• Tidak ada hasil yang ditemukan

Salah satu implikasi yang penting dari hasil regresi adalah bahwa GDP memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perdagangan bilateral diantara ekonomi ASEAN. Hal ini dapat diasumsikan bahwa pola permintaan negara ASEAN 5 sama. Oleh karena itu produk-produk yang masuk dalam model tidak terdiferensiasi pada tujuan ekspor. Hal tersebut bukan berarti bahwa GDP gap diantara ekonomi ASEAN akan dipertahankan dalam upaya untuk memperbaiki lingkungan perdagangan. Perbedaan gap yang kecil akan dimasukkan ke dalam skema agenda. Hal ini dikarenakan perjanjian AFTA tidak menyediakan skema kompensasi untuk negara yang kurang diuntungkan dari perjanjian. Salah satu kemungkinan untuk mendistribusikan manfaat dari liberalisasi perdagangan secara relatif dengan menyediakan kepada negara anggota kebijakan pro-perdagangan untuk meningkatkan atau memperbaiki kapasitas ekonomi mereka.

Kebijakan lainnya adalah implikasi dari hambatan tarif. Variabel tarif memberikan pengaruh yang signifikan pada perdagangan bilateral intra-ASEAN.

Hal ini mengindikasikan bahwa tarif sebagai faktor penghambat dalam perdagangan dapat menurunkan perdagangan antar negara ASEAN. Dimana semakin tinggi tarif yang dikenakan untuk setiap komoditi yang diperdagangkan menyebabkan perdagangan yang dilakukan akan menjadi semakin menurun. Oleh karena itu, negara-negara ASEAN 5 sepakat untuk membentuk kerja sama diantara negara-negara anggotanya untuk menurunkan tarif antar negara dan menghilangkan hambatan non tarif hingga mencapai antara 0 sampai 5% yang direncanakan dalam skema CEPT guna mencapai liberalisasi perdagangan di kawasan ASEAN.

Variabel jarak yang signifikan mencerminkan bahwa ekonomi ASEAN khususnya ASEAN 5 akan dihalangi oleh lokasi geografi antar ekonomi ASEAN. Dimana jarak merupakan faktor penghambat dalam perdagangan. Jarak dihubungkan dengan biaya transportasi, perdagangan antara negara anggota ASEAN akan meningkat mengikuti pembangunan infrastruktur yang luas. Pembangunan ekonomi yang dihasilkan dari pembangunan seperti infrastruktur akan menekan jarak ekonomi antar negara.

Kedua variabel trade facilitation yang dimasukkan ke dalam model yaitu transparansi indeks dan Mutual Recognition Agreements (MRAs) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN. Dimana variabel transparansi indeks memberikan pengaruh yang signifikan untuk komoditi kosmetik. Sedangkan variabel MRAs memberikan pengaruh yang signifikan untuk kedua komoditi.

Kebijakan trade facilitation untuk komoditi kosmetik, listrik dan telekomunikasi yang masuk ke dalam perjanjian MRAs dapat dikatakan ada indikasi bahwa kebijakan tersebut belum sepenuhnya efektif. Hal ini disebabkan variabel transparansi indeks untuk komoditi kosmetik dan variabel MRAs untuk komoditi listrik dan telekomunikasi memberikan pengaruh yang negatif terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN.

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan bahwa dari hasil estimasi bersama kelima negara ASEAN, perdagangan bilateral antar negara anggota ASEAN untuk komoditi kosmetik dipengaruhi oleh GDPj (GDP negara pengimpor), POPi (populasi negara pengekspor), Transparansi Indeks (TI), Tarif, dan MRAs. Sedangkan untuk komoditi listrik dan telekomunikasi, perdagangan bilateral intra-ASEAN dipengaruhi oleh GDPi (GDP negara pengekspor), GDPj (GDP negara pengimpor), POPi (populasi negara pengekspor), Tarif, Jarak, dan MRAs. Perubahan pada masing-masing variabel ini akan mempengaruhi perdagangan bilateral intra-ASEAN.

Dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN dapat dilihat dari pengaruh yang ditimbulkan oleh kedua variabel yang mewakili indeks trade facilitation yaitu transparansi indeks dan Mutual Recognition

Agreements (MRAs) untuk komoditi kosmetik, listrik dan telekomunikasi. Dalam

hal ini yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap perdagangan bilateral adalah transparansi indeks dan MRAs pada komoditi kosmetik. Akan tetapi untuk variabel transparansi indeks memiliki nilai yang negatif. Dimana semakin tinggi transparansi indeks yang memberikan kemungkinan semakin rendahnya korupsi justru menyebabkan perdagangan menjadi semakin menurun. Hal ini terjadi karena para petugas di bea cukai tidak dapat mengambil keuntungan dari barang-barang kosmetik yang akan diperdagangkan karena rendahnya tingkat korupsi yang dapat dilakukan sehingga menyebabkan aliran perdagangan untuk komoditi

kosmetik menjadi terhambat. Dengan demikian mengakibatkan volume perdagangan menjadi menurun. Sedangkan MRAs memberikan pengaruh yang positif terhadap perdagangan bilateralnya. Dimana setelah adanya perjanjian MRAs menyebabkan volume impor komoditi kosmetik menjadi meningkat, sehingga perdagangan juga menjadi semakin meningkat.

Untuk komoditi listrik dan telekomunikasi, transparansi indeks memberikan pengaruh yang tidak signifikan. Sedangkan variabel MRAs memberikan pengaruh yang negatif terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN. Hal ini mengindikasikan bahwa setelah adanya perjanjian MRAs menyebabkan volume impor untuk komoditi listrik dan telekomunikasi menjadi menurun. Sehingga perdagangan juga menjadi menurun. Akan tetapi, menurunnya perdagangan bukan karena perjanjian yang telah disepakati sebelumnya, melainkan karena memang trend impor untuk komoditi listrik dan telekomunikasi yang mengalami penurunan pada tahun 2004. MRAs mulai diimplementasikan pada tahun 2002, sedangkan impor komoditi tersebut mengalami penurunan hanya satu tahun pasca MRAs. Sehingga dapat dikatakan menurunnya perdagangan bukan disebabkan oleh adanya perjanjian MRAs melainkan oleh faktor lain, yaitu pertumbuhan GDP yang semakin menurun pada tahun 2002-2004 dan meningkatnya inflasi yang sangat tajam pada tahun 2004.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka dalam melihat dampak trade

facilitation terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN, dapat dikatakan ada

indikasi bahwa kebijakan trade facilitation untuk kedua komoditi yang masuk ke dalam perjanjian MRAs belum sepenuhnya efektif. Hal ini disebabkan variabel

transparansi indeks untuk komoditi kosmetik dan variabel MRAs untuk komoditi listrik dan telekomunikasi memberikan pengaruh yang negatif terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN.

5.2. Saran

Pada penelitian ini telah dilakukan estimasi regresi gravity model untuk tahun 2001-2004 dalam menganalisis dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN untuk kelima negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand. Dengan menggunakan indeks transparansi dan Mutual Recognition Agreements (MRAs) untuk mewakili indeks

trade facilitation.

Pada penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan data maka pada penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggambarkan pengaruh trade

facilitation terhadap perdagangan bilateral antar negara-negara anggota ASEAN

yang baru dengan dapat juga menambahkan variabel lain yang dapat mewakili indeks dari trade facilitation dengan periode waktu yang lebih lama. Variabel-variabel yang ditambahkan diharapkan dapat memperjelas pembahasan perdagangan antara negara-negara anggota ASEAN yang telah dilakukan pada penelitian ini.

Di samping itu, kebijakan trade facilitation ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan, seperti kebijakan pengembangan ekspor Indonesia ke perekonomian yang lebih luas atau kebijakan industri berorientasi keluar yang lebih luas dalam rangka meningkatkan volume perdagangan pada masa yang akan datang.

Dokumen terkait