Daerah memerlukan perangkat peraturan perundang‐undangan.
Pasal 18 ayat (6) UUD 1945 yang menyatakan
”Pemerintahan Daerah berhak menetapkan Peraturan Daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan”. Ketentuan Konstitusi tersebut dipertegas dalam UU No.10/2004 yang menyatakan jenis PUU nasional dalam hierarki paling bawah sebagaimana ditentukan dalam Pasal 7 UU yang selengkapnya berbunyi:
Pasal 7
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 25
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang;
c. Peraturan Pemerintah;
d. Peraturan Presiden;
e. Peraturan Daerah.
(2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi:
a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur;
b. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota;
c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan Peraturan Desa/peraturan yang setingkat diatur dengan Perataran Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan.
(4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.
(5) Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Berdasarkan Ketentuan ayat (3), ayat (4), dan ayat (5), PUU
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 26
tunduk pada asas hierarki yang diartikan suatu PUU yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan PUU yang lebih tinggi tingkatannya atau derajatnya. Sesuai asas hierarki dimaksud PUU merupakan satu kesatuan sistem yang memiliki ketergantungan, keterkaitan satu dengan yang lain.
Untuk itu Perda dilarang bertentangan dengan PUU yang lebih tinggi. Perda harus didasarkan pada Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum negara (Pasal 2 UU No.10/2004), UUD 1945 yang merupakan hukum dasar dalam PUU (Pasal 4 ayat (1) UU No.10/2004, asas‐asas pembentukan PUU sebagaimana diatur dalam Pasal 5 UU No.10/2004 jo Pasal 137 UU No. 32/2004.
Kedudukan Perda juga dapat ditinjau dari aspek kewenangan membentuk Perda. Pasal 1 angka 2 UU No.10/2004 menyatakan bahwa: “Peraturan Perundang- ndangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum”. Kewenangan pembentukan Peraturan Daerah berada pada Kepala Daerah dan DPRD. Hal ini sesuai UU No.32/2004 Pasal 25 huruf c bahwa”Kepala Daerah mempunyai tugas dan wewenang menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD” dan Pasal 42 ayat (1) huruf a bahwa”DPRD mempunyai tugas dan wewenang membentuk Perda yang di bahas dengan Kepala Daerah untuk mendapat persetujuan bersama”, dan Pasal 136 ayat (1) bahwa”Perda ditetapkan oleh Kepala Daerah setelah mendapat persetujuan bersama DPRD”.
Memperhatikan ketentuan mengenai Perda dimaksud, dapat disimpulkan bahwa Perda mempunyai berbagai fungsi antara lain sebagai instrumen kebijakan di daerah untuk melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 27
sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 dan UU Pemerintahan Daerah namun Perda tersebut pada dasarnya merupakan peraturan pelaksanaan dari PUU yang lebih tinggi.
Selain itu Perda dapat berfungsi sebagai istrumen kebijakan untuk penampung kekhususan dan keragaman daerah serta penyalur aspirasi masyarakat di daerah, namun dalam pengaturannya tetap dalam koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
Materi muatan Peraturan Daerah telah diatur dengan jelas dalam UU No.10/2004 dan UU No.32/2004. Pasal 12 UU No.10/2004 menyatakan:“Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi”. Pasal 5 UU No.10/2004 jo Pasal 138 UU No.32/2004, menentukan materi Perda harus memperhatikan asas materi muatan PUU antara lain asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, dan yang terpenting ketentuan Pasal 7 ayat (4) dan ayat (5) UU No.10/2004 jo Pasal 136 ayat (4) UU No.32/2004 bahwa materi Perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan /atau peraturan PUU yang lebih tinggi. Dalam penjelasan Pasal 136 ayat (4) UU No.32/2004 dijelaskan bahwa ”bertentangan dengan kepentingan umum” adalah kebijakan yang berakibat terganggunya kerukunan antar warga masyarakat, terganggunya pelayanan umum, dan terganggunya ketentraman/ketertiban umum serta kebijakan yang bersifat diskriminatif.
Dalam rangka membuat peraturan perundang-undangan
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 28
maupun peraturan daerah terdapat 3 (tiga) dasar atau landasan sebagai berikut :
1. Landasan Filosofis; perundang-undangan dihasilkan mempunyai landasan filosofis (filisofische groundslag) apabila rumusannya atau norma-normanya mendapatkan pembenaran (rechtvaardiging) dikaji secara filosofis. Jadi undang-undang tersebut mempunyai alasan yang dapat dibenarkan apabila dipikirkan secara mendalam.
2. Landasan Sosiologis; suatu perundang-undangan dikatakan mempunyai landasan sosiologis (sociologische groundslog) apabila ketentuan- ketentuannya sesuai dengan keyakinan umum atau kesadaran hukum masyarakat.
3. Landasan Yuridis; landasan yuridis (rechtground) atau disebut juga dengan landasan hukum adalah dasar yang terdapat dalam ketentuan- ketentuan hukum yang lebih tinggi derajatnya. Landasan yuridis dibedakan pula menjadi dua macam, yaitu:
a. Segi formal adalah ketentuan hukum yang memberikan wewenang kepada badan pembentuknya.
b. Segi material adalah ketentuan-ketentuan hukum tentang masalah atau persoalan apa yang harus diatur
2.3. Pemahaman terhadap peraturan dan perundangan 2.3.1 Fungsi pelabuhan
– Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. PER.08/MEN/2012, tentang KEPELABUHANAN PERIKANAN, dijelaskan bahwa:
Pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan perairann disekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan system bisnis perikanan (pengu-sahaan) yang
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 29
digunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjuang perikanan.
– Dalam Perda Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No. 7 Tahun 2005, Pasal 8 dijelaskan bahwa:
1) Penyelenggaraan , Pembinaan dan pengembangan PPP (Pelabuhan Perikanan Pantai) dilaksanakan oleh Dinas.
2) PPP wajib menyelenggarakan fungsi-fungsi kepelabuhanan dan memfasilitasi penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
3) Tata hubungan kerja PPP dengan lembaga/instansi terkait diatur dengan Peraturan Gubernur
2.3.2 Pengelola Pelabuhan Perikanan
– Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. PER.08/MEN/2012, tentang KEPELABUHANAN PERIKANAN, dijelaskan bahwa:
(a) Kepala pelabuhan adalah pimpinan pelabuhan perikanan yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan fungsi pengaturan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan di pelabuhan pelabuhan perikanan.
(b) Penyelenggara pelabuhan perikanan adalah Direktur Jenderal, Gubernur, Bupati/WaliKota atau Swasta.
(c) Syahbandar di pelabuhan perikanan adalah syahbandar yang ditempatkan secara khusus di
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 30
pelabuhan perikanan untuk pengurusan administratif dan menjalankan fungsi menjaga keselamatan pelayaran.
(d) Surat persetujuan berlayar, yang selanjutnya disingkat SPB, adalah dokumen negara yang dikeluarkan oleh Syahbandar di pelabuhan perikanan kepada setiap kapal perikanan yang akan berlayar setelah memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal, laik tangkap dan laik simpan serta kuwajiban lainnya
2.3.3 Tatanan Kepelabuhan Perikanan Nasional
Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. PER.08/MEN/2012, tentang KEPELABUHANAN PERIKANAN, dijelaskan bahwa
(a) Tatanan kepelabuhanan nasional memuat:
a. Fungsi Pelabuhan Perikanan b. Fasilitas Pelabuhan Perikanan c. Klasifikasi Pelabuhan Perikanan
d. Rencana induk pelabuhan perikanan nasional (b) Fungsi pelabuhan perikanan
a. Fungsi Pemerintahan, dan b. Fungsi pengusahaan.
(c) Fungsi Pemerintahan adalah fungsi untuk melaksanakan pengaturan, pembinaan, pengendalian, pengawasan, serta keamanan dan keselamatan operasional kapal perikanan di pelabuhan perikanan.
(d) Fungsi Pengusahaan adalah fungsi untuk melaksanakan pengusahaan- bisnis perikanan-
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 31
berupa penyediaan dan/atau pelayanan jasa kapal perikanan dan jasa terkait di pelabuhan perikanan.
2.3.4 Fasilitas Pelabuhan Perikanan
Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. PER.08/MEN/2012, tentang KEPELABUHANAN PERIKANAN, dijelaskan bahwa: Fasilitas pelabuhan perikanan meliputi: (a) Fasilitas pokok, (b) Fasilitas fungsional, (b) Fasilitas Penunjang
(a) Fasilitas pokok meliputi: (1) Penahan/pemecah gelombang-breakwater, turap/revetment, groin (2) Dermaga, (3) Jetty, (4) Kolam labuh, (5) Alur pelayaran, (6) Jalan kompleks dan drainase, dan (7) Lahan
(b) Fasilitas fungsional meliputi: (1) Tempat Pemasaran/Pelelang-an Ikan (TPI), (2) Navigasi pelayaran dan komunikasi, (3) Air bersih, Instalasi Bahan Bakar Minyak (BBM), Es dan Instalasi listrik, (4) Tempat pemeliharaan kapal dan alat penangkapan ikan (dock/slipway, bengkel, perbaikan jaring ikan), (5) Tempat penanganan dan pengolahan hasil perikanan, (6) Perkantoran (Kantor administrative, perbank-kan, pelayanan terpadu dll), (7) transportasi, alat angkut ikan, (8) kebersihan dan pengolahan limbah, (9) Pengamanan kawasan (pagar)
(c) Fasilitas penunjang meliputi: Balai pertemuan nelayan, mess operator, wisma nelayan, MCK dan peribadatan, Pertokoan, pos jaga dan lainnya.
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 32
2.3.5 Klasifikasi pelabuhan perikanan
Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. PER.08/MEN/2012, tentang KEPELABUHANAN PERIKANAN, dijelaskan bahwa:
(a) Klasifikasi Pelabuhan Perikanan adalah sebagai berikut:
– Pelabuhan Perikanan kelas A: Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS)
– Pelabuhan Perikanan kelas B: Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN)
– Pelabuhan Perikanan kelas C: Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP)
– Pelabuhan Perikanan kelas D: Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI)
(b) Pelabuhan Perikanan Samudera - PPS (kelas A) – Kriteria Teknis:
• Mampu melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan Indonesia: Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dan laut lepas
• Memiliki fasilitas tambat labuh untuk ukuran kapal sekurang-kurangnya 60 GT
• Panjang dermaga sekurang-kurangnya 300 m, dengan kedalaman kolam sekurang- kurangnya – 3,0 m (LWS).
• Mampu menampung kapal perikanan sekurang-kurangnya 100 unit atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 6000 GT.
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 33
• Memanfaatkan dan mengelola lahan sekurang-kurangnya 20 ha
– Kriteria Operasional:
• Ikan yang didaratkan sebagian besar untuk tujuan ekspor
• Terdapat aktivitas bongkar muat ikan dan pemasaran hasil perikanan rata-rata 50 ton per hari
• Terdapat industri pengolahan ikan dan industri lainnya
(c) Pelabuhan Perikanan Nusantara - PPN (kelas B) – Kriteria Teknis:
• Mampu melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI)
• Memiliki fasilitas tambat labuh untuk ukuran kapal sekurang-kurangnya 30 GT
• Panjang dermaga sekurang-kurangnya 150 m, dengan kedalaman kolam sekurang- kurangnya – 3,0 m (LWS).
• Mampu menampung kapal perikanan sekurang-kurangnya 75 unit atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 2250 GT.
• Memanfaatkan dan mengelola lahan sekurang-kurangnya 10 ha
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 34
– Kriteria Operasional:
• Terdapat aktivitas bongkar muat ikan dan pemasaran hasil perikanan rata-rata 30 ton per hari
• Terdapat industri pengolahan ikan dan industri lainnya
(d) Pelabuhan Perikanan Pantai – PPP (Kelas C) – Kriteria Teknis:
• Mampu melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan Indonesia
• Memiliki fasilitas tambat labuh untuk ukuran kapal sekurang-kurangnya 10 GT
• Panjang dermaga sekurang-kurangnya 100 m, dengan kedalaman kolam sekurang- kurangnya – 2,0 m (LWS).
• Mampu menampung kapal perikanan sekurang-kurangnya 30 unit atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 300 GT.
• Memanfaatkan dan mengelola lahan sekurang-kurangnya 5 ha
– Kriteria Operasional:
• Terdapat aktivitas bongkar muat ikan dan pemasaran hasil perikanan rata-rata 5 ton per hari
• Terdapat industri pengolahan ikan dan industri lainnya
(e) Pangkalan Pendaratan Ikan – PPI (Kelas D) – Kriteria Teknis:
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 35
• Mampu melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan Indonesia
• Memiliki fasilitas tambat labuh untuk ukuran kapal sekurang-kurangnya 5 GT
• Panjang dermaga sekurang-kurangnya 50 m, dengan kedalaman kolam sekurang- kurangnya – 1,0 m (LWS).
• Mampu menampung kapal perikanan sekurang-kurangnya 15 unit atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 75 GT.
• Memanfaatkan dan mengelola lahan sekurang-kurangnya 1 ha
– Kriteria Operasional:
• Terdapat aktivitas bongkar muat ikan dan pemasaran hasil perikanan rata-rata 2 ton per hari
2.4. Profil Perikanan Laut di DIY
Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam dekade terakhir menunjukkan gejala yang terus menurun, walaupun secara rata-rata masih menjadi penyumbang kelompok tiga besar dalam struktur perekomian DIY2. Penurunan kontribusi tersebut belum diikuti oleh perubahan pada struktur tenaga kerja, dimana sektor pertanian masih menampung sebagaian besar lapangan kerja di DIY. Dari jumlah tersebut diperkirakan 80% rumah tangga merupakan petani gurem,
2RPJMD DIY 2017-2022
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 36
dengan luas kepemilikan lahan kurang dari 0,5 hektar3. Karena itu, kebijakan pembangunan perekonomian DIY perlu terus memperhatikan dan menyokong sektor pertanian (termasuk sub-sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan) agar dapat tumbuh secara berkeadilan dan berkelanjutan.
Ditengah pertumbuhan melambat bahkan negatif sektor pertanian, sub-sektor perikanan masih tumbuh positif.
Sub-sektor perikanan tumbuh rata-rata sekitar 2% per tahun, walaupun dengan sumbangan yang masih kecil. Sub-sektor ini dapat berperan strategis dalam pembangunan masyarakat di DIY karena berkontribusi positif terhadap penguatan ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, pemanfaatan lahan marginal dan kelautan serta pelestarian lingkungan. Tidak hanya untuk pengembangan perikanan, sektor kelautan DIY juga memiliki potensi untuk pengembangan industri bioteknologi kelautan, energi terbarukan, dan ekowisata.
Wilayah laut DIY memiliki potensi sumberdaya yang meliputi tiga dimensi wilayah tersebut: (1) permukaan (termasuk sebagai fungsi konektivitas), (2) dalam laut (sumberdaya hayati) dan (3) dasar laut (sumberdaya hayati dan non-hayati). Di wilayah pesisir (darat), DIY memiliki potensi lahan dan wilayah untuk pengembangan budidaya pantai (brackishwater and mariculture). Di wilayah darat, DIY dialiri oleh sungai kecil dan besar yang membentuk Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti DAS Opak-Oyo dan DAS Progo dan Bogowonto yang memungkinkan berkembangnya usaha perikanan di sekitarnya. Adanya waduk dan telaga juga menjadi sumber air untuk kegiatan perikanan. Sementara,
3RPJMD DIY 2012-2017
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 37
keberadaan Selokan Mataran telah juga menghidupi ribuan pembudidaya ikan di daerah yang dilintasinya, bahkan menjadi sentra-sentra perikanan budidaya di DIY. Dalam rangka “memanen” sumberdaya lahan dan air tersebut, pengembangan sektor kelautan dan perikanan perlu lebih terfokus, dengan mempertimbangan keterpaduan baik dalam artian keterpaduan vertikal (terintergasi dalam sistem bisnis dari hulu ke hilir, atau disebut minabisnis) maupun secara horizontal dengan kegiatan ekonomi lainnya seperti pertanian, kehutanan dan pariwisata (minapadi/udang, silvofishery, dan eco-edu-wisata atau disebut perikanan terpadu). Karena itu, tidak hanya untuk pengembangan perikanan, sektor kelautan DIY juga memiliki potensi untuk pengembangan industri bioteknologi kelautan, energi terbarukan, dan ekowisata.
Untuk mengakselerasi pembangunan daerah, pemerintah daerah terus mendorong terbangunnya peradaban baru yang unggul, dengan menjadikan laut sebagai halaman depan, bahkan saat ini DIY menyandang visi baru “Abad Samudera Hindia untuk kemaslahatan manusia Jogja”, yang merupakan kelanjutan visi pembangunan DIY periode 2012-2017 yaitu “among tani dagang layar”.
Gubernur DIY terus mendorong terbangunnya peradaban baru yang unggul dengan mengambil strategi budaya, dari pembangunan berbasis daratan ke kemaritiman, dengan menggali, mengkaji dan menguji serta mengembangkan keunggulan lokal (local genius). Ajakan perubahan pola pikir dan paradigma pembangunan tersebut terus didengungkan dan disosialisasikan sehingga diharapkan menjadi langkah strategis yang implementatif termasuk dalam sistem
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 38
penganggaran pembangunan daerah, sistem pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, urusan kelautan dan perikanan harus didesain untuk mampu menjawab arahan itu dengan program dan kegiatan yang lebih terfokus dan bersinergi dengan urusan lainnya.
2.4.1. Potensi dan Tantangan Pengelolaan Sektor Kelautan dan Perikanan DIY
Potensi Sumberdaya Ikan di perairan Selatan Jawa (termasuk WPP 573) diperkirakan mencapai 929.330 ton, dengan total jumlah tangkapan yang diperbolehkan mencapai 743.464 ton, dan lebih dari separuh merupakan ikan pelagi besar seperti tuna, tongkol dan cakalang (Permen KP No 47/2016)4. Jika DIY mampu memanfaatkan 3% dari potensi lestari sumberdaya ikan tersebut, maka DIY memiliki potensi produksi kurang lebih 22.000 ton per tahun.
Sementara DIY baru mampu memanfaatkan sumberdaya tersebut dengan tingkatan yang sangat rendah. Produksi perikanan laut di DIY memang terus meningkat, yaitu dari 134,93 ton (tahun 1994) naik menjadi 3.862 ton (tahun 2010) dan 3.952,9 ton (tahun 2012) dan saat ini hanya sekitar 6.000 ton.
4 http://jdih.kkp.go.id/peraturan/47-kepmen-kp-2016-ttg-estimasi-potensi...sdi...pdf
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 39
Gambar 1. Produksi Ikan di DIY (Renstra DKP DIY)
Disisi konsumsi, pada tahun 2016, angka ketersediaan ikan sudah mencapai 30,24 kg/kap/th, sedangkan angka konsumsi ikan 24,00 (masih jauh dibawah angka nasional 43,0 kg/kap/th).
Tabel 1. Ketersediaan dan konsumsi ikan di DIY
Ketersediaan (kg/cap)
Konsumsi DIY (kg/cap)
Konsumsi Nasional (kg/cap)
2012 23,73 14,54 33,89
2013 25,8 21,71 35,21
2014 27,54 21,74 38,14
2015 28,95 23,07 41,11
2016 30,24 24,0 43,0
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 40
Beberapa kendala pemanfaatan sumberdaya ikan di DIY antara lain: (1) belum ada atau masih kurangnya pelabuhan perikanan yang memadai untuk tempat berlabuhnya kapal-kapal perikanan berukuran besar; (2) peralatan tangkap yang digunakan sebagian besar hanya mampu beroperasi di kawasan pantai (0-4 mil) yang sudah full exploited, (3) mayoritas armada penangkapan berupa perahu motor tempel yang beroperasi di jalur pantai, dan (4) sumberdaya manusia, sarana dan prasarana yang dimiliki untuk perikanan laut belum memadai untuk melaksanakan operasi penangkapan di perairan samudera termasuk zona ekonomi eksklusif Indonesia (ZEEI).
Struktur armada perikanan tangkap DIY saat ini didominasi perikanan skala kecil (PMT).
Peningkatan Kapasitas armada perikanan tangkap (Kapal Motor atau KM 30 GT) dan alat bantu penangkapan ikan (Rumpon) sedikit mengeser struktur armada perikanan di DIY dalam tahun-tahun terakhir, walaupun dari sisi jumlah masih sangat kecil (KM di atas 5 GT hanya 10% dari total armada perikanan). Perubahan kecil pada struktur armada tersebut telah membantu peningkatan produktifitas perikanan di DIY dalam tahun-tahun terakhir, namum dengan jumlah KM yang sangat sedikit sulit mendorong percepatan peningkatan kapasitas
2017 32,16 23,75 47,0
Sekretariat
DPRD
DIY
Kajian Evaluasi Perda No 7 Tahun 2005 Tentang Pelabuhan Perikanan Pantai di DIY 41
produksi perikanan yang lebih baik. Namun demikian, pemanfaatan kapal bantuan di atas 30GT atau yang dikenal sebagai kapal INKAMINA masih belum optimal karena kemampuan dan kapasitasnya Nelayan yang masih terbatas.
Jumlah nelayan yang ada di DIY masih lah terbatas dari segi jumlah dan kualitas sehingga trip penangkapan ikan masih terbatas dan secara dominan hanya one day fishing. Nelayan juga dihadapkan pada hidrooseanografi Samudera Hindia dengan gelombang besar, jalur perairan dangkal yang sempit dan laut yang sangat dalam serta keterbatasan lokasi yang memadai untuk lokasi pendaratan ikan.
Hal ini juga dihadapkan pada tantangan faktor budaya yang mana masyarakatnya berkarakter agraris/pedalaman dan memiliki kepercayaan tertentu terhadap kekuatan mistik di Laut Selatan, sehingga membatasi nelayan untuk melaut. Pemanfaatan teknologi dan alat bantu penangkapan ikan (GPS, Fish finder, dan data fishing ground berbasis citra satelit) juga sangat masih sangat kurang.
Kelembagaan usaha bersama pun masih lemah yang ditunjukkan dengan kelompok nelayan yang masih menghadapi kendala di bidang manajerial, teknis dan permodalan. Selain itu belum adanya kelompok besar yang menaungi seluruh kelompok nelayan tersebut menyebabkan masih lemahnya posisi tawar bagi nelayan dalam kegiatan penangkapan ikan dan pemasaran hasil perikanan.