• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Moral Dalam Hadits-hadits Pengulangan Tiga Kali

ANALISA MAKNA LAFAL PENGULANGAN TIGA KALI DALAM HADITS QAULIAH NABI

B. Implikasi Moral Dalam Hadits-hadits Pengulangan Tiga Kali

1. Bakti Anak kepada Kedua Orang Tua khususnya Ibu

Ibu dan bapak adalah perantara seorang anak lahir ke dunia, merawat dan mendidiknya sampai ia dewasa dan mandiri, karena itu Islam menekankan kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.

Berbakti kepada kedua orang tua dinilai dari penerimaan terhadap keberadaan orang tua sebagaimana adanya, serta menghayati pengorbanan mereka dalam mendidik dan merawatnya. Penghayatan ini melahirkan penerimaaan terhadap keberadaan orang tua baik fisik maupun non fisik, sehingga melahirkan sikap menghormati mereka secara tulus dan ikhlas

Penghormatan terhadap orang tua ditampilkan anak dalam komunikasi yang baik yang dilahirkan pada seluruh sikap dan perilakunya. Komunikasi dan interaksi dengan orang tua tidak hanya dibatasi dalam kata sapaan yang sopan, melainkan penampilan yang mencerminkan kesungguhan untuk menempatkan orang tua pada tempatnya yang tinggi dan terhormat. Penampilan merupakan akulmulasi dari perasaan dan kata hati di mana kasih sayang dan ketulusan akan memancar dalam penampilan dan raut wajah, sehingga dalam komunikasi fisik dengan orang tua, ketulusan itu dapat di tangkap maknanya dan sekaligus menjauhkan kepura-puraan

Kepentingan menghormati ibu bapak dikaitkan pula dengan nasib anak dikemudian hari, yairu kehidupannya di akhirat, sebagaimana Nabi mengingatkan bahwa keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua, demikian juga kebencian Allah tergantung pada kebencian orang tua, bahkan lebih dekat dari itu, Nabi menyatakan bahwa ada dua jenis dosa yang dilakukan seseorang yang siksanya akan dirasakan sejak masih berada di dunia, yaitu dosa zina dan durhaka kepada orang tua.

Di samping itu, berbakti kepada orang tua dinyatakan pula pada saat orang tua sakit, anak diwajibkan untuk menjenguk dan menghiburnya, sampai mereka sembuh. Apabila kemudian orang tua meninggal dunia, kewajiban anak adalah merawat dan menyalatkan jenazahnya sampai di

pemakaman. Salah satu yang amat penting dalam berbakti kepada orang tua setelah mereka meninggal dunia adalah mendoakannya setiap saat, karena do’a anak yang mampu menembus ruang dan waktu, sehingga perbedaan dunia tidak bisa memutuskan hubungan antara anak dan orang tuanya107. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah108 :

Nabi bersabda: Apabila seseorang meninggal dunia, maka putuslah senua amalnya, kecuali tiga hal, yaitu shadaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat dan do a anak sholih (HR. Muslim)

2. Bahaya Marah

Karena faktor yang paling besar memancing kemarahan adalah sombong. Oleh sebab itu akan jatuh kepada perselisihan, maka dari itu untuk menghilangkan kemarahan adalah dianjurkan untuk melatih diri agar bisa berbesar hati atau sabar, jangan menuruti sesuatu apapun yang diperintahkan oleh kemarahan, karena kemarahan selain memancing kesombongan, juga menimbulkan perpecahan sehingga menghilangkan rasa kasih sayang atau bisa juga menjadikan terputusnya tali silaturrahmi.

Maka dari itu Rasulullah memberikan perhatian kepada umatnya untuk menjauhi marah atau lebih menahan kemarahan, sesuai resep beliau:

Rasulullah SAW. telah bersabda: Sesungguhnya aku tidak mengetahui satu kalimat yang jika diucapkan akan menghilangkan apa yang ia dapatkan (marah) yaitu membaca a dz bill hi minasyaith nirroj . (Riwayat Muslim)109.

107

Drs. K.H. Muslim Nurdin, Moral dan Kognisi Islam, (Bandung, CV. Alfabeta, 2001), hlm. 260

108

Imam Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi, loc. cit., Juz 5, hlm. 73. 109

Jadi untuk meredam amarah langkah yang ditempuh adalah berta’awudz, kalau tidak mempan sekali maka harus diulang hingga dua atau tiga kali, bahkan hingga marahnya benar-benar reda.

Termasuk cara meredam marah adalah merubah posisi ketika sedang marah. Misalnya, jika marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya segera duduk.

“:Rasulullah SAW. bersabda: Jika salah seorang di antara kalian marah

dalam keadaan berdiri maka hendaknya ia segera duduk, maka marahnya akan segera hilang. Jika tidak maka hendaknya ia berbaring.

Cara ini juga diamini oleh para psikolog dan ahli jiwa sekarang. Banyak berdzikir kepada Allah juga termasuk cara untuk meredam marah. Sebab dengan dzikir hati menjadi tenang. Allah berfirman: “Ingatlah

hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”110 (QS. al-Ra’du (13): 28).

Karena marah sangat berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, dan Islam telah memberikan solusi tepat bagaimana cara meredam marah. Oleh karena itu waspada terhadap bahaya marah

3. Metode Pengulangan sebagai bentuk Pemahaman

Metode pengulangan banyak digunakan dalam metode proses belajar mengajar di masa sekarang ini. Yang mana Rasulullah telah mengajarkan kepada kita lewat sabda beliau atau pengajaran beliau terhadap para sahabatnya.

Pengulangan akan menghasilkan pemahaman yang berbeda daripada hanya satu kali. Membaca, mendengar maupun bertindak akan lebih sempurna bila dilakukan lebih dari satu kali.

Segala sesuatu yang diulang-ulang akan besar di dalam hati, semakin sering diulang maka akan semakin kuat gemanya di dalam hati. Untuk menghafal dan memahami lebih bagus untuk diulang-ulang, sebagaimana para sahabat Nabi SAW. sewaktu menerima sebuah hadits

110

atau menghafal Al-Qur'an. Mereka sengaja menghafal hadits dan mengulang-ulanginya. Anas bin Malik berkata:

“Kami berada di sisi Rasul SAW., lalu kami dengan hadits dari beliau.

Bila kami telah beranjak, maka kami akan mempelajarinya kembali di antara kami sehingga bisa menghafalnya.”111

Sesuatu yang terus menerus diulang akan menghasilkan perubahan karakter yang luar biasa, dan sesuatu baik membaca, mendengar ataupun bertindak bisa meresap ke dalam pikiran bawah sadar. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya Ary Ginanjar menyebutnya sebagai kekuatan ajaib dari pengulangan atau disebut Repetitive Magic Power.

Al-Qur'an adalah kitab terbaik yang pernah ada, tetapi kita tetap disuruh untuk membaca secara berulang-ulang. Karena pengulangan akan mendorong pemahaman dan tindakan.

4. Wudhu dapat menggugurkan dosa- dosa

Isbal adalah memanjangkan pakaian dan membiarkannya sampai

tanah, yang bertujuan ujub dan sombong, maka orang yang melakukan hal itu sama sekali tidak termasuk dalam kehalalan dan keharaman Allah.

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda112,

Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.”

Kasus ini adalah apabila seseorang menjulurkan celananya tanpa sombong. Maka ini dikhawatirkan termasuk dosa besar karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam perbuatan semacam ini dengan neraka.

Tidak bisa kita membawa hadits muthlaq dari Abu Hurairah pada hadits Imam Muslim yang menjelaskan dua kasus ini sekaligus dan membedakan hukum masing-masing. Lihatlah hadits yang dimaksud sebagai berikut.

111

Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, loc. cit., hlm. 57. 112

Ahmad bin Ali bin Hajar al-Ashqolani, Fathul Bari, (Beirut:Dar al-Fikr, t.th,), juz. 10, hlm. 256

.

:

.

:

" :

."

113

Dari ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: Allah tidak melihat seseorang yang melebihkan pakaiannya karena sombong

Jika kita perhatikan dalam hadits ini, terlihat bahwa hukum untuk kasus pertama berbeda dengan kasus yang ke dua. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa jika menjulurkan celana tanpa sombong maka hukumnya makruh karena menganggap bahwa hadits Abu Hurairah pada kasus kedua dapat dibawa ke hadits Ibnu Umar pada kasus pertama. Maka berarti yang dimaksudkan dengan menjulurkan celana di bawah mata kaki sehingga mendapat ancaman (siksaan) adalah yang menjulurkan celananya dengan sombong. Jika tidak dilakukan dengan sombong, hukumnya makruh. Hal inilah yang dipilih oleh al Nawawi dalam Syarah Muslim dan

Riy dh al Sh lih n, juga merupakan pendapat Imam Syafi’i114

Perbedaan pendapat dalam ranah yang tidak termasuk dalam kategori al-Tsawabit atau al-Ma lum min al-Din bi al-Dloruroh adalah hal yang wajar. Masing-masing yang berbeda harus saling menghormati antar satu dengan yang lain. Demikianlah kewajiban dalam Islam dalam menyikapi perbedaan. Meyakini bahwa pendapat kita yang paling benar tidaklah bermasalah. Namun menganggap pendapat orang lain salah atau memojokkan atau bahkan menghinanya sama berdasarnya dengan meyakini bahwa orang yang isbal telah berbuat sesuatu yang haram dan tidak menjalankan syariat Rasulullah. Sekali lagi disini ditekankan bahwa keduanya memiliki landasan argumen dan tokoh yang kuat. Mengunggulkan pendapat yang satu, tidaklah sama sekali mengurangi kekuatan pendapat yang lain. Meyakini kebenaran satu pendapat tidak sama sekali menghapus kebenaran pendapat yang berbeda.

113

Imam Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Syafi’I, loc. cit., juz 14, hal. 52 114

Dalam hadits Abu Daud yang telah disinggung di atas bahwa seseorang melakukan isbal yang bertujuan sombong sehingga Rasulullah menyuruhnya untuk berwudhu hingga tiga kali karena dalam wudhu melalui konsep ghasala, masaha, dan al-dalk memberikan stimulasi yang optimal, karena dengan berwudhu dapat menggugurkan dosa-dosa bersamaan dengan jatuh mengalirnya air dari setiap anggota wudhu. Selain wudhu bermanfaat dengan kesehatan jasmani, dijelaskan pula wudhu berpengaruh dengan kesehatan rohani. Hikmah wudhu bagi kesucian baik

lahiriyah (jasmani) maupun bathiniyah (rohani) sangatlah tinggi. Wudhu,

dapat dijadikan sebagai sarana bertaubat untuk membersihkan diri dari dosa guna kesucian dan kesehatan rohani115.

Implikasi dari berwudhu adalah bahwa orang yang berwudhu akan terhindar dari sifat-sifat kemunafikan. Karena tidak menutup kemungkinan ketika seseorang berwudhu, hatinya tidak ikut berwudhu secara sempurna, namun hati dan pikirannya tidak terkonsentrasi kepada Allah. Ia mengingat persoalan-persoalan duniawinya. Sehingga tanpa sadar ia telah “bermuka dua” (munafik), pada satu muka, ia mengatakan bersuci, namun di muka yang lain, ia mengingat selain Allah. Padahal, Allah sama sekali tidak menyukai hamba-hamba-Nya yang bermuka dua (munafik). Dalam Al-Qur’an surat al-Nisa’ ayat 142 dijelaskan:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali 116

Jika hal semacam ini tidak benar-benar disadari oleh oarng yang berwudhu, dihawatirkan akan timbul kemunafikan dalam hatinya

115

Muhammad Muhyiddin, loc. cit., hlm.222 116

Di lain pihak, wudhu pada hakikatnya merupakan langkah awal memasuki pelatihan penjernihan emosi. God-Spot (hati nurani) sering kali tertutup oleh berbagai belenggu yang menyebabkan oarng menjadi buta hati. Hal ini mengakibatkan seseorang tidak mampu lagi mendengar informasi-informasi maha penting yang berasal dari suara-suara hatinya sendiri, yang mengakibatkan sesorang menjadi tidak mampu untuk membaca lingkungan di luar dirinya atau membaca dirinya sendiri. Akibatnya, ia sering terperosok ke dalam berbagai kegagalan dan tidak mampu memanfaatkan potensi dirinya atau potensi lingkungan.

Di kalangan sufi, misalnya karya Ibn Arabi, Futuhat

al-Makiyah, dalam bab Asar al-Thaharah dikemukakan bahwa wudhu itu

dimaksudkan untuk membersihkan kotoran lahir dan batin. Karena itu, wudhu pada hakikatnya bukan hanya membasuh tubuh, melainkan justru jiwa117. Hal ini senada dengan hadits yang penulis bahas, wudhu juga membersihakan hatinya yang sombong.

5. Pengajaran Nabi sebagai bentuk Motivasi perilaku

Motivasi (dorongan diri) adalah kekuatan yang mampu memunculkan aktifitas dalam diri manusia. Hal ini dimulai dari adanya perilaku yang diarahkan pada tujuan tertentu yang menjadikan aktivitas tersebit adalah satu tugas yang harus diaksanakan. Motivasi inilah yang mampu mendorong manusia dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya, sebagaimana ia pula yang mendorong manusia dalam melaksanakan banyak kegiatan penting yang bermanfaat yang sesuai dengan keinginannya.

Motivasi adalah landasan dasar terpenting dalam belajar. Umumnya manusia tidak akan belajar kecuali ia mendapatkan satu permasalahan yang memotivasinya untuk mencari pemecahannya. Telah disinggung di atas Rasulullah SAW. pun sering memberikan sebuah

117

Sulaiman al-Kumayi, Shalat Penyembahan dan Penyembuhan, (Yogyakarta, Erlangga:2007), hlm. 7

motivasi dalam pembelajarannya, melalui metode pengulangan, yang menumbuhkan semangat untuk bertindak. Diantara hadits beliau yang mengandung bentuk motivasi adalah sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Muslim :

118

Melempar batu atau panah dengan niat jihad f sab lillah adalah suatu bentuk keberanian dan tindakan melawan musuh sebagai wujud untuk meraih cita-cita yaitu kemenangan Islam dalam jihad f sab lillah

118

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya maka, dapat disimpulkan bahwa:

1. Rasulullah SAW. dalam berbicara kepada orang lain sesuai dengan kadar intelektual mereka. Beliau mampu memahami pola hidup dan kondisi lingkungan seorang audien, dalam hal ini adalah sahabat. Beliau juga memperhatikan perbedaan daya tangkap, kecerdasan dan kemampuan alami maupun hasil latihan mereka dalam berfikir. Rasulullah SAW. dalam mengajarkan haditsnya pun menggunakan metode yang berbeda, di antara metode yang digunakan beliau adalah metode lisan, metode ini berbentuk ceramah yang diadakan di majlis. Bila berbicara, Rasulullah SAW. menggunakan makna yang sangat tegas dan rinci. Apabila yang disampaikannya itu merupakan suatu hal yang penting, beliau biasa mengulanginya sampai tiga kali. Hal ini dimaksudkan memahami maknanya dan pendengar menghafalnya. Dalam hadits beliau yang diulang secara lafal hingga tiga kali, tentunya mempunyai makna atau pesan yang berbeda. Pesan Nabi dalam hadits-hadits pengulangan tiga kali adalah: a. Untuk Sebuah Kemuliaan atau Keutamaan sebagai bentuk hak seorang

ibu atas anak adalah lebih besar dari hak seorang ayah

b. Untuk Kewaspadaan terhadap sifat marah (Larangan Memperbanyak Marah)

c. Untuk Memahamkan

d. Ihtimam (perhatian), dan sebagai Takhrish (semangat) e. Kesempurnaan dalam wudhu menghapus dosa

2. Ada beberapa alasan atau argumentasi dan pesan Nabi lewat hadits-haditsnya yang diulang-ulang lafalnya.

a. Untuk Sebuah Kemuliaan atau Keutamaan sebagai bentuk hak seorang ibu atas anak adalah lebih besar dari hak seorang ayah

Bertepatan dengan hal ini adalah mengacu pada hadits Nabi dalam kitab Umdah al-Qori, Shahih Bukhari. Rasulullah SAW. memberikan sebuah penghargaan atau kemuliaan kepada seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan serta menyusui bahkan seorang ibu pun mampu mencari nafkah untuk anaknya, yaitu beliau berpesan hendaknya seorang ibu memiliki porsi tiga kali daripada porsi sang ayah dalam hal mendapatkan bakti.

b. Untuk Kewaspadaan terhadap sifat marah (Larangan Memperbanyak Marah)

Dalam sebuah hadits yang singkat namun padat makna, disebut juga Jawami al-Kalim, beliau memberikan perhatian khusus terhadap sifat marah, Imam Nawawi berkata makna jangan marah pada hadits Nabi yang diulangi hingga tiga kali adalah, larangan untuk melampiaskan marah, bukan melarang untuk marah, sebab marah merupakan karakter dasar manusia yang tidak mungkin dihilangkan. c. Sebagai bentuk pemahaman

Segala sesuatu yang diulang-ulang akan besar di dalam hati, semakin sering diulang maka akan semakin kuat gemanya di dalam hati. Untuk menghafal dan memahami lebih bagus untuk diulang-ulang, sebagaimana para sahabat Nabi SAW. sewaktu menerima sebuah hadits atau menghafal al-Qur'an. Hal ini juga dijelaskan dalam hadits Nabi SAW., jika beliau mengatakan suatu kalimat biasa diulanginya tiga kali hingga dimengerti oleh pendengarnya.

d. Ihtimam (perhatian), dan sebagai Takhrish (semangat)

Riwayat yang mengisyaratkan pengulangan, dengan kalimat (mengulanginya tiga kali) pada hadits al-Din al-Nashihah, terdapat dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan yang dibawakan

oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam hadits. Sedangkan Imam al-Nawawi dalam al-Arbain hadits tersebut membawakannya tanpa pengulangan dengan isyarat lafal (tsalaatsan) al-din al-nashihah mengalami pengulangan tiga kali yang berfaidah untuk ihtimam (perhatian), dan sebagai takhrish (semangat). Karena hadits tersebut menyangkut tentang nasihat bagi Allah, nasihat bagi kitab-Nya, nasihat bagi rasul-Nya, nasihat bagi para pemimpin kaum muslimin, nasihat bagi kaum muslimin pada umumnya. Maka ini adalah bentuk ihtimam atau untuk diperhatikan bagi umat Islam

e. Kesempurnaan dalam wudhu menghapus dosa

Wudhu pada hakikatnya merupakan langkah awal memasuki pelatihan penjernihan emosi. God-Spot (hati nurani) sering kali tertutup oleh berbagai belenggu yang menyebabkan oarng menjadi buta hati. Hal ini mengakibatkan seseorang tidak mampu lagi mendengar informasi-informasi maha penting yang berasal dari suara-suara hatinya sendiri, yang mengakibatkan seseorang menjadi tidak mampu untuk membaca lingkungan di luar dirinya atau membaca dirinya sendiri. Akibatnya, ia sering terperosok ke dalam berbagai kegagalan dan tidak mampu memanfaatkan potensi dirinya atau potensi lingkungan.

Di kalangan sufi, misalnya karya Ibn Arabi, Futuhat

al-Makiyah, dalam bab Asar al-Thaharah dikemukakan bahwa wudhu itu

dimaksudkan untuk membersihkan kotoran lahir dan batin. Karena itu, wudhu pada hakikatnya bukan hanya membasuh tubuh, melainkan justru jiwa119. Hal ini senada dengan hadits yang penulis bahas, wudhu juga membersihakan hatinya yang sombong. Yakni bagi seseorang yang menyempurnakan wudhunya akan menghapus dosa-dosa yang telah diperbuatnya

119

Sulaiman al-Kumayi, Shalat Penyembahan dan Penyembuhan, (Yogyakarta, Erlangga:2007), hlm. 7

f. Sebagai bentuk motivasi

Rasulullah memberikan sebuah motivasi lewat hadits beliau tentang melempar jauh adalah salah satu strategi dan kekuatan dalam perang, karena disana mengandung keberanian untuk bertindak dalam rangka mewujudkan cita-cita yaitu kemenangan dalam jihad

fisabilillah.

B. Saran-saran

Setelah penulis menyelesaikan proses penulisan naskah skripsi ini, penulis berusaha memberikan saran-saran yang merupakan sumbangan positif: 1. Kepada segenap manusia yang mendambakan suatu kedamaian dan keselamatan yang abadi, seyogyanya selalu berpegang teguh pada al-Qur'an dan sunah Nabi SAW. karena dengan kita berpegang teguh pada keduanya kita akan mendapat jauh yang lurus dan tercapai apa yang menjadi tujuan hidup yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat.

2. Hasil penelitian ini merupakan langkah awal dari upaya pemahaman hadits secara tekstual ataupun kontekstual, oleh karena itu perlu adanya penelitian lebih lanjut sebagai kelanjutan pengembangan dari penelitian ini.

C. Penutup

Pada akhirnya penulis merendahkan diri dalam naungan Al-Alim Azza Wajalah serta memohon ilmu yang berkah dan bermanfaat (rabbi zidna ilma