• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil

4.2.6. Implementasi untuk pengelolaan stok ikan teri

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terdapat beberapa indikasi tingginya tekanan penangkapan terhadap sumberdaya ikan teri yang mengarah pada gejala tangkap lebih (overfishing) antara lain jumlah ikan berukuran besar yang tertangkap sedikit, laju eksploitasi ikan teri yang tinggi yaitu 0.71 dan telah melebihi nilai laju eksploitasi optimum 0.5, serta nilai CPUE yang pada umumnya mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir. Selain itu, dari hasil analisis yang diperoleh kondisi tangkap lebih stok ikan teri di Teluk Banten termasuk dalam kondisi growth overfishing. Hal ini dapat dilihat dari ukuran ikan besar yang tertangkap sedikit, peningkatan laju mortalitas penangkapan, tingginya laju eksploitasi, serta penurunan hasil tangkapan per satuan upaya.

Data aktual yang didapatkan untuk tingkat produksi telah melebihi tingkat produksi lestari pada kondisi MEY (Maximum Economic Yield), begitu juga untuk nilai upaya penangkapan telah melebihi nilai upaya penangkapan optimal secara ekonomi dan apabila dilihat dari sisi rente ekonomi yang diperoleh, maka rente ekonomi pada kondisi pemanfaatan MEY (Maximum Economic Yield) sangat jauh lebih besar dari rente ekonomi pada kondisi aktual. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada pemanfaatan sumberdaya ikan teri di perairan Teluk Banten sudah terjadi overfishing yaitu economical overfishing.

Untuk mengimbangi kondisi di atas agar tidak terjadi kondisi pemanfaatan sumberdaya ikan teri yang destruktif perlu dilakukan suatu upaya pengelolaan agar pemanfaatan sumberdaya ikan teri di Teluk Banten dapat berlangsung secara berkelanjutan dan tetap lestari dimana pengelolaannya mengikuti model bioekonomi Gordon Schaefer. Menurut Hogart et al. (2006) in Prasetya (2010) secara konvensional model pengelolaan sumberdaya perikanan dapat dilakukan melalui pengaturan jumlah alat tangkap (input control) dan hasil tangkapan (output control). Titik acuan yang digunakan adalah jumlah upaya maksimum secara ekonomi (fMEY) dan MEY (Maximum Economic Yield) untuk memberikan keuntungan yang maksimum ini terhadap kegiatan penangkapan di Teluk Banten. Pengaturan upaya

penangkapan dimaksudkan untuk mengurangi laju mortalitas akibat penangkapan serta melindungi juvenil dan ikan-ikan dewasa. Pengaturan ini dilakukan dengan pembatasan jumlah trip alat tangkap bagan dengan tidak melebihi jumlah upaya tangkapan optimum (fMEY) sebesar 1 579 trip/tahun dengan hasil tangkapan optimum (MEY) sebesar 127.31 ton per tahun sehingga menghasilkan rente (keuntungan) maksimum, izin penangkapan dan pengaturan ukuran mata jaring.

Clark (1990) in Susanto (2006) mengatakan bahwa konsep dasar manajemen perikanan laut adalah upaya penangkapan. Hal ini disebabkan karena hanya variabel upaya penangkapan yang menggunakan kapal dan sejumlah masukan lainnya yang dapat dikendalikan secara langsung dan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di suatu perairan, maka konsep yang harus dikembangkan adalah konsep pengelolaan atau kepemilikan tunggal, dimana stok ikan di wilayah perairan tertentu dianggap model oleh pemilik tunggal (single owner). Pemilik tunggal dapat diwakili oleh pemerintah daerah atau instansi lainnaya. Tujuan yang ingin dicapai oleh pemilik tunggal adalah memaksimalkan nilai sekarang (present value) dari keuntungan bersih kegiataan pemanfaatan sumberdaya perikanan sepanjang waktu. Salah satu cara untuk melakukan kontrol adalah dengan membatasi jumlah upaya tangkapan optimum(fMEY) sebesar 1 579 trip/tahun.

Pengurangan upaya penangkapan (trip) dalam melaksanakan kebijakan pengelolaan sumberdaya stok ikan teri di Teluk Banten tidak lepas dari pengurangan nelayan bagan yang dapat menimbulkan terjadinya pengangguran. Hal ini akan menjadi masalah baru dalam penerapan kebijakan pengelolaan yang mengikuti pendekatan bioekonomi. Oleh karena itu perlu adanya kerjasama antara pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan pengelola, masyarakat khususnya nelayan, dan pihak yang terkait untuk memahami pentingnya kebijakan ini dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan dalam kurun waktu ke depan. Salah satu solusi yang mungkin akan membantu mengurangi adanya pengangguran nelayan adalah dengan menciptakan suatu alternatif pekerjaan baru seperti memperluas lapangan pekerjaan dalam kegiatan pengolahan hasil tangkapan.

Dalam implementasinya, strategi pengelolaan seperti yang dijelaskan di atas memerlukan pengawasan yang baik. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat di

Teluk Banten sangat diperlukan agar strategi pengelolaan sumberdaya ikan perikanan dapat berjalan baik.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah :

1. Ikan teri (Stolephorus indicus) di Teluk Banten memiliki persamaan pertumbuhan Lt=109.55(1-exp[-0.20 (t+1.74)]) dan pola pertumbuhannya adalah allometrik negatif dengan persamaan W= 0.048L1.0304

2. Laju mortalitas (Z) ikan teri adalah 2.84 per tahun dengan laju mortalitas alami (M) sebesar 0.84 per tahun dan laju mortalitas penangkapan (F) sebesar 2.00 per tahun sehingga dapat diindikasikan bahwa kematian ikan teri di Teluk Banten sebagian besar disebabkan oleh aktivitas penangkapan dengan tingkat laju ekspoitasi (E) sebesar 0.71 dan sudah melebihi nilai optimum.

3. Hasil analisis kondisi stok ikan teri di Teluk Banten dengan pendekatan model bioekonomi Gordon Schaefer diperoleh nilai MEY (Maximum Economic Yield) dan Fmey sebesar 127.31 ton dan 1 579 trip per tahun dengan rente optimum sebesar Rp 478.11 juta, sedangkan untuk nilai MSY (Maximum Sustainable Yield) diperoleh 146.39 ton dan 2 470 trip per tahun dengan rente Rp 325.44 juta.

4. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh diketahui bahwa ikan teri di Teluk Banten telah mengalami kondisi tangkap lebih yaitu growth overfishing dan economic overfishing.

5. Implementasi untuk rencana pengelolaan stok ikan teri di Teluk Banten adalah pembatasan jumlah trip alat tangkap bagan dengan tidak melebihi jumlah upaya tangkapan maksimum secara ekonomi (fMEY) sebesar 1 579 trip/tahun dengan hasil tangkapan optimum (MEY) sebesar 127.31 ton per tahun, pengaturan izin penangkapan dan pengaturan ukuran mata jaring serta perlunya kerjasama antar pemerintah sebagai pembuat kebijakan, masyarakat, dan pihak yang terkait dalam melaksanakan kebijakan pengelolaan stok ikan teri di Teluk Banten agar lestari secara biologi dan ekonomi.

5.2. Saran

Dalam penelitian studi dinamika stok ikan teri di Teluk Banten selanjutnya disarankan untuk dilakukan analisis aspek pola rekruitmen, reproduksi dan hasil tangkapan ikan teri agar dapat diketahui musim pemijahan ikan teri sehingga dapat menduga musim – musim puncak penangkapan ikan teri. Ikan contoh yang diambil sebaiknya mewakili setiap musim penangkapan sehingga informasi yang diperoleh dapat lebih menyeluruh.

Dokumen terkait