• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLIKASI TEORITIK

Dalam dokumen Gerakan Sosial Lokal Perempuan docx (Halaman 52-56)

Beberapa implikasi teoritik yang dihasilkan oleh studi ini meliputi beberapa hal, yaitu :

Pertama, temuan disertasi ini membantah pendapat James C. Scott, Moore Jr, Mc Adam, Tarrow dan Tilly yang pada intinya menyatakan bahwa sebuah gerakan sosial mustahil ada, tanpa keberadaan seorang pemimpin. Pentingnya faktor kepemimpinan, menurut McAdam, Tarrow dan Tilly terletak pada peranannya dalam membangun suatu frame untuk memobilisasi suatu gerakan perlawanan. Sementara Scott, mengasumsikan bahwa gerakan perlawanan yang dilakukan petani tidak akan terjadi bila tidak ada pemimpin yang menggerakkannya. Asumsi Scott ini juga diyakini oleh B. Moore Jr, yang menyatakan bahwa gerakan petani bisa menjadi kekuatan yang besar karena ada pemimpinnya yakni elit desa.

Pendapat tersebut sebenarnya telah dipatahkan oleh Singh yang menyatakan bahwa gerakan sosial merupakan sesuatu yang alami keberadaanya dalam proses transformasi masyarakat. Eksistensi sebuah gerakan sosial bukan didasarkan pada ada atau tidak adanya pemimpin dalam suatu gerakan. Gerakan sosial tidak dibuat, dan juga tidak karena dimulai atau dimpin oleh seorang pemimpin. Ia hadir karena dibutuhkan,

ketika suatu masyarakat hidup dalam ketimpangan struktur yang sangat menekan, maka secara otomotis akan membangkitkan kesadaran kolektif untuk melakukan sebuah aksi. Singh tidak melanjutkan penjelasannya lebih lanjut tentang bagaimana sebuah gerakan dapat secara otomatis muncul dan kemudian bergerak melakukan aksi untuk sebuah perubahan. Bahkan ia meninggalkan pekerjaan bagi para sosiolog agar melakukan penelitian lebih lanjut. Menurut Singh selama ini studi tentang gerakan sosial terjebak pada pencarian sebab dan faktor-faktor dari gerakan sosial dan aksi kolektif semata.

Kekosongan inilah yang diisi dengan temuan disertasi ini yang menunjukkan bahwa memang benar suatu gerakan sosial lahir karena adanya kesadaran kolektif dan solidaritas untuk mengoreksi ketimpangan atau masalah yang ada dalam masyarakat. Dinamika dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh aksi kolektif menumbuhkan interaksi dan komunikasi antar partisipan gerakan. Dalam proses inilah sebuah gerakan melahirkan produknya berupa pemimpin. Jadi esensi pemimpin sebagai produk dari sebuah gerakan ditentukan oleh pengakuan partisipan terhadap kepemimpinannya dalam meraih tujuan yang telah ditetapkan bersama. Pada kasus Dasun, dalam tiap-tiap kemunculan aksi kolektif yang merespon masalah yang ada, selalu diinisiasi oleh sekelompok perempuan, dan tidak pernah muncul individu secara tunggal. Seiring dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan bersama tersebut, para partisipan yang ada membutuhkan pemimpin yang bisa mewujudkan cita-cita bersama. Pada titik inilah Sulastri muncul sebagai produk dari sebuah gerakan sosial. Pemimpin yang semula belum ada, lahir karena sebuah proses aksi kolektif, dan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru di tempat lain yang berada di sekitar dusun Dasun.

Jadi, temuan disertasi ini secara tegas membantah bahwa suatu gerakan sosial dapat muncul dan berkembang, hanya ketika dipimpin oleh seorang pemimpin sebagaimana yang dinyatakan oleh Scott, Moore Jr, Tilly, McAdam, dan Tarrow. Karena secara alamiah gerakan sosial akan muncul dalam suatu masyarakat yang penuh ketimpangan dan masalah sosial sebagaimana yang diungkapkan Singh. Dinamika dalam pencapaian tujuan bersama melalui aksi kolektif yang dilandasi kesadaran dan solidaritas inilah yang justru akan memproduksi seorang pemimpin, sebagaimana ditemukan dalam disertasi ini. Pemimpin sebagai produk sebuah gerakan, menyisakan pesan bahwa suatu gerakan sosial semacam ini tidak akan pernah mati, karena ia terus berproses untuk melahirkan pemimpin yang dapat menjamin keberlanjutan suatu gerakan sosial, bahkan mampu mereplikasi munculnya gerakan sosial yang lain di lingkungan sekitarnya. Demikian seterusnya akan terus muncul dan berkembang gerakan sosial sebagai bentuk respon kesadaran kolektif masyarakat atas ketimpangan sosial, yang secara kontinyu akan melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Di sinilah letak jawaban atas kontinuitas sebuah gerakan. Maka tidak mengherankan jika sebuah aksi kolektif yang keberadaanya karena dibentuk pihak luar dan bukan atas kesadaran kolektif, akan segera mati ketika pihak luar tersebut meninggalkannya. Berbeda dengan gerakan sosial yang dilahirkan atas adanya kesadaran kolektif dan solidaritas komunitas yang bersangkutan untuk menyelesaikan masalah riil di sekitarnya, maka aksi kolektif semacam inilah yang sanggup berlanjut dan bahkan terus memproduksi pemimpinnya. Kedua, studi ini sependapat dengan Singh yang menyatakan bahwa salah satu karakteristik gerakan sosial baru mengambil bentuk non institusional, non hirarkis, terdesentralisasi dan kaya bentuk. Di mana basis partisipannya pada dasarnya adalah adanya kepentingan kemanusiaan dan

bukan atas dasar gender, pendidikan, pekerjaan dan kelas. Pendapat ini dikuatkan dengan temuan yang menunjukkan adanya aliansi kekuatan antara laki-laki dan perempuan yang didominasi oleh kekuasaan desa berhadapan dengan penguasa desa, yang berakhir dengan kemenangan Sulastri dalam Pilkades.

Ketiga, membantah pendapat Singh yang menyatakan bahwa gerakan sosial baru pada umumnya dilakukan oleh mereka yang hidup dalam setting masyarakat kontemporer. Dalam kasus Dasun menunjukkan bahwa sebuah gerakan sosial baru (ditinjau dari isu yang diusung) dapat tumbuh dalam setting masyarakat pedesaan tradisional agraris. Kondisi ini tentunya merupakan hal yang bertolak belakang dengan prasyarat yang dikemukakan Singh.

Keempat, menolak pendapat Singh dan Offe yang menyatakan bahwa para pelaku gerakan pada umumnya berasal dari kelas menengah baru (new middle class) yang biasanya dicirikan dengan profesionalisme, tingkat pendidikan yang ditempuh, serta tingkat ekonomi menengah, meskipun Offe juga menambahkan unsur ibu rumah tangga, pensiunan dan mahasiswa. Kondisi ini jauh berbeda dengan pelaku gerakan sosial di Dasun yang terdiri dari para perempuan miskin, sebagian besar bekerja di sektor pertanian (baik sebagai petani kecil maupun sebagai buruh tani), dan secara umum berpendidikan rendah.

Kelima, studi ini sependapat dengan Gamson yang menyatakan bahwa terdapat dua variable yang harus dipenuhi untuk menyatakan suatu gerakan sosial masuk dalam tipologi full response, yaitu keberhasilan dalam dua aspek secara penuh baik dari sisi capaian maupun tingkat penerimaan. Dari sisi capaian terlihat adanya perubahan nyata yang terkait dengan kebijakan publik yang merupakan tuntutan masyarakat (penerapan kuota

30% kehadiran perempuan dalam tiap-tiap kegiatan pengambilan keputusan dari tingkat RT sampai desa); dari tingkat penerimaan dilihat dari keberhasilan gerakan sosial membawa hasil nyata dalam sistem perwakilan kepentingan (Sulastri dapat memenangkan kursi kepala desa dan adanya perempuan yang berhasil menduduki kepengurusan di BPD).

Dalam dokumen Gerakan Sosial Lokal Perempuan docx (Halaman 52-56)

Dokumen terkait