• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi ROM pasif post operasi fraktur femur

Dalam dokumen PENELITIAN KUALITATIF KEPERAWATAN (Halaman 46-56)

METODE PENELITIAN

HASIL PENELITIAN

5.3 Hasil wawancara mendalam dan observasi

5.3.2 Implementasi ROM pasif post operasi fraktur femur

5.3.2.1 Implementasi ROM fasif post operasi fraktur femur oleh perawat

Menurut key informan (kepala ruangan), informasi yang di peroleh dari imporman tentang pengawasan yang di berikan pada perawat pelaksana agar mengimplementasikan ROM pasif post operasi fraktur femur di ruangan dapat di lihat dari petikan wawancara di bawah ini:

“… Adek-adekkan di panggil, kito lemeskan tapak kaki kito pegang tapak kaki, kito gerak-gerakan ke arah dalam, kearah luar, kagek begantian melat X hnihnyo, dio latihan fisioterafi jugok nah sudah fisioterafi kito latih pulo di sini.”(001)

Menurut key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang di rawat di ruangan ortopedi wanita tentang implemnentasi ROM aktif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“ yo, Dak katek perawat Bantu gerak-gerakan kaki, paleng waktu ganti perban di angkatyo kaki.”(005)

“… yo ado, dokter, belum ado perawat Bantu gerak-gerakan kaki aku.”(006) “… ado, Dak pernah perawat Bantu gerak-gerakan kaki aku.” (007)

Hasil wawancara mendalam informan (perawat pelaksana) yang melakukan perawatan di ruangan keperawatan ortopedi wanita tentang implementasi ROM aktif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… kami Bantu pasien mengerak-gerakan tungkai yang sakit.”(002) “… yo, kito Bantu pasien mengerak.”(003)

“… selulu kita lakukan ROM pasif pada pasien yang memutuhkanya.”(004) Dari hasil observasi di dapatkan bahwa tidak ada perawat yang membantu mengerak-gerakan kaki klien (ROM pasif) pada pasien post operasi fraktur femur.

Dari beberapa petikan wawancara mendalam di atas dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan) yang mengatakan di implementasikan ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur sedangkan hasil wawancara mendalam dengan key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang mengatakan tidak ada perawat yang membantu mengerakan kaki klien (ROM pasif). Hal ini di dukung oleh hasil observasi bahwasanyan tidak di implementasikanya ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur.

5.3.2.2. Gerakan rentang gerak sendi pasif

Menurut key informan (kepala ruangan), informasi yang di peroleh dari imporman tentang cara latihan ROM pasif post operasi fraktur femur di ruangan dapat di lihat dari petikan wawancara di bawah ini:

“…kito lemeskan tapak kaki, kito pegang tapak kaki, kito gerak-gerakan ke arah dalam, kearah luar, kagek begantian melatihnyo(perawat bergantian melakukan ROM pasif) dio latihan fisioterafi jugok nah sudah fisioterafi kito latih pulo di sini .”(001)

Menurut key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang di rawat di ruangan ortopedi wanita tentang cara atihan ROM pasif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… Diangkatyo kaki, di tekuknyo, di gerakkenyo kekanan ke kiri.”(005)

“… Di pegangyo kaki kito terus di angkatyo ke pucuk, di gerakenyo kesamping kiri dan kanan lalu di luruskenyo lagi.”(006)

“… Kaki di pegangnyo, di gerak-gerak kenyo jari-jari kaki, ke kiri, ke kanan, di tekuk kenyo sudah itu di luruskenyo lagi.”(007)

Hasil wawancara mendalam informan (perawat pelaksana) yang melakukan perawatan di ruangan keperawatan ortopedi wanita tentang cara latihan ROM pasif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… Tangan kiri memegang pergelangan kaki dan tangan kanan memegang jari-jari kaki, tekuk jari-jari kaki kebawah dan keatas, gerakan jari-jari kaki kearah dalam dan luar, rengangkan jari-jari kaki dan rapatkan kembali.”(002)

“…Tangan kiri memegang pergelangan kaki dan tangan kanan memegang jari-jari kaki, tekuk kebawah dan keatas, gerakan ke dalam dan luar, rengangkan dan rapatkan kembali jari-jari kaki, tangan kanan memegang bagian pergelangan kaki, menekuk pergelangan kaki ke depan, luruskan, menekuki ke belakang dan luruskan, letakan tangan kiri di atas lutut dan tangan kanan di atas pergelangan kaki, gerakan ke dalam, luruskandan gerakan kaki ke luar.”(003)

“…Tangan kiri memegang pergelangan kaki dan tangan kanan memegang jari-jari kaki, tekuk kebawah dan keatas, gerakan ke dalam dan luar, rengangkan dan rapatkan kembali jari-jari kaki, tangan kanan memegang bagian pergelangan kaki, menekuk pergelangan kaki ke depan, luruskan, menekuki ke belakang dan luruskan, letakan tangan kiri di atas lutut dan tangan kanan di atas pergelangan kaki, gerakan ke dalam, luruskandan gerakan kaki ke luar.”(004)

Dari hasil observasi di dapatkan bahwa tidak ada perawat yang membantu dan memberikan contoh pada keluarga pasien cara-cara melakukan ROM pasif.

Dari beberapa petikan wawancara mendalam di atas dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan dan pasien post operasi fraktur femur) di lakukan ROM pasif dengan cara di beri bantuan dari tiap-tiap gerakan menekuk ke bawah, keatas, rengangkan, rapatkan dan di luruskan, hal ini tidak di dukung oleh hasil observasi di dapatkan tidak ada perawat yang membantu dan memberi contoh pada keluarga pasien untuk melakukan ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur.

5.3.2.3. Tujuan rentang gerak sendi pasif

Menurut key informan (kepala ruangan), informasi yang di peroleh dari imporman tentang tujuan latihan ROM aktif post operasi fraktur femur di ruangan dapat di lihat dari petikan wawancara di bawah ini:

“… Melancarkan perederan darahyo, supayo otot-ototnyo lemas.”(001) Menurut key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang di rawat di ruangan ortopedi wanita tentang manfaat atihan ROM aktif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… Supayah cepat sembuh dan tidak kaku katanya.”(005)

“… Supayo cepat sembuh, supayo idak kaku dan dapat berjalan seperti semula.”(006)

“… Supaya cepat sembuh dan tidak kaku katanya.”(007)

Hasil wawancara mendalam informan (perawat pelaksana) yang melakukan perawatan di ruangan keperawatan ortopedi wanita tentang manfaat ROM aktif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… untuk mempercepat penyembuhan, supaya tidak terjadi depormitas dan mencegah kekakuan sendi.”(002)

“… biar sirkulasi darahnya lancar, biar otot-ototnya kuat, biar tidak kaku saat bergerak.”(003)

”...untuk mempertahankan kekuatan otot, mengembalikan fungsi persendian, memperlancar peredara darah dan mencegah kelainan bentuk”(004)

Dari hasil observasi di dapatkan bahwa tidak ada perawat yang menjelaskan tujuan latihan ROM pada keluarga pasien dan pasien post operasi fraktur femur.

Dari beberapa petikan wawancara mendalam di atas dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan dan pasien post operasi fraktur femur) yang menyatakan tujuan latihan ROM

pasif adalah mempercepat proses penyembuhan, sirkulasi darah lancar, mempertahankan kekuatan otot dan mencegah kelainan bentuk. Dari hasil observasi masih di dapatkan belum ada perawat yang menjelaskan tujuan latihan ROM pada keluarga pasien dan pasien post operasi fraktur femur.

5.3.2.4. Manfaat ROM pasif

Menurut key informan (kepala ruangan), informasi yang di peroleh dari imporman tentang manfaat latihan ROM aktif post operasi fraktur femur di ruangan dapat di lihat dari petikan wawancara di bawah ini:

“… banyak, ototnyo lebih lemes.”(001)

Menurut key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang di rawat di ruangan ortopedi wanita tentang manfaat atihan ROM aktif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… Yo… agak lemaklah, giluyo bekurang.”(005) “… Yo agak lemaklah.”(006)

“… teraso agak lemak jugo, raso kramyo agak bekurang.”(007)

Hasil wawancara mendalam informan (perawat pelaksana) yang melakukan perawatan di ruangan keperawatan ortopedi wanita tentang manfaat ROM aktif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“…mengembalikan fungsi-fugsi otot, tulang dan memperlancar peredaran darah, dan mencegah kelainan bentuk seperti pengecilan otot.”(002)

“…pergerakanya meningkat, memperbaiki tonus otot dan mencegah kelainan bentuk.”(003)

“…persendianya tidak terasa kaku, bengkaknya mengecil dan tidak merasa nyeri.”(004)

Dari hasil observasi di dapatkan dari 3 pasien ada 2 pasien yang melakukan ROM pasief di dapatkan ujung-ujung jarinya berwarna normal dan 1 pasien yang tidak melakukan ROM pasif ujung-ujung jarinya berwarna pucat.

Dari beberapa petikan wawancara mendalam di atas dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan dan pasien post operasi fraktur femur) yang menyatakan manfaat ROM pasif adalah mempercepat proses penyembuhan, memperlancar sirkulasi darah, mempertahankan kekuatan otot dan mencegah kelainan bentuk. Hal ini di dukung oleh hasil observasi di dapatkan dari 3 pasien ada 2 pasien yang melakukan ROM pasief di dapatkan ujung-ujung jarinya berwarna normal dan 1 pasien yang tidak melakukan ROM pasif ujung-ujung jarinya berwarna pucat.

5.3.2.5. Faktor pendukung dilakukan gerakan rentang gerak sendi pasif

Menurut key informan (kepala ruangan), informasi yang di peroleh dari imporman tentang manfaat latihan ROM aktif post operasi fraktur femur di ruangan dapat di lihat dari petikan wawancara di bawah ini:

“… SOPyo ado, banyakyo perawat di pagi hari, di libatkanya keluarga pasien.”

Menurut key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang di rawat di ruangan ortopedi wanita tentang trust yang di rasakan oleh pasien pada perawat, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… Adolah meraso yaman, SOPan, yo bagus cak itu, yo ganggap sebagai temanlah.”(005)

“… Yo baeklah, bagus merekatu sapoan, murah senyumlah, pecak keluarga.”(006)

“… Yo baeklah, perawatyo galak Bantu kito, nolong kito, sudah pecak keluarga dewek.”(007)

Hasil wawancara mendalam informan (perawat pelaksana) yang melakukan perawatan di ruangan keperawatan ortopedi wanita tentang manfaat ROM aktif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… perawat selalu siap untuk membantu pasien untuk melakukan latihan ROM pasif, kemauan keluarga pasien untuk membantu klien melakukan latihan ROM pasif.”(002)

“… kami selalu membantu pasien untuk mempercepat proses penyembuhanya baik itu latihan ROM pasif, kemauan pasien dan keluarga untuk cepat sembuh.”(003)

“…kami sebagai perawat selalu siap membantu dan menolong pasien untuk mempercepat proses penyembuhanya, kemauan keluarga untuk terlibat dalam membantu pasien untuk melakukan latihan ROM pasif.”(004)

Dari hasil observasi di dapatkan adaya sikap yang bersahabat antara perawat dengan pasien dan adaya SOP di ruangan yang mendukung untuk di implementasiaknya ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur.

Dari beberapa petikan wawancara mendalam di atas dan hasil observasi di dapatkan informasi dari informan (perawat pelaksana) dan key informan (kepala ruangan) yang menyatakan faktor pendukung latihan ROM aktif adalah perawat selalu siap membantu melakukan latihan ROM pasif dan kemauan keluaga pasien untuk melakukan ROM pasif, sedangkan menurut kay informan (pasien post operasi fraktur femur) bahwasanya adanya perawat yang baik di ruangan ROW. Hal ini didukung oleh hasil observasi di dapatkan adaya sikap yang bersahabat antara perawat dengan pasien dan adaya SOP di ruangan yang mendukung untuk di implementasiaknya ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur.

5.3.2.6. Faktor penghambat di lakukan rentang gerak sendi pasif

Menurut key informan (kepala ruangan), informasi yang di peroleh dari imporman tentang faktor penghambat di implementasikan ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur. di ruangan dapat di lihat dari petikan wawancara di bawah ini:

“…kalu sorekan Cuma duwo yang dinas dan yang malam duo jugo yang dinas sedangkan pasienyo banyak.”(001)

Menurut key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang di rawat di ruangan ortopedi wanita tentang manfaat atihan ROM aktif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… Yo raso cemas, takut saket.”(005) “… ado perasaan takut sakit.”(006)

“… Dak katek raso apo-apo Cuma kaki teraso kaku dan gilu.”(007)

Hasil wawancara mendalam informan (perawat pelaksana) yang melakukan perawatan di ruangan keperawatan ortopedi wanita tentang manfaat ROM aktif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… dari perawat tidak ada hambatan, kadang hambatan itu datang dari pasien dan dari keluarga pasien tidak mau membantu pasien karena mereka ingin semuanya di Bantu perawat.”(002)

“… kalaw dari kami tidak ada masalah, biasanya pasien takut di gerakan kakinya karena dia takut nyeri, dan keluaga pasien ingin semua ke giatan di Bantu oleh perawat .”(003)

“… sebenarnya tidak ada hambatan dari perawa, kalaw kita tidak sibuk kita bisa ajari dan bantu pasien untuk melakukan ROM pasif.(004)

Dari hasil observasi di dapatkan tidak ada perawat yang merencanakan latihaan ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur dan di dapatkan adanya keluarga pasien yang membantu klien latihan ROM.

Dari beberapa petikan wawancara mendalam di atas dan hasil observasi di dapatkan informasi dari key informan (kepala ruangan) yang menyatakan hambatan datang dari kurangnya tenaga perawat di sore dan malam hari. informasi dari informan (perawat pelaksana) mengatakan hambatan datang dari pasien takut mengerakan kaki dan keluarga pasien yang tidak membantu pasien latihan ROM, hasil wawancara mendalam dengan key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang menyatakan adanya rasa takut sakit saat akan melakukan ROM pasif. Hal ini tidak sejalan dengan hasil observasi di dapatkan tidak ada perawat yang merencanakan latihaan ROM pasif pada pasien post operasi fraktur femur dan di dapatkan adanya keluarga pasien yang membantu klien latihan ROM.

5.3.2.7. Cara mengatasi hambatan ROM pasif

Menurut key informan (kepala ruangan), informasi yang di peroleh dari imporman tentang manfaat latihan ROM aktif post operasi fraktur femur di ruangan dapat di lihat dari petikan wawancara di bawah ini:

“… mangkonyo kito melibatkan keluarga, kagek kalu kito dak pacak bantu keluarganyo yang bantu.”(001)

Menurut key informan (pasien post operasi fraktur femur) yang di rawat di ruangan ortopedi wanita tentang manfaat atihan ROM aktif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… di angkat pelan-pelan, di letak kenyo lagi.(005)

“… Langsung di kejut ke bae gerakan kaki, nak duduk langsung duduk bek, nak gangkat langsung gangkat be kakitu, kadang-kadang ibuk yang bantu mengerakan kaki.”(006)

Hasil wawancara mendalam informan (perawat pelaksana) yang melakukan perawatan di ruangan keperawatan ortopedi wanita tentang manfaat ROM aktif, dapat di lihat dari beberapa petikan di bawah ini:

“… biasanya kami Bantu dan kadang-kadang keluarya sendiri yang membantu mengerak-gerakan kaki pasien, kami memberikan informasi ke pada keluarga pasien kalaw kita tidak ada (banyak pekerjaan ) keluarganya biasa membantu mengerak-gerakan kaki pasien (ROM pasif).”(002)

“… biasanya kita berikan contoh ke pada keluarga pasien sebanyak satu sampai dua kali sesudah itu dio biso membantu mengerak-gerakan kaki pasien.”(003)

“… asalkan kita tidak sibuk, kita bias bantu klien melakukan ROM pasif, dari pasien juga tidak ada hambatan kita ajari keluarga pasien nahkan kalaw kita tidak ada keluarga pasien bias membantu mengerakan kaki pasien.”(004) Dari hasil observasi di dapatkan tidak ada upaya perawat dalam menyakinkan keluarga untuk membantu pasien latihan ROM dan tidak ada perawat yang membantu klien latihan ROM.

Dari beberapa petikan wawancara mendalam di atas dan hasil observasi di dapatkan adanya persamaan pendapat antara informan dengan key informan (kepala ruangan) yang menyatakan memberi penjelasan, membantu pasien melakukan latihan ROM hal ini tidak sejalan dengan hasil wawancara mendalam dengan kay informan (pasien post operasi fraktur femur) yang mengatakan di bantu dan di jelaskan oleh tenaga medis lain , hal ini sejalan dengan hasil observasi tidak ada upaya perawat dalam menyakinkan keluarga untuk membantu pasien latihan ROM dan membantu pasien latihan ROM.

BAB VI PEMBAHASAN

Dalam dokumen PENELITIAN KUALITATIF KEPERAWATAN (Halaman 46-56)

Dokumen terkait