• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLIKASI TEORITIS

Dalam dokumen SEKTOR PERTANIAN DALAM KONTEKS AWAL PEMB (Halaman 23-33)

Teori-teori pasca Perang Dunia II, kebanyakan background negara maju, tetapi dihadapkan pada masalah dan potensi negara yang baru merdeka. Terdapat banyak teori mengenai pembangunan yang nota bene sebagai arahan bagi pemerintahan di negara sedang berkembang dalam intervensinya mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi. Salah satu pandangan yang dampaknya besar dan berlanjut hingga sekarang adalah model pertumbuhan yang dikembangkan oleh Harrod dan Domar. Pada intinya model ini berpijak pada pemikiran Keynes (1936) yang menekankan pentingnya aspek permintaan dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang

Dalam model Harrod-Domar, pertumbuhan ekonomi akan ditentukan oleh dua unsur pokok, yaitu tingkat investasi dan produktivitas modal (capital output ratio). Agar dapat tumbuh secara berkelanjutan, masyarakat dalam suatu perekonomian harus mempunyai tabungan yang merupakan sumber investasi. Secara teoritik hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan investasi dapat dijelaskan melalui konsep ICOR (Incremental Capital Output Ratio). Semakin tinggi ICOR proporsi investasi terhadap Produk Domestik Bruto semakin tinggi pula untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Todaro, 2000).

Sementara itu berkembang sebuah model pertumbuhan yang disebut neoklasik. Teori pertumbuhan neoklasik mulai memasukkan unsur teknologi yang diyakini akan berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Dalam teori neoklasik, teknologi dianggap sebagai faktor eksogen yang tersedia untuk dimanfaatkan oleh semua negara di dunia. Dalam perekonomian yang terbuka, di mana semua faktor produksi dapat berpindah secara leluasa dan teknologi dapat dimanfaatkan oleh setiap negara, maka pertumbuhan semua negara di dunia akan konvergen, yang berarti kesenjangan akan berkurang.

Dua di antaranya yang penting adalah dari Rostow (1960) dan Chenery-Syrquin (1975). Menurut Rostow, transformasi dari negara yang terkebelakang menjadi negara maju dapat dijelaskan melalui suatu urutan tingkatan atau tahap pembangunan yang dilalui oleh semua negara. Rostow mengemukakan lima tahap yang dilalui oleh suatu negara dalam proses pembangunannya; yaitu tahap Traditional Society, Preconditions for Growth, The Take-off, The Drive to Maturity, dan The Age of High Mass Consumption. Menurut pemikiran Chenery dan Syrquin (1975), yang merupakan pengembangan pemikiran dari Collin Clark dan Kuznets, perkembangan perekonomian akan mengalami suatu transformasi (konsumsi, produksi dan lapangan kerja), dari perekonomian yang didominasi oleh sektor pertanian menjadi didominasi oleh sektor industri dan jasa. Clark

menggambarkan tentang ”modernisasi ekonomi”, atau proses pertumbuhan ekonomi

dalam kerangka perubahan proporsional yang besar menuju produksi sekunder dan peningkatan yang layak dalam produksi tersier. Negara yang telah mencapai tahapan modernisasi ekonomi inilah yang dianggap telah mengalami tahap industrialisasi.

Berdasarkan berbagai pemikiran tersebut, pembangunan di negara sedang berkembang mengandalkan modal, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dan pemanfaatan teknologi padat modal secara masif untuk kegiatan industrialisasi. Industrialisasi dijalankan karena dinilai sebagai tahapan strategis yang mampu meningkatkan produktivitas secara efisien, sebagaimana pengalaman revolusi industri yang terjadi di Eropa dan Amerika selama akhir tahun 1800-an. Pertumbuhan eknomi pada waktu itu mampu menjadi pendorong perkembangan ekonomi. Industri dianggap sebagai jalan utama menuju pembangunan. Negara sedang berkembang pada tahun 1950-an dan tahun 1960-an dinasehatkan oleh perancang pembangunan untuk mendirikan industri baja, pembangkit tenaga listrik dan industri manufaktur. Pada waktu itu pembangunan pertanian kurang mendapat perhatian.

Strategi industrialisasi diangap sebagai langkah tepat untuk mencapai kemajuan ekonomi. Dalam konteks demikian, pembangunan suatu negara sering dipahami sebagai suatu proses transformasi struktural. Proses transformasi struktural ini ialah dalam bentuk terjadinya pergeseran dari sektor pertanian ke sektor industri dan kemudian ke sektor

jasa-jasa. Proses pembangunan ekonomi ditandai oleh adanya perubahaan dalam kontribusi sektoral terhadap output nasional sebagai akibat terjadinya pergeseran tenaga kerja nasional dari sektor pertanian ke sektor industri dan kemudian ke sektor-sektor jasa-jasa. Sektor jasa-jasa dianggap sebagai tahap tertinggi dalam proses perkembangan ekonomi. Transformasi struktural disini diharuskan, karena sektor primer dipandang tidak memiliki nilai tambah yang tinggi serta nilai tukarnya rendah

Era industrialisasi ditandai dengan industri–industri baru berkembang dengan pesat, memberikan keuntungan yang sebagian besar diinvestigasikan lagi dalam bentuk baru. Indutri-industri baru ini membutuhkan banyak pekerja pabrik, yang pada akhirnya mendorong timbulnya layanan-layanan jasa yang mendukung para pekerja tersebut dan kebutuhan akan barang-barang manufaktur lainnya, perluasan lebih lanjut di daerah perkotaan dan dalam pabrik-pabrik modern lainnya. Persoalannya, pembangunan dengan model ini tidak seperti yang diharapkan. Pertumbuhan ekonomi memang pesat, tetapi diiringi oleh masalah yang selalu aktual, yaitu tingginya pengangguran, tingkat urbanisasi yang tinggi, kemiskinan yang parah, semakin tingginya gap kaya-miskin, dan berbagai kepincangan serta kesenjangan lainnya.

Lebih lanjut, strategi pembangunan yang mengandalkan akumulasi modal telah menimbulkan polarisasi dalam proses pembangunan dan menciptakan dualisme di banyak negara sedang berkembang (Sumidingrat, Gunawan dan Mudrajat Kuncoro, 1990). Struktur sosial yang kurang mendukung kehadiran teknologi dan cara berpikir yang tidak sesuai kehadiran teknologi, sehingga sebagian besar penduduk tidak ikut berpartisipasi dalam pembangunan dan implementasi kebijakan. Lahir polarisasi di antara kelompok yang mampu memanfaatkan pertumbuhan ekonomi dan yang yang tidak mampu memanfaatkan pertumbuhan ekonomi (Jusawala, 1985). Terjadi bias baik di kota maupun di desa. Trickle down effect sebagaimana yang diharapkan tidak terjadi.

Beberapa negara sedang berkembang seperti India dan Pakistan, sebagai gambaran, berharap percepatan industrialisasi selama tahun 1950-an dan 1960-an melalui perencanaan dan penanaman modal industri sektor pemerintah. Sebagian besar

mendukung upaya tersebut. Namun ketika terjadi goncangan dahsyat secara mendadak akibat kekeringan kronis dan banjir besar, keseluruhan perekonomian macet. Pangan harus diimpor dengan menguras devisa, sehingga impor barang modal turun drastis. Akibatnya laju pertumbuhan industri sangat terpukul, dan sebagai dampaknya tingkat pertumbuhan ekonoi merosot tajam.

Salah satu sebab kegagalan strategi industrialisasi dalam mempercepat proses pembangunan adalah peran sektor industri yang masih relatif kecil dan lemahnya keterkaitan antara sektor pertanian tradisional dan sektor industri modern (Mudahar, 1982). Berkaitan dengan hal ini, para pemikir ekonomi mulai mengubah arah pandangnya dengan lebih memberikan bobot terhadap peran sektor pertanian dalam pembangunan. Sektor pertanian yang tumbuh cepat akan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan penduduk yang pada gilirannya akan meningkatkan permintaan produk non pertanian. Peningkatan permintaaan ini tidak hanya pada produk konsumsi akhir , tetapi juga produk yang digunakan sebagai input oleh petani (Tomich, et.al; 1995).

Melalui pengalaman historis Jepang dalam awal pembangunan, kita dapat menemukan kembali ekonom klasikal awal yang bekerja pada proses industrialisasi. Mereka melabelkan kembali pertanian-industri, desa-kota, tardisional-modern, dan itu merupakan pendekatan dua sektor atau pendekatan dual-ekonomi yang didominasi pada pemikiran mengenai pembangunan dalam tahun 1950-an dan 1960-an, ynag sangat mempengaruhi proses industrialisasi di Jepang. Model yang berkaitan dengan hal ini adalah The Lewis Model melalui pendekatan dua sektor ke pertumbuhan ekonom. Hal ini diikuti oleh versi yang lebih sophisticated, seperti model Ranis/Fei yang secara ekstensif menggunakan contoh Jepang , tetapi semua mulai dari asumsi dasar bahwa, di Negara sedang berkembang, rumah tangga pertanian atau tradisional mengendalikan aliran sumberdaya modal dan tenaga kerja yang ada, dimana mereka hanya dapat menggunakan pada level produktivitas yang rendah, dan pembangunan tergantung pada transfer sumberdaya tersebut ke sector industri yang modern. Model tersebut kemudian menetapkan berbagai mekanisme untuk ini transfer sumberdaya bias dicapai.

Sejauh transfer capital atau saving terkait, pertumbuhan industri dapat terjadi jika setiap surplus output atau income ynag dihasilkan sector tradisional digunakan untuk investasi dalam sector industri. Hal ini difasilitasi dalam berbagai cara: petani dapat dikenakan pajak untuk revenue pemerintah guba investasi dalam proyek industri, petani mungkin menginvestasikan profitmua, sewa atau saving dalam pengembangan p bisnis industri, atau petani dapat diajak menjual produknya dengan harga yang rendah, dan dijual kembali dengan harga lebih tinggi dalam area urban untuk mengahsilkan profit bagi reinvestment (an indirect way of taxing farmers). Petani dapat mendukung tumbuhanya tanaman eksport, yang menghasilkan profit yang investible dan the foreign exchange yang diperlukan untuk mengimpor peralatan capital bagi industri baru. Industrialisasi karenanya memerlukan beberapa mekanisme institutional sehingga produk pertanian yang surplus, yang segera dikonsumsi dalam sektor pertanian, maupun misalnya pekerja yang tidak produktif, dapat dialihakan untuk menambah kapasitas produksi sector industri.

Di sisi lain, transfer tersebut memasukkan pekerja yang diperlukan bagi pengembangan imdustri modern dan yang diambil dari pertanian. Disini, meskipun tidak semuanya, model-model dual ekonomi, menggunakan asumsi lebih spesifik, bahwa proporsi angkatan kerja yang signifikan dalam sector pertanian tradisional, kontribusinya kecil, atau paling tidak daripada yang mereka makan, maka terhadap output pertanian dan bergerak ke tingkat produktivitas kerja industri tanpa kehilangan produksi pertanian secara overall. Hal ini tergantung analisis model dual ekonomi dimana rumatangga usaha tani beroperasi sebagai unit-unit ekonomi. Jadi diasumsikan bahwa keluarga usaha tani akan membagikan incomenya di anrata anggotanya mengabaikan berapa banyak setiap individu mampu berkontribusi, tidak sama dengan standard usaha industri yang hanya bekerja yang kontribusi terhadap output (marginal product) sama atau lebih besar dengan upah yang mereka terima. Disini, surplus pekerja, yang mengkonsumsi lebih besar daripada marginal productnya, dapat meninggalkan pertanian ke industri, dimana mereka kontribusinya lebihbanyak pada total produksi,

dapat dipasarkan, atau dibayarkan sebagai pajak, maka produk sebelumya yang dikonsumsi oleh surplus relatifnya, dan ini dapat digunakan untuk kebutuhan pangan angkatan kerja industri perkotaan. Sepanjang surplus pekerja terjadi di sektor pertanian, mereka dapat dimanfaatkan oleh pekerja industri dengaqn upah konstant di atas subsisten sektor pertanian, dengan cara demikian meninggalkan profit investible di usaha industri. Model-model tersebut memberikan skenario pembanguan yang optimis, dalam mana agricultural surplus di arahkan untuk menciptakan employment di industri, output and incomes secara gradual muncul, sebagai hasil produktivitas yang tinggi di sector industri, dan perekonomian secara mantap ditransformasikan. Sebagaimana kita lihat, kasus Jepang digunakan sebagai salah satu contoh dalam proses ini, mengilustrasikan bagaimana pembangunan dual ekonomi dapat berhasi dengan baik. Lebih lanjut, pemikiran sepanjang lini ini dicoba dan diperkuat pada pendekatan secara luas di antara pemerintahan negara maju dalam tahun 1950-an dan 1960-an. Peran pasif sektor pertanian dalam model ini, dimana sumberdaya pertanian dialihkan ke sektor pertanian, dan permintaannya sendiri kecil atau tidak adan investasi baru, pada sektor pertanian memberikan justifikasi bahwa pengabaian sektor pertanian didukung oleh apa yang disebut oleh Michael Lipton sebagai urban bias (Lipton 1977).

Pembangunan dan industrialisasi dianggap sebagai suatu sinonim; kunci bagi pertumbuhan ekonomin dengan mengembangkan industri modern, seringlai diproteksi dengan tariff barriers, dan investasi unruk meningkatkan output atau perbaikan kondisi area pedesaan, tidak diperlukan karena pertumbuhan yang ditimbulkan oleh transfer surplus ke industri pada akhrinya menarik sektor pertanian ke atas ketika upahnya meningkat dan pasar berkembang. Masalah pendekatan ini dalam pembangunan secara luas dikenal. Sejemlah negara sedang berkembang menggunakan strategi dualitas untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang tingi dengan mengembangkan sektor industri, tetapi, menggunakan capital-intensive pada dasarnya membutuhakan teknologi, sehingga kesemptan di sektor industri relatif kecil. Sektor usaha tani menunjukkan ketidakmampuannya untuk menghasilkan surplus : desa yang kaya sulit untuk membayar pajak, dan setiap surplus yang dihasilkan oleh petani kecil secara besar-besaran dihabiskan oleh pertumbuhan penduduk yang lebih cepat selama industrialisasi di negara

sedang berkembang(termasuk Jepang). Pembangunan bangsa dengan demikian menyandarkan pada peningkatan import, bantuan asing dan pinjaman luar negeri untuk mendukung program industrialisasi dan pada waktu yang sama kekurangan pangan dan harga meningkat sebagai hasil kekhawatiran pekerja urban. Penduduk desa meskipun demikian secara kontinyu bermigrasi ke kota, tertarik oleh harapan pekerjaan di urban yang memberikan prospek dan kondisi lebih baik, hal ini berarti sepanjang periode menunggu dalam suatu pondok penampungan yang tersebar di banyak kota dunia ke tiga. Dalam perencanaan ekonomi, usaha untuk menekan petani ke dalam organisasi kelembagaan (mislnya usaha tani kolektif) akan mentransfer surplus ke industri dengan sangat resistens dan menunjukkan ketidakefektivan dalam level dukungan ke kebutuhan urban dan pertumbuhan penduduk. Ide dual ekonomi menjadikan kurang mendasar pada suatu model pembangunan ekonomi dan lerbih banyak mengungkapkan semakin adanya perbedaan dalam pertumbuhan output., standar kehidupan (living standards) dan kondisi kehidupan di antra era pedesaan di negara ketiga dan adanya kantong-kantong industri modern. Timbulnya problem tersebut menyebabkan adanya pemikiran ulang di antara ahli ekonomi dan perencana pembangunan..

Lebih lanjut, pertumbuhan pertanian merupakan esensi pada proses industrialisas dan transfer sumberdaya dari suatu dinamik dan pembangunan sector pedesaan lebih feasible daripada dibiarkan stagnan (Timmer1988: 290–1). Hal ini menghasilkan usaha untuk membalik pengabaian pertanian dan memperkuat kembali melalui teknologi baru di sektor pertanian yang dikenal sebagai the Green Revolution. Hal ini dilakukan melalui suatu paket yaitu metode baru, fokus pada hasil yang cepat, penggunaan pupuk dan berbagai bibit padi dan gandum, yang mulai dikembangkan di Asia dan Amerika Tengah pada akhir tahun 1960-an. Berbagai benih, dikembangkan oleh berbagai lembaga riset nasional dan internasiona, membuka peluang investasi sumberdaya di sektor pertanian, misalnya pengembangan irigasi, keredit, dan jasa-jasa ke usaha tani, yang tidak hanya menghambat turunnya kondisi kehidupan pedesaan dan memasok pangan di perkotaan, tetapi juga menghasilkan return yang relatif besar dengan biaya relatif kecil. Jadi pembangunan pedesaan mulai diterima dengan prioritas tinggi, paling tidak oleh bantuan

munculnya teknologi baru di sektor pertanian juga membawa pemikiran ulang mengenai asumsi ekonomi mikro dan kelembagaan mengenai sifat rumha tangga usaha tani yang merespons secara kritis terhadap pencapaian tujuan pembangunan pedesaan. Model dual ekonomi telah cenderung menganggap rumah tangga usaha tani sebagai pemasok pasif sumberdaya dan beroperasi secara tradisional. Karena itu mereka tidak mengembangkan riset mengenai rumah tangga usaha tani yang beroperasi di negara sedang berkembang. Meskipun demikian, beberapa usaha telah dibuat, untuk menguji hipotesis surplus tenaga kerja, tetapi sebagian besar gagal untuk memperoleh bukti yang jelas bahwa rumah tanga usaha tani mempertahankan jumlah pekerja ssedikit kontribusi atau tidak terhadap income keluarga, paling tidak ketika melihat pertanian secara keseluruhan dalam satu tahun. Temuan demikian membawa pada studi teoritis dan empiris, di antara batas ilmu ekonomi dan antroplogi, dimana rumah tangga usaha tani di negara miskin bekerja, dan penyebaran Green Revolution menunjukkan pengembangan riset untuk respons petani dan komunitas pedesaan terhadap teknologi baru.

Adelman (1984) menawarkan konsep Agricultural Demand Led Industrialization (ADL) yang menekankan perlunya sector pertanian dijadikan basis dalam pembangunan nasional. Startegi industrialisasi ADLI merupakan program investasi masyarakat untuk mendorong kurva suplai produk pertanian menjadi lebih elastis. Permintaan dalam negeri dikembangkan melalui pembangunan sektor pertanian sehingga sektor pertanian menjadi pasar yang efektif untuk produk-produk sektor industry melalui keterkaitan permintaan barang-barang antara (intermediate demand) dengan permintaan akhir (final demand). Proses pembangunan industri melalui strategi ADLI bukan hanya merupakan proses pembangunan yang didasarkan atas teknologi padat karya dengan sektor pertanian sebagai sektor pemimpin yang akan menciptakan pertumbuhan seiring dengan perluasan kesempatan kerja, namun juga merupakan program industrialisasi yang dapat mendukung program ketahanan pangan dan pemerataan pendapatan. Dengan demikian, jelas bahwa strategi ADLI merupakan strategi industrialisasi yang akan dapat mendukung pengembangan sektor agroindustri.

Paradigma baru pembangunan pertanian menempatkan strategi Agricultural Demand-Led Industrialization (ADLI) sebagai strategi industrialisasi yang menitikberatkan program pembangunan di sektor pertanian dan menjadikan sector pertanian sebagai penggerak pembangunan sektor industri dan sektor-sektor lain (Adelman, 1984; de-Janvry, 1984). Strategi ini berperan penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui peningkatan investasi dan inovasi teknologi, serta meningkatkan pendapatan masyarakat di perdesaan. Mengacu pada teori keterkaitan dimana keterkaitan ke belakang merangsang investasi pada pertanian sebagai penggerak pembangunan sektor industri dan sektor-sektor lain (Adelman, 1984; de-Janvry, 1984). Strategi ini berperan penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui peningkatan investasi dan inovasi teknologi, serta meningkatkan pendapatan masyarakat di perdesaan. Mengacu pada teori keterkaitan dimana keterkaitan ke belakang merangsang investasi pada industri yang mensuplai input dan keterkaitan ke depan mendorong investasi untuk tahapan produksi lebih lanjut, peningkatan produktivitas pertanian melalui keterkaitan ke belakang akan menstimulus permintaan input pertanian (pupuk, pestisida dan benih unggul) dan barang-barang kapital (jaringan irigasi, mesin pertanian, transportasi dan infrastruktur lain) serta meningkatkan permintaan tenaga kerja. Peningkatan kesempatan kerja bukan hanya di sektor pertanian, tetapi juga akan menciptakan kesempatan kerja non pertanian maupun jasa. Melalui keterkaitan ke depan, investasi di sektor pertanian tersebut akan menstimulus investasi di sektor industri pengolahan hasil pertanian dan industri non pertanian lain serta jasa. Di sisi lain peningkatan produktivitas pertanian akan meningkatkan pendapatan rumah tangga yang pada akhirnya menstimulus peningkatan konsumsi pangan, baik bahan pangan primer maupun olahan serta konsumsi non pertanian lain.

Di negara-negara yang sedang berkembang, konsumsi domestik merupa merupakan faktor utama pertumbuhan ekonomi, dan mengingat sebagian besar penduduk tinggal dan bekerja di sektor pertanian dan menggantungkan hidup mereka di sektor pertanian, maka strategi ADLI merupakan strategi pembangunan pertanian yang memanfaatkan kekuatan permintaan rumah tangga perdesaan dalam rangka

agroindustri atau industri pengolahan yang berbasis pertanian serta sector pertanian primer merupakan sektor andalan pembangunan pertanian melalui strategi ADLI.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan apa yang sudah diuraikan, terdapat beberapa kesimpulan yang bisa menjadi rujukan bagi kita, bahwa sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi suatu bangsa mempunyai peranan yang penting, sebagaimana halnya Jepang dalam awal-awal pembangunannya.

Pertama, pengembangan agro industri, sebagai awal pembangunan industri suatu bangsa. Melalui upaya ini, kaitan ke belakang, terutama dengan sektor pertanian saling mendukung. Pengembangan agro industri menyebabkan permintan bahan baku yang berasal dari sektor pertanian berkembang pula. Sebaliknya, sektor pertanian yang berkembang memberikan peluang semakin berkembangnya sektor industri. Kaitan ke belakang, perkembangan sektor pertanian akan mengembangkan pula sektor hulu, yaitu industri pupuk, bibit, dan obat-obatan. Demikian pula aktivitas transportasi, jasa perdagangan, akan semakin berkembang pula. Pada kenyataannya, output suatu sector tertentu akan menjadi input bagi sector lainnya. Kemajuan di suatu sektor tidak mungkin dapat dicapai tanpa dukungan sektor-sektor lain. Begitu juga sebaliknya, hilangnya kegiatan suatu sektor akan berdampak terhadap kegiatan sektor lain. Program

pembangunan yang bersifat “ego-sektor” semakin tidak populer karena diyakini akan

merugikan kepentingan pembangunan secara keseluruhan.

Kedua, dalam pembangunan pertanian, perlu dikembangkan berbagai kelembagaan seperti koperasi dan lembaga penyuluhan. Koperasi dapat bertindak dalam pemberian advis pengelolaan usaha tani, pemanfaatan teknologi, dan penyebaran informasipertanian; pemasaran produk pertanian; penyediaan sarana produksi; mengatur pengolahan produk pertanian dan penyimpanan produk; sebagai Bank; sebagai badan asuransi, dan menyediakan sarana pelayanan kesehatan masyarakat khususnya petani.

Lembaga penyuluhan dapat bekerja sama dengan berbagai lembaga riset untuk mendimenasi inovasi-inovasi baru di sektor pertanian.

Ketiga, mengamankan bahan pangan di dalam negeri untuk kebutuhan masyarakat. Pangan jangan terlalu banyak diimpor, tetapi mendasarkan pada kebutuhan dalam negeri. Untuk ini, petani-petani padi perlu diberi insentif, seperti penguasaan atas lahan tertentu, subsidi input bagi usaha tani padi, subsidi bagi harga jual padi, kemudahaan dalam pemasaran, dan pembangunan infrastruktur seperti saluran irigasi, bendungan, dan jalan raya bagi transportasi di pedesaan. Khusus dalam penguasaan lahan, petani dapat dibantu dalam bentuk kredit murah ataupun melalui land reform.

Keempat, perlunya dikembangkan paradigma pemikiran yang menempatkan arti pentingnya sektor pertanian dalam pembangunan. Sektor pertanian yang kuat, merupakan landasan yang kuat bagi pembangunan ekonomi. Sektor pertanian yang tumbuh cepat akan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan penduduk yang pada gilirannya akan meningkatkan permintaan produk non pertanian. Peningkatan permintaaan ini tidak hanya pada produk konsumsi akhir , tetapi juga produk yang digunakan sebagai input oleh petani.

Dalam dokumen SEKTOR PERTANIAN DALAM KONTEKS AWAL PEMB (Halaman 23-33)

Dokumen terkait