1,2,3,4
Fakultas Keperawatan, Universitas Padjadjaran Email: [email protected]
ABSTRAK
Telenursing berpotensi dalam meningkatkan kualitas dan efektivitas pelayanan kesehatan dengan cara mengintegrasikan beberapa lini dalam pelayanan kesehatan serta berperan dalam pemberian informasi kesehatan yang lebih cepat, cost-effective, dan jangkauan yang luas. Peran perawat yaitu dapat memberikan asuhan keperawatan pada anak melalui penggunaan telenursing. Seiring dengan berkembangnya zaman dan terus bertambahnya kasus COVID-19, tidak menutup kemungkinan bahwa penggunaan telenursing efektif dalam pemberian pelayanan kesehatan pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk implementasi model telenursing dalam pemberian asuhan keperawatan pada anak. Metode penulisan menggunakan kajian literatur dengan rentang tahun 2010 sampai 2020 yang ditelusuri melalui CINAHL dan Google Scholar. Hasil pencarian di CINAHL dengan kata kunci ditemukan 157 artikel. Melalui Google Scholar ditemukan 17 artikel. Setelah dilakukan screening digunakan 6 artikel dan 168 dikecualikan. Hasil dan pembahasan Untuk mengurangi resiko pada pasien dan tenaga medis, penggunaan telenursing dapat dioptimalisasikan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Keunggulan dalam penggunaan telenursing yaitu lebih efisien, menghemat biaya, dan dapat dijangkau oleh semua orang. Penggunaan telenursing dapat meningkatkan manajemen kasus pada anak dengan berbagai gangguan kesehatan dalam dalam kurun waktu yang singkat. Simpulan Dari kajian literatur yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa penggunaan telenursing dapat digunakan sebagai metode baru dalam pemberian pelayanan asuhan keperawatan pada anak dimasa pandemi.
Kata Kunci: Children, Effectiviness, Telenursing.
135 Pendahuluan
Penggunaan Telenursing merupakan cara yang efektif dan efisien untuk mendukung pelayanan kesehatan guna mencapai pemberian pelayanan yang menyeluruh (WHO, 2020).
Teknologi informasi berpotensi dalam meningkatkan kualitas dalam pelayanan kesehatan dengan cara mengintegrasikan beberapa lini dalam pelayanan kesehatan serta berperan dalam pemberian informasi kesehatan yang lebih cepat, cost-effective, dan jangkauan yang lebih luas (Gulavani &
Kulkarni, 2010).
Sebelum terjadinya pandemi COVID-19, perawat memberikan pelayanan secara langsung dengan tatap muka. Namun saat ini, akibat adanya pandemi COVID-19, mengharuskan perawat untuk memberikan pelayanan kesehatan secara daring, guna mencegah penularan penyebaran COVID-19. Pemberian pelayanan kesehatan secara daring dianggap penting karena saat ini akses untuk menuju pelayanan kesehatan dibatasi disamping kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat yang semakin meningkat (Smith, Taki, & Wen, 2020). Salah satu pelayanan yang dapat diberikan oleh perawat melalui daring adalah Telenursing. Telenursing merupakan kegiatan pemberian pelayanan keperawatan untuk mengoptimalkan pemberian asuhan keperawatan kepada pasien dan komunitas yang dilakukan agar dapat memaksimalkan efektivitas dan efisiensi dalam pemberian pelayanan keperawatan walaupun dalam lokasi yang berbeda (Schlachta-Fairchild et al., 2008 dalam Balenton & Chiappelli, 2017). Proses pelaksanaan Telenursing ini sebenarnya sama dengan pemberian pelayanan keperawatan secara tatap muka, namun terdapat hal yang membedakan dari pemberian pelayanan keperawatan melalui Telenursing yaitu terdapat penggunaan teknologi yang tidak mengharuskan perawat dan klien bertemu secara tatap muka. Telenursing bisa dilakukan dimana saja, meskipun terdapat jarak antara klien dan perawat (Glinkowsk et al., 2013).
Klasifikasi menurut World Health Organization (2013) anak adalah seseorang yang berumur 2 sampai 10 tahun. Capaian tahap perkembangan yang optimal pada anak merupakan sebuah hak asasi dan syarat penting dalam pembangunan berkelanjutan, dengan cara memenuhi kebutuhan kesehatan, nutrisi, keamanan, pelayanan yang responsif dan kesempatan untuk pembelajaran pada tahap dini (World Health Organization, 2020). Peran perawat salah satunya yaitu dapat memberikan dukungan terhadap anak yang sakit. Selain itu perawat memegang peranan yang penting dalam memberikan tindak lanjut pada proses keperawatan dan sebagai penghubung antara praktisi kesehatan yang lain serta pihak keluarga (Ramelet et al., 2014). Seiring dengan berkembangnya zaman dan terus bertambahnya kasus COVID-19, tidak menutup kemungkinan untuk perawat memberikan asuhan keperawatan atau tindak lanjut untuk pasien anak. Terdapat salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan Telenursing. Telenursing dirancang untuk memastikan kontinuitas perawatan untuk anak dan keluarganya melalui layanan komunikasi secara online mengenai tindak lanjut keperawatan untuk memenuhi kebutuhan informasi kesehatan, memberikan dukungan
Metode Penelitian
Metode penulisan yang digunakan adalah kajian literatur yang ditelaah melalui jurnal terkait dengan tahun publikasi 2010 hingga tahun 2020 yang ditelusuri melalui CINAHL dan Google Scholar dan diseleksi menurut kesesuaian terkait topik yang dibahas dengan kata kunci yaitu P: Children, I: telenursing or telehealth or enursing or digital nursing, C: -, O: effectiveness.
Hasil pencarian di CINAHL dengan kata kunci ditemukan 157 artikel. Melalui Google Scholar ditemukan 17 artikel. Setelah dilakukan screening digunakan 6 artikel dan 168 dikecualikan.
136
Gambar 1. Prisma Flow Diagram (2009)
Hasil Penelitian
Pelayanan kesehatan saat pandemi banyak mengalami hambatan terutama pada pelayanan tatap muka yang biasanya dilakukan. Ketika pandemi, pelayanan kesehatan dilakukan dengan cara yang paling aman agar mengurangi risiko pada pasien dan tenaga medis, Center for Disease Control and Prevention (2020) memberikan arahan agar mengoptimalisasikan penggunaan telehealth dalam memberikan pelayanan kesehatan. Pelayanan Kesehatan Anak dan Keluarga meliputi kegiatan pemberian dukungan, pendidikan, dan informasi seputar perkembangan anak, pemberian makan dan gizi, teknik tidur dan menetap, serta kesejahteraan emosional ibu (orang tua) kepada keluarga anak usia nol hingga lima tahun yang pada umumnya, layanan tersebut diberikan secara tatap muka di rumah atau puskesmas. Namun, karena pandemi, layanan saat ini telah dikurangi untuk menahan dan mencegah penyebaran COVID-19 (Smith et al., 2020).
Penggunaan telenursing untuk intervensi keperawatan sudah banyak digunakan baik di negara berkembang maupun negara maju dan akan menjadi integral pada pelayanan kesehatan di berbagai negara (Kumar, 2011). Di Indonesia sendiri pengembangan e-health masih diperlukan regulasi dari pemerintah dan kesiapan sumber daya pada tenaga kesehatan untuk mekanisme penggunaannya (Wiweko et al., 2017). Penggunaan telenursing menjadi pelayanan yang sangat baik dengan kondisi geografis indonesia sebagai negara kepulauan agar pelayanan dapat lebih merata.
CINAHL n=157
Identifikasi n=174
Skrining n=149
Eligible n=6
Tidak full text, artikel tidak sesuai kriteria inklusi
n=143
Duplikasi, judul, tahun, dan abstrak tidak sesuai kriteria inklusi
n=25 Google Scholar
n=17
137 Pembahasan
Dengan banyaknya restriksi yang ditetapkan oleh pemerintah guna mencegah penyebaran COVID-19, menjadikan peran telenursing dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat menjadi semakin penting selama pandemi COVID-19. Terutama pada anak, karena anak merupakan individu yang tumbuh kembangnya harus diperhatikan, sehingga pemberian pelayanan kesehatan pada anak harus tetap dilakukan dengan memonitor status kesehatan pada anak sehingga tidak mengganggu proses tumbuh kembangnya. Layanan dukungan melalui telepon dapat menjadi model alternatif untuk pemberian layanan tatap muka selama wabah penyakit menular yang berdampak pada pelayanan secara umum. Dalam pelaksanaannya, klien perlu untuk memiliki alat komunikasi seperti telepon atau ponsel pintar agar klien dapat diberikan pelayanan keperawatan yang sesuai evidence-based practice, terlepas dari kondisi dan karakteristik sosio demografis yang ada (Smith et al., 2020).
Keunggulan pada intervensi berbasis internet atau telenursing dapat lebih menjangkau populasi yang tidak dapat terjangkau oleh layanan kesehatan serta terbukti lebih efisien dan menghemat biaya karena klien tidak perlu datang ke tempat pelayanan kesehatan (Baldofski et al., 2019). Dalam proses pelaksanaan telenursing klien akan lebih leluasa untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa harus mengantri dan menunggu lama. Penerapan program telenursing lebih interaktif dengan penyajian materi yang lengkap, adanya umpan balik yang disajikan melalui grafis, orang tua memiliki kesempatan untuk lebih leluasa dalam bertanya terkait permasalahan yang dialami anak mereka (Delisle Nyström et al., 2018). Penerapan program telenursing melalui aplikasi seluler secara elektronik juga memudahkan supervisi pada kasus penyakit pada pasien serta dapat diberikan juga rekomendasi terkait rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat (Biemba et al., 2020).
Pada penelitian scoping review yang dilakukan Krick et al., (2019) penggunaan teknologi informasi pada dunia keperawatan tergolong efektif. Penelitian lain yang dilakukan oleh Delisle Nyström et al., (2018) telenursing berupa mHealth merupakan intervensi berbasis seluler untuk dapat mencegah obesitas pada anak dengan target intervensi adalah orang tua yang memiliki anak dengan umur sekitar 4-5 tahun, tujuannya yaitu untuk meningkatkan kualitas gizi anak, melihat komposisi tubuh anak, mengatur pola makan, dan aktivitas fisik bagi anak. Pada penelitian yang dilakukan Kierfeld et al., (2013) ditemukan bahwa intervensi telephone-assisted yang diberikan untuk mengatasi permasalahan perilaku pada anak berpotensi mengurangi masalah perilaku pada anak, memingkatkan strategi pengasuhan, dan meningkatkan kesejahteraan orang tua. Selain itu ditemukan juga pada penelitian Biemba et al., (2020) bahwa penggunaan teknologi mHealth dapat meningkatkan supervisi dan manajemen kasus pada komunitas yang terintegrasi pada penyakit diare, malaria, dan pneumonia pada anak 2-59 bulan.
Simpulan dan Rekomendasi
Seiring dengan berkembangnya zaman, teknologi informasi dalam bidang kesehatan berpotensi dalam meningkatkan kualitas dan efektivitas dalam pelayanan kesehatan dengan cara mengintegrasikan beberapa lini dalam pelayanan kesehatan serta berperan dalam pemberian informasi kesehatan yang lebih cepat, cost-effective, dan jangkauan yang lebih luas. Salah satu penggunaan teknologi informasi yang dapat digunakan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan yaitu telenursing. Telenursing merupakan kegiatan pemberian pelayanan keperawatan untuk mengoptimalkan pemberian asuhan keperawatan kepada pasien dan komunitas yang dilakukan agar dapat memaksimalkan efektivitas dan efisiensi dalam pemberian pelayanan keperawatan walaupun dalam lokasi yang berbeda. Dimasa pandemi COVID-19 saat ini banyak kegiatan yang harus dilakukan secara daring atau jarak jauh, hal itu dilakukan agar dapat menekan penyebaran virus corona. Hal ini juga berlaku bagi perawat untuk memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga dan anak. Perawat dalam hal ini harus dapat memberikan solusi kepada keluarga untuk tetap memperhatikan kesehatan anaknya dimasa pandemi COVID-19 seperti saat ini.
Telenursing dirancang untuk memastikan kontinuitas perawatan untuk anak-anak dan keluarganya
138
melalui layanan telepon atau video mengenai tindak lanjut keperawatan untuk dapat memenuhi kebutuhan informasi kesehatan, memberikan dukungan afektif, dan membantu keluarga untuk dapat mengambil keputusan mengenai masalah kesehatan anak. Berbagai keunggulan dapat deitumakan dalam penggunaan telenursing untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anak. Salah satu keunggulan dari telenursing adalah dapat menjangkau populasi yang mungkin tidak terjangkau dengan pelayanan kesehatan dan lebih menghemat biaya karena klien tidak perlu datang ke pelayanan kesehatan. Meskipun banyak keunggulan yang diatawarkan dari telenursing, pastinya terdapat kelemahan ataupun gap dari telenursing ini untuk memberikan pemberian asuhan keperawatan pada anak.
Di Indonesia, penggunaan telenursing sendiri masih sangat kurang. Hal ini dikarenakan masih kurangnya inovasi dalam dunia keperawatan dan masih banyak perawat yang belum menyadari akan pentingnya penggunaan telenursing untuk memberikan pelayanan keperawatan khususnya pada klien anak. Diharapkan pemberian pelayanan keperawatan melalui telenursing dapat diterapkan oleh seluruh stakeholder untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan khususnya pemberian asuhan keperawatan pada anak.
Daftar Pustaka
Baldofski, S., Kohls, E., Bauer, S., Becker, K., Bilic, S., Eschenbeck, H., … Rummel-Kluge, C.
(2019). Efficacy and cost-effectiveness of Internet-based selective eating disorder prevention: Study protocol for a randomized controlled trial within the ProHEAD Consortium. Trials, 20(1), 1–12. https://doi.org/10.1186/s13063-018-3161-y
Balenton, N., & Chiappelli, F. (2017). Telenursing: Bioinformation Cornerstone in Healthcare for
the 21st Century. Bioinformation, 13(12), 412–414.
https://doi.org/10.6026/97320630013412
Biemba, G., Chiluba, B., Yeboah-Antwi, K., Silavwe, V., Lunze, K., Mwale, R. K., … MacLeod, W. B. (2020). Impact of mobile health-enhanced supportive supervision and supply chain management on appropriate integrated community case management of malaria, diarrhoea, and pneumonia in children 2-59 months: A cluster randomised trial in Eastern Province, Zambia. Journal of Global Health, 10(1), 1–13. https://doi.org/10.7189/jogh.10.010425 Center for Disease Control and Prevention. (2020). Healthcare Facilities: Managing Operations
During the COVID-19 Pandemic. Diakses di https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/guidance-hcf.html pada 4 November 2020.
Delisle Nyström, C., Sandin, S., Henriksson, P., Henriksson, H., Maddison, R., & Löf, M. (2018).
A 12-month follow-up of a mobile-based (mHealth) obesity prevention intervention in pre-school children: The MINISTOP randomized controlled trial. BMC Public Health, 18(1), 1–8. https://doi.org/10.1186/s12889-018-5569-4
Glinkowski, W., Pawłowska, K., & Kozłowska, L. (2013). Telehealth and telenursing perception and Knowledge among University Students of Nursing in Poland. Telemedicine and E-Health, 19(7), 523–529. https://doi.org/10.1089/tmj.2012.0217
Gulavani, S. S., & Kulkarni, R. V. (2010). Role of information technology in health care.
Proceedings of the 4th National Conference; INDIACom-2010, 36(1). Retrieved from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20097633
Kierfeld, F., Ise, E., Hanisch, C., Görtz-Dorten, A., & Döpfner, M. (2013). Effectiveness of telephone-assisted parent-administered behavioural family intervention for preschool children with externalizing problem behaviour: A randomized controlled trial. European Child and Adolescent Psychiatry, 22(9), 553–565.
https://doi.org/10.1007/s00787-013-139 0397-7
Krick, T., Huter, K., Domhoff, D., Schmidt, A., Rothgang, H., & Wolf-Ostermann, K. (2019).
Digital technology and nursing care: A scoping review on acceptance, effectiveness and efficiency studies of informal and formal care technologies. BMC Health Services Research, 19(1), 1–16. https://doi.org/10.1186/s12913-019-4238-3
Kumar, S. (2011). Introduction to Telenursing BT - Telenursing (S. Kumar & H. Snooks, eds.).
https://doi.org/10.1007/978-0-85729-529-3_1
Ramelet, A. S., Fonjallaz, B., Rio, L., Zoni, S., Ballabeni, P., Rapin, J., … Hofer, M. (2014).
Impact of a Telenursing service on satisfaction and health outcomes of children with inflammatory rheumatic diseases and their families: a crossover randomized trial study protocol. BMC Pediatrics, 14(151), 1–12. https://doi.org/10.1186/s12887-017-0926-5 Smith, W., Taki, S., & Wen, L. M. (2020). The role of telehealth in supporting mothers and
children during the covid-19 pandemic. Australian Journal of Advanced Nursing, 37(3), 37–38. https://doi.org/10.37464/2020.373.168
Wiweko, B., Zesario, A., & Agung, P. G. (2017). Overview the development of tele health and mobile health application in Indonesia. 2016 International Conference on Advanced Computer Science and Information Systems, ICACSIS 2016, (October 2016), 9–14.
https://doi.org/10.1109/ICACSIS.2016.7872714
World Health Organization. (2020). Improving early childhood development. Retrieved from https://www.urban.org/research/publication/improving-early-childhood-development-policies-and-practices
World Health Organization. (2020). Using e-health and information technology to improve health.
Diakses di https://www.who.int/westernpacific/activities/using-e-health-and-information-technology-to-improve-health pada 1 November 2020.
World Health Organization (2013). Definition of key terms. Diakses di https://www.who.int/hiv/pub/guidelines/arv2013/intro/keyterms/en/ pada 4 November 2020.
140 Artikel 20SEM068
PEER SUPPORT DALAM MENURUNKAN KECEMASAN PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI: LITERATUR RIVIEW
Rosalia Firdaus1, Hana Rizmadewi Agustina2 Universitas Padjadjaran
Email: [email protected]
ABSTRAK
Ujian skripsi bagi mahasiswa merupakan peristiwa yang mencemaskan, karena dalam ujian skripsi harus mampu menjaga dan bertanggung jawab terhadap konten yang ditulisnya, serta mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait penelitian yang dilakukan di hadapan penguji secara ilmiah dan mendalam. Penelitian ini terfokus kepada pentingnya dukungan teman sebaya (peer support) agar dapat menurunkan tingkat kecemasan pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, kemudian dianalisis untuk menentukan apakah dukungan teman sebaya (peer support) bisa menurunkan kecemasan yang dialami oleh mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Metode yang dilakukan dalam penulisan ini adalah literatur riview. literatur riview dilakukan berdasarkan data empiris yang dipublikasikan secara umum dari tahun 2010 hingga 2020. Tinjauan literatur dilakukan dengan pencarian melalui internet, melalui GOOGLE SCHOLAR, CHINAL, dan MEDLINE. Hasil Tingkat dukungan teman sebaya (peer support) yang baik berhubungan signifikan dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Simpulan hasil dari tinjauan Literatur ini menunjukkan bahwa dari dukungan teman sebaya dapat mengurangi rasa cemas pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi.
Kata kunci: Dukungan Sosial, Kecemasan (Anxiety), Skripsi, Teman Sebaya.
141 Pendahuluan
Tugas skripsi merupakan tugas akhir yang harus diselesaikan oleh mahasiswa yang akan lulus. Masalah umum yang dihadapi mahasiswa pada saat menyusun tugas skripsi biasanya adalah mahasiswa mengalami kesulitan dalam menulis tugas skripsi dan kurang minat dalam penelitian.
Kendala lainnya antara lain kesulitan mahasiswa dalam memperoleh topik judul skripsi, kesulitan dalam mencari literatur dan bahan bacaan, serta kecemasan saat berhadapan dengan dosen pembimbing (Dardi, 2018). Sehingga mahasiswa sering mengalami gangguan psikologis seperti tidak siap menghadapi dosen pembimbing yang akhirnya membuat ketegangan, kekhawatiran dan stress sehingga membuat mahasiswa kehilangan motivasi dan menunda penyusunan skripsi (Hati, 2019) hal ini menjadi masalah yang menjadi fokus saat ini.
Menurut Sagoro (2013), mahasiswa juga sebagai salah satu bagian penting dari perguruan tinggi perlu mempersiapkan diri dan menjalankan perannya dengan semaksimal mungkin. Salah satu indikator keberhasilan mahasiswa dalam menjalankan perannya adalah dengan menyelesaikan skripsi studi sesingkat mungkin disertai dengan hasil studi yang memuaskan, baik dengan melakukan penelitian lewat pengamatan, wawancara, pengumpulan pendapat maupun lewat penelusuran pustaka. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila banyak mahasiswa yang mengatakan bahwa skripsi adalah beban yang sangat berat. Menurut Wisudaningtyas (2012), hal ini menyebabkan banyak mahasiswa yang menunda dalam penyusunan skripsi yang tentu saja sangat merugikan mahasiswa itu sendiri, sehingga dapat menimbulkan masa studi yang lama, biaya kuliah yang bertambah dan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi tertunda. Ketika skripsi sudah selskripsi, permasalahn berikutnya adalah mahasiswa harus menghadapi ujian skripsi untuk mempertanggung jawabkan hasil penelitian yang telah dilakukannya dihadapan dewan penguji.
Ujian skripsi bagi mahasiswa merupakan peristiwa yang mencemaskan, karena dalam ujian skripsi harus mampu menjaga dan bertanggung jawab terhadap konten yang ditulisnya, serta mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait penelitian yang dilakukan di hadapan penguji secara ilmiah dan mendalam, dalam penelitian Dardi (2018), Kecemasan digambarkan sebagai ketakutan, ketidakpastian, dan kebingungan. Namun, mahasiswa diharapkan dapat mengatasi kecemasan yang ditimbulkan, karena dalam hal ini mereka menulis skripsi sendiri dan melakukan penelitian, namun nyatanya banyak mahasiswa yang masih merasa cemas saat menghadapi ujian skripsi. Dukungan sosial juga di perlukan bagi mahasiswa yang sarjana dimana, dukungan sosial juga dapat membantu dalam menurunkan kecemasan, khawatir dan depresi. Dari berbagai penelitian dibuktikan bahwa dukungan sosial memberikan pengaruh pada kesejahteraan psikis seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung (Tahmasbipour & Taheri, 2012). Menurut penelitian Bahrien dan Ardianty (2017), dari hasil wawancara peneliti dengan 15 orang mahasiwa tingkat akhir di Program Studi S1 Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang diperoleh informasi bahwa 5 orang dinyatakan mengalami kecemasan akut, hal ini didukung oleh hasil layanan konseling bagian (BKMAIK STIKes Muhammadiyah), bahwa sebanyak 19 dari 67 orang mahasiswa ujian skripsi mengalami remedial ujian skripsi dan ada 9 orang yang mengalami kecemasan akut dengan mengalami diare, sakit gigi, sampai dengan sesak nafas, sehingga membuat mahasiswa harus menunda penyusunan skripsi (BKMAIK STIKes MP, 2016).
Penelitian ini terfokus kepada pentingnya dukungan teman sebaya (peer support) agar dapat menurunkan tingkat kecemasan pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, dengan adanya dukungan sosial dari teman sebaya, diharapkan mahasiswa akan lebih semangat dan akan membentuk kepercayaan diri sehingga akan berpengaruh kepada tingkat penurunan kecemasan dan akan melindungi jiwa pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi tersebut. Kemudian data tersebut akan dianalisis untuk menentukan apakah dukungan teman sebaya (peer support) bisa menurunkan kecemasan yang dialami oleh mahasiswa yang sedang menyusun skripsi.
142 Metode Penelitian
Metode yang dilakukan dalam penulisan ini adalah literatur riview. Literatur riview dilakukan berdasarkan data empiris yang dipublikasikan secara umum dari tahun 2010 hingga 2020. Tinjauan literature dilakukan dengan pencarian melalui internet, menggunakan kata kunci kecemasan, dukungan sosial, teman sebaya, skripsi, melalui GOOGLE SCHOLAR, CHINAL, dan MEDLINE. Hasil yang didapatkan lebih dari 200 jurnal, dari jumlah tersebut didapatkan 11 jurnal yang sesuai dengan kriteria penulis yang relevan dengan tema akan diambil.