OLEH
INDAH JAYANGSARI H14102043
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006
ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 berdasarkan Bangkok
Declaration atas prakarsa lima negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Philipina,
Singapura, dan Thailand. Tahun 1992 negara anggota menyepakati dokumen pembentukan ASEAN Free Trade Area (AFTA) dalam waktu maksimal 15 tahun guna mencapai globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia. Dalam rangka menuju ke arah pembentukan AFTA, disepakati juga mekanisme utama yang digunakan yaitu Common Effective Preferential Tariff (CEPT), yaitu suatu konsep yang memberikan penekanan pada pengurangan atau penghapusan tarif serta non-tarif untuk produk manufaktur hingga mencapai antara 0 sampai 5 persen.
Pada tahun 2003, masing-masing negara anggota menurunkan hambatan perdagangan khususnya pada hambatan tarif yang direncanakan dalam AFTA (CEPT). Sebagai hasilnya, perkembangan perdagangan intra-ASEAN menjadi sangat signifikan. Walaupun demikian, pengetahuan negara-negara anggota tentang dampak penurunan tarif impor pada perdagangan bilateral akan terbatas. Dalam merespon dampak yang terbatas tersebut, akan diperkenalkan pengukuran
trade facilitation. Pengukuran ini bertujuan untuk menurunkan biaya transaksi dan
meningkatkan efisiensi perdagangan. Beberapa produk yang termasuk ke dalam proses trade facilitation antara lain kosmetik, farmasi, listrik dan produk-produk telekomunikasi. Kosmetik, listrik dan telekomunikasi merupakan produk-produk yang masuk dalam suatu perjanjian yang telah disepakati bersama oleh negara-negara anggota ASEAN, yaitu suatu perjanjian yang dimulai pada tahun 1998 yang dikenal dengan nama Mutual Recognition Agreements (MRAs).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi aliran perdagangan bilateral intra-ASEAN. Selain itu akan dianalisa dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN. Pada penelitian ini, untuk menganalisis dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN digunakan gravity model yang akan diestimasi dengan menggunakan metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least
Squares, OLS). Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari data
impor, Gross Domestic Product (GDP), populasi, transparansi indeks, tarif, dan jarak antar ibukota negara. Adapun jenis data yang digunakan adalah data panel, yaitu penggabungan antara data time series 2001-2004 dan data cross section yaitu Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi aliran perdagangan bilateral intra-ASEAN untuk komoditi kosmetik adalah GDPj (GDP negara pengimpor), POPi (populasi negara pengekspor), Transparansi Indeks (TI), Tarif, dan MRAs. Sedangkan untuk komoditi listrik dan telekomunikasi, perdagangan bilateral intra-ASEAN dipengaruhi oleh GDPi (GDP negara pengekspor), GDPj (GDP negara pengimpor), POPi (populasi negara
telekomunikasi. Transparansi indeks dan MRAs memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN untuk komoditi kosmetik. Dimana transparansi indeks memberikan pengaruh yang negatif sehingga menyebabkan volume perdagangan menjadi menurun. Sedangkan MRAs memberikan pengaruh yang positif. Hal ini menunjukkan bahwa dimana setelah adanya perjanjian MRAs menyebabkan volume impor komoditi kosmetik menjadi meningkat, sehingga perdagangan juga menjadi semakin meningkat.
Pada komoditi listrik dan telekomunikasi, transparansi indeks memberikan pengaruh yang tidak signifikan. Sebaliknya, MRAs memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN akan tetapi memiliki nilai yang negatif. Hal ini menunjukkan bahwa setelah perjanjian MRAs justru menyebabkan volume impor komoditi listrik dan telekomunikasi menjadi menurun, sehingga perdagangan bilateral intra-ASEAN untuk komoditi tersebut juga menjadi menurun. Hal ini disebabkan oleh menurunnya trend impor ASEAN pada tahun 2004 untuk komoditi listrik dan telekomunikasi yang disebabkan oleh menurunnya pertumbuhan GDP pada tahun 2002-2004 dan meningkatnya inflasi yang sangat tajam pada tahun 2004.
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa kebijakan
trade facilitation di ASEAN untuk komoditi kosmetik, listrik dan telekomunikasi
mengindikasikan bahwa kebijakan tersebut belum sepenuhnya efektif. Dengan demikian diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat juga menambahkan variabel lain yang dapat mewakili indeks trade facilitation dengan periode waktu yang lebih lama. Sehingga variabel-variabel yang ditambahkan diharapkan dapat memperjelas pembahasan perdagangan antar negara anggota ASEAN yang telah dilakukan pada penelitian ini.
Oleh
INDAH JAYANGSARI H14102043
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Pada Departemen Ilmu Ekonomi
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh, Nama Mahasiswa : Indah Jayangsari
Nomor Registrasi Pokok : H14102043 Program Studi : Ilmu Ekonomi
Judul Skripsi : Analisis Dampak Trade Facilitation Terhadap Perdagangan Bilateral Intra-ASEAN
dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor
Menyetujui, Dosen Pembimbing,
Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M. Ec. NIP. 131 846 871
Mengetahui,
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi,
Dr. Ir. Rina Oktaviani, M. S. NIP. 131 846 872 Tanggal Kelulusan:
DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Bogor, Agustus 2006
Indah Jayangsari H14102043
Suindra dan Zubaidah. Jenjang pendidikan penulis lalui tanpa hambatan, penulis menamatkan sekolah dasar pada Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayah, Cirendeu, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri 3, Pondok Pinang dan lulus pada tahun 1999. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMU Widuri, Lebak Bulus dan lulus pada tahun 2002.
Pada tahun 2002 penulis meneruskan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima sebagai mahasiswi Departemen Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama menjadi mahasiswi, penulis aktif dalam organisasi Hipotesa dan menjadi panitia pada Masa Perkenalan Jurusan dan Fakultas.
Skripsi ini berjudul Analisis Dampak Trade Facilitation Terhadap
Perdagangan Bilateral Intra-ASEAN. Perdagangan internasional merupakan
topik yang menarik karena diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi negara. Di samping itu, skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya terutama kepada Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan baik secara teknis maupun teoritis dalam proses pembuatan skripsi ini sehingga dapat diselesaikan dengan baik. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Sahara, M.Si yang telah menguji hasil karya ini, semua saran dan kritik beliau merupakan sesuatu ynag sangat berharga bagi penulis dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Selain itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Muhammad Findi, M.Si selaku dosen Komisi Pendidikan atas perbaikan tata cara penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Amzul Arifin, M. Sc atas bantuan dan kerja samanya dalam proses pengolahan data. Meskipun demikian, segala kesalahan yang terjadi dalam penelitian ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.
Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada kedua orang tua penulis yang selalu mendoakan dan memberikan semangat kepada penulis. Dorongan dan dukungannya sangat berarti sekali selama proses penyelesaian skripsi ini. Tidak lupa penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman atas segala masukan, bantuan, dan dukungannya selama proses pembuatan skripsi ini, khususnya teman-teman satu bimbingan terima kasih atas kebersamaannya selama ini, hari-hari yang kita lalui bersama akan jadi kenangan yang tidak terlupakan bagi penulis.
baik.
Penulis menyadari skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan. Semoga karya ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Bogor, Agustus 2006
Indah Jayangsari H14102043
DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN... xi I. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Perumusan Masalah ... 4 1.3. Tujuan Penelitian ... 8
1.4. Ruang Lingkup Penelitian... 9
1.5. Manfaat Penelitian ... 9
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN... 10
2.1. Tinjauan Teori... 10
2.1.1. Teori Perdagangan Internasional... 10
2.1.2. Definisi Trade Facilitation ... 11
2.1.3. Gravity Model ... 13
2.2. Penelitian Terdahulu ... 20
2.3. Kerangka Pemikiran Konseptual... 23
2.4. Hipotesis... 29
III. METODOLOGI PENELITIAN... 30
3.1. Jenis dan Sumber Data ... 30
3.2. Metode Analisis ... 30
3.2.1. Panel Data ... 31
3.2.1.1. Model Pooled ... 32
3.2.1.2. Model Efek Tetap (Fixed Effect)... 33
3.3. Perumusan Model ... 34
3.4. Pengujian Hipotesis... 35
3.4.1. Uji t ... 35
3.4.3. Koefisien Determinasi (R2) ... 37
3.5. Evaluasi Model... 38
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40
4.1. Hasil Estimasi Model dan Uji Asumsi OLS Klasik ... 40
4.1.1. Komoditi Kosmetik... 40
4.1.2. Komoditi Listrik dan Telekomunikasi ... 42
4.2. Interpretasi Model ... 45
4.2.1. Analisis Regresi Gravity Model pada Komoditi Kosmetik, Listrik dan Telekomunikasi ... 45
4.2.1.1. Komoditi Kosmetik... 45
4.2.1.2. Komoditi Listrik dan Telekomunikasi ... 49
4.2.2. Dampak Trade Facilitation Terhadap Perdagangan Bilateral ... 56
4.3. Implikasi Kebijakan ... 60
V. KESIMPULAN DAN SARAN... 63
5.1. Kesimpulan ... 63
5.2. Saran... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 66
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman 4.1. Hasil Estimasi dengan Model Efek Tetap (Fixed Effect)
pada Komoditi Kosmetik ... 42 4.2. Hasil Estimasi dengan Model Efek Tetap (Fixed Effect)
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman 1.1. Alur Perdagangan Produk Manufaktur di ASEAN
Sebelum MRAs ... 6
1.2. Alur Perdagangan Produk Manufaktur di ASEAN Setelah MRAs ... 7
2.1. Kurva Kemungkinan Produksi... 17
2.2. Analisis Parsial Pertambahan Populasi ... 18
2.3. Kerangka Pemikiran Konseptual... 28
4.1. Trend Impor Komoditi Listrik dan Telekomunikasi Tahun 2001-2004 ... 52
4.2. Pertumbuhan GDP ASEAN 5 Tahun 2001-2004 ... 54
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman 1. Data Panel untuk Komoditi Kosmetik
di Lima Negara ASEAN Tahun 2001-2004... 69 2. Data Panel untuk Komoditi Listrik dan Telekomunikasi
di Lima Negara ASEAN Tahun 2001-2004... 72 3. Hasil Estimasi Gravity Model dengan Metode Pooled
Untuk Komoditi Kosmetik... 75 4. Hasil Estimasi Gravity Model dengan Metode Fixed Effect
Untuk Komoditi Kosmetik... 76 5. Hasil Estimasi Gravity Model dengan Metode Pooled
Untuk Komoditi Listrik dan Telekomunikasi ... 77 6. Hasil Estimasi Gravity Model dengan Metode Fixed Effect
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 berdasarkan Bangkok
Declaration atas prakarsa lima negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Philipina,
Singapura, dan Thailand. Tujuan didirikannya ASEAN adalah meningkatkan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan sosial-budaya antar negara di kawasan Asia Tenggara. Inti pokok dari kerja sama ekonomi antar negara ASEAN adalah peningkatan lalu lintas perdagangan antar negara anggota ASEAN dengan memberikan perhatian khusus kepada peningkatan kerja sama regional. Kerja sama regional ini harus saling menguntungkan dan mampu memberi kontribusi pada masing-masing negara anggota ASEAN serta memberi prospek yang sangat cerah pada perkembangan ekonomi di negara Indonesia, baik secara mikro maupun secara makro (Hady, 2001).
Suatu terobosan penting dalam kerja sama ekonomi intra-ASEAN telah disetujui. Sidang para kepala pemerintahan ASEAN ke-4 di Singapura tanggal 27-28 Januari 1992 antara lain menyepakati dokumen pembentukan ASEAN Free
Trade Area (AFTA) dalam waktu maksimal 15 tahun guna mencapai globalisasi
dan liberalisasi perdagangan dunia. Keputusan ini telah memperlihatkan suatu langkah yang lebih maju untuk ASEAN.
Dalam rangka menuju ke arah pembentukan AFTA disepakati juga mekanisme utama yang digunakan, yaitu Common Effective Preferential Tariff (CEPT), yaitu suatu konsep yang memberikan penekanan pada pengurangan atau penghapusan tarif serta non-tarif untuk produk manufaktur hingga mencapai
antara 0 sampai 5 persen. Mekanisme ini mulai diberlakukan Januari 1993. Barang-barang yang dimasukkan dalam CEPT tersebut yang diimpor dari sesama negara ASEAN akan dikenakan bea masuk yang sama di semua negara anggota. Bea masuk ini akan lebih rendah dari pada bea masuk terhadap barang sejenis yang diimpor dari luar ASEAN (Rachmadi, 1992).
Berdasarkan dewan keempat AFTA dan pertemuan menteri-menteri ekonomi ASEAN yang ke-25, negara-negara anggota setuju untuk mempercepat implementasi AFTA melalui dua program penurunan tarif dibawah skema CEPT, antara lain :
1. The Fast Track Programme, menunjukkan bahwa (a) tarif di atas 20% akan diturunkan menjadi 0-5% dalam waktu 10 tahun. Negara-negara anggota yang melaksanakan program ini adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, dan (b) tarif 20% dan di bawah 20% akan diturunkan menjadi 0-5% dalam waktu 7 tahun (1 Januari 2000). Negara yang melaksanakan program ini adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura.
2. The Normal Track Programme, menunjukkan bahwa (a) tarif diatas 20% akan diturunkan dalam dua tingkat : (1) Untuk tarif 20% akan diturunkan dalam waktu 5-8 tahun (1 Januari 2001) dan (2) Kemudian untuk tarif 0-5% dalam waktu 7 tahun sesuai dengan jadwal yang telah disetujui yang berakhir pada 1 Januari 2008. Dalam program ini, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand mulai melaksanakan pemotongan tarif normal track, (b) tarif 20% dan dibawah 20% akan diturunkan menjadi 0-5% dalam waktu 10 tahun.
Dalam skema CEPT ini produk yang disertakan adalah barang manufaktur, barang modal, dan hasil pertanian olahan. Produk-produk yang masuk ini berdasarkan sektoral pada tingkat 6 digit HS. Setiap negara mempunyai kode barang yang berbeda-beda, sehingga untuk masuk dalam skema CEPT negara-negara anggota ASEAN sepakat untuk melakukan pengharmonisasian sistem atau melakukan sistem penyeragaman pada kode barang yang dikenal dengan nama
Harmonized System (HS).
Sejak tahun 2003, masing-masing negara anggota menurunkan hambatan perdagangan khususnya pada hambatan tarif yang direncanakan dalam AFTA (CEPT). Sebagai hasilnya, perkembangan perdagangan intra-ASEAN menjadi sangat signifikan. Walaupun demikian, pengetahuan negara-negara anggota tentang dampak penurunan tarif impor pada perdagangan bilateral akan terbatas. Dalam merespon dampak yang terbatas tersebut, akan diperkenalkan pengukuran
trade facilitation. Pengukuran ini bertujuan untuk menurunkan biaya transaksi dan
meningkatkan efisiensi perdagangan.
Trade facilitation muncul sebagai isu penting dalam liberalisasi perdagangan
unilateral, bilateral, dan multilateral. Pentingnya trade facilitation ini diakui secara nasional oleh semua pembuat kebijakan. Sebagian besar negara-negara melakukan perubahan luar biasa yang ditujukan pada penurunan biaya transaksi perdagangan. Akan tetapi tidak semua negara menempatkan trade facilitation tersebut dalam memulai perbaikan. Beberapa negara membutuhkan dukungan ekstra untuk memudahkan perdagangan karena mereka kekurangan sumber daya manusia dan sumber daya finansial. Dengan adanya trade facilitation ini akan
memudahkan aliran perdagangan antar negara-negara yang melakukan perdagangan, sehingga diharapkan dengan adanya trade facilitation ini perdagangan yang dilakukan oleh kedua negara yang berdagang menjadi lebih efisien dan aliran perdagangan menjadi semakin meningkat.
1.2. Perumusan Masalah
Trade facilitation merupakan salah satu faktor kunci untuk pembangunan
ekonomi dari suatu negara dan terkait dalam agenda nasional seperti kesejahteraan sosial, penurunan kemiskinan dan pembangunan ekonomi suatu negara dan masyarakatnya. Dalam konteks lingkup perdagangan internasional bea cukai memainkan peranan yang penting tidak hanya dalam mempertemukan tujuan dari pemerintah tetapi memastikan efektifitas dari kontrol yang menjamin pendapatan, tunduk terhadap hukum nasional, keamanan, dan melindungi masyarakat. Efisiensi dan efektifitas dari prosedur bea cukai memiliki pengaruh yang signifikan pada daya saing ekonomi suatu negara dan dalam pertumbuhan perdagangan internasional dan pembangunan pasar global.
Beberapa produk yang termasuk ke dalam proses trade facilitation antara lain kosmetik, farmasi, listrik dan produk-produk telekomunikasi. Kosmetik, listrik dan telekomunikasi merupakan produk-produk yang masuk dalam suatu perjanjian yang telah disepakati bersama oleh negara-negara anggota ASEAN, yaitu suatu perjanjian yang dimulai pada tahun 1998 yang dikenal dengan nama
Adapun manfaat potensial melalui implementasi MRAs adalah sebagai berikut (Hakim, Arifin, dan Sahara, 2006) :
(a) Mengurangi biaya. Para pedagang diperbolehkan menghindari prosedur pengujian yang berulang-ulang dan sertifikasi dari barang-barang ekspor bagi para anggota. Berdasarkan kesepakatan dari pengujian yang telah diakui dan proses sertifikasi barang-barang ekspor atau yang dijual di negara anggota lain secara otomatis diterima oleh badan regulasi. Dengan mengurangi tahapan pengujian dan sertifikasi barang, mereka dapat mengurangi biaya dari kedua prosedur dan menikmati keuntungan dari penjualan barang-barang yang berdaya saing tinggi dari negara-negara anggota lainnya.
(b) Menyediakan akses pasar yang lebih besar. Saat hambatan teknik perdagangan dihilangkan, para pedagang akan mempunyai akses yang lebih besar pada negara mitra dagangnya. Ini diharapkan mereka dapat memperluas skala ekonomi mereka.
(c) Meningkatkan kompetisi dan inovasi. Mengkombinasikan akses yang besar dan pengurangan biaya, para pedagang akan menghadapi kompetisi yang intensif dalam memproduksi barang oleh produsen dalam negeri dan barang-barang ekspor dari negara lain. Pada saat yang sama inovasi dan kualitas barang yang tinggi telah tersedia di pasaran.
(d) Memastikan keamanan dari barang-barang yang di pasarkan diantara negara-negara anggota. Konsumen akan dipenuhi oleh barang-barang yang berkualitas tinggi dan terjaga. Ini karena penerapan dari MRAs akan diiringi dengan pemenuhan tindakan perlindungan terhadap konsumen. Barang yang
telah melewati proses sertifikasi akan diberi label berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Pada saat yang sama mereka akan menerima barang dengan harga yang lebih rendah.
(e) Membangun forum bagi masing-masing para agen regulator sehingga dapat merubah pengalaman dan bekerja melalui praktek regulasi yang lebih baik. Perbedaan sebelum dan sesudah MRAs diperlihatkan pada gambar di bawah ini: Manufacture Conformity Assessment Body : - Testing - Certification Conformity Assessment Body : - Testing - Certification Regulatory body Regulatory body Country A Test report Country B Test report Country A Country B
Gambar 1.1. Alur Perdagangan Produk Manufaktur di ASEAN Sebelum MRAs
Sumber : ASEAN Sekretariat (Tidak dicantumkan Tahun)1
1 www.aseansec.org/pdf/accsq_2.pdf.
Country A Country B Conformity Assessment Body : - Testing - Certification Conformity Assessment Body : - Testing - Certification Regulatory body Regulatory body MRAs
Country A Test report
Manufacture
Gambar 1.2. Alur Perdagangan Produk Manufaktur di ASEAN Setelah MRAs
Sumber : ASEAN Sekretariat (Tidak dicantumkan Tahun)
Hubungan antara trade facilitation, aliran perdagangan, dan pembangunan kapasitas adalah kompleks dan menarik untuk dinilai baik secara empiris maupun didalam implementasi. Bahkan pada langkah awal hubungan trade facilitation dan aliran perdagangan, ditemukan masalah definisi dan pengukuran pada trade
facilitation. Bagaimanapun juga saat tarif mengalami penurunan, hal ini
menunjukkan bagaimana faktor-faktor lain yang mempengaruhi perdagangan telah menimbulkan kebijakan yang relevan.
Ketika trade facilitation didefinisikan dan diukur, tantangan selanjutnya adalah untuk mengestimasi pengaruh trade facilitation terhadap aliran perdagangan. Perdagangan suatu negara akan merubah tidak hanya melalui perbaikan-perbaikan trade facilitation masing-masing negara, tetapi juga perbaikan-perbaikan pada mitra dagang lain. Perbedaan secara relatif dari
pentingnya usaha trade facilitation pada perdagangan, sebagaimana dihitung melalui kategori usaha trade facilitation atau kelompok mitra dagang menghasilkan negosiasi dan memfokuskan pada pembangunan kapasitas. Sehingga dengan adanya trade facilitation diharapkan dapat meningkatkan volume perdagangan antar negara anggota.
Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang akan dibahas
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi aliran perdagangan bilateral intra-ASEAN untuk komoditi kosmetik, listrik dan telekomunikasi?
2. Bagaimana dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN untuk komoditi kosmetik, listrik dan telekomunikasi?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas maka tujuan
dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi aliran perdagangan bilateral intra-ASEAN untuk komoditi kosmetik, listrik dan telekomunikasi. 2. Menganalisa dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral
1.4. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini menganalisis mengenai dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN. Penelitian ini dilakukan hanya dalam lingkup perdagangan bilateral diantara 5 negara Asia Tenggara yaitu Indonesia, Malaysia, Phillipina, Singapura, dan Thailand. Sedangkan untuk mewakili indeks trade
facilitation digunakan Transparency Index dan Mutual Recognition Agreements (MRAs).
1.5. Manfaat Penelitian
1. Memberikan gambaran tentang trade facilitation dan dampaknya terhadap perdagangan bilateral.
2. Menambah pengetahuan dan memperluas wawasan tentang trade
facilitation bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
3. Sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan arah orientasi perdagangan internasional.
4. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan pada masa yang akan datang.
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Tinjauan Teori
2.1.1. Teori Perdagangan Internasional
Perdagangan adalah kegiatan jual beli barang atau jasa yang dilakukan secara terus-menerus dengan tujuan pengalihan hak atas barang atau jasa dengan disertai imbalan atau kompensasi. Perdagangan selalu menjadi kekuatan utama dalam hubungan ekonomi antar negara. Dalam World Economic and Social
Survey yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perdagangan
komoditi internasional berjumlah sekitar 15% dari GDP dunia (Henderson dalam Anisa, 2004).
Perdagangan dapat memberikan keuntungan bagi masing-masing negara-negara yang terlibat karena perdagangan akan mendorong spesialisasi produksi pada komoditi tertentu yang memiliki keuntungan komparatif sehingga negara yang bersangkutan dapat memusatkan segenap sumberdayanya pada sektor itu dan mengekspor sebagian outputnya untuk memperoleh keuntungan komoditi lain yang keunggulan komparatifnya tidak ia kuasai.
Perdagangan atau pertukaran secara ekonomi dapat diartikan sebagai proses tukar-menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela. Perdagangan akan terjadi bila diantara pihak yang melakukan perdagangan mendapatkan manfaat atau keuntungan. Demikian pula halnya dengan perdagangan internasional. Dalam arti sempit, perdagangan internasional merupakan suatu gugusan masalah yang timbul sehubungan dengan pertukaran komoditi antar negara. Apabila
perdagangan internasional tidak ada masing-masing negara harus mengkonsumsi hasil produksinya sendiri (Salvatore, 1997).
Negara-negara akan melakukan perdagangan bila mereka memperoleh manafaat atau keuntungan di dalam perdagangan tersebut (gains from trade). Karena dengan adanya perdagangan internasional akan berdampak cukup luas terhadap perekonomian suatu negara, baik aspek ekonomi maupun non-ekonomi. Ada dua alasan mengapa hal ini terjadi yaitu karena setiap negara mempunyai keunggulan komparatif yang berbeda dan untuk tujuan skala ekonomis (economies of scale) (Halwani dalam Margarettha, 2005).
2.1.2. Definisi Trade Facilitation
Trade facilitation didefinisikan sebagai usaha untuk memperoleh
‘kenyamanan’ terbesar dalam perdagangan internasional melalui simplifikasi aktifitas ekonomi seperti perpindahan barang-barang dan jasa. Dalam pengertian luas, trade facilitation dapat didefinisikan sebagai penurunan atau pengurangan hambatan non tarif. Trade facilitation mencoba untuk menurunkan biaya-biaya dalam administrasi, standarisasi, teknologi, informasi, transaksi, tenaga kerja, komunikasi, asuransi dan keuangan, dan juga mengurangi biaya waktu (Kim and Park, 2004).
Dalam pengertian sempit, usaha-usaha trade facilitation menunjukkan logistik perpindahan barang-barang melalui pelabuhan atau yang lebih efisien melalui perpindahan dokumentasi yang dihubungkan dengan perdagangan antar negara. Pada tahun-tahun belakangan ini, definisi telah diperluas yang mencakup lingkungan dimana didalamnya terdapat transaksi perdagangan, transparansi dan
profesionalisme bea cukai dan lingkungan pengaturan sebagaimana harmonisasi dari standarisasi dan dikonversikan terhadap peraturan internasional atau peraturan regional. Perpindahan ini difokuskan pada usaha trade facilitation “dalam batas” pada kebijakan domestik dan struktur institusional dimana pembangunan kapasitas dapat memainkan peranan penting. Sebagai tambahan, integrasi yang cepat dari jaringan teknologi informasi ke dalam perdagangan yang berarti bahwa definisi modern dari trade facilitation memerlukan cakupan konsep teknologi yang baik.
Dalam menerangkan perluasan definisi trade facilitation, definisi trade
facilitation memasukkan secara relatif elemen “batas” yang konkrit seperti
efisiensi pelabuhan dan administrasi bea cukai, dan elemen “di dalam batas” seperti lingkup kebijakan domestik dan infrastruktur yang memungkinkan pelaksanaan e-bisnis (Wilson, Mann dan Otsuki, 2004).
Kemampuan negara-negara untuk mengirimkan barang-barang dan jasa-jasa yang tepat waktu pada kemungkinan biaya terendah adalah faktor kunci dari integrasi ke dalam ekonomi dunia. Dengan penghapusan hambatan perdagangan dan ekspansi dalam volume perdagangan, kebijakan yang menghilangkan hambatan non-tarif dan mempercepat pergerakan barang-barang dan jasa melewati batas wilayah seperti trade facilitation yang mengedepankan agenda perdagangan. Definisi trade facilitation tidak henti-hentinya dikembangkan.
Trade facilitation hendak membuat prosedur perdagangan seefisien mungkin
melalui penyederhanaan dan harmonisasi dokumentasi, prosedur, dan aliran informasi (Roy dan Shweta Bagai, 2004).
2.1.3. Gravity Model
Menurut Leamer (Anisa, 2004) terdapat tiga penjelasan gravity model. Pertama, berdasarkan fisika dalam pembahasan singkat. Kedua, mengidentifikasi persamaan sebagai reduced-form dengan variabel eksogen sisi demand (pendapatan dan populasi negara pengimpor), dan variabel sisi suplai (pendapatan dan populasi negara pengekspor). Di lain pihak karakteristik negara pengimpor dan pengekspor mengidentifikasi ukuran dari masing-masing negara, dengan semua aliran sebagai fungsi ukuran negara pada kedua sisi. Interpretasi ketiga didasarkan pada model probabilitas.
Pada gravity model aliran perdagangan bilateral ditentukan oleh tiga kelompok variabel yaitu :
1. Variabel-variabel yang mewakili total permintaan potensial negara pengimpor.
2. Variabel-variabel indikator total penawaran potensial negara pengekspor. 3. Variabel-variabel pendukung atau penghambat aliran perdagangan antar
negara pengekspor dan negara pengimpor.
Model gravitasi adalah salah satu alat analisis yang dapat digunakan untuk mengestimasi berapa besarnya nilai barang yang keluar dan masuk di suatu wilayah. Gravity model pertama kali dikembangkan oleh Tinberger (1962) dan Poyhonen (1963) untuk menjelaskan aliran perdagangan bilateral oleh mitra dagang pada GNP dan jarak geografi antar negara.
Model ini disebut gravity model, karena menggunakan suatu perumusan yang sama dengan model gravitasi Newton, dimana interaksi antara dua objek
adalah sebanding dengan massanya dan berbanding terbalik dengan jarak masing-masing. Dalam bentuknya yang paling umum, konsep gravitasi dapat dirumuskan sebagai berikut (Richardson, H; edisi terjemahan oleh Sihotang, P, 2001 dalam Oktaviani dan Sahara, 2006).
c ij b j a i ij d A A k I = (2.1) dimana :
Iij = Taksiran tingkat interaksi antara wilayah i dengan j Ai, Aj = Besarnya daya tarik wilayah i dan j
dij = Ukuran jarak antar wilayah i dan j k = Konstanta
a, b, c = Parameter Dugaan
Interaksi antara i dan j (Iij) mencerminkan nilai dari aliran perdagangan suatu komoditas dari wilayah i ke wilayah j. Aliran perdagangan tersebut tidak hanya terbatas pada aliran perdagangan yang terjadi di tingkat negara tetapi juga meliputi arus perdagangan di wilayah bawahnya (propinsi/kabupaten). Di tingkat negara, penerapan model gravitasi tidak hanya diterapkan pada aliran perdagangan antar dua negara melainkan juga dapat diterapkan lebih dari 2 negara, misalnya aliran perdagangan antar negara ASEAN, APEC, dan EROPA UNION. Umumnya variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur besarnya daya tarik wilayah i dan j (A) adalah jumlah penduduk, Produk Domestik Bruto (PDB) ataupun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai tukar, harga relatif komoditas yang diperdagangkan, dan lain-lain. Sedangkan variabel jarak (dij) dapat diukur melalui pendekatan biaya transportasi.
Linnemann memperlihatkan standar gravity model dalam bentuk logaritma adalah sebagai berikut (Beers, 2000) :
Log Xij = β0 + β1logYi + β2logYj + β3logNi + β4logNj + β5logDij +
β6logPij + uij (2.2) dimana :
Xij : Komoditi aliran perdagangan bilateral dari negara i ke negara j Yi : GDP negara i
Yj : GDP negara j Ni : Populasi negara i Nj : Populasi negara j
Dij : Jarak antara negara i dan j Pij : Dummy
uij : standar error
Model di atas menggambarkan pola normal atau sistematik dari perdagangan dunia yang digambarkan oleh determinan natural dari volume perdagangan seperti Yi, Yj, Ni, Nj, dan Dij. Variabel dummy integrasi ekonomi diperkenalkan untuk menjelaskan deviasi dari pola perdagangan ini pada faktor preferensial perdagangan. Variabel jarak bilateral dipakai untuk setiap aliran perdagangan bilateral. Spesifikasi model mengasumsikan bahwa rintangan hubungan jarak pada perdagangan menyebabkan timbulnya hambatan yang sama per unit jarak pada perdagangan dalam setiap arah.
Anderson (1979: 113) memperoleh persamaan gravity secara bersama-sama dengan memasukkan fungsi jarak bilateral ke dalam perbersama-samaan yang menunjukkan ”bahwa aliran dari i ke j tergantung pada jarak ekonomi dari i ke j relatif terhadap rata-rata terbobot perdagangan pada jarak ekonomi dari i ke semua
titik dalam sistem”. Polak (1996) juga memperoleh model gravity pada variabel jarak efektif yang tergabung dalam penjumlahan pada variabel jarak absolut :
8 6 4 3 2 1 0 β β β β β β β ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛ Ρ Ν Ν Υ Υ = Χ j ij ij j i j i ij D D (2.3) ij i i j D D =
∑
θ Dimana θi = ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ asean i GDP GDPModifikasi gravity model mengingatkan akan jarak bilateral relatif terhadap rata-rata terbobot dari jarak pengimpor ke semua para supplier yang potensial. Jika jarak bilateral tinggi dibandingkan dengan jarak rata-rata ke semua pengekspor potensial, pengimpor dilokasikan secara relatif kurang baik dan oleh sebab itu perdagangan bilateral menjadi menurun. Apabila pengimpor j dilokasikan secara relatif kurang baik, misalnya jarak efektif yang tinggi sebagai spesifikasi dalam persamaan di atas, hal tersebut masih menyisakan kemungkinan bahwa lokasi tersebut secara relatif menguntungkan dari perspektif pengekspor karena secara relatif akhirnya lokasi yang kurang baik menyebabkan tingginya rata-rata jarak untuk semua demanders potensial. Aliran perdagangan bilateral akan berpengaruh positif karena dampak spesifik tersebut (Beers, 2000).
2.1.3.1. Gross Domestic Product (Produk Domestik Bruto)
Gross Domestic Product (GDP) suatu negara adalah ukuran kapasitas
untuk memproduksi komoditi ekspor negara tersebut. Kapasitas perekonomian suatu negara terbuka dapat diketahui berdasarkan kurva batas kemungkinan produksinya. Batas kemungkinan produksi adalah sebuah kurva yang memperlihatkan berbagai alternatif kombinasi dua komoditi yang dapat
diproduksi oleh sebuah negara dengan menggunakan semua sumberdayanya dengan teknologi terbaik yang dimilikinya.
Komoditi Y X1 X2 X3 KKP2 KI E’ Komoditi X E KKP1
Gambar 2.1. Kurva Kemungkinan Produksi
Sumber : Salvatore (1997)
Pada Gambar 2.1 terdapat dua kurva kemungkinan produksi, KKP1 dan KKP2. Dengan asumsi negara memproduksi komoditi ekspor X, maka apabila terjadi kenaikan GDP negara akan menambah kapasitas negara untuk memproduksi komoditi ekspor dan menggeser kurva KKP1 menjadi KKP2. Besar perubahan KKP tergantung pada besar perubahan GDP yang terjadi dan pergeseran ini menggambarkan pertambahan produksi domestik suatu negara. Sesudah terjadi pergeseran dengan asumsi konsumsi masyarakat sama dan negara mengekspor komoditi X, ekspor meningkat dari sebesar X1X2 menjadi X1X3. 2.1.3.2. Populasi
Pertambahan populasi dapat mempengaruhi ekspor melalui dua sisi, yaitu sisi penawaran dan sisi permintaan. Pada sisi penawaran, pertambahan populasi
dapat diartikan pertambahan tenaga kerja untuk melakukan produksi komoditi ekspor. Kenaikan kepemilikan tenaga kerja di suatu negara dari waktu ke waktu akan mendorong ke atas kurva-kurva batas kemungkinan produksi negara yang bersangkutan. Jenis dan tingkatan pergesaran tersebut tentu saja ditentukan oleh sejauh mana faktor produksi tenaga kerja mengalami pertumbuhan atau penambahan jumlah. Hal ini dapat pula digambarkan dengan Gambar 2.1 Kondisi awal kurva kemungkinan produksi adalah KKP1. Dengan aadanya pertambahan populasi sisi penawaran maka terjadi pergeseran dari KKP1 menjadi KKP2. Hal ini menggambarkan peningkatan produksi domestik negara.
Px/Py Px/Py Px/Py
Sx Dx Dx Sx S D St P4 E* A” A’ A B E A* B* P3 B’ E’ BBt E t 0 X 0 X2 X1 X 0 X P3 P2 P1
Pasar di negara 1 Hubungan perdagangan Pasar di negara 2 untuk komoditi X Internasional dalam untuk komoditi X
komoditi X dengan
bertambahnya populasi
Gambar 2.2. Analisis Parsial Pertambahan Populasi
Sumber: Salvatore (1997)
Pertambahan populasi sisi permintaan akan menyebabkan bertambah besarnya permintaan domestik. Dapat dilihat pada Gambar 2.2 pertambahan permintaan domestik pada negara eksportir akan menurunkan jumlah ekspor yang
dilakukan oleh negara 1. Keseimbangan yang berlaku pada pasar internasional berada pada tingkat harga P4 dan jumlah komoditi yang diperdagangkan sebesar X2, negara 2 akan menerima komoditi X lebih sedikit dengan tingkat harga yang lebih besar dari pada sebelum terjadi pertambahan populasi.
2.1.3.3. Indeks Transparansi (Transparency Index/TI)
Indeks transparansi merupakan proksi dari custom procedure yang mengindikasikan tingkat korupsi suatu negara yang digambarkan secara kuantitatif (dengan angka), yang diterbitkan oleh lembaga independen yaitu
Transparancy International (TI) di Berlin. Dengan adanya indeks ini kita dapat
mengetahui transparansi yang menggambarkan kejujuran dari suatu negara, karena indeks ini menggambarkan good governance yang terkait dengan pelaku impor. Semakin besar indeks transparansi maka kemungkinan terjadinya korupsi semakin kecil sehingga menyebabkan perdagangan menjadi meningkat.
2.1.3.4. Tarif
Tarif adalah pajak atau cukai yang dikenakan untuk komoditi yang diperdagangkan lintas batas teritorial. Tarif merupakan bentuk kebijakan perdagangan yang paling tua dan secara tradisional telah digunakan sebagai sumber penerimaan pemerintah sejak lama. Ditinjau dari aspek asal komoditi, ada dua macam tarif, yakni tarif impor (import tariff) dan tarif ekspor (export tariff). Tarif impor adalah pajak yang dikenakan untuk setiap komoditi yang diimpor dari negara lain. Sedangkan tarif ekspor adalah pajak untuk suatu komoditi yang diekspor. Apabila ditinjau dari mekanisme perhitungannya, ada beberapa jenis tarif, yaitu tarif spesifik, tarif ad valorem, dan tarif campuran. Tarif spesifik
(specific tariff) dikenakan sebagai beban tetap unit barang yang diimpor (misalnya pungutan 3 dolar untuk setiap barel minyak). Tarif ad valorem (ad valorem tariff) adalah pajak yang dikenakan berdasarkan angka persentase tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor (misalnya suatu negara memungut tarif 25 persen atas nilai atau harga dari setiap unit mobil yang diimpor). Sedangkan tarif campuran (compound tariff) adalah gabungan dari keduanya (Salvatore, 1997).
2.1.3.5. Jarak
Jarak adalah indikasi dari biaya transportasi yang dihadapi oleh suatu negara dalam melakukan ekspor. Biaya transportasi adalah salah satu faktor penghambat perdagangan internasional. Jarak meningkatkan biaya transaksi pertukaran barang dan jasa internasional. Semakin jauh terpisah suatu negara dengan yang lain semakin besar pula biaya transportasi pada perdagangan diantara keduanya. Dengan adanya biaya transportasi keuntungan yang diterima oleh suatu negara dari perdagangan internasional semakin kecil. (Krugman dalam Anisa 2004) mempertimbangkan jarak kedua negara sebagai determinan penting untuk pola perdagangan geografis.
2.2. Penelitian Terdahulu
Studi mengenai trade facilitation dapat dilakukan menurut metode yang
akan digunakan. Terdapat dua metode dalam trade facilitation, diantaranya adalah
Computable General Equilibrium (CGE) model dan model ekonometrika
(khususnya gravity model).
APEC (1999) menggunakan CGE model dalam mengukur pengaruh liberalisasi perdagangan dan trade facilitation pada perdagangan serta pendapatan
riil pada negara-negara anggota APEC. Pengaruh perdagangan tersebut ditunjukkan oleh perubahan dalam volume barang-barang ekspor dan atau impor negara-negara anggota APEC. Sedangkan liberalisasi perdagangan dan trade
facilitation menciptakan manfaat pada pendapatan riil melalui peningkatan
efisiensi. Perbandingan antara pendapatan riil dan produksi menjadi lebih tinggi tanpa liberalisasi perdagangan dan trade facilitation. Hasil yang ditunjukkan oleh komite putaran Uruguay, ekspor barang-barang negara anggota APEC akan meningkat sebesar 5,3 persen. Apabila perjanjian APEC juga diimplementasikan, termasuk trade facilitation, maka nilainya menjadi sekitar 6,6 persen. Pengaruh pendapatan riil menunjukkan bahwa ketika sebagian dari komitmen putaran Uruguay diimplementasikan, hal tersebut akan memberikan keuntungan pendapatan per tahun sebesar US$114 milyar untuk anggota-anggota APEC. Sebagai tambahan, implementasi dari komitmen APEC akan lebih jauh meningkatkan keuntungan pada level sebesar US$189 milyar untuk anggota-anggota APEC (Hakim, Arifin, dan Sahara, 2006).
APEC (2001) juga menggunakan CGE model dalam mempelajari pengaruh dari trade facilitation dan membandingkannya dengan pengaruh liberalisasi perdagangan pada perekonomian APEC. Penelitian menunjukkan bahwa pengaruh trade facilitaton jauh lebih unggul dan lebih mudah dipraktekkan dari pada liberalisasi perdagangan melalui peniadaan atau penurunan tarif impor. Dalam perhitungannya, liberalisasi perdagangan akan meningkatkan GDP APEC sebesar 0,98 persen (US$154 milyar), sementara itu trade facilitation akan meningkatkan GDP APEC sebesar 1,3 persen (US$204 milyar). Di masa yang
akan datang, penurunan hambatan perdagangan tradisional, akan membuat trade
facilitation menjadi lebih penting (Hakim, Arifin, dan Sahara, 2006).
Wilson, Mann dan Otsuki (2003) menganalisis hubungan antara trade
facilitation, aliran perdagangan dan GDP per kapita untuk sektor barang-barang di
negara APEC dengan menggunakan empat indikator dari trade facilitation, yaitu efisiensi pelabuhan, bea cukai, regulasi, dan e-bisnis. Penelitiannya menunjukkan bahwa perbaikan dalam efisiensi pelabuhan mempunyai pengaruh yang sangat positif dan signifikan terhadap perdagangan dan diikuti oleh perbaikan bea cukai dan pelaksanaan e-bisnis. Sedangkan indikator regulasi mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap perdagangan manufaktur APEC. Manfaat dari perbaikan trade facilitation akan meningkatkan perdagangan intra-APEC sebesar $254 milyar dan GDP per kapita sebesar 4,3 persen.
Wilson, Mann dan Otsuki (2004) dalam penelitiannya juga menggunakan
gravity model untuk mengestimasi hubungan antara trade facilitation dan aliran
perdagangan pada barang-barang manufaktur selama 2000-2001 di 75 negara. Mereka menggunakan empat indikator dalam trade facilitation, yaitu efisisensi perdagangan, bea cukai, regulasi, dan jasa sektor infrastruktur. Dalam penelitiannya ditemukan bahwa perbaikan dalam trade facilitation meningkatkan ekspor dan impor di setiap negara dan di dunia. Hasil lain menunjukkan bahwa total keuntungan dalam aliran perdagangan pada barang-barang manufaktur dari perbaikan trade facilitation adalah $377 milyar.
Dalam penelitiannya Kim dan Park (2004) menggunakan gravity model untuk mengestimasi pengaruh liberalisasi perdagangan dan fasilitas perdagangan
terhadap perdagangan bilateral diantara 15 negara anggota APEC, dengan menggunakan empat indeks fasilitas perdagangan, yaitu prosedur bea cukai, standar dan penyesuaian, mobilitas bisnis, teknologi informasi dan komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh kreasi perdagangan positif yang signifikan terhadap perbaikan dalam pengukuran trade facilitation membuat usaha APEC untuk trade facilitation yang lebih baik sebagai alternatif kebijakan yang efektif untuk melengkapi kebijakan penurunan tarif. Mereka juga menemukan bahwa pengaruh kreasi perdagangan bilateral pada liberalisasi perdagangan melalui penurunan tarif atau perbaikan trade facilitation diantara negara-negara yang memiliki ketergantungan yang sangat tinggi seperti Korea, China, dan Jepang dalam APEC lebih kuat dari pada efek rata-rata yang meliputi perekonomian APEC.
2.3. Kerangka Pemikiran Konseptual
Pada tahun 1992 negara-negara anggota ASEAN menyepakati pembentukan ASEAN Free Trade Area (AFTA) guna mencapai globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia. Dalam rangka menuju ke arah pembentukan AFTA, disepakati pula mekanisme utama yang digunakan, yaitu Common
Effective Preferential Tariff (CEPT). Implementasi AFTA (CEPT) memberikan
dampak yang terbatas terhadap aliran perdagangan bilateral antar negara anggota. Sehingga menyebabkan menurunnya nilai perdagangan antar negara anggota. Dalam merespon dampak yang terbatas tersebut maka diperkenalkan pengukuran
trade facilitation. Dimana dengan adanya pengukuran trade facilitation ini
masing-masing negara dalam rangka meningkatkan volume perdagangan diantara negara anggota ASEAN.
Pengukuran trade facilitation kemudian diestimasi dengan menggunakan
gravity model. Adapun variabel-variabel yang digunakan untuk menganalisis
dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN adalah GDP, populasi, transparansi indeks, tarif, jarak, dan dummy MRAs.
Perdagangan bilateral dapat terjadi dalam dua bentuk, ekspor dan impor. Dalam penelitian ini digunakan variabel impor untuk mewakili perdagangan bilateral. Data impor terdiri dari dua produk, yaitu kosmetik, listrik dan telekomunikasi yang termasuk ke dalam perjanjian trade facilitation antar negara ASEAN. Data impor mengukur nilai impor yang datang ke suatu negara tertentu dari keempat negara partner. Sumber COMTRADE dipakai untuk data impor yang menggunakan dua digit HS1996, HS33 untuk kosmetik dan HS85 untuk listrik dan telekomunikasi.
GDP mewakili ukuran ekonomi negara eksportir dan importir. Ukuran negara eksportir akan menentukan jumlah produksi komoditi ekspor (productive
capacity) dan ukuran negara importir menentukan jumlah komoditi ekspor yang
dapat dijual oleh negara eksportir (absorbtive capacity) (Kalbasi dalam Anisa, 2004). Ukuran ekonomi adalah kemampuan potensial negara untuk melakukan perdagangan luar negeri, yaitu kemamapuan kedua negara untuk menjual atau membeli komoditi ekspor. Semakin besar ukuran ekonomi negara eksportir maka semakin besar pula kemampuan untuk melakukan produksi komoditi ekspor.
Begitu pula bagi negara importir, semakin besar ukuran ekonomi negara importir maka semakin besar pula kemampuan untuk melakukan impor.
Pada model yang digunakan dalam penelitian ini populasi tidak dibedakan antara sisi permintaan maupun sisi penawaran. Pada negara eksportir peningkatan populasi pada sisi permintaan akan meningkatkan permintaan domestik, maka tejadi penurunan penawaran ekspor dari negara tersebut. Apabila pertambahan populasi negara eksportir terjadi pada sisi penawaran maka hal ini berdampak pada pertambahan tenaga kerja untuk produksi komoditas ekspor negara tersebut. Kenaikan populasi sisi penawaran ini akan meningkatkan penawaran ekspor negara eksportir.
Pertambahan populasi pada negara importir dapat berada pada sisi penawaran maupun sisi permintaan. Pada sisi penawaran pertambahan populasi akan meningkatkan produksi dalam negeri dalam hal kuantitas maupun diversifikasi produk negara importir. Kondisi ini akan mengakibatkan penurunan pada permintaan komoditi ekspor oleh negara importir. Pertambahan populasi pada sisi permintaan akan meningkatkan permintaan komoditi ekspor dari negara importir, maka jumlah komoditi yang diperdagangkan antara kedua negara semakin besar.
Populasi besar memungkinkan skala ekonomi yang dapat meningkatkan produksi komoditi ekspor (Bergstrand dalam Anisa, 2004). Sehingga diharapkan populasi dapat berpengaruh positif.
Indeks transparansi digunakan sebagai proksi yang mengindikasikan tingkat korupsi suatu negara yang digambarkan secara kuantitatif. Semakin besar
nilai indeks transparansi maka semakin kecil kemungkinan adanya korupsi. Dengan demikian perdagangan menjadi semakin meningkat.
Pada penelitian ini tarif yang akan digunakan dalam model adalah Tarif Impor (Impor Tariff), yaitu pajak yang dikenakan untuk setiap komoditi yang diimpor dari negara lain. Pengenaan tarif impor akan memberikan keuntungan kepada produsen di negara-negara pengimpor karena harga produk domestik menjadi relatif lebih murah dibandingkan produk sejenis yang berasal dari impor. Semakin tinggi tarif yang dikenakan maka semakin rendah perdagangan yang terjadi antar dua negara yang melakukan perdagangan.
Jarak merupakan indikasi dari biaya transportasi yang dihadapi oleh suatu negara dalam melakukan perdagangan. Jarak bersifat konstan tiap tahunnya. Jarak meningkatkan biaya transaksi pertukaran barang dan jasa internasional. Semakin jauh jarak yang memisahkan suatu negara dengan negara lain semakin besar biaya transportasi pada perdagangan diantara keduanya, sehingga perdagangan menjadi menurun. Walaupun demikian, adanya perkembangan teknologi transportasi dapat meminimisasi perbedaan waktu tempuh dan biaya pada perbedaan jarak antar negara.
Dalam model yang diestimasi, jarak yang digunakan dalam penelitian ini adalah jarak efektif (jarak ekonomi) yang dihitung berdasarkan GDP. Dimana jika dilihat dari perspektif pengimpor, posisi negara pengimpor yang relatif kurang baik yang digambarkan dengan semakin tingginya jarak yang mengindikasikan semakin tingginya GDP menyebabkan perdagangan menjadi menurun. Sedangkan jika dilihat dari perspektif pengekspor, semakin tingginya
jarak tersebut menyebabkan perdagangan menjadi meningkat, karena biaya yang dikeluarkan oleh negara pengimpor untuk melakukan impor komoditi menjadi lebih besar karena jaraknya yang jauh. Sehingga hal tersebut menguntungkan bagi negara pengekspor.
Dummy variabel merupakan variabel yang merubah variabel kualitatif menjadi variabel kuantitatif. Banyaknya variabel dummy pada tiap variabel kualitatif tergantung pada banyaknya pilihan kategori dikurangi 1. Nilai yang digunakan adalah 0 yang menunjukkan ketidakhadiran ciri dan 1 yang menunjukkan kehadiran ciri. Dummy yang digunakan dalam penelitian ini adalah dummy terhadap perjanjian MRAs. Dummy tanpa MRAs diberi nilai 0 sedangkan dummy dengan MRAs diberi nilai 1. Dengan adanya perjanjian MRAs diharapkan perdagangan menjadi semakin meningkat, sehingga volume impor juga menjadi meningkat.
Pada penelitian ini pengukuran trade facilitation yang diestimasi dengan menggunakan gravity model hanya mencakup lima negara ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand. Setelah dilakukan estimasi, akan dilihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perdagangann bilateral dan bagaimana dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN. Di samping itu, dilihat pula kebijakan apa yang akan dilakukan dalam rangka meningkatkan volume perdagangan dan melihat apakah kebijakan
trade facilitation untuk komoditi kosmetik, listrik dan telekomunikasi sudah
AFTA CEPT Trade Facilitation (TF) Pengukuran Trade Facilitation (TF) Gravity Model
GDP Populasi TI Tarif Jarak Dummy MRAs
Perdagangan bilateral
Indonesia Malaysia Philipina Singapura Thailand Intra-ASEAN
Implikasi Kebijakan
2.4.Hipotesis
Hipotesis yang dapat disusun dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Semakin tinggi perubahan kenaikan GDP suatu negara dan lawan
dagangnya maka perdagangan bilateral diantara keduanya akan meningkat.
2. Populasi mempunyai pengaruh yang positif terhadap perdagangan.
3. Semakin besar indeks transparansi maka korupsi semakin kecil, sehingga perdagangan akan semakin meningkat.
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan untuk penelitian ini adalah data sekunder. Data diperoleh dari beberapa sumber yang berasal dari internet seperti Economic
Statistics, ASEAN Secretariat, Commodity and Trade Database (COMTRADE),
dan penelitian terdahulu yang juga digunakan sebagai sumber informasi untuk melengkapi data yang diperlukan. Adapun data-data yang diperlukan meliputi data impor, GDP, populasi, jarak antar ibu kota negara, tarif dan indeks tranparansi untuk komoditi kosmetik (lihat Lampiran 1), komoditi listrik dan telekomunikasi (lihat Lampiran 2). Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data panel (pooled data) yaitu penggabungan antara data time series 2001-2004 dan cross section (individu negara anggota yaitu Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand).
3.2. Metode Analisis
Metode penelitian yang akan digunakan untuk menganalisis dampak trade
facilitation terhadap perdagangan bilateral intra-ASEAN (Indonesia, Malaysia,
Philipina, Singapura, dan Thailand) adalah analisis regresi dengan menggunakan
gravity model. Pengujian model dalam penelitian ini akan menggunakan metode
kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Squares, OLS). Pemilihan dalam metode OLS ini adalah karena pendekatan kuadrat terkecil merupakan pendekatan yang paling sederhana dalam pengolahan data panel yang diterapkan dalam data yang
berbentuk pool. Dalam menganalisis model persamaan pada penelitian ini akan digunakan program Eviews 4.1.
3.2.1. Panel Data
Dalam sebuah penelitian, terkadang ditemukan suatu persoalan mengenai ketersediaan data untuk mewakili variabel yang akan digunakan dalam penelitian. Terkadang ditemukan bentuk data dalam series yang pendek dan juga bentuk data dengan jumlah unit cross section yang terbatas pula. Dalam teori ekonometrika, kedua kondisi tersebut dapat diatasi dengan menggunakan panel data (pooled
data) agar dapat diperoleh hasil estimasi yang lebih baik (efisien). Adapun
keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan panel data adalah sebagai berikut (Gujarati, 2003) :
1. Mampu mengontrol heterogenitas individu.
2. Mengurangi kolinearitas antar variabel, meningkatkan degrees of freedom, lebih bervariasi, dan lebih efisien.
3. Mampu mengidentifikasi dan mengukur efek yang secara sederhana tidak dapat diperoleh dari data cross section murni atau data time series murni. 4. Dapat menguji dan membangun model perilaku yang lebih kompleks.
Dalam pengolahan data panel dikenal tiga macam pendekatan yang terdiri dari pendekatan kuadrat terkecil (pooled least square), pendekatan efek tetap
(fixed effect), dan pendekatan efek acak (random effect). Ketiga pendekatan ini
dapat diterapkan pada dua jenis pembobotan yaitu dengan pembobot (cross
section weights) atau tanpa pembobot (no weighting). Dalam penelitian ini
1. Asumsi bahwa intersep berbeda untuk setiap individu sedangkan koefisien variabel penjelas sama.
2. Nilai F Statistics lebih besar dari pada F tabel
Dengan menggunakan statistik F kita berusaha membandingkan antara nilai jumlah kuadrat dari error dari proses pendugaan dengan menggunakan metode kuadrat terkecil biasa dan efek tetap yang telah memasukkan variabel boneka. Rumusan ini adalah sebagai berikut :
) /( ) ( ) 2 /( ) ( 2 2 1 , 2 T N NT ESS T N ESS ESS FN T NT N T − − − + − = − − − + (3.1) dimana :
ESS1 = jumlah kuadrat sisa pada metode kuadrat terkecil biasa ESS2 = jumlah kuadrat sisa pada metode efek tetap
Sedangkan statistik F mengikuti distribusi F dengan derajat bebas N+T-2 dan NT-N-T. Nilai statistik F uji inilah yang kemudian diperbandingkan dengan nilai statistik F tabel yang akan menentukan pilihan model yang akan kita gunakan. Jika F Statistik lebih besar dari F tabel maka model yang akan digunakan adalah Model Efek Tetap (Fixed Effect).
3.2.1.1. Model Pooled
Model Pooled yaitu model yang diperoleh dengan mengkombinasikan
semua data cross section dan time series. Model data ini kemudian diduga dengan menggunakan Ordinary Least Square (OLS), yaitu :
it j j it it =α +Χ β +ε Υ (3.2) untuk i = 1, 2,..., N dan t =1, 2,..., T
dimana :
N = jumlah unit cross section T = jumlah periode waktunya
3.2.1.2. Model Efek Tetap (Fixed Effect)
Model Efek Tetap (Fixed Effect) yaitu model yang digunakan dengan memasukkan variabel boneka (dummy variabel) untuk mengizinkan terjadinya perbedaan nilai parameter yang berbeda-beda baik lintas unit cross section maupun antar waktu yang kemudian diduga dengan OLS :
∑
− + + Χ + = n i it i i j j it i it a D e y 2 β α (3.3) dimana :yit = variabel terikat di waktu t untuk unit cross section i αi = intercept yang berubah-ubah antar unit cross section
=
j it
x variabel bebas j di waktu t untuk unit cross section i βj = parameter untuk variabel ke j
eit = komponen error di waktu t untuk unit cross section i
Model efek tetap dapat menggunakan pembobot atau tanpa pembobot. Pada penelitian ini model yang digunakan adalah model efek tetap dengan pembobot (cross section weights), yaitu GLS dengan menggunakan estimasi varians residual cross section yang digunakan apabila ada asumsi bahwa terdapat
cross section heteroscedasticity. Metode ini menggunakan rata-rata observasi dari
3.3. Perumusan Model
Pada penelitian tentang dampak trade facilitation terhadap perdagangan bilateral intra ASEAN akan digunakan regresi gravity model dengan variabel
transparency index dan variabel-variabel lain sebagai variabel independen.
Sedangkan variabel dependennya adalah aliran impor antar negara anggota ASEAN. Negara yang masuk ke dalam model adalah Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand. Sedangkan variabel-variabel yang masuk dalam model adalah Gross Domestic Product (GDP), population (POP),
transparency index (TI), tariff (TARIF), distance (Jarak), dan dummy perjanjian
perdagangan MRAs (MRAs).
Adapun model persamaan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Ln(IMijt) = β0 + β1ln(GDPit) + β2ln(GDPjt) + β3ln(POPit) + β4ln(POPjt) +
β5ln(TIit) + β6(TARIFij) + β7ln(Jarak) + β8MRAs + εijt (3.4) Dimana :
IMijt : impor dari negara i ke negara j pada tahun t per unit GDPit : GDP negara i pada tahun t dalam milyar US$
GDPjt : GDP negara j pada tahun t dalam milyar US$ POPit : populasi negara i pada tahun t dalam juta jiwa POPjt : populasi negara j pada tahun t dalam juta jiwa
TIit : transparency index negara i pada tahun t
TARIFit : tarif impor negara i pada tahun t (ad valorem)
Jarak : jarak efektif (jarak yang dilihat dari perspektif pengekspor dan pengimpor yang dihitung berdasarkan GDP negara pengekspor). Dimana jika jarak bilateral tinggi dibandingkan dengan jarak rata- rata ke semua pengekspor potensial, pengimpor dilokasikan
secara relatif kurang baik, oleh sebab itu perdagangan menjadi menurun. Akan tetapi, hal tersebut memberikan kemungkinan bahwa lokasi tersebut secara relatif menguntungkan dari perspektif pengekspor. Sehingga perdagangan bilateral akan berpengaruh positif (Beers, 2000).
D = (Dij/Dj); Dj = ij i iD
∑
θ Dimana θi= ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ asean i GDP GDPMRAs : dummy MRAs, variabel dummy yang menunjukkan pertama kali MRAs diimplementasikan. MRAs mulai diimplementasikan pada tahun 2002. Dimana setelah ada perjanjian MRAs diberi nilai 1, dan sebelum ada perjanjian diberi nilai 0.
εij : error term
i : negara pengekspor j : negara pengimpor
β1 > 0, β2 > 0, β3 ≠ 0, β4 ≠ 0, β5 > 0, β6 < 0, β7 < 0
3.4. Pengujian Hipotesis
Model yang dianalisis merupakan pengujian terhadap hipotesis yang dilakukan. Pengujian hipotesis secara statistik bertujuan untuk melihat nyata tidaknya pengaruh variabel yang dipilih terhadap variabel-variabel yang diteliti. Terdapat beberapa kriteria yang digunakan untuk menguji apakah model yang digunakan sudah baik atau belum, yaitu berdasarkan uji t, uji F, dan nilai R2. 3.4.1. Uji t
Nilai t hitung digunakan untuk menguji apakah koefisien regresi dari masing-masing variabel bebas secara individu berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel tidak bebasnya.
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan uji statistik t adalah sebagai berikut :
1. Perumusan Hipotesis H0 : βi = 0
H1 : βi ≠ 0.
2. Penentuan nilai kritis. Dalam pengujian hipotesis terhadap koefisien regresi, nilai kritis dapat ditentukan dengan menggunakan tabel distribusi normal dengan memperhatikan tingkat signifikansi (α) dan banyaknya sampel yang digunakan.
3. Nilai t-hitung masing-masing koefisien regresi dapat diketahui dari hasil perhitungan komputer.
4. Pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan letak nilai t-hitung masing-masing koefisien regresi pada kurva sebaran normal yang digunakan dalam penentuan nilai kritis. Jika letak t hitung > t tabel dimana koefisien regresi berada di luar daerah penerimaan H0 maka tolak H0 artinya variabel independent berpengaruh nyata terhadap variabel dependennya. Sedangkan jika letak t hitung < t tabel maka terima H0 artinya variabel independent tidak berpengaruh nyata terhadap variabel dependennya.
3.4.2. Uji F
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara bersama-sama memberikan pengaruh nyata terhadap variabel-variabel dependennya. Pengujian terhadap pengaruh variabel-variabel independen secara simultan terhadap perubahan variabel dependen dilakukan melalui pengujian
terhadap besarnya perubahan variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh perubahan semua variabel independen.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan uji F adalah sebagai berikut :
1. Perumusan Hipotesis H0 : β1 = β2 = ... = βk = 0
H1 : minimal ada satu nilai β1 yang tidak sama dengan nol 2. Perhitungan nilai kritis distribusi F (F-tabel) dan F-hitung. 3. Penentuan penerimaan atau penolakan H0.
4. Apabila keputusan yang diperoleh adalah nilai F hitung > F tabel dimana koefisien regresi berada di luar daerah penerimaan H0 maka tolak H0 artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebasnya. Jika F hitung < F tabel maka terima H0 artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh tidak nyata terhadap variabel tidak bebasnya.
3.4.3. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi adalah proporsi variasi dalam Y yang dapat dijelaskan oleh variabel-variabel penjelasnya. R2 menunjukkan besarnya pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen. R2 memiliki range antara 0≤ R2 ≤ 1. Jika R2 bernilai 1 maka garis regresi menjelaskan 100% variasi dalam Y. Sedangkan jika R2 bernilai 0 maka garis regresi tidak menjelaskan variasi dalam Y. Koefisien determinasi dirumuskan sebagai berikut :
TSS RSS
R2 = (3.5)
dimana :
RSS = Jumlah kuadrat regresi TSS = Jumlah kuadrat total
3.5. Evaluasi Model
Sebagai upaya untuk menghasilkan model yang efisien dan konsisten, maka perlu dievaluasi apakah hasil estimasi terhadap model regresi tidak terjadi masalah heteroskedastisitas, multikolinieritas, dan autokorelasi.
a. Heteroskedastisitas
Dalam suatu model jika dijumpai adanya masalah heteroskedastisitas maka model menjadi tidak efisien meskipun tidak bias dan konsisten. Untuk mendeteksi adanya pelanggaran asumsi heteroskedastisitas digunakan uji White
Heteroscedasticity yang diperoleh dalam program Eviews. Data panel dalam
Eviews 4.1 yang menggunakan metode General Least Square (Cross Section
Weights) maka untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas adalah dengan
membandingkan Sum Square Resid pada Weighted Statistics dengan Sum Square
Resid pada Unweighted Statistrcs. Jika Sum Square Resid Weighted Statistics
lebih kecil dibandingkan dengan Sum Square Resid Unweighted Statistics maka terjadi heteroskedastisitas. Untuk mentreatment pelanggaran tersebut, bisa mengestimasi GLS dengan White Heteroscedasticity (Sembiring, 2005).
b. Multikolinieritas
Multikolinearitas adalah hubungan linear yang kuat antara variabel-variabel independen dalam persamaan regresi berganda. Jika nilai R2 yang
diperoleh tinggi (antara 0,7 dan1) tetapi tidak terdapat atau sedikit sekali koefisien dugaan yang nyata pada taraf uji tertentu dan tanda koefisien regresi dugaan tidak sesuai teori maka model yang digunakan berhubungan dengan masalah multikolinearitas (Gujarati, 1997). Multikolinearitas dapat diatasi dengan memberi perlakuan cross section weights, sehingga parameter dugaan pada taraf uji tertentu (t statistik maupun F hitung) menjadi signifikan.
c. Autokorelasi
Pindyck (1981) menyatakan bahwa autokorelasi dapat mempengaruhi efisiensi dari estimatornya. Untuk mendeteksi adanya korelasi serial dapat dilakukan dengan melihat nilai Durbin Watson (DW) dalam Eviews. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi maka dilakukan dengan membandingkan DW dengan tabel. Jika d (nilai DW)<dL maka tidak terjadi autokorelasi, jika DW>4-dL maka tidak ada autokorelasi, dan jika du<DW<4-du maka tidak signifikan, tidak ada autokorelasi. Korelasi serial ditemukan jika error dari periode waktu yang berbeda saling berkorelasi. Pada analisis seperti yang dilakukan pada model, jika ditemukan korelasi serial maka model menjadi tidak efisien meskipun tidak bias dan konsisten.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Estimasi Model dan Uji Asumsi OLS Klasik
Hasil estimasi pada koefisien-koefisien variabel persamaan regresi ini dilakukan dengan program software Eviews 4.1. Estimasi yang digunakan dalam model adalah estimasi model regresi gravity model dengan menggunakan data panel sebagaimana yang telah diuraikan pada metode penelitian. Model ini harus memenuhi asumsi klasik untuk estimasi regresi OLS karena menggunakan prosedur pooled ordinary least square (OLS).
4.1.1. Komoditi Kosmetik
Hasil estimasi dengan menggunakan model pooled dapat dilihat pada Lampiran 3. Model ini menunjukkan variabel yang sama untuk setiap individu pengamatan. Dimana setelah dilakukan pengujian terhadap F-Statistik untuk menentukan model terbaik yang akan digunakan, menunjukkan bahwa nilai F-Statistik lebih besar dari F-tabel maka model terbaik yang akan digunakan adalah model efek tetap (fixed effect).
Hasil estimasi dengan menggunakan model efek tetap (fixed effect) dijelaskan dalam Tabel 4.1 yang disajikan secara lengkap pada Lampiran 4. Dimana pada tabel menunjukkan koefisien variabel yang sama untuk setiap individu dan intersep yang berbeda untuk setiap individu. Variabel penjelas signifikan secara statistik pada tingkat α 5% dengan nilai mutlak t hitung lebih besar dari t tabel yang nilai criticalnya sebesar 1.645 untuk GDPj (GDP negara pengimpor), POPi (populasi negara pengekspor), Transparansi Indeks (TI), Tarif, dan dummy Mutual Recognition Agreements (MRAs) pada tingkat kepercayaan
95%. Variabel GDPi (GDP negara pengekspor), POPj (populasi negara pengimpor), dan Jarak tidak signifikan pada tingkat α 5% dengan nilai mutlak t hitung lebih kecil dari t tabel.
Nilai R Squared (R2) atau koefisien determinasi sebesar 0.999
menunjukkan bahwa 99.9% variabel-variabel GDPi (GDP negara pengekspor), GDPj (GDP negara pengimpor), POPi (populasi negara pengekspor), POPj (populasi negara pengimpor), Transparansi Indeks (TI), Tarif, Jarak, dan dummy
Mutual Recognition Agreements (MRAs) mampu menjelaskan 99.9% variasi
impor perdagangan bilateral untuk negara ASEAN 5. Hasil uji ini diperkuat dengan tingginya F statistik yang signifikan pada tingkat kepercayaan 95% dan tingkat α 5% yaitu sebesar 0.000.
Model efek tetap (fixed effect) pada Tabel 4.1 harus memenuhi asumsi klasik regresi. Untuk multikolinearitas, menunjukkan tidak terdapat masalah multikolinearitas dengan memperhatikan hasil probabilitas t statistik regresi. Dimana semua variabel kecuali GDPi (GDP negara pengekspor), POPj (populasi negara pengimpor), dan Jarak memperlihatkan hasil yang signifikan pada taraf nyata 5%.
Adapun untuk mendeteksi heteroskedastisitas (karena menggunakan data
cross section) maka perlu disetimasi dengan pendekatan/metode General Least Square (Cross section Weights) maka dapat dilihat dengan membandingkan Sum Square Resid Weighted Statistics dengan Sum Square Resid Unweighted Statistics
yaitu Sum Square Resid Weighted Statistics lebih kecil dibandingkan dengan Sum