4. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil
4.2.1. Sebaran ukuran panjang ikan teri (Stolephorus indicus)
Pergeseran selang ukuran panjang ikan yang banyak tertangkap ke selang ukuran yang lebih besar dapat dijadikan sebagai indikasi adanya pertumbuhan pada interval waktu pengamatan yaitu satu bulan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pergeseran selang ukuran panjang ikan yang banyak tertangkap ke selang ukuran yang lebih besar dari 9 Februari 2010 sampai 21 Maret 2010 ke arah kanan sehingga dapat diindikasikan adanya pertumbuhan pada interval waktu pengamatan yaitu delapan hari. Hal ini dapat dilihat pada perubahan nilai tengah rata-rata dari masing-masing cohort yang diperoleh dari pemisahan kelompok ukuran melalui analisis metode Normal Separation (NORMSEP) yang terdapat dalam program FISAT II (Gambar 12).
Untuk kelompok ukuran pertama diperoleh pergeseran nilai tengah rata-rata panjang sebesar 22.07 mm pada penarikan contoh pertama (9 Februari 2010) hingga 63.72 mm pada akhir penarikan contoh (21 Maret 2010). Sedangkan pada kelompok ukuran kedua yang digunakan dalam analisis parameter pertumbuhan Ford-Walford terdapat pergeseran nilai tengah rata-rata panjang sebesar 38.72 mm pada penarikan contoh pertama (9 Februari 2010) hingga 83.58 mm pada akhir penarikan contoh (21 Maret 2010). Sedangkan untuk kelompok ukuran ketiga hanya ditemukan pada penarikan contoh ketiga dan keempat (17 dan 25 Februari 2010) yaitu sebesar 62.45 mm dan 73.30 mm. Serta pada penarikan contoh terakhir dengan nilai tengah rata-rata panjang 99.50 mm.
Hasil analisis pemisahan kelompok ukuran ikan teri menunjukkan bahwa jumlah total ikan yang diamati yaitu 1062 ekor. Jumlah ini dapat bernilai lebih besar ataupun lebih kecil dibandingkan dengan jumlah ikan contoh yang diobservasi. Perbedaan nilai teoritis dengan nilai observasi disebabkan oleh adanya pengacakan. Meskipun ikan contoh yang digunakan merupakan contoh acak yang sempurna nilai observasi akan tetap mengalami fluktuasi seputar distribusi yang sesungguhnya (distribusi dari populasi) (Sparre dan Venema 1999).
Gambar 12. Pergeseran nilai tengah rata - rata panjang ikan teri 9 Februari 2010 n = 149 15 Februari 2010 n = 158 25 Februari 2010 n = 182 13 Maret 2010 n = 393 21Maret 2010 n = 407
Dalam pemisahan kelompok ukuran ikan dengan menggunakan metode Bhattacharya, indeks separasi (Separation Indeks, SI) sangat penting untuk diper-hatikan. Menurut Hasselblad (1969), McNew & Summerflat (1978), dan Clark (1981) in Sparre dan Venema (1999), jika nilai I<2 maka pemisahan kelompok ukuran tidak mungkin dilakukan karena terjadi tumpang tindih yang besar antar kelompok ukuran ikan. Berdasarkan hasil pemisahan kelompok ukuran ikan teri pada 9 Februari 2010 diperoleh nilai indeks separasi antar kelompok ukuran yaitu 5.29. Pada 17 Februari 2010 nilai indeks separasi antar kelompok ukuran adalah 7.46 dan 6.83. Pada 25 Februari 2010 nilai indeks separasi antar kelompok ukuran adalah 4.97 dan 3.48. Pada 13 Maret 2010 nilai indeks separasi antar kelompok ukuran adalah 5.96 serta pada 21 Maret 2010 nilai indeks separasi antar kelompok ukuran adalah 5.05 dan 6.28. Hal ini menunjukkan bahwa pemisahan kelompok ukuran ikan teri di atas dapat diterima dan digunakan untuk analisis selanjutnya.
Pergeseran selang ukuran panjang ikan yang banyak tertangkap ke selang ukuran yang lebih kecil dapat dijadikan sebagai indikasi adanya rekruitmen pada interval waktu pengamatan delapan hari. Hal ini dapat dilihat pada pengambilan contoh 13 Maret 2010 dimana munculnya selang ukuran panjang ikan yang lebih kecil mulai dari selang 15 - 16 mm sampai selang 43 - 44 mm (Gambar 12). Namun, untuk menentukan musim pemijahan dan rekruitmen ikan teri di Teluk Banten perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Ikan berukuran besar dengan jumlah yang sangat sedikit ini diduga adalah induk ikan teri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lagler et al. (1977) bahwa ukuran terbesar yang muncul pada umumnya berhubungan dengan induk yang paling “penting”. Panjang minimum ikan teri yang tertangkap selama penelitian sebesar 15 mm dan panjang maksimum adalah 104 mm. Menurut Hutomo et al. (1987), panjang maksimum yang dapat dicapai ikan teri dapat 175 mm.
Perbedaan panjang maksimum yang diperoleh dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu perbedaan lokasi pengambilan ikan contoh, keterwakilan contoh yang diambil, dan kemungkinan terjadinya tekanan penangkapan yang tinggi. Spesies yang sama pada lokasi yang berbeda akan memiliki pertumbuhan yang berbeda pula karena perbedaan faktor luar maupun faktor dalam yang
mempengaruhi pertumbuhan ikan tersebut. Selain itu, karena adanya pengacakan ketika pengambilan contoh sehingga peluang ikan besar terambil lebih besar.
Menurut Effendie (1997) faktor dalam adalah faktor yang sulit dikontrol seperti keturunan, jenis kelamin, umur, parasit, dan penyakit. Faktor luar yang utama mempengaruhi pertumbuhan ikan yaitu suhu dan makanan. Dengan mengasumsikan bahwa ikan contoh sudah mewakili populasi yang ada maka ukuran panjang total maksimum yang lebih kecil bisa mengindikasikan adanya tekanan penangkapan yang tinggi. Namun, untuk menyimpulkan hal ini perlu dilakukan pembandingan spesies dan lokasi yang sama serta kajian lebih lanjut.
Tabel 7. Sebaran kelompok ukuran ikan teri (S. indicus) di Teluk Banten pada setiap pengamatan
Tanggal Nilai tengah panjang total (mm) kelompok ukuran 1 kelompok ukuran 2 kelompok ukuran 3 9 Februari 2010 22.07 38.72 - 17 Februari 2010 30.36 44.50 62.45 25 Februari 2010 49.5 62.61 73.3 13 Februari 2010 59.93 83.49 - 21 februari 2010 63.72 83.58 99.50
4.2.2. Hubungan panjang bobot
Dari hasil analisis hubungan panjang bobot diperoleh persamaan hubungan panjang bobot ikan teri adalah W= 0.048L1.0304 dengan kisaran nilai b antara 0.89 – 1.16 dan umumnya mendekati 3. Setelah dilakukan uji t terhadap nilai b (α=0.05) diperoleh bahwa nilai b < 3 (p<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa ikan teri memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif, artinya bahwa pertumbuhan panjang ikan lebih cepat daripada pertumbuhan bobotnya (Effendie 1997). Pola pertumbuhan yang sama juga dimiliki oleh ikan teri di perairan Cirebon (Supriyadi 2008). Hal ini sesuai dengan pernyataan Setyohadi et.al (2001) in Supriyadi (2008) nilai faktor kondisi untuk semua jenis ikan teri menunjukkan kondisi allometris.
Hubungan panjang bobot dari suatu populasi ikan mempunyai beberapa kegunaan, yaitu menurut Smith (1996) in Harmiyati (2010) dapat memprediksi bobot suatu jenis ikan dari panjang ikan yang dapat berguna untuk mengetahui biomassa populasi ikan tersebut. Parameter pendugaan antar kelompok-kelompok
ikan digunakan untuk mengidentifikasi keadaan populasi suatu jenis ikan berdasarkan ruang dan waktu, sedangkan menurut Fafioye (2005) in Harmiyati (2010) analisis panjang bobot yang dihubungkan dengan data kelompok umur dapat digunakan untuk mengetahui komposisi stok, umur saat pertama memijah, siklus kehidupan, kematian pertumbuhan, dan produksi.
Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, diantaranya adalah faktor dalam dan faktor luar yang mencakup jumlah dan ukuran makanan yang tersedia, jumlah makanan yang menggunakan sumber makanan yang tersedia, suhu, oksigen terlarut, faktor kualitas air, umur, dan ukuran ikan serta matang gonad Effendie (1997).
Menurut Bagenal (1978) in Dina (2008) faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan nilai b selain perbedaan spesies adalah faktor lingkungan, berbedanya stok ikan dalam spesies yang sama, tahap perkembangan ikan, jenis kelamin, tingkat kematangan gonad, bahkan perbedaan waktu dalam hari karena perubahan isi perut. Moutopoulos dan Stergiou (2002) in Kharat et al. (2008) menambahkan bahwa perbedaan nilai b juga dapat disebabkan oleh perbedaan jumlah dan variasi ukuran ikan yang diamati.