BAB IV KESEHATAN DAN KB
4.5 Imunisasi Tetanus Toxoid (TT) pada Ibu Hamil
4.7 Peserta/Akseptor Keluarga Berencana (KB) BAB V EKONOMI DAN KETENAGAKERJAAN 5.1 Penduduk Usia Kerja
5.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 5.3 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 5.4 Distribusi Sektoral Penyerapan Tenaga Kerja 5.5 Tenaga Kerja Migran Antar Kerja Antar Negara 5.6 Pekerja Formal dan Informal
BAB V BIDANG POLITIK DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN 6.1 Keterwakilan di Lembaga Legislatif
6.2 Peranan dan Komposisi di Lembaga Yudiatif 6.3 Peran dan Posisi di Lembaga Eksekutif
BAB VII BIDANG HUKUM, SOSIAL-BUDAYA DAN LINGKUNGAN 7.1 Bidang Hukum dan Sosial Budaya
7.2 Bidang Sumber Daya Alam (SDA) dan Lingkungan BAB VIII KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN 8.1 Kekerasan Terhadap Perempuan
Profil Gender dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 7 BAB IX KELEMBAGAAN
Profil Gender dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 8
BAB II
KEPENDUDUKAN
Penduduk atau masyarakat merupakan bagian penting atau titik sentral dalam pembangunan, karena peran penduduk sejatinya adalah sebagai subjek dan objek dari pembangunan itu sendiri. Jumlah penduduk bukan hanya merupakan modal, tetapi juga merupakan beban dalam pembangunan. Pertumbuhan penduduk yang meningkat berkaitan dengan kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan jumlah penduduk yang sangat tinggi tersebut akan melahirkan beragam masalah dalam kehidupan. Masalah utama yang dihadapi di bidang kependudukan di Indonesia adalah masih tingginya pertumbuhan penduduk dan kurang seimbangnya penyebaran dan struktur umur penduduk.
Untuk mensukseskan pembangunan di suatu daerah, diperlukan komponen penduduk yang berkualitas. Karena dari penduduk berkualitas itulah memungkinkan untuk bisa mengolah dan mengelola potensi sumber daya alam dengan baik, tepat, efisien, dan maksimal, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Oleh sebab itu, dalam menunjang keberhasilan pembangunan, pemerintah tidak saja mengarahkan pada upaya pengendalian penduduk tetapi juga menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusianya itu sendiri. Oleh karena itu, informasi tentang komponen-komponen kependudukan seperti jumlah, komposisi, serta
Profil Gender dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 9 distribusi penduduk perjenis kelamin sangat diperlukan sebagai dasar dalam perencanaan pembangunan selanjutnya.
2.1 Jumlah dan Persebaran Penduduk
Berdasarkan hasil proyeksi penduduk tahun 2016 yang dilakukan oleh Kantor Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kabupaten Pasaman Barat mencapai 418.785 jiwa (tabel 2.1) dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki sebanyak 211.582 jiwa (50,52%) dan penduduk perempuan sebanyak 207.203 jiwa (49,48%). Bila dibandingkan dengan data tahun sebelumnya (2015) terjadi kenaikan sebesar 2,11 % penduduk laki-laki dan 2,02 % penduduk perempuan, dan secara total terjadi pertumbuhan penduduk sebesar 2,07% selama kurun waktu 2015-2016. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan penduduk yang hampir seimbang antara penduduk laki-laki dan perempuan.
Dari tabel 2.1 terlihat persebaran penduduk menurut kecamatan dan jenis kelamin, yang belum merata di setiap kecamatan. Kecamatan Pasaman sebagai ibu kota Kabupaten Pasaman Barat memiliki penduduk yang jauh lebih banyak dibanding kecamatan lainnya yaitu sebanyak 75.127 jiwa. Sedangkan kecamatan yang paling sedikit jumlah penduduknya adalah Kecamatan Sasak Ranah Pasisie yang hanya 14.686 jiwa.
Profil Gender dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 10 Tabel 2.1
Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 2016
Sumber : Proyeksi Penduduk Tahun 2016
Kabupaten dengan luas wilayah 3.887,77 Km2 ini memiliki kepadatan penduduk 108 jiwa per Km2 dengan Kecamatan Luhak Nan Duo sebagai kecamatan terpadat 245 jiwa per Km2, dan Kecamatan Gunung Tuleh sebagai kecamatan terjarang dengan kepadatan penduduk 47 jiwa per Km2 (tabel 2.2). Semakin padat suatu wilayah tentunya menuntut perhatian yang lebih, sebab semakin tinggi kepadatan penduduk akan semakin sulit memenuhi kebutuhan pokok seluruh penduduk, terutama perumahan karena luas lahan menjadi terbatas. Laki-laki Perempuan (1) (2) (3) (4) Sungai Beremas 12 952 12 273 25 225 Ranah Batahan 13 321 13 117 26 438 Koto Balingka 14 984 14 894 29 878 Sungai Aur 18 520 18 019 36 539 Lembah Melintang 23 666 24 225 47 891 Gunung Tuleh 10 572 10 647 21 219 Talamau 13 563 13 359 26 922 Pasaman 38 117 37 010 75 127 Luhak Nan Duo 21 515 21 100 42 615 Sasak Ranah Pasisie 7 500 7 186 14 686 Kinali 36 872 35 373 72 245 Pasaman Barat 211 582 207 203 418 785
Profil Gender dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 11 Tabel 2.2
Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk per Kecamatan Tahun 2016
Sumber : Pasaman Barat Dalam Angka Tahun 2017
Perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan disajikan melalui angka Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio). Bila dilihat dari perbandingan jumlah gender, sex ratio penduduk Pasaman Barat tahun 2016 adalah 102,11 (grafik 2.1). Artinya dari setiap 100 orang perempuan terdapat sekitar 102 orang laki-laki. Hal ini menggambarkan bahwa di Pasaman Barat jumlah penduduk laki-laki lebih banyak ketimbang penduduk perempuan. Angka sex ratio yang lebih kecil dari 100 menunjukkan jumlah penduduk perempuan lebih besar dari penduduk laki-laki.
Profil Gender dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 12 Bila dibandingkan antar kecamatan, sex ratio tertinggi berada pada Kecamatan Sungai Beremas sebesar 105,53, diikuti Kecamatan Sasak Ranah Pasisie dan Kinali sebesar 104. Sex ratio terendah berada pada Kecamatan Lembah Melintang yaitu tercatat hanya sebesar 97,69 dan diikuti oleh Kecamatan Talamau 99,30. Jadi dari sebelas kecamatan yang ada di Kabupaten Pasaman Barat hanya pada dua kecamatan (Talamau dan Lembah Melintang) jumlah penduduk perempuannya lebih besar dari laki-laki.
Gambar 2.1 Rasio Jenis Kelamin Menurut Kecamatan Tahun 2016
2.2 Distribusi Penduduk
Distribusi penduduk menurut kelompok umur jenis kelamin dapat digambarkan dalam bentuk piramida penduduk. Piramida
Profil Gender dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 13 penduduk menggambarkan perkembangan penduduk pada setiap kelompok umur yang berbeda. Perubahan pada bentuk piramida penduduk akan dipengaruhi oleh kelahiran, tingkat kelangsungan hidup setiap kelompok umur serta proses perpindahan penduduk
Gambar 2.2 menunjukkan bahwa struktur umur penduduk Kabupaten Pasaman Barat didominasi oleh penduduk kelompok umur muda yang ditandai dengan alas piramida yang lebih lebar yakni pada kelompok umur 0-4 tahun dan 5-9 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk Pasaman Barat memiliki karakteristik expansive seperti yang digambarkan oleh piramida penduduk yang berbentuk limas dengan
Profil Gender dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 14 dasar yang melebar dan slope yang tidak terlalu curam. Bentuk piramida seperti ini umumnya dijumpai di negara-negara berkembang, disebabkan oleh tingkat kelahiran yang tinggi.
Gambar 2.3
Komposisi Penduduk Laki-laki Menurut Kelompok Umur Tahun 2016
Gambar 2.4 Komposisi Penduduk Perempuan Menurut Kelompok Umur Tahun 2016
Profil Gender dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 15 Gambar 2.3 dan 2.4 menunjukkan komposisi penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur. Persentase tertinggi berada pada umur 0-4 tahun baik pada penduduk laki-laki, maupun perempuan. Persentase terendah berada pada kelompok umur 70-74 tahun. Hal ini menggambarkan komposisi penduduk menurut kelompok umur seimbang antara laki-laki dan perempuan.
2.3 Angka Beban Ketergantungan
Komposisi penduduk menurut kelompok umur produktif digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu : belum produktif (umur 0-14 tahun), produktif (umur 15-64 tahun), tidak produktif lagi (65+ tahun). Dari Tabel
Dari tabel 2.3 menunjukkan bahwa persentase umur belum produktif (0-14 tahun) laki-laki lebih besar dari perempuan yaitu 34,27 persen laki-laki dan 33,80 persen perempuan. Pada kelompok umur produktif (15-64 tahun) persentase laki-laki juga lebih besar dari perempuan yaitu 62,46 persen laki-laki dan 62,02 persen perempuan. Sedangkan kelompok tidak produktif (65+) persentase penduduk perempuan lebih besar dari laki-laki yaitu 4,18 persen perempuan dan 3,27 persen laki-laki. Hal ini menggambarkan pada usia senja penduduk perempuan lebih tinggi harapan hidupnya dari penduduk laki-laki.
Profil Gender dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 16 Tabel 2.3
Komposisi Penduduk Menurut Umur Produktif dan Jenis Kelamin Tahun 2016
Sumber : Proyeksi Penduduk Tahun 2016
Angka Beban Ketergantungan atau Dependency Ratio (DR) merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Angka Beban Ketergantungan atau Dependency Ratio (DR) adalah angka ketergantungan atau beban yang harus ditanggung penduduk usia produktif terhadap penduduk usia non produktif. Semakin tinggi angka Dependency Ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung oleh penduduk produktif.
Jadi semakin sedikit jumlah usia non produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) akan mengurangi angka beban tanggungan, yang mengindikasikan bahwa akan semakin banyak kesempatan penduduk usia produktif untuk meningkatkan kualitas diri.
Profil Gender dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 17 Tabel 2.4
Rasio Ketergantungan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2016
Sumber : Proyeksi Penduduk Tahun 2016
Rasio ketergantungan penduduk Pasaman Barat tahun 2016 adalah 60,66 (Tabel 2.4). Angka ini berarti bahwa setiap 100 (seratus) penduduk usia produktif di Pasaman Barat mampu menanggung penduduk usia tidak produktif (anak dan lansia) sekitar 60-61 orang. Sedangkan bila dirinci menurut jenis kelamin, rasio ketergantungan antara penduduk laki-laki dan perempuan tidak berbeda terlalu jauh. Rasio ketergantungan pada penduduk laki-laki tercatat sebesar 60,10 dan penduduk perempuan sebesar 61,24.
Secara umum, yang menjadi beban tanggungan penduduk usia non produktif di Pasaman Barat adalah penduduk usia muda (0-14 tahun). Pada kelompok ini angka Young Dependent Ratio (YDR) atau rasio ketergantungan muda mencapai 54,68. Sedangkan angka beban tanggungan penduduk usia tua (65+ tahun), yang dilihat dari Old Dependent Ratio (ODR) hanya sekitar 5,98 (Tabel 2.4). Hal ini mengisyaratkan bahwa setiap 100 penduduk usia produktif mampu menanggung sekitar 54-55 orang usia muda dan 5-6 orang lansia.
Laki-laki Perempuan
(1) (2) (3) (4)
Rasio Ketergantungan 60.10 61.24 60.66 Rasio Ketergantungan Muda 54.86 54.50 54.68 Rasio Ketergantungan Tua 5.24 6.74 5.98
Rasio Indikator Jenis Kelamin
Profil Gender Ibu dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 19
BAB III
PENDIDIKAN
Keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pelaksana pembangunan tersebut. Pembangunan akan berhasil jika kualitas sumber daya manusianya handal. Salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas SDM adalah dengan pendidikan, karena dengan pendidikan kecerdasan dan keterampilan manusia dapat diasah dan ditingkatkan.
Indikator pendidikan seperti Angka Melek Huruf (AMH), status pendidikan, rata-rata lama sekolah dan pendidikan tertinggi yang ditamatkan merupakan indikator yang dapat menunjukkan tingkat kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya bagi perempuan dan anak. Semakin tinggi pendidikan dan rata-rata lama sekolah bagi perempuan akan berdampak kepada pola fikir dan tingkat kesejahteraanya. Perempuan yang berkualitas diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam mensukseskan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga dan bangsa.
Begitu pentingnya pendidikan dalam kehidupan, sehingga pemerintah menjadikan pendidikan sebagai hak dasar setiap manusia Indonesia yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. Kesempatan memperoleh pendidikan diberikan kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi bagi sebagian masyarakat masih ada yang berpandangan bahwa pendidikan lebih diutamakan untuk kaum laki-laki dibanding perempuan, karena ada
Profil Gender Ibu dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 20 norma dimasyarakat yang menganggap bahwa perempuan dibutuhkan untuk membantu mengurus rumah tangga, sedangkan laki-laki berkewajiban dalam mencari nafkah dan membantu menambah penghasilan rumah tangga sehingga menyebabkan pendidikan kaum perempuan masih tertinggal dibanding kaum laki-laki.
3.1 Angka Partisipasi Kasar
Angka Partispasi Kasar (APK) menunjukkan partisipasi penduduk yang sedang mengenyam pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya. APK merupakan persentase jumlah penduduk yang sedang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan terhadap jumlah penduduk usia sekolah yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut. Angka Partisipasi Kasar digunakan untuk mengetahui seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan di suatu jenjang pendidikan tertentu tanpa melihat berapa usianya. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan yang dibagi dalam tiga kelompok jenjang pendidikan yaitu SD (penduduk usia 7-12 tahun), SMP (penduduk usia 13-15 tahun), dan SMA (penduduk usia 16-18 tahun). Semakin tinggi nilai APK berarti semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah pada jenjang pendidikan tertentu. Nilai APK bisa lebih dari 100, karena ada anak yang
Profil Gender Ibu dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 21 berada diluar usia resmi sekolah sedang bersekolah pada jenjang pendidikan tertentu.
Tabel 3.1
Angka Partisipasi Kasar (APK) Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2016
Sumber : SUSENAS diolah, 2016
Tabel 3.1 menunjukkan pada jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) nilai APK berada diatas 100 persen yaitu 108,32 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat murid sekolah dasar yang berusia di luar batas usia resmi jenjang pendidikan sekolah dasar (7-12 tahun).. Adanya siswa dengan usia yang lebih tua dibanding usia standar di jenjang pendidikan tertentu menunjukkan terjadinya kasus tinggal kelas atau terlambat masuk sekolah. Sebaliknya siswa yang lebih muda dibanding usia standar di jenjang pendidikan tertentu menggambarkan siswa tersebut masuk sekolah pada usia yang lebih muda. Jika dilihat menurut gender, APK laki-laki lebih besar dari perempuan yaitu 109,25 persen laki-laki dan 107,45 persen perempuan.
Angka Partisipasi Kasar (APK) cenderung menurun pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan APK laki-laki relatif lebih rendah
Jenjang Pendidikan Laki-laki Perempuan Total
(1) (2) (3) (4)
SD 109.25 107.45 108.32
SMP 90.2 90.56 90.36
Profil Gender Ibu dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 22 dibandingkan APK perempuan pada jenjang pendidikan SMP (Sekolah Menengah Pertama) maupun SMA (Sekolah Menengah Atas). APK yang terendah pada jenjang pendidikan SMA yakni 89,43 persen, artinya dari 100 orang yang berusia sekolah pada jenjang pendidikan SMA (16-18 tahun) hanya 89 persen yang sedang bersekolah di jenjang pendidikan SMA.
3.2 Angka Partisipasi Murni
Angka Partisipasi Murni (APM) merupakan perbandingan antara banyaknya murid pada masing-masing jenjang pendidikan dengan jumlah penduduk kelompok umur untuk jenjang pendidikan yang bersangkutan. APM ini digunakan untuk mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu, yang dibagi dalam tiga kelompok jenjang pendidikan yaitu SD (penduduk usia 7-12 tahun), SMP (penduduk usia 13-15 tahun), dan SMA (penduduk usia 16-18 tahun).
Bila seluruh anak usia sekolah dapat bersekolah tepat waktu, maka APM akan mencapai nilai 100. Secara umum, nilai APM akan selalu lebih rendah dari APK karena nilai APK mencakup anak diluar usia sekolah pada jenjang pendidikan yang bersangkutan. Selisih antara APK dan APM menunjukkan proporsi siswa yang terlambat atau terlalu cepat bersekolah. Keterbatasan APM adalah kemungkinan adanya under estimate karena adanya siswa diluar kelompok usia yang standar di tingkat pendidikan tertentu.
Profil Gender Ibu dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 23 Dari tabel 3.2 terlihat APM menurut jenis kelamin dan menurut jenjang pendidikan di Pasaman Barat Tahun 2016. Bila dilihat berdasarkan jenjang pendidikan, APM terTtinggi adalah APM SD dengan nilai mencapai 99,77 persen artinya dari 100 anak yang berusia 7-12 tahun sebanyak 99-100 orang sedang bersekolah si SD. Bila dilihat menurut gender APM perempuan mencapai 100 persen, hal ini menunjukkan bahwa anak usia seolah pada jenjang pendidikan SD yang perempuan seluruhnya bersekolah tepat waktu.
Tabel 3.2
Angka Partisipasi Murni Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2016
Sumber : SUSENAS diolah, 2016
Hampir sama dengan APK, Angka Partisipasi Murni (APM) cenderung menurun pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Begitu juga dengan APM laki-laki relatif lebih rendah dari APM perempuan pada jenjang pendidikan SMP dan SMA. Relatif rendahnya APM pada jenjang pendidikan SMP disebabkan karena banyak anak usia 13-15 tahun yang justru masih bersekolah di jenjang pendidikan SD. Begitu juga dengan APM jenjang pendidikan SMA, anak-anak pada jenjang umur
Jenjang Pendidikan Laki-laki Perempuan Total
(1) (2) (3) (4)
SD 99.52 100.00 99.77
SMP 83.56 86.57 84.92
Profil Gender Ibu dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 24 16-18 tahun justru masih banyak yang bersekolah di jenjang SMP. Kemungkinan besar mereka ini adalah anak-anak yang tidak naik kelas ataupun anak yang dulunya ‘terlambat’ masuk sekolah.
3.3 Angka Partisipasi Sekolah
Angka Partisipasi Sekolah menggambarkan secara umum tentang banyaknya anak kelompok umur tertentu yang sedang bersekolah tanpa memperhatikan jenjang pendidikan yang sedang diikuti. APS merupakan indikator dasar yang digunakan untuk melihat akses penduduk pada fasilitas pendidikan khususnya bagi penduduk usia sekolah. Semakin tinggi Angka Partisipasi Sekolah semakin besar jumlah penduduk yang berkesempatan mengenyam pendidikan. Namun demikian meningkatnya APS tidak selalu dapat diartikan sebagai meningkatnya pemerataan kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan.
Indikator ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang telah bersekolah di semua jenjang pendidikan. Makin tinggi APS berarti makin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah. Nilai ideal APS = 100 persen dan tidak akan lebih besar dari 100 %, karena murid usia sekolah dihitung dari murid yang ada di semua jenjang pendidikan pada suatu daerah.
Profil Gender Ibu dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 25 Tabel 3.3
Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Kelompok Umur Sekolah dan Jenis Kelamin 2016
Sumber : SUSENAS diolah, 2016
APS kelompok umur 7-12 tahun menggambarkan persentase penduduk berumur 7-12 tahun yang masih bersekolah, baik di SD maupun SMP. Tabel 3.3 menunjukkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kabupaten Pasaman Barat pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar yaitu 100 persen laki-laki dan 100 persen perempuan. Tingginya capaian APS ini menggambarkan bahwa anak usia 7-12 tahun di Pasaman Barat semuanya sedang bersekolah (baik di tingkat SD maupun SMP).
APS penduduk semakin kecil sejalan dengan pertambahan usia. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya ; keikutsertaan anak-anak sekolah yang memasuki usia produktif dalam aktifitas ekonomi, mahalnya biaya pendidikan, dll. APS kelompok umur 13-15 tahun tercatat sebesar 95.62 persen, dan APS kelompok umur 16-18 tahun cenderung lebih rendah yaitu tercatat sebesar 75.27 persen. Hal ini dimaklumi mengingat tidak semua anak bisa dan mampu melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan SMA.
Kelompok Umur
(Tahun) Laki-laki Perempuan Total
(1) (2) (3) (4)
7-12 100.00 100.00 100.00 13-15 96.14 94.99 95.62 16-18 73.55 77.32 75.27
Profil Gender Ibu dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 26 Jika dilihat menurut gender, APS laki-laki pada kelompok umur 13-15 tahun lebih tinggi dari perempuan yaitu 96,14 persen laki-laki dan 94,99 persen perempuan. Sedangkan APS pada kelompok umur 16-18 tahun perempuan lebih tinggi dari laki-laki yaitu 77.32 persen perempuan dan 73.55 persen laki-laki. Perbedaan yang tidak terlalu signifikan antara APS laki dan perempuan menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan relatif memiliki kesempatan yang sama dalam hal pendidikan di Kabupaten Pasaman Barat. APS kelompok umur 16-18 tahun berbeda jauh dari kelompok umur sebelumnya, salah satunya dikarenakan pada usia ini sudah masuk dalam usia kerja sehingga ada anak yang memilih untuk bekerja dibandingkan dengan sekolah dan hanya menikmati masa pendidikan dasar 9 tahun.
3.4 Angka Melek Huruf
Kemampuan membaca dan menulis dicerminkan oleh indikator tingkat melek huruf. Angka Melek Huruf (AMH) merupakan persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan atau huruf lainnya serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Angka ini digunakan untuk mengukur keberhasilan program pemberantasan buta huruf dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD. Selain itu juga digunakan untuk menunjukkan kemampuan penduduk dalam menyerap informasi serta menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.
Profil Gender Ibu dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 27 Angka Buta Huruf (ABH) adalah proporsi penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya, terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas. Tingkat buta huruf yang rendah menunjukkan adanya sebuah sistem pendidikan dasar yang efektif dan/atau program keaksaraan yang memungkinkan sebagian besar penduduk untuk memperoleh kemampuan menggunakan kata-kata tertulis dalam kehidupan sehari-hari dan melanjutkan pembelajarannya. Di bawah ini adalah tabel angka melek huruf dan buta huruf menurut jenis kelamin di Pasaman Barat Tahun 2016.
Tabel 3.4
Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Menurut Kemampuan Baca Tulis dan Jenis Kelamin Tahun 2016
Sumber : SUSENAS diolah, 2016
Dari tabel 3.4 terlihat pencapaian angka melek huruf (AMH) di Kabupaten Pasaman Barat pada tahun 2016 adalah sebesar 98,95 persen yang artinya hampir 99 persen penduduk Pasaman Barat telah mampu membaca dan menulis baik tulisan latin, arab, maupun huruf lainnya. Sedangkan Angka Buta Huruf (ABH) atau orang yang tidak bisa
(1) (2) (3)
Laki-laki 99.09 0.91
Perempuan 98.81 1.19
Pasaman Barat 98.95 1.05
ABH (%) Jenis Kelamin AMH (%)
Profil Gender Ibu dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 28 membaca dan menulis huruf latin, arab, dan huruf lainnya hanya 1.05 persen.
Jika dilihat menurut gender pada Tabel 3.4 bahwa angka melek huruf penduduk laki-laki ternyata lebih tinggi dari penduduk perempuan yaitu sebesar 99.09 persen laki-laki dan 98.81 persen perempuan. Sehingga angka buta huruf laki-laki menjadi lebih kecil daripada angka buta huruf perempuan, yaitu 0.91 persen laki-laki dan 1.19 persen perempuan. Masih adanya sebagian kecil penduduk yang buta huruf kemungkinan disebabkan oleh kondisi pendidikan pada masa lalu, dimana waktu itu partisipasi sekolah penduduk masih rendah akibatnya banyak penduduk yang tidak bisa membaca dan menulis.
Apabila dilihat menurut kelompok umur pada kelompok umur 20-24 tahun dan 40-44 tahun angka melek huruf laki-laki lebih rendah dari perempuan, sedangkan pada kelompok umur 60+ tahun angka melek huruf laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Angka Buta Huruf baik laki-laki maupun perempuan tertinggi berada pada umur 60+ tahun tercatat 6,10 persen penduduk laki-laki yang buta huruf dan 11,39 persen penduduk perempuan yang buta huruf.
Profil Gender Ibu dan Anak Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017 29 Tabel 3.5
Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Menurut Kemampuan Baca Tulis, Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Tahun 2016
Sumber : SUSENAS diolah, 2016
3.5 Angka Putus Sekolah
Angka Putus Sekolah (DO) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah murid putus sekolah pada jenjang pendidikan tertentu (SD, SMP, SMA dan sebagainya) dengan jumlah murid pada jenjang pendidikan tertentu dan dinyatakan dalam persentase. Hasil perhitungan Angka Putus Sekolah ini digunakan untuk mengetahui banyaknya siswa putus sekolah disuatu jenjang pendidikan tertentu pada wilayah tertentu. Semakin tinggi Angka Putus Sekolah berarti