• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

B. Implikasi dan Rekomendasi

Sehubungan dengan uraian di atas, maka arah perkembangan pendidikan pesantren diperkirakan akan berjalan menempuh bentuk-bentuk sebagai berikut :

a. Tetap berbentuk lama, yaitu sebagai pendidikan non-formal, khusus mendalami ilmu-ilmu agama, yang menekankan pentingnya pengamalan agama dalam kehidupan sehari-hari, bersumber dari penilaian para ahli fikih dan sufistik dari abad ke-7 s/d 13 M dengan kitab-kitab klasik keagamaan.Tampaknya bentuk itu secara murni dan konsekuen sudah tidak memadai lagi untuk dipertahankan, tetapi beberapa nilai tertentu masih amat penting untuk dipertahankan dan bahkan perlu dikembangkan. Misalnya keikhlasan, kesederhanaan, kebersamaan, dan moral keberagamaan sebagai pedoman dalam hidup keseharian.

b. Berbentuk tetap sebagai pendidikan non-formal dibidang agama tetapi dilengkapi dengan berbagai keterampilan, dengan catatan bahwa bidang studi keagamaan juga terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan pemikiran dalam Islam. Jadi, tidak hanya terbatas pada sumber-sumber literatur klasik

185

Hendar Priatna, 2015

KONSEP PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN MENURUT K.H. ABDURAHMAN WAHID Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

yaitu terbatas pada fikih-sufistik saja, tapi perlu dilengkapi dengan filsafat dan pemikiran-pemikiran baru dalam Islam sesuai dengan perkembangan zaman. Tampaknya bentuk ini akan dapat bertahan terus, tapi kelemahannya ia tidak mampu mengakomodasikan perkembangan ilmu dan teknologi termasuk ilmu-ilmu agama secara teoritis dimasa-masa mendatang. Bentuk kedua ini berarti pesantren lebih menjadi lembaga pemakai ilmu daripada sebagai lembaga pengembang ilmu.

c. Berbentuk seperti alternatif kedua ditambah dengan penyelenggaraan pendidikan formal, baik madrasah maupun sekolah umum, sebagaimana sekarang ini berlaku: Pesantren, madrasah, sekolah umum, bahkan perguruan tinggi hidup dalam satu kampus pesantren. Bentuk seperti ini diperkirakan akan dapat bertahan di masa-masa depan, karena dengan demikian akan saling mengisi kekurangan masing-masing. Pesantren sebagai jenis pendidikan non- formal bertugas menggarap bidang nilai yang dalam hal ini sebagai lembaga tafaqquh fiddin dan pengamalan agama, sementara pendidikan formal (madrasah dan sekolah umum) yang berperan menggarap bidang ilmu. Dengan kata lain, bentuk yang ketiga ini adalah: pendidikan formal diselenggarakan dalam lingkar budaya pesantren. Tetapi dengan alternatif ketiga ini pesantren akan tetap menjadi pendidikan non-formal, yang hidup berdampingan dengan pendidikan formal.

d. Berubah menjadi bentuk pendidikan formal yang mempelajari khusus ilmu- ilmu agama, dalam pengertian sebagaimana disebut dalam alternatif pertama didepan. Bentuk ini kiranya tidak dapat dipertahankan karena ilmu-ilmu yang diajarkan kurang memadai dengan kebutuhan.

e. Berubah menjadi alternatif keempat ditambah dengan ilmu-ilmu pengetahuan umum dan ilmu-ilmu agama yang diajarkan dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan pemikiran dalam Islam. Jadi, dalam alternatif kelima ini pengajaran ilmu-ilmu agama menjadi mayoritas, sedang ilmu pengetahuan

186

Hendar Priatna, 2015

KONSEP PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN MENURUT K.H. ABDURAHMAN WAHID Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

umum menjadi minoritas. Alternatif kelima ini sama dengan sekolah-sekolah percobaan yang diadakan oleh Departemen Agama yang disebut "Madrasah Plus" yang sekarang berubah menjadi "Madrasah Keagamaan".

f. Berubah menjadi bentuk pendidikan formal, sebagaimana alternatif kelima diatas, akan tetapi dengan perbandingan terbalik: 70% akal (ilmu pengetahuan umum atau metode berpikir), 30% moral (agama).

Hendar Priatna, 2015

KONSEP PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN MENURUT K.H. ABDURAHMAN WAHID Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR PUSTAKA

Baso, A. (2006), NU Studies, Jakarta: PT. Erlangga

Barton, G. (2002). Biografi Gusdur The authorized Biography Of Abdurrahman Wahid, Yogyakarta: LKIS.

Departemen Agama RI, ( 2006 ). Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam.

Departemen Agama RI, (2007). Direktori Pesantren, Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam

Deni, K. (2008), Seluk Beluk Profesi Guru, Bandung: PT. Pribumi Mekar Dhofier, Z. (1994), Tradisi Pesantren, Jakarta: LP3ES.

Djabir, A. R. (2002), Etika Pendidikan dan Tradisi Pesantren, Jakarta: Mizan Hanun, A. (2001), Sejarah Pendidikan Islam, Ciputat: PT. Logos Wacana Ilmu. Ibrahim, A. (2003), Syariat Islam. Jakarta: PT. Insan Cemerlang.

Kuhn, T. (2008), Peran Paradigma Dalam Revolusi Sciens. Bandung: PT. Remaja Rosda karya.

Langgulung, H. (2000), Asas–Asas Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Al-Husna Zikra

Mahfud, S. (2011), Solusi Hukum Islam, Surabaya: PBNU

Mahfud, M. (2003), Demokrasi Dan Konstitusi Di Indonesia, Jakarta: PT. Adi Maha satya.

Moleong, L.J. (2009), Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Muctar, A. (2012 ), Ulum Al Quran, Bandung: Makrifat Media Utama. Muctar, A. (2012), Makrifat Al Rosul. Bandung: Makrifat Media Utama.

Hendar Priatna, 2015

KONSEP PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN MENURUT K.H. ABDURAHMAN WAHID Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Mukafi, A. ( 2014 ), Gusdur itu Wali, Jakarta: PT. Renebook.

Mudyaharjo, R. (2012). Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Permana, J. (2013). Penelitian Kualitatif, Bandung: Rizqi Pres

Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd.( 2011/06/02). Peranan Pesantren dalam Pendidikan karakter

Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd. Strategi Pengembangan Pendidikan berbasis Nilai Etika dan Budaya

Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd. Strategi Pembangunan Bidang Pendidikan untuk Mewujudkan Pendidikan Bermutu.

Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd. Membangun Profesionalisme Guru Berbasis Nilai Bahasa Santun,Bagi Pembinaan Kepribadian Bangsa yang Bijak.

Prof. H. Abd. Rahman Mas’ud. Ph.D.(2010).Memahami Agama Damai Dunia Pesantren. Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Purwanegara, D. (2011). Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung: CV. Dea Art Pustaka.

Risalah. (1431). Edisi 14 tahun III. PBNU.

Ruswandi, H. (2009), Kehidupan Pada Masa Pra-Indonesia Zaman Pergerakan, Bandung: PT. Setia Purna Inve.

Saifudin, E. (1991), Ilmu Filsafat Dan Agama, Surabaya: PT. Bina Ilmu. Sukiyadi, D. (2006), Kurikulum Dan Pembelajaran, Bandung: UPI Pres. Shidik, S. (2012), Ushul Fiqih, Jakarta: PT. Inti Media Cipta nusantara. Tafsir, A. (1994), Filsafat Umum, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Titus, (1984), Persoalan-Persoalan Filsafat, Jakarta: PT. Bulan Bintang

Hendar Priatna, 2015

KONSEP PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN MENURUT K.H. ABDURAHMAN WAHID Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Usaman, S.(2001), Hukum Islam, Jakarta: PT. Gaya Media Pratama.

Wahab, R. (2004), Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Bandung: Alfabeta. Wahid, A. (2001), Menggerakkan Tradisi. Yogyakarta: LKis Yogyakarta. Wahid, A. (2000), Prisma Pemikiran Gusdur. Yogyakarta: LKiS.

Wahid, A. (2010), Menjawab Kegelisahan Rakyat, Jakarta: Kompas. Waini, R. (2009), Filsafat Pendidikan, Bandung: UPI Press.

Waini, R. (2014), Pedagogik Teoritis Dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Dokumen terkait