• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

B. Implementasi Teknis Graduasi

1. Implementasi Teknis Graduasi Alamiah

Teknis Graduasi

1. Kategori bantuan PKH apa yang didapatkan

2. Manfaat yang didapatkan setelah mendapat bantuan PKH

2

24 3. Pemahaman

mengenai teknis graduasi

3. KPM-PKH

tergraduasi mandiri

1. Kategori bantuan PKH apa yang didapatkan

2. Faktor pendorong mengajukan

graduasi mandiri 3. Perubahan yang

didapatkan selama penerimaan

bantuan 4. Pemahaman

mengenai teknis graduasi

1

Penentuan jumlah informan diatas sesuai dengan hasil bimbingan dengan dosen pembimbing pada agustus 2021 dan hasil diskusi dengan pendamping sosial PKH Kelurahan Grogol Utara pada Juni 2021. Adapun penentuan jumlah informan berdasarkan:

1. Peneliti mengambil satu informan pendamping sosial PKH karena di Kelurahan Grogol Utara hanya memiliki satu pendamping sosial PKH maka dari itu tidak ada pendamping sosial PKH lain untuk dijadikan informan untuk wilayah dampingan Kelurahan Grogol

25 Utara. (Sumber: Kepala Koordinator PKH Kota Jakarta Selatan, 27 Januari 2021)

2. Peneliti mengambil dua informan KPM PKH graduasi alamiah, yang berasal dari RW 013 karena RW 013 ini memiliki jumlah KPM PKH paling banyak di Kelurahan Grogol Utara. (Sumber: Pendamping Sosial PKH Kelurahan Grogol Utara, Ratu Asih Asdi, 9 Juni 2021)

3. Peneliti hanya mengambil satu informan KPM PKH graduasi mandiri sejahtera karena di Wilayah Kelurahan Grogol Utara hanya memiliki satu KPM PKH yang mengajukan graduasi mandiri sejahtera dalam kurun waktu 2019 – 2020. (Sumber:

Pendamping Sosial PKH Kelurahan Grogol Utara, Ratu Asih Asdi, 7 Juni 2021)

4. Sumber Data

Menurut teori penelitian kualitatif, agar penelitinya dapat betul-betul berkualitas, maka data yang dikumpulkan harus lengkap, yaitu berupa data primer dan data sekunder. Data primer adalah data dalam bentuk verbal atau kata-kata yang diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku yang dilakukan oleh subjek yang dapat dipercaya, dalam hal ini adalah subjek penelitian (informan) yang berkenaan dengan variabel yang diteliti.

Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen grafis (tabel, catatan, notulen rapat, dll), foto-foto, film, rekaman video, benda-benda, dan

26 lain-lainyang dapat memperkaya data primer. (Sandu Siyoto & Ali Sodik, 2015,h.28)

Berdasarkan uraian diatas maka data primer dan data sekunder pada penelitian ini antara lain:

1) Data Primer pada penelitian ini berupa data wawancara dan data observasi langsung kepada KPM PKH yang tergraduasi dan Pendamping Sosial PKH Kelurahan Grogol Utara.

2) Data sekunder yaitu data yang bersifat studi dokumentasi antara lain seperti melalui buku, artikel, dan jurnal dan dokumen resmi dari PKH Kelurahan Grogol Utara.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknik pengumpulan data tersebut bertujuan untuk mengetahui kualitas data hasil penelitian sebagaimana yang dikemukakan Sugiyono (2006,h.153) bahwa “Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data”.

1) Observasi

Dalam Hardini (2020,h.124), Menurut Sukmadinata, Observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan

27 pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.

Dalam konteks ini peneliti mengamati secara langsung peristiwa lapangan, sebagai peneliti mempunyai keyakinan serta kewajiban memperoleh keabsahan data dengan mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi sebenarnya. Dengan demikian, peneliti memperoleh informasi yang dibutuhkan yaitu data observasi KPM PKH Kelurahan Grogol Utara.

2) Wawancara

Teknik pengumpulan data melalui wawancara yang digunakan pada penelitian ini ialah wawancara tidak terstruktur. Menurut Arikunto (2002,h.202) Pedoman wawancara yang tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan (dalam M. Ma’ruf Abdullah, 2015,h.250). Wawancara dilakukan kepada pendamping sosial PKH dan KPM-PKH yang tergraduasi

3) Studi Dokumentasi

Teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi diartikan sebagai upaya untuk memperoleh data dan informasi berupa catatan tertulis/gambar yang tersimpan berkaitan dengan masalah yang diteliti (Rully Indrawan & Poppy Yaniawati, 2017,h.139).

28 Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen tertulis dan data elektronis. Dalam Rully Indrawan & Poppy Yaniawati (2017,h.139-140) Dokumen tertulis bisa berbentuk peraturan, data statistik, dokumen perencanaan, deskripsi kerja, laporan keuangan, rapor siswa, catatan medis, catatan kinerja, dlsb. Sedangkan data elektronis merupakan pengumpulan data elektronis dari situs (website) ataupun media internet lainnya. Dokumen tertulis dan data elektronis pada penelitian ini antara lain antara lain materi sosialiasi graduasi, e-book pedoman pelaksanaan program keluarga harapan tahun 2020, e-book petunjuk teknis graduasi program keluarga harapan tahun 2020, website PKH, dan website kementerian sosial.

6. Teknik Analisis Data

Di dalam suatu penelitian dibutuhkan suatu proses analisis data yang berguna untuk menganalisis data-data yang telah terkumpul. Tahap analisis data merupakan tahap penting karena data yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai Teknik pengumpulan data (misalnya observasi, interview, angket, maupun Teknik pengumpulan data yang lain), diolah dan disajikan untuk membantu peneliti menjawab permasalahan yang ditelitinya (Dimas Agung T., 2020,h.363).

29 Teknik Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis data menurut Miles dan Huberman. Teknik analisis selama di lapangan model Miles dan Huberman, analisis data ini dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas hingga datanya sudah jenuh. Analisis data dilakukan melalui 3 tahap, yaitu: (Dimas Agung T., 2020,h.379-380)

1) Data reduction (Reduksi data).

Berarti merangkum, memilih hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting, serta dicari pola dan temanya. Dengan kata lain reduksi data merupakan suatu proses pemilihan dan pengkategorian data.

Dalam langkah ini peneliti mengumpulkan data yang diperoleh dari lapangan ini berupa data-data hasil dari observasi di lapangan, maupun berasal dari dokumen-dokumen publikasi umum, serta data-data yang diperoleh dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap narasumber.

Kemudian dilakukan pemilihan data-data yang perlu digunakan yang selanjutnya dikumpulkan dengan data sejenis dan dikategorikan, guna memudahkan dalam penggunaan datanya.

2) Data Display (Penyajian data).

Berarti menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, bagan, skema, struktur, hubungan antarkonsep

30 atau kategori, dan lain sebagainya. Menyajikan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah bersifat naratif. Ini dimaksudkan untuk memahami apa yang terjadi dan merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami.

3) Conclusion drawing/verification (Gambaran kesimpulan/verifikasi)

Merupakan langkah terakhir dari model ini adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Kesimpulan penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya belum ada yang berupa deskripsi atau gambaran yang sebelumnya belum jelas menjadi jelas dapat berupa hubungan kausal/interaktif dan hipotesis/teori. Pada tahap penarikan kesimpulan peneliti melakukan verifikasi atas data-data yang ia peroleh dan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan saat wawancara dengan narasumber.

7. Teknik Keabsahan Data

Keabsahan data merupakan standar kebenaran suatu data hasil penelitian yang lebih menekankan pada data/informasi daripada sikap dan jumlah orang. (Fitrah &

Luthfiyah,2017,h.93). pada penelitian ini peneliti menggunakan Teknik keabsahan data yaitu triangulasi.

Menurut Alwasillah (2003), Triangulasi adalah Teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu

31 yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (dalam Fitrah &

Luthfiyah, 2017,h.94).

Jenis triangulasi yang digunakan oleh peneliti yaitu triangulasi dengan sumber. Triangulasi dengan Sumber berarti membandingkan atau mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif, hal tersebut dapat dicapai melalui :

1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi.

3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

4) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.

5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

G. Waktu Penelitian 1) Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Wilayah Kelurahan Grogol Utara Jakarta.

32 2) Waktu Penelitian

Jadwal penelitian yang meliputi persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil penelitian dimulai pada bulan Januari s.d. Agustus 2021.

H. Sistematika Penulisan

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, maka sistematika penulisan pada penelitian ini terdiri dari enam bab antara lain:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, Batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, dan waktu penelitian.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Bab ini membahas teori-teori yang mendukung dalam proses penyusunan penelitian ini. Antara lain definisi implementasi, definisi teknis graduasi PKH, dan teori yang digunakan adalah teori sistem dan teori perilaku.

BAB III GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN Pada bab ini akan membahas mengenai gambaran umum mengenai kondisi geografis dan kondisi demografis Kelurahan Grogol Utara dan Gambaran mengenai Program Keluarga Harapan di Kelurahan Grogol Utara.

33 BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

Pada bab ini akan membahas mengenai data dan temuan penelitian berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi mengenai profil KPM dan implementasi teknis graduasi di Kelurahan Grogol Utara

BAB V PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan membahas mengenai analisis dari hasil temuan dilapangan yang telah dilakukan peneliti tentang implementasi teknis graduasi KPM-PKH di Kelurahan Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran Lama.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini menjelaskan mengenai kesimpulan, saran, dan rekomendasi mengenai penelitian yang telah dilakukan.

34 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Dalam bab ini, berisi penjelasan mengenai definisi dari implementasi, teknis graduasi, teori sistem, serta teori perilaku.

Teori yang digunakan akan menjadi landasan untuk melakukan penelitian ini.

A. Implementasi

Implementasi menurut Grindle (1980,h.7), bahwa implementasi merupakan proses umum tindakan administrasi yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu. Proses implementasi baru akan dimulai apabila tujuan dan sasaran telah ditetapkan, program kegiatan telah tersusun dan dana telah siap dan disalurkan untuk mencapai sasaran (dalam Haedar Akib, 2010).

Sedangkan deskripsi Sederhana tentang konsep implementasi dikemukakan oleh Lane (dalam Sabatier, 1986,h.21-48) bahwa implementasi sebagai konsep dapat dibagi ke dalam dua bagian yakni implementasi merupakan persamaan fungsi dari maksud, output, dan outcome.

Berdasarkan deskripsi tersebut, formula implementasi merupakan fungsi yang terdiri dari maksud dan tujuan, hasil sebagai produk, dan hasil dari akibat. Selanjutnya implementasi merupakan persamaan fungsi dari kebijakan, formator, implementor, inisiator, dan waktu (dikutip oleh Haedar Akib, 2010).

35 Berdasarkan definisi implementasi diatas dapat disimpulkan bahwa implementasi merupakan proses pelaksanaan dari suatu program tertentu yang sudah ditetapkan terlebih dahulu mengenai tujuan dan sasarannya sehingga hasil yang akan didapati adalah persamaan fungsi antara tujuan, output, serta outcome.

B. Teknis Graduasi

Graduasi adalah tidak terpenuhinya kriteria kepesertaan dan/atau meningkatnya suatu kondisi sosial ekonomi, yang dibuktikan melalui kegiatan pemutakhiran data. Pemutakhiran data adalah proses pembaruan data anggota KPM PKH untuk memperoleh kondisi terkini anggota KPM PKH yang dilakukan oleh Pendamping Sosial dengan menggunakan e-PKH atau SIKS-Droid. (Petunjuk Teknis Graduasi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan, 2020,h.4-5).

1. Dasar Hukum Graduasi

Graduasi PKH tentunya memiliki dasar hukum yang dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaanya antara lain:

1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin Pasal 42 Ayat 1, bahwa

“Setiap orang yang menyalahgunakan dana penanganan fakir miskin dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)”.

36 2. Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2018

tentang Program Keluarga Harapan Pasal 56 Ayat 1–3, bahwa:

1) Graduasi terdiri atas graduasi alamiah dan graduasi hasil pemutakhiran sosial ekonomi.

2) Graduasi alamiah merupakan berakhirnya masa kepesertaan Keluarga Penerima Manfaat PKH akibat tidak terpenuhinya kriteria kepesertaan.

3) Graduasi hasil pemutakhiran sosial ekonomi merupakan berakhirnya masa kepesertaan Keluarga Penerima Manfaat PKH berdasarkan hasil pemutakhiran sosial.

3. Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Nomor: 03/3/Bs.01.02/10/2020 tentang Petunjuk Teknis Graduasi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan Tahun 2020 bahwa bidik graduasi merupakan tahapan persiapan bagi SDM PKH dalam melakukan graduasi kepada KPM yang memiliki salah satu kriteria yaitu; a) tidak memiliki komponen, b) lama kepesertaan 5 tahun atau lebih, c) masuk dalam desil 4 atau 4+ dalam DTKS.

2. Tujuan Graduasi

Adapun tujuan Graduasi dan Jenis Graduasi di dalam Petunjuk Teknis Graduasi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (2020,h.6) adalah sebagai berikut:

37 1) Mendukung upaya percepatan pengentasan

kemiskinan yang sejalan dengan tujuan PKH;

2) Memastikan penerima bantuan sosial PKH tepat sasaran;

3) Meminimalisir timbulnya kesenjangan sosial; dan 4) Mewujudkan rasa keadilan sosial.

3. Jenis Graduasi

Jenis Graduasi terbagi menjadi dua:

1) Graduasi alamiah adalah berakhirnya kepesertaan dikarenakan kondisi KPM PKH sudah tidak terpenuhinya kriteria kepesertaan. Contoh:

a. Tidak memiliki pengurus kepesertaan;

b. Tidak memiliki salah satu komponen kepesertaan:

Kesehatan, Pendidikan atau Kesejahteraan Sosial.

2) Graduasi Sejahtera Mandiri adalah berakhirnya kepesertaan KPM PKH karena kondisi sosial ekonomi yang sudah meningkat dan dikategorikan mampu sehingga sudah tidak layak lagi mendapatkan bantuan sosial PKH. Graduasi Sejahtera Mandiri dapat terjadi baik dari inisiatif KPM sendiri, maupun dorongan dari Pendamping Sosial atau pihak lainnya. Contoh:

a. KPM menolak bantuan karena merasa mampu, tidak ingin bergantung pada bantuan sosial PKH, dan/atau ingin memberikan kesempatan kepada keluarga lain; atau

b. KPM mengalami perubahan status ekonomi menjadi sejahtera karena mendapat pekerjaan

38 dengan penghasilan yang lebih baik (termasuk sebagai Aparatur Sipil Negara atau ASN), memiliki usaha atau kegiatan ekonomi yang berjalan sukses dan/ atau memperoleh harta kekayaan tertentu.

4. Penetapan KPM Graduasi

Dalam menetapkan KPM graduasi pendamping sosial menyiapkan dokumen yang diperlukan sebagai dasar pengajuan Graduasi KPM PKH kepada Dinas Sosial Kabupaten/Kota, seperti :

1) Profil KPM PKH yang menggambarkan tingkat kemampuan ekonomi

2) Surat Pennyataan KPM PKH yang menyatakan mampu dan bersedia mengundurkan diri sebagai penerima bantuan Sosial PKH;

3) Surat Keterangan Mampu KPM PKH dari Desa/Kelurahan;

4) Berita acara musyawarah Desa/Kelurahan tentang status sosial ekonomi KPM PKH;

Penyiapan dan penggunaan dokumen di atas dapat diterapkan salah satu atau beberapa dokumen yang diperlukan. Berdasarkan pengajuan Graduasi dari Pendamping Sosial tersebut, Dinas Sosial selanjutnya akan mengirimkan surat ke Direktur Jaminan Sosial Keluarga tentang Graduasi KPM PKH. Penetapan KPM PKH yang dinyatakan Graduasi dilakukan melalui Surat Keputusan Direktur Jaminan Sosial Keluarga dan

39 diunggah ke dalam e-PKH dengan mengikuti mekanisme sebagaimana terlampir.

5. Masa Transisi

KPM PKH dengan lama kepesertaan 5 tahun atau lebih akan diresertifikasi untuk dievaluasi status kepesertaan dan kondisi sosial ekonominya. Jika hasil Resertifikasi menunjukkan bahwa KPM PKH tersebut belum layak dilakukan Graduasi, KPM PKH tersebut akan masuk ke tahap Transisi. Transisi merupakan periode penguatan yang diberikan kepada KPM PKH dengan lama kepesertaan 5 tahun atau lebih yang masih memenuhi syarat kepesertaan PKH. Pada tahap ini pendamping sosial melakukan hal-hal sebagai berikut : a. Memastikan KPM PKH mengikuti P2K2

b. Memfasilitasi akses KPM PKH untuk mendapatkan program pemberdayaan sosial ekonomi seperti pelatihan, kewirausahaan dan bantuan permodalan;dan c. Melakukan advokasi penerimaan bantuan sosial

komplementer lainnya.

40 6. Alur Graduasi

Gambar 2.1 Alur Graduasi KPM PKH C. Teori Terminasi

Tahap terminasi, fase ini merupakan tahapan dimana relasi antara caseworker dan klien akan dihentikan (Dalam Isbandi Rukminto,2015,h.173). Ditinjau dari proses pekerjaan sosial, terminasi merupakan tahap pengakhiran kegiatan pertolongan pekerjaan sosial yang dilakukan apabila tujuan pertolongan telah tercapai atau penerima pelayanan memerlukan rujukan kelembaga lain (Dalam Melisa Amalia Amin, 2014).

Sama halnya dengan pengertian terminasi dalam Bahan Bacaan Materi Tahapan Proses Pertolongan Tenaga Kesejahteraan Sosial (Raden Dika Permatadiraja, 2020), Tahap Terminasi merupakan tahap pengakhiran atau pemutusan kegiatan. Hal ini dilakukan bila tujuan pertolongan

41 telah dicapai atau permintaan sendiri, karena faktor-faktor tertentu. Tenaga Kesejahteraan Sosial dapat memberikan form pengakhiran penanganan masalah contohnya seperti formulir pernyataan terminasi atau formulir pernyataan graduasi yang ditandatangani oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial dan penerima manfaat. Proses pengakhiran masalah harus dilakukan, mengingat agar penerima manfaat dapat berdaya secara sendiri tanpa bantuan dari pemerintah, pendamping sosial dan profesi lainnya.

D. Teori Sistem

Teori sistem umum membedakan tiga macam sistem yaitu: sistem mekanistis (mesin buatan manusia dan alam material), sistem organistis (mahluk hidup) dan sistem semiotis (masyarakat sebagai sistem makna) (dalam Martin Suryajaya, 2008). Sedangkan, menurut Adam Kuper, Teori sistem adalah sebuah framework yang menjelaskan keterkaitan (hubungan) antar elemen yang berfungsi melakukan mekanisme kerja, guna mencapai tujuan tertentu dalam suatu struktur sosial masyarakat (dalam Mohammad Zaini, 2017,h.97-98). Artinya teori sistem membicarakan mengenai sebuah hubungan antar individu maupun kelompok di dalam masyarakat yang mana mereka saling terkait satu sama lain, sehingga jika terjadi sebuah perubahan atau pergeseran disalah satu sistem komponen masyarakat, maka akan berdampak ke sistem lainnya.

Dalam praktik pekerjaan sosial, Teori sistem adalah suatu model yang menjelaskan hubungan tertentu antara

sub-42 sub sistem dengan sistem sebagai suatu unit. Apabila suatu sub sistem tidak berfungsi, maka sistem tidak akan berjalan maksimal. Intinya, setiap bagian berpengaruh terhadap keseluruhan atau sesuatu tidak dapat ada tanpa keberadaan yang lain. Teori sistem banyak memberikan sumbangan pada praktek pekerjaan sosial mikro dan makro. Pada praktek mikro teori sistem dapat digunakan untuk menggali masalah anak dengan keluarga. Sedangkan sumbangan teori sistem terhadap praktik pekerjaan sosial makro adalah untuk mengetahui pengaruh dari suatu sub sistem terhadap sub sistem lainnya atau terhadap sistem yang menyebabkan terjadinya permasalahan sosial, baik dilihat dari aspek objektif, seperti masyarakat, maupun aspek subyektif, seperti nilai-nilai budaya, agama, dan lain sebagainya (puspensos.kemensos.go.id, 2020).

Analisis Pincus dan Minahan mengenai sistem yang digunakan oleh pekerja sosial sebagai bagian dari praktiknya sangat berpengaruh. Berikut adalah tabel Pincus dan Minahan mengenai dasar sistem pekerjaan sosial: (dalam Siti Napsiyah Ariefuzzaman dan Lisma Diawati Fuaida, 2011,h.68)

Tabel 2.1 Dasar Sistem Pekerjaan Sosial menurut Pincus dan Minahan

Sistem Deskripsi Informasi lebih lanjut Sistem agen

perubahan

Pekerja sosial dan organisasi di mana dia bekerja

43 Sistem klien Orang, kelompok,

keluarga,

komunitas yang mencari

pertolongan dan terlibat di dalam pekerjaan dengan sistem agen perubahan

Klien yang aktual

sepakat untuk medapatkan

pertolongan dan telah melibatkan diri. Klien yang potensial yaitu mereka yang oleh pekerja sosial sedang diusahakan untuk terlibat (seperti orang dalam masa percobaan tahanan atau yang sedang diinvestigasi karena kasus pelecehan terhadap anak)

Sistem sasaran (target)

Orang yang oleh sistem agen perubahan

diusahakan untuk mencapai tujuan tersebut

Klien dan sistem sasaran mungkin sama atau tidak sama

Sistem aksi Orang yang dengan siapa sistem agen perubahan bekerja

Klien, sistem sasaran atau sistem aksi mungkin sama atau tidak sama

44 untuk mencapai

tujuan tersebut

E. Teori Perilaku

Menurut Skinner, Perilaku adalah suatu respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar pengertian itu dikenal dengan teori S-O-R (stimulus-organisme-respon). Perilaku manusia dipengaruhi oleh rangsangan dari luar baik itu secara sengaja maupun tidak sengaja (Jarvis, 2010, h.24 dalam Siti Nisrima, dkk. 2016, h.193-194).

Sama halnya dengan pengertian perilaku dalam Irwan (2017,h.106), Perilaku adalah suatu aksi dan reaksi suatu organisme terhadap lingkungannya hal ini berarti bahwa perilaku baru berwujud bila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan tentu akan menimbulkan perilaku tertentu pula. Proses pembentukan dan atau perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari diri individu itu sendiri, antara lain susunan syaraf pusat, persepsi, motivasi, emosi, dan belajar. Jadi sebuah perilaku manusia dapat terbentuk akibat pengaruh individu lain di dalam masyarakat atau pengaruh dari lingkungan tempat tinggalnya.

Ada tiga asumsi yang saling berkaitan mengenai perilaku manusia. Pertama, perilaku itu disebabkan; Kedua, perilaku itu digerakan; Ketiga, perilaku itu ditujukan pada sasaran/tujuan. Pengaruh lingkungan dalam pembentukan

45 perilaku adalah bentuk perilaku yang berdasarkan hak dan kewajiba, kebebasan, dan tanggung jawab baik pribadi maupun kelompok masyarakat (Irwan, 2017,h.106). Hal ini berarti proses dari perubahan perilaku memiliki kesamaan untuk setiap individu, bahwa perilaku dapat terbentuk atau berubah jika ada penyebabnya, tentunya tidak terjadi secara spontan dan sudah mengarah ke sasaran atau tujuan baik secara eksklusif maupun inklusif.

Menurut Pavlov & Fragmatisme dari James, timbulnya perilaku (yang dapat diamati) merupakan resultan dari tiga daya pada diri seseorang, yakni daya seseorang yang cenderung untuk mengulang pengalaman yang enak dan cenderung untuk menghindari pengalaman yang tidak enak disebut conditioning (dalam Irwan, 2017,h. 105). Sedangkan Dalam praktik pekerjaan sosial (Bambang Rustanto, 2015), perilaku dapat dibentuk atau diubah dengan melakukan terapi pendekatan, salah satunya adalah pendekatan perilaku.

Pendekatan ini menitikberatkan peranan lingkungan atau dunia luar sebagai faktor penting bagi kehidupan seseorang.

Dengan perkataan lain, pendekatan perilaku memandang perilaku manusia sebagai sesuatu yang dapat diubah dengan cara menciptakan lingkungan belajar yang baru. Dalam pendekatan ini dipahami bahwa perilaku manusia bisa dibedakan atas :

a. Perilaku operan (didasari), misalnya makan, minum, mandi, bekerja, dll.

46 b. Perilaku responden (reflek/tidak didasari), seperti

46 b. Perilaku responden (reflek/tidak didasari), seperti

Dokumen terkait