TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1 Tinjauan Pustaka 1 Daging Sap
2.1.3 Impor Sap
Dalam penyediaan daging sapi terdapat tiga pelaku utama yang perlu diperhatikan karena peranan ketiganya yang cukup signifikan dalam pencapaian ketahanan pangan daging sapi. Ketiga pelaku tersebut adalah peternakan sapi rakyat yang mengusahakan sapi lokal, industri penggemukan sapi yang mengandalkan sapi bakalan impor dan industri daging dan jeroan yang menggunakan produk daging sapi asal impor (Talib, 2008).
Rendahnya produksi sapi domestik menyebabkan rendahnya pula memenuhi kebutuhan akan daging sapi. Usaha yang telah dilakukan untuk menangani kekurangan sapi potong diantaranya adalah mengimpor sapi bakalan yang dilakukan sejak awal tahun 1990 dan terus meningkat hingga puncaknya tahun 1997, yaitu sebanyak 428 ribu ekor (Dwiyanto, 2006).
Awalnya pemenuhan permintaan daging dapat disediakan oleh peternakan rakyat. Akan tetapi karena semakin tinggi populasi masyarakat Indonesia maka kemampuan peternakan rakyat dalam memenuhi permintaan daging makin rendah. Hal ini mendorong pemerintah untuk melakukan impor sapi bakalan yang akan digemukkan di dalam negeri selama beberapa bula
Ada 7 negara yang menguasai hampir 70% sebagai produsen sapi tetapi tidak semua negara produsen termasuk sebagai negara eksportir utama. Amerika Serikat, Brasil dan Cina adalah 3 negara produsen yang memiliki lebih dari 50%
sapi potong dunia. Sedangkan Brasil, Australia, New Zealand, India dan Kanada menguasai 75% ekspor sapi potong dunia (Talib, 2008).
Indonesia mengimpor sapi hidup dari Australia. Jenis sapi yang diimpor yaitu Sapi Bos indicus seperti jenis sapi Brahman atau jenis campuran silang seperti sapi jenis Braford dan Droughtmaster. Sapi-sapi jenis ini sangat berhasil diternakkan di daerah tropis. Karena mempunyai ciri-ciri tahan panas, tahan terhadap kekeringan, dan serangan kutu. Sapi tersebut juga mempunyai ciri- ciri sapi jenis Bos taurus, misalnya laju pertumbuhannya tinggi, produksi susunya banyak, dan tingkat kesuburannya tinggi (Anonimus 3, 2010).
Sapi bakalan impor diperoleh dari Australia, walaupun harga ketika tiba di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti musim, cuaca, jarak tetapi tetap diminati oleh pihak industri penggemukan sebagai prioritas utama, karena harga beli oleh industri lebih menguntungkan daripada menggunakan sapi lokal (Talib, 2008).
Indonesia memilih mengimpor sapi dari Australia dan Selandia Baru selain lebih dekat juga berkaitan dengan kebijakan country based atau mengimpor sapi berbasis keamanan dan kesehatan disatu negara. Sapi yang berasal dari negara lain seperti India dan Brazil belum bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Tujuan dari penolakan masuknya sapi dari negara tersebut karena dikhawatirkan penyakit dapat menular pada ternak yang ada di Indonesia (Anonimus 4, 2012).
Terdapat berbagai jenis kebutuhan pangan bangsa Indonesia yang masih disediakan melalui kegiatan impor. Ini dikarenakan ketersediaan kebutuhan
pangan bagi masyarakat masih jauh dari yang dibutuhkan. Adapun total impor bahan pangan yang dilakukan pada tahun 2009.
Tabel 5. Total Nilai Impor Bahan Pangan Indonesia Periode Januari- Juli 2009
No Impor Bahan Pangan Indonesia Januari-Juli 2009
1 Susu 31,04%
2 Sapi Bakalan 25,53%
3 Daging Sapi 9,86%
4 Mentega 3,83%
5 Wol dan Limbah Wol 3,44%
6 Keju 3,08%
7 Hati/Jeroan Sapi 2,55%
8 Obat Hewan 2,20%
9 Hati/Jeroan Non Sapi 2,14%
10 Telur Konsumsi 0,48%
11 Daging Kambing/Domba 0,23%
Sumber: Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Wilayah Vol1 No.2, 2013
Berdasarkan tabel 5, impor sapi bakalan merupakan impor terbanyak kedua setelah susu yaitu sebesar 25,53% sedangkan untuk impor daging sapi terbanyak ketiga dari seluruh total impor bahan pangan di Indonesia pada Januari- Juli 2009 yaitu sebesar 9,86%.
2.1.4 Konsumsi Daging Sapi
Pangan yang dikonsumsi oleh penduduk terdiri dari pangan pokok dan pangan hewani. Pangan pokok sebagai sumber karbohidrat sebagian besar dipenuhi dari konsumsi beras, sedangkan pangan hewani (protein) banyak diperoleh dari konsumsi daging, ikan, telur dan susu. Protein hewani ini berperan dan berfungsi sebagai zat pembangun struktur tumbuh, zat pengatur (biokatalisator), sumber energi dan sebagai hormon (Nugroho, 2008).
Penduduk mengacu pada sejumlah manusia yang berdiam dalam suatu wilayah. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dalam suatu wilayah akan menambah pula jumlah kebutuhan hidup. Semakin tinggi jumlah penduduk, maka
kebutuhan daging sapi juga akan meningkat. Sebaliknya, semakin rendah jumlah penduduk maka kebutuhan daging sapi juga akan berkurang (Supranto, 2007).
Kebutuhan konsumsi daging sapi penduduk Indonesia cenderung terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani. Setiap bahan pangan mempunyai kandungan gizi yang berbeda-beda baik jumlah maupun jenisnya. Bahkan sesama bahan pangan pun ada yang berbeda jumlahnya, untuk daging sapi mempunyai kandungan protein paling tinggi dibanding dengan daging hewan lainnya (Anonimus5, 2009).
2.1.5 Harga Daging Sapi
Laju permintaan daging sapi yang lebih tinggi dari laju pasokan domestik menyebabkan harga daging sapi domestik selalu meningkat, hingga pasokan impor semakin membesar. Harga impor yang lebih murah justru menyesuaikan dengan harga domestik yang cenderung naik (Ilham, 2009).
Dari aspek konsumsi berdasarkan budaya dan rasa, posisi daging sapi tidak tergantikan dengan daging lain. Ketersediaan daging sapi selalu dibutuhkan baik pada kelompok kelas pendapatan tinggi, sedang maupun rendah. Perilaku konsumen yang demikian menyebabkan harga daging sapi terus meningkat. Pemicu kenaikkan harga terutama pada saat menjelang hari besar keagamaan seperti menjelang bulan puasa dan hari raya (Ilham, 2009).
Pada usaha sapi potong harga relatif stabil, namun cenderung terus meningkat. Jika terjadi peningkatan harga tidak akan turun kembali. Walaupun harga daging sapi akan turun namun tidak akan kembali pada kondisi semula. Apalagi pada kondisi yang lebih rendah. Selain itu, konsumen daging sapi
umumnya kelas menengah ke atas. Pada konsumen ini, kenaikkan harga tidak berpengaruh nyata terhadap permintaannya (Ilham, 2009).
Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag), rata-rata kenaikan harga komoditas daging sapi per tahun mencapai 9,0%. Dengan kenaikan harga tertinggi terjadi pada tahun 2008 yang mencapai angka 14,4%
dibandingkan pada tahun sebelumnya, yaitu dari Rp 50.036/kg menjadi Rp 57.259/kg. Harga daging sapi pada periode tahun 2003-2012 mengalami
gejolak kenaikan harga sebesar 27,3%. Secara nasional, perkembangan harga daging sapi pada tahun 2012 (sampai dengan bulan September 2012) berangsur- angsur mengalami kenaikan dari awal Januari dan mulai mengalami lonjakan harga pada bulan Juli (menjelang puasa), yaitu mencapai angka 3,36% dari Rp 74.393/kg menjadi Rp 76.895/kg. Sedangkan tingkat harga pada bulan Agustus 2012 terus bergerak naik mencapai 3,78% dari Rp 76.895/kg menjadi Rp 79.800/kg (Anonimus 7, 2012).