Studi ini menyediakan suatu tinjauan pemutahiran dari aspek geologi luapan lumpur Lusi dan juga makalah pertama yang menyediakan suatu ringkasan secara seimbang, disertai harapan agar tidak bias terhadap model anatomi utama dari model-model untuk bencana geologi yang unik ini ( sum m ary of t he m ain m anat om ical m odels for t his unique geological disast er) .
Sehingga aspek debat terhadap pemicu Lusi yang lebih rinci tidak tercakup di sini. Dilakukan revisi stratigrafi, ringkasan geologi di ekstrapolasi dari pengukuran di permukaan dan diskusi kedua model untuk sistem saluran bawah permukaan Lusi ( subsurface plum bing syst em ) yang mempunyai implikasi terhadap debat pemicu dan untuk kemungkinan evolusi dan durasi dari bencana ini (have im plicat ions for t he t riggering debat e and for t he possible evolut ion and longevit y of t his disast er.)
Revisi dari stratigrasi di bawah Lusi mempunyai beberapa implikasi yang luas.
Semua studi yang tertuju pada aliran lumpur Lusi telah menentukan satuan batuan karbonat dalam sebagai Formasi Kujung, dan telah dibuat asumsi terhadap sifat-sifat yang diketahui ( known propert ies) dari satuan ini.
Lebih jauh lagi, secara teori untuk sumur Banjar Panji-1 bahwa sasaran dari karbonat diasumsikan m ild overpressure, sebagaimana yang rutin yang dapat diamati pada reservoir karbonat Kujung di daerah lepas pantai.
Namun, di derah yang berdekatan tumpukan karbonat ( carbonat e m ound)
yang ditembus oleh sumur Porong-1, berjarak 7 km jauhnya menunjukkan kondisi overpressure yang sangat tinggi (very high overpressures) .
Baru-baru ini, Swarbrick et al. ( under review) berupaya untuk menghitung durasi yang mungkin dari aliran Lusi dengan mengasumsikan sumur dikembangkan, kecepatan semburan ( flow rat e), porositas dan permeabilitas dari karbonat Kujung tapi sekarang tidak memadai lagi.
Ditentukan signifikan secara sosial dan hukum dari bencana Lusi, yang sebelumnya menggunakan informasi dari karbonat Kujung dinyatakan sudah tidak dapat berlaku lagi (cannot be considered as valid).
Penafsiran yang baru dari satuan yang menutupi karbonat dan yang membawahi lempung Formasi Kalibeng Atas ( of t he unit overlying t he carbonat es and underlying t he Upper Kalibeng clays) terdiri dari batuan-batuan ekstrusi dengan prosositas rendah, daripada sedimen volcanoklastik yang permeabel yang telah mempunyai implikasi pada hidrodinamika terhadap daerah ini ( being com prised of low porosit y and t ight ext rusive igneous rocks, rat her t han perm eable volcaniclast ic sedim ent s has m aj or im plicat ions for t he hydrodynam ics of t he region).
Model dimana fluida terutama berasal dari karbonat dalam tidak layak kecuali karbonat disekat, dan menjadi tidak layak dari usulan stratigrafi yang diusulkan pada tahap awal ( The m odel in w hich t he fluids are prim arily derived from t he deep carbonat es is not feasible unless t he carbonat es are sealed, and t hus w as not likely under t he init ially proposed st rat igraphy). Lebih jauh lagi, pada model pencairan lempung ( clay liquefact ion m odel) ,
telah diusulkan bahwa kecepatan aliran yang tinggi merupakan pada jangka panjang sebagai hasil penambahan dari akuifer yang sebelumnya berasal dari pasir klastikvolkanik ( t he long t erm high flow rat es are t he result of addit ional aquifer drive from t he previously considered volcaniclast ic sands). Teori ini tidak tampak di bawah stratigafi yang direvisi.
RANGKUMAN
SUMMARY
Studi ini menyediakan suatu pembaruan tinjauan terhadap geologi dari luapan lumpur Lusi and juga makalah pertama yang menyediakan suatu ringkasan yang seimbang dan tidak bias dari model anatomi dari suatu bencana geologi yang unik ini.
Sehingga debat terhadap pemicu tidak tercakup secara rinci disini, revisi stratigrafi, ringkasan geologi ektrapolasi dari pengukuran permukaan dan diskusi kedua model untuk sistem saluran ( plum bing syst em ) mempunyai implikasi untuk debat pemicu dan untuk kemungkinan evolusi dan durasi dari bencana ini ( have im plicat ions for t he t riggering debat e and for t he possible evolut ion and longevit y of t his disast er) .
Isu utama dan keseimpulan dari studi ini diringkas sebabagai berikut:
• Kedalaman karbonat di bawah Lusi ( The deep carbonat es underneat h Lusi) berumur Miosen dan tampaknya adalah Formasi Tuban, jadi bukan karbonat Kujung berumur Oligosen ( not t he Oligocene Kuj ung carbonat es)
• Karbonat dalam ditutupi oleh batuan beku ekstrusi ( ext rusive igneous rocks) terdiri dari dasit, andesif, dan ‘w elded t uffs’ yang mempunyai porositas sangat rendah ( have very low porosit ies ) yaitu <5% dan tampaknya juga mempunyai pemealitas rendah ( low perm eabilit ies), jadi bukan pasir klastik volkanik ( n ot pe r m e a ble volca n icla st ic sa n ds).
• Fraksi padat dari lumpur yang disemburkan oleh Lusi bersumber dari lempung Formasi Kalibeng Atas ( t he Upper Kalibeng clays) pada kedalaman antara 1219-1828m (Mazzini et al., 2007).
• Rata-rata kecepatan aliran Lusi adalah sangat signifikan lebih rendah dari yang dilaporkan oleh publikasi ilmiah dan pada media ( Average flow rat e for Lusi is significant ly lower t han what has been previously report ed by scient ific publicat ions and in t he m edia) .
• Rata-rata kecepatan aliran pada tiga tahun pertama diperkirakan 64.000m3/hari (daripada 90.000-10.000 m3/hari) dan terhadap waktu telah berkurang (saat ini 20.000-30.000 m3/hari).
• Sistem pengumpan lumpur ( m ud feeder syst em ) pada kawah utama,
( m ain vent ) dimana berlanjut ke bawah sekurang-kurangnya pada lempung Kalibeng Atas, adalah apakah mendekali suatu bentuk pipa mengkerucut ( conical pipe) atau dibentuk oleh perpotongan antara dua sistem sona patahan ( int ersect ion of t w o m ain fault zone) and sekurang-kurangnya lebar 30 cm sampai kedalaman 1000m.
• Terdapat banyak lokasi semburan kecil atau sekunder ( large num ber of m inor secondary erupt ion sit es ) yaitu air, lumpur dan gas yang disalurkan oleh sistem patahan geser berarah UT_SB dan UB-ST, dengan dua zona patahan berpotongan di dekat kawah Lusi ( feed by a current ly act ive NE- SW and NW- SE conj ugat e st rikeslip fault syst em , w it h t he t w o fault zones int ersect ing near t he m ain Lusi vent). Ketidakjelasan utama terhadap anatomi dari mud volcano Lusi ( t he anat om y of t he Lusi m ud volcano) adalah sumber air komponen dari lumpur yang disemburkan. Temperatur dan kimia dari air mencirikan kedalaman labih besar dari 1700m.
• Dua models untuk anatomi Lusi telah diusulkan, masing-masing secara genetic mempunyai keterkaitan dengan usulan pemicu dari bencana. Model pertama mengusulkan bahwa fluida utamanya dipisahkan dari
karbonat dalam overpressure ( overpressured deep carbonat es), dimana mengalir ke atas pada lubang sumur Banjar Panji-1 dan mengaktifkan kembali patahan-patahan ( react ivat ed fault s) ,
menembus lumpur Kalibeng Atas (dan berlanjut pada air fluida pori) pada perjalanan ke permukaan.
• Model yang disusulkan sebagai altrnatif adalah lumpur keseluruhan berasal dari lempung Kalibeng Atas, dimana telah digerakkan kembali karena dipicu oleh patahan-patahan yang sebelumnya telah ada di Sidoarjo ( t he m ud is ent irely derived from t he Upper Kalibeng clays, w hich have been rem obilised due t o rem ot e t riggering of preexist ing fault s underneat h Sidoarj o).
• Dataset yang ada sebelumnya tidak memadai untuk membenarkan atau tidak membenarkan ( unequivocally prove or disprove) model yang ada. Masing-masing model mempunyai bukti yang mendukungnya, dan juga kritik yang belum dapat dijelaskan.
Menentukan geologi bawah permukaan dan sistem saluran dari aliran lumpur Lusi merupakan langkah ke depan yang sangat mendasar untuk memperkirakan evolusi dari mud volcano, durasi yang mungkin dari semburan dan untuk menyelesaikan debat yang telah berlangsung brkepanjangan pada pemicu dari bencana geologi yang unik ini
( Det erm inat ion of t he subsurface geology and plum bing syst em of t he Lusi m ud flow is an essent ial first st ept ow ards predict ing t he evolut ion of t he m ud volcano, likely durat ion of t he erupt ion and for resolving t he long-running debat e on t riggering of t his unique geological disast er).