Penentuan indeks mutu bibit (IMB ditentukan dengan teknik skorsing semua perlakuan percobaan terhadap tiga parameter kunci yaitu tinggi, diameter dan bobot kering total. Pada Tabel 13 perlakuan sonic bloom memiliki skoring total lebih baik (peringkat 1) daripada kontrol (S0, peringkat 2), sedangkan pada perlakuan konsentrasi pupuk daun, konsentrasi 10 gram/liter air pupuk daun jenis A (P2) memiliki skoring total lebih baik (peringkat 1) dibanding konsentrasi 5 gram/liter air pupuk daun jenis A (P1, peringkat 2).
Gambar 7 Stomata bagian bawah daun bibit mahoni terhadap sonic bloom pada perbesaran 400 kali;(A) stomata pada perlakuan sonic bloom (S1); (B) stomata pada perlakuan tanpa sonic bloom (S0); keterangan : TB = stomata terbuka; TT : stomata tertutup; (C) stuktur stomata 1; (D) stomata dengan pewarna fluorescent2
Sumber : 1www.palaeos.com; 2www.thefullwiki.org
C D
20
Skoring total untuk perlakuan interaksi keduanya, perlakuan interaksi konsentrasi pupuk daun dengan sonic bloom (S1P1) memiliki nilai tertinggi (peringkat 1) diikuti oleh S1P2, S1P4, dan S1P5. Secara keseluruhan kombinasi konsentrasi pupuk daun dengan sonic bloom dapat menghasilkan mutu bibit yang lebih baik daripada tanpa sonic bloom walaupun ditambah pupuk daun.
PEMBAHASAN
Pertumbuhan adalah proses dalam kehidupan tanaman yang mengakibatkan perubahan ukuran tanaman semakin besar dan juga yang menentukan hasil tanaman. Pertambahan ukuran tubuh tanaman secara keseluruhan merupakan hasil dari pertambahan ukuran bagian-bagian (organ-organ) tanaman akibat dari pertambahan jaringan sel yang dihasilkan oleh pertambahan ukuran sel (Sitompul dan Guritno 1995). Salisbury dan Ross (1995) menambahkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan terjadi melalui tiga proses sederhana yaitu pembelahan sel, pembesaran sel, dan diferensiasi sel. Sel dapat membelah ke arah yang berbeda-beda. Pembesaran sel sebagian besar merupakan peristiwa penyerapan air ke dalam vakuola yang mengembang. Pada organ tumbuhan yang memanjang, pembesaran terjadi terutama ke satu dimensi hanya ke arah memanjangnya.
Dalam proses fotosintesis tumbuhan menyerap bahan-bahan baku berupa air dari dalam tanah melalui akar, sedangkan karbon dioksida (CO2) diperoleh dari udara melalui stomata daun. Dengan bantuan energi matahari, proses fotosintesis menghasilkan karbohidrat dan Oksigen (O2). Salah satu fungsi fotosintat yang Tabel 13 Hasil skoring perlakuan konsentrasi pupuk daun, sonic bloom serta
interaksi keduanya terhadap parameter tinggi, diameter dan bobot kering total (BKT)
Perlakuan Skoring Parameter Skoring Total Peringkat Tinggi Diameter BKT S0 1 1 1 3 2 S1 10 10 10 30 1 P0 1 2 5 8 6 P1 10 1 10 21 2 P2 10 10 4 24 1 P3 2 8 4 14 3 P4 4 2 7 13 4 P5 3 8 1 12 5 S0P0 1 1 5 7 9 S0P1 2 1 8 11 6 S0P2 4 3 3 10 7 S0P3 1 4 2 7 9 S0P4 1 1 6 8 8 S0P5 1 3 1 4 10 S1P0 1 9 1 11 6 S1P1 10 9 10 29 1 S1P2 8 10 5 23 2 S1P3 2 9 6 17 5 S1P4 4 10 6 20 3 S1P5 3 10 6 19 4
berupa karbohidrat adalah sebagai pembentukan kerangka karbon. Fungsi tersebut yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
Sebagian besar proses fotosintesis terjadi di daun pada organ tumbuhan tinggi. Pearce et al (1991) menyatakan bahwa evolusi daun telah mengembangkan suatu struktur yang akan menahan kekerasan lingkungan namun juga efektif dalam penyerapan cahaya dan cepat dalam pengambilan CO2 untuk fotosintesis. Daun tumbuhan tingkat tinggi mempunyai banyak stomata per satuan luas, sejumlah besar kloroplas dalam setiap sel dan hubungan yang sangat erat antara ikatan pembuluh dan sel-sel fotosintesis. Permukaan daun yang terdapat banyak stomata memungkinkan terjadinya difusi CO2 secara maksimum ke dalam daun pada saat stomata terbuka. Sel-sel penjaga yang mengelilingi stomata mengendalikan pembukaan dan penutupan stomata. Penutupan stomata penting untuk mencegah kehilangan air pada waktu persediaan air terbatas, tetapi sekaligus membatasi pengambilan CO2 untuk fotosintesis. Persamaan proses fotosintesis dapat dirumuskan sebagai berikut :
x(CO2) + y(H2O) Cx(H2O)y + O2
Berdasarkan persamaan di atas, dapat diketahui bahwa CO2, H2O dan cahaya matahari merupakan faktor penting yang mempengaruhi fotosintesis. Selain faktor di atas, terdapat beberapa faktor yang mempengarui fotosintesis yaitu Ion kalium dan klorida, unsur nitrogen dan jumlah stomata. Roberts dan Snowman (2000) menyebutkan ketersedian ion K akan mempengaruhi tekanan turgor sel penjaga yang berdampak pada proses membuka dan menutupnya stomata. Unsur nitrogen dalam tumbuhan merupakan penyusun asam amino, Bennet (1994) menyebutkan bahwa nitrogen yang dapat diserap oleh tanaman dalam bentuk ion nitrat (NO3-) dan amonium (NH4-) yang kemudian diubah menjadi bentuk reduksi yaitu NH2-. Unsur nitrogen juga berfungsi untuk perluasan daun, sehingga jumlah stomata berbanding lurus dengan luas permukaan daun.
Parameter pertumbuhan yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi bibit, diameter bibit, panjang akar primer, bobot kering bibit, serta nisbah pucuk dan pertumbuhan. Selain parameter pertumbuhan, penelitian ini juga mengamati parameter stomata daun dari bibit mahoni. Parameter stomata daun yang diamati adalah jumlah stomata terbuka, jumlah stomata tertutup, rasio jumlah stomata terbuka-tertutup serta jumlah total stomata. Hal ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pengaruh yang didapat oleh parameter stomata daun dengan perubahan yang ada pada parameter pertumbuhan.
Pengaruh Sonic Bloom
Sonic bloom merupakan suatu teknologi yang memadukan pengaruh gelombang suara berfrekuensi 3500-5000 Hz dengan nutrisi organik yang dibuat dari bahan dasar rumput laut, berguna untuk menyuburkan pertumbuhan berbagai komoditas tanaman. Nutrisi sonic bloom mengandung asam amino, trace mineral seperti Ca, K, Mg dan Mn, serta mengandung asam giberalat. Asam giberalat sebagai senyawa perangsang pertumbuhan tanaman. Sehingga mampu mengaktifkan gen yang semua turn off untuk mempercepat pembungaan, perpanjangan batang dan akar dan pertumbuhan buah (Carlson 2001).
Gelombang bunyi merupakan fibrasi/getaran molekul-molekul zat yang saling beradu satu sama lain. Namun, zat tersebut dapat mentransmisikan energi
22
tetapi tidak dapat memindahkan partikel (Tipler 1991). Tabel 3 dan Tabel 11 yang merupakan rekapitulasi dari parameter pertumbuhan dan stomata daun bibit mahoni, perlakuan sonic bloom tidak berpengaruh nyata terhadap parameter panjang akar primer, bobot kering akar, nisbah pucuk dan akar, dan jumlah stomata total. Perlakuan sonic bloom berpengaruh nyata terhadap parameter Bobot Kering Pucuk (BKP) pada selang kepercayaan 95%, sedangkan parameter tinggi bibit, diameter bibit, bobot kering total, jumlah stomata terbuka, jumlah stomata tertutup dan rasio stomata terbuka-tertutup, perlakuan sonic bloom memberikan pengaruh yang sangat nyata pada selang kepercayaan 99%.
Perlakuan sonic bloom tidak berpengaruh nyata pada parameter panjang akar primer, berat kering akar dan nisbah pucuk akar (NPA) diduga gelombang suara sonic bloom tidak mampu menstimulus pertumbuhan akar. Hal ini dikarenakan media tanam bibit mahoni menghambat perambatan suara yang dihasilkan sonic bloom sehingga proses resonansi suara sonic bloom tidak maksimal ketika sampai pada akar.
Nisbah pucuk akar (NPA) merupakan perbandingan antara bobot kering pucuk dan akar. NPA menunjukkan keseimbangan besarnya transpirasi melalui tajuk terhadap kapasitas penyerapan hara dan air oleh akar (Suhariyono 1995). Nilai NPA yang tinggi berarti menunjukkan pertumbuhan pucuk lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter panjang akar dan nisbah pucuk akar mengalami pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan kontrol akibat perlakuan sonic bloom.
Pada Tabel 12, parameter jumlah stomata total pada perlakuan sonic bloom (S1) memiliki jumlah stomata yang lebih sedikit dibandingkan dengan perlakuan tanpa sonic bloom, yaitu menurun 2,5% dari kontrol. Hal diduga terjadi karena resonansi energi bunyi yang dihasilkan oleh gelombang bunyi tidak mempengaruhi keberadaan stomata pada suatu bidang pengamatan.
Frekuensi akustik pada dasarnya dapat memperpanjang periode pembukaan stomata yang mengakibatkan proses transpirasi terus berlangsung, sehingga memperpanjang pula waktu penyerapan unsur hara sebagai penyeimbang transpirasi. Pembukaan stomata karena pengaruh frekuensi akustik mampu meningkatkan tekanan osmotik pada protoplosma sel penjaga, di mana sel penjaga merupakan salah satu bagian yang terdapat dalam stomata sehingga sel penjaga akan menggembung karena banyak menyerap air (Sumardi et al. 2002). Sejalan dengan pendapat di atas, hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan stomata terbuka karena perlakuan sonic bloom sebesar 67,23% dibandingkan kontrol.
Pertumbuhan tinggi pada bibit mahoni yang dipengaruhi perlakuan sonic bloom (S1) sehingga meningkat sebesar 24,12% dibandingkan kontrol (Tabel 4). Peningkatan pada tinggi tanaman sesuai dengan hasil pengamatan Iriani et al. (2005) tentang aplikasi teknologi sonic bloom pada tembakau di Kabupaten Kendal, bahwa tinggi tanaman tembakau karena perlakuan sonic bloom meningkat 14,7% dibandingkan kontrol (S0). Berbanding lurus dengan pertumbuhan tinggi, pertumbuhan diameter pada bibit mahoni akibat sonic bloom (S1) juga mengalami peningkatan, bahkan peningkatannya lebih baik yaitu sebesar 170,23% (Tabel 6). Pandit (1995) menyatakan pembelahan sel-sel meristem lateral mengakibatkan pertambahan diameter tanaman, meristem lateral merupakan sel-sel yang semula
telah aktif sebagai jaringan yang telah dewasa tetapi kemudian menjadi meristem aktif.
Frekuensi gelombang suara sonic bloom dapat beresonansi dengan stomata. Menurut Sternheimer (1993) resonansi skala yang dihasilkan gelombang suara mampu mengaktifkan gen tertentu dalam sel sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan ekspresi sel. Ekspresi sel merupakan suatu proses yang membentuk kode-kode informasi yang ada pada gen diubah menjadi protein-protein yang beroperasi di dalam sel. Metode resonansi skala dengan mengirimkan urutan suara tertentu untuk merangsang atau menghambat gen protein yang sesuai sangat berguna sebagai alat untuk mempelajari fungsi protein yang dapat mempengaruhi optimalisasi bukaan stomata. Cintas dan Cravotto (2003) berpendapat bahwa frekuensi gelombang suara menyebabkan munculnya micro bubbles yang mendorong dinding sel penjaga. Oleh karena itu, tekanan turgor mengalami peningkatan sehingga stomata dapat membuka secara maksimal.
Perlakuan sonic blom berpengaruh nyata pada parameter bobot kering pucuk dibandingkan dengan kontrol, sedangkan . Tabel 7, peningkatan BKP dan BKT mencapai nilai masing-masing 16,53% dan 15,06%. Peningkatan laju fotosintesis akibat gelombang suara sonic bloom secara langsung menyebabkan peningkatan pertumbuhan, dan hal ini sangat berkaitan dengan peningkatan bobot kering tanaman. Heriyanto dan Siregar (2004) menyatakan bobot kering total akan semakin tinggi nilainya seiring dengan tinggi tanaman dan pertumbuhan tanaman. Bobot kering tersebut merupakan hasil bersih dari interaksi antara faktor lingkungan dengan proses fisiologi dalam tanaman.
Pengaruh Konsentrasi Pupuk Daun
Rekapitulasi sidik ragam parameter pertumbuhan dan stomata daun menunjukkan bahwa faktor perlakuan konsentrasi pupuk daun berpengaruh sangat nyata terhadap parameter tinggi bibit, semua parameter bobot kering, jumlah stomata terbuka dan jumlah stomata total pada selang kepercayaan 99% (Tabel 3 dan Tabel 11). Perlakuan pupuk daun A dengan konsentrasi 5 gram/liter air (P1) merupakan perlakuan terbaik untuk parameter tinggi dan semua parameter bobot kering (Tabel 4 dan Tabel 7), sedangkan perlakuan (P2) dan (P5) adalah perlakuan yang berbeda nyata dibandingkan kontrol (P0). Perlakuan pupuk daun A dengan konsentrasi 10 gram/liter air (P2) adalah perlakuan terbaik untuk parameter jumlah stomata total (Tabel 12).
Perlakuan konsentrasi pupuk daun 10 gram/liter air campuran jenis A dan B (P5) menyebabkan jumlah stomata terbuka meningkat sebesar 32,68% dari kontrol (P0). Pembukaan stomata yang terjadi diduga dipengaruhi oleh unsur kalium yang ada dalam perlakuan (P5). Marschner (1995) serta Taiz dan Zeiger (2002) mengungkapkan cahaya akan menstimulasi transfer ion K+ ke dalam sel penjaga sehingga menurunkan potensial osmotiknya. Air akan bergerak akibat gradien potensial osmotik ke dalam sel penjaga sehingga turgor sel penjaga meningkat dan stomata membuka.
Peningkatan jumlah stomata pada perlakuan konsentrasi 10 gram/liter air jenis A (P2) sebesar 4,81% dibandingkan kontrol (P0). Jumlah stomata berbanding lurus dengan luas permukaan daun, semakin luas permukaan daun maka jumlah stomata akan lebih banyak. Unsur nitrogen merupakan unsur yang
24
dapat memperluas luas permukaan daun. Gardner et al (2008) menyatakan bahwa Nitrogen merupakan hara yang mudah bergerak dalam tanaman, unsur N bergerak dari daun tua ke daun-daun yang lebih muda sehingga kadar N terbesar dalam tanaman terdapat pada daun-daun muda. Gejala kekurangan nitrogen ditunjukkan dengan pertumbuhan tanaman yang kerdil dan menguning.
Peningkatan pertumbuhan tinggi yang dialami bibit mahoni pada konsentrasi 5 gram/liter air jenis A (P1) sebesar 43,59% dibandingkan kontrol (P0). Peningkatan ini nilainya lebih besar daripada peningkatan tinggi bibit mahoni pada konsentrasi 10 gram/liter air jenis A (P2) yaitu sebesar 41,37% (Tabel 4). Dari nilai tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 5 gram/liter air pupuk daun jenis A sudah mencukupi kebutuhan nutrisi bibit mahoni untuk pertumbuhan tinggi. Nutrisi yang terkandung dalam masing-masing pupuk daun diyakini mempunyai fungsi dalam pertumbuhan bibit mahoni. Hardjowigeno (2003) menyatakan bahwa peningkatan pertumbuhan tinggi disebabkan oleh peranan fosfor yaitu dalam pembelahan sel-sel meristerm apikal yang terdapat di ujung batang, sehingga tinggi tanaman bertambah.
Konsentrasi 5 gram/liter air pupuk daun jenis A (P1) menghasilkan peningkatan paling besar pada semua parameter bobot kering. Peningkatan bobot kering akar (BKA), bobot kering pucuk (BKP) dan bobot kering total masing-masing sebesar 46,15%, 68,75%, dan 62,67% dibandingkan dengan kontrol (P0). Sama halnya dengan pertumbuhan tinggi bibit mahoni, nutrisi yang terkandung dalam masing-masing pupuk daun diyakini mempunyai fungsi dalam penambahan bobot kering bibit mahoni, salah satunya adalah unsur kalium (K). Hanafiah (2005), secara fisiologis kalium berfungsi dalam metabolisme karbohidrat seperti pembentukan, pemecahan pati dan translokasi sukrosa serta percepatan pertumbuhan dan perkembangan jaringan meristem (pucuk dan tunas). Penambahan unsur kalium akan mempercepat metabolisme karbohidrat dan proses pembelahan sel, sehingga proses pertumbuhan tanaman berlangsung lebih cepat. Unsur hara K+ juga berperan penting dalam mengatur mekanisme buka tutup stomata dan berperan langsung dalam pengembangan/turgor dari sel pemjaga (Salisbury dan Ross 1995).
Pengaruh Interaksi Sonic Bloom dan Konsentrasi Pupuk Daun
Perlakuan interaksi sonic bloom dan konsentrasi pupuk daun berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% pada parameter tinggi bibit dan bobot kering pucuk (BKP) dan berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% pada parameter bobot kering total (BKT), sedangkan pada parameter stomata daun interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata (Tabel 3 dan Tabel 11).
Interaksi sonic bloom dan konsentrasi 5 gram/liter air jenis A (S1P1) menghasilkan peningkatan pertumbuhan terbaik pada parameter tinggi bibit, bobot kering akar (BKA), bobot kering pucuk (BKP) dan bobot kering total (BKT). Pada parameter lainnya, peningkatan pertumbuhan terbaik dihasilkan pada perlakuan interaksi sonic bloom dan konsentrasi pupuk daun yang berbeda-beda. Interval peningkatan pertumbuhan diameter bibit mahoni berkisar antara 45,45%-272,72% dibandingkan kontrol (S0P0), dan peningkatan terbaik dihasilkan oleh interaksi S1P2. Pada parameter nisbah pucuk akar (NPA), interaksi terbaik dihasilkan oleh interaksi S0P5 dengan nilai 4,91. Peningkatan pertumbuhan yang
dialami oleh panjang akar primer berada pada interval 3,49%-52,30% terhadap kontrol (S0P0) dan peningkatan terbaik dihasilkan interaksi S0P2, sedangkan interaksi yang menghasilkan pertumbuhan panjang akar primer yang lebih rendah daripada kontrol (S0P0) adalah interaksi S1P0 dan S1P1.
Pada parameter yang berpengaruh nyata akibat perlakuan interaksi sonic bloom dan konsentrasi pupuk daun seperti parameter tinggi, bobot kering pucuk (BKP) dan bobot kering total (BKT) mengalami peningkatan masing-masing sebesar 80,08%, 56,58% dan 48,23%. Hal ini diduga aplikasi suara sonic bloom yang mempunyai panjang gelombang suara berfrekuensi 3500-5000 Hz mampu menggerakkan sel penjaga sehingga stomata membuka lebih banyak, pupuk daun yang diberikan bersama aplikasi sonic bloom menghasilkan pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan bibit. Kondisi seperti ini sesuai dengan Iriani et al. (2005) dalam Spillanne (1991), yang menyatakan bahwa efek suara mampu mempengaruhi membran sel tanaman serta meningkatkan tekanan osmotik pada sel, sehingga serapan dan translokaksi mineral dan asimiliasi tanaman menjadi baik serta sel akan bertambah tinggi turgositasnya dan akibat dari ini maka stomata akan membuka secara maksimal sehingga tanaman tumbuh menjadi lebih baik.
Stomata yang membuka lebih banyak dan lebar berarti penyerapan unsur hara dan bahan-bahan lain di daun menjadi lebih banyak jika dibandingkan dengan tanaman tanpa perlakuan sonic bloom. Salisbury dan Ross (1995) mengungkapkan membukanya stomata menyebabkan gas oksigen O2 terdifusi keluar dan gas karbondioksida CO2 masuk ke dalam sel sebagai bahan untuk melakukan proses fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari. Hal ini mengakibatkan peningkatan laju fotosintesis yang secara langsung akan berpengaruh terhadap proses respirasi, karena bahan utama proses respirasi adalah karbohidrat yang dihasilkan oleh proses fotosintesis. Proses respirasi inilah yang akan menghasilkan energi dalam bentuk ATP (Adenosin Tri Phospate) karena penambahan ion P+ ke ADP (Adenosin Di Phospate)
Unsur fosfor yang terkandung pupuk daun juga berperan dalam transfer energi. Menurut Gardner et al. (2008) di dalam tanaman fosfor merupakan komponen pembentukan enzim dan protein seperti : ATP dan ADP yang berperan dalam transfer energi, DNA (Dioxyribulonukleotida Acid) dan RNA (Ribolusa nucleotide Acid) yang berperan dalam informasi genetik. Junaedi et al. (2009) menyatakan berat kering total merupakan gabungan dari komponen pertumbuhan organ bibit di atas permukaan tanah yang dikenal sebagai pucuk atau tajuk dan organ bibit di bawah tanah atau bagian perakaran. Interaksi S1P1 yang mempunyai peningkatan terbaik dalam bobot kering, diyakini mampu berkombinasi dalam peningkatan sintesis karbohidrat yang merupakan hasil dari fotosintesis. Semakin banyak karbohidat yang dihasilkan, maka semakin besar bobot keringnya.
Indeks Mutu Bibit (IMB)
Parameter tinggi dan diameter merupakan parameter dengan aspek dua dimensi, sehingga dibutuhkan satu parameter yang memiliki aspek tiga dimensi untuk menentukan indeks mutu bibit yaitu parameter bobot kering total. Bobot kering total merupakan parameter yang mencirikan ekofisiologi tanaman. Ekofisiologi merupakan proses translokasi dari hormon, nutrisi, air dan vitamin
26
yang berinteraksi dengan lingkungan untuk memacu pembelahan sel sehingga membentuk jaringan dan organ tanaman. Menurut Munir (2000) penentuan indeks mutu bibit dilakukan dengan menggunakan parameter kunci yang menentukan kualitas mutu bibit yaitu tinggi, diameter, dan bobot kering total. Hasil uji Duncan perlakuan sonic bloom terhadap parameter tinggi, diameter dan bobot kering total berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol (Tabel 4, Tabel 6, dan Tabel 9). Dampak yang dihasilkan dari perlakuan sonic bloom terlihat pada hasil skoring total, yaitu perlakuan sonic bloom memiliki nilai yang lebih baik (peringkat 1) daripada kontrol (Tabel 13).
Pada perlakuan konsentrasi pupuk daun, skoring total perlakuan pupuk daun jenis A dengan konsentrasi 10 gram/liter air (P2) memiliki skoring total tertinggi dan lebih baik dibanding P1 (peringkat 2). Namun skoring total tertinggi pada perlakuan interaksi antara sonic bloom dan konsentrasi pupuk daun, dihasilkan oleh interaksi sonic bloom dan pupuk daun jenis A dengan konsentrasi 5 gram/liter air (S1P1) diikuti oleh S1P2 di peringkat dua (Tabel 13). Hal ini dapat dijelaskan dari hasil uji Duncan perlakuan konsentrasi pupuk daun terhadap parameter tinggi, diameter dan BKT. Pada parameter tinggi, perlakuan pupuk daun jenis A dengan konsentrasi 5 gram/liter air (P1) tidak berbeda nyata dibanding P2 dan memiliki pertumbuhan tinggi yang lebih baik daripada P2. Sebaliknya pada parameter diameter, pupuk daun jenis A dengan konsentrasi 10 gram/liter air (P2) tidak berbeda nyata dibanding P1 dan memiliki pertumbuhan diameter yang lebih baik daripada P2.
Disebabkan karena pengaruh yang tidak berbeda nyata antara perlakuan P1 dengan P2 (atau sebaliknya) pada parameter tinggi dan diameter, hasil uji Duncan perlakuan konsentrasi pupuk daun pada parameter bobot kering total menjadi tolak ukur untuk menentukan indeks mutu bibit. Pada Tabel 9, pemberian pupuk daun jenis A dengan konsentrasi 5 gram/liter air (P1) berbeda sangat nyata dibanding pemberian pupuk daun jenis A dengan konsentrasi 10 gram/liter air (P2). Keadaan ini menunjukkan bahwa konsentrasi 5 gram pupuk daun jenis A sudah memenuhi kebutuhan minimal untuk menghasilkan indeks mutu bibit terbaik.
Ditinjau dari komposisi pupuk daun pupuk daun jenis A memiliki keunggulan lebih banyak unsur fosfor, kalium dan magnesium dibandingkan dengan pupuk daun jenis B, walaupun kadar nitrogen pada pupuk jenis B lebih besar dibanding pupuk jenis A. Peran unsur Fosfor, Kalium dan Magnesium dalam proses fotosintesis sangat besar untuk menghasilkan karbohidrat sebagai penyusun kerangka karbon untuk pembentukan jaringan dan organ tanaman. Pembentukan organ tanaman akan memiliki konsekuensi peningkatan biomassa bibit. Biomassa tersebut khususnya terdapat pada bobot kering yang merupakan interaksi proses fisiologi dan kondisi lingkungan yang mempengaruhi, misal : cahaya, suhu, kelembapan udara dan gelombang suara yang dapat mempengaruhi mekanisme buka tutup stomata. Selain gelombang suara, ion K+ yang mempengaruhi sistem turgor sel penjaga stoamata yang menyebabkan pembukaan stomata lebih lebar.
Unsur Magnesium merupakan salah satu unsur yang dibutuhkan tanaman untuk berbagai kegiatan metabolisme. Menurut Marschner (1995), Mg merupakan satu-satunya ion logam yang terdapat dalam molekul klorofil dan merupakan inti klorofil yang mampu menangkap cahaya dari sinar matahari serta sangat mudah
dipengaruhi oleh getaran suara. Semakin besar unsur Mg, maka peluang pembentukan klorofil semakin besar.
Peran dari Fosfor akibat pemupukan dimanfaatkan sepenuhmya untuk menambah energi dari ADP menjadi ATP. Sehingga proses fotosintesis akan berjalan lebih baik akibat penambahan unsur Fosfor tersebut. Dengan demikian kombinasi S1P1 menghasilkan bibit yang memiliki indeks mutu bibit terbaik dibandingkan kombinasi S1P2.
SIMPULAN
Perlakuan sonic bloom mempengaruhi pertumbuhan tinggi sebesar 24,12%, diameter sebesar 170,2%, dan bobot kering total sebesar 14,83% serta meningkatkan pembukaan stomata yaitu sebesar 67,23%.
Perlakuan campuran pupuk daun jenis A dan B dengan masing-masing 5 gram/liter air (P5) mempengaruhi pembukaan stomata sebesar 32,68%, sedangkan perlakuan pupuk daun jenis A dengan konsentrasi 10 gram/liter air (P2) mempengaruhi pertumbuhan tinggi sebesar 41,37% dan diameter sebesar 25,53% serta perlakuan ini menghasilkan indeks mutu bibit terbaik.
Perlakuan interaksi sonic bloom dan pupuk daun dengan konsentrasi 5 gram/liter air (S1P1) mempengaruhi pertumbuhan tinggi sebesar 80,08% dan bobot kering total sebesar 48,23%. Perlakuan interaksi S1P1 merupakan interaksi yang menghasilkan indeks mutu bibit terbaik, diikuti oleh perlakuan interaksi S1P2.
SARAN
1. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk menggunakan pupuk daun original yang merupakan pasangan unit suara sonic bloom, agar hasil pertumbuhannya dapat dibandingkan dengan pupuk daun produk lokal.
2. Perlu dilakukan analisis ekonomi terhadap tanaman yang menggunakan aplikasi sonic bloom, sehingga aplikasi ini dapat tepat guna.