• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLIKASI SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENSIAL

YANG DITERAPKAN PADA PRAKTEK MULTI PARTAI DI INDONESIA PASCA PERUBAHAN UUD 1945

D. Sistem Pemerintahan Presidensial Pada Praktek Multi Partai Di Indonesia

Negara Indonesia adalah negara yang majemuk dengan keberagaman suku bangsa, bahasa, agama, kebudayaan, dan adat istiadat. Antara individu yang satu dengan individu yang lain atau antara kelompok yang satu dengan yang kelompok yang lain memiliki perbedaan yang terkadang sangat prinsip. Oleh karena itu, adanya sistem keterwakilan tiap kelompok dimakudkan untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah yang disalurkan oleh partai politik sebagai representasi aspirasi masyarakat.218

Argumen teoritik untuk memilih sistem presidensial adalah: pertama, presiden adalah satu-satunya pejabat publik yang dipilih untuk mewakili seluruh rakyat dan wilayah negara. Dengan demikian presiden memiliki mandat yang kuat untuk melaksanakan kehendak rakyat dan wilayah. Asumsinya, dengan mandat yang demikian maka lembaga ini memiliki dasar untuk melaksanakan suatu pemerintahan yang kuat dan efektif. Kedua, dalam banyak kasus, presiden biasanya dipilih langsung oleh rakyat dalam jangka waktu yang pasti. Dipilih langsung akan membuat kedudukannya tidak tergantung pada dinamika lembaga lain. Hubungan ini juga

218

Aminah, Electoral Threshold Dan Parliamentary Threshold sebagai Model Penyederhanaan Sistem Multipartai dalam Pemilihan Umum di Indonesia, ( Jakarta: Mahkamah Konstitusi dan P3KHAM PPM Universitas Sebelas Maret, Jurnal Konstitusi Vol.II, No. 1, Juni 2009), hlm. 64.

memungkinkan terciptanya stabilitas kelembagaan yang berimplikasi terhadap kemungkinan tercapainya pemerintahan yang kuat dan efektif. Ketiga, Presiden terpilih dalam jangka waktu yang pasti diharapkan mampu untuk melaksanakan kebijakan publik secara terencana dan responsif, atau dengan kata lain secara efektif.

Sebagai sebuah sistem pemerintahan, untuk efektivitas fungsi pemerintahan maka lembaga presiden harus juga didukung oleh bekerjanya suatu sistem perwakilan yang efektif. Hubungan antara keduanya harus pula berimbang yang didasarkan pada fondasicheck and balances.

Problema tersebut memang secara teoritik menjadi salah satu kelemahan sistem pemerintahan presidensial, seperti diungkapkan Mainwaring:219

“Replacing apresident who has lost the confidence of his party or the people

is an extremely difficult proposition…What in a parliamentary sistem would be a government crisis can become a full-blown regime crisis in a presidential sistem.

(Mengganti seorang presiden yang telah kehilangan kepercayaan dari partai atau dari rakyat menjadi persoalan yang sangat menyulitkan…Apa yang menjadi krisis pemerintahan dalam sistem pemerintahan parlementer menjadi krisis rejim total dalam sistem presidensial).

Persoalan koalisi kekuatan politik pendukung presiden menjadi hanya berkait secara langsung dengan partai politik, apabila presiden diusung oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memperoleh suara relatif kecil, maka ia harus memperkuat posisinya dengan merekrut tokoh dari berbagai kekuatan politik lain untuk berbagai jabatan politik/publik strategis. Seringkali hubungan tersebut tidak dilanjutkan dengan formalisasi koalisi menjadi partai-partai yang memerintah. Ini

219

menimbulkan ketidakjelasan hubungan, hak, dan kewajiban antar-lembaga tersebut. Meskipun dalam pemerintahan presidensial hal itu adalah hak dari presiden, dalam kenyataanya ketidakpastian kekuatan pendukung presiden untuk memerintah menjadi tidak jelas.

E. Implikasi Sistem Pemerintahan Presidensial Pada Praktek Multi Partai di Indonesia Pasca Perubahan UUD 1945.

Perubahan UUD 1945 telah menegaskan bahwa partai politik sebagai salah satu pilar demokrasi memiliki fungsi yang sangat penting dalam rangka membangun kehidupan politik nasional. Pasal 11 UU No. 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik, disebutkan bahwa partai politik mempunyai fungsi sebagai sarana :220

a) Pendidikan bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;

b) Penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat;

c) Partisipasi politik warga negara Indonesia;

d) Rekruitmen dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.

Menurut Miriam Budiardjo fungsi partai politik adalah sebagai sarana komunikasi politik, sosialisasi politik (political socialization), sarana rekruitmen politik (political recruitment), dan pengatur konflik (conflict management). Sedangkan Yves Meny and Andrew Knapp menegaskan fungsi parpol sebagai mobilisasi dan integrasi, sarana pembentukan pengaruh terhadap perilaku memilih

220

(voting patterns), sarana rekruitmen politik, dan sarana elaborasi pilihan-pilihan kebijakan.221 Berbagai fungsi partai politik tersebut, kelihatannya fungsi rekruitmen jabatan politiklah yang lebih mengemuka. Partai politik sebagai wahana demokrasi memang tidak bis diabaikan eksistensinya, karena rekruitmen kepemimpinan dan anggota lembaga kenegaraan nasional dan lokal di bidang eksekutif dan legislatif dilakukan melalui partai politik.

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung seharusnya dapat menghasilkan stabilitas dan efektivitas yang lebih tinggi dalam kehidupan politik Indonesia. Sayangnya harapan tersebut belum tercapai pada masa pemerintahan pasca Pemilu 2004 dan pemilu 2009 . Sistem multi partai yang dimiliki Indonesia saat ini menyebabkan konfigurasi politik nasional dan daerah menjadi terlalu rumit, amat terfragmentasi, dan sikap partai oposisi pada pemerintah yang sedang berkuasa belum dipandang suatu tindakan yang mencerminkan nilai-nilai demokrasi.

Dengan kondisi semacam itu, Presiden terpilih mendapat tekanan yang amat kuat dari lingkungan untuk mengadakan koalisi dengan kekuatan politik yang terwakili di DPR. Partai-partai yang ingin mendapat "jatah" dalam pemerintahan baru akan memperkuat posisi tawarnya dengan menggunakan Pemilu Putaran Kedua sebagaipolitical pressurepada calon Presiden.

Ada beberapa implikasi/akibat sistem pemerintahan presidensial yang diterapkan dengan sistem multi partai di Indonesia pasca perubahan UUD 1945, diantaranya adalah:

221

1. Sistem Multipartai yang diterapkan di Indonesia bersifat terfragmentasi, menyebabkan implikasi deadlock dan immobilism bagi sistem presidensial Indonesia. Alasannya adalah presiden terpilih selalu mengalami kesulitan untuk memperoleh dukungan yang stabil dari legislatif sehingga upaya mewujudkan kebijakan akan mengalami kesulitan. Pada saat yang sama partai politik dan gabungan partai politik yang mengantarkan presiden untuk memenangkan pemilu tidak dapat dipertahankan untuk menjadi koalisi pemerintahan. Tidak ada mekanisme yang dapat mengikatnya. Alasan lain adalah bahwa anggota Dewan Perwakilan Rakyat terhadap kesepakatan yang dibuat pimpinan partai politik jarang bisa dipertahankan. Dengan kata lain tidak adanya disiplin partai politik membuat dukungan terhadap presiden menjadi sangat tidak pasti. Perubahan dukungan dari pimpinan partai politik juga ditentukan oleh perubahan kontekstual dari konstelasi politik yang ada. 2. Jumlah partai politik yang terlalu banyak menimbulkan dilema bagi

demokrasi, sebab banyaknya organisasi peserta pemilu pada gilirannya mempersulit tercapainya suara mayoritas (absolute mayority)222, sementara ketiadaan partai yang mampu menguasai mayoritas di parlemen merupakan kendala spesifik bagi terciptanya pemerintahan dan politik yang stabil (stabilitas pemerintahan dan stabilitas politik). Sementara itu diketahui bahwa salah satu kelemahan dari sistem presidensial yang berlangsung pada masa

222

Mirza Nasution,Mempertegas System Presidensial,(Jurnal Konstitusi Vol. II, No. 1, Juni 2009,Jakarta: P3KP-FH Universitas Jambi bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi RI), hlm. 75.

transisi ialah ketiadaan koalisi besar yang permanen di parlemen, sehingga setiap pengambilan keputusan oleh pemerintah hampir senantiasa mendapat hambatan dan tantangan dari parlemen. Dengan demikian, strategi penting yang perlu diambil ialah bagaimana mendorong terbentuknya koalisi partai politik di parlemen, baik yang mendukung pemerintahan maupun koalisi partai politik dalam bentuk yang lain. Hal ini diperlukan sekaligus sebagai upaya agar bisa tetap sejalan dengan prinsip-prinsipchecks and balances dari presidensialisme.

3. Banyaknya partai politik sebagai peserta pemilihan umum akhirnya menyebabkan sistem pemilihan yang digunakan menjadi rumit. Hal ini dikarenakan, semakin banyak partai politik sebagai peserta pemilihan umum maka semakin banyak pula hal-hal yang perlu dipersiapkan. Termasuk salah satunya adalah yang berkaitan dengan hal teknis pemilihan yang harus disiapkan Komisi Pemilihan Umum seperti penyediaan surat suara yang harus mengakomodir seluruh partai sampai pada perhitungan suara yang tidak mudah pelaksanaannya. Selain itu, masyarakat sebagai subjek pemilihan umum pun akhirnya cukup dibuat bingung untuk memilih salah satu diantara banyak pilihan partai politik yang harus dipilih.

4. Sistem presidensial Indonesia yang dibangun dengan sistem multipartai menyebabkan hubungan presiden dengan DPR (sebagai lembaga Perwakilan rakyat) yang juga di isi oleh partai-partai politik berjalan dengan rapuh/tidak

kuat. Hal tersebut disebabkan oleh partai politik di Parlemen yang membentuk koalisi belum tentu sama pemikirannya untuk membentuk dan mendukung koalisi di pemerintahan. Selain itu, tidak adanya suara mayoritas di DPR menyebabkan DPR Indonesia sulit untuk menentukan sikap apabila ingin menjalankan fungsi lembaga perwakilan rakyat tersebut.

5. Sistem presidensial Indonesia yang diterapkan dengan sistem multipartai menyebabkan sulitnya melakukan konsolidasi politik antara pemerintah dengan partai politik yang ada, baik untuk kepentingan koalisi pemerintah maupun untuk keperluan partai oposisi pemerintah.

6. Multi partai dalam sistem presidensial juga berdampak pada ketidak dayaan presiden untuk secara tegas mengambil kebijakan termasuk dalam penentuan kabinetnya. Presiden yang dalam sistem presidensial mempunyai wewenang penuh atas jalannya pemerintahan termasuk menentukan menteri-menteri dalam kabinetnya, ternyata tidak dapat berjalan dengan baik. Penentuan menteri harus melakukan kompromi dengan para parpol guna memperoleh dukungan terutama dalam menghadapi partai oposisi di parlemen.

7. Sistem presidensial yang diterapkan dengan multipartai dapat menyebabkan disharmonisasi antara presiden dengan wakil presiden, apabila pasangan calon presiden dan wakil presiden dicalonkan oleh partai yang berbeda. Maka ketika menjalankan pemerintahan, seperti pembuatan kebijakan pemerintah, keterlibatan wakil presiden akan selalu menjadi pertimbangan bagi presiden,

akan tetapi apabila sudah menyangkut urusan partai pengusungnya, maka biasanya akan terjadi konflik kepentingan diantaranya. Misalnya pada pemerintahan SBY-JK yang diusung oleh partai berbeda, dimana pada akhir masa jabatan SBY-JK terjadi disharmonisasi diantara presiden dan wakil presiden.

Dari implikasi diatas yang terjadi dengan diterapkannya sistem presidensial Indonesia dalam sistem multipartai dapat dilihat bahwa penerapan sistem presidensial dengan multipartai tidaklah cocok.223Presidensialisme yang berlaku dewasa ini perlu disempurnakan agar dapat menghasilkan sistem pemerintahan yang kuat, stabil, dan efektif di satu pihak, dan terhindar dari perangkap otoriterianisme di pihak lain.

Efektifitas pemerintahan presidensial antara lain dapat dicapai melalui

penyerderhanaan sistem kepartaian dan pengelompokan politik di parlemen, sedangkan perangkap otoriterianisme bisa dihindari melalui pelembagaan kekuatan oposisi.

Meskipun banyak partai memberi banyak pilihan kepada rakyat, akan tetapi terlalu banyak partai justru membingungkan rakyat (pemilih). Pengalaman pemilu legislatif 2009 yang baru selesai dilaksanakan, dengan jumlah partai sebanyak 38 (ditambah 6 partai lokal untuk NAD), membuat rakyat (pemilih) sulit untuk mengenal partai-partai tersebut, bahkan untuk menyebut nama partai saja tidak bisa, apalagi

223

Saat ini, Indonesia menerapkan sistem multipartai ekstrim, seyogyanya pelaksanaaan sistem presidensial dapat dilaksanakan dengan sistem multipartai terbatas.

mengetahui lebih jauh program-program dari partai tersebut. Rakyat menjadi tidak fokus dalam menentukan partai atau caleg yang menjadi pilihannya.

Fakta menunjukkan bahwa kedewasaan politik rakyat saat ini belum pada taraf ideal, pendidikan politik rakyat belum berjalan dengan baik. Keragaman dari bangsa merupakan hal yang tidak dapat diingkari. Bangsa Indonesia yang mendiami nusantara terdiri dari beragam etnis, bahasa maupun agama. Semua keragaman tersebut adalah pluralisme horizontal yang sangat luas skala dan dimensinya. Pluralisme tersebut ditambah dengan adanya pluralisme struktural yang berkaitan dengan kenyataan luasnya disparitas tingkat perkembangan, baik dari segi ekonomi, akses informasi, pendidikan, dan pusat pengambilan keputusan politik dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga tingkat keragaman masyarakat Indonesia menjadi angat kompleks dan tidak mudah untuk diurai.224

Pemilu 2009 dengan 38 partai (ditambah 6 partai lokal), menjadi semakin ramai ketika masing-masing partai dan para caleg berebut simpati rakyat dengan melakukan berbagai cara agar tujuan dalam memperoleh kekuasaan terwujud. Kondisi ini membuat rakyat menjadi bingung dan sulit menentukan pilihan. Kebingungan rakyat (pemilih) akan bertambah pada saat pelaksanaan pemilu yang berbeda dengan pemilu sebelumnya. Kartu suara dengan ukuran besar (karena memuat semua gambar partai politik dan nama-nama Caleg) dan cara memilih dengancentang/contreng menjadikan pemilih kesulitan untuk menemukan nama caleg

224

Jimly Asshiddiqie, Menuju Negara Yang Demokratis, (Jakarta: Sekretaris Jendral dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, 2008), Hlm.593.

atau partai yang akan dipilih. Hal ini tidak menutup kemungkinan pemilih akan mencontreng secara“ngawur”,asal contreng.225

Disamping itu tidak dapat dipungkiri, jumlah partai yang sangat banyak berdampak pada besarnya anggaran yang harus dikeluarkan oleh pemerintah, bukan hanya anggaran yang harus dikeluarkan untuk partai, tetapi juga anggaran untuk sarana dan prasarana pelaksanaan pemilu. Pasal 12 (k) UU No. 2 Th 2008 menyatakan bahwa Partai Politik berhak memperoleh bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/ Anggaran dan Belanja Daerah.

Indonesia sudah saatnya menggunakan sistem “Multi Partai Terbatas226” atau “Dwi Partai” untuk menata danmengelola sistem perpolitikan yang lebih efisien dan efektif dalam menunjang modernisasi ekonomi seperti di Malaysia dan Amerika Serikat. Jusuf Kalla227 pernah mengatakan bahwa jumlah parpol yang ada di Indonesia sebaiknya dikurangi karena banyaknya jumlah partai menyebabkan fokus untuk melayani masyarakat akan menjadi berkurang.

225

Erna Sri Wibawanti,Saatnya Electoral Threshold Dilaksanakan Secara Konsisten Menuju Multipartai Terbatas, (Jakarta: Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia bekerja sama dengan PKHK-Fh Universitas Janabadra, Jurnal Konstitusi, 2009), hlm. 17.

226

Penyederhanaan Sistem Kepartaian Indonesia dapat disinkonrinasikan dengan penjelasan UU No. 42 Tahun 2008 yang menyebutkan bahwa:dalam undang-undang ini penyelenggaraan pemilu presiden dilaksanakan dengan tujuan untuk memilih presiden dan wakil presiden yang memperoleh dukungan kuat dari rakyat sehingga mampu menjalankan fungsi kekuasaan pemerintahan negara dalam rangka tercapainya tujuan nasional sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan undang undang dasar negara republik indonesia tahun 1945. Di samping itu pengaturan terhadap pemilu presiden dan wakil presiden dalam undang-undang ini juga dimaksudkan untuk menegaskan sistem presidensiil yang kuat dan efektif, dimana presiden dan wakil presiden terpilih tidak hanya memperoleh legitimasi yang kuat dari rakyat, namun dalam rangka mewujudkan efektivitas pemerintahan juga diperlukan basis dukungan dari dewan perwakilan rakyat.

227

Jusuf Kalla pada saat masih menjabat sebagai ketua umum Golkar memberikan pernyataan

di dalam situs kapanlagi.com, “Sudah Saatnya Indonesia Gunakan Sistem Multi Partai Terbatas

F. Penyederhanaan Partai Politik Indonesia

Penyederhanaan sistem multipartai di Indonesia jelas harus dilakukan untuk menyesuaikan kondisi yang sedang terjadi di Indonesia. Penyederhanaan sistem multipartai ini diharapkan dapat menyesuaikan sistem pemerintahan yang sedang dijalankan dan juga tetap memberikan peluang kepada masyarakat untuk bisa memberikan aspirasinya kepada beberapa partai politik. Selama penyederhanaan partai politik ini memakai cara demokratis seperti lewat pemilu yang jujur dan adil, maka penyederhanaan ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi.228

Menurut Syamsuddin Haris229, kerancuan sistem politik yang ada tidak terlepas dari konstitusi hasil amandemen yang telah memilih sistem presidensial, namun memberlakukan sistem multi partai yang lazim dianut dalam system parlementaria. Untuk itu ada dua pendekatan dalam mengatasi kelemahan tersebut.

Pertama, melakukan amandemen kelima atas konstitusi yang ada. Kedua, membuat undang-undang partai politik untuk “memperketat” dan “menyeleksi” partai-partai politik agar tidak terlalu ngelantur dan menjamur. Sehingga dimungkinkan sistem multi partai dalampemerintahan presidensial dapat berjalan efektif.

Di Indonesia, salah satu penyederhanaan sistem multipartai dilakukan dengan

Electoral thresholddanParliamentary Thresholdsesuai dengan UU No. 10 TAHUN

228

Aminah,Electoral Threshold DanParliamentary ………., Op.Cit.hlm. 69.

229

Syamsuddin Haris, Politik Oplosing Efektifkan System Presidensial-Multipartai, (Jurnal Majelis Edisi 2 Februari 2007, Jakarta, Sekretariat Jendral MPR RI, 2007), hlm. 5.

2008 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 202 dan Pasal 315.

Pasal 202 ayat (1) UU No. 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPRD, dan DPD, menyebutkan: “Partai Politik peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 2,5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR. “ Ketentuan pasal tersebut banyak menimbulkan kontroversi terkait dengan adanya pembatasan. Persentase ambang batas minimal perolehan suara partai politik untuk duduk di DPR, selama ini dimaknai sebagai konsep ”parliamentary threshold”.

1. Electoral Thresholddalam Penyederhanaan Sistem Multipartai di Indonesia

Sejak Pemilu 1999, Indonesia sebenarnya telah memberlakukan desain kelembagaan untuk membangun system multipartai sederhana melalui electoral rules, yaitu diperkenalkannyaelectoral threshold230.

Electoral threshold yang diterapkan di Indonesia merupakan konsep penyederhanaan partai yang diadopsi dari Jerman. Akan tetapi definisi electoral threshold yang ada di Tanah Air sangat berbeda dengan definisi electoral threshold

yang baku. Definisi electoral threshold yang dipahami di tanah air merupakan

230

Dalam literatur Pemilihan Umum (Elecotoral System), Threshold merupakan dukungan minimal yang harus dimiliki oleh partai atau seseorang untuk memperoleh kursi di Parlemen.

prasyarat minimal perolehan suara untuk dapat mengikuti pemilu berikutnya.231 Sedangkan di Jerman,electoral threshold dimaksudkan untuk membatasi terpilihnya kelompok ekstrimis dan untuk menghentikan partai politik kecil sehingga mereka tidak mendapatkan perwakilan di Bundestag, Parlemen Jerman. Katakanlahelectoral thresholdnya 5 persen, maka partai politik yang gagal memperoleh suara sebesar 5 persen tidak akan diperkenankan masuk di parlemen.

Ketentuan Pasal 202 Ayat (1) UU No. 10 Tahun 2008 merupakan sebuah solusi untuk menciptakan sistem muti partai sederhana. Ketentuan Pasal 202 Ayat (1) mempunyai relevansi yang cukup kuat dalam sistem pemilihan umum presiden dan wakil presiden.232 Dampak kuat yang dapat dilihat adalah semakin sulitnya pemenuhan persyaratan persentase ambang batas partai politik dan gabungan partai politik dalam mengusulkan pasangan calon presiden dan wakil presiden, mengingat menurut aturan dalam Pasal 202 Ayat (1) tersebut, hanya partai politik yang mempunyai perolehan suara minimal 2,5% yang menduduki kursi DPR, sementara itu persentase ambang batas partai politik atau gabungan partai politik untuk dapat mengusulkan calon presiden dan wakil presiden adalah 20% yang menduduki kursi DPR, artinya, bahwa terdapat dua kemungkinan partai politik dan gabungan partai politik untuk mengusulkan pasangan calon presiden dan wakilnya.

231

Ibid.Hlm. 69.

232

Rosa Ristawati, Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Indonesia dalam Kerangka Sistem Pemerintahan Presidensiil, (Jakarta: Jurnal Konstitusi PUSKOLING-FH Universitas Airlangga dan Mahkamah Konstitusi RI, vol. II, No. 1, Juni 2009), hlm. 26.

Kemungkinan tersebut adalah pasangan calon presiden dan wakil presiden dapat diajukan oleh partai politik tunggal yang telah mempunyai minimal 20% kursi di DPR dalam pemilu legislatif sebelumnya, atau dapat diajukan melalui mekanisme koalisi partai bagi partai politik yang telah memperoleh minimal 2,5% suara sah nasional untuk duduk di kursi DPR, gabungan partai atau koalisi tersebut harus mencapai minimal 20% jumlah kursi DPR Sementara, untuk partai politik yang tidak memperoleh 2,5% suara sah nasional, yang artinya tidak mendapat kursi di DPR, masih dimungkinkan untuk mengajukan pasangan calon presiden dan wakilnya, dengan melalui sistem koalisi partai atau gabungan partai sehingga mencapai 25% syarat pengajuan pasangan calon presiden dan wakilnya.

Sebenarnya dalam UU No 12 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum yang merupakan dasar pelaksanaan Pemilu 2004, telah mengatur secara tegas persyaratan minimum partai politik untuk dapat ikut pada pemilu berikutnya (electoral threshold). Dalam Pasal 9 UU tersebut dikatakan bahwa : untuk dapat mengikuti Pemilu berikutnya, Partai Politik peserta Pemilu harus :

a. memperoleh sekurang-kurangnya 3% (tiga persen) jumlah kursi DPR

b. memperoleh sekurang-kurangnya 4% (empat persen) jumlah kursi DPRD Provinsi yang tersebar sekurangkurangnya di 1/2 (setengah) jumlah povinsi seluruh Indonesia; atau

c. memperoleh sekurang-kurangnya 4% (empat persen) jumlah kursi DPRD Kabupaten/Kota seluruh Indonesia.

Apabila partai politik tersebut tidak memenuhi ketentuan tersebut, maka untuk dapat ikut pemilu berikutnya harus bergabung dengan partai politik lainnya. Tahun 2004 peserta Pemilu sebanyak 24 Parpol dan berdasarkan ketentuan electoral tresholdyang ditentukan sebesar 3% (Pasal 9 UU No. 12 Th 2003), menempatkan 7 (tujuh) parpol yang lolos menjadi peserta pemilu 2009, yakni Golkar, PDIP, PKB, PPP, PKS, PAN, dan Partai Demokrat.

Electoral threshold dalam Pasal 9 UU No. 12 tahun 2003 ternyata dalam Pemilu 2009 tidak ditaati, hal ini terbukti bahwa ketentuanelectoral threshold dalam UU No. 12 Th 2003 yang seolah diperkuat dengan ketentuan Pasal 315 UU no. 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum 2009, dieliminir dengan ketentuan Pasal 316 d UU No. 10 tahun 2008.233

Pasal 315 UU No. 10 Th 2008 yang menyatakan :

“Partai politik peserta pemilu tahun 2004 yang memperoleh sekurangkurangnya 3% (tiga persen) jumlah kursi DPR atau memperoleh sekurang-kurangnya4% (empat persen) jumlah kursi DPRD Provinsi yang tersebar sekurang-kurangnya ½ (setengah) jumlah provinsi seluruh Indonesia, atau memperoleh sekurangkurangnya 4% (empat persen) jumlah kursi di DPRD Kabupaten/ Kota yang tersebar sekurang-kurangnya ½ (setengah) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia ditetapkan sebagai Partai Politik peserta pemilu setelah Pemilu tahun 2004”.

Kemudian Pasal 315 ini dieliminer oleh Pasal 316 d yang menyatakan bahwa Partai politik yang tidak memenuhi ketentuan Pasal 315 dapat mengikuti pemilu 2009 asal memiliki kursi di DPR hasil Pemilu 2004.

233

Oleh karena itu dengan berdasar ketentuan Pasal 316 d tersebut, 9 (sembilan) Partai Politik yang tidak memenuhi ketentuan Pasal 315, yang seharusnya tidak bisa