TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1 Income Smoothing( Perataan Laba )
Income Smoothing adalah proses manipulasi waktu terjadinya laba atau laporan laba agar laba yang dilaporkan terlihat stabil. Menurut Jatiningrum (dalam Abiprayu, 2011;61), alasan adanya perataan laba antara lain, pertama rekayasa untuk mengurangi laba dan menaikkan biaya pada periode berjalan dapat mengurangi hutang pajak. Kedua, tindakan perataan laba dapat meningkatkan kepercayaan investor, karena mendukung kestabilan laba dan kebijakan dividen sesuai dengan keinginan. Ketiga, tindakan perataan laba dapat mempererat hubungan antara manajer dan karyawan, karena dapat menghindari permintaan kenaikan upah/gaji oleh karyawan/pekerja. Keempat, tindakan perataan laba memiliki dampak psikologis pada perekonomian, dimana kemajuan dan kemunduran dapat dibandingkan dan gelombang optimisme dan pesimisme dapat ditekan, serta biasanya perusahaan lebih memilih untuk melaporkan pertumbuhan laba yang stabil daripada menunjukkan perubahan laba yang meningkat atau menurun terlalu drastis. Berbagai metode yang digunakan dalam perataan laba diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Perataan melalui waktu terjadinya transaksi atau pengakuan transaksi melalui kebijakan manajemen itu sendiri (accrual), misalnya: pengeluaran biaya riset dan pengembangan.
Selain itu banyak juga perusahaan yang menerapkan kebijakan diskon dan kredit sehingga hal ini dapat menyebabkan meningkatnya jumlah piutang dan penjualan pada akhir bulan terakhir tiap kuarter, sehingga laba kelihatan stabil pada periode tertentu. 2. Perataan melalui alokasi untuk beberapa periode tertentu. Manajer memiliki kewenangan
untuk mengalokasikan pendapatan dan atau beban untuk periode tertentu. Misalnya, jika penjulan meningkat maka manajemen dapat membebankan biaya riset dan penelitian serta amortisasi goodwill pada periode itu untuk mensabilkan laba.
3. Perataan melalui klasifikasi. Manajemen memiliki kewenangan dan kebijakan sendiri untuk mengklasifikasikan pos-pos rugi laba dalam katagori yang berbeda. Misalnya, jika pendapatan operasi sulit untuk didefenisikan maka manajer dapat mengklasifikasikan pos itu pada pendapatan operasi atau pendapatan non operasi. Dalam hal ini dapat digunakan sewaktu-waktu untuk meratakan laba melihat kondisi pendapatan periode itu.
Klasifiksi unsur-unsur laporan keuangan yang dijadikan dalam praktik perataan laba, yaitu;
1. Unsur Penjualan
Saat pembuatan faktur. Misalnya: penjualan yang sebenarnya untuk periode yang akan datang pembuatan fakturnya dilakukan pada periode ini dan dilaporkan sebagai penjualan periode ini.
Pembuatan pesanan atau penjulan fiktif.
Downgrading (penurunan) produk. Misalnya dengan cara mengklasifikasikan produk yang belum rusak kedalam kelompok produk yang rusak dan selanjutnya dilaporkan telah terjual dengan harga yang lebih rendah dari harga yang sebenarnya.
Memecah faktur. Misalnya faktur untuk sebuah pembelian/pesanan dipecah menjadi beberapa pembelian/pesanan dan selanjutnya dibuatkan beberapa faktur dengan tanggal berbeda kemudian dilaporkan dalam beberapa periode akuntansi.
Mencatat prepayment (biaya dibayar dimuka) sebagai biaya. Misalnya melaporkan biaya advertensi dibayar dimuka untuk tahun depan sebagai biaya advertensi tahun ini.
Berikut juga dijelaskan beberapa teori terkemuka yang berkaitan dengan perataan laba:
1. Teori Akuntansi Positif
Tiga hipotesa yang dijelaskan, adalah sebagai berikut :
Hipotesa Rencana Bonus (bonus plan hypothesis)
Manajemen yang diberikan janji untuk mendapatkan bonus sehubungan dengan performa perusahaan terkait dengan laba perusahaan yang diperolehnya akan termotivasi untuk mengakui laba perusahaan yang seharusnya menjadi bagian dimasa mendatang, diakui menjadi laba perusahaan pada tahun berjalan.
Hipotesa Perjanjian Utang (debt covenant hypothesis)
Dalam melakukan perjanjian utang, perusahaan diwajibkan untuk memenuhi beberapa persyaratan yang diajukan oleh kreditur agar dapat mengajukan pinjaman. Beberapa persyaratan tersebut adalah persyaratan dari kondisi tertentu mengenai keuangan perusahaan. Kondisi keuangan perusahaan dapat tercermin dari rasio-rasio keuangan. Kreditur memiliki persepsi bahwa perusahaan yang memiliki nilai laba yang relatif tinggi dan stabil merupakan salah satu kriteria perusahaan yang sehat.
Scott (2000) mengidentifikasikan ada beberapa pola yang dilakukan manajemen untuk melakukan pengelolaan laba sebagai berikut : (a) Taking a bath, yaitu ketika perusahaan melaporkan adanya kerugian, maka manajemen melakukan kebijakan untuk melaporkan kerugian dengan jumlah yang besar sekaligus; (b) Income minimization, kebijakan ini dilakukan ketika laba yang diperoleh perusahaan tinggi atau meningkat. Hal umum yang dilakukan manajemen dalam praktek ini adalah dengan meminimalkan laba, contohnya adalah dengan membebankan beban penelitian dan pengembangan lebih besar di periode berjalan; (c) Income maximization, kebijakan ini dilakukan ketika laba yang diperoleh perusahaan rendah atau menurun. Hal umum dilakukan manajemen dalam praktek ini adalah dengan memaksimalkan laba, contohnya dengan mengalokasikan pendapatan tahun mendatang di periode tahun berjalan. 2. Teori Agensi
Konsep perataan laba sejalan dengan konsep manajemen laba yang pembahasannya menggunakan pendekatan teori keagenan (agency theory). Menurut Jensen dan Meckling (1976;156), teori agensi adalah hubungan antara manajer dan pemilik dalam kerangka hubungan keagenan. Teori ini menyatakan bahwa praktik manajemen laba dipengaruhi konflik kepentingan antara manajemen (agent) dan pemilik (principal) yang timbul ketika setiap pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya, maka teori ini juga dapat memunculkan bahaya moral. Manajemen perusahaan yang melakukan praktek perataan laba dapat menyebabkan pengungkapan laba di dalam laporan keuangan menjadi tidak memadai yang mengakibatkan investor tidak memiliki informasi yang akurat mengenai laba, sehingga investor gagal dalam menaksir risiko investasi mereka. Ketika manajer mempunyai informasi yang lebih cepat dan lebih banyak
dibandingkan pihak eksternal, manajer kemudian menggunakan informasi yang diketahuinya untuk memanipulasi pelaporan keuangan dalam usaha memaksimalkan kemakmurannya (Abiprayu, 2011;46).
2.1.2 Profitabilitas
Profitabilitas perusahaan adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dalam suatu periode tertentu, dalam penelitian ini menggunakan Return On Asset (ROA) sebagai rasio pengukurannya. ROA diukur dengan cara perbandingan antara laba bersih dengan total aset. ROA menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan kedalam bentuk total aktiva untuk menghasilkan laba. Profitabilitas berhubungan secara langsung dengan laba yang dihasilkan perusahaan, maka profitabilitas sangat mempengaruhi kemungkinan terjadinya perataan laba. Semakin tinggi kemampuan perusahaan menghasilkan laba, maka semakin tinggi pula kecenderungan melakukan perataan laba, seperti yang telah di jelaskan sebelumnya melalui teori agensi. Selain teori agensi, kecenderungan perusahaan melakukan perataan laba didukung juga oleh teori akuntansi positif yang telah di jelaskan juga sebelumnya.
2.1.3 Leverage
Leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar aktiva yang dimiliki perusahaan berasal dari hutang atau modal, sehingga dengan rasio ini dapat diketahui posisi perusahaan dan kewajibannya yang bersifat tetap kepada pihak lain serta keseimbangan nilai aktiva tetap dengan modal yang ada. Leverage di ukur menggunakan Debt To Asset (DTA) sebagai rasio pengukurannya. DTA diukur dengan perbandingan antara total hutang dengan total aktiva. Suranta & Merdistusi (2004;107), berpendapat bahwa semakin besar leverage maka akan lebih besar pula kecenderungan perusahaan melakukan perataan laba. Ini disebabkan jika rasio leverage semakin besar maka nilai hutang perusahaan semakin besar atau dengan kata lain semakin tinggi leverage berarti
proporsi hutang perusahaan lebih tinggi dibandingkan proporsi aktivanya, sehingga resiko perusahaan akan besar juga. Leverage berkemungkinan berhubungan langsung dengan perataan laba karena dengan semakin tingginya resiko yang dihadapi oleh investor perusahaan, maka ia menginginkan tingkat keuntungan yang tinggi pula, karena hal ini manajemen melakukan manipulasi laba dalam bentuk perataan laba. Penelitian yang dilakukan Ashari dkk. (1994;297) membuktikan bahwa leverage merupakan salah satu faktor yang mendukung terjadinya perataan laba. Hasil penelitian ini juga konsisten dengan hasil penelitian Zuhroh (1996;34) yang menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi perataan laba adalah leverage perusahaan.