• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Implikasi Manajemen Perikanan Tuna

Suatu populasi mempunyai keragaman genetik yang cukup tinggi maka hal ini dapat memberikan indikasi bahwa populasi tersebut di alam masih belum banyak mengalami gangguan. Sebaliknya jika keragaman genetik suatu populasi rendah, maka populasi di alam rendah pula.

Analisis terhadap kelima kelompok sampel ikan tuna mata besar di Samudera Hindia menunjukkan bahwa keragaman genetik yang dimiliki relatif tinggi, namun pada kelompok sampel 5 mempunyai keragaman genetik yang rendah. Rendahnya keragaman genetik pada kelompok sampel 5 diduga karena daerah penangkapannya atau lokasi pengambilan sampelnya terletak di perairan ZEE Indonesia, dimana daerah tersebut sudah terindikasi lebih tangkap. Indikasi ini terlihat dari semakin kecilnya nilai laju tangkap (hook rate) di perairan tersebut. Menurut Wudianto et al. (2003), laju tangkap di perairan ZEE Indonesia lebih kecil dibandingkan nilai laju tangkap di luar perairan ZEE Indonesia. Nilai laju tangkap di luar perairan ZEE Indonesia antara 0,30-1,59, sedangkan di perairan ZEE Indonesia antara 0,38-0,83. Dapat dikatakan bahwa penelitian ini telah berhasil pula membuktikan bahwa keragaman genetik yang rendah pada ikan

tuna merupakan indikator terjadinya lebih tangkap (over exploited) pada perikanan tuna.

Berdasarkan temuan tersebut di atas, manajemen perikanan tuna yang dapat dilakukan sebaiknya mencakup tujuan jangka pendek (terkait dengan penangkapan berlebih) dan tujuan jangka panjang dalam program konservasi, sehingga kelangsungan sumber daya dengan hasil tangkapan yang optimal dapat tercapai. Beberapa hal yang perlu dilakukan agar kedua tujuan tersebut dapat tercapai diantaranya adalah dengan menjadikan daerah penangkapan di perairan ZEE Indonesia sebagai daerah tertutup bagi penangkapan untuk sementara waktu tertentu agar sumber daya tuna, khususnya tuna mata besar di daerah tersebut dapat pulih kembali (renewable resources), membatasi produksi (kuota) atau jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB), membatasi upaya penangkapan dengan tidak menambah izin dan sekaligus mengurangi jumlah kapal penangkap ikan di perairan tersebut, pengawasan terhadap kapal-kapal, terutama kapal tuna longline yang melakukan Illegal, Unregulated, Unreported (IUU) fishing di perairan ZEE Indonesia, dan melakukan kerja sama dengan organisasi pengelolaan perikanan regional (Regional Fisheries Management Organization, RFMO) khususnya perikanan tuna di Samudera Hindia yaitu Komisi Tuna Samudera Hindia (Indian Ocean Tuna Commission, IOTC) agar Indonesia dapat berperan lebih aktif dalam mengelola perikanan tuna di Samudera Hindia.

Penutupan daerah penangkapan sementara waktu di perairan ZEE Indonesia ditujukan pada daerah yang diduga merupakan daerah pemijahan (spawning ground) ikan tuna mata besar. Perlu penelitian yang mendalam untuk mengetahui daerah pemijahan ikan tuna mata besar di Samudera Hindia. Penelitian itu meliputi aspek penangkapan seperti mengetahui daerah-daerah penangkapan ikan tuna mata besar di perairan Samudera Hindia dan aspek biologi seperti tingkat kematangan gonad (TKG), ukuran pertama kali matang gonad (length at first maturity) dan larva ikan tuna mata besar. Dengan diketahuinya tingkat kematangan gonad dan ukuran pertama kali matang gonad ikan tuna mata besar di suatu daerah penangkapan pada waktu tertentu, maka akan diketahui daerah dan musim pemijahan (spawning season) dari ikan tuna mata besar. Penelitian ini dapat berhasil dengan baik jika dilakukan secara berkesinambungan selama

39

beberapa tahun dan dikerjakan bersama-sama dengan negara-negara dan organisasi pengelolaan perikanan regional yang bertanggung jawab terhadap kelestarian sumber daya tuna mata besar di Samudera Hindia. Jika penelitian ini berhasil, pemerintah Indonesia dan organisasi pengelolaan perikanan regional di Samudera Hindia dapat membuat keputusan atau kebijakan mengenai kapan dan daerah mana yang ditutup sementara waktu untuk penangkapan ikan tuna mata besar sehingga kelestarian sumber daya ikan tuna mata besar di perairan Samudera Hindia dapat terjaga.

Pada tahun 1999 pemerintah telah mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 995/Kpts/IK.210/9/99 tentang Jumlah Tangkapan Ikan yang Diperbolehkan (JTB) pada beberapa Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). JTB diperoleh sebesar 80% dari Maximum Sustainable Yield (MSY) yang ada pada setiap WPP dan ditentukan berdasarkan hasil pengkajian stok yang dilakukan oleh Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut, LIPI. JTB untuk tuna di WPP Samudera Hindia yaitu sekitar 73.500 ton. Nilai ini diperoleh dari hasil pengkajian stok sumber daya ikan laut pada tahun 1997. Hingga saat ini belum ada surat keputusan yang baru tentang berapa JTB di WPP Indonesia berdasarkan pengkajian stok sumber daya ikan laut pada tahun 2001 (Mertha 2005). Pemerintah Indonesia harus segera menghitung ulang berapa MSY di seluruh perairan Indonesia, khususnya WPP Samudera Hindia agar JTB diketahui. Penelitian mengenai pengkajian stok ikan tuna, khususnya ikan tuna mata besar harus melibatkan negara-negara yang dilalui oleh migrasi ikan tuna tersebut. Selain itu, Indonesia juga harus bekerja sama dengan organisasi pengelolaan perikanan regional yang bertanggung jawab akan kelestarian sumber daya ikan tuna mata besar di Samudera Hindia yaitu IOTC. IOTC sebagai organisasi pengelolaan perikanan regional di Samudera Hindia berencana akan menetapkan kuota penangkapan ikan tuna mata besar bagi setiap negara. Besarnya kuota penangkapan yang akan ditetapkan untuk setiap negara hingga saat ini belum diketahui. IOTC masih mengkaji berapa kuota penangkapan untuk setiap negara. Jika nanti ada suatu negara yang melanggar atau melebihi kuota yang telah ditentukan oleh IOTC, maka negara tersebut akan terkena sanksi.

Jumlah kapal tuna longline di Indonesia terus mengalami kenaikan. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (2005) mencatat bahwa ada sekitar 6.547 unit kapal tunalongline di Indonesia pada tahun 2003. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pada tahun 2002 yang hanya berjumlah 2.264 unit. Untuk membatasi dan mengurangi jumlah kapal-kapal tersebut peran pemerintah pusat dan daerah sangat penting. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sebagai instansi yang menangani langsung masalah perikanan dan kelautan di Indonesia harus berperan lebih aktif untuk mengontrol dan mengawasi jumlah kapal tuna longline yang ada di Indonesia. DKP dapat membatasi jumlah kapal tuna longline

yang beroperasi di perairan Indonesia, terutama kapal-kapal yang berukuran >30 GT karena izin kapal-kapal tersebut dibuat oleh DKP. Selain itu juga DKP dapat menentukan jumlah kapal tuna longline yang dapat beroperasi di suatu perairan di Indonesia berdasarkan kuota atau JTB yang dikeluarkan oleh pemerintah. Untuk pemerintah daerah juga diharapkan dapat mengontrol dan mengawasi jumlah kapal tuna longline yang berukuran <30 GT karena izin kapal-kapal tersebut dibuat oleh pemerintah daerah, khususnya Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi. Pemerintah pusat dan daerah harus bekerjasama dalam hal penentuan jumlah kapal tuna longline yang dapat beroperasi di suatu perairan di Indonesia, terutama di Samudera Hindia.

Sangat terbukanya perairan Indonesia terhadap dunia luar, menyebabkan mudahnya kapal-kapal tuna longline asing melakukan kegiatan IUU fishing di perairan Indonesia, terutama di Samudera Hindia. Kegiatan IUU fishing tidak hanya dilakukan oleh kapal-kapal tuna longline asing, tetapi juga oleh kapal-kapal

tuna longline Indonesia. Lemahnya kontrol dan pengawasan di lapangan, memungkinkan terjadinya kegiatan IUU fishing. Hal ini dikarenakan masih sedikitnya armada-armada atau kapal-kapal pengawas yang mengawasi perairan Samudera Hindia. DKP dengan dibantu oleh TNI AL, diharapkan dapat menangkap pelaku-pelaku yang melakukan kegiatan IUU fishing di perairan Samudera Hindia. Indonesia harus membuat daftar kapal-kapal tuna longline yang melakukan kegiatan IUU fishing di perairan Indonesia, baik itu kapal-kapal tuna longline asing maupun kapal-kapal tuna longline Indonesia dan daftar tersebut kemudian dilaporkan kepada IOTC yang kemudian oleh IOTC akan disebarkan

41

kepada negara-negara anggota IOTC sehingga negara-negara anggota IOTC mengetahui kapal-kapal mana saja yang melakukan kegiatan IUU fishing dan segera melakukan tindakan terhadap kapal-kapal tersebut.

Agar Indonesia dapat berperan aktif dalam pemanfaatan dan pengelolaan perikanan tuna, Indonesia mau tidak mau harus menjadi anggota organisasi pengelolaan perikanan regional Samudera Hindia, yaitu IOTC. Hal ini sudah diwujudkan dan secara resmi Indonesia telah menjadi anggota IOTC yang ke 27 sejak tanggal 20 Juni 2007 (Anonim 2009b). Dengan bergabungnya Indonesia ke dalam organisasi ini, diharapkan Indonesia dapat memanfaatkan sumber daya tuna di perairan Samudera Hindia dengan bertanggung jawab sehingga kelestarian sumber daya ikan tuna tetap terjaga, membantu Indonesia dalam menanggulangi

IUU fishing, membuka kesempatan bekerja sama dengan negara-negara anggota IOTC, terhindar dari embargo ekspor tuna, ikut serta mengatur pengelolaan sumber daya ikan tuna di Samudera Hindia, turut menentukan kuota hasil tangkapan maupun kuota ekspor ikan tuna, dan sebagai alat kerja sama penelitian perikanan tuna di perairan Samudera Hindia.

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka disimpulkan : 1. Keragaman haplotipe (genetik) dari lima kelompok sampel ikan tuna mata

besar bervariasi antara 0,5578-0,8136. Keragaman haplotipe terendah 0,5578 terdapat pada kelompok sampel 5 dan yang tertinggi 0,8136 terdapat pada kelompok sampel 4.

2. Jarak genetik antar kelompok sampel berkisar antara 0,0383-0,6621 dengan rata-rata 0,2572. Jarak genetik terdekat adalah antara kelompok sampel 2 dan 5.

3. Dendrogram yang dibentuk berdasarkan jarak genetik menunjukkan bahwa kelompok sampel ikan tuna mata besar yang diamati dapat dibagi menjadi dua kelompok populasi (subpopulasi), yaitu kelompok pertama terdiri dari ikan tuna mata besar yang berasal dari kelompok sampel 2, 5 dan 1, sedangkan kelompok kedua yang berasal dari kelompok sampel 3 dan 4.

5.2 Saran

1. Perlu penelitian lanjutan untuk mengetahui keragaman genetik ikan tuna mata besar di perairan Samudera Hindia sebelah barat Sumatera sehingga pemerintah Indonesia memiliki data dasar genetik ikan tersebut yang dapat dipakai sebagai acuan bagi pengelolaan perikanan tuna di Indonesia.

2. Untuk menghindari terjadinya penurunan keragaman genetik pada populasi ikan tuna mata besar, yang akan mengakibatkan menurunnya populasi ikan tersebut di perairan Samudera Hindia sebelah selatan Jawa dan Nusa Tenggara, terutama di ZEE Indonesia, maka perlu dilakukan upaya manajemen atau pengelolaan perikanan tuna di perairan tersebut yaitu:

• Menjadikan daerah penangkapan di perairan ZEE Indonesia, terutama daerah pemijahan ikan tuna, sebagai daerah tertutup bagi penangkapan untuk sementara waktu agar sumber daya tuna lestari; • Membatasi produksi (kuota) bagi perusahaan-perusahaan yang

43 • Membatasi upaya penangkapan dengan tidak menambah izin dan

sekaligus mengurangi jumlah kapal penangkap ikan di perairan tersebut;

• Pengawasan terhadap kapal-kapal, terutama kapal tuna longline

untuk mencegah terjadinya IUU fishing di perairan ZEE Indonesia, dan;

• Melakukan kerjasama dengan organisasi pengelolaan perikanan regional perikanan tuna di Samudera Hindia yaitu IOTC agar Indonesia dapat berperan lebih aktif dalam mengelola perikanan tuna di Samudera Hindia.

Allendorf FW, SR Phelp. 1981. Use of allelic frequencies to describe population structures. Can. Journal of Fish. and Aquat. Sci. 38:1509-1514.

[Anonim]. 2008a. Genetika populasi. [terhubung berkala]. http://www.wikipedia.com [10 Des 2008].

[Anonim]. 2008b. Genetika populasi. [terhubung berkala]. http://18bios1unsoed.files.wordpress.com/2008/03/buku-ajar-gen-15.doc

[9 Feb 2009].

[Anonim]. 2008c. DNA mitokondria. [terhubung berkala]. http://www.wikipedia.com [22 Mei 2009].

[Anonim]. 2008d. RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism). [terhubung berkala]. http://www.wikipedia.com [25 Mei 2009].

[Anonim]. 2009a. PCR (Polymerase Chain Reaction). [terhubung berkala]. http://www.wikipedia.com [25 Mei 2009].

[Anonim]. 2009b. RFMO vs pengelolaan perikanan Indonesia. [terhubung berkala]. http://www.sdi.dkp.go.id [13 Jun 2009].

Appleyard SA, RD Ward, PM Grewe. 2002. Genetic stock structure of bigeye tuna in the Indian Ocean using mitochondrial DNA and microsatellites.

Journal of Fish Biology 60:767-770.

Arifin OZ. 2005. Polimorfisme mtDNA keturunan pertama (F1) dalam seleksi famili ikan nila (Oreochromis niloticus) di BPBI Wanayasa Jawa Barat [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

[ATLI] Asosiasi Tuna Longline Indonesia. 2006. Laporan Tahunan ATLI 1997-2005. Benoa Bali.

Avise JC, Bowen BW, Lamb T. 1989. DNA fingerprints from hypervariable mitochondrial genotypes. Molecular Biology Evolution 6:258-269.

Ayu HS. 2005. Evaluasi keragaman genetik empat populasi ikan nila (Oreochromis niloticus) berdasarkan analisis mtDNA D-loop [skripsi]. Bogor: Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan, Universitas Juanda.

Baker AJ, TP Birt. 2000. Polymerase Chain Reaction. Di dalam: Allan JB, editor.

45

Beverly S, L Chapman, W Sokimi. 2003. Horizontal Longline Fishing Methods and Techniques. A Manual for Fishermen. Noumea, New Caledonia: Multipress.

Bouchon D, C Souty Grosset, R Raimond. 1994. Mitochondrial DNA variation and markers of species identity in two penaeid shrimp species Penaeeus monodon Fabricus and Penaeus japonicus Bate. Aquaculture 127:131-144.

Bremer JRA, B Stequert, NW Robertson, B Ely. 1998. Genetic evidence for inter-oceanic subdivision of bigeye tuna (Thunnus obesus) populations. Marine Biology 132:547-557.

Brown WM. 1983. Evolution of animal mitochondrial DNA. Di dalam: Nei M, RK Koehn, editor. Evolution of Genes and Proteins. Sunderland Massachusetts: Sinaeuer Associates Inc Publisher. hlm 62-88.

Chambers SM, JW Bayless. 1983. Systematics, conservation and the measurement of genetic diversity. Di dalam: Shonewald-Cox, SM Chambers, B Mac Bryde, L Thomas, editor. Genetic and Conservation. New York, Brisbane, Toronto, Singapore: The Benyamin/Cunnings Company Inc. hlm 349-363.

Chiang HC, CC Hsu, GCC Wu, SK Chang, HY Yang. 2006. Population structure of bigeye tuna (Thunnus obesus) in the South China Sea, Philippine Sea and western Pacific Ocean inferred from mitochondrial DNA. Fisheries Research 79:219-225.

Chiang HC, CC Hsu, GCC Wu, SK Chang, HY Yang. 2008. Population structure of bigeye tuna (Thunnus obesus) in the Indian Ocean inferred from mitochondrial DNA. Fisheries Research 90:305-312.

Collette BB, CE Nauen. 1983. FAO Species Catalogue. Vol. 2. Scombrids of the World. An Annotated and Illustrated Catalogue of Tunas, Mackerels, Bonitos and Related Species Known to Date. FAO Fish. Synop. 125(2). Rome: Food and Agriculture Organization.

Dinas Perikanan Provinsi Bali. 2002. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tangkap Tahun 1997-2001. Bali: Dinas Perikanan Provinsi Bali.

[DJPT] Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. 2005. Statistik Perikanan Tangkap Indonesia 2003. Jakarta: Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Departemen Kelautan dan Perikanan.

[FAO] Food and Agriculture Organization. 2005. FAO Fisheries Global Information System: Species Identification Sheet Thunnus obesus. [terhubung berkala]. http://[email protected] [26 Agu 2008].

Erlich AE. 1989. PCR Technology: Principles and Application for DNA Amplification. USA: Stocton Press.

Ferris SD, WJ Berg. 1987. The Utility of Mitochondrial DNA in Fish Genetics and Fishery Management. Di dalam: N Ryman dan F Utter, editor.

Population Genetics and Fishery Management. Seattle, Washington: University of Washington Press. hlm 277-299.

Fujii T, M Nishida. 1997. High sequence variability in the mitochondrial DNA control region of the Japan flounder Paralichthys olivaceus. Journal Fisheries Science 63(6):906-910.

Fukofuka S, DG Itano. 2006. A Handbook for the Identification of Yellowfin and Bigeye Tunas in Fresh, but Less than Ideal Condition (Version 6): Edited and revised 13 July 2006. Originally submitted as Version 4 to the 1st Meeting of the Scientific Committee of the Western and Central Pacific Fisheries Commission, Noumea: New Caledonia, 8-19 August 2005.

Gardner EJ, MJ Simmons, PD Snustad. 1991. Population and Evolutionary Genetics in Principles of Genetic. John Wiley and Sons Inc.

Gunarso W. 1998. Tingkah Laku Ikan dan Perikanan Pancing. Diktat Kuliah. Laboratorium Tingkah Laku Ikan. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Graves JE, JR McDowell. 1994. Genetic analysis of striped marlin (Tetrapturus audax) population structure in the Pacific Ocean. Can. J. Fish. Aquatic Sci. 51: 1762-1768

Hartl DL. 1980. Principles of Population Genetics. Sunderland Mass: Sinaeuer Associates Inc Publisher.

Hartl DL, AG Clark. 1997. Principles of Population Genetics (3rd ed.). Sunderland Mass: Sinaeuer Associates Inc Publisher.

Heist EJ. 1999. A review of population genetics in shark. Am. F. S. S. Symp. 23:161-168

Herrera M. 2002. Catches of artisanal and industrial fleet in Indonesia: An update.

WPTT02-02, IOTC Proceedings No. 5.

Imron. 1998. Keragaman morfologis dan biokimia beberapa stok keturunan induk udang windu (Penaeus monodon) asal laut yang dibudidayakan di tambak [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Kitamura T, A Takemura, A Watanabe, T Taniuchi, M. Shimizu. 1996. Mitochondrial DNA analysis for the cytocrome b gene and D-loop region from bull shark Carharhinus leucas. Journal Fisheries Science 62(1):21-27.

47

Kosasih. 2007. Strategi pengembangan perikanan tuna longline anggota Asosiasi

Tuna Longline Indonesia (Studi Kasus di Benoa Bali) [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Leary RF, FW Allendorf, KL Knudsen. 1985. Development instability and high meristic counts in interspecific hybrid of salmonid fishes. Evolution

39(6):1318-1326.

Lisdiyanti P. 1997. Polymerase chain reaction: cara mudah memperbanyak DNA.

Warta Biotek IX(3):1-3.

Mathews LM, CD Schubart, JE Neigel, DL Felder. 2002. Genetic, ecological and behavioral divergence between two siblings snapping shrimp species (Crustacea: Decapoda: Alpheus). Molecular Ecology 11:1427-1437.

Mertha IGS. 2005. Penelitian Sumberdaya Ikan Tuna dan Paruh Panjang: Kendala dan Permasalahannya di Indonesia. Pidato Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Bidang Biologi Perikanan Pelagis pada Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, 9 Agustus 2005.

Miller MP. 1997. Tools for Population Genetic Analyses (TFPGA} version 1.3. Department of Biological Sciences-Box 5640. Northern Arizona University

Nei M. 1972. Genetic distance between populations. American Nature

106:283-292.

Nei M. 1978. Molecular Evolutionary Genetics. New York: Columbia University Press.

Nei M, F Tajima. 1981. DNA Polymorphism detectable by restriction endonucleases. Genetics 97:145-163.

Nootmorn P. 2004. Reproductive Biology of Bigeye Tuna in the Eastern Indian Ocean. Document IOTC-2004-WPTT-05, presented at the Working Party on Tropical Tunas, Victoria, Seychelles, July 13th-20th 2004.

Nugroho E, Ferrel DJ, Smith P, Taniguchi N. 2001. Genetic divergence of Kingfish from Japan, Australia and New Zealand Inferred by microsatellite DNA and mitochondrial DNA control region markers. Journal Fisheries Science 67:843-850.

Nugroho E, A Widiyati, Imron, T Kadarini. 2002. Keragaan genetik ikan nila GIFT berdasarkan polimorfisme mitokondria DNA D-loop. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 8(3):1-6.

Nugroho E, J Subagja, S Asih, T Kurniasih. 2006. Evaluasi keragaman genetik ikan kancra dengan menggunakan marker mtDNA D-loop dan Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD). Jurnal Riset Akuakultur 1(2):211-217.

Pereira JAG. 1995. Etat d’exploitation du stock de patudo. Madrid: ICCAT. In

Collective Volume of Scientific Papers. 272-276.

Permana GN, JH Hutapea, Haryanti, SBM Sembiring. 2007. Variasi genetik ikan tuna sirip kuning, Thunnus albacares dengan analisis elektroforesis Allozyme dan Mt-DNA. Jurnal Riset Akuakultur 2(1):41-50.

Powers DA. 1991. Evaluating genetics of fish. Advances Genetics 29:119-228.

[PPSC] Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. 2002. Laporan Statistik Tahunan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap 1995-2001. Cilacap: Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Departemen Kelautan dan Perikanan.

[PPSJ] Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta. 2002. Laporan Statistik Tahunan Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta 1999-2002. Jakarta: Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Departemen Kelautan dan Perikanan.

Proctor CH et al. 2003. A Review of Indonesia’s Indian Ocean Tuna Fisheries. ACIAR Project FIS/2001/079.

[PRPT] Pusat Riset Perikanan Tangkap. 2002. Analisis Pengelolaan Perikanan Tuna di Samudera Hindia dan Perikanan Perairan Umum di Sumatera Barat. Laporan Teknis Bagian Proyek Riset Perikanan Tangkap Tahun Anggaran 2002. Jakarta: Pusat Riset Perikanan Tangkap. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan.

[PT. PSB] PT. Perikanan Samodra Besar. 2006. Data Hasil Tangkapan 1995-2005. Benoa Bali.

Rina. 2001. Keragaman genetik ikan pangasius Indonesia berdasarkan analisis DNA mitokondria dengan teknik PCR-RFLP [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Ryman N, F Utter. 1987. Population Genetics and Fishery Management. London: Washington Sea Grant Program.

Saanin H. 1986. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Vol. I dan Vol. III. Bandung: Bina Cipta.

Saiki RK et al. 1988. Primer directed enzymatic amplification of DNA with a thermostable DNA polymerase. Science 239:487-489.

49

Sianipar NF. 2003. Penggunaan marker RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism) dalam pemuliaan tanaman. Makalah Pribadi. Pengantar ke Falsafah Sains. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Sivasubramaniam K. 1965. A review of Japan’s tuna longline fishery in Indian Ocean. Bull. Fish. Res. Station Ceylon, 17(2):274-283.

Soelistyawati DT. 1996. Genetika Populasi. Bogor: Jurusan Budidaya Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor.

Soewardi K. 2007. Pengelolaan Keragaman Genetik Sumberdaya Perikanan dan Kelautan. Bogor: Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Stansfield WD. 1991. Theory and Problem of Genetics. Third Edition. Schaum’s Outline Series. USA: McGraw-Hill Inc.

Suda A. 1971. Tuna fisheries and their resources in the IPFC area. IPFC Procs. 14(2):36-61.

Sudarto. 2003. Systematic revision and phylogenetic relationships among populations of Clariid species in Southeast Asia [tesis]. Jakarta: Program Studi Biologi, Program Pascasarjana, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia.

Sumadhiharga K. 2001. Perikanan Tuna di Indonesia. Pidato Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Bidang Biologi Laut (Biota Laut) pada Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 6 September 2001.

Sumantadinata K. 1982. Population genetics analysis of black sea beam using biochemical markers [thesis]. Department of Cultural Fisheries, Faculty of Agriculture Kochi University.

Sunandar D. 2008. Studi variasi genetika populasi udang windu (Penaeus monodon, Fab.) berdasarkan analisa polimorfisme mitokondria DNA (mtDNA) daerah 16S rRNA [skripsi]. Bogor: Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Suwarso. 2002. Variasi geografik dalam struktur genetik populasi ikan kakap merah, Lutjanus malabaricus, (Lutjanidae) dan interaksi lingkungan di Laut Jawa [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Suzuki Z. 1988. Study of interaction between longline and purse seine fisheries on yellowfin tuna, Thunnus albacares (Bonnaterre). Bull. Far Seas Fish. Res. Lab. (25):73–143.

Tabata K, A Mizuta. 1997. RFLP analysis of the mtDNA D-loop region in red sea bream, Pagrus major population from four locations of western Japan.

Journal Fisheries Science 63(2):211-217.

Tabata K, H Kishioka, M Takagi, A Mizuta, N Taniguchi. 1997. Genetic diversity of five strains of red sea bream Pagrus major by RFLP analysis of the mtDNA D-Loop region. Journal Fisheries Science, 63(3):344-348.

Uktolseja JCB. 1988. Pengaruh kedalaman mata pancing rawai tuna terhadap hasil tangkapan ikan tuna. Jurnal Penelitian Perikanan Laut 49.

Uktolseja JCB, B Gafa, S Bahar. 1991. Potensi dan Penyebaran Sumberdaya Ikan Tuna dan Cakalang. Di dalam: Martosubroto P, N Naamin, BBA Malik, editor. Potensi dan Penyebaran Sumberdaya Ikan Laut di Perairan Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Perikanan. Pusat Penelitian dan

Dokumen terkait